Sabtu, 05 Desember 2009

[Movie] Ninja Assassin (2009)


Ninja Assassin

(2009 - Warner Bros.)

Directed by James McTeigue

Screenplay by Matthew Sand, J. Michael Straczynski

Story by Matthew Sand

Produced by Joel Silver, Grant Hill, Larry Wachowski, Andy Wachowski

Cast: Rain, Naomie Harris, Ben Miles, Sho Kosugi, Rick Yune



Sebuah film memang selayaknya ditonton tanpa prasangka dan ekspektasi apa2 supaya bisa dinikmati. Itulah hikmah yg gw ambil setelah nonton Ninja Assassin. Prasangka gw udah menggerogoti bahkan sebelum film ini beredar, barangkali disebabkan bahwa ini berkisah tentang ninja-ninjaan tapi dibuat oleh Amerika (dan dibintangi orang Korea yg boro2 bisa bahasa Inggris) yg menurut riwayatnya hanya bisa membuat ninja tampak konyol dan norak, dan juga sebelumnya muncul film yg (gw anggap) mirip karena sama2 berantem2an berlatar Jepang, Blood: The Last Vampire yg berkualitas seadanya. Jadi jauh2 hari Ninja Assassin gw cap sebagai film aksi bodoh dan nggak penting dan kemungkinan besar norak, tapi anehnya gw tetep pengen nonton, mungkin karena penasaran film ini akan sebodoh dan se-nggak-penting apa, atau apalagi ulah Wachowski bersaudara yg jelas2 otaku ini (penggemar berat komik dan anime Jepang). Namun,
O my God,... agak malu sih ngomongnya, tenyata Ninja Assassin sepertinya akan menjadi guilty pleasure gw tahun ini...hahaha...gw sendiri masih nggak percaya bahwa gw menikmati film ini, oh no...@.@'

Ninja Assassin dibuka dengan pembantaian sekelompok yakuza muda yg lagi santai bikin tato oleh pembunuh yg tak terlihat, ya ninja itu. Adegan ini menjadi semacam
statement. Ya, semua orang di film ini akan berbahasa Inggris meski yg ngomong ceritanya orang Jepang. Ya, film ini ceritanya akan standar dan akan menganggap terlalu serius legenda ninja. Dan ya, film ini akan penuh aksi ninja yg tak terduga gerak-geriknya dan berdarah-darah, maksudnya banyaaaaak darah. Jadi kalau nggak cocok dan mau keluar bioskop, dari sekarang aja (so please, children, get out of here now!). Kesimpulan gw tentang adegan pembuka ini: crappy film ^_^', tapi ya okelah, gw ikutin dulu apa maunya film ini.

Inti kisah Ninja Assassin sebenernya tersurat dari dialog pertemuan Raizo (Rain) dan Mika Coretti (Naomie Harris). Kebetulan Mika, seorang penyelidik Europol di Berlin tengah mencoba menelusuri keberadaan organisasi ninja yg secara sangat rahasia menjadi kelompok pembunuh bayaran nan sakti yg tak mungkin terlacak, yg kerap disewa orang2 yg mampu bayar 100 kg emas—atau gram yah? ah lupa—bahkan penguasa2 negara pun kerap mempekerjakan mereka untuk pembunuhan2 bermotif politik. Mika pada akhirnya diincar ninja2 dari klan Ozunu yg tak ingin keberadaan mereka terungkap, namun ketika Mika diserang ninja2 itu ia diselamatkan Raizo, seorang "mantan" ninja, yg ingin menemukan/ditemukan oleh pasukan klan ninja Ozunu, yg tak lain tempat dia bernaung dulu. Untuk apa? Biasa lah, balas dendam, khususnya sama sang guru Ozunu (Sho Kosugi) yg secara tak langsung membuatnya tumbuh menjadi "bukan manusia", dan khususnya menyebabkan kematian perempuan sesama ninja yg dicintainya, Kiriko (Anna Sawai). Maka sekarang misinya adalah, Raizo mau membunuh Ozunu, dan Mika serta bosnya di Europol, Ryan Maslow (Ben Miles)—walaupun tadinya gak percaya— berniat membongkar dan membasmi ke-eksis-an kelompok ninja pembunuh bayaran ini ("ninja assassin",
get it?). See? Ketika gw tulis ulang ceritanya aja kesan "sampah" belum hilang dari Ninja Assassin.

Akan tetapi, siapa sangka kalau film ini punya beberapa nilai lebih yg menghindarkannya dari jebakan film standar. Pertama adalah sinematografi, tak jarang yg
stylized (terlalu digaya-gayain tanpa maksud apa-apa), tapi gw akui cakep2 deh gambarnya. Favorit gw khusunya adalah misi pertama Raizo membunuh seseorang yg tanpa atribut standar ninja, terang2an, bagus. Lalu adegan2 pertarungan antar ninja maupun "perang" ninja vs polisi bersenjata yg unexpectedly seru juga. Pertarungan Raizo vs ninja polan di apartemen Mika yg disorot senter adalah adegan yg mnurut gw brilian. Hakekat ninja beraksi di kegelapan dan bersembunyi di balik bayangan dipresentasikan dengan tidak konyol atau terkesan norak. Mereka bertarung dengan brutal, banyak senjata rahasia, dan penuh trik yg bisa dibilang kotor (karena memang konon bagi ninja mati di saat menjalankan misi bukanlah tindakan terhormat layaknya samurai, tapi kegagalan). Cerita boleh biasa, tapi jalan ceritanya ternyata nggak bisa dibilang lame, malah nggak mudah ditebak—atau mungkin gw yg saat itu nonton jam 10 malem emang lagi bego2nya—karena gw nggak tau kan para ninja itu akan muncul dari mana dan akan berbuat apa. Pun flashback2 mengenai kehidupan Raizo mulai dari kecil lalu kemudian dilatih dengan sangat keras utk jadi ninja klan Ozunu, cukup berhasil menguatkan motif tindakan Raizo, sehingga film ini tidak sekedar bag big bug, tapi yah ada lah romantika2 antarmanusia nya (Kiriko pernah bilang ke Raizo "segala sesuatu punya hati/heart, kamu juga punya" or something like that, padahal mereka dilatih jadi ninja yg pantang berperikemanusiaan, mungkin ini motif utama Raizo, coba dengar dialog di klimaks antara Raizo vs Ozunu, it's interesting). Soal ninja nya sendiri, meskipun tidak mungkin akurat, penulis dan sutradara terbilang konsisten dan lengkap dalam menggambarkan dunia fantasi per-ninja-an yg mereka ciptakan sendiri: yg bisa gerak cepat seolah2 teleportasi lah, latihan meringankan tubuh lah, bisa menyembuhkan luka sendiri lah dst dst. Ninja Assassin berjalan seperti sebuah komik, ceritanya absurd tapi bisa membuat gw larut di dalamnya, apa yg disodorkan gw terima2 aja tanpa ada perlawanan berarti *halah apaan sich*.

Tentu saja film ini punya kekurangan. Cerita standar itu pasti. Lain dari itu, sang tokoh utama, Rain, superstar asal Korea yg sering juga jadi aktor (yg sampe sekarang gw gak ngerti kenapa dia digilai cewek2 Asia timur dan tenggara,
he doesn't act that well, he doesnt' sing that well, he dances just like any other Michael Jackson wannabe Korean boybands, what?), dengan sukses (?) berbicara seperti menirukan suara kaset audio pelajaran bahasa Inggris di laboratorium bahasa, tapi toh itu tidak penting asalkan ia sebisa mungkin terlihat keren saat bertarung ala ninja. Untung saja Naomie Harris bermain cukup meyakinkan dan simpatik. Visual efeknya kurang mantep, penyebab utamanya adalah di darah. Darah banyak bercucuran di film ini, tapi sebagian besar adalah efek CGI (buatan komputer), keliatan bohongnya, tapi sapa tahu itu disengaja supaya penonton tidak terlalu serius menanggapi film ini—masih lebih mending dari efek2 darah vampir di Blood:The Last Vampire sih, tapi tetep aja memakai CGI untuk darah ternyata bukanlah ide yg bagus. Kesimpulannya...yaaah.....keren kok filmnya *mencoba menyangkal tapi nggak bisa*. Walaupun mungkin bisa jadi kalau gw nonton ulang gw baru tau kelemahan film ini ada dimana aja, tapi untuk sekarang, gw nggak bisa menyangkal bahwa gw terhibur dengan suguhan dari tim pembuat The Matrix ini. It's started like trash but ended like pleasing entertainment. Seru ah ^o^' *tertawa sambil geleng2, tanda guilty pleasure, hihihi*


My score:
7/10

5 komentar:

  1. Belum nonton sih, tapi nanti pasti segera saya liat dan saya ulas di blog saya. Paskah nilainya 7 seperti penilaian anda?
    Tunggu saja reviewnya juga di blog saya ya.

    btw salam kenal nih, dari blog yang isinya tentang film semua :)

    BalasHapus
  2. hai, thanks udah mampir
    sudah saya hampiri blog ForWest (kayak apaan aja "hampiri" ^.^), ditunggu lho Ninja Assassin nya

    BalasHapus
  3. Hehe oke tengkyu...
    harap maklum yah di blog saya, masih jauh dari harapan jika dibandingkan dengan ajirenji.blogspot.com.
    maklum newbie si..hehe oke deh.

    BalasHapus
  4. memang keren dalam pertarungannya..tp ceritanya kurang..:D
    tetep efek na keren..:D
    hihihihi...

    BalasHapus
  5. @ForWest: yaelah, ini mah masih belum apa2 kali, hehe, gw juga masi belajar

    @chris: couldn't agree more

    BalasHapus