Selasa, 23 Desember 2014

[Movie] Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh (2014)


Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh
(2014 - Soraya Intercine Films)

Directed by Rizal Mantovani
Screenplay by Donny Dhirgantoro
Story by Sunil Soraya, Donny Dhirgantoro
Based on the novel by Dewi "Dee" Lestari
Produced by Sunil Soraya
Cast: Herjunot Ali, Raline Shah, Paula Verhoeven, Fedi Nuril, Arifin Putra, Hamish Daud


Mari mulai review ini dengan pujian gw terhadap film Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh ini...bidang promosinya tapi. Menurut gw, promosi film Supernova yang sudah gencar sejak pengumuman casting satu per satu hingga penyebaran trailer hingga masang flyer di taksi Express selama nyaris satu tahun, adalah model promosi yang sangat proper untuk sebuah film berbiaya besar dan hendak mendapat hasil yang besar pula. Kalo filmnya sih...err...mari kita teruskan saja review ini.

Gw tadinya akan mengungkap sinopsis singkat tentang film ini sebagaimana lazimnya sebuah ulasan film. Tapi gw segera mengurungkan niat karena gw nggak yakin sinopsis yang gw tangkap berdasarkan apa yang gw tonton sama dengan apa yang dimau oleh pembuat film ini. Sebab, terus terang gw nggak mudeng blas apa maunya film ini. Bisa jadi ini memang sumber aslinya begitu atau adaptasinya yang kurang mempresentasikannya dengan baik, gw hanya bisa menangkap bahwa film berjudul canggih ini hanyalah kisah perselingkuhan yang Dunia Sophie-wannabe. Mungkin judulnya lebih tepat jadi "dunia soapy". Oh, ditambah adanya sebuah akun konsultasi di internet yang tidak pernah actually menjawab apa yang ditanyakan tokoh-tokoh ini, which is so weird.

Yang bikin gerah adalah bagaimana kisah ini seolah-olah ingin dibuat lebih "pintar" dan "menantang pikiran" dengan kata-kata sok fancy yang melelahkan sampe-sampe pemainnya sendiri terlihat kurang yakin waktu mengucapkannya. Padahal ya ceritanya balik lagi ke paragraf kedua itu...atau mungkin bukan, entahlah, nggak ngerti gw. Mungkin itulah poin yang bikin gw kurang nyaman dalam mencoba menikmati film ini. Pemainnya aja nggak yakin sama apa yang mereka ucapkan, ya gimana gw yang nonton? Film ini dimulai fine-fine saja, dengan diperkenalkannya tokoh Reuben (Arifin Putra) dan Dimas (Hamish Daud), lalu ketika mereka teler bermeditasi karena sabu badai serotonin, kata-kata yang diujarkan begitu "pintar" sampe-sampe gw udah terserah-deh-apa-mau-loe-atur-aja. Sikap pasrah itu cukup membantu gw bertahan menyaksikan dua seperempat jam film ini sampai akhir karena kira-kira begitulah "gaya bahasa" film ini. Gw mah udah bodo amatlah. Jika "roman bertemu sains" artinya menceritakan ulang novel Harlequin dengan mengganti kata-katanya dengan istilah-istilah yang berakhiran -si, -if, -itas, dan -isasi, terserah.

Tapi, inilah akibat dari gw yang udah pasrah sama betapa "canggih"-nya ujaran-ujaran dalam film ini. Capek-capek disusunin kata-kata "tinggi" dan "filosofis" *yang mostly konteksnya juga nggak jelas*, tapi karena gwnya nggak nyampe sama yang begituan, akhirnya yang tersisa dalam ingatan gw adalah betapa cheesy-nya film ini. Udahlah filmnya (yang gw tangkep cuma) soal perselingkuhan semata dengan pelbagai pergombalannya, eh ditambahin metode "berbicara dalam hati" yang unbelievably dibuat seperti sinetron dalam sebuah film sebesar ini. I mean, come on, gw tahu para pembuat filmnya pasti sadar cara ini akan sangat stupid jika tidak dikreasikan dengan cara lain. Tapi, toh mereka tetap memilih jalan ini, nggak berusaha bikin lebih edgy lagi. 

Mungkin demi jualan. Kalau filmnya terlalu aneh (misalnya setiap tokoh sejak awal memang sudah ditunjukkan punya suara dalam hati), bisa jadi filmnya nggak akan semenjual sekarang. Tapi ya.....tetep aja....they're so lame, man. Mau berdalih dengan cara apapun, they just don't work even a slightest bit. Padahal, in contrast, film ini sudah diselipi banyak adegan yang to-show-not-to-tell yang dibuat dengan gestur dan ekspresi tanpa perlu diisi dialog, yang hasilnya cukup baik (mungkin mengingat Rizal Mantovani dulu sutradara video musik). Sayang, gaya penuturan film ini jadi kayak berkepribadian ganda.

Jadi apa yang tersisa dari Supernova? Well, mungkin hanya keberanian. Keberanian mengangkat novel yang dikenal kompleks (mungkin karena kebanyakan istilah ajaibnya) ke dalam sebuah presentasi yang ditujukan jadi ngepop. Seperti yang bisa diintip dalam trailer-nya, visualnya oke sekali, dan cukup royal dalam menampilkan efek visual dan berbagai polesan yang makan duit. Enaklah dilihat, dibantu editing oke juga. Dari studio yang bikin 5 cm. dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck gitulooh. Cuma, yah, gitu deh, mungkin materi ceritanya kurang pas untuk dipresentasikan dengan cara seperti itu. Mungkin kalau susunan kata-katanya lebih pro-rakyat, film ini akan punya efek lebih, tapi ya kalau begitu filmnya bakal jadi kurang "keren" malah jadinya dangdut aje kali ye *iye deh*. Tata gambar bagus dan pemain cakep-cakep mondar-mandir mengujarkan kata-kata aneh (dan tanpa terdengar meyakinkan) bukanlah solusi untuk membuat film ini jadi engaging alih-alih mind-blowing bagi gw sebagai penonton. Cuma buat goyang-goyang dikit doang. Atau di film ini istilahnya "turbulensi". Terserah.

Tapi ya, kalau perbandingannya sesama film sederhana tapi diisi kata-kata "aneh" sok rumit, this film is still better than its indie counterpart, cin(T)a =p.




My score: 6/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar