Kamis, 12 Januari 2017

[Movie] Promise (2017)


Promise
(2017 - Screenplay Films/Legacy Pictures)

Directed by Asep Kusdinar
Written by Sukhdev Singh, Tisa TS
Produced by Sukhdev Singh, Wicky V. Olindo
Cast: Dimas Anggara, Amanda Rawles, Boy William, Mikha Tambayong, Mawar Eva De Jongh, Surya Saputra, Annisa Hertami, Ricky Cuaca, Ari Irham, Monica Oemardi, Ira Wibowo, Donny Alamsyah, Ira Wibowo


Gw pikir ya, setelah ILY from 38.000 ft yang menurut gw termasuk lumayan untuk genre roman picisan remaja Indonesia, film-film selanjutnya dari Screenplay Films akan, setidak-tidaknya, lebih tolerable buat ditonton oleh yang bukan target penontonnya. Lalu muncullah Promise. Oke, sebelum gw komentar macam-macam, gw harus menaruh film ini dalam konteks. Film ini masih menyasar remaja (terutama putri) yang senang dengan cerita cinta yang sederhana tapi cenderung diribet-ribetin make a big deal out of it, seperti nggak ada permasalahan hidup yang lain selain masalah cinta, karena mungkin dalam fase usia tersebut itulah hal terbesar yang mereka hadapi. Gw nggak bilang ini salah, toh cerita-cerita seperti ini mengena buat segmen remaja dan sebagian orang dewasa (inget Twilight?), dan bukan berarti nggak bisa digarap dengan bagus (inget AADC 1?). Screenplay menurut gw sangat berhasil dalam meng-cater target penonton itu dengan film-film roman remajanya, dibarengi dengan produksi yang nggak sembarangan. Hanya, to be mildly said, Promise bukanlah contoh terbaiknya.

Sebagaimana tradisi roman remaja dan komik serial cantik, awal kisah cinta yang diangkat di Promise dibuat konyol. Rahman (Dimas Anggara), seorang anak pengurus pesantren di Yogyakarta disuruh menikah oleh orang tuanya (Surya Saputra dan Annisa Hertami) dengan jodoh yang sudah ditentukan, sekalipun ia masih belum lulus SMA. Why? Gara-gara ia ketahuan menyimpan DVD porno milik sahabatnya yang memang bandel, Aji (Boy William). *I know, move along*. Kisah kemudian melompat dua tahun kemudian di Milan, Italia, Rahman yang kuliah grafis di sana didekati oleh sesama orang Indonesia, Moza (Mikha Tambayong). Sementara, hati Rahman masih tertutup untuk cinta yang baru, karena tujuannya ke Milan adalah demi mencari seseorang yang kini menghilang. Jadi sebenarnya Rahman udah nikah atau belum? Apakah orang yang dicari itu istrinya atau orang lain pilihannya sendiri? Dan apakah orang tersebut diperankan Amanda Rawles yang wajahnya tampil gede banget di poster? Gw bisa langsung jawab pertanyaan terakhir, iya. Selebihnya gw nggak bisa jawab, atau lebih tepatnya gw tidak "diperbolehkan" jawab karena pertanyaan-pertanyaan itulah yang dimainkan oleh film ini untuk memberi elemen surprise demi surprise demi surprise, yang sebenarnya juga nggak surprise sama sekali.

Menurut gw Promise adalah proyek yang terlalu self-aware dari Screenplay, karena gw lihat mereka terlalu keras berusaha membuat sesuatu yang beda dari materi yang itu-itu aja. Kisah cinta segi banyak, yang satu sama lain saling nggak tahu perasaan sesungguhnya, yang satu mau menjaga perasaan atau nggak mau menyakiti yang lain dengan nggak mengatakan yang sebenarnya, siapa jadian sama siapa, seputar situ-situ aja. Kini dicoba sudut pandangnya lebih ke cowoknya yang perasaannya "dipermainkan" oleh ceweknya, macam Great Expectations gitu =P, tetapi in the end isinya gitu-gitu lagi. Nah, karena isinya "sama aja" itulah dicoba satu hal beda dari Promise, yaitu penuturannya yang urutannya agak diacak-acak. Iyah, dari awal di Jogja, ke Milan dua tahun kemudian, mundur ke pertemuan Rahman dan Moza pertama kali di Milan, mundur lagi dua tahun sebelumnya ke Jogja lagi, balik lagi ke masa sekarang, mundur lagi, maju lagi menjelang akhir, eh mundur lagi dikit, mundur jauh, balik lagi, macam orang baru belajar nyetir mobil pertama kali nyoba parkir di mal. Mungkin maksudnya supaya setiap 15 menit ada "twist" yang bikin penontonnya bereaksi "howalah ternyata gitu ya" atau "tuh bener 'kan apa kubilang" =_=, dan katanya sih hal ini emang disukai target penonton roman remaja, makanya tiap ending film-film beginian pasti ada adegan flashback, silahkan dicek. Tapi yang nggak gini juga kaleeee……

Terlepas dari apakah gw suka atau tidak sama ceritanya, permasalahan utama Promise justru terletak di metode penuturannya itu. Maksud gw, film ini akan fine-fine saja jika alurnya dibuat berurutan. Malahan seandainnya demikian, feeling-nya akan lebih nusuk ketika kita sudah mengetahui informasi latar belakang karakternya dengan lengkap lalu muncul adegan yang jederr. Misalnya pertemuan Rahman dan Kanya (Amanda Rawles) pertama kali di Milan, karena jadi lebih tahu awkward-nya kayak gimana, nggak kosong seperti yang ditampilkan di hasil akhir film ini. Gara-gara ini juga, alur maju-mundur yang disajikan di film ini jadi lebih ke annoying daripada mengejutkan, karena yang ditampilkan saat flashback pun bukan informasi yang mengejutkan. Ibarat kita dapet kado ulang tahun atau kenaikan kelas dari orang lain berupa baju yang pas dibeli di toko kitanya ikut hadir bahkan fitting buat mastiin ukurannya, apanya yang surprise? Andai saja ditampilkan dalam alur yang biasa dan…well, flashback yang seperlunya di bagian ending aja seperti biasanyalah, mungkin film ini nggak akan terasa sekacau ini. Again, problem itu terlepas dari bahwa cerita ini tentang anak 18 sampai 20 tahun nikah-cerai semudah membalikkan halaman novel, atau yang katanya sahabat tapi nggak tahu sahabatnya alami peristiwa-peristiwa penting, atau sabotase akad nikah (?), dialog-dialog ala quotes Instagram dan Path yang nggak nyambung sama usia penuturnya, atau karakter-karakter utama yang nggak jelas maunya apa (mungkin gara-gara alur setrikaan itu sih), dan banyak hal lagi yang bikin gw nggak sanggup untuk terlarut dan menerima cerita ini dengan akal sehat.

Yah, untung aja nilai produksi film ini terbilang oke, jadi masih enak dilihat, kelihatan kelengkapan syutingnya dipersiapkan matang. Well, setelah ada adegan kecelakaan pesawat di ILY, mungkin memang berlebihan jika mengharapkan di Promise bakal ada tabrakan Ferrari beruntun gitu or something, tetapi dari penataan visual dan production design-nya, Promise masih cukup membuktikan komitmen Screenplay untuk bikin perbedaan jelas antara film bioskop dan FTV pagi-pagi/siang-siang SCTV. Gw juga menemukan bahwa performa para pemeran utamanya lumayan fasih untuk genre ini, tetapi mungkin yang paling menarik adalah Mikha Tambayong yang dari pengucapan dialog hingga pakaian hingga parasnya bisa klop dengan karakternya, nggak ngeselin, sehingga membuatnya jadi karakter yang paling kelihatan seperti manusia bernyawa di sini. Namun, mungkin itu saja hal positif yang bisa gw ambil dari Promise, film roman remaja yang ingin beda tetapi keinginan itu malah berdampak mengacaukan--ya kalau mau beda harus dari sejak penyusunan cerita dan karakternya dong. Dan, kayaknya gw kelewatan 'promise'-nya itu sebenarnya apa dan di mana.





My score: 5,5/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar