Minggu, 24 Mei 2015

[Movie] Tarot (2015)


Tarot
(2015 - Hitmaker Studios)

Directed by Jose Poernomo
Written by Riheam Junianti
Produced by Rocky Soraya
Cast: Shandy Aulia, Boy William, Sara Wijayanto, Aurellie Moeremans, Zaneta Georgina


Wawasan film horor Indonesia gw sangat minim, jadi sebenarnya gw kurang tahu horor yang bagus sama yang enggak tuh gimana. Yang gw tahu kalo seram berarti filmnya berhasil, dan akan lebih baik kalau cerita dan production value-nya juga bagus. Tahun ini gw cukup impressed sama Tuyul Part 1 yang punya modal cerita dan produksi yang oke, tapi kurang berhasil bikin gw ketakutan. Kini hadir Tarot, yang sebenarnya gw agak skeptis karena film horor Jose Poernomo satu-satunya yang gw kenal, oo Nina Bobo itu nggak serem. But well, to be honest, untungnya Tarot nggak begitu.

Tentu saja sebagaimana gw memandang film horor, gw sudah meremehkan Tarot, apalagi track record sutradaranya yang (ke)sering(an) bikin horor dan juga PH-nya, selama ini film-filmnya kurang mengesankan teman-teman gw yang gemar horor. Dari premisnya juga nggak ada yang benar-benar bikin gw tergerak untuk nonton. Well, kecuali untuk melihat bagaimana film ini meng-handle Shandy Aulia jadi orang kembar. In the bright side, gw melihat keseriusan dari penggarapnya di film ini. Production value-nya udah menunjukkan ini bukan film abal-abal, khususnya dari efek (baik yang practical, make-up, dan CGI-nya. No, seriously) yang looked really well-made. Sajian visualnya oke sekali sehingga nggak menimbulkan komplain bahwa ini film murahan seadanya. 

Nah, yang mungkin di luar ekspektasi gw adalah ternyata film ini nggak terlalu lame dalam membangun suasana horornya, sebagaimana pengalaman gw sama filmnya Jose. Nggak umbar penampakan, tapi lebih pada apa yang dilakukan si dedemit terhadap para korbannya. For once setelah beberapa lama, gw merasakan tense dan teror (oke, ini sih mungkin karena gw penakut) dalam film horor Indonesia. Which is a good sign. Artinya, Tarot ini layak ditanggapi serius.

Tapi, ketika ditanggapi serius, gw melihat Tarot melakukan langkah yang menurut gw nggak perlu dalam penceritaannya, khususnya di "babak tambahan"-nya. Terlepas dari kisah yang sebenarnya bukan hal yang baru-baru banget (gw nggak bilang nyontek loh ya, cuma udah banyak film horor yang pakai elemen-elemen di film ini), ketika sajiannya udah oke di 3/4 awal, bagian penutupnya justru terkesan redundant, seolah-olah nggak pe-de bahwa penonton udah ngerti maksud dari ceritanya, musti ditambahin dengan penjelasan demi penjelasan dan juga sebuah syarat tambahan yang, yaelah, ngapain juga ada di situ. Udah tahu bahwa si itu tuh begitu *critanya biar nggak spoiler =p*, nggak usah lagi kali dijelas-jelasin ini itu ini itu, pake syarat untuk memastikan harus ini itu ini itu, pake dijelasin lagi sama lirik lagu soundtrack-nya. Duileeh, segitu nggak yakinnya sama ceritanya sendiri. 

So yeah, gw tetap rela memberi pujian bagi Tarot sebagai salah satu produksi film horor Indonesia yang paling niat, enak dilihat, dan sukses menampilkan "horor" yang lumayan. Tapi, sayangnya dia pada akhirnya kurang bisa mengimbangi sisi itu dari segi cerita, yang sebenarnya udah cukup oke tapi jadi ke-spoiled di akhirannya, simply karena lack of confidence. Nice try, though.




My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar