Rabu, 10 Februari 2016

[Movie] Surat dari Praha (2016)


Surat dari Praha
(2016 - Visinema)

Directed by Angga Dwimas Sasongko
Written by M. Irfan Ramli
Produced by Angga Dwimas Sasongko, Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Handoko Hendroyono
Cast: Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Rio Dewanto, Widyawati, Jajang C. Noer, Chicco Jerikho


Film Surat dari Praha seperti meminjam sebagian dari tren yang sedang marak di perfilman Indonesia. Kisah orang-orang Indonesia berlatar luar negeri memang seolah jadi hal rutin di bioskop dalam satu, dua tahun belakangan. Film terbaru sineas Angga Dwimas Sasongko ini untungnya tak terpaku pada tren semata. Lebih daripada latar luar negeri, film ini meleburkan kisah cinta, musik, dan latar sejarah Indonesia yang jarang dibahas menjadi sebuah tontonan indah memikat.

Hubungan Laras (Julie Estelle) yang tidak baik dengan sang ibu, Sulastri (Widyawati) menyisakan perasaan campur aduk setelah Sulastri meninggal. Dalam wasiatnya, Sulastri mewariskan rumahnya kepada Laras, namun dengan syarat Laras mengantarkan sebuah kotak tua dan sepucuk surat ke seseorang di Praha, Republik Ceko. Karena kebutuhan, apalagi ia baru saja bercerai, Laras menjalankan apa yang telah diamanatkan Sulastri, dan sampailah ia di Praha, mendatangi sesosok pria paruh baya bernama Jaya (Tio Pakusadewo, dengan aksen nada bicara yang benar-benar seperti angkatan 1960-an).

Perjalanan yang tadinya sederhana menjadi runyam ketika Jaya menolak Laras dan apa yang dibawanya. Tanpa menjelaskan alasannya, Jaya mengusir Laras dari rumahnya. Tak lama kemudian Laras jadi korban perampokan di jalan, dengan hanya menyisakan kotak dan surat milik ibunya. Tak punya tempat bernaung di malam hari, Laras kembali ke rumah Jaya sambil menunggu bantuan dari kedutaan besar Indonesia di sana.

Keadaan memaksa keduanya untuk terus berinteraksi, mereka perlahan-lahan coba saling mengenal. Laras pun mulai tahu bahwa Jaya adalah pria di masa lalu Sulastri, yang tak pernah kembali ke tanah air karena status eksil politik selepas pergantian pemerintahan ke Orde Baru pada tahun 1966. Tetapi, yang jadi pertanyaan bukan tentang apa isi kotak dan surat itu, melainkan apa pentingnya bagi Sulastri mempertemukan dan memperkenalkan keduanya dengan cara seperti ini.

Masuknya unsur eksil politik, yang bermuara pada peristiwa tragedi 1965, seolah mengesankan film ini menjadi berat. Tokoh Jaya digambarkan sebagai adalah salah satu peserta Mahasiswa Ikatan Dinas (MAHID), program pemerintahan Presiden Soekarno untuk mengirim pelajar Indonesia ke luar negeri.

Saat Orde Baru pimpinan Soeharto berkuasa, Jaya termasuk dalam kelompok pemuda yang memilih setia pada Soekarno dan menolak Orde Baru. Sikap itu berbuntut pada dicabutnya kewarganegaraan, dicap komunis yang dianggap musuh negara, dan tak bisa pulang dan berhubungan lagi dengan kerabat di Indonesia. Walau tokoh Jaya adalah fiktif, kisah para eksil politik itu merupakan fakta sejarah yang selama ini jarang dibahas, bahkan ditutup-tutupi oleh rezim yang berkuasa saat itu.

Akan tetapi, Surat dari Praha jadi menarik karena meleburnya unsur sejarah itu dengan kisah utamanya, yang bertutur tentang cinta. Latar sejarah tersebut berpengaruh besar pada keadaan dan pilihan tokoh-tokohnya, khususnya Jaya dan Sulastri. Menjadi eksil politik melatari Jaya sering mengirim surat kepada Sulastri tanpa dibalas, dan berpengaruh pula hubungan Sulastri dan Laras yang tak seperti kebanyakan ibu dan anak. Unsur sejarahnya—dan Praha—bukan lagi terlihat sebagai gimmick saja, ataupun membawa agenda politis tertentu, namun menyatu dengan pencarian tokoh-tokohnya.

Memang ceritanya tidak sederhana, bahwa 'kisah cinta' di sini lebih pada bagaimana Jaya dan Laras dipertemukan oleh sisa-sisa rasa cinta Sulastri, serta—untuk kasus Laras—benci dan kecewa terhadap sang ibu. Baik Jaya maupun Laras pun masing-masing punya riwayat yang cukup kompleks dalam cerita ini. Namun, semuanya itu bisa dirangkai dan dituturkan dengan menyeluruh, dengan laju yang lancar dan lembut. Masuknya unsur plot yang 'film banget', yaitu pembuatan paspor pengganti untuk Laras yang selalu tertunda, adalah bukti film ini tidak berusaha jadi congkak dengan isu yang diusungnya, melainkan tetap bisa dilihat sebagai sebuah hiburan.

Lalu semua itu diperkuat dengan perlakuan terhadap unsur musiknya. Seperti didengungkan dalam promosinya, film ini menggunakan beberapa lagu karya Glenn Fredly sebagai bagian dari perayaan 20 tahun kariernya di dunia musik. Masuknya musik sebagai satu lagi pengikat antarkarakternya—Jaya seorang musisi dan Laras bisa bermain piano, ditampilkan dengan sangat tepat konteks dan mendetail. Lagu-lagu yang digunakan tidak secara ajaib muncul lalu tiba-tiba bisa dinyanyikan oleh tokoh-tokohnya, namun prosesnya diperlihatkan dengan logis, termasuk lagu di bagian klimaksnya yang bisa jadi salah satu adegan musikal terbaik yang pernah ada di film Indonesia.

Surat dari Praha menjadi satu lagi pembuktian Angga Dwimas Sasongko sebagai sineas yang mampu menyajikan isu yang terbilang berat dan penting menjadi sebuah sajian yang mudah dinikmati, seperti pernah dilakukannya dalam Cahaya dari Timur: Beta Maluku.

Film Surat dari Praha ini pun jadi istimewa karena isu berat dan penting itu kali ini dikemas dalam lingkup yang kecil, hanya melibatkan tokoh yang jumlahnya sedikit, namun tetap dengan intensitas dan emosi yang berdampak. Didukung lagi dengan penataan visual yang rapi dan berkelas, Surat dari Praha adalah sebuah contoh karya yang menunjukkan kualitas dan kreativitas yang mampu menjangkau kalangan luas tanpa harus sekadar ikut tren, dan inilah yang perlu dilakukan lebih sering di perfilman Indonesia.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar