Rabu, 22 Juli 2015

[Movie] Mencari Hilal (2015)


Mencari Hilal
(2015 - MVP Pictures/Studio Denny JA/Dapur Film/Argi Film/Mizan Productions)

Directed by Ismail Basbeth
Written by Salman Aristo, Bagus Bramanti, Ismail Basbeth
Produced by Raam Punjabi, Hanung Bramantyo, Putut Widjanarko, Salman Aristo
Cast: Deddy Sutomo, Oka Antara, Erythrina Baskoro, Torro Margens, Gunawan Maryanto, Rukman Rosadi, Whani Darmawan


Melihat nama sutradaranya--yang cukup famous di sirkuit festival film pendek dengan model film macam-macam a.k.a. banyak yang aneh, agak "ngeri" juga ketika gw mendengar proyek film Mencari Hilal ini. Karena, Ismail Basbeth yang punya reputasi demikian bekerja sama dengan nama-nama terkenal di blantika film nasional seperti Mizan, Hanung Bramantyo, Salman Aristo, sampai Raam Punjabi (!) sebagai produsernya. Jadi semacam ada penggabungan yang kontras antara seorang sineas yang sudah punya arah artistik sendiri dengan big boys lebih banyak pengalaman di pasar mainstream. It's a bit intriguing, tapi ya gw coba aja. Alhasil, Mencari Hilal adalah salah satu film Indonesia terbaik tahun ini dan seharusnya ditonton oleh orang-orang yang sering bingung sendiri mencari *no pun intended* film Indonesia yang bagus.

Mencari Hilal disimpulkan sebagai road movie dua orang yang bertolak belakang. Cuma, jadi agak complicated karena bertolak belakangnya itu adalah yang satu mengabdi sama agama dan yang lain nggak, dan mereka adalah bapak dan anak. Pak Mahmud (Deddy Sutomo)yang setiap aspek kehidupannya sangat Islami terusik ketika mendengar isu sidang isbat Kementrian Agama yang menghabiskan dana miliaran rupiah untuk menentukan kapan tanggal Idulfitri. Pak Mahmud lalu berinsiatif melakukan tradisi kirab ke titik pengamatan hilal (bulan sabit penanda dimulainya bulan baru) sebagaimana dilakukan saat masih jadi santri dulu. Usia dan kesehatan tidak menyurutkan niatnya, tetapi putrinya Halida (Erythrina Baskoro) tak membiarkannya pergi, jika tidak ditemani oleh sang anak bungsu, Heli (Oka Antara). Pak Mahmud dan Heli sama-sama enggan, mengingat pak Mahmud more or less udah nggak anggap Heli sebagai anak lagi, dan Heli tumben-tumbenan pulang ke Jogja juga cuma karena mau perbarui paspor sebelum cabut membela lingkungan di Nicaragua.

Salah satu kekhawatiran gw terhadap film yang berbentuk road movie adalah ceritanya bakal dibiarkan ke mana-mana. Tapi, yang gw suka dari Mencari Hilal adalah fokusnya jelas dan tidak pernah lari dari sana. Plot device-nya adalah mencari tempat melihat hilal, sementara tema utamanya adalah hubungan estranged bapak-anak yang "dipaksa" untuk terus-terusan bersama. Kalaupun filmnya menampilkan beberapa kejadian di perjalanan mereka, itu nggak pernah lepas dari dua hal itu. Dalam perjalanan mereka cari alamat, nyasar, ketemu teman lama, hingga melihat polemik di sekitar mereka, itu semua berperan dalam mereka saling terbuka dan "kenalan" lagi, sekalipun belum tentu jadi semakin akur, hehe. Lewat kejadian-kejadian itu, mereka mungkin punya pandangan berbeda-beda, tetapi dalam beberapa hal bisa menemukan sesuatu yang dilakukan bersama-sama, yang sepertinya sih tidak pernah terjadi pada mereka sejak lama sekali. To me, it's emotionally compelling.

Gw juga melihat sebenarnya kesan sederhana film ini hanya dari permukaan saja. Kalau dipikir-pikir Mencari Hilal disusun dengan cukup hati-hati dan penuh pertimbangan. Pendekatan film ini memang realis, tetapi itu karena bangunan cerita yang believable, padahal semua fiktif. Misalnya, beberapa jenis aliran agama yang ditampilkan di sini terinspirasi dari ciri-ciri aliran yang ada di kehidupan nyata (khususnya di Jawa) tetapi tidak merujuk secara spesifik ke yang manapun, bahkan mungkin tukar-tukaran ciri (misalnya ciri mirip NU tapi pakai perhitungan hisab, atau ciri mirip Muhammadiyah tapi pakai hilal). Sebuah cara yang cukup smooth supaya meminimalisir risiko ada yang tersinggung *biasalah orang Indonesia*, sekaligus menunjukkan keterampilan para pembuat film ini dalam meramu gagasan yang ingin disampaikan--dalam hal ini tentang kebhinekaan. Dan, setidaknya gambaran tentang aliran agama di sini jauh lebih jelas dari Ayat-Ayat Adinda, film dari produksi dan program yang sama (Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi) yang rilis lebih dahulu, sehingga tidak timbulkan ganjalan dalam menikmati cerita film ini sekalipun disaksikan oleh bukan dari kalangan muslim.

Yang lebih menarik lagi buat gw adalah, film ini seakan berbicara dalam "dua bahasa". Penuturannya cukup jelas secara naratif, tetapi juga diperkuat dengan simbol-simbol yang subtle. Misalnya, kita udah tahu ada jarak antara Pak Mahmud dan Heli dari dialog dan gestur mereka, tapi itu juga diperkuat dari angle gambar yang memperlihatkan selalu ada gap saat mereka dalam satu frame, dan makin ke sana gap-nya makin sempit. Bukan simbol yang gimana gitu sih, tapi efektif, cantik, dan nyaris tak disadari. Yah, kalau gw gambarin secara singkat, with all due respect, film ini jadinya nggak se-puzzling karya-karya Garin Nugroho, tapi nggak se-"banal" film-filmnya Hanung. It's rather a fine mix, bisa diikuti dan menghibur penonton awam sekaligus penonton yang sok nyeni nuntut artistic value yang tinggi. Yah, menjelang penghujung film emang banyak gambar-gambar statis kayak "pelem pestipal", tapi buat gw porsinya nggak menjengkelkan, dan lagian gambar-gambarnya cakep-cakep bangeuuts. 

Mencari Hilal adalah salah satu jenis film yang managed to say about many things tanpa harus jadi pretensius, judgmental, atau wareg dengan isu dan pesan moral. Di sini ada soal keluarga, agama, ekonomi, politik, budaya, sosial, teknologi, dan sebagainya, semua terintegrasi dalam satu cerita dengan mulus. Well, buat gw pribadi bagian yang berkaitan dengan gereja dan penyelesaiannya nggak semeyakinkan bagian yang lain, tetapi minimal gw menangkap gagasannya, dan itu nggak terlalu masalah. Dengan cara yang lembut film ini berani membicarakan soal agama dalam kondisi yang lebih clear dan tidak hanya dalam satu dimensi. Contohnya, ada beberapa momen yang mungkin not for the fainted heart melibatkan Heli mengritisi para penganut agama, termasuk bapaknya sendiri, tetapi diberikan juga ruang pembuktian bahwa apa yang dijalani Pak Mahmud tidaklah pointless. Nggak ada yang paling benar sendiri. 

Gw suka dan tersentuh dengan apa yang ingin diceritakan, digarap dengan sederhana namun bernas dan tak jarang jenaka (filmnya tetap menghibur), dialog-dialog yang mengena tapi disampaikan dengan natural dan berbobot oleh para aktornya (pak Deddy is fascinating), dan penggarapan teknisnya yang sangat, sangat rapi dan cantik. Ya sayang aja kalau banyak orang menghindari film ini dengan alasan not interesting enough, padahal isunya justru paling aktual dan filmnya sendiri salah satu yang paling penting untuk ditonton saat-saat ini.





My score: 8/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar