Minggu, 21 Juni 2015

[Movie] Ayat-Ayat Adinda (2015)


Ayat-Ayat Adinda
(2015 - MVP Pictures/Dapur Film/Mizan Productions/Argi Film/Studio Denny JA)

Directed by Hestu Saputra
Written by Salman Aristo
Produced by Raam Punjabi, Hanung Bramantyo, Putut Widjanarko, Salman Aristo
Cast: Tissa Biani Azzahra, Surya Saputra, Cynthia Lamusu, Deddy Sutomo, Badra Andhipani Jagar, Alya Shakila Saffana, Moh. Hasan Ainun, Chandra Malik, Marwoto, Yati Pesek, Susilo Nugroho, RAY Sitoresmi


Adinda, siswi SD yang punya bakat istimewa di bidang tarik suara. Ia kurang akur sama tim qasidah sekolah karena cenderung improvisasi sendiri, sampai akhirnya kepala sekolah memutuskan ikutkan Adinda ke lomba yang solo. Tapi, either way, Adinda sebenarnya dilarang untuk ikut lomba-lombaan itu sama bapaknya, Faisal. Adinda nggak ngerti apa sebenarnya alasan pelarangan ini, bapak, ibu, dan kakaknya juga masih enggan memberi penjelasan karena dia masih kecil *kira-kira begitu*. Tetapi, Adinda kemudian didorong oleh teman-teman dekatnya untuk ikut lomba MTQ, sesuatu yang--pikir mereka--nggak mungkin dilarang, toh ini membaca ayat Alquran. Ketika Adinda mulai mengaji sebagaimana ia biasa diajarkan orang tuanya, barulah mulai ketahuan bahwa ia mempraktikkan agamanya agak berbeda dari sekelilingnya.

Ayat-Ayat Adinda adalah sebuah film sederhana yang punya titipan cukup besar dan berat, kalau gw lihat ya. Bila hanya mengedepankan kisah seorang anak SD ikut lomba MTQ, film ini akan jadi terkesan so sweet and innocent layaknya film-film Aditya Gumay. Tetapi, film ini rupanya juga ingin mengangkat persoalan pelabelan dan keberpihakan yang sekarang makin sering terjadi di masyarakat, sehingga dimasukkanlah suatu poin bahwa keluarga Adinda dituduh sesat. Gw sih merasa cerita film ini dibawa dengan cukup baik dan lancar, khususnya dari segi perjalanan Adinda untuk bisa menyalurkan bakatnya dan ikut MTQ. Bagian ini dituturkan sangat clear dan bikin gw pun enak ngikutinnya, dari sembunyi-sembunyi latihan, sampai tujuan Adinda yang ingin jadikan keikutsertaannya untuk membanggakan orang tua. Kepolosan anak-anak di sini disajikan dengan cukup natural, mulai dari seneng-senengnya, sampai sebel-sebelannya. It's all good.

But, my problem with the rest of the movie adalah film ini sebenarnya sangat "untuk kalangan sendiri". Berhubung gw bukan muslim, gw agak kurang paham dengan detail-detail mengenai keistimewaan Adinda, khususnya tentang "nada" dalam mengaji, yang sebenarnya cukup menentukan arah cerita. Karena kurang pengetahuan itu, gw jadi cuma bergantung sama komentar dari tokoh-tokoh lain di sana, which is bikin sensasinya agak berkurang. 

Hal ini juga berlaku dari pemahaman gw tentang keluarganya Adinda ini "sesat"-nya di mana. Yang ini gw bener-bener blank. Kalau dari visual, cara berpakaian dan keseharian mereka yang ditunjukkan nggak berbeda dengan yang ditunjukkan oleh kelompok lain--kecuali ukuran jilbab ibunya Adinda. Sampai akhir film pun gw nggak tahu kenapa ada bapak-bapak ngumpul di rumah Adinda, atau motivasi kakak Adinda harus berjodoh dengan anak kiai besar setempat, karena memang tidak diungkapkan. Mungkin sengaja supaya innocence Adinda tetap terjaga, tapi I don't know if it's wise, karena jujur jadi mengganjal aja buat gw dalam memahami film ini secara menyeluruh.

Nevertheless, menurut gw film ini tetap berhasil bertahan dalam menyampaikan misinya hingga akhir. Walau harus ada tuntutan happy ending, gw suka penggarapan bagian akhir film ini nggak terlalu memberi angin surga, karena dunia memang tidak semudah itu. Terlepas dari beberapa kebingungan gw yang bikin kurang bisa menikmati film ini secara utuh, gw tetap bisa menikmati film ini anyway, minimal dari segi penggarapannya yang rapi, aktingnya yang oke-oke, dan inti ceritanya yang menitikberatkan pada keluarga.




My score: 7/10


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar