Selasa, 05 Februari 2013

[Rapid Film Review] The Phantom of the Opera - Dreamgirls - Sweeney Todd - Rock of Ages

Setelah menonton Les Misérables (dua kali) tempo hari, gw jadi terpanggil lagi menelusuri film-film musikal yang pernah gw tonton, khususnya yang dirilis di milenium baru ini. Di dekade 2000-an film musikal pelan-pelan bangkit di hadapan penonton mainstream setelah dalam dekade sebelumnya hanya "halal" dilakukan oleh animasi Disney. Sejak Moulin Rouge!-nya Baz Luhrmann dan Chicago-nya Rob Marshall, gw jadi salah satu penyuka film musikal, meskipun pada akhirnya tidak semua film musikal di era ini gw suka. Beberapa effort yang dilakukan pascakesuksesan dua film tersebut (sebelum Les Mis) rasanya sebagian besar belum ada yang bisa menyamai persis, baik kualitas filmisnya maupun excitement-nya, setidaknya buat gw.

Kali ini Rapid Film Review akan mengulas singkat beberapa film musikal yang dirilis sejak masuk abad ke-21 yang udah gw tonton. Empat dulu ya, nanti kalau ada waktu gw akan bahas lagi yang lain.



Theme: musical films of the new millennium


The Phantom of the Opera
(2004 - Odyssey Entertainment/Warner Bros.)
Directed by Joel Schumacher
Screenplay by Andrew Lloyd Webber, Joel Schumacher
Based on the stage musical book by Andrew Lloyd Webber
Based on the novel "Le Fantôme de L'Opéra" by Gaston Leroux
Produced by Andrew Lloyd Webber
Cast: Gerard Butler, Emmy Rossum, Patrick Wilson, Miranda Richardson, Minnie Driver, Ciarán Hinds

Opera Populaire di Paris punya pemilik baru yang berkonflik dengan sang primadona (bintang) Carlotta (Minnie Driver) yang mogok, sehingga terpaksa menggantinya dengan gadis muda berbakat, Christine Daaé (Emmy Rossum), yang dalam semalam sukses menjadi bintang baru. Christine pun bertemu dan CLBK sama seorang bangsawan, Raoul (Patrick Wilson), namun sang penghuni misterius gedung opera tersebut, The Phantom (Gerard Butler) ternyata juga menginginkan gadis itu.

Atau anggap aja ceritanya begitu. Entahlah. The Phantom of the Opera adalah contoh bahwa memindahkan teater musikal ke dalam film tidaklah gampang. Meskipun film ini ditangani langsung oleh Andrew Lloyd Webber, yang empunya musikal "The Phantom of the Opera" versi ini, nyatanya film garapan Joel Schumacher ini kurang dapat menyampaikan ceritanya dengan baik. Schumacher sendiri seperti tidak punya visi dalam pengadeganan nyanyi-nyanyinya, lagunya bagus-bagus tapi tampilannya seperti hanya meng-copy-paste apa yang (mungkin) sudah dilakukan dalam versi teaternya dengan penambahan setting yang 4-dimensi saja, tanpa memunculkan "cengkeraman" yang sepadan dengan yang (konon) dapat membuai penonton versi teaternya. Bagian nyanyi dan dialognya seperti kurang padu, pun casting-nya sendiri agak menundang pertanyaan karena baik Emmy Rossum maupun Gerard Butler memiliki kemampuan vokal yang nanggung senanggung aktingnya, padahal film ini membahas "opera".

My score: 6/10

Emmy Rossum sebagai Christine menyanyikan "Think of Me"


__________


Dreamgirls
(2006 - Paramount/DreamWorks)
Written for the screen & Directed by Bill Condon
Based on the stage musical book by Tom Eyen
Produced by Laurence Mark
Cast: Jamie Foxx, Beyoncé Knowles, Jennifer Hudson, Anika Noni Rose, Eddie Murphy, Danny Glover, Keith Robinson

Tiga gadis muda yang tergabung dalam trio penyanyi, Effie (Jennifer Hudson), Deena (Beyoncé), dan Lorell (Anika Noni Rose) akhirnya mendapat jalan untuk menjadi artis profesional bersama seorang dealer mobil yang terobsesi jadi produser musik, Curtis Taylor Jr (Jamie Foxx). Perjalanan meraih mimpi tak semulus harapan, ketika dihadapkan dengan kerasnya persaingan, asmara, juga hancurnya mimpi dan sakitnya hati karena tuntutan industri.

