Jumat, 11 November 2016

[Movie] Catatan Dodol Calon Dokter (2016)


Catatan Dodol Calon Dokter
(2016 - Radikal Films/CJ Entertainment)

Directed by Ifa Isfansyah
Screenplay by Ardiansyah Solaiman, Chadijah Siregar
Based on the book "Cado Cado" by Ferdiriva Hamzah
Produced by Ardiansyah Solaiman
Cast: Adipati Dolken, Tika Bravani, Aurelie Moeremans, Adi Kurdi, Ali Mensan, Rizky Mocil, Albert Halim, Cindy Valery, Rizka Dwi Septiana, Amec Aris, Torro Margens


Cukup aneh ketika film atau sinetron kita sering banget tampilkan karakter dokter--apalagi kalau adaptasi novel Mira W., tetapi hampir belum pernah ada yang mengisahkan secara spesifik kehidupan dokter, kecuali kalian sudah setua itu dan ingat sinetron yang dibintangi Dewi Yull dan Dwi Yan zaman 1990-an dulu, gw sih nggak inget =P. Makanya, film Catatan Dodol Calon Dokter (atau Cado Cado) beruntung bisa muncul sebagai film Indonesia (mungkin) pertama yang membahas tentang kehidupan dokter di Indonesia, dan didukung oleh materi buku aslinya--buku kumpulan cerita pengalaman sebagai calon dokter atau ko-asisten di sebuah rumah sakit--yang ditulis oleh lulusan kedokteran beneran, bukan lulusan Google atau Wikipedia, hehehe. In fact, filmnya juga meminjam karakter si penulis, Ferdiriva Hamzah dan kawan-kawannya sebagai karakter utama, meski ceritanya sendiri tidak dijamin nyata.

Catatan Dodol Calon Dokter dikemas dalam gaya drama komedi ringan dengan sentuhan romansa, tetapi dengan purpose sebagaimana profesi tokoh-tokohnya di dunia kedokteran, which is jadi dokter. Dikisahkan Riva (Adipati Dolken) ikutan sahabat lamanya, Evi (Tika Bravani) dan Budi (Ali Mensan) masuk kedokteran, dan ikut program ko-as barengan di sebuah rumah sakit di Jakarta. Berhubung masih dalam tahap "calon dokter" tentu banyak kekeliruan dan kedodolan yang mereka alami dan lakukan, termasuk bertemu dengan berbagai macam karakter. Namun, sebuah program baru memaksa mereka untuk lebih serius lagi dalam menjalani hari-hari mereka. Profesor Burhan (Adi Kurdi) menyatakan akan memberikan beasiswa ke Korea kepada salah satu anak ko-as-nya, yang dibagi dalam dua grup. Riva dan Budi gabung di satu grup, dan Evi ada di grup saingan mereka. Masalah jadi pelik ketika masuk Vena (Aurelie Moeremans), calon dokter "titipan" pemilik yayasan rumah sakit, yang cantik dan menarik perhatian Riva, yang jadi memperkeruh hubungan Riva dengan sahabat-sahabatnya, terutama dengan Evi.

Jujur gw awalnya punya doubts terhadap film ini. Rumah produksinya terbilang masih asing di telinga, para pemainnya rather dikenal karena popularitas ketimbang karena level aktingnya--ya gw tahu Adipati pernah menang Piala Citra but still... Okelah sutradaranya Ifa Isfansyah yang punya reputasi baik di perfilman (Sang Penari, 9 Summers 10 Autumns), tetapi film-film Ifa menurut gw tidak selalu stabil kualitas hasil akhirnya jadi tetap ragu, dan Cado Cado ini lebih condong ke komedi romantis yang komikal sementara selama ini seringan-ringan-nya film Ifa adalah Garuda di Dadaku. How is this gonna work

Tapi, it works. Gw juga cukup kaget bahwa segala formula tadi berhasil disajikan dengan enak. Dari perkenalan karakternya, flow ceritanya, dialog-dialognya, konflik yang pelan-pelan diperkenalkan, bahkan termasuk sedikit seluk-beluk dunia kedokterannya yang cukup detail, gw merasa mudah terbawa dan terima aja apa yang disajikan, atau singkatnya gw menikmatinya, lebih dari yang gw antisipasi. Penggarapan teknisnya yang serius dan rapi, mulai dari desain produksi, sinematorafi, efek visual (yup) dan efek makeup, suara dan musik, sangat-sangat membantu untuk memberikan nilai pada film ini. Salah satu keberhasilan istimewa film ini adalah menimbulkan tension setiap ada adegan prosedur kedokteran seperti jahit atau bedah, hebat.

Dan, gw juga nggak akan lupa memberikan salut pada deretan pemainnya yang bermain asyik juga. Bukan cuma Tika Bravani atau Adi Kurdi yang memang dikenal sebagai pemain kawakan, tetapi Adipati dan even Aurelie bisa memberikan performa yang pas untuk cerita dan genre ini, beserta pemain-pemain tambahan lain. Mereka pula yang menurut gw bisa sedikit menambal kurangnya pengembangan dari karakter-karakter tambahannya. Di satu sisi mungkin mereka semacam jadi "pagar" untuk membuat atmosfer komikalnya tetap terjaga bahkan ketika filmnya mulai bergeser ke topik yang lebih serius--seperti soal cinta dan mempertanyakan lagi motivasi jadi dokter selain jadi kaya dan naik kasta. Namun, di sisi lain memang jadinya eksistensi mereka agak ilang-ilangan, fungsinya nggak lebih dari comic relief, untungnya kecuali Torro Margens sebagai bapaknya Riva yang turned up to be brilliant at the end. Plus, gw juga masih merasakan kecenderungan sisi cinta segitiga yang kurang seimbang, karena "orang ketiga"-nya buntut-buntutnya dirancang memang nggak pantas dipilih. Memang memperkuat tema "buat apa jadi dokter", tetapi jadinya membuat pilihan si tokoh utama terlalu mudah, kalau menurut gw ya.

Di luar itu, tetap saja, gw nggak bisa menghilangkan rasa bahwa gw menikmati film ini sebagaimana adanya. Nggak cuma lucu-lucuan, tetapi juga ada layer lain berupa knowledge tentang sebuah profesi, maupun layer emosi saat kita disadarkan bahwa dokter dan calon-calon dokter ini juga manusia, dihadapkan pada pilihan-pilihan moral baik untuk diri sendiri maupun orang lain, dan bahwa most of their time diabdikan buat pekerjaan, drama-drama kehidupan mereka secara pribadi juga terjadi di sekitar sana. Bagaimana caranya sisi komikal dan sisi memanusiakan tokoh-tokohnya itu bisa nyatu dengan baik di film ini gw juga nggak tahu, pokoknya buat gw hasilnya asyik ditonton.





My score: 7,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar