Sabtu, 16 Februari 2013

[Movie] Rectoverso (2013)


Rectoverso
(2013 - Keana Production)

Directed by Marcella Zallianty ("Malaikat Juga Tahu"), Rachel Maryam ("Firasat"), Cathy Sharon ("Cicak di Dinding"), Olga Lydia ("Curhat untuk Sahabat"), Happy Salma ("Hanya Isyarat")
Screenplay by Yosof Munthaha
Written by Ve Handoyo ("Malaikat Juga Tahu", "Cicak di Dinding"), Indra Herlambang ("Firasat"), Ilya Sigma & Priesnanda Dwi Satria ("Curhat untuk Sahabat), Key Mangunsong ("Hanya Isyarat")
Based on the short stories by Dewi "Dee" Lestari
Produced by Marcella Zallianty, Eko Kristianto
Cast: Lukman Sardi, Prisia Nasution, Dewi Irawan, Marcel Domits, Asmirandah, Widyawati, Dwi Sasono, Yama Carlos, Sophia Latjuba, Tio Pakusadewo, Acha Septriasa, Indra Birowo, Tetty Liz Indriati, Amanda Soekasah, Fauzi Baadilla, Rangga Djoned, Hamish Daud


Another omnibus, tetapi jelas Rectoverso ini punya nilai jual yang lebih daripada film-film omnibus Indonesia yang setahun belakangan ini banyak beredar. Selain diangkat dari kumpulan cerpen—atau si pengarang bilang istilahnya "novelet"—best seller karya Dewi "Dee" Lestari yang sepaket sama album berisi lagu hit "Malaikat Juga Tahu" itu loh, Rectoverso juga menampilkan all star cast, melibatkan kru berpredikat mumpuni (semisal sinematografer Yadi Sugandi dan editor Cesa David Luckmansyah), dan uniknya setiap segmen disutradarai oleh orang-orang yang sebelumnya hanya dikenal sebagai aktris, kalo nggak salah ini adalah debut mereka masing-masing sebagai sutradara. Dari sebelas cerita dari buku/album Rectoverso karya Dee, dipilih lima cerita yang ditampilkan dalam satu film berdurasi 110 menit ini.

Karena ada lima cerita, semuanya tentang cinta dari sudut pandang wanita, langsung aja ya gw ungkapkan segmen favorit gw yak. Yang gw paling suka itu ada dua, yaitu "Malaikat Juga Tahu" yang diarahkan Marcella Zallianty dan "Curhat untuk Sahabat" yang diarahkan Olga Lydia. "Malaikat" berkisah tentang seorang penyandang autisme, Abang (Lukman Sardi) yang jatuh cinta pada salah seorang gadis penghuni kost milik Bundanya (Dewi Irawan), bernama Leia (Prisia Nasution). Leia memang selama ini bergaul baik dengan Abang, namun Leia belakangan berhubungan kasih dengan adik Abang, Hans (Marcel Domits). Bisa jadi "Malaikat" adalah segmen yang paling kuat, baik dari cerita, tata adegan, dan terutama akting, yang membuat kisah cinta yang tak biasa ini menimbulkan haru tanpa harus mengharu biru atau dibikin-bikin *usap air mata*.

Sedangkan "Curhat" kisahnya lebih sederhana dan lebih santai namun tak kalah menyentuh, tentang Amanda (Acha Septriasa) yang mengingat-ingat kembali hubungan cintanya dengan berbagai macam pria di masa lalu kepada sahabatnya, Regi (Indra Birowo). Friend-zone alertWell, tentu saja kita tahu arah ceritanya ke mana, tapi...hmmm...gimana yah...penuturannya manis dan sangat cukup menggambarkan bagaimana hubungan Amanda dan Regi tanpa harus capek-capek pake "suara batin" ala sinetron =). It's pretty sweet.

Sedangkan tiga segmen lainnya bagi gw mungkin tidak sekuat yang dua tadi. "Firasat" arahan Rachel Maryam yang bercerita tentang Senja (Asmirandah) yang punya kemampuan "berfirasat" memiliki firasat tak enak untuk orang yang dicintainya, Panca (Dwi Sasono). Arah segmen ini lebih melankolis, tetapi sayangnya melankolis itu juga diartikan "akting sinetron" oleh aktornya, dan penyelesaiannya pun kurang dapat gw pahami. "Hanya Isyarat" arahan Happy Salma sedikit membosankan buat gw, karena intinya tentang sekelompok orang yang travel bareng (menampilkan Amanda Soekasah sebagai Al dan Hamish Daud sebagai incerannya =)) saling cerita tentang pengalaman hidup. Filosofi menarik tentang "punggung" pun juga kurang dapat gw pahami "dalem"-nya tuh di sebelah mananya (ini sih gw-nya aja yang cetek) karena penyampaiannya juga tidak istimewa, but again idenya menarik sekali. "Cicak di Dinding" sedikit lebih menarik meskipun ceritanya paling biasa. Seorang seniman "bernama" Andre (Yama Carlos), terlibat cinta satu malam (atau 15 menit?) dengan Saras (Sophia Latjuba yang senantiasa ber-sex-appeal maknyus), mereka pun dipertemukan lagi sebanyak 2 kali lagi, satu menyenangkan, satu lagi tidak mengenakkan. Biasa sih, dan ke-seniman-an Andre yang sebenarnya cukup krusial masih kurang dikedepankan, tapi mungkin karena ada Sophia Latjuba-nya jadi gimanaa gitu =D.

Walau berisi lima cerita dengan sutradara (dan penulis naskah) berbeda, Rectoverso sendiri dipresentasikan secara selang-seling instead of bergiliran, jadi lebih mirip Dilema, dan ada pula beberapa karakter di satu segmen yang muncul atau disebut di segmen lain meski tak berkaitan langsung. Dengan demikian, kerja keras editor sangat dituntut sehingga sedapat mungkin ketertarikan dan pemahaman penonton terhadap kisah-kisahnya tetap terjaga, untungnya dalam Rectoverso tuntutan itu dapat dipenuhi dengan baik. Ada pula keuntungan dari penceritaan model begini, jika pun ada segmen yang lemah, bisa "ditambal" dengan segmen lainnya yang lebih kuat. Itu juga yang terjadi di Rectoverso ini, "trik" yang digunakan itu berhasil meninggalkan kesan yang sangat kuat selepas menontonnya, terutama pada pemilihan adegan penutupnya, yakni akhiran dari "Malaikat Juga Tahu" yang menampilkan dua kekuatan akting paling juara dari keseluruhan Rectoverso, Lukman Sardi dan Dewi Irawan. Eh, belum lagi tangkapan kamera Yadi Sugandi di semua segmen sangat menyamankan mata, sekalipun agak "terdegradasi" proses pascaproduksi yang kurang sempurna (pada hasil akhir gambarnya, terang-gelap dan beberapa warna tampak kurang halus). 

Rectoverso secara keseluruhan adalah sebuah tontonan menarik, mudah dinikmati, dan suprisingly matang bila mengingat adegan-adegannya diarahkan oleh sutradara-sutradara "baru", terima kasih kepada tim produksi yang memang tampak kompak saling menopang. Kisah-kisah cinta yang disampaikan memang menarik dan tidak biasa-biasa, serta (setidaknya) beberapa di antaranya sukses dalam menyentuh sanubari *aiiih*. Bila ada kelemahan pun sepertinya tidak terlalu menganggu banget lah. Lima kisah cinta yang puitis dan berhasil mencolek rasa, sepertinya sudah cukup berhasil menerjemahkan visi unik dari Dewi Lestari sebagai penggagas tiap-tiap ceritanya ke dalam bentuk film ini. Mungkin mau bikin lagi Rectoverso bagian 2?



My score: 7,5/10

2 komentar:

  1. nice review..

    sayang aja ada beberapa yang kurang greget kalau kata saya hehehe..

    yang bagus :

    Malaikat juga tahu ( cerita matang, akting Lukman Sardi luar biasa )
    Curhat buat Sahabat ( walau adegan monoton tapi mampu mengiris hati )
    Firasat ( bagus juga, tapi agak kurang matang di akhir cerita )

    yang kurang :

    Cicak dan Hanya Isyarat ( kenapa Dee memilih dua cerita ini ya ?

    kenapa bukan Peluk aku yang menjadi salah satunya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm, setidaknya bagi saya yang bukan pembaca bukunya masih bisa menikmati dan menangkap ide dasar cerita2nya yang emang keren.

      terima kasih komentarnya =)

      Hapus