Senin, 27 Oktober 2014

[Movie] 3 Nafas Likas (2014)


3 Nafas Likas
(2014 - Oreima Films)

Directed by Rako Prijanto
Screenplay by Titien Wattimena
Based on the book "Perempuan Tegar dari Sibolangit" by Hilda Unu-Senduk
Produced by Rako Prijanto, Reza Hidayat, Riahna Jamin Gintings
Cast: Atiqah Hasiholan, Vino G. Bastian, Tutie Kirana, Marissa Anita, Arswendi Nasution, Jajang C. Noer, Ernest Samudera, Tissa Biani Azzahra, Mario Irwinsyah, Olga Lydia, Anneke Jody, Rina Hasyim


Kalau gw ditanya film seperti apa yang pasti menarik gw nonton ke bioskop, khususnya film Indonesia, ya yang seperti 3 Nafas Likas ini. Dari promonya udah kelihatan bahwa film ini nggak dipersiapkan sekadarnya, harus terlebih dahulu merancang set dan kostum yang sesuai zaman dan tempat dan ditampilkan lewat sinematografi yang cantek. Pokoknya kelihatanlah effort-nya untuk "bikin film", dan sangat pantas disaksikan di layar besar. Soal isi filmnya bagus atau nggak itu soal lain, setidaknya dari kemasannya udah memenangkan perhatian gw. Film ini sebenarnya sangat personal, riwayat seseorang. Cuma kebetulan seseorang itu lumayan punya reputasi publiklah. Film ini soal Likas Tarigan, yang dikenal sebagai istri dari Djamin Gintings, salah satu tokoh pejuang dan pejabat militer terkenal dari Sumatra Utara. Kalau dari permukaan, film ini kayak another Habibie & Ainun, tapi kenyataannya film ini lebih menitikberatkan perjalanan hidup ibu Likas, dari anak desa tomboy di tanah Karo, sampai bisa jadi nyonya dubes Indonesia untuk Kanada, dan kemudian salah satu pengusaha perkebunan di Sumatra Utara.

Nah, sebenarnya film ini PR-nya lumayan krusial. PR pertama, film ini harus memperkenalkan siapa itu Likas Tarigan, karena obviously tidak semua orang tahu beliau siapa dan seperti apa. PR kedua, menarik benang merah dari keseluruhan kisah hidupnya yang melewati zaman Belanda, zaman Jepang, zaman kemerdekaan, zaman orde lama, zaman orde baru dan seterusnya. Itu banyak banget loh. PR pertama sudah dikerjakan dengan cukup baik. PR kedua itu yang jadi problem.

Kalau dari judulnya (dan niatnya), film ini hendak mengaitkan perjalanan hidup Likas (Atiqah Hasiholan) dengan tiga orang penting dalam hidupnya, yaitu ibunya (Jajang C. Noer) yang superdrama =D, abangnya Njoreh (Ernest Samudra) yang mendorongnya untuk meraih cita-cita, dan suaminya, Djamin Gintings (Vino G. Bastian). Tetapi, jujur aja, gw sih nggak nangkep apa poin jelas sejelas-jelasnya dari mengaitkan hidup Likas dengan ketiga orang ini, selain bahwa mereka sama-sama *^@&%#$*@ ketika Likas &&^*&%!$@%^ *antispoiler =p*. Jadinya, gw pun tidak bisa menangkap apa poin/statement utama yang ingin dibicarakan film ini. Hal yang sama terjadi dengan film Sang Kiai yang juga disutradarai Rako Prijanto.

Gw tadinya menganggap bahwa inti film ini adalah bagaimana Likas yang punya pemikiran modern memilih menahan diri selama bertahun-tahun demi mendukung karier suaminya, namun tidak benar-benar menghapus cita-citanya, yaitu untuk hidup mandiri dan berkontribusi lebih sekalipun ia seorang perempuan. Pilihan itu not necessarily kemunduran, toh ia sendiri yang memilih, dan tahu betul apa risikonya. Good things would still come around eventually. Mungkin itu maksudnya film ini, tetapi ya itu tadi, gw nggak yakin itu benar karena film ini tidak memperjelasnya.

That being said, gw lebih suka menikmati film ini sebagai mozaik memori kehidupan Likas. Karena jujur aja nih, nggak ada kaitan yang kuat antara satu momen ke momen lainnya sehingga bisa disimpulkan sebagai satu cerita utuh. Yang gw lihat adalah perjalanan hidup seseorang yang penuh pasang surut suka duka, bagaikan mendengarkan seorang nenek bercerita tentang masa mudanya...which is exactly how this film is told, literally, hehe. Dan itu bukan sesuatu yang jelek, gw sih enjoy aja.

Cuman kadang dalam beberapa titik gw merasakan kejanggalan karena kekurangan informasi tentang apa yang terjadi. Contoh saat Djamin dipenjara, kenapa untuk apa Likas harus ke kota dan menemui dokter yang istrinya bule? Dan juga mereka itu siapa? Adegan yang mengikutinya sih emang sangat menarik, tetapi motivasinya gw nggak nangkep, wong nggak ada petunjuk yang menjelaskan. Ada pula adegan klise tentang Likas nelepon Djamin yang lagi tembak-tembakan bahwa Indonesia telah merdeka, dan tiba-tiba tembak-tembakannya berhenti begitu saja. Itu ceritanya latihan atau apa? Yang begitu-begitu nggak cuma sekali dua kali, jadi kadang-kadang gw agak lost sama apa maksud dari adegan-adegan itu.

Tetapi, lagi-lagi, sebagai penyuka desain produksi apik, visual film ini sedikitnya menolong film ini dari kebingungan gw tadi. Kisah perjalanan hidup yang dialami ibu Likas pun memang menarik kok. Namun, yang jadi juara film ini jelas adalah penampilan Atiqah yang bisa benar-benar menyatu dengan karakternya, baik dari cara tutur dan gestur yang nyaris sempurna. 

Dan sekalipun gw tidak mampu "membulatkan" satu garis besar kisah film ini, setidaknya gw mendapatkan beberapa poin "sekunder"-nya menarik. Yang terkuat adalah "romantisme" Likas dan Djamin yang tidak romantis sama sekali--which is probably related to culture. Entah kenapa adegan adu teriakan di rumah, tindakan-tindakan nyelenah Djamin demi merebut hati Likas, juga rangkaian adegan setelah Djamin keluar dari penjara di masa Agresi Belanda itu menggelitik sekali, sekaligus sweet juga. Habis berpisah secara tiba-tiba pas ketemu bukannya mesra-mesraan malah ngusir XD.




My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar