Sabtu, 23 Juni 2012

[Movie] Lewat Djam Malam (1954)


Lewat Djam Malam
(1954 - Perfini/Persari/World Cinema Foundation/Sinematek)

Directed by Usmar Ismail
Written by Asrul Sani
Produced by Usmar Ismail, Djamaluddin Malik
Cast: A.N. Claff, Dhalia, Netty Herawati, Bambang Hermanto, Awaludin, Rd. Ismail, Aedy Moward, A. Hadi, Titien Sumarni


Rentang waktu dalam film ini hanya sekitar 24 jam saja di kota Bandung, mengikuti perjalanan Iskandar (A.N. Claff), seorang mantan pejuang kemerdekaan yang baru memutuskan keluar dari ketentaraan, mencoba menjalani kehidupan sipil, berniat memulai kehidupan baru agar layak bagi Norma (Netty Herawati), tunangannya. Ayah Norma (A. Hadi) mengajak Iskandar ke kantor gubernuran (a.k.a. Gedung Sate) agar diberi pekerjaan oleh kenalannya. Akan tetapi, karena pembawaannya yang keras dan kurangnya keahlian paperwork, bahkan belum sampai separuh hari, Iskandar berhenti kerja. Lantas Iskandar berkeliling kota melacak kembali kawan-kawan seperjuangan dulu: Gafar (Awaludin) yang telah jadi kontraktor yang banyak proyek, Gunawan (Rd. Ismail) yang memimpin perusahaan sendiri, lalu Puja (Bambang Hermanto) yang nggak punya kerjaan khusus selain sebagai centeng/germo bagi Laila (Dhalia). Iskandar sesungguhnya masih terhantui beban masa lalu, masa-masa ketika ia menjadi algojo sekian nyawa atas nama kemerdekaan. Pertemuan dengan kawan-kawan lama diharapkan bisa menuntaskan itu sehingga ia dapat menyongsong masa depan baru. Namun, mungkin Iskandar belum siap menghadapi kebenaran di balik segala tindakannya di masa lalu itu.

Berita tentang restorasi atau perbaikan mutu terhadap hardcopy film Lewat Djam Malam (utamanya untuk kepentingan arsip) sudah pernah gw dengar di internet sejak tahun lalu, bahkan sempat juga dikabarkan progresnya di perhelatan FFI 2011 lalu. Berita ini tentu menyejukkan bagi kita bangsa Indonesia, bangsa yang tidak terkenal baik dalam merawat dan melestarikan apapun. Film yang meraih predikat Film Terbaik pada gelaran FFI perdana (1955) ini bisa "diselamatkan" sehingga jika diperlukan dapat dipertontonkan dalam kualitas yang lebih yahud, yah at least gores-goresannya bisa berkurang. Kita perlu berterimakasih kepada pihak-pihak yang telah bekerja untuk upaya ini, baik kepada Sinematek (lembaga yang mengarsipkan film-film nasional), Yayasan Konfiden, dan Kineforum Dewan Kesenian Jakarta, maupun kepada lembaga asing yang (justru) menggagas dan mendanai restorasi ini, yaitu National Museum of Singapore serta World Cinema Foundation, sehingga setelah segala proses restorasinya yang dikerjakan di Italia ini, film Lewat Djam Malam kembali punya kualitas audio-visual mendekati aslinya saat pertama diputar dulu (sebelum gambarnya serba tergores dan mbleot-mbleot audionya), bahkan sudah di-convert ke format D-Cinema. "Kemana peran pemerintah RI?" pasti Anda bertanya. Gini ya bok, minta pemerintah kita bikin sekolah gratis yang layak aja butuh waktu selama-lamanya, gimana ngurusin (apalagi mendanai) urusan film, bidang yang "belum dianggap" penting ini? Jadi ya sudah, tak perlu capek-capek disayangkan atau marah-marah, syukuri saja dulu, filmnya tetap milik kita kok.

Kabar menggembirakan pula bahwa Lewat Djam Malam yang sudah direstorasi ini kemudian dipertontonkan ke publik. Awalnya diputar pada salah satu segmen dari perhelatan Festival Film Internasional Cannes (Prancis) 2012 ini *bangga, Cannes gitu loh*, kini film ini dapat disaksikan di bioskop nasional dalam masa pemutaran terbatas. Gw pun nggak mau melewatkan kesempatan ini, menonton film yang katanya salah satu adikarya dari pelopor sinema Indonesia, Usmar Ismail ini di layar besar, apalagi yang sudah direstorasi. Penasaran juga mengapa banyak pihak menilai ini sebuah film yang penting, khususnya untuk bangsa Indonesia. Tetapi dalam ulasan ini gw berusaha tidak memeriksa pandangan setiap pihak yang menganggapnya demikian, gw di sini hanya akan meresponi sebagai penonton seperti biasanya.

Menonton film produksi tahun 1950-an tentu harus dalam mindset permakluman, maklum saja kalau gambarnya hitam putih dalam rasio bujur sangkar, akting yang "sangat sandiwara", editing yang kaku (kalau kasar mungkin saja karena dalam proses restorasi ada frame-frame yang bener-bener rusak jadi harus dieliminasi, atau memang simply hilang), adegan malam hari yang disyut di siang hari (tapi nggak pake lampu biar keliatan gelap), atau penggunaan bahasa yang tentu saja agak berbeda dengan yang kita gunakan sekarang. It's not like the film is the cast and crew's first experience or anything, namun memang begitulah dahulu film dibuat. Terlepas dari itu, Lewat Djam Malam adalah tontonan yang dapat dinikmati semua orang. Formulanya komplit, ada soal cinta, ada nyanyi dan tarinya (yang sesuai konteks, karena bukan musikal), ada sedikit kejar-kejaran dan tembak-tembakan, ada drama dan komedi, dan ada unsur seksualitas juga (tentu saja dalam batas sangat sopan, apalagi untuk penonton era internet sekarang ini). Namun yang luar biasanya seluruh aspek itu dirangkai dengan tepat guna dan solid dalam cerita dan naskah yang disusun Asrul Sani ini, setiap detil tidak ada yang mubazir, termasuk latar pemberlakuan jam malam itu. Pun mulus sekali film ini menggunakan bingung galau gundah gulana Iskandar dalam memulai kehidupan baru untuk mencatat situasi masyarakat secara representatif, yang ternyata tak terbatas pada zaman baru merdeka saja, lewat deretan karakternya yang punya set-up masing-masing.

Iskandar pada masanya adalah pejuang, profesi yang dihormati rakyat, namun ketika zaman sudah berubah, ia harus mulai dari nol. Norma dan keluarganya adalah perwakilan golongan terpelajar dan berada, saking beradanya sampai membuat saudara Norma, Adlin (Aedy Moward) tidak merasa perlu cepat-cepat lulus sekolah tinggi, life is fine. Gafar adalah perwakilan paling lancar menghadapi perubahan, salah satu caranya melupakan masa lalu, termasuk melupakan teman-teman yang menurutnya tidak cocok lagi dengannya. Gunawan adalah perwakilan yang mempergunakan latar belakangnya sebagai pejuang (dan komandan sebuah satuan) untuk mencapai posisi tinggi, meskipun caranya juga mencakup mencelakai orang lain. Secara kontras, Puja adalah yang terpinggirkan, akhirnya berkutat di underworld sambil main-main dan berharap menang lotere, lama kelamaan ia seperti sudah kebal dengan hidup susah dan tidak menganggap serius mimpi hidup sejahtera. Sedangkan Laila, yang kehilangan suami saat masa perang, menjalani profesinya dengan "santai" namun masih memegang teguh mimpinya, walaupun hanya dimanifestasikan dalam guntingan kliping dari majalah, berharap pria yang mencintainya kelak akan membelikan benda-benda yang ia contohkan. Iskandar, dan kita, menyaksikan bahwa setelah "merdeka" pun tak setiap impian bisa tercapai, bahkan terlalu jauh seakan tak akan tercapai.

Lewat Djam Malam memang berbicara banyak melalui segelintir karakter, dan itulah yang membuatnya istimewa. Caranya menggambarkan ketidaksiapan orang-orang seperti Iskandar dalam menghadapi dunia yang tak disangka tak lebih mudah, entah itu akibat gegar tatanan sosial, hukum, ekonomi, maupun beban pribadi, buat gw luar biasa. Film ini ditata sedemikian rupa agar tetap berpijak pada konflik batin karakternya, sehingga tidak terasa berjarak dengan penonton. Meskipun banyak terselip kritik sosial yang verbal (yang anehnya masih sangat relevan sampe sekarang), film ini tidak terasa pretensius. Sebuah film yang berbobot tetapi dapat dikemas dengan cara menghibur—walaupun kalau ditonton sama anak sekarang letak "lucu"-nya mungkin agak beda: Gunawan yang membuang rokok atau menumpu satu kaki di kursi saat ucapannya makin intens, modus godaan Laila lewat berbagai pose provokatif dan kebiasaannya break into a song secara tiba-tiba *bihihik*, atau pandangan orang kantoran yang sinis dan orang di pasar malam  yang terpukau terhadap Iskandar yang bekas pejuang. Tetapi secara konteks, itu tidaklah salah, ada maksudnya. Eh, gw malah lebih notice penempatan iklannya, mulai dari tinta Quink sampai Djamu Djago =D.

Menurut gw, banyak yang bisa didapat dari menonton Lewat Djam Malam sekarang. Tidak harus yang berat-berat tentang gambaran kehidupan bangsa Indonesia dan sebagainya, tetapi bisa juga sebagai nostalgia—terutama melihat suasana kota Bandung dulu, bisa juga sebagai suvenir bagaimana para pendahulu kita berkarya, yang meski dengan keterbatasan teknologi masa itu, tetapi dengan benar menitikberatkan kualitas sebuah film pada yang terpenting: cerita.



My score: 8/10

2 komentar:

  1. seperti musisi: menitikberatkan kualitas sebuah lagu pada yang terpenting : musik.
    kira-kira begitu?

    BalasHapus
  2. @kyurahikaru: yes, kira-kira begitu =)

    BalasHapus