Sabtu, 28 Desember 2013

[Movie] Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013)


Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
(2013 - Soraya Intercine Films)

Directed by Sunil Soraya
Screenplay by Imam Tantowi, Donny Dhirgantoro, Rieham Juniati, Sunil Soraya
Based upon the novel by Buya HAMKA
Produced by Sunil Soraya, Ram Soraya
Cast: Herjunot Ali, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Randy "Nidji", Gesya Shandy, Arzetti Bilbina, Kevin Andrean, Jajang C. Noer, Fanny Bauty


Jujur deh, pas gw lihat trailer film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, I think it’s going to be crap. Berdasarkan tampilannya yang Titanic-ish dan The Great Gatsby-ish, dalam benak gw film ini sedang menghancurkan sebuah karya dari sastrawan terkenal Indonesia, Buya HAMKA demi tampilan serba mewah belaka. Belum lagi beberapa tahun lalu, karya HAMKA lainnya baru saja dihancurkan, Di Bawah Lindungan Ka’Bah tahun 2011, sutradara Hanny R. Saputra, produksi MD Entertainment dan Gery Chocolatos =p...yang main si Junot juga lagi. Trauma-trauma itu berhasil membentuk pola pikir gw untuk memandang rendah film ini, kalau pun gw nonton itu karena gw pengen menghina-dina film ini. Ternyata...

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tidaklah seperti di pikiran gw...well, sebagian besarnya. Tetapi, jujur, kalau ada yang bilang film ini keren dan ternyata berhasil ditonton jutaan orang, gw sangat mengerti. It is far from bad. Film ini adalah salah satu film komersil Indonesia paling niat dan serius yang pernah gw lihat sepanjang tahun ini, dan niat dan seriusnya itu di bidang yang tepat: penuturan cerita. Penuturannya yang jelas, tertata dari satu babak ke babak lainnya, dan nggak perlu mikir, semua orang yang nonton akan mudah larut, mungkin sampe ikutan emosi.  Kisahnya cukup panjang, tetapi tidak berlama-lama. Lajunya cukup lincah, tidak terpaku sama melodrama. In short, enak banget nonton film ini, durasi 2 jam 40 menit pun nggak kerasa kelamaan.

Kalo ngintip-ngintip sinopsis novelnya pun plot dan tokoh-tokohnya kayaknya nggak banyak berubah, termasuk penekanan tentang bagaimana adat Minangkabau kala itu menghalangi cinta Zainuddin (Herjunot Ali) yang nggak dianggep karena ibunya bukan orang Minang, dengan Hayati (Pevita Pearce) yang adalah anak dari keluarga petinggi adat. Gw bisa lihat bahwa sekalipun menganut garis keturunan ibu, kaum perempuan tetap tidak punya posisi menentukan keputusan. Akibatnya, dengan menaati keputusan dewan adat, Hayati setuju dinikahkan dengan Aziz (Reza Rahadian) yang Minang dan kaya dan gaul sama orang Belanda. Tapi tak hanya itu, Hayati yang udah pernah janji "akan menunggu sampai kapan pun" pada Zainuddin saat akan pergi dari kampung, eh malah secara sepihak memutuskan Zainuddin, dan menyuruhnya lupain aja cinta mereka. Cuma lewat surat lagi. Hih! *ikutan emosi*.

Adapun yang bikin gw betah mengikuti kisah film ini adalah adalah sinergi pengarahan adegan, sinematografi, dan editingnya. Gw mungkin nggak bisa menggambarkannya dengan tepat, tetapi gw suka sekali dengan gaya pengarahan Sunil Soraya terhadap para aktornya yang seperti film-film klasik, blocking-nya itu selalu tepat, dan sorotan kamera pun tidak pernah monoton, ditambah perpindahan gambar yang lincah. Ada lebay-nya pasti, tapi nggak pernah sampe kecentilan. Di film ini juga banyak menggunakan teknik dialog yang di-voiceover tapi yang ditampilkan adalah gambar adegan lain di tempat lain. Gw tahu ini bukan teknik baru, tetapi menarik aja, karena ini juga bikin jalan ceritanya tetap mengalir, dan hemat waktu. 

Pas orangnya udah tajir aja, baru deh bengong *emosi*.

Lalu kita sampai pada bagian yang dengan sukses menghalangi gw untuk 100% menyukai film ini. Gw masih bisa maklum dengan pemilihan pemain yang berwajah bule supaya banyak yang nonton (alasan yang sama kenapa banyak orang yang masih simpati sama Ariel Noah tapi menistakan Andhika ex-Kangen, cruel but true), dan gw menghargai usaha para pemain untuk memasukkan unsur daerah dalam tutur katanya, khususnya Junot yang gw hargai sekali usahanya. Usahanya ya, hasilnya sih belum tentu *jahat*. Gw pun tidak berkeberatan dengan penggunaan theme song dan musik latar sepanjang film dengan genre modern nyerempet Brit-pop dari Nidji, malah jadi enak dan beda aja.

Tetapi, mungkin beberapa detil production design dan kostum-nya yang luar biasa mewah dan mahal tapi kurang sreg di gw. Latar ceritanya kan Indonesia/Hindia Belanda tahun 1930-an, tapi berbeda sekali dengan yang gw lihat di film-film lain, Soekarno misalnya. Tapi gw paham, tujuannya adalah menyorot kehidupan warga pribumi yang "kasta"-nya agak di atas. Namun, benar atau enggaknya penggambaran orang pribumi bisa melakukan kebiasaan dan menikmati fasilitas yang sama dengan orang Belanda pada saat itu tanpa adanya pembedaan, gw ragu. Problemnya, desain-desain yang diperlihatkan malah mengingatkan gw pada di film-film Indonesia 1970-an ketimbang "zaman penjajahan", khususnya ketika sudah memasuki babak Padang Panjang, Batavia, dan Surabaya. Seperti telenovela-telenovela-an yang dimainkan orang Indonesia. Enak sih dilihat, tetapi gw ngerasa distant aja, dan bertanya-tanya dalam sukma "emang dulu bisa kayak gini ya?". Jika memang sengaja dibikin extravagant, dan meleburkan waktu alias anakronisme, ya nggak apa-apa juga sih, setidaknya gw jadi nggak perlu kaget ketika melihat daftar harga barbershop kayak hasil print HP Deskjet, atau buku karya si Zainuddin yang covernya kayak dicetak GagasMedia tahun 2003. Toh, film ini juga nggak sejarah-sejarah amat.

You know, kalau mau menjabarkan kekurangan film ini menurut gw, lumayan banyak ternyata. Gw masih belum nyebut beberapa dialog yang halah-kok-ya-panjang-banget-kapan-selesainya, efek digital/miniatur kapal Van Der Wijck-nya masih taraf...well, belum maksimal dan kurang polesan, beberapa gambar dengan tambahan efek digital resolusinya kelihatan banget kasarnya, ataupun gw yang nggak menemukan apa penyebab kapalnya tenggelam =p Tapi, lagi-lagi, gw tak kuasa mengakui bahwa gw emang enjoy film ini secara keseluruhan. Sebuah kisah cinta klasik dikemas dan dituturkan dengan cara yang modern tanpa kelewat centil atau over-melodramatis--jelas masih melodramatis tapi nggak over *dijelasin*. Dialog-dialognya yang menjurus ke sastrawi pun bisa di-deliver dengan baik, mungkin karena dalam pikiran gw film ini cerita tentang zaman dahulu/semesta alternatif sehingga terdengar fine-fine aja. Sure, there are laughable moments, tetapi harus diakui film ini cukup bisa mempertanggungjawabkan sesumbar "movie event of the year" yang sering menganggu kita di linimasa Twitter sebagai promoted tweet =D. 




My score: 7,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar