Minggu, 19 Agustus 2012

[Movie] Perahu Kertas (2012)


Perahu Kertas
(2012 - Starvision Plus/Bentang Pictures/Dapur Film)

Directed by Hanung Bramantyo
Screenplay by Dewi "Dee" Lestari
Based on the novel "Perahu Kertas" by Dee
Produced by Chand Parwez Servia, Putut Widjanarko
Cast: Maudy Ayunda, Adipati Dolken, Reza Rahadian, Elyzia Mulachela, Sylvia Fully, Fauzan Smith, Kimberley Ryder, August Melasz, Ira Wibowo, Tio Pakusadewo, Titi Dj, Pierre Gruno, Dewi "Dee" Lestari, Ben Kasyafani, Dion Wiyoko


Si Dewi dari Rida Sita Dewi tampaknya menjadi personel trio pop vokal ini yang paling terdiversifikasi karirnya.  Berangkat dari penyanyi dan pencipta lagu, wanita bernama lahir Dewi Lestari Simangunsong ini melebarkan sayap ke dunia sastra dengan kedok "Dee". Karya-karya tulisnya termasuk laris dan membuatnya memiliki basis penggemar yang cukup kuat di tanah air. Kini Dewi harus menambahkan "penulis skenario film" dalam CV-nya karena dipercaya membuatkan screenplay berdasarkan novel romannya sendiri, "Perahu Kertas" yang terbit pertama kali tahun 2009. Antisipasi film ini cukup besar, denger-denger sih kisah "Perahu Kertas" itu disukai sekali sama para pembacanya, maka tak heran rumah produksi "besar" Starvision mau menggarap versi filmnya, toh track record film berdasarkan buku best seller memang cukup bagus raupan penontonnya, bahkan sutradara Hanung Bramantyo bersedia mengarahkan. Hanung almost never make really bad films, does he?

Perahu Kertas, sebagaimana gw tangkap lewat filmnya (karena, as usual, gw nggak baca novelnya), adalah kisah cinta dan pencarian jati diri. Pasangan yang di-set-up sejak awal dan diharapkan bersatu adalah Kugy (Maudy Ayunda) dan Keenan dibaca ki-nan (Adipati Dolken), yang bertemu di awal perkuliahan mereka di Bandung tahun 1999. Penggambaran kedua karakter berjodoh ini memang gak terlalu jauh dari chicklit: si Kugy ini gadis manis aneh imajinatif yang bercita-cita jadi penulis dongeng dan sering curhat ke "dewa Neptunus" dalam secarik kertas yang kemudian dilipat jadi perahu-perahuan yang kemudian ia hanyutkan di aliran air (hence, of course, the title), si Keenan cowok jago seni visual berpenampilan keren ada turunan bule dan baru aja pulang dari Belanda. Tanpa penetapan apa-apa apalagi kencan, passion mereka masing-masinglah menyatukan hati keduanya, diawali Kugy yang meminjamkan dongeng karyanya kepada Keenan, dan Keenan ternyata sanggup bikin ilustrasi dari dongeng itu. Aww, they're meant to be, co cwit. Jika ini betulan chicklit, maka yang menghalangi mereka adalah permasalahan yang diada-adain semisal hadirnya orang ketiga atau keempat (dan memang sih Kugy sebenarnya udah punya pacar).