Dreamgirls merupakan semacam ilustrasi dramatis perjalanan karir penyanyi legendaris Diana Ross (tau "When You Tell Me That You Love Me", kan?). Inkarnasi tokohnya di sini adalah Deena yang cantik dan ketiban rezeki menjadi terkenal sedangkan rekan yang lain cuma jadi seksi hore, padahal vokalnya masih kalah dari leader mereka, Effie. Film ini sendiri menyampaikan kisahnya dengan cukup baik apalagi dengan inklusi musik asyik khas Motown dan performa vokal amazing dari para pemainnya, enak ngikutinnya. Tapi untuk berefek membahana seperti Chicago (Bill Condon adalah penulis naskah film itu), rasanya masih belum. Film ini kurang dapat menyatukan lagu dan ceritanya jadi satu kesatuan yang kuat, malah entah lagu atau dramanya seperti menahan-nahan laju cerita sehingga panjangnya film ini jadi terasa. Nevertheless, film ini tetap mampu tampil memikat dengan tata musik, kostum, desain produksi, penyuntingan, dan jajaran aktornya yang kelas wahid.

My score: 7/10

Jennifer Hudson, Beyoncé, dan Anika Noni Rose sebagai trio 
The Dreamettes mencoba peruntungan dalam audisi dengan lagu "Move".


__________


Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street
(2007 - Warner Bros./DreamWorks)
Directed by Tim Burton
Screenplay by John Logan
Based on the stage musical production by Stephen Sondheim and Hugh Wheeler
Based on the play by Christopher Bond
Produced by Richard D. Zanuck, Walter F. Parkes, Laurie MacDonald, John Logan
Cast: Johnny Depp, Helena Bonham Carter, Alan Rickman, Timothy Spall, Sacha Baron Cohen, Jamie Campbell Bower

Sweeney Todd (Johnny Depp) punya dendam kesumat terhadap Hakim Turpin (Alan Rickman) di London yang telah merebut anak-istrinya serta menjebloskannya ke dalam penjara atas tuduhan palsu. Kepahitan membuatnya jadi bengis, gelap mata, dan tak berbelas kasihan, namun Mrs. Lovett (Helena Bonham Carter) si penjual pie daging berhasil membujuknya untuk membuat perencanaan yang lebih matang dalam membalas dendam. Mr. Todd mulai membangun citra sebagai tukang cukur terbaik di kota supaya akhirnya dapat mengundang Turpin datang dan duduk untuk dicukur wajahnya, lalu membunuhnya dengan pisau cukur kesayangannya.

Sebelum Sweeney Todd, gw belum pernah menyaksikan musikal yang berdarah-darah dan horor. Dalam penekanan itu, film buatan Tim Burton ini terbilang berhasil. Gelapnya dunia dan tokoh-tokohnya dikontraskan dengan merahnya darah dan alunan nada lagu-lagu yang malah (surprisingly) tidak horor, berhasil menampilkan suasana yang pas untuk kisah yang mencekam ini, tetap mengerikan tapi jadi artistik. Dalam konteksnya bercakap-cakap sambil bernyanyi pun tidak terasa aneh karena sejak awal sudah ditunjukkan bahwa bernyanyi adalah bagian dari cara mereka berdialog, dan lagu-lagu yang dipakai memang berfungsi memperjelas karakter dan ceritanya, bukan cuma buat nari-nari belaka (adegan nyanyinya rata-rata singkat saja). Pun performa para aktor sukses mengawinkan ekspresi dan nyanyian dengan meyakinkan. Dan di atas itu semua, Sweeney Todd sukses mengkonversi teater musikal menjadi film semi-opera yang tetap bergaya khas film, khususnya khas Tim Burton, tanpa terasa canggung atau hampa.

My score: 8/10

Johnny Depp sebagai Sweeney Todd berduet "Pretty Women" 
dengan Alan Rickman sebagai Turpin sembari bercukur.


__________


Rock of Ages
(2012 - New Line Cinema)
Directed by Adam Shankman
Screenplay by Justin Theroux, Chris D'Arienzo, Allan Loeb
Based on the stage musical book by Chris D'Arienzo
Produced by Matthew Weaver, Scott Prisand, Carl Levin, Tobey Maguire, Garrett Grant, Jennifer Gibgot
Cast: Julianne Hough, Diego Boneta, Tom Cruise, Russell Brand, Alec Baldwin, Catherine Zeta-Jones, Paul Giamatti, Mary J. Blige, Malin Åkerman, Bryan Cranston

Sherrie (Julianne Hough), gadis daerah berbakat mencoba peruntungan menjadi penyanyi di Los Angeles namun terpaksa menjadi pelayan sebuah klub musik rock The Bourbon Room sebelum mimpinya itu tercapai, untungnya ia bertemu dan saling jatuh cinta dengan bartender Drew (Diego Boneta) yang punya impian serupa. Di sisi lain, The Bourbon sedang di ambang kebangkrutan dan terancam dibredel sama kaum ibu-ibu pengajian konservatif pimpinan istri walikota, Patricia Whitmore (Catherine Zeta-Jones). Harapan The Bourbon hanyalah penampilan terakhir dari superstar rock Stacee Jaxx (Tom Cruise) sebelum bandnya bubar, tetapi kehadiran sang rock star malah sama sekali tidak memperlancar segalanya.

Rock of Ages diangkat dari pertunjukan musikal yang menampilkan lagu-lagu yang sudah terkenal lalu menyatukannya dengan jalan cerita, istilahnya juke-box musical (kata Wiki), konsep yang juga dipakai dalam Across the Universe dan Mamma Mia! dan belakangan dalam serial "Glee". Jujur saja film ini memang konyol-konyolan dan ceritanya pun agak basi (untungnya sih plotnya nggak gampangan), namun lagu-lagunyalah yang menjadi daya tarik utama, bahkan sanggup membuatnya menjadi sebuah tontonan mengasyikkan. Menampilkan lagu-lagu dari band-band classic rock 1980-an macam Def Lepard, Bon Jovi, Foreigner, Scorpions, hingga Journey (pertunjukan broadway-nya lebih dulu meng-cover "Don't Stop Believin'" sebelum anak-anak "Glee", fyi), film ini akan jadi ajang karaoke bagi para penggemar musik era tersebut. Bahkan gw yang bukan anak classic rock aja bisa "tersetrum" dengan banyaknya lagu legendaris yang didendangkan di film ini, sekaligus bisa ketawa geli melihat visualisasi tiap lagu itu yang konyolnya bisa sampe gak ketulungan, sebagaimana gw geli mengingat Tom Cruise yang kalo ngomong sok wibawa tapi nyanyi suaranya kok "kayak gitu", hehe. Dilengkapi dengan pembagian porsi karakter yang pas dan performa aktor yang oke (meski masih nggak habis pikir kok Diego Boneta bisa-bisanya dapet bintang utama =|), Rock of Ages is silly, enjoyable, yet still rockin'.

My score: 7/10

Julianne Hough dan Diego Boneta sebagai Sherrie dan Drew 
meleburkan lagu "Heaven" milik Warrant dan "More Than Words" dari Extreme.


2 komentar:

  1. Belom liat Rock of Ages, semacem Hairspray kah atmosfernya, lumayan bis amenikmati Hairspray sih...

    Kalo Dreamgirls ane demen tuh lagu2nya, And I am telling You tuh ibaratnya I dream a dream-nya Les Mis..sapa yg dapet tuh lagu pasti banjir award dah ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Rock of Ages itu selevel sama Hairspray, sutradaranya sama, tapi konten ceritanya lebih ringan, plus lagu-lagunya juga lebih familiar (karena emang lagu-lagu terkenal) =))

      Hapus