Minggu, 06 Juli 2014

[Movie] Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014)


Cahaya dari Timur: Beta Maluku
(2014 - Visinema Pictures)

Directed by Angga Dwimas Sasongko
Written by Swastika Nohara, M. Irfan Ramli, Angga Dwimas Sasongko
Produced by Angga Dwimas Sasongko, Glenn Fredly
Cast: Chicco Jerikho, Shafira Umm, Abdurrahman Arif, Jajang C. Noer, Franz Nendissa, Ridho Hafidz, Aufa Assegaf, Bebeto Leutualy, Burhanuddin Ohorella, Randy A. Asri


Sebagai pembukaan, gw akan langsung saja menyatakan bahwa jika Anda memang penonton film Indonesia yang pilih-piliiiih banget *alias sok iyeh banget nggak percaya sama kualitas film dalam negeri*, pastikan Cahaya dari Timur: Beta Maluku adalah salah satu pilihan itu. Seriously. Entah kalian tipe yang cari cerita bagus, cari hiburan, atau cari kualitas audio visual, plot, dan akting yang baik, film ini harus juga kalian tonton. Jangan teralihkan oleh premisnya yang mungkin sudah diangkat beberapa kali di film lain, sebab film ini mungkin adalah yang terbaik di antaranya.

Iya, premisnya mungkin terdengar biasa saja, sebuah kisah zero to hero, dari belum apa-apa lalu jadi juara, diangkat dari kisah nyata lagi. Baru awal tahun ini kita disajikan kisah serupa, 12 Menit untuk Selamanya. Tetapi, Beta Maluku menurut gw punya kisah yang lebih kaya dan dalam. Di balik tim sepak bola U-15 Maluku yang menang kejuaraan nasional Piala Medco tahun 2006, ada cerita dan sosok-sosok luar biasa yang memang layak diceritakan. In the end, film ini terfokus pada dua jenis: film olahraga sekaligus film biografi seseorang bernama Sani Tawainella. Kita mungkin tak banyak tahu siapa beliau, kita juga mungkin nggak ngeh dengan prestasi tim sepak bola U-15 Maluku tadi, itulah sebabnya Angga Dwimas Sasongko mengangkatnya dalam film ini. 

Sani (Chicco Jerikho, atau apapun cara penulisannya) adalah mantan pemain sepak bola remaja yang pernah mencapai kejuaraan Asia, namun gagal melanjutkan karir sepak bola profesional, jadilah ia tukang ojek di kampung halamannya, negara (istilah desa di Maluku) Tulehu di pulau Ambon. Kita tahu bersama, Ambon di awal dekade 2000-an mengalami konflik, namun hebatnya Sani dan anak-anak didiknya yang terdiri dari dua kelompok yang--menurut media--"bertikai" di Ambon, berhasil melewati itu dengan memenangkan kejuaraan sepak bola U-15 tadi di tahun 2006. Kok bisa? Film ini pun menguraikan (tentu saja dengan sedikit fiksionalisasi) apa yang terjadi di antara itu, and it's a great story with a great presentation.

Hal pertama yang langsung menarik perhatian gw dari film ini adalah storytelling-nya yang berstruktur cermat. Filmnya mungkin agak panjang (150 menit kalau ngikutin terus sampe end credits dengan latar lagu yang asoy dari artis-artis Maluku), tetapi babak demi babaknya ditata dengan rapi, dan tidak ada kesan menggampangkan. Mulai dari perkenalan suasana Ambon yang menggetarkan, perkenalan Sani, lalu dimulai realisasi niatnya mengalihkan perhatian anak-anak Tulehu dari kerusuhan dengan sepak bola, sampai ke lima tahun kemudian latihan sepak bola itu bertumbuh jadi klub, konflik antar-founder, kesempatan baru, terus dan terus sampai pada momen kemenangan. Semuanya dijahit berkesinambungan dengan cantiknya, efektif, berasa bobotnya, bikin betah untuk ngikutin hingga akhir, pun ditutup dengan shot yang terkesan sederhana tapi perfect. Dan poin plusnya, nyaris semua dialog film ini menggunakan dialek lokal, sehingga lebih terasa otentik. Okay, beberapa pilihan kata mungkin terlalu "film", tetapi karena diucapkan oleh orang-orang Ambon yang dikenal sebagai orang-orang yang gemar seni, buat gw sih tetep terasa otentik, hehe.

Kedua adalah departemen aktingnya yang mumpuni, padahal tadinya gw agak ragu karena sebagian besar adalah aktor-aktris yang terbilang baru di dunia film, nama-namanya nggak familiar banget. Akhirnya Chicco bisa membuktikan ia punya kemampuan jadi aktor betulan *ciee* bukan hanya aktor sinetron yang terkenalnya karena pacaran sama Laudya Cynthia Bella. Sosoknya mungkin jauh daripada Sani yang asli (ditunjukkin fotonya di akhir film), he's not even an Ambonese, tapi real acting is in da house yo. Sama halnya dengan akting Jajang C. Noer (mama Alvin), Aburrahman Arif (Yosef), Franz Nendissa (Rafi), juga Sharifa Umm (Haspa) plus Latifa Lestaluhu (mama Salembe) yang oke berat, sampe bikin terharu. Pemain-pemain mudanya pun  nggak kalah mantap dalam debut akting mereka, khususnya Aufa Assegaf (Hari Zamhari) yang tampangnya paling potensi ng-artis dan Bebeto Leutualy (Salembe) yang sepertinya punya bakat jadi bintang dengan personality-nya yang sangat menonjol.

Lalu sampailah kita pada yang bikin gw semangat banget mempromosikan film ini bagi siapa pun, adalah how this film make me feel. Harus gw akui, film ini berhasil membuat gw merasakan emosi yang seharusnya: keadaan konflik yang mencekam (sekalipun tidak terlalu graphic), keadaan ekonomi yang meresahkan, lalu diselingi nikmatnya bermain sepak bola, juga terhibur atas tingkah polah para tokoh yang juga diselipi canda (that "Buka Pintu" song is LOL moment, liriknya kan harusnya nggak gitu XD), tegang, terharu, canggung, pokoknya nggak membuat gw merasakan emosi menyimpang lah (menyimpang tuh contohnya: adegan serem gw malah ketawa). Poin ini jelas bisa terjadi oleh sinergi yang apik dari skenario, pengarahan, sampai pada hal-hal teknis seperti sinematografi, editing, dan musik yang mendukung. Top lah.

Tentu saja bukan tanpa kelemahan, tapi gw masih bisa memaklumi karena pada kelemahan-kelemahan itulah termuat nilai-nilai hiburan film ini, which became another form of strength. Yah, gw memang merasakan agak gimana gitu sama adegan urunan sumbangan yang gw namai "TVRI shot" (orang-orang berkumpul, kamera menjauh, ada orang buka jendela rumah =P), atau pep talk di pertandingan yang "film banget", atau juga adegan "nonton" adu penaltinya yang lebih "film banget" lagi. Tapi itu yang bikin seru. Mungkin ini namanya suspension of disbelief.

Once again, kalau kalian ingin nonton film yang bagus dari Indonesia, tolong, please, I beg you, tontonlah film ini. Kalau cari hiburan, namanya film bertema olah raga hampir pasti menghibur. Cari nilai-nilai inspirasi, bisa lihat sosok Sani seperti apa, niatnya yang sedehana berkembang jadi sebuah ajakan perdamaian. Cari pemandangan, lihatlah keindahan pulau Ambon di sini. Dan banyak hal-hal baik lainnya yang bisa kita temukan di sini. Ya begitulah gw yang saking impressed-nya sama film ini, dan gw rasa sih banyak orang juga akan berpendapat sama. Manise bangetlah film ini *apaan coba*.




My score: 8/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar