Sabtu, 25 April 2015

[Movie] Filosofi Kopi (2015)


Filosofi Kopi
(2015 - Visinema Pictures)

Directed by Angga Dwimas Sasongko
Screenplay by Jenny Jusuf
Based on the short story by Dewi "Dee" Lestari
Produced by Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono
Cast: Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer, Otig Pakis, Ronny P. Tjandra, Melissa Karim, Tara Basro, Joko Anwar, Baim Wong, Westny Dj


I think I'm outsmarted by this film. Entah mengapa, meskipun film ini tidak semembekas di hati seperti Cahaya dari Timur: Beta Maluku--film Angga Sasongko dan Chicco Jerikho sebelumnya, gw merasa film Filosofi Kopi ini lebih canggih. Canggihnya di mana? Well, canggih untuk meng-cater semua kepentingan dan keinginan menjadi satu tontonan yang enak dan menyenangkan. Contohnya, film ini memasang kopi Tora Bika di atas judul--kalau di event-event kampus itu artinya dia kasih sponsoran paling gede. Tapi, peran dari merek pemilik jingle asli "Kopi dapet minta"-nya mang Saswi Ini Talkshow ini cuma sebatas pasang produk di warung dan di iklan mobil yang lewat. Kayaknya gak ada adegan yang menunjukkan bahwa mereka minum kopi Tora Bika, karena filmnya sendiri tentang kopi jenis lain, bukan sachetan. Tapi, problem solved: klien dapat placement, tapi nggak ngrusak cerita. Angga might be one of the smartest filmmakers in the country right now.

Kepintaran yang lain adalah memilih Filosofi Kopi sebagai materi sumbernya. Selain karena nama pengarangnya hits banget, perlu diingat Filosofi Kopi adalah sebuah cerita pendek, yang berarti memberi ruang untuk bisa dikembangkan, yang berarti juga kalau ada tambahan-tambahan atau pergeseran dari cerita aslinya nggak akan terlalu menuai protes, toh ceritanya mungkin terlalu pendek untuk dibikin jadi feature film. Untungnya itu pun disertai dengan kemampuan meramu cerita dan menuturkan cerita yang baik. Lewat film ini, gw bisa melihat karakter-karakter utamanya secara utuh, dari sifat, latar belakang, pola pikir, gelagat, semua tersaji di sini dengan baik, tanpa terlalu bikin gw harus effort menebak-nebak, tidak juga terlalu memanjakan dengan deskripsi yang gampangan. Asiknya lagi, karakter-karakter ini dimainkan dengan sangat apik oleh pemerannya, terutama Chicco dan Rio. Sampai ke smallest gestures dan slightest speaking tone bisa mereka tampilkan dengan keren. Pemilihan pemeran pun menurut gw juga cerdas, dua orang ini bolehlah disebut idola (walau belum masif skalanya), tetapi juga memang aktor yang punya kemampuan bertanggung jawab.

Lalu kita sampai pada penuturan ceritanya yang menurut gw diam-diam brilian. Film ini dimulai asik banget, gimana exciting-nya punya usaha sendiri yang cool dan hip sesuai passion bareng sohib, lalu ditabrakkan pada realita bahwa coolness dan "hipsterism" nggak bisa buat bayar utang =p *makan tuh hipster*. Lalu masuklah plot device berupa tantangan berhadiah uang yang mampu mengatasi masalah mereka, yaitu bikin ramuan kopi terenak. Eh ditabrakkan lagi sama kedatangan seorang ahli kopi cuantik (Julie Estelle) yang menganggap kopi andalan mereka es-te-de, sehingga membuat kedua cowok ini penasaran mencari kopi terenak menurut si ahli tersebut. Pada satu titik gw merasa film ini trying too hard ketika menukikkan ritme penceritaan jadi agak melodrama, tapi langsung dibayar lunas ketika terungkap maksud dari ditampilkannya adegan-adegan itu. How do you make a brief trip that change your life? Film ini menunjukkan salah satu caranya, singkat tapi tidak sertamerta, dan dramatic turn seperti itu memang perlu untuk bikin penonton perhatian sama filmnya. Smart move. Dan satu lagi, meski film ini bisa saja melebar ke mana-mana membicarakan banyak topik, misalnya sisi kelam bisnis agraria kita, ia tetap memberi porsi dan posisi yang pas dan bersahaja, nggak sok tahu, sekalipun impact-nya tetap besar buat karakter dan ceritanya.

Ketika gw sempat merasa bahwa belokan dramatis yang diambil film ini agak sedikit too much, mungkin karena terlalu bertubi-tubi, gw sadar bahwa itu diperlukan untuk memperkuat gambaran dan motivasi karakter-karakternya. Seperti memastikan agar penonton tahu bahwa tindakan mereka selanjutnya harus dilakukan. I don't mind, karena itu bikin ceritanya lebih believable. I mean, ini film berangkat dari "pengangungan" kopi--sesuatu yang gw nggak ngerti karena gw nggak suka kopi. Di tangan filmmaker lain, materi yang bukan termasuk kebutuhan primer tersebut bisa saja ini selebay off-the-roof anime-anime kuliner Jepang macam Yoichi si Koki Cilik, atau jadi under-developed dan hambar macam Madre (which funny enough juga berdasarkan cerita pendek Dee). Contoh aja, quote-quote seperti "tergantung tangan yang bikin" dan "dibuat pake cinta" akan sangat terdengar lucu ketika dibicarakan dalam keseharian (karena itu memang mitos yang kita lumayan percaya tapi nggak yakin memang benar begitu, hehe), tapi begitu seamless ketika ditampilkan di film ini. Artinya, cara film ini untuk mengangkat itu semua dengan meyakinkan memang berhasil, paling nggak buat gw. Nggak sok cool, tapi nggak norak juga, formulanya tepat.

Kalo intip-intip media sosial, banyak yang langsung film ini lebih dari tentang kopi. Ada yang bilang tentang persahabatan, keluarga (ada tema father issues yang kental di sini), makna hidup, even cinta tanah air *what?*. Tapi buat gw, statement yang paling keras gw denger adalah "kompromi". Filmnya tentang kompromi yang harus dilakukan 2 sahabat/rekan bisnis untuk bisa maju, kompromi ego seorang (merasa) ahli untuk lihat dunia lebih luas dan dalam lagi, kompromi akan apa yang hip dan apa yang merakyat. Dan, yang paling kentara adalah kompromi para filmmaker untuk bisa membuat film yang mereka inginkan, tapi tetap bisa dapat modal dan bisa disukai penonton. Yang gw maksud disukai penonton merujuk pada unsur-unsur seperti background karakter sedih, percik-percik cinta, komedi, sampe ke "kata-kata quotable" yang tiba-tiba nempel di ujung film pun dalam rangka itu. Hebatnya kompromi itu menghasilkan sesuatu yang solid dan menyenangkan (hampir) semua pihak. Perpaduan yang pas antara apa yang perlu ditampilkan dan apa yang ingin dilihat oleh (sebagian besar) penonton, nggak berat ke salah satu, tapi juga nggak nanggung. I'm really impressed.





My score: 8/10

1 komentar:

  1. Gara-gara buku ini saya rela beli mesin kopi gan, kayaknya enak gitu :D

    BalasHapus