Jumat, 19 April 2013

[Movie] Mursala (2013)


Mursala
(2013 - Raj's Production)

Directed by Viva Westi
Written by Tubagus Deddy, Viva Westi
Produced by Anna Sinaga
Cast: Rio Dewanto, Titi Rajo Bintang, Mongol Stress, Anna Sinaga, Tio Pakusadewo, Reins Christiana Situmeang, Rudy Salam, Roy Ricardo, Elza Syarief


Mungkin memang agak berlebihan jika mengharapkan Mursala akan segemilang karya apik Viva Westi sebelumnya, Rayya Cahaya di Atas Cahaya yang jadi film nomer 1 gw tahun lalu. Benar mbak Westi memboyong beberapa "tim sukses"-nya di film itu, yakni Titi Rajo Bintang d/h Titi Sjuman, lalu Tio Pakusadewo, juga sinematografer Ipung Rachmat Syaiful. Tetapi harus diingat juga bahwa film ini diinisiasi oleh tim yang bisa dibilang masih baru dalam dunia film, yang dipimpin oleh Anna Sinaga (di filmnya ditambahkan "SH"), pengacara muda yang juga ikut tampil berakting di sini. Ditambah lagi film ini mengemban pesan pariwisata Pulau Mursala di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, juga mengangkat kebudayaan Batak nan kental dalam plotnya. Di satu sisi ini sangat menjanjikan, namun di sisi lain, ternyata...hmm, entah karena kecapekan atau kebanyakan pressure atau apa, hasilnya tidak terlalu maksimal di beberapa aspeknya yang cukup krusial.

Film Mursala berpusat pada Anggiat Simbolon (Rio Dewanto), seorang pengacara muda asal Tapanuli Tengah yang kariernya sukses di Jakarta, yang berharap dapat menikah dengan kekasihnya, Clarissa Saragih (Anna Sinaga). Sayangnya ketika niat ini dibawa ke sang inang (Reins Christiana Situmeang) dan warga kampungnya, kedua insan Batak ini tidak diperbolehkan menikah karena marga mereka termasuk dalam PARNA, yakni 70 marga yang masih dalam satu keturunan sehingga dianggap "saudara sekandung". Jika melanggar, maka Anggiat akan dikeluarkan dari adat, imbasnya tidak boleh pulang ke kampung halamannya lagi. Inang tak tega dengan kegelisahan putranya, mulai mengarahkan Anggiat ke paribannya (sepupu) yang seorang aktivis lingkungan di sekitar pulau Mursala, Uli Sinaga (Titi Rajo Bintang) yang sudah dikenalnya sejak kecil. Lalu apakah Anggiat akan tetap memperjuangkan cinta atas adat?

Bagi orang-orang "romantis", jawaban pertanyaan di atas adalah "Ya iya dong! Cinta jelas mengalahkan segalanya! nya! nya! *gema*". Tapi inilah hal menarik yang juga cukup berhasil diangkat dalam film ini. Penghormatan orang-orang Batak terhadap adatnya sangatlah kuat. Sangat kuat. Bahkan dalam film ini digambarkan tokoh bersuku Batak yang tidak dibesarkan dalam lingkungan adat pun tidak berani macam-macam untuk perkara ini. Cinta beda bangsa udah susah, beda agama susah, beda budaya susah, lah ini budayanya sama kok masih susah juga. Tampak tak masuk akal, tapi ini benar adanya, karena ini menyangkut harta yang paling berharga, keluarga. Hal ini juga ditegaskan dengan Anggiat yang bisa dibilang "kelas atas" tidak canggung untuk bergaul dengan tulang/pamannya (Tio Pakusadewo) yang seorang sopir Metro Mini, di lapo sederhana di Jakarta. Karena keluarga. 

Story-wise, film Mursala ini sangat menarik, lengkap, dan tidak mengada-ada. Gambaran tentang adat Batak dan orang-orangnya di berbagai keadaan juga ditampilkan dengan komprehensif dan dapat (dengan mudah) ditemukan dalam keseharian. Susunan cerita human drama tentang pertentangan demi pertentangan antara cinta, keluarga, adat, karier, dan persahabatan menyatu dengan tidak berlebihan. Salah satu hal yang menarik gw adalah halusnya bangunan hubungan Anggiat dan Uli, yakni kesamaan mereka menentang ketidakadilan lewat profesi masing-masing. Jadi, kasus pencurian sendal dan penyuluhan anti-bom ikan bukan cuma selingan yang kepanjangan, tetapi membangun hubungan karakter mereka berdua, yang bukan karena terpaksa, atau bukan juga karena tuntutan ini film bertema cinta jadi harus miraculously segera bersatu.

Naaah...masalah mulai muncul pada tahap eksekusi. Sangat banyak bukti visual bahwa mbak Viva Westi struggling untuk menampilkan performa terbaik dari pemainnya. Rio Dewanto seperti belum mengeluarkan akting terbaiknya, masih kayak FTV. Pemain-pemain debutan seperti Anna Sinaga, Reins Situmeang (ibunda Anna), Roy Ricardo (adiknya Melaney Ricardo) dan...ehm...pengacara kondang Elza Syarief sebagai dirinya sendiri terlihat canggung sekali. Kalau satu dua adegan sih nggak apa-apa ya, cuman...emm...gimana ya...sepertinya mbak Westi dan editornya kehabisan stok gambar berisi performa bagus sehingga yang ditampilkan yang ya-udah-mau-gimana-lagi. Kaku banget. Kalau mau diibaratkan, maap-maap nih, sebagian besar adegan film ini seperti sinetron lepas produksi TVRI daerah era 90-2000an yang minim budget dan memakai pemain-pemain non-profesional. Continuity-nya juga kadang melompat-lompat agak jauh, kadang nggak masuk akal. Dan yang bikin gw ampe tutup muka saking malunya tuh product placement Telkomsel yang menurut gw bisa lebih halus lagi. Daripada "aku 'kan pake Telkomsel," bernada iklan radio, mendingan "iya, ternyata bisa nih pake Telkomsel," dengan nada biasa aja dan agak terkejut basa-basi *saran aja*.

I really wanted to love Mursala, dan memang masih banyak hal yang membuat gw bisa bertahan mantengin film berdurasi 1,5 jam ini. Titi Rajo Bintang sekali lagi membuktikan ia aktris yang berdedikasi tinggi, dengan segala aksen, bahasa, dan gestur yang digunakan. Penampilan Mongol Stress sebagai Sahat si pengarang/penulis juga hitungannya termasuk top 3 bersama Titi dan Tio. Beberapa gag berhasil menghibur, misalnya waktu Sahat di perahu bisa berkomunikasi lancar dengan Uli di dermaga padahal jaraknya nggak deket—hence, jawaban mengapa banyak orang Batak kalo ngomong biasa aja tetep suaranya keras =). Sinematografinya asik (syutingnya pake seluloid, berasa film banget), apalagi ada bonus pemandangan air terjun Mursala yang heavenly itu—sayang kayaknya proses konversi gambar ke digital-nya kurang mantep jadi banyak yang kelihatan burem dan kasar gitu. Musiknya mengalun mulus, dan lagu tema "Mursala" dari Iwan Fals di akhir juga menjadi salah satu aspek paling baik film ini. Serta tentu saja ceritanya yang sebenarnya punya kualitas jempolan dan berhasil menggambarkan masyarakat dan budaya Batak dari sudut pandang orang-orangnya sendiri, bukan kartunis seperti biasa terjadi di film/sinetron/lawak nasional. Informasi-informasi tentang adat serta profesi (dan kritik sosial dikit-dikit) pun tidak asal tempel. Nevertheless, gw harus jujur, film ini terbata-bata dalam bertutur dan kagok dalam mengusahakan segenap modal yang sebenarnya sudah baik itu. And don't get me started on the poster design...  




My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar