Sabtu, 25 Januari 2014

[Movie] Kau dan Aku Cinta Indonesia (2014)


Kau dan Aku Cinta Indonesia
(2014 - Qasthalani Citra Film)

Directed by Dirmawan Hatta
Written by Husein M. Atmojo, Rusjdy S. Arifin
Produced by Mohammad Adning, Risdi A. Sulaeman
Cast: Zulfa Maharani Putri, Elang El Gibran, M. Syihab Imam, Monica Setiawan, Amel Carla, Rizqullah Maulana Daffa, Iqbal Zuhda Irsyad, Jay Wijayanto, Dian Ekowati Utomo, Titi Dibyo, Pong Hardjatmo, Denada Tambunan, Aldo Aressa, Adinda Rana Fauziah.


Gw nggak tertarik nonton film ini karena "film keluarga inspiratif", tetapi lebih karena penasaran sama sutradaranya, Dirmawan Hatta. Nama ini mungkin belum banyak dikenal, karena sebelum ini baru membuat dua film panjang, satunya belum tayang di bioskop, satunya lagi tayang di bioskop...lima hari. Tapi kalau melihat kedua karya sebelumnya, pasti bisa mengerti kenapa karya mas Dirmawan belum terekspos ke publik. Gw pernah menonton Optatissimus tahun lalu, yang mengisahkan perjalanan spiritual yang alurnya tidak runut. Gw juga sempat ngintip sebagian film panjang perdananya, Toilet Blues di JIFFest kemarin yang juga tentang perjalanan spiritual penuh simbol dan pertanyaan. Intinya, film-filmnya emang meant to be nggak laku, heuheuheu *jahat*.

Anyway, manuver yang diambil mas Dirmawan untuk film ketiganya cukup menarik, karena Kau dan Aku Cinta Indonesia adalah film dengan target keluarga, khususnya remaja. Logika sederhananya, mas Dirmawan nggak bisa memperlakukan film ini seperti Optatissimus dan Toilet Blues kalau memang mau mencapai target penontonnya. Harus diubah sedikit gayanya. And it did...well, not really. Kita bisa melihat film ini berjalan runut dari awal sampai akhir, kejadian-kejadiannya pun bisa dibilang sehari-hari banget dan maknanya lugas. Tapi gw masih menemukan adegan-adegan yang tak begitu saja mudah dipahami, baik dari dialog ataupun penataannya. Plus beberapa pemindahan antar satu adegan ke adegan lain yang kadang kayak lompat aja gitu tiba-tiba sudah terjadi. Misalnya waktu muncul dialog "aku nggak tahu salah aku apa sama kamu, tapi aku minta maaf", batin gw juga berkata "gw juga nggak tahu salah loe apa, emangnya sejak kapan dia marah sama loe?" =D, kayak gitu lah. Filmnya sih film keluarga, tapi mbingungin sih teteup =p.

Mungkin permasalahan ada pada jumlah karakter yang banyak serta konflik yang dihadapi masing-masing, ditambah permasalahan antar-mereka. Awalnya kita dikenalkan pada Cahaya (Zulfa Maharani Putri), anak Jakarta yang orang tuanya sudah cerai dan hobi menyanyinya dihalangi oleh sang mama (Dian Ekowati Utomo) yang akan tugas di Vietnam sehingga Cahaya dititipkan di Boyolali bersama eyangnya (Titi Dibyo). Yes, itu baru satu tokoh. Lalu Cahaya berkenalan dengan teman-teman satu SMP-nya, Andi (Elang El Gibran) yang ditaksir Cahaya, dan Ian (M. Syihab Imam) yang naksir Cahaya. Gw urung menuliskan latar belakang kedua tokoh cowok ini karena bakal nghabisin halaman. Eh, ternyata ada lagi yang naksir Cahaya, Ichsan (Iqbal Zuhda Irsyad) padahal lagi pacaran sama cewek paling "populer" di sekolah, Tiwi (Monica Setiawan) yang, as usual, merasa kedatangan Cahaya yang anak Jakarta mengancam ke"populer"annya. Orang Jakarta emang selalu bawa masalah ya *eh*.

Konflik seakan-akan tumplek ditumpuk jadi satu, tapi tindak lanjutnya kurang di-emphasize. Terus dibebani lagi dengan tema pelestarian budaya bangsa vs prioritas pada nilai akademis yang (harusnya) jadi unsur benang merah pemersatu setiap tokoh di film ini. Mengingat kisah film ini terinspirasi dari serial ACI - Aku Cinta Indonesia di TVRI tahun 1980-an, gw jadinya berpikir materi film ini lebih cocok jadi serial di TV juga, atau minimal miniseri. Lagian banyak banget sih konfliknya.

Tetapi on the positive light, film ini cukup berhasil dalam menghibur gw. Konflik-konflik yang dihadapi memang menumpuk, tetapi tidak terasa diada-adain. Konflik yang dituangkan sebenarnya sangat dekat dengan keseharian, entah itu orang tua yang menuntut anaknya belajar buat ujian mengesampingkan hobi/kesenangan, sekolah yang tidak mengindahkan pendidikan seni dan budaya, cinta-cinta monyet yang udah sok gede, rebutan cewek, rebutan cowok, things like that. Mungkin dialog dengan kata-kata yang sedikit terlalu dewasa membuat konflik-konflik itu tidak kelihatan realistis--apalagi hubungan Bagas (Rizqullah Maulana Daffa) dan Nanda (Amel Carla) yang ya-ampun-Tuhan-anak-anak-pitik-begini-amat-pikirannya, tapi justru itu yang bikin menghibur, jatuhnya lucu, at least buat gw ya. Gw nggak tau apakah itu emang sengaja dibikin demikian, tapi gw jadi sering banget ketawa sepanjang film melihat cinta-cintaan anak SMP dengan kata-kata nyaris mirip sinetron (tapi sedikit make-sense karena setting-nya bukan di Jakarta) seakan mereka ngerti apa yang mereka katakan, sering banget gw melontarkan "ciee ciee" terhadap tingkah polah para tokohnya di layar, haha. Ciee.

Well, setidaknya itu bisa sedikit menambal atas beberapa kekurangan dari segi penyampaian cerita yang menurut gw kurang seimbang dan overloaded itu. Saking overloaded-nya sampe-sampe plot device yang berupa lomba paduan suara jadi kayak nggak penting gitu deh. Sayang potensinya kurang dikembangkan dengan lebih fokus dan lebih rapih. Gw nggak enjoy keseluruhannya, tapi masih terhibur dengan beberapa momen di dalamnya. Lumayan lah. 




My score: 6/10

2 komentar:

  1. betull saya juga tertari dengan si sutradara,,, tapi ternyata bagus juga kok

    BalasHapus