Jumat, 08 Juni 2012

[Movie] Soegija (2012)


Soegija
(2012 - Puskat Pictures)

Directed by Garin Nugroho
Written by Armantono, Garin Nugroho
Produced by Djaduk Ferianto, Murti Hadi Wijayanyo SJ, Tri Giovanni
Cast: Nirwan Dewanto, Annisa Hertami, Wouter Zweers, Wouter Braaf, Nobuyuki Suzuki, Olga Lydia, Butet Kertaradjasa, Henky Soelaiman, Andrea Reva, Rukman Rossadi


Tak jauh sejak rilis umum film Mata Tertutup bulan Maret kemarin, Garin Nugroho kembali merilis film berjudul Soegija (bacanya: su-gi-yo) yang diprakarsai sebuah rumah produksi berbasis Katolik di Jogjakarta. Ada kesan bahwa Garin cukup senang membuat film "titipan" dari lembaga-lembaga tertentu semisal The Mirror Never Lies dari WWF dan Pemda Kabupaten Wakatobi, dan Mata Tertutup dari Maarif Institute, bukan tak mungkin nanti kita bakal dengar Garin bikin film yang digagas PSSI atau Moeryati Soedibyo. Nggak salah sih, toh selama ini hasilnya tidak mengecewakan dan tetap menunjukkan kualitas artistik film betulan. Anyway, meski diprakarsai lembaga berlatar Katolik dan konon mendapat dana yang digalang dari umat Katolik (bukan dari sponsor), Soegija rupanya bukanlah film propaganda apalagi tentang agama, bukan juga film biografi. Secara keseluruhan, Soegija lebih tepat disebut sebagai film sejarah tentang situasi bangsa dan negara Indonesia sebelum hingga sesudah kemerdekaan, yang diceritakan melalui keberadaan tokoh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, uskup pribumi pertama di tanah Nusantara, beserta orang-orang di sekitarnya. Di titik ini, gw merasa judul Soegija agak-agak mengecoh kalau tidak mau disebut nggak tepat, karena film ini bukan hanya tentang beliau, kecuali "sugiya" itu ada makna tertentu dalam bahasa Jawa, kulo ora mudeng.

Film diawali pada tahun 1940 saat persiapan penahbisan Romo Soegija (Nirwan Dewanto) menjadi uskup (semacam pemimpin gereja-gereja di wilayah/propinsi) di sebuah gereja di Semarang. It's a big deal karena beliau akan menjadi uskup pertama yang orang pribumi di wilayah kekuasaan Hindia Belanda. Kita diperkenalkan kepada dua tokoh yang ikut dalam kepanitiaan acara penahbisan: Mariyem (Annisa Hertami), seorang lulusan sekolah keperawatan, dan Lantip (Rukman Rossadi, ini yang pernah jadi pemimpin NII di Mata Tertutup =D) yang aktif dalam kegiatan kepemudaan nasionalis. Acara itu juga dihadiri wartawan Belanda, Hendrick (Wouter Braaf), yang berteman dengan seorang tentara Belanda yang rasis, Robert (Wouter Zweers). Di tempat lain, ada Ling Ling (Andrea Reva), gadis Tionghoa cilik yang dekat dengan ibu (Olga Lydia) dan engkongnya (Henky Soelaiman) yang warungnya jadi pemasok soto untuk acara penahbisan Romo Soegija. Tak lama, si engkong kedatangan seorang pria Jepang misterius (Nobuyuki Suzuki) yang mendapat pesan bertuliskan dua huruf kanji "Krisis" dari istrinya di rumah. So there you go, tokoh-tokoh inilah yang akan kita lihat keadaannya sepanjang gejolak perubahan situasi negeri, dari kedatangan tentara Jepang, kemerdekaan, masuknya lagi tentara Belanda dan Sekutunya, pemindahan ibukota ke Jogjakarta, agresi militer Belanda, sampai akhirnya pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia oleh Belanda di tahun 1949.

Sebuah film Soegija yang tidak completely bercerita tentang Soegija adalah keanehan. Gw yang sebelumnya tidak tahu apa-apa tentang Uskup Soegija, setelah menonton Soegija juga sepertinya hanya dapat informasi secukupnya saja, hanya terlihat gambaran pribadinya yang humble dan teguh, lalu beberapa kutipan-kutipan yang terlalu textbook. Bentuk sepak terjangnya dalam mendukung kemerdekaan RI yang membuatnya dinobatkan sebagai salah satu pahlawan nasional oleh Presiden Soekarno pun tidak dijelaskan dengan pasti. Sangat sedikit yang bisa didapat dari film ini tentang teladan Uskup Soegija. Padahal, Uskup Soegija ini berpotensi sangat menarik untuk diceritakan secara lebih dramatis, posisinya unik sebagai seorang uskup yang dihormati umatnya yang kaum pribumi sekaligus oleh kaum asing, dan bagaimana beliau menggunakannya dalam mengusahakan perdamaian. Entah dengan pertimbangan apa, pendekatan yang dipilih Garin dkk justru lebih ke keadaan di sekitar Uskup Soegija, dan menampilkan sangat sedikit pengaruh Uskup Soegija terhadap keadaan sekitarnya itu. Cerita film ini tidak lebih dari menggambarkan situasi dan keadaan bangsa Indonesia selama gejolak kemerdekaan dengan Uskup Soegija beserta tokoh-tokoh sekitarnya (katanya fiksi) dalam lingkup personal sebagai alat penceritanya. Hmm, press release-nya sih juga berdalih film ini bukan biografi Soegija tetapi tentang "kemanusiaan"...yang membuat pembahasan kita kembali ke masalah kenapa judulnya Soegija =_=.

Tetapi bila melepaskan itu semua, Soegija tetaplah sebuah film yang apik. Gw akhirnya menyerah dan menikmati film ini sebagai mana adanya, yaitu gambaran perubahan demi perubahan yang terjadi di negeri kita saat itu. Soal diskriminasi pada zaman Belanda, kekejaman pasukan Jepang, ketidakteraturan situasi selepas proklamasi kemerdekaan, sentimen ras, gerakan gerilya, semua diperagakan cukup jelas (meski banyak yang digambarkan lewat dialog). Kita sudah pernah dengar tentang situasi sejarahnya dalam pelajaran sejarah di sekolah, dan film ini pun seperti mengulang teks buku sejarah itu, namun dari sisi tokoh-tokoh yang menerima efeknya ketimbang tentang pelaku sejarah. Misalnya, kita melihat dilema Mariyem dan Hendrick (in case you wondering, mereka bisa lolos dari sweeping dan sebagainya mungkin karena masing-masing adalah perawat dan wartawan), yang tampak punya benih-benih cinta namun pertentangan bangsa mereka masing-masing kerap menjadi pemicu selisih pendapat. Atau Ling Ling yang bingung kenapa ibunya pergi saat pasukan Jepang datang dan toko engkongnya selalu kena penjarahan. Film ini lebih seperti penuturan sejarah nasional dari sisi berbeda, sebuah dimensi lain dari sekedar huruf-huruf dan foto-foto, yang lebih riil dan membumi. 

Pada beberapa liputan, Garin mengaku sudah merasa cukup bereksperimen dengan simbol-simbol dalam film-film sebelumnya, dan Soegija menandai kembalinya beliau membuat film "normal". Well, one does not simply make something "normal" if that one's name is Garin Nugroho. Film senormal apapun pasti akan meninggalkan signature seorang Garin, terutama dalam tata adegan, semisal sebagian besar adegan diambil tanpa cut, atau momen personal ketika melakukan sesuatu (makan, mandiin mayat, merokok, niru-niru gerak kereta api, dan tentu saja bernyanyi, Garin loves singing scenes) namun tampak pikiran sedang gundah gulana dan kemudian meledak dalam bentuk luapan emosi. Meski tidak selalu berhubungan langsung dengan benang merahnya (bila memang ada =P), seakan setiap adegan itu punya cerita sendiri-sendiri, namun harus diakui ada nilai estetis tersendiri sekaligus menggugah secara emosional dalam setiap momen-momen yang diperlihatkan. Yang sedikit mengecewakan adalah performa para principle actors-nya yang tidak seprima yang diharapkan, entah itu terlalu teatrikal atau terlalu kaku. Palingan cuma Wouter Braaf, Suzuki, dan Butet Kertaradjasa yang tampak nyaman. Nirwan Dewanto sebagai Uskup Soegija sebenarnya tampak sempurna namun gesturnya saat berbicara tampak kaku sekali, entahlah.

Tetapi bagaimanapun, Soegija menjadi bukti Garin bisa cukup bertanggung jawab dalam mengelola biaya produksi yang besar, bahkan konon merupakan filmnya yang termahal. Look film ini luar biasa serius dan otentik, tata rancang produksi, kostum, sinematografi, tata suara dan musik, penggunaan aktor dan bahasa yang sesuai konteks, semuanya berpadu sempurna dalam menggambarkan zamannya. Sayangnya film ini tampaknya tidak memberi efek cengkeraman yang lebih, masih kalah kuat bila dibandingkan Mata Tertutup yang lebih berani meski lebih irit budget-nya. Tapi nggak masalah, niat baik dan citarasa artistik khas Garin bizzarely masih menarik disimak. Soegija adalah sebuah galeri gambar bergerak tentang keadaan bangsa kita dahulu, tidak seluruhnya memuaskan buat gw, tidak semua bisa dicerna nalar, namun setidaknya cukup ampuh dalam menyegarkan ingatan tentang sejarah kemerdekaan bangsa yang didapat dan dipertahankan dengan susah payah itu.




My score: 7,5/10

2 komentar:

  1. Menurut gue, filmnya diganti aja judulnya jadi Mariyem hahaha.

    BalasHapus
  2. @febiec: hehe, tapi kan filmnya juga bukan soal Mariyem saja =D

    BalasHapus