Jumat, 24 Mei 2013

[Movie] Optatissimus (2013)


Optatissimus
(2013 - Flix Pictures)

Written & Directed by Dirmawan Hatta
Produced by Heru Winanto
Cast: Rio Dewanto, Nadhira Suryadi, Landung Simatupang, Gunawan Maryanto, Rukman Rosadi


Melihat trailer dan membaca sinopsis resminya, gw gak berhasil menangkap maksud dari film berjudul Optatissimus yang kemudian diberi subjudul "doa pertama" ini. Heck, gw bahkan nggak tau sebenarnya film ini niat tayang atau enggak, hehe. Tanpa promo apa-apa selain merilis poster dan trailer di dunia maya beberapa pekan lampau, Optatissimus sepertinya hanya bermodalkan doa agar dapat ditonton orang. Well, anggap aja gw adalah salah satu, dari tiga, jawaban doa itu di jam malam salah satu studio bioskop di Bekasi. Sedikit pencerahan datang dari salah satu rekan movie-blogger (thanks to Elbert Reyner) yang berkicau bahwa film ini berdasarkan kisah hidup seorang pendeta bernama Alex Tanuseputra yang adalah salah satu pendiri Gereja Bethany Indonesia, yang—kata wiki—juga adalah opanya Miss Indonesia 2008, Sandra Angelia. So that explains the modest (or absence) of necessary marketing...maybe, I don't know. Apakah film ini hanya ditujukan bagi penonton Kristen? Tergantung dari mana melihatnya. Unsur spiritualitas dan agama yang ditampilkan film ini jelas Kristiani (khususnya Protestan), tetapi dari sisi humanis film ini juga seharusnya bisa dipahami oleh siapa saja...or maybe not =P. 

Benang merah film ini sederhana saja sebenarnya. Andreas (Rio Dewanto) berada di tengah kerenggangan rumah tangga dengan istrinya, Yunita (Nadhira Suryadi), juga dalam kesulitan ekonomi, sampai-sampai menggadaikan mobil Mini Cooper mereka berdua. Ketika rezeki datang dan Andreas bisa menebus mobilnya, di perjalanan pulang ia menabrak, dan melindas, seorang pengangkut susu. Seperti versi mini dari The Tree of Life, kita pun dibawa Andreas, melalui percakapannya dengan pengurus gedung gereja (Landung Simatupang), menuju masa lalunya, ketika ia mulai mengalami "kebetulan-kebetulan" sejak tersesat di gunung, pertemuan dengan Yunita, hingga pada present day. You know, sama seperti kita kalau mengalami sebuah peristiwa luar biasa "sial" sehingga mulai bergalau dalam hati "bego banget sih gw, gw salah apa sih sampe begini amat?" dan mulai memeriksa masa lalu. Isi filmnya sih kira-kira begitu, dan ending-nya ketika Andreas dapet ketenangan dan pencerahan.

Kisah seperti ini sesungguhnya sangat familiar bagi jemaat Kristiani (kalau sering ibadah ya) yang kerap mendengar kisah pengalaman/kesaksian orang-orang tentang pertobatan. Jika mengacu pada poin ceritanya dan juga keterangan di akhir film, Optatissimus mencoba menggambarkan tentang titik balik seseorang yang "gitu-gitu aja" dan tidak akrab dengan religiusitas (meskipun identitas agamanya jelas, Indonesia gitu loh) mengalami peristiwa yang mengubah hidupnya, bahkan benar-benar berbalik untuk jadi lebih bermanfaat bagi banyak orang, "melayani Tuhan"-lah istilahnya. Ya seperti latar belakang itu tadi, tokoh yang jadi inspirasi film ini malah kemudian jadi pendeta dan pendiri gereja yang jumlah jemaatnya besar. Premis titik balik ini tentu universal, tak cuma dimengerti umat Kristen. Namun, mungkin inklusi istilah-istilah pertobatan, penebusan, kebinasaan, "meminta tanda", "orang yang diberkati", dan seterusnya mungkin akan lebih mudah dipahami dalam mindset Kristen. Contohnya, bagaimana bisa Andreas yang impassionate, bebal dan "menolak" Tuhan masih tetap mendapatkan berkat, beristri setia dan punya rumah sendiri, bahkan pelbagai "keajaiban". Ini gambaran yang sesuai tentang "kasih", bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia sekalipun manusia meninggalkan Dia, dan tidak cuma memanggil dan memberkati orang yang "baik-baikin" Dia doang. Ini common concept dalam Kristianitas yang sering terlupakan ataupun ditolak (termasuk oleh umatnya sendiri) karena "nggak masuk akal", ya seperti yang dilakukan Andreas.

Nah, di saat yang sama gw juga rada paham dengan yang dilakukan Dirmawan Hatta (penulis naskah The Mirror Never Lies) dalam debut penyutradaraannya ini. Meskipun jelas-jelas akan lebih appealing pada umat Kristen, Dirmawan terlihat sekali mencari cara agar Optatissimus jadi not too inclusive dalam penyampaiannya, sehingga istilah-istilah "intern" tidak terlalu dijelaskan, dan dalam dialog tak sekali pun nama Kristus disebutkan. Disusunlah adegan demi adegan dengan simbol-simbol (misalnya wanita misterius mirip Yunita, akordion dsb.) dan dialog-dialog dalam bahasa-bahasa agak baku, sedikit sekali memakai bahasa/aksen daerah meskipun ber-setting di Mojokerto/Sidoarjo/Malang/ya-sekitaran-situ-deh, narasi dari tokoh Andreas pun sastrawi sekali. Hasilnya, kebanyakan jadi agak membingungkan, teatrikal, bahkan aneh dan tidak jelas konteksnya sehingga terkesan mengkhotbahi. Ini juga "didukung" oleh penyusunan adegan yang acak (maju-mundur) dan kurang gw pahami keterkaitannya. Andreas mendatangi orang sakit jiwa yang dibuang di tengah danau (Gunawan Maryanto) itu kejadiannya sebelum atau sesudah nabrak orang, ya? Terus, Andreas kerjanya apa sih sebelum jadi sales jual-beli mobil? Terlalu banyak pertanyaan, mungkin pembuat filmnya terlalu asik dalam menyebarkan clue sana-sini sehingga keteteran sendiri dalam memperutuh kisahnya. Bahkan bisa dibilang 25% pemahaman gw tentang maksud film ini justru dari keterangan di bagian akhir film.

Akan tetapi harus diakui bahwa Optatissimus adalah sebuah produksi yang sangat baik. Penggarapan teknisnya apik, mulai dari pemilihan lokasi nan cantik, sinematografi keren, tata musik, tata suara, hingga penataan adegan yang penuh citarasa, sedikit Garin Nugroho-esque. Film ini lebih ke art film ketimbang film religi sih menurut gw...kelihatan dari adegan yang banyak hening dan shot yang lama =P. Nggak deing, maksudnya dari cara bercerita dan tata adegannya tadi yang berbeda dari film-film biasa. Gw suka banget deh rancangan visual di danau dengan kandang orang gilanya, keren banget. Pilihan untuk tidak mengangkat peristiwa spiritual dengan cara serba bombastis, sebagaimana pula penggambaran Andreas yang bukan "penjahat" ekstrim ("sekadar" malas berdoa atau ke gereja), membuatnya lebih relate pada penonton. Performa aktornya tiada cela, baik Rio, Nadhira, maupun pak Simatupang memainkan perannya dengan mendalam dan sukses mengujarkan dialog-dialog baku nan puitisnya dengan meyakinkan. Peforma menonjol menurut gw datang dari Rukman Rosadi sebagai kakak korban tabrakan, satu adegan doang tapi ancaman pasif-agresifnya untuk mencabut nyawa Andreas bener-bener nakutin dan berkesan. 

Optatissimus punya modal yang cukup untuk jadi nearly undiscovered gem tahun ini, atau sedikitnya jadi film yang dapat menginspirasi, khususnya bagi penganut Kristianitas. Tapi ya mau gimana kalau penyampaiannya tidak terlalu mudah dipahami gini, filmnya bercerita tentang apa aja masih sangat samar meskipun film sudah berakhir, menurut gw sih karena kehidupan Andreas pascatobat ditunjukkan sedikit sekali, sehingga titik baliknya kurang terasa dampaknya bagi penonton. Satu lagi, brewok Rio Dewanto waktu masa lalu dan masa kini terlalu sama, mana nih tim makeup-nya? Anyway, it’s not bad, tetapi yah, karena agak abstrak gw jadi agak nggak ngerti gitu deh, makna "optatissimus" aja nggak dijelasin *atau gw yang ketinggalan*. Setidaknya masih patut diapresiasi ada film yang mengisahkan pergumulan spiritual dari sudut pandang Kristianitas yang berani dibuat dan tampil di bioskop nasional. Terima kasih, Tuhan memberkati =). 




My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar