Rabu, 22 April 2015

[Movie] Tuyul: Part 1 (2015)


Tuyul: Part 1
(2015 - Renee Pictures)

Directed by Billy Christian
Written by Luvie Melati, Billy Christian, Gandhi Fernando
Produced by Gandhi Fernando, Laura Karina
Cast: Dinda Kanyadewi, Gandhi Fernando, Citra Prima, Ingrid Widjanarko, Karina Nadila, Dicky Topan, Dini Vitri


Film bergenre horor bisa dibuat dengan berbagai jenis cerita dan pendekatan. Namun, yang membuat sebuah film disebut "horor" pada prinsipnya adalah menimbulkan sensasi takut sesaat dalam penontonnya. Jika itu sudah dipenuhi, sekalipun dari segi konten ceritanya tidak istimewa, niscaya penontonnya (khususnya penggemar horor) akan tetap "terhibur". Kalaupun memang film tersebut punya muatan cerita yang kuat, tentunya bakal jadi nilai tambah. Untuk kasus film Tuyul: Part 1 garapan sutradara Billy Christian, setidaknya sudah mengarah ke nilai-nilai tersebut, meskipun mungkin tidak bisa disebut sukses besar.

Tuyul: Part 1 mengikuti Mia (Dinda Kanyadewi yang bermain simpatik) dan Daniel (Gandhi Fernando), pasangan muda yang sedang menantikan anak pertamanya lahir, pindah ke wilayah pegunungan demi proyek perkerjaan yang menjanjikan. Mereka pun pindah ke rumah mendiang ibu dari Mia, yang sudah lama tidak dikunjungi Mia sendiri. Sembari merawat kandungannya yang sudah besar, Mia kemudian mencoba menyesuaikan diri di rumah barunya yang indah namun misterius. Mia lebih banyak menghabiskan waktu sendiri di rumah, karena suaminya sibuk pergi bekerja di siang hari dan juga bekerja di loteng rumah di malam hari. Mia menyewa seorang pembantu rumah tangga yang tak kalah misterius, Bi Inah (Ingrid Widjanarko), namun itu pun tidak setiap hari.

Dalam kesendiriannya itu, Mia mengalami banyak hal-hal aneh. Mulai dari mendengar suara-suara, mainan anak kecil yang menggelinding, berpindahnya barang, juga bayangan-bayangan makhluk yang aneh dan mimpi-mimpi buruk. Di sisi lain, warga sekitar melaporkan banyak terjadi uang hilang secara misterius. Mia pun mencurigai semua itu berkaitan dengan tetangganya, Karina (Citra Prima), yang pernah dilihatnya melakukan ritual perdukunan. Namun, yang tidak Mia ketahui, pangkal dari peristiwa-peristiwa yang dialaminya bukan berasal dari luar rumahnya, ataupun di luar dirinya.

Menurut pengakuan para pembuat filmnya kepada media, Tuyul: Part 1 adalah sebuah upaya untuk mengangkat lagi "reputasi" sosok tuyul sebagai salah satu folklor asli Indonesia yang layak diperlakukan serius. Sebab, selama ini penggambaran dan penggunaan sosok tuyul di film-film maupun sinetron Indonesia nyaris tidak pernah menakutkan, bahkan tampak lucu karena tubuhnya seperti bayi. Modus operandi tuyul pun terdegradasi karena dianggap tidak sampai mengancam nyawa manusia, karena "hanya" mencuri uang. Oleh sebab itu, Tuyul: Part 1 ingin kembali melihat sosok tuyul tidak dengan sebelah mata lagi.

Niat tersebut pun terealisasi dengan baik dalam bangunan konsep dan cerita Tuyul: Part 1. Ini sudah bisa dilihat dari desain wujud tuyul yang tidak seperti bayi manusia, melainkan sesosok makhluk pendek kecil yang memang asing. Dari berbagai versi tentang tuyul, film ini kemudian mengambil angle tuyul bisa "dipelihara" untuk kepentingan manusia berdasarkan kesepakatan. Tentunya kesepakatan itu tidak ringan, sebab imbalan untuk makhluk gaib tidak pernah sesederhana pemikiran manusia. Semuanya itu untungnya bisa terjelaskan dengan baik tanpa harus dijelaskan secara terlalu verbal dan bertele-tele, bahkan cukup konsisten diterapkan dalam berbagai adegan.

Konsep tuyul tersebut ternyata bukan satu-satunya unsur yang ditekankan di Tuyul: Part 1. Film ini menggunakan pendekatan lebih melankolis, tentang seorang wanita dalam keadaan rentan—dalam hal ini sering sendirian di rumah dan tengah hamil besar, yang harus menyesuaikan diri di lingkungan baru, sekaligus menyingkap berbagai misteri di sekitarnya. Peralahan-lahan apa yang ada di sekitarnya bukan semakin mendukung, malahan semakin buruk, termasuk sikap suaminya yang jadi semakin uring-uringan.

Dalam film ini porsi kisah dramatis dari Mia bisa dikatakan lebih besar daripada soal tuyul itu sendiri. Ini bukan hal buruk, sebab apapun yang dialami Mia memang dipengaruhi dengan keberadaan si tuyul, sekalipun tuyulnya jarang terlihat—kebalikan dari film-film horor dengan hantu "doyan tampil" yang banyak dibuat di Indonesia. Justru unsur dramatis ini yang memberi nilai tambah dari Tuyul: Part 1. Sekalipun punya cap horor, film ini tidak cuma mau sibuk menakuti, melainkan juga peduli untuk menggali karakternya, serta menunjukkan secara mendetail kegelisahannya. Mungkin lajunya jadi cenderung lambat dan terseret, tapi sebagian besar adegan-adegannya memang tidak mubazir fungsinya.

Namun, di sisi lain, Tuyul: Part 1 justru kurang berani memaksimalkan unsur horornya. Meskipun setiap adegan sudah ditata untuk menimbulkan kengerian—dari gambar, pencahayaan, suara, musik, hingga gerak-gerik pemainnya, pada akhirnya kurang memberikan efek horor yang lunas. Contohnya, setiap kemunculan tuyul seakan sudah spoiled sebelum timbul kengerian, padahal musiknya sudah berkumandang se-"horor" mungkin. Atau juga hilangnya informasi tentang apa yang si tuyul lakukan terhadap sang majikan sampai-sampai sang majikan tak berdaya di bagian klimaks.

Meskipun sesekali sanggup memunculkan ketegangan atau thrill, film ini terkesan masih segan untuk menunjukkan kengerian yang lebih total di saat-saat yang paling diperlukan. Padahal itu yang dicari di film bercap horor. Kalaupun memang ingin menekankan "manusia lebih mengerikan dari makhluk gaib", seperti adegan perajaman Karina, horor itu tetap kurang muncul karena seakan masih malu-malu.

Pada akhirnya, Tuyul: Part 1 berhasil menyampaikan gagasan yang cukup kuat, dilengkapi juga dengan desain suara dan visual yang bagus, bahkan mungkin sangat bagus untuk film horor Indonesia yang kerap dipandang remeh. Pujian khusus harus diberikan pada tata artistik rumah yang tidak berusaha keras terlihat seram, namun tetap berhasil menimbulkan atmosfer seram pada saat diperlukan. Paling tidak, film ini tetap memikirkan cara untuk engage ke penonton lewat cerita dan karakter yang ditata logis. Hanya saja, film ini justru kurang sukses dalam menyajikan "horor" seperti yang diharapkan dari film seperti ini, sehingga membuatnya tidak semenghibur yang seharusnya.




My score: 6,5/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com


2 komentar:

  1. Film ini sudah tayang di bioskop apa belum ya?

    BalasHapus
  2. Hai, filmnya tayang di bioskop sejak 9 April dan tayang selama hampir tiga minggu sebelum akhirnya kegeser. Saya posting reviewnya juga agak telat T-T

    BalasHapus