Selasa, 16 Agustus 2016

[Movie] Tiga Dara (1956)


Tiga Dara
(1956 - Perfini/SA Films)

Directed by Usmar Ismail
Written by Usmar Ismail, M. Alwi Dahlan
Produced by Usmar Ismail
Cast: Chitra Dewi, Mieke Wijaya, Indriarti Iskak, Rendra Karno, Bambang Irawan, Fifi Young, Hassan Sanusi


Tahun 2012 lalu, salah satu film klasik terkenal Indonesia pascakemerdekaan, Lewat Djam Malam (1954) karya Usmar Ismail kembali diputar di bioskop-bioskop setelah melalu proses restorasi atau perbaikan mutu audio visual yang tadinya usang termakan waktu, dan kemudian diubah ke format digital cinema, sehingga bisa disaksikan nyaris seperti sediakala. Tahun ini, kita kembali "dihadiahi" sebuah film klasik Indonesia legendaris yang berhasil direstorasi--kali ini oleh rumah produksi SA Films, yaitu film musikal Tiga Dara garapan Usmar Ismail juga. Harus gw akui gw tidak terlalu mengenal filmnya, tetapi somehow frase "tiga dara" sering sekali gw dengar sejak dulu dengan berbagai variasi, entah itu julukan di tabloid-tabloid atau judul-judul cerita atau sinetron, gw nggak ingat pasti. Dan, setelah baca-baca dan tanya-tanya--waktu film ini keluar orang tua gw aja masih sangat kecil atau baru akan lahir--mungkin itu terjadi karena film Tiga Dara merupakan film yang terbilang terkenal sehingga naturally jadi rujukan dalam budaya pop kita one way or another--bokap gw sih bilangnya film ini jadi terkenal karena waktu itu akhirnya ada film Indonesia yang bintang ceweknya banyak =D.

Gw pun tempo hari menonton Tiga Dara hasil restorasi, dan I can see why it became popular. Secara persembahan visual--yang tentu saja hitam putih, film ini memang manis sekali dipandang. Si Tiga Dara-nya cakep-cakep dengan alis tebal hitam yang menonjol, dan salah satu image yang nggak bisa gw unsee adalah Mieke Wijaya yang selama ini gw kenal hanya dengan peran-peran somebody's mother ternyata dulu adalah sesosok bombshell *that Tamasya scene =D*, selain jago akting tentu saja. Pengadeganannya pun smooth banget sekalipun masih agak teatrikal sedikit--mungkin sebagaimana film di era tersebut. Isi filmnya pun memuat banyak hal yang menurut gw disukai khalayak, bahkan sampai sekarang. Cerita ringan, tingkah dan dialog jenaka, musik yang bikin sumringah, happy ending. Bagaimana film ini dibawakan pun sebenarnya begitu easy, straightforward, bahkan silly, tetapi entah kenapa, kena aja gitu, dan gw sekarang masih bisa menikmatinya.

Kalau dilihat dari jalan ceritanya, sebenarnya akan sangat familiar bagi generasi sekarang. Kenapa? Karena kayaknya semua film dan sinetron kita masih banyak yang pakai pakem cerita film ini. Jadi ada tiga wanita bersaudari di satu rumah tinggal bersama ayah dan nenek mereka, setelah cukup lama ditinggal wafat oleh ibunya. Si nenek (Fifi Young)--dengan pakaian sangat tradisional, gestur bungkuk, dan demen mengunyah sirih--mulai khawatir sama nasib anak tertua, Nunung (Chitra Dewi) yang masuk usia 29 tahun dan belum ada tanda-tanda akan bekeluarga. Nenek menyalahkan Nunung yang terlalu sibuk mengurus rumah tangga dan tak pernah bergaul keluar, lalu meminta si ayah (Hassan Sanusi) dan juga adik-adik Nunung, Nana (Mieke Wijaya) si party girl (dalam versi zamannya ya) dan Nenny (Indriati Iskak) si remaja sekolahan, untuk mengajak Nunung bertemu banyak orang dengan harapan mendapat jodoh. Upaya mereka percuma karena Nunung tak bisa menutupi ketidaknyamanan dengan menjalani hal-hal yang tak biasa ia lakukan, belum lagi dia dinilai judes.

Suatu hari sebuah peristiwa nggak enak mempertemukan keluarga ini dengan Toto (Rendra Karno), yang nabrak Nunung di jalan saat naik motor Vespa--yang saat itu masih obviously disebut skuter. Tapi, itikad baik yang dilakukan Toto terhadap Nunung membuatnya jadi jodoh potensial untuk Nunung yang selama ini dinanti-nanti, setidaknya menurut si nenek. Masalahnya, karena Nunung tetap gengsi untuk terlalu dekat dengan Toto, malah Nana yang sering jalan bareng Toto dengan modus minta ajarin nyetir skuter *eaaa*. Padahal, Nana juga kelihatan sekali ditaksir oleh pemuda sahabat keluarga, mahasiswa bernama Herman (Bambang Irawan) yang langsung panas melihat Nana agresif bener mendekati Toto. Lalu, apakah Nunung akan menemukan jodohnya?

Ini entah karena filmnya evergreen atau emang kitanya yang nggak maju-maju, persoalan yang diangkat di sini kayak masih terjadi ya sampai sekarang, ketika semua orang mengukur kebahagiaan dengan pernikahan, seolah-olah kalau udah menikah semua persoalan selesai dan nggak perlu mencapai apa-apa lagi, seolah-olah kalau nggak menikah itu sama dengan warga kelas rendah tak bahagia yang tidak ada nilainya karena manusia yang sempurna tanpa cacat cela dan pasti masuk surga hanyalah yang udah menikah *lah baper*. Yah, jadinya kalau menontonnya sekarang jadi kisahnya seperti biasa aja, tetapi bahwa gw masih bisa menikmatinya dengan tawa dan seruan "ciee" dan "eaa" pada dialog dan adegan yang patut digituin, membuktikan bahwa film ini memang masih punya daya tarik yang sangat kuat. Menurut gw alasan yang paling menonjol adalah bahwa karakter-karakter yang seharusnya komikal, jatuhnya tidak terasa one-dimentional. Ketiga saudari ini jelas punya watak masing-masing, tetapi gw tetap percaya mereka dibesarkan di satu rumah, you know, sebeda-bedanya watak, mereka tetap nyatu, dan gw terlarut untuk peduli sama mereka.

Dan, sebenarnya film ini nggak bisa dianggap dangkal juga. Kalau dilihat dari sudut pandang sekarang, film ini juga mengangkat social pressure yang "mengatur" bagaimana seharusnya orang berbahagia sejahtera, yang ternyata belum berubah banyak saat ini. Mungkin dulu tokoh Nunung dianggap keras kepala, makanya di bagian konklusinya ia belajar berubah. Tapi, buat gw, Nunung sebenarnya bisa dipandang sebagai panutan karena berprinsip teguh dan in control atas cara hidupnya, bukannya menggalaukan diri dan desperate hanya karena belum temukan pasangan berkembang biak. Mungkin ini yang jarang gw temukan di karya-karya lain setelah ini yang pakemnya mirip.

Sisanya, tentu saja menarik melihat "Jakarta" dan kehidupannya sebagaimana di-capture oleh pembuat film ini. Wilayah Blok M (sepertinya di jalan-jalan Panglima Polim dan Pakubuwono) yang masih terang dan lengang, dansa-dansi yang memang beneran asoy, ketidakgengsian menggunakan pakaian atau bahan kain tradisional bahkan untuk dansa-dansi itu, keramaian bioskop yang ternyata sudah ada calo, dan melodi serta lirik yang begitu syahdu dan menggelitik dari lagu-lagunya. Ngomong-ngomong soal lagu, sebagai film musikal--yang berarti ada bagian cerita yang dilagukan--mungkin tidak semuanya tampak mewah, bahkan masih ada kecanggungan di bagian koreografi kalau mau dibandingkan dengan film-film sejenis di Hollywood pada era yang sama. Tapi lagi-lagi, itu seolah nyambung dengan atmosfer film ini yang memang lebih komedik dan crowdpleasing. Menyenangkan sekali, charming, dan gw pun jadi lumayan ngerti kenapa film ini bisa berstatus legendaris.

Btw, versi restorasi film ini hasilnya bagus lho =).





My score: 8/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar