Selasa, 16 Februari 2016

[Movie] Aach...Aku Jatuh Cinta (2016)


Aach...Aku Jatuh Cinta
(2016 - MVP Pictures)

Written & Directed by Garin Nugroho
Produced by Raam Punjabi
Cast: Pevita Pearce, Chicco Jerikho, Annisa Hertami, Nova Eliza, Bima Azriel, Angelista


Aach...Aku Jatuh Cinta (AAJC) adalah film yang terdengar menarik terutama jika sudah mengenal reputasi sang sutradara, Garin Nugroho. Rekam jejak karyanya sejak era 1990-an seolah mencirikannya sebagai sineas yang 'berat' dan punya cita rasa artistik yang tak selalu mudah ditangkap—lihat saja Guru Bangsa Tjokroaminoto, Soegija, Opera Jawa, Daun di Atas Bantal, dan lain-lain. AAJC seakan ingin mendobrak pola itu, karena premisnya terdengar klise, ringan, dan secara kasat mata film ini sangat cerah ceria. Tetapi, dasar seorang Garin, film ini tak dibiarkan bertutur hanya dengan satu lapisan saja.

Kisah dimulai di era 1970-an, Yulia (Pevita Pearce, versi kecil diperankan Angelista) adalah gadis blasteran Belanda-Jawa yang tinggal di sebuah kota kecil, dan bertetangga dengan anak laki-laki sebayanya, Rumi (Chicco Jerikho, versi kecil diperankan Bima Azriel). Keduanya bergaul akrab, namun kenakalan dan kejahilan Rumi membuat ibu Yulia (Annisa Hertami) melarang putrinya untuk dekat-dekat dengan Rumi. Pada akhirnya, keadaan selalu dapat mempertemukan Yulia dan Rumi kembali, hanya saja benih hubungan romantis yang jelas-jelas ada di antara mereka tak pernah sampai bersemi. Sebab, salah satu dari mereka pasti akan mengacaukan segalanya.

Tentu saja akan keliru jika mengharapkan film ini akan bertutur seperti film roman biasa. Sejak awal film, cerita cinta Yulia dan Rumi dituturkan sebagai catatan kenangan dari Yulia. Dan, dalam satu bagian, film ini bertutur dari ingatan Yulia akan catatan yang ditulis Rumi tentang kehidupannya, yang disimpan di dalam botol limun rahasia milik mereka.

Dalam penyajiannya, tampak adegan-adegan film ini seolah tidak runut, bahkan sebab akibatnya tidak begitu erat. Akan tetapi, mengingat bahwa hampir seluruh film ini adalah catatan Yulia yang ditulis di tahun 1990 tentang peristiwa belasan tahun sebelumnya, hal itu boleh saja dianggap sebagai bagian dari sifat memori manusia yang kerap terdistorsi. Yang pasti, apa yang disajikan di sini, bahkan sejak montase pembukaan, adalah rekaman nostalgia Yulia tentang dirinya dan Rumi. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apa yang hendak digali oleh Yulia dari kenangan-kenangannya itu?

Jika ingin melihat dari sudut pandang paling sederhana, film ini adalah kisah dua orang yang diharapkan bisa bersatu setelah melewati berbagai rintangan dan tantangan. Dengan premis seperti itu, film ini pun bisa saja jatuh sebagai roman picisan dengan visual mentereng, karakter-karakter cenderung komikal—benturkan Yulia yang rapuh dengan Rumi yang slengean, dan dialog-dialognya yang dramatis dan tidak terdengar natural. Namun, film ini tetap bisa menyajikan kedalaman yang tidak membuat kisahnya senorak kemasannya. Premisnya tetap klise, tetapi rintangan dan tantangannya tidak.

Dari sini bisa dilihat bahwa dari rangkaian nostalgianya, Yulia sedang menelusuri mengapa hubungannya dan Rumi tak pernah bisa tuntas, entah itu bersatu sepenuhnya atau berpisah sepenuhnya. Pihak Yulia lebih bersifat situasional, ekonomi keluarganya tidak mapan setelah ditinggal pergi ayahnya, sehingga kebersamaannya bersama Rumi dianggap akan mengalihkan prioritasnya.

Sementara Rumi, yang sejak awal digambarkan sebagai pembuat onar, merasa takut jadi pria ringan tangan seperti ayahnya (Joko Kamto), yang juga jadi alasan utama sang ibu (Nova Eliza) minggat. Hal-hal ini dijelaskan dengan detail tak hanya lewat dialog, tetapi juga serangkaian adegan yang ditata sangat emosional, terutama di paruh awal film ini yang banyak tampilkan hubungan Rumi dan Yulia dengan keluarga masing-masing.

Film ini kemudian diperkaya lagi lewat konteks zaman, yang juga tampak sangat ingin dikedepankan. Ada pergantian cara memperoleh informasi dari radio ke televisi, industri rumahan yang tergeser merek asing, masuknya komik dan majalah Jepang, intervensi militer ke gerakan pemuda, hingga hal-hal sekecil busana, dandanan, bioskop, dan musik yang mencakup 1970-an hingga 1990-an—meskipun perubahannya tak drastis. Ada kesan bahwa sang sutradara sedang bermain-main dengan nostalgianya. Namun, semua itu berhasil dirangkai dengan relevan terhadap cerita dan karakternya.

Dalam upayanya untuk mengangkat cerita yang lebih ringan dan mudah dicerna, AAJC terbilang sudah menjalankannya dengan baik. Film ini tidak meninggalkan teka-teki ataupun simbol yang harus dipecahkan, karena semuanya sudah dipaparkan. Namun, film ini tidak menghilangkan cita rasa sinematik khas Garin, dengan production value yang kaya dan indah, penataan adegan yang kuat, serta mengeluarkan kemampuan akting maksimal dari para pemainnya.

Kalaupun kadang beberapa adegan dan dialog tampak terlalu dramatis bak film-film Indonesia lawas—dan mungkin memang justru itu niat pembuatnya, film ini pada akhirnya bisa tampil jauh dari kesan dangkal. Film ini tetap bisa menggali emosi dari perpisahan dan trauma, pun luwes pula dalam menampilkan kekonyolan dan kenakalan yang mengundang tawa. Sebuah film yang pantas digambarkan dengan kata-kata yang sebelumnya sulit ditempelkan pada film-film karya Garin: playful dan menyenangkan.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar