Jumat, 13 Agustus 2010

[Movie] The Last Airbender (2010)



The Last Airbender
(2010 - Paramount)

Written, Produced, and Directed by M. Night Shyamalan

Based on the Nickelodeon series "Avatar: The Last Airbender" created by Michael Dante DiMartino, Bryan Konietzko

Produced by Sam Mercer, Frank Marshall

Cast: Noah Ringer, Dev Patel, Nicola Petz, Jackson Rathbone, Shaun Toub, Aasif Mandvi, Cliff Curtis



Dengan menggunakan asas praduga tak bersalah, The Last Airbender mungkin adalah film yang paling terdzalimi tahun ini di media massa baik formal maupun non-formal, mungkin saingannya cuman Susno Duadji. Silahkan cek ke situs film, kritik film, maupun blog2 yang membahas tentang film semua menghakimi film ini adalah film ancur-jelek-parah-merusak-merugikan dsb dsb. Alih-alih bilang bagus, yang bilang “just okay” pun se-langka harimau Sumatra. Lucunya, mendengar itu di benak gw malah terbesit “gw harus ikut jadi saksi ke-ble’e-an film ini”, mungkin dengan harapan film ini bakal jadi Transformers 2-nya 2010, yang telah menghasilkan review terfavorit saya pribadi di blog ini, hehehehe. The Last Airbender adalah versi film live action dari serial kartun di saluran anak Nickelodeon, “Avatar: The Last Airbender” atau di sini dikenal sebagai “Avatar: The Legend of Aang”. Sayang sekali judul Avatar dicolong oleh James Cameron untuk film 3-dimensi-nya di akhir 2009 (yang bahkan pemakaian istilah “avatar” dengan cerita filmnya tidak se-intens di The Last Airbender). Gw gak pernah nonton kartunnya (yg menurut gw agak Naruto-wannabe), tapi gw taulah Avatar ini cukup populer terutama di kalangan anak2. Buktinya bisa dilihat di sampul buku tulis, tas, alat tulis, kaos dsb ^_^.

But anyway, konon film The Last Airbender menceritakan ulang season 1 dari serialnya. Ini dunia fantasi, ada 4 bangsa: Tanah, Udara, Air dan Api, dan tiap2 negara punya orang2 khusus yang dapat mengendalikan unsur masing2 sesuai namanya (earthbender, airbender, waterbender, dan firebender) termasuk membuatnya jadi alat bertarung. Di seting filmnya, bangsa Api tengah berusaha menguasai dunia dengan menyerang dan menindas bangsa2 lain. Yang dapat menghentikannya hanya satu orang, yang disebut Avatar, yang punya kemampuan mengendalikan keempat unsur yang ada di dunia, sekaligus sebagai penjaga keseimbangan dan perdamaian. Muncullah Aang (Noah Ringer). Meski bertubuh kecil, ia sebenarnya terkubur di es selama hampir 100 tahun sebelum ditemukan oleh waterbender amatir Katara (Nicola Petz) dan kakaknya yg bloon Sokka (Jackson Rathbone). Long story short, bangsa Api pun confirm bahwa Aang adalah sang Avatar yang dapat mengancam kekuasaan bangsa Api. Maka Aang pun diincar, baik oleh Commander Zhao (Aasif Mandvi) secara resmi atas perintah Raja Ozai (Cliff Curtis), maupun oleh sang pangeran terbuang Zuko (Dev Patel) yang ingin membawa Avatar ke kerajaannya untuk mengembalikan statusnya sebagai putra raja.

Dengan itu sebagai basis plot, film pun berjalan dengan format petualangan (yang diper-) singkat. Meski sudah ditentukan sebagai sang Avatar, rupanya Aang belum belajar untuk mengendalikan unsur2 lain selain udara. Berdarakan siklus apalah-itu, Aang pertama-tama harus belajar
waterbending, dan tempat terbaik adalah di negeri air utara (atau apalah namanya), skalian belajar dasar2nya dari si Katara dalam perjalanan. Nah, kalau Aang ke sana, maka bangsa Api pun juga manut ke sana, sehingga perang di negeri air utara itu pun sudah di ambang pintu.

Jadi, apakah saya akan turut ikut dalam aksi global merajam film ini karena kualitas yang katanya buruk?
Well, film ini memang bukan film yang bagus, lemah lah. Gw cukup terganggu dengan akting pemain utama yang seadanya—apalagi untuk ukuran film berbujet besar, juga pada beberapa cut-to-scene yang patah-patah. Gw juga ngerasa terganggu sama suaranya Nicola Petz sebagai Sokka yang berperan juga sebagai narator, nggak enak ah gayanya. Dangkalnya karakter, dialog dan motivasi yang tiba2 muncul secara nggak smooth pun juga bikin agak gimana gitu. But…

I actually quite enjoyed it
, lho O_o. Ini film berdasarkan kartun, jadi cerita dan karakternya, bahkan visualisasinya mirip kartun, tapi dalam level yang sedikit lebih serius dan lebih mewah lah untuk tampilan sinema. Menurut gw, jalan ceritanya nggak mengesalkan, gw masih bisa menikmati, menelan dan mengerti apa aja yang diceritakan, walau memang penceritaannya kurang baik dan intens, tapi sebab akibatnya masih bisa dipertanggungjawabkan dan gw memperoleh cukup informasi mengenai dunia Avatar ini. Harus diakui pula, bahwa secara visual The Last Airbender sama sekali tidak memalukan (yang bilang jelek pasti karena udah sentimen =P *kalimat ala fanboy*). Efek visual CGI bagus dan serius, art direction serta kostumnya pun jauh lebih niat dan menarik dilihat daripada Clash Of The Titans misalnya. Penataan adegannya masih membawa kebiasaan sang sutradara M. Night Shyamalan yang suka merekam orang ngobrol dalam posisi statis (sayang aktor2nya kebanyakan gak bagus mainnya), banyak pake adegan one-take-shot bahkan di adegan aksi. Adegan aksinya boleh juga (adegan aksinya beberapa mirip 300: slow motion zoom in-zoom out), sinematografinya pun cakep kok, nggak memusingkan, dan penonton diberi cukup waktu untuk menikmati pemandangan dunia Avatar ini. Dan at least klimaks dan ending nya lebih jelas daripada 2 film terakhir M. Night Shyamalan =_=”.

Oke penilaian gw mungkin karena menonton dengan trik yang tepat, pertama: sedang tidak stress di pekerjaan atau di jalan atau ngantri tiket. Kedua: gw menghindari versi 3-Dimensi, karena film ini bukan “dibuat 3-D” tapi hanya “ditayangkan 3-D” jadi pasti efek 3-D nya maksa banget, lagian mahal tiketnya. Ketiga: ekspektasi yang sangat sangat rendah,
thanks to my film reviewer colleagues ^_^, seperti waktu gw nonton Ninja Assassin, gw kira bakal ancur banget, namun ternyata hanya retak-retak, gak ancur. Kelemahan film ini memang cukup fatal, penceritaan yang agak kasar, aktor yang kualitasnya sekelas aktor2 di Twilight *ups*, dan kurangnya intensitas di sebagian besar adegan. Tapi The Last Airbender masih bisa diselamatkan oleh visual serta musik yang oke, dasar cerita yang menarik, serta penampilan salah 2 dari aktor yang bermain paling bagus dan memang bagus: Dev Patel dan Shaun Toub, alhasil Zuko dan oom Iroh adalah tokoh2 paling menarik dan simpatik di film ini.

Nonton The Last Airbender seperti melihat pemandangan indah dari dalam mobil lewat jalan gronjalan,
you’ll still enjoy the view one way or another. Nggak sejelek-banget itu ah. Mungkin untuk bisa menikmatinya perlu trik keempat dan yang paling kunci: ingat bahwa film ini targetnya anak-anak dan pra remaja, sekitar 6-14 tahun, dan gw cukup yakin yang umur segitu bakal menikmati film ini, maka "jadilah" berumur 6-14 tahun kala menonton. Mungkin jiwa gw emang masih umur segitu kali ye (eh muka juga lho *huehuehueheu =P*). Just wait for the sequels guys (film ini “Book One: Water”, Aang cuman belajar waterbending, yang lain belum ^_^), katanya Shyamalan nggak akan menyutradarai, which is a shame karena gw lebih milih dia jadi sutradara daripada penulis naskah, aneh ni orang kalo bikin dialog =.=’.



My score:
6/10


2 komentar:

  1. Oke, biarpun miscast, karakter yang semuanya ooc (entah disengaja juga sama ShyamaLan atau aktor-aktornya Lagi pada teLer waktu syuting), jaLan cerita aneh, visuaL efek yang cenderung biasa aja (tapi gwe suka bison terbangnya.. mau peLihara seekor deh) dan banyak adegan yang agak ganggu dan mubazir, sebenernya gwe ga gitu kecewa sama fiLm ini. Ga kaya' waktu nonton SaLt, keLuar dari bioskop pun gwe cuma ketawa-ketawa aja. Mungkin karena ekspektasi gwe noL besar ya ^^

    BalasHapus
  2. @amadl, ya begitulah. Gw juga kayaknya bisa agak menikmati film ini karena gak pernah nonton atau mendalami kartunnya, hehe. Ekspektasinya harus nol, kalo perlu minus *lebay*

    BalasHapus