Sabtu, 19 April 2014

[Movie] The Raid 2: Berandal (2014)


The Raid 2: Berandal
(2014 - Merantau Films/XYZ Films)

Written & Directed by Gareth Huw Evans
Produced by Ario Sagantoro, Nate Bolotin, Aram Tertzakian
Cast: Iko Uwais, Arifin Putra, Oka Antara, Tio Pakusadewo, Alex Abbad, Cok Simbara, Yayan Ruhian, Julie Estelle, Cecep Arief Rahman, Very Tri Yulisman, Ken'ichi Endo, Ryhuei Matsuda, Kazuki Kitamura, Roy Marten


Gw bukan termasuk pemuja film The Raid pertama. Keren sih, tapi masih ada hal-hal yang bikin gw merasa "nggak segitunya" sama film itu. Artikulasi aktornya, for instance, nggak enak banget buat kita yang kupingnya native Indonesia, juga susunan kalimat dalam naskahnya yang nggak wajar banget sama kita. Tapi, who cares juga sih, yang penting filmnya seru (banget) dengan bergabagi adegan fighting dan segala hal lainnya itu, nggak pake mikir, plotnya setipis Carefree ampe nggak berasa ada =p, dan banyak gimmick-gimmick yang masih bisa diingat sampai sekarang. Dari "kurang greget" sampai "tipu-tipu" sampai makan mi goreng sebelum nyiksa orang. The Raid itu ultimate film hiburan, jadi tuntutan harus realistis sangat perlu dikesampingkan. Lagian di dunia nyata mana ada orang baca koran Sindo? *eh*. The Raid 2: Berandal memang adalah sekuel The Raid, tetapi arahnya jauh berbada. And it should be. Ngapain bikin sekuel ceritanya ngulang, mending yang pertama ditonton ulang. 

Di film kedua ini, lingkupnya nggak lagi personal. Rama (Iko Uwais) yang tadinya cuma jadi salah satu anggota densus yang menemui maut di sarang penjual narkoba (film pertama), kini diperintahkan untuk menyusup ke jaringan mafia yang lebih besar. Ia diberi nama samaran Yudha, ditugaskan untuk mendekati Uco (Arifin Putra) *cieee mendekati =P*, anak dari Bangun (Tio Pakusadewo), seorang mafia penguasa Jakarta. Selain jadi mata-mata, misi utama Rama adalah membongkar kongkalikong petinggi kepolisian dengan para mafia. Plotnya bisa saja sesimpel itu, tetapi bahkan di dunia rekaan seperti ini, segala sesuatu bisa jadi rumit. Daerah kekuasaan mafia di Jakarta yang dibagi antara Bangun dan mafia Jepang (haha, 'mafia Jepang di Jakarta', bisa aja si Gareth =p) harus diganggu oleh pendatang baru, Bejo (Alex Abbad), yang pengen mencoba peruntungan bikin komplotan kompetitor, bahkan gantiin yang lama. It's this and that dan segala macam adegan kelahi dan tembak-tembakan dan bunuh-bunuhan dan bonus kebut-kebutan yang tentu saja jadi tujuan utama semua orang nonton film ini.

Soal seru, gahar, violent dan sejenisnya, Berandal ini juaranya, bahkan buat gw sedikit di atas pendahulunya yang lebih raw. Gw melihat Gareth bisa dengan lebih bebas mencoba berbagai macam style, nggak cuma dari gaya berantemnya, tetapi juga dari segala aspek teknisnya. Entah itu dari sinematografi, desain produksi (yang sampe niat banget bikin logo kepolisian versi fiktif mirip lambang negara Vietnam), sound, hingga musiknya. Bener-bener memuaskan banget segi teknis film ini. Ditambah lagi, Gareth dkk mulai ngotak-ngatik ceritanya, dengan karakterisasi yang lebih banyak dan sebab akibat yang lebih rumit dari pendahulunya. Jelas sebab akibatnya itu dibuat semata-mata supaya mengakomodir adegan-adegan action-nya, supaya nggak tiba-tiba ada orang mukul orang dan sebagainya, tetapi gw bisa terima semuanya itu tanpa komplain berlebihan.

Gw sih termasuk bisa menikmati film dengan plot minim tapi supermenghibur seperti The Raid pertama, tetapi gw juga sangat nggak keberatan dengan film supermenghibur yang punya cerita lebih tebal, seperti Berandal ini. Enaknya, di film ini konfliknya memang lebih rumit, tetapi rumit-rumit kartun gitu loh. Cerita dan karakternya itu cenderung komikal, tapi justru itu membuatnya mudah diingat dan diikutin dan nggak ngeberat-beratin kenikmatan keseluruhan kemasannya. Atau untuk orang-orang "kritis" dan "pinter banget" itu disebut sebagai "nggak masuk akal". Atau untuk orang-orang "cari hiburan" itu disebut "lama-banget-deh-mana-nih-action-nya-tanda-tanya-tanda-seru". Yah manusia memang tidak diciptakan seragam.

Whatever. Gw mah suka sama filmnya. Berkat segala keseruan dan keterampilan teknis-nya, gw nggak peduli juga durasinya nyaris 2,5 jam. Berkat skenario yang lebih ada isinya, dengan segala set-up dan karakterisasi yang oke, juga penerjemahan kalimat ke dalam bahasa Indonesia yang lebih logis, gw nggak terganggu harus nunggu beberapa menit jeda antara adegan action yang satu dengan yang lain. Berkat style-nya yang asyik dan enak dilihat, gw nggak masalah dengan salju di deket parkiran gerobak kaki lima, atau para anggota polisi yang nggak pake seragam padahal ada di kantor, atau rute jalan raya Jakarta yang dalam lokasi sebenarnya nggak nyambung. Suka-suka yang bikin itu mah, namanya juga berandalan. Selama gw masih bisa ah-ih-ugh dengan ikhlas, artinya film ini berhasil. Itu sudah.




My score: 8/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar