Kamis, 24 Desember 2015

[Movie] Single (2015)


Single
(2015 - Soraya Intercine Films)

Directed by Raditya Dika
Screenplay by Raditya Dika, Sunil Soraya, Donny Dhirgantoro
Story by Raditya Dika, Sunil Soraya
Produced by Sunil Soraya
Cast: Raditya Dika, Annisa Rawles, Pandji Pragiwaksono, Babe Cabiita, Chandra Liow, Rina Hassim, Elvira Devinamira, Tinna Harahap, Frederik Alexander, Dede Yusuf, Dewi Hughes, Pevita Pearce


Dari 7 film berlabel "filmnya Raditya Dika" yang rata-rata laris, ternyata gw baru nonton separuhnya. Label itu buat gue cukup spesifik karena Dika nggak pernah main di film buatan orang lain, selalu di film hasil tulisannya dan atau disutradarainya sendiri. Dari yang udah gue tonton pun film dengan label itu punya substansi yang sama, walau dikemas dalam style yang berbeda-beda. Most of the time, gw cukup menikmati guyonannya, tapi merasa penyelesaian ceritanya tak pernah se-deep yang dimaksudkan pembuatnya. Tapi yah mungkin itu cocok bagi target penontonnya yang dekat dengan isu-isu percintaan muda-mudi dan sebagainya, apa mau dikata *not that I'm confirming I'm old, though...*.

Anyway, setiap dengar proyek film Dika terbaru dan masih seputar percintaan, bayangan gw akan selalu kembali pada kesan di atas. Single, dengan statusnya sebagai kerja sama Dika dengan Soraya Intercine Films yang dikenal rumah produksi serba niat dan mahal (5 cm., Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck), juga gw rasa nggak akan ada bedanya. Mungkin dari style kemasan dia akan berbeda, tapi dengan judul yang jelas-jelas merujuk pada soal relationship again, gw menahan diri untuk berkekspektasi yang berlebihan.

Jadi, Single ini bercerita tentang isu-isu yang ringan, cowok yang nggak pernah pacaran seumur hidup dan kemudian "dilangkahi" adiknya yang akan nikah duluan. Lalu ketemu sama cewek cantik berhati mulia tapi juga punya orang dekat yang bukan pacarnya tapi menghadang si cowok untuk mendekati si cewek. Gw bilang ringan karena hal-hal tersebut nggak ada hubungannya sama sekali dengan survival seorang manusia ataupun pertaruhan tingkat nasional maupun global =P. The best thing this film can do adalah membuatnya jadi cukup terhubung sama orang-orang yang diasumsikan mempunyai pengalaman serupa, dan itu nggak ada salahnya juga.

Menurut gw Single ini mengalirnya cukup enak. Dibuka dengan cara menarik dari obrolan si Ebi (Dika) dan dua sahabatnya di dalam mobil, lalu dilanjutkan dengan a rather brilliant main title Ebi nyetir sambil ikut nyanyi dengan penuh perasaan lagu yang ceritanya ada di radio. Kemudian bergulirlah ceritanya dengan berbagai macam guyonan, mulai dari guyonan awkward khas Dika hingga toilet jokes klasik ala Warkop. Beberapa bisa bikin gw ketawa, beberapa bisa bikin senyum, sisanya biasa saja. Dari segi karakterisasi juga dibuat cukup menarik, salah satu yang paling nempel di gw adalah emaknya Ebi (Tinna Harahap) yang berusaha sok ikrib sama anak-anaknya.

Kesan-kesan tadi sebenarnya nggak jauh beda dengan yang gw dapat dari film-film Dika sebelumnya. Untungnya, film Single ini diberi "perlakuan Soraya", mulai dari pengambilan gambarnya yang lebih kelihatan filmis, pemilihan lokasi dan desain produksi yang niat banget, penataan adegan yang heboh-heboh dan "ramai", editing yang lincah, pemilihan Annisa Rawles sebagai lead female, pokoke enak bangetlah dilihat. 

Tapi, di saat gw berhasil menikmati berbagai fancy things yang disajikan Single yang lebih oke dari film-film Dika sebelumnya, gw juga harus dihadapkan pada fakta bahwa film ini kembali ke pola yang tu tadi, penyelesaian yang maunya dibikin jadi perenungan yang deep tapi efeknya ke gw nggak se-deep itu. Apa ya, mungkin dari susunan kata-kata seriusnya yang terlalu kontras dengan guyonannya, mungkin dari delivery dialog atau adegannya, mungkin juga gwnya aja yang frigid. Yang pasti ketika film ini mencoba menampar penonton dengan kata-kata yang dalem, gw kayak luput gitu, once again.

Tapi lagi, memang harus diakui bahwa film ini sukses dalam mengangkat isu-isu yang nggak penting ringan menjadi sebuah cerita yang bisa disajikan menarik dan menghibur di layar lebar. Minimal gw sudah bisa dapat hiburannya, and I guess that's all that matters. Lagipula, film ini adalah effort terbaik dari sebuah "filmnya Raditya Dika" sejak Cinta dalam Kardus, dan sebenarnya bakal jadi benchmark (a.k.a. beban) juga untuk Dika ke depannya, apakah setelah Single dia bakal memakai standar production value seperti ini untuk film-film selanjutnya, atau kembali ke gaya yang lebih sederhana seperti yang sebelum-sebelumnya.





My score: 7/10

1 komentar:

  1. menurut gue film ini film terbaik dari beberapa film raditya dika yg lain nya...

    BalasHapus