Kamis, 28 Desember 2017

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2017 (Indonesia)


Selanjutnya di senarai akhir tahun 2017 ini adalah lagu-lagu Indonesia. Agak berbeda dari senarai sebelumnya, pola penemuan lagu-lagu Indonesia kali ini cukup beragam. Kebanyakan gw denger dari radio, tapi nggak sedikit juga nemunya di aplikasi streaming, sampai soundtrack film yang gw tonton. Sila...






10. "Kutunggu Kabarmu" – Maudy Ayunda

Udah cukup lama Maudy jadi singer-songwriter, gw kayaknya nggak pernah dengar dia se-kontemporer ini. Paduan pop-R&B irama medium elektronika--agak-agak Charlie Puth gimana gitu--rupanya cocok juga sama suara nasal beningnya.








9. "Nada Cinta" – Isyana Sarasvati

Track favorit gw dari album barunya Isyana adalah lagunya yang tersantai ini. Yang paling nyantol di gw adalah bagaimana chorus-nya justru ditutup dengan deretan notasi low. Ini menarik baik karena agak nggak lazim di lagu pop, tetapi juga ternyata bisa menunjukkan range vokal Isyana yang jarang ditunjukkan.








8. "Terasa Nyaman" – Abirama
Melanjutkan kesenangan gw sama lagu-lagu pop yang dipengaruhi jazz dan groove, maka no brainer gw gampang banget menerima lagu ini. Ada kesejukan tersendiri dalam pilihan kord dan iramanya yang santai, dan vokal Abirama yang nggak terlalu show-y juga bikin lagunya tambah asyik.








7. "Sang Penghibur" – RAN

Ketika RAN hendak mewakili suara pengamen jalanan. Gw suka mereka di album terbarunya semakin berkembang di bagian lirik, dan menurut gw lagu ini adalah salah satu hasil terbaiknya. Sederhana, straightforward, enak tuturnya, dan enak juga musiknya yang kayak terinspirasi artis-artis seperti Gombloh *eaak, umur…*








6. "Buktikan" – Yura Yunita

Gw akui gw agak missed sama karakteristik unik Yura saat  dia meluncur di blantika musik beberapa tahun lalu. Semakin ke sini, semakin disadari bahwa warna dan akrobat vokal Yura justru sangat versatile, dan semakin terbukti karakternya sama sekali nggak hilang ketika dipasang di lagu R&B playful khas akhir 90-an seperti lagu ini.








5. "Belahan Jantungku" – Andien

Gw akhirnya menemukan lagu Tulus yang benar-benar gw suka. Namun, ternyata lagu itu dinyanyikan oleh orang lain, hehe. Nada-nada ganjil Tulus rupanya bisa melebur ke vokal deep Andien dengan aransemen dominan akustik (termasuk bass betot!) menguatkan kesan damai dan adem, serta menonjolkan penjiwaan si penyanyi dan para musisinya.








4. "Manusia" – MALIQ & D'Essentials

Band ini sebenarnya doing great dengan sound-nya sekarang yang lebih ke pop eksperimental, tapi tampaknya emang gw akan selalu terpikat pada sound pop-funk-jazz mereka yang lebih dahulu. Lagu ini jelas banget mengingatkan pada zaman-zaman "The One" dan "Dia", tetapi kini dengan rangkaian lirik yang begitu puitis dengan makna mendalam.








3. "Berlari Tanpa Kaki" – GAC feat. The Overtunes

Dari pilihan nada dan ketukannya bergaya folk Amerika/Inggris, ketahuan banget anthem motivasi diri ini lagunya The Overtunes. Hanya saja, mendengar nada-nada ini keluar dari vokal GAC—yang kali ini "ornamen akrobatik" vokal-nya agak diredam—justru menimbulkan efek yang lebih dramatis. Aransemennya stripped down, unplugged, tanpa bunyi-bunyi instrumen aneh-aneh, hanya adek-adek ini bernyanyi sesuai nada yang ada yang sudah ditata indah.








2. "Akad" – Payung Teduh

Siapa menyangka band yang secara rumus terbilang "sidestream" ini bisa punya satu hit yang menyusup ke setiap ruang kehidupan warga Indonesia sepanjang tahun ini. Can't blame them, nadanya catchy dan liriknya lugas. Bodo amatlah dikata pasaran atau kemakan tren, gw memang juga suka lagu ini. Tetapi lebih dari itu, yang gw paling suka dari lagu ini adalah kemasan aransemennya yang nggak gampangan, mulai dari kesan vintage dari tiupan terompet dan iramanya, string section yang "bermain", hingga pilihan-pilihan kord-nya. Hasilnya adalah sebuah lagu yang hangat, mudah diterima telinga, namun masih menunjukkan keterampilan mumpuni.












1. "Zona Nyaman" – Fourtwnty

Saat dikaitkan dengan film Filosofi Kopi 2: Ben & Jody, yaitu kisah dua sahabat membangun usaha impian bersama, lagu ini memuat spirit itu. Ketika didengarkan secara lepas, entah karena liriknya yang apik, atau karena gw-nya yang baper, lagu ini seakan mewakili suara hati, atau setidaknya mewakili suatu masa yang pernah dialami sebagian besar orang. Pengisahannya mengenai kegelisahan pada kungkungan rutinitas seolah mengajak gw untuk bilang "Amin" =D. Di sisi lain, nada dan bungkusan musik akustik yang santai juga seperti menggambarkan bahwa kegelisahan itu tidak perlu dipikirkan terlalu keras, asalkan menemukan cara, atau tempat yang tepat, untuk bisa berkarya bersama hati *ciailah*. Selain karena nadanya catchy juga sih.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar