Sabtu, 15 Juni 2013

[Movie] Man of Steel (2013)


Man of Steel
(2013 - Warner Bros.)

Directed by Zack Snyder
Screenplay by David S. Goyer
Story by David S. Goyer, Christopher Nolan
Based upon "Superman" characters created by Jerry Siegel, Joe Shuster
Produced by Charles Roven, Christopher Nolan, Emma Thomas, Deborah Snyder
Cast: Henry Cavill, Amy Adams, Michael Shannon, Diane Lane, Russell Crowe, Kevin Costner, Laurence Fishburne, Antje Traue, Christopher Meloni, Harry Lennix, Richard Schiff, Ayelet Zurer


Pengakuan: karena nggak ngefan-ngefan amat sama Superman, arguably superhero komik paling terkenal di dunia, gw sampai saat ini belum pernah menonton film-film Superman lawas kisaran 1970-1980-an, dan gw agak lupa-lupa gimana gitu sama Superman Returns (2006), tapi seinget gw sih filmnya cukup menghibur...sepertinya. Pun pegangan gw dalam pengetahuan seputar Superman paling banter cuma dari "Superboy", "Lois & Clark" dan "Smallville" di TV, plus salah satu monolog David Carradine di Kill Bill vol. 2. Nah, rupanya DC Comics dan Warner Brothers belum menyerah untuk bikin film Superman meskipun respon terhadap Superman Returns kemarin tidak sebesar yang diharapkan (khususnya box office yang labanya tak seberapa). Melihat kesuksesan Batman dalam trilogi The Dark Knight yang disutradarai oleh Christopher Nolan, mereka pun memanggil lagi mas Chris untuk menjadi "mentor" film Superman baru, yang kemudian mengerjakan ceritanya bersama David S. Goyer (juga penyusun cerita trilogi The Dark Knight). Lalu dipanggil pula filmmaker kesayangan Warner yang lain, Zack Snyder untuk jadi sutradaranya. Tak hanya sampai situ, dalam rangka masih anget-angetnya judul The Dark Knight untuk Batman, Superman terbaru pun judulnya juga nggak pake nama tokoh utama/merek dagangnya, hanya berupa julukan: Man of Steel.

Man of Steel sendiri memang dirancang sebagai sebuah reboot, atau reimagining, atau reestablishment, atau reinstallation *halah*, atau apalah. Intinya sih film ini mulai dari nol tentang asal usul Superman a.k.a. Clark Kent a.k.a. Kal-El (Henry Cavill), dari dia lahir di planet Krypton sampai diakui sebagai penyelamat umat manusia di Bumi. Detil-detil tentang Superman kali ini sedikit berbeda dari yang pernah dikenal (dari komik aslinya juga selalu berubah-ubah sih) dan memang diniatkan tidak berhubungan dengan Superman versi manapun. Salah satu yang paling kelihatan bedanya adalah yang berkaitan dengan Lois Lane (Amy Adams) yang pada versi ini sudah mengenal siapa dan bagaimana itu Clark Kent sebelum munculnya Superman, selain perbedaan tampilan fisik Lois yang berambut merah instead of hitam *persoalan*. Anyway, ini seperti 'Superman Begins', fokus penceritaan film ini berkaitan dengan latar belakang serta pencarian jati diri seorang Kal-El/Clark Kent, kenapa ia dikirim orang tua kandungnya (Russell Crowe & Ayelet Zurer) ke Bumi, tentang hubungannya dengan orang tua yang merawatnya di Bumi (Diane Lane & Kevin Costner) yang mengajarkan Clark untuk hidup bersahaja, apa sebab ia punya kekuatan super-segalanya, juga tentang keputusan yang harus diambilnya ketika Bumi tempatnya tumbuh diserang oleh kaum planet asalnya, Krypton pimpinan Jenderal Zod (Michael Shannon).

Atmosfer cerah dan beraura positif dari dunia Superman jadi lebih redup di sini, namun masih menarik karena secara tema film ini menekankan pada sosok Clark Kent/Kal-El yang adalah seorang alien, baik alien karena saat tumbuh di sebuah desa ia sadar ia berbeda dari yang lain, juga alien dalam arti berasal dari planet lain, lalu alien juga karena tidak mengenal tempat dan kaum asalnya. Film ini tidak menekankan Superman sebagai pahlawan yang dielu-elukan atau (dikutuk), tetapi lebih kepada Clark Kent yang mencari jati diri. Kita diajak untuk mengerti kenapa umat manusia (well, Amerika) mau saja mengandalkan seorang manusia yang sebenarnya adalah makhluk asing. Dengan angle ini, rasanya sah-sah saja kalau feel film ini lebih serius, menggali hakikat Superman yang bukan cuma sekadar pahlawan penyelamat mahahadir tetapi juga punya pergumulan pribadi, serta di sisi lain mengangkat reaksi Bumi ketika melihat sendiri keberadaan makhluk dunia lain di tengah-tengah mereka. At times, film ini lebih terasa sci-fi/disaster ketimbang film superhero. Dan untungnya lagi, penuturannya cukup mudah dimengerti meski alurnya agak acak—bolak-balik masa kini dan memori masa lalu, mengingatkan gw pada film Watchmen karya Zack Snyder yang penuturannya nyaris serupa.

Desain peradaban Krypton-nya keren

Ngomong-ngomong Zack Snyder, rasanya gw tidak pernah kecewa terhadap karya-karya doi sebelumnya yang pernah gw tonton. Ia sutradara yang lihai membuat adegan-adegan laga eye-candy nan fantastis lewat 300 dan Sucker Punch, bahkan bisa bikin perang antar burung hantu animasi jadi terlihat sangat keren di Legend of the Guardians, juga sudah teruji (sukses) dalam menerjemahkan kisah superhero komik lewat Watchmen, walaupun yang satu ini lebih condong ke drama. Gw suka gayanya yang menampilkan tata gambar dan pengarahan yang mungkin bisa dibilang gak-ada-maksud-selain-biar-kelihatan-keren-aja dengan apik dan nggak sembrono, mungkin bisa dibilang seperti gambar komik bergerak, tapi senantiasa menarik dan bahkan puitis. Nah, dalam Man of Steel ini, sepertinya Snyder berusaha berubah gaya. Yang masih tetap mungkin adalah desain visualnya, kali ini cenderung monokromatis dan sendu, tapi masih keren dan lumayan comic-like. Pembukaan film ini di planet Krypton yang punya teknologi sangat maju berpadu dengan kebudayaan yang eksotis ditampilkan dengan sangat keren, mulai dari pakaian, bangunan, hingga peralatannya dengan segala kompleksitas desainnya. Adegan lain yang paling gw suka adalah ketika proyeksi ayah kandung Clark, Jor-El menceritakan tentang hari-hari terakhir Krypton di dalam kapal kepada Clark dewasa lewat tampilan relief bergerak, itu keren banget! 

Di sisi lain ada perubahan gaya yang sangat mencolok, yang bisa menyenangkan bisa juga tidak. Paling kentara adalah kesan tata sinematografinya mencoba meng-Nolan dengan pergerakan dinamis yang mirip-mirip Inception, tapi versi lebih goyah, banget. Agak gw sayangkan kenapa gaya visual Snyder yang biasanya berkomposisi cantik dan indah bagai lukisan (terutama karena pewarnaan gambar/color-grading di pascaproduksinya) harus berkurang keindahannya gara-gara kameranya selalu dalam posisi hand-held yang terombang-ambing tanpa topangan sepanjang durasi, tak peduli mau alasan "biar realistis" atau apa, kelihatan terlalu kasar. Belum lagi editing-nya yang dibuat melaju cepat sehingga seringkali gw nggak sempet meresapi "rasa" adegan dan keindahan visualnya. Hasilnya gw jadi kurang bisa menikmati film ini dibandingkan film Snyder yang lain yang memang lebih alon dan telaten dalam membangun momen visual sekalipun ada saatnya ceritanya tidak seberisi Man of Steel ini.

A potential Zack Snyder-y shot. Potential. :|


Tetapi ada pula keuntungan dari gaya seperti itu, khususnya di bagian klimaks. Karena mengambil gaya semi dokumenter, kita akan lihat kamera seakan selalu kalah cepat dari perpindahan posisi Superman (dan kaum Krypton) ketika bertarung. Pas kamera udah nyorot di sini, eh orangnya udah pindah lagi, kamera geser, kesorot 1 detik, eh orangnya pindah lagi =D. Gw tadinya sedikit kecewa nggak ada sudden slow-motion sok-cool ala Snyder, tetapi tampilan yang disebut barusan dapat mengobatinya. Bukan hanya seru dan efektif, tetapi ini cara jenius dalam menunjukkan definisi faster than a speeding bullet pada deskripsi Superman, karena slow-motion ala "6 Million Dollar Man" sudah terlalu usang. Faster indeed. Demikian juga pada dampak kehancuran dari pertarungan super destruktif di klimaksnya, ada kalanya terasa kelewat panjang dan melelahkan, tetapi paling nggak itu dibuat berdasarkan konsep yang tepat dan sesuai dengan karakter Superman yang memang, well, super, jadi ya nggak salah juga.

Man of Steel adalah sebuah film yang digarap dengan baik dan juga menunjukkan ketokohan Superman dengan komprehensif, cukup mudah dipahami tanpa terkesan konyol, malah membuatnya hadir with a big, big bang. Jajaran pemain kelas wahidnya pun tidak mengecewakan meskipun belum bisa bikin gw terhanyut atau peduli. Selain permainan Cavill dan Adams yang mmm...okelah, ada Kevin Costner, Russell Crowe, Michael Shannon, Laurence Fishburne, Diane Lane, dan aktris Jerman Antje Traue yang masing-masing sempat punya momen yang cukup memorable. Tetapi masih ada celah yang membuat gw nggak bisa menikmatinya senikmat yang gw pinginin. Mungkin dari dialognya yang kadang terlalu "tinggi", kurangnya humor, kurang merasa keterlibatan emosional (kecuali adegan-adegan yang melibatkan Kevin Costner sebagai bapak angkat Clark, he's very good), kurangnya pemahaman sama konsep Jor-El's conscious, atau mungkin simply terganggu sama gambarnya yang terlalu goyang-goyang dan nggak ada sudden slo-mo barang satu pun *tetep*. Untuk kali ini, gw cuma bisa bilang cukup menikmati dan terhibur. Paling nggak gw sudah suka dengan konsepnya, angle dan penuturan ceritanya, penanganan tokoh Superman-nya, juga rancangan visualnya yang spektakuler. Yah, kalau mau disederhanakan, dari 2 jam 20 menitan durasi filmnya, setidaknya gw nggak merasa bosan. Tapi jika boleh milih, gw akan mendahulukan Watchmen dibanding Man of Steel.





My score: 7,5/10

10 komentar:

  1. Kalo gw agak "dooooh" pas adegan Lois tiba2 muncul di stasiun. Gilak cepet amat nih anak, jangan2 dia punya kekuatan super juga, dari dia ada di kota yang udah ancur, ke bagian kota yang belom ancur. Jangan2 dia punya kekuatan kayak Songoku! jurus berpindah tempat dalam sekejap =___= oh daaaaan adegan ciuman yang menurut gw terlalu "dipaksakan", karena gak ada pembangunan emosi (tsaaah) ke arah sana *ngemeng aja lo Pic XD hahaha, tapi gw suka adegan berantemnya ^^;a

    BalasHapus
    Balasan
    1. Well, Lois kan wartawan, wartawan kan emang di mana-mana *ngebelain* =P
      Dan emang sih adegan ciumnya itu agak tiba-tiba ya, dasar bule.

      thanks for sharing =)

      Hapus
  2. Cerita film tentang super hero mah gtu2 wae. Cuman keren pas fighting nya aja,maen nya ancur2in seisi kota. Saya lebih suka Incredible Hulk ktimbang film ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm, begitulah, kalau superhero memang kebanyakan titik-titik ceritanya sudah baku, tinggal variasi di karakter saja.
      Tapi seperti komentar saya di review, film ini cukup punya alasan kuat buat adegan ancur2 kotanya, hehe

      Hapus
  3. It was too Loooooooooong! Bahkan di bagian kLimaksnya pun gwe udah ga peduLi Lagi gimana Zod bakaL tamat, dan ternyata emang 'gitu aja'. Dan gimana puLa CLark tiba-tiba bisa dapet kerja di DaiLy PLanet? KuLiah jurnaListik kiLat?
    But Krypton fashion was epic, and the moving reLief of Krypton's history was awesome.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, masak sih sepanjang itu? Gw sih cuma lihat jam 2 kali #eh
      Clark, well Superman kan gerak cepat, mungkin bisa kuliah cepat juga, semacam Kejar Paket *ngarang*
      Tapi logikanya sih jarak waktu antara pertempuran akhir dan bagian akhir filmnya emang jauh, jadi, well, who knows =)

      Hapus
  4. Okay, here we go..

    PROs :
    1. HENRY CAVILL. Tho' his clean-shaved look is a bit off-putting. They should let him be scruffy all the time.
    2. Kevin Costner : bahkan adegan "You're my son" di trailer pun sudah sangat menggugah hati. Hebat om!
    3. Kisah masa kecilnya Clark dan proses penyesuaian/pencarian jati dirinya di bumi. Nicely done.
    4. Visualnya cakep.

    CONs :
    1. Over-destruction. Yeah, I get it that he's superhuman and is fighting against another superhuman. But it's just too much dgn durasi battle yg terlalu lama. *yawn*
    2. Selain penggalian karakter Clark/Kal-El, plotnya terasa lemah. What's with the ready-to-wear cape anyway? And the Christianity factor, anyone? Clark being 33y.o, part God part human, he's acting as the "bridge" between the two races and "human savior"?!
    3. Amy Adams as Lois? Err.. I don't think so. Bring me Erica Durance again, please!
    4. Chemistry Clark and Lois juga nyaris gada. Dan gak jelas what brings them together. Like Epica said, kissing scenenya almost terlalu maksa (well, just because it's superhero movie, and the hero will always get the girl)
    5. Except from the scene when they hold Supes, it's less fun, less humour.

    Thus, i'd prefer to rewatch STID again rather than this one..

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh, kayak Amazing Race aja ada Pros and Cons =D
      Opini gw sih kurang lebih senada. mungkin masalahnya ada di ketidakcocokan antara style-nya sutradara dengan tuntutan naskah (atau mungkin tuntutan studio biar mirip Christopher Nolan?), jadi kurang pol gitu, tapi basically gw masih bisa menikmati.

      Soal paralel Kristianitas kalo nggak salah sih emang sudah pernah diangkat di materi2 sebelumnya (terutama komik), banyak yang menilai Superman memang sengaja digambarkan demikian, biar Amerika banget gitu deh. Gw sih nggak masalah karena persamaannya cuma sebatas itu ternyata, hehe

      Thanks for sharing, dan walau agak nggak fair untuk dibandingkan, gw juga sama2 lebih menikmati Star Trek 2 *tos* =)

      Hapus
  5. Cukup nton skali aja..gk ngena di hati seh! Plis holliwood stop dah film2 super hero nya, boring tau!

    BalasHapus
    Balasan
    1. sabar, saudara. komennya juga cukup sekali aja ^_^;
      Selama masih banyak yang nonton, film superhero pasti akan terus dibuat. jadi berharap aja akan semakin baik. Amin.

      Hapus