Sabtu, 30 Juli 2011

[Movie] Hanna (2011)


Hanna
(2011 - Focus Features/Sony Pictures Releasing)

Directed by Joe Wright
Story by Seth Lochhead
Screenplay by Seth Lochhead, David Farr
Produced by Leslie Holleran, Marty Adelstein, Scott Nemes
Cast: Saoirse Ronan, Eric Bana, Cate Blanchett, Tom Hollander, Olivia Williams, Jessica Barden, Jason Flemyng


Film kedua yg gw tonton di sela2 acara rekreasi sekantor di negeri singa duyung adalah Hanna, yang ternyata memang baru dirilis di sana. Gw cukup menantikan film ini karena punya sederet nama2 penjamin seperti Eric Bana, Cate Blanchett, dan tentu saja si aktris berbakat nomine Oscar, Saoirse Ronan (kalo kata wiki, dibacanya siir-sha atau seur-sha), serta sutradara asal UK Joe Wright yang sebelumnya sukses lewat Pride and Prejudice (2005), dan Atonement (2007) yang juga dibintangi Saoirse. Resume Wright memang tampak pantas diremehkan karena bernuansa drama (meskipun nomine Oscar), tapi bagi yg udah nonton, film2 Wright jelas menyimpan keunikan tersendiri, artistik tetapi modern, tidak konvensional dalam mengeksekusi, dan cenderung suka editing gegas. Hanna adalah uji coba bagi Wright dalam mengarahkan film action, dan gw cukup penasaran bagaimana film yang musiknya diurus The Chemical Brothers ini jadinya di tangan sutradara yang telah membuat period romcom khas Inggris jadi tidak terasa kuno dan tragedi cinta berlatar perang dunia II menjadi cuantik dan keren.

Hanna (Saoirse Ronan) gadis remaja yang hidup terisolasi di padang salju hanya berdua dengan sang ayah, Erik Heller (Eric Bana). Hidupnya memang tidak biasa, karena Erik sengaja "memproduksi" Hanna menjadi seorang survivor tangguh, membekalinya dengan aneka rupa keahlian dan pengetahuan, bisa dibilang agar menjadi mesin pembunuh berdarah dingin dalam cangkang gadis muda yang polos. Dengan segala ilmu yang diberi, tujuan utama Erik "menciptakan" Hanna adalah untuk membunuh orang yang telah membunuh ibunya, orang itu adalah Marissa Weigler (Cate Blanchett), seorang agen CIA. Ketika Hanna menyatakan siap untuk terjun ke "dunia luar" maka first things first, tante Marissa nya dibunuh dulu. Dengan memancing CIA mengetahui keberadaan mereka, Hanna dan Erik berpisah jalan untuk bertemu kembali di Berlin. Erik (yang buronan CIA) menyusup secara "manual" di daratan Eropa, sedangkan Hanna membiarkan dirinya ditangkap agar dapat memancing kehadiran Marissa. Mengetahui comeback-nya Erik, Marissa langsung ikut andil mengurus kasus yang satu ini—alias menyingkirkan Erik dan Hanna dari muka bumi, termasuk mengirim Marissa palsu untuk menemui Hanna... namun betapa terkejutnya Marissa asli menyaksikan Hanna menumpas Marissa palsu dan seluruh penjaga sampai kabur dari tempat dia ditahan. Ketika misi sudah (dianggap) selesai, kini tinggal gimana caranya Hanna bisa sampe Berlin dengan selamat. Hanna yang ternyata ada di Maroko akhirnya bergabung dengan satu keluarga Inggris yang sedang keliling Eropa nak mobil van, ini sekaligus untuk pertama kalinya Hanna terjun dan mengalami kehidupan bermasyarakat yang selama ini hanya ia ketahui teorinya saja. Akan tetapi, tentu saja Marissa tidak tinggal diam, dibuatlah tim operasi gelap untuk memburu Erik dan Hanna, utamanya demi menutupi proyek uji coba gagal CIA di masa lalu yang melibatkan Erik, Marissa, dan ibunda Hanna...serta kelainan biologis pada diri Hanna.

Bernuansa "agak Eropa", film Hanna rupanya menampilkan 2 sisi yang beriringan. Di satu sisi film ini jelas sebuah kisah spionase yang agak klasik, berinti pada balas dendam dan kejar2an, berhiaskan tempat2 eksotik (Eropa dan Maroko) sebagai latar, dan adegan2 aksi yang wajib mewarnai layar. Bagian ini bagusnya tidak menjadi usang, karena di luar keunikan tokoh utamanya seorang gadis remaja jagoan bertampang innocent (dan bermata bak air di goa biru pulau Capri *halah*), film ini memiliki kekerenan dan sentuhan artistik tersendiri. Adegan2 ala spionase yang dihasilkan mirip, tapi berbeda dari yang pernah ditampilkan oleh James Bond atau Jason Bourne, atau Salt misalnya. Cukup banyak adegan2 aksi yang tertanam dengan kuat di ingatan gw. Salah satu adegan monumental film ini adalah ketika Hanna berusaha keluar dari ruang interogasi yang dipenuhi kamera CCTV. Dengan editing lincah bagian ini begitu membelalak mata, terutama saat Hanna menghancurkan kameranya satu per satu, cooool!! Satu lagu adalah one long-take shot Erik dari turun bus sampe berkelahi dengan orang2 suruhan Marissa di stasiun kereta bawah tanah. Klasik, tapi one take, man! Ada kali hampir 10 menit—sutradara Joe Wright rupanya tak hanya suka editing model cepat tepat, tetapi juga adegan2 sekali take yang panjang, balance ^_^;. Itu baru 2 contoh karena sesungguhnya masih ada beberapa lagi scene2 yang memorable bagi gw, ini adalah bukti Joe Wright bisa mengatasi tantangan membuat film aksi, dengan tetap berpegang pada gayanya sendiri, tetap seru, tampak stylish namun gak menor.

Di sisi lain, film ini juga mencoba mengangkat sisi manusia dari Hanna yang tidak pernah mengenal "peradaban" selama 16 tahun hidupnya. Bagaikan alien, interaksinya yang kaku dengan orang2 sekitar yang baru dia temui digambarkan dengan baik, semisal adegan di kamar penginapan yang ada listrik, lampu, TV, ceret listrik, shower dsb. Hanna pun jadi keliatan banget polosnya dan awkward sekaligus dipenuhi keheranan. Tentu ia senang ketika dapat berteman dengan ababil cerewet Sophie (Jessica Barden), serta kagum akan sosok ibu Sophie, Rachel (Olivia Williams), karena sepanjang hidupnya Hanna tak merasakan kehadiran manusia lain selain ayahnya, boro2 ibu apalagi teman. Belum lagi ketika di Spanyol, Sophie mengajak Hanna double date dengan dua pemuda lokal, ketika teori tentang "kencan" bertemu praktek, bagian pasti mengundang senyum penonton =D. Cuman kesenangan ini tidak sepenuhnya bisa dinikmati ketika Hanna sadar bahwa ada oknum2 yang bermaksud membahayakan jiwanya. Ia gak bisa leha2 dalam menyesuaikan diri dengan dunia yang baru ia kenal, meskipun sesungguhnya dia sangat mau. Film ini sekaligus menjadi perjalanan "aqil balig" seorang Hanna, ketika matanya terbuka melihat dunia dan berusaha untuk mengenal jati dirinya lebih lagi. Rupanya bekal keahlian dan pengetahuan sentausa tidaklah cukup untuk mengenal dunia yang sesungguhnya.

Akan tetapi, mungkin sesuatu yang dirasa kurang dari film ini adalah tidak menyatunya dua sisi tadi. Ketika aksi ya aksi, ketika drama ya drama, namun terasa kurang kawin. Aksi dan thrillnya digarap keren, dramanya pun dibuat apik dan emosional, masing2 pantas dijempoli, cuman bagi gw masih tidak padu feelnya antara satu sisi dengan yang lain. Untungnya, dengan penggarapan yang tampak dipikirkan masak2, proposi kedua sisi itu dibuat seimbang dan rapi, sehingga film ini sama sekali tidak membosankan dan tampak fine2 saja. Ada waktunya berdecak kagum, dan ada pula waktunya untuk bernapas. Rahasia2 yang terungkap dibuat tidak menjegal laju film ini. Nggak ada masalah. Kekurangan minor itupun semakin kabur ketika melihat eksekusi film ini secara teknis. Sinematografinya kerap menampilkan pigura2 cakep bahkan cenderung nyeni (God, I love the pictures, kerennya), koreografi aksinya efektif, musik yang hip, dialog bagus, dan editing mumpuni—salah satu yang mengesankan adalah ketika perkenalan tokoh Marissa yang unik, yang sangat concern pada gigi dan sepatu, hehe.

Belum lagi kalau membahasa performa aktornya yang tidak mempermalukan karir mereka. Saoirse—yang belum lama ini juga tampil di film "perjalanan" The Way Back—tampil lepas dan bernyawa sebagai Hanna, tidak hanya dari tuntutan laku fisik tetapi juga ekspresi dan emosi, bagi gw dia berhasil mengemban peran utama yang tidak mudah ini. Eric Bana sesuai dengan porsi walau tidak istimewa, begitu juga Olivia Williams dan Jessica Barden. Sedangkan Cate Blanchett memang berada dalam liga tersendiri dan tak perlu dipertanyakan kemampuannya *yaudalahya*. Sikapnya yang tampak kaku dan menyimpan ketegasan dan kekejaman laten di satu sisi, dan di sisi lain memunculkan kerapuhan. Ini agak aneh, tokoh Marissa seakan selalu "hampir tumpah" ketika membahas Hanna atau menyinggung tentang anak. Entah memang dia punya pengalaman tersendiri soal anak di masa lalu, atau jangan2 keterlibatannya dengan "Hanna" lebih dari sekedar menutupi proyek gagal CIA? I mean, like opa Roger Ebert had said, they were kind of look alike. Nampaknya itu akan tetap jadi misteri.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Hanna adalah film yang keren, gak mungkin gak keluar reaksi kekaguman sedikitnya dari aksi2 yang ditampilkan. Ceritanya mungkin nggak terlalu berat dan bisa dibilang agak berskala kecil, namun nggak berarti mengurangi bobotnya sebagai action-thriller yang layak tonton dan enjoyable. Sebuah aksi spionase yang tidak standar, agak jauh dari hingar bingar dan gegap gempita khas Hollywood, namun tetap seru dan cihuy dengan bungkusan aksi dan drama yang digarap dengan cermat, artistik dan sophisticated. Tidak wah namun tetap berkesan. I like it. Well done!



My score: 7,5/10

2 komentar:

  1. SaLah satu fiLm action paLing cantik yang pernah gwe tonton, tapi agak kecewa di ujungnya krn one-on-one Hanna vs Marissa 'cuma gitu doang'.. Mungkin krn terLanjur dimanjain di awaL yaa ^^
    By the way, di BerLin beneran ada Grimm's Fairy TaLe Theme Park ga ya.. Mau main kesana :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, bener-bener artistik filmnya, dan mungkin memang tidak didesain untuk hingar bingar jadinya ya begitulah =)
      monggo digugel lebih lanjjut soal theme parknya, hehe

      Hapus