Untunglah Perahu Kertas ini bukanlah kisah semacam itu. Kugy dan Keenan semestinya sudah tau sama tau perasaan masing-masing, tetapi selalu ada yang menghalangi yang juga penting bagi mereka, yaitu pencarian jati diri. Seringkali dalam kisah-kisah romansa, karakternya seakan tidak punya kehidupan selain soal percintaan. Di sini, kehidupan Kugy dan Keenan punya bangunan masing-masing yang cukup jelas. Mereka sadar persoalan cinta bukan satu-satunya yang harus mereka perjuangkan, meskipun persoalan cinta juga mempengaruhi pilihan-pilihan mereka. Kugy mundur teratur setelah tahu Keenan sudah punya teman dekat perempuan, menyibukkan dirinya sebagai pengajar sukarela di sekolah terbuka yang dapat menyalurkan kegemarannya mendongeng. Keenan pun kemudian nekad meninggalkan kuliah Ekonominya demi belajar seni rupa di Bali yang ditentang keras oleh sang ayah (August Melasz). Mereka sedang menjalani kehidupan mereka masing-masing, bertemu orang-orang yang berbeda (or not =P). Ketika beberapa kali mereka bertemu, mereka nggak berbicara tentang "hubungan" mereka, melainkan sudah sampai mana mereka dalam kehidupan masing-masing. Bisa jadi ada yang geregetan "bilang kek kalo suka", tetapi apakah saling bertukar progress perjalanan mereka meraih cita-cita itu tidak lebih penting daripada soal "akuwh tuch d4ri doeloe saiank bengeutz chama qamoh"? Setidaknya kedua karakter ini masih punya logika.

Masih ada sih "keajaiban-keajaiban" khas film romansa, namun yang gw suka dari film ini adalah tokoh-tokohnya yang dibuat tidak kekanakan ataupun kegedean terutama dari dialog-dialognya yang masuk akal dan nggak kelewat aneh. Gw merasa setiap ujaran nggak ada yang mengawang-awang sepuitis apa pun itu, pun diucapkan oleh para aktornya dengan cukup natural, bukan sok natural (Hanung 1: Rudi Soedjarwo 0), gw bisa melihat Maudy Ayunda memang aktris muda berbakat, and she sings the title song, too. Gw juga suka tata latarnya yang tetap grounded dan riil meski tanpa berusaha terlalu keras untuk jadi realistis (yah mungkin ada beberapa anachronism yang cukup ganggu seperti bentuk botol baru Fruit Tea yang muncul di masa ketika belum ada Fruit Tea kemasan botol beling, atau informasi keberangkatan/kedatangan di Bandara yang sudah pakai layar LCD meski belum masuk tahun 2008, dsb.). 

Hanya saja ada dua hal dari bagian produksi yang cukup mengganjal gw. Pertama, how I wish it was shot on celluloid film. Menyaksikan gambar film ini hampir tak beda dengan menyaksikan FTV, entah karena jenis kamera atau proses pascaproduksinya, yang pasti masih kurang "sinematik" rasanya, terutama dari warna, dan ini kerasa jelas karena gw menonton Perahu Kertas tepat setelah Tanah Surga...Katanya yang hasil gambarnya jauh lebih jernih dan "berasa bioskop" meski sama-sama pakai kamera film digital. Kedua, how I wish this film is shorter, atau kalau perlu jadi satu film saja. Jadi memang benar Perahu Kertas yang ini adalah "bagian pertama", dan bagian keduanya akan dirilis bulan Oktober nanti *catet*. Silakan beralasan "supaya memuaskan pembaca novel" atau sekadar ikut-ikutan Harry Potter dan Twilight, pemanjangan film ini rasanya nggak perlu deh. Bahkan mungkin karena niat membagi dua kisahnyalah yang membuat paruh akhir film ini lajunya kayak direm banget sehingga terasa menjemukan dan kayak nggak kelar-kelar. Udah nggak kelar-kelar, pake bersambung pula =.=. Padahal ritme bagian awalnya enak banget, bagian tengah yang menceritakan kehidupan baru Keenan di Bali dan perjalanan Kugy dari lulus kuliah hingga dapet kerja pun masih sama enaknya, cuma belakangan film ini jadi berasa lebih lama dari seharusnya.

Kalau boleh gw menilai, Perahu Kertas ini memiliki keunikan dan orisinalitas dalam mengisahkan romantika dua muda-mudinya, dan pun (awalnya) disampaikan cukup lancar dan jelas. Kisahnya memang profoundly interesting and enjoyable. Meski karakter yang muncul cukup banyak (dan gw kayaknya gak apal semua namanya =P), gw masih bisa paham posisinya masing-masing. Agak disayangkan treatment-nya tampak terlalu sederhana, aktornya belum ada yang stand-out, dan kerasa lama durasinya, kurang wow gitu. Tapi yaaah bolehlah.



My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar