Rabu, 12 Februari 2014

[Movie] 12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya (2014)


12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya
(2014 - Big Pictures/Cinevisi)

Directed by Hanny R. Saputra
Written by Oka Aurora
Produced by Cindy Sutedja, Regina Septapi
Cast: Titi Rajo Bintang, Amanda Sutanto, Hudri, Arum Sekarwangi, Verdi Solaiman, Didi Petet, Niniek L. Karim, Nobuyuki Suzuki, Olga Lydia, Egi Fedly


12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya dipromosikan sebagai film pertama di Indonesia yang men-depict dunia marching band. Gw sendiri sih cukup familiar dengan yang namanya marching band, walau dulu paling banter gw liatnya di TV atau di acara-acara kemiliteran. Tapi ada satu momen pertunjukan marching band yang kala menontonnya bikin gw mikir "wah bisa kayak gitu ya?", yaitu demonstrasi Marching Band Madah Bahana Universitas Indonesia waktu tahun 2004, yang cukup mengubah paradigma gw soal marching band. Bahwa ini bukan cuma band yang nge-march (baris-berbaris), tapi juga sebuah show. Marching band tersebut bahkan ada bagian para pemainnya nari saman. Tari saman, men!

Anyway, dengan sedikit pengetahuan itu, saat film 12 Menit memperlihatkan aneka formasi dan atraksi-atraksi yang mungkin banyak yang nggak nyangka bisa dilakukan di marching band, atau bahkan sampe memainkan lagu-lagu Dewa 19, gw nggak merasa ada yang aneh, ya karena memang begitu adanya. Film ini sendiri terinspirasi dari Marching Band Bontang Pupuk Kaltim (MB Bontang PKT) yang berasal dari...well, you've guessed it, Bontang, Kalimantan Timur. Mungkin sebagian dari kita hanya mengenal Bontang sebagai kota tambang atau semacamnya, sebagaian lagi mungkin nggak pernah denger atau nggak tahu kalo Bontang itu udah jadi kota. Siapa yang sangka, kota ini ternyata menghasilkan sebuah marching band yang jadi juara nasional 10 kali! Kota loe udah bikin apa? *kompor*.

That being said, film 12 Menit jadi film dengan insight tentang marching band (terutama latihannya yang keras) sekaligus mengisahkan perjalanan putra-putri suatu daerah yang jauh dari ibukota negara menjadi juara. Mungkin premis itu terdengar biasa banget, yah tentang zero to hero. Tetapi sebenarnya premis itu agak mengecoh. Film ini bukan zero to hero, para tokoh yang ditampilkan bukannya dari nggak bisa lalu jadi langsung bisa dan juara. Itu cuma ada di AFI dan Indonesian Idol. Dan, meskipun katanya terinspirasi pengalaman nyata dalam marching band Bontang, film ini bahkan nggak pernah menyinggung bahwa mereka telah sering juara. Yang lebih ditekankan di sini adalah soal motivasi, how willing are you to let yourself pursue your own dream. Berhubung dalam satu marching band ada 130 orang anggota, belum termasuk tim pelatihnya, pastinya kedisiplinan benar-benar harus ditegakkan demi kesatuan tim. Kalau nggak termotivasi dengan baik dan benar, menjalani kedisiplinan seperti itu ya malah jadi emosi jiwa. Apalagi kalau pelatihnya segalak tokoh Rene (Titi Rajo Bintang).

Well, tentu saja film ini nggak akan membahas satu per satu orang yang terlibat di marching band ini *yakali*. 12 Menit berfokus pada tiga anak remaja di Bontang berbeda latar belakang yang tergabung di MB Bontang PKT: ada Elaine (Amanda Sutanto), anak Jakarta yang pindah ke Bontang karena bapaknya yang orang Jepang (Nobuyuki Suzuki) pindah tugas ke sana; Tara (Arum Sekarwangi) yang merasa terbuang sejak ayahnya meninggal dan ibunya sekolah di luar negeri; serta Lahang (Hudri) yang sering keteteran latihan marching band karena kesehatan sang ayah (Egi Fedly) yang mengkhawatirkan. A little hint, ketiga orang ini tidak tiba-tiba gabung di marching band tanpa modal apa-apa, karena Lahang memang sudah anggota, Elaine pernah jadi field commander di sekolahnya di Jakarta, dan Tara pernah ikut drum band waktu SD dan SMP *menurut piagam yang dipajang di kamarnya*. Bisa dibilang pengisahan filmnya interwoven, karena ketiga anak ini tidak pernah benar-benar berinteraksi satu dengan yang lain, dan hanya Rene sang pelatih yang terlibat langsung dengan ketiga tokoh ini.

Mbak Titi-nya galak euy...

What really works for me adalah setiap tokoh utama ini memiliki dilema yang hampir pasti pernah dirasakan oleh siapa pun kita. Meskipun memang sengaja "dipilih" dilema yang paling dramatis, tetapi dramatisnya menurut gw cukup masuk akal. Elaine adalah contoh anak yang mendapat tekanan dari orang tua, dituntut tetap cemerlang di sekolah sekalipun kegiatan yang "hanya" ekstrakurikuler juga menguras tenaga dan waktu. Tara mewakili anak remaja yang terlalu dikuasai kemarahan sehingga nggak termotivasi untuk apa pun, termasuk mengembangkan bakatnya, mau ngapain juga berasa terpaksa. Lalu Lahang, well, berapa banyak dari kita jadi sering lalai terhadap komitmen karena masalah keluarga? Lalu ada Rene, yang tujuannya membuat MB Bontang PKT ini juara di kejuaraan nasional Grand Prix Marching Band di Jakarta, latihan 3 bulan untuk sebuah performance yang hanya 12 menit, tapi ya pasti ada aja masalahnya, termasuk masalah tiga anak didiknya tadi yang nggak bisa bikin semuanya lancar. See? Nggak mengada-ada.

Sedangkan dari kemasannya, tentu saja dramatisasi menyayat hati bisa diharapkan dari seorang sutradara Hanny R. Saputra. Tapi cukup berbeda dengan reaksi gw terhadap film-film mas Hanny sebelumnya, dramatisasi di 12 Menit tidak membuat eneg, malah pas sekali, nggak berlebihan, khususnya pas bagian introduction setiap tokoh di awal. Tokohnya lumayan banyak tapi set-up-nya solid sekali. Ada juga satu adegan yang bikin mata gw berkaca-kaca, yaitu melihat omanya Tara (Niniek L. Karim) datang "berdebat" dengan Tara, wow that's some major-league acting showcase by one of our legendary actresses. Adegan yang effortless, emosi yang raw, tapi punya nilai drama yang luar biasa. Unfortunately, beberapa adegan sesudah itu kembali lagi ke formula dramatisasi "film banget". Sebenarnya semuanya masih bisa diterima, gw bahkan masih fine-fine aja pada dialog-dialog motivasi yang terdengar seperti hafalan teks motivasi, toh memang tujuan filmnya itu. Tapi ada satu adegan mendekati ujung yang bikin gw bereaksi "oh, God, kenapa harus gitu banget?" yang nyaris menghancurkan kenikmatan gw menonton. Untung gw orangnya cepat lupa dan segera move on ke adegan selanjutnya =p.

Lalu kita sampai pada presentasi adegan performance marching band-nya. Gw yang pernah menyaksikan pertunjukan marching band sejenis ini tentu berharap lewat editing, tata suara, dan sinematografinya (Yadi Sugandi gitu loh), di film ini bisa membuat gw kagum sebagaimana nonton langsung. Ini memang terjadi pada adegan di tengah-tengah, tetapi sayangnya tidak terjadi pada adegan puncaknya di GPMB. Kalau menurut mata gw yang awam ini, gambar di adegan itu kayak kurang lampu, angle kameranya justru lebih terbatas dari pada adegan performance sebelumnya, dan editing-nya kurang dapat menampilkan "kerennya" marching band skala nasional itu dengan maksimal. Pun durasi performance-nya nggak full 12 menit, hehe. Sayang sih. Tapi kalau mau diplomatis dikit, it's a good start.

Di luar semua itu, 12 Menit adalah salah satu film Indonesia paling well-crafted di awal tahun 2014 ini, if not the most well-crafted. Susunan ceritanya disusun oke, adegan-adegannya ditata rapi dan teliti, tata suaranya mantap, akting-nya pun terpuji...yah sedikit kekakuan para pemain debutannya bisa dimaafkanlah. Certainly not perfect, termasuk di antaranya penampilan para pejabat kota Bontang yang menurut gw terlalu banyak untuk ukuran cameo =p, tetapi bagi orang-orang yang "senewen" mencari-cari "film Indonesia berkualitas" dan "punya nilai-nilai inspiratif" tapi masih enak ditonton dan emosional, nah 12 Menit inilah jawabannya. Btw, tokoh Rene dalam film ini ternyata terinspirasi dari Rene Conway, pelatih utama MB Bontang PKT sejak 20 tahun lalu sampai sekarang, yang adalah orang bule dari Texas, Amerika...dan seorang cowok. Saat tokoh Rene sampai di GPMB dan langsung memberi salam khusus kepada bapak-bapak bule geda yang jadi jurinya, nah itu dia orangnya =).




My score: 7,5/10

2 komentar: