Selasa, 23 April 2013

[Movie] Oblivion (2013)


Oblivion
(2013 - Universal)

Directed by Joseph Kosinski
Screenplay by Karl Gajdusek, Michael DeBruyn
Based on the graphic novel, original story by Joseph Kosinski
Produced by Joseph Kosinski, Peter Chernin, Dylan Clark, Barry Levine, Duncan Henderson
Cast: Tom Cruise, Morgan Freeman, Olga Kurylenko, Andrea Riseborough, Melissa Leo, Nikolaj Coster-Waldau


Entah datangnya dari mana, tahun-tahun belakangan ini gw agak enggan untuk buru-buru menyaksikan film-film yang dibintangutamai Tom Cruise. Mungkin eneg karena hampir setiap poster film-filmnya harus kudu ada muka dan nama dia gede-gede? Mungkin karena rata-rata aktingnya terlalu sadar-diri-kalau-keren-dan-terkenal-jadi-harus-belagak-cool-terus-terusan? Atau mungkin karena gw sirik aja? Anyway, begitu pula dengan Oblivion ini. Sure, film ini bakal laris, sebuah film fiksi ilmiah futuristik penuh efek visual dan ada Tom Cruise-nya pula. Tapi ya gw nggak excited-excited amat. Gw memutuskan menunda nonton film ini di minggu pertama dengan pertimbangan supaya nggak merusak anggaran dasar nonton bioskop bulanan (karena HTM semua bioskop udah pada naik rata-rata 20%, cih), dan juga memprioritaskan film-film Indonesia yang umumnya berumur lebih pendek di bioskop. Gw rasa bulan depan juga film ini masih ada, Tom Cruise gitu loh. Pun rupanya reaksi teman-teman yang sudah nonton duluan sungguh bervariasi layaknya harga tiket pesawat terbang di internet. So let's see.

Tahun 2017, Bumi diinvasi makhluk asing yang disebut Scavs dengan meledakkan Bulan, sehingga memaksa manusia melawan dengan senjata nuklir. Kaum manusia menang, tetapi Bumi tetap luluh lantakh ("kh" supaya kayak Bams Samsons). Tahun 2077, sebagian penduduk Bumi telah bermigrasi ke salah satu satelit Saturnus, Titan. Sebagiannya lagi masih singgah di stasiun luar angkasa yang mengorbit Bumi yang disebut Tet, jangan tambah "e" lagi. Jack Harper (Tom Cruise) bersama rekan-tapi-mesranya, Vika (Andrea Riseborough) kini dalam sisa 2 minggu shift kerja sebelum bisa balik ke Titan, sebagai petugas pengawas mesin-mesin yang sedang mengumpulkan sumber energi Bumi yang masih tersisa agar dapat dibawa ke Titan. Dan demi kelancaran dan fokus dalam bertugas, baik Jack maupun Vika sudah dihapus ingatannya sebelum terjun ke Bumi. Tak hanya inspeksi dan memperbaiki kalau ada mesin yang rusak, Jack harus melindungi mesin-mesin itu dari gerilya kaum alien Scavs yang ternyata masih ada tersisa di Bumi. Meski tak memiliki ingatan masa lampau, Jack rupanya masih sering diganggu mimpi-mimpi tentang kota New York sebelum perang yang selalu dibintangi sesosok wanita yang sama. Suatu ketika dalam inspeksinya ia menemukan Julia (Olga Kurylenko), wanita yang selalu muncul dalam mimpinya itu. Kehadiran Julia menjadi awal dari pengungkapan segala hal, membuat Jack mempertanyakan semua yang ia ketahui dan yakini selama ini.

Oblivion sejak awal sudah mengetengahkan tone misteri dalam kisahnya. Keadaan yang sunyi, polos, monokromatis, dunia serasa milik Jack dan Vika berdua bahkan yang ngontrak pun nggak ada, dan senantiasa ada pertanyaan demi pertanyaan yang menghinggapi penonton, mulai dari apa, siapa, bagaimana, mengapa, hingga kapan...kapan ini film selesai, hahaha. Harus diakui bahwa plot yang dibangun oleh sutradara Joseph Kosinski memang bergerak lambat. Perkenalan tokoh dan situasi Bumi 2077 ini terlihat terperinci dan di saat yang sama terasa lelet, malah konflik baru muncul ketika Julia hadir, yakni nyaris satu jam setelah film berjalan...atau setidaknya rasanya satu jam, entahlah, you know what I mean lah. Tapi di mata gw, itu semua sebenarnya cukup terlunasi, terutama dari segi visual.

Terlepas dari laju cerita yang mungkin terlalu terulur, serta tidak semua misteri terungkap dengan jelas atau terlalu sambil lalu (ini merujuk pada kemunculan Morgan Freeman and the gang =p), Oblivion sesungguhnya adalah film yang dibuat dengan jeli, dan tentu saja layak ditonton. Selambat-lambatnya penuturan dan seaneh-anehnya beberapa titik cerita, film ini tetap cukup solid dalam membangun alur dan karakternya. Apalagi, sebagaimana karya debut Kosinski sebelumnya, TRON: Legacy yang juga (malah lebih) lemah di jalan cerita, adegan-adegan laga dan rancangan visual grande-nya sangat memuaskan. Adegan laganya  bahkan 1-2 kali memancing gw untuk berseru "anjreet" =). Demikian pula desain futuristik minimalis nan sophisticated dari rumah, mesin-mesin serta peralatan yang diperlihatkan—dengan tema desain "bundar-bundar"—sungguh memanjakan mata. Efek visualnya jempolan, khususnya karena dapat membuat mesin-mesin terbang jadi tampak sangat tangible. The swimming pool on the tower is really fancy.

Tapi kolamnya serem juga sih kalau bawahnya bening gitu...

Faktor pemainnya turut melengkapi dengan oke sekalipun nggak terlampau istimewa karena nggak pakai telor. Mungkin yang paling menonjol adalah penampilan Andrea Riseborough yang tampak cerah tapi misterius itu. Cakep banget sih enggak, tapi British accent-nya itu lho =). Dan, yaah, Tom Cruise okelah, tetep dengan kesan gw-bintang-utama-jadi-harus-selalu-tampak-dan-terdengar-keren-termasuk-di-intonasi-bicara, tapi setidaknya di sini beberapa kali tampak jelas doski melakukan adegan-adegan berbahaya (stunt) sendiri tanpa pengganti—jika bukan berarti visual efeknya canggih banget =p. Salut lah.

All in all, techincally, Oblivion ini oke sekali. Gambarnya clean dengan komposisi yang anggun (dan katanya disyut dengan kamera digital beresolusi 4K yang sangat jernih), tata suaranya keren, tata musiknya yang dibuat grup elektronik Prancis M83 juga asoy sekalipun sering terdengar seperti versi remix karya-karya Hans Zimmer. Gambaran keadaan alam Bumi yang hancur dan kosong juga menimbulkan kekaguman karena sebagian bukanlah gambar murni animasi melainkan pemandangan lokasi betulan, yang mengingatkan pada adegan pembuka Prometheus...dan emang ambil lokasinya sama-sama di Islandia juga. Ih, kok nyontek sih?

Well, untuk hal ini, jika diperhatikan Oblivion memang mengambil banyak referensi dari kisah-kisah di film lain, terutama yang fiksi ilmiah. Selama perjalanan film ini, kita bisa merasakan vibe seperti film-film fiksi ilmiah terkenal macam Wall-E, The Matrix, Dark City, Star Wars, Moon, Independence Day, Total Recall, Planet of the Apes, hingga 2001: A Space Odyssey. Bahkan referensi film yang terakhir itu cukup "vulgar" dengan pemakaian Odyssey sebagai nama pesawat naas yang ditumpangi Julia. Dan rasa-rasanya, kalau paham sama referensi-referensi tersebut, penonton bakal banyak tersenyum dengan Oblivion ini, baik karena gambar maupun jalan ceritanya yang "wah, ini/itu/anu banget nih". Tapi, mungkinkah Joseph Kosinski yang juga menggagas cerita aslinya dalam format komik ini (tapi belum terbit) emang nggak kreatip dan bisanya nyontek doang, atau justru meniatkan Oblivion sebagai penghormatan pada genre ini? Silahkan nilai sendiri. Sedangkan buat gw, ide-ide "orang lain" itu dileburkan dengan cukup baik dan mulus kok, malah bikin gw penasaran untuk menyimak hingga akhir, dengan cara seperti (film) apa Kosinski akan menyelesaikan filmnya. Oblivion, sebuah suguhan cukup apik dan traktiran yang menyenangkan khususnya bagi penggemar bidang sci-fi, dan umumnya bagi siapa pun yang mau sedikit bersabar =P.




My score: 7/10

2 komentar:

  1. Keren beuds nih film, Kalo gue akan kasih di atas 8 ratenya, pantes lah buat nih film. Tapi ya gitu yang gue benci dari film ini ya (IMO) agak susah dimengerti bila ditonton sekali saja. Gua baru bisa 'mudeng' dan 'ngeh' dengan maksud dan dialog-dialog serta misteri dan twist2 dari film ini , seteah dua kali nonton. Untung nonton DVD, itupun gue rewind, pause, mikir, rewind, pause, mikir baru lanjut, udah gak keitung, buat mengikuti alur dan 'kemauan' film ini bagaimana? he he, tapi dengan perjuangan yang cukup panjang gua akhirnya ngerti dan bisa senyum-senyum sendiri, tenryata nih film gak cuma visualnya yang luar biasa mantebnya(Lebay..) tapi dari segi cerita dan lain-lain TOP pol deh. Kayanya film-film sekarang terutama yang sci-fi , apa mungkin ya, saking canggihnya, sampe susah mencerna dan mengikuti alurnya yah? (konsekuensi tambah canggih? keh.. keh...) Memang alurnya lambat dan suasananya cenderung sepi, but memang ajib banget peralatan, visualisasi keadaan bumi, luar angkasa, luar biasa futuristik memang. Apalagi adegan yang kejar-kerjaran ama drones di lembah, sama yang di luar angkasa pada akhir film itu. Sumpah, keren banget! TRON Legacy mah nurut gua jelek banget, bukan tandingannya. Gue malah gak nyangka yang ngedirect TRON ternyata the same person, tapi outputnya kok njomplang banget yah? BTW, kayanya kalo tahun 2077 kecepetan deh kaya gitu teknologinya. Meski ada mesin, dll. Yang bikin gua bingung ntuh ya,
    1. Anak perempuan di akhir cerita ntuh anak siapa Ya?Bukankah si Jack ini belum pernah punya anak ya?
    2. Trus, yang nyiptain mesin yang ngakunya 'dewa' yang ancur di akhir cerita tersebut sebenarnya siapa?(ada yang nyiptain kagak?)
    3. Nyambung dengan pertanyaan nomor 2? jadi si Sally itu yang aliennya ato ya apa? jadi dia beneran yang ngancurin bulan gitu? (anehnya, masa robot sih?)

    Sorry Bro Reino banyak tanya, maklum belum seajib Bang Reino kalo mentelengin film, thanks, ulasan yang mantap dari tukang review film sekelas anda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, thanks ya komentarnya. Saya tertarik jawab pertanyaan yang 123 itu tapi mungkin takutnya spoiler buat yang belum nonton, jadi maaf kalau nanti kurang jelas jawabannya, hehe.

      --SPOILER ALERT--



      1. bener. kan ceritanya udah beberapa tahun kemudian, si anunya sempet hamil dulu =)
      2. Itu siapa? itulah misterinya =). sejauh ini anggap saja itu alien yang mau merebut sumber daya alam bumi. Untuk memperdaya Jack, ia mengambil rupa manusia biar dikira Jack itu bekerja untuk kebaikan umat manusia. padahal enggak.
      3. kira-kira bisa dilihat di jawaban nomor 2.

      semoga bisa menjawab =)

      Hapus