Sabtu, 17 September 2011

[Movie] Rise of the Planet of the Apes (2011)


Rise of the Planet of the Apes
(2011 - 20th Century Fox)

Directed by Rupert Wyatt
Written by Rick Jaffa, Amanda Silver
Suggested by the novel "La Planète des Singes (Planet of the Apes)" by Pierre Boulle
Produced by Peter Chernin, Dylan Clark, Rick Jaffa, Amanda Silver
Cast: James Franco, Andy Serkis, Freida Pinto, John Lithgow, David Oyelowo, Brian Cox, Tom Felton, Tyler Labine


Pengetahuan seri film Planet of the Apes gw hanya sebatas berita saja, bahwa dulu ada film fiksi ilmiah cukup terkenal tentang planet yang dihuni primata berperadaban layaknya manusia modern, dengan aktor-aktor Homo sapien ditutup make-up kera, yang filmnya bersekuel-sekuel, dan...eh ternyata gw pernah nonton deing remake versi Tim Burton tahun 2001—yg Mark Wahlberg ciuman sama simpanse (Helena Bonham Carter dalam make-up sih tapi tetep aje...). Gw tadinya gak cukup yakin dengan kemunculan Rise of the Planet of the Apes (selanjutnya disebut ‘Rise’ aja ya, rempong cyin =p), abisnya Hollywood kebiasaan banget sekarang nebeng film-film yang udah jadi “merek” terkenal buat ngeraup hepeng, entah remake, sekuel, atau ribut reboot alias mulai-ulang, contohnya Batman Begins, Star Trek, X-Men: First Class (untung 3 film ini bagus), serta Rise ini. Jadi kalo Anda cek wikipedia tentang film Planet of the Apes pasti udah tau spoiler endingnya yg katanya mengejutkan itu. Nah, Rise menarik jauh ke belakang, bagaimana awalnya bisa-bisanya kaum kera (simpanse, gorila, orang utan dsb, bukan monyet lho) menjadi penguasa Bumi dan manusia jadi sedikit jumlahnya, tak beradab pula—jadi jangan heran kalo kera-keranya masih berwujud, well, kera. Akan tetapi, rupanya Rise menjadi salah satu film bioskop yang sama sekali tidak membuat rugi uang apalagi waktu sepanjang tahun 2011 ini. Siapa sangka Rise adalah film yang digarap baik dan hasilnya keren lho.

Cikal bakal "planet kera" itu ada pada eksperimen perusahaan farmasi Gen-Sys di San Francisco AS dalam menemukan obat penyakit Alzheimer (semacam penurunan fungsi/regenerasi sel otak yang menyebabkan pikun akut, or something like that *sok tau banget gw*). Dr. Will Rodman (James Franco) mengujicobakan formula ALZ-112 kepada seekor simpanse yg dipanggil Bright Eyes (Terry Notary), hasilnya menunjukkan kecerdasan yg meningkat luar biasa pada simpanse betina itu. Namun, ketika rapat dewan komisaris demi menyetujui produksi formula itu, Bright Eyes mengamuk dan memporakporandakan Gen-Sys. Direktur Gen-Sys, Steven Jacobs (David Oyelowo) memerintahkan penutupan penelitian ALZ-112, dan semua kera percobaan dimatikan. Rupanya, Bright Eyes saat itu tengah menyembuyikan dan melindungi anaknya. Rodman memutuskan membawa pulang simpanse kecil yang kemudian dinamai Caesar itu (Andy Serkis). Yang terjadi kemudian, kemampuan “super” Bright Eyes ternyata menurun pada Caesar yang menunjukkan perkembangan  luar biasa, kemampuan dan kecerdasannya menyamai manusia (tinggal berbicara saja yg nggak bisa, pake bahasa isyarat). Rodman dan sang ayah (John Lithgow) yang menderita Alzheimer merawat, membesarkan serta menganggapnya bagai keluarga, demikian pula Caesar menganggap mereka.

Masalah datang sekitar 8 tahun kemudian, ketika Caesar sudah berumur dewasa dan, mungkin akibat kemampuan otaknya yg ekstensif, mulai mencari-cari jati diri, mempertanyakan keberadaan dan posisinya di tengah-tengah keluarga dan lingkungan manusianya. Ketika Rodman mulai mengembangkan kembali obat Alzheimer dengan formula baru ALZ-113—yang lebih kuat daripada yg 112, Caesar ditangkap dinas penanggulangan hewan karena menyerang tetangga yang ngebentak papanya Rodman yg kambuh penyakitnya. Di penampungan ini (yang turut dijaga Draco Malfoy beraksen Amerika =P) Caesar "dijebloskan" dan dipertemukan dengan berbagai spesies kera yang dikurung bagai penjara. Kabur dari tempat itu jelas sudah dalam rencana Caesar, tentu saja, namun tidak hanya itu, ia juga merancang sebuah gerakan kera merdeka atas manusia yang telah mengancam dan membatasi hak hidup mereka selama ini.

Pertayaan soal plausibilitas “emang bisa kera kayak gitu?” jelas tidak relevan, namanya juga fiksi ilmiah ya bisa-bisa aja =P. Nah setelah melepas bagian itu, ada satu kata yang tepat dalam mendeskripsikan Rise: efektif. Dengan singkat dan padat, film ini berhasil dalam menonjolkan poin-poin penting sebab-akibat dalam jalan ceritanya. Memang alurnya cepat, nggak basa-basi, perpindahan rentang waktunya lompat-lompat, namun setiap adegannya dibuat se-intensif mungkin dalam memperlancar plot tanpa ada kesan terburu-buru sedikit pun, serta memberikan waktu bagi penonton untuk mencerna kisahnya dengan baik. Tak perlu panjang-panjang, tak perlu sibuk berkutat pada hal-hal dan tokoh-tokoh tak penting (tokoh-tokoh tak penting memang ada *ehem Freida Pinto* tetapi porsinya nggak mengganggu), Rise maju lancar jaya dalam menyajikan tontonan efektif yang memuat berbagai flavour, mulai dari isu kemanusiaan vs hak satwa, fiksi ilmiah, drama keluarga, hingga thriller cenderung horor (simpanse agresif itu serem lho mnurut gw), sampai tiba pada bagian action yang keren nan memacu kekaguman dan excitement. Gw suka bagaimana sutradara menjaga ritmenya. Inilah kesuksesan utama film ini, yaitu efektivitas penceritaan, baik akibat naskah yang ringkas maupun eksekusi yang baik, tidak loyo namun tidak juga lebay, pas banget.

Salah satu bukti baiknya penggarapan film ini adalah pada bagian-bagian yang tidak melibatkan manusia, yakni bagian-bagian Caesar dan kera-kera lainnya, meski tanpa dialog aktif, namun apa yang terjadi dan mereka lakukan bisa dimengerti dengan mudah, malah melibatkan penonton juga secara emosional. Caesarnya itu lho, udah lah pinter, sopan—pake celana, berakhlak pula =), dia tidak pernah berniat membunuh manusia, mungkin karena manusialah (Rodney dan keluarga) yang berjasa pada hidupnya. Berasa pengen miara juga deh...eh, gak deing, serem =P. Iya, di saat yg sama film ini sukses menggambarkan ketakutan manusia pada perilaku agresif Caesar—dan kera lainnya. Belum lagi, segala perstiwa ini adalah karena perbuatan manusia juga. Lagi-lagi melalui film kita diperingatkan, kemungkinan besar kehancuran umat manusia (sooner or later) adalah karena perbuatan manusia sendiri.

Anyway, unsur-unsur lain dalam film ini tampil sebagai pelengkap yang memadai. Visualnya lumayan, para aktor tidak ada yg istimewa tetapi tidak menciderai keseluruhan film. Kali ini tokoh-tokoh keranya masih dimainkan oleh aktor, tetapi ketimbang make-up/kostum berbulu, sekarang pake teknologi motion-capture sebagaimana yg digunakan di The Lord of The Rings pada tokoh Gollum (Andy Serkis), King Kong (Andy Serkis lagi), dan Avatar (bukan Andy Serkis =P), jadi gambar yg tampil itu animasi computer-generated yang digerakkan oleh tubuh dan raut muka aktor. Masih keliatan sih kalo itu “bo’ongan” dan gerak-geriknya juga terlalu “orang”, namun sudahlah yang penting itu mendukung ceritanya (kalo Caesar bisa dimaklumi, bisa jadi karena dia berpikir seperti orang). Gw pun menangkap detail yang cukup menarik, bahwa kera yang “berevolusi” intelektualnya warna matanya berubah, sorot matanya pun berbeda (yang ditampilkan dengan baik sekali oleh Serkis dan tim animasinya). So it’s true that someone’s intelligence is reflected through their eyes...

Rise mungkin akan terasa belum tuntas pada akhirnya, karena memang ini belum sampai pada bagian kera menaklukkan Bumi. Meski demikian, Rise tetaplah film yang memuaskan. Cerita yang kuat, visual yang cukup oke, dan terutama keseruan yang ditampilkan dengan dahsyat membuat film ini menjadi hiburan yang tak patut dilewatkan begitu saja. Kenapa di posternya ada jembatan Golden Gate? Karena adegan klimaks di situ awesome mampus, kawan =).




My score: 7,5/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar