Senin, 09 Desember 2013

[Movie] Sagarmatha (2013)


Sagarmatha
(2013 - Sinema Kelana)

Directed by Emil Heradi
Written by Damas Cendekia
Produced by Abdul Manaf
Cast: Nadine Chandrawinata, Ranggani Puspandya


Diakui oleh para pembuat filmnya sendiri, Sagarmatha adalah film dengan "semangat indie". Whatever that suppose to mean, setidaknya hal itu cukup bisa membuat gw untuk tidak mengharapkan yang enggak-enggak terhadap film yang syuting on location di India dan Nepal, termasuk di Pegunungan Himalaya ini. "Semangat indie" ini sebenarnya bisa dilihat dari cara pengambilan gambarnya yang kelihatan sekali menggunakan kamera DSLR dan adegan-adegan di tempat umum seakan candid, dan pemain utamanya cuma 2 orang. Bener-bener cuma 2 orang. Ternyata film ini katanya sudah kelar syuting sejak 2010, tapi karena kurang duit jadinya baru bisa diselesaikan tahun ini. Ya, artinya film ini sebenarnya adalah 5 cm. dan Laura & Marsha before it was cool.

"Sagarmatha" adalah sebutan orang Nepal untuk gunung tertinggi di dunia yang letaknya ada di negara itu, Gunung Everest. Gunung itu juga jadi puncak impian dua orang sahabat, Shila (Nadine Chandrawinata) dan Kirana (Ranggani Puspandya). Keduanya adalah sahabat ikrib banget sejak kuliah. Ketika udah gedean mereka ternyata masih suka jalan bareng, sampai akhirnya tiba di Kolkata, India. Kirana pun teringat akan mimpi mereka dulu pengen ke Everest, mumpung lokasinya bisa ditempuh dari tempat mereka berada dalam waktu yang nggak lama. Kirana ajak Shila ke Himalaya saat itu juga, Shila tadinya segan tetapi akhirnya nurut juga. 

Perjalanan mereka nggak terlalu lancar, karena bujet terbatas dan caranya agak-agak backpacker's style gitu. Tapi emang sengaja nggak mau langsung sampe, supaya bisa "meresapi" negeri Nepal yang baru pertama kali mereka singgahi itu. Tetapi, lama kelamaan entah kenapa kebersamaan mereka semakin renggang, seperti saling menyimpan rahasia. Kirana seakan maksa banget supaya bisa naik dengan perlengkapan dan biaya seadanya, Shila juga tampak tak semangat semenjak menyimpan sesuatu yang tampak seperti sebuah kotak cincin. Semakin sampai ke puncak impian mereka berdua, semakin mereka merasa nggak sehati lagi.

Secara plot, gw lumayan bisa terima dengan baik. Nggak ada yang serba over-dramatis, semuanya terlihat alami dan plausible, hal-hal yang bikin gw lebih suka Sagarmatha daripada Laura & Marsha, hehe. Mereka benar-benar terlihat seperti sahabat yang saling kenal luar dalam, walaupun belakangan mereka semakin sulit untuk "membaca" satu dengan yang lain. Karakternya nggak ada yang bikin kesel,  pun arah perjalanan Shila dan Kirana cukup enak diikuti. Nah, tricky-nya, meskipun ini film "jalan-jalan", bukan berarti ini jadi film serba cerah ceria. Somehow entah sengaja atau enggak, baik gambar maupun suasana di film ini seperti sendu dan suram sekali. Ketika mendengar India atau Nepal, gw tuh ngebayang warna-warni. Nyatanya, di film ini semua jadi kelihatan sendu, nggak terkecuali di Himalaya-nya, dan suasana itu didukung sama musiknya yang nggak kalah sayu. Mungkinkah kesenduan itu bisa dijelaskan oleh bagian ending-nya alias akhir dari perjalanan Shila dan Kirana? Maybe. Gw pribadi jadi batal memberi ponten lebih rendah akibat ending-nya yang lumayan memancing perenungan, tetapi rasa jenuh dan lelah akibat kesenduan sepanjang filmnya itu masih lumayan membekas juga *halah*.

So, Sagarmatha adalah sebuah film yang lumayan oke, cuma gw nggak berani bilang bakal jadi favorit. Beberapa hal bisa dipuji dari film ini, mulai dari plot, cara pengambilan gambar (bukan presentasi gambar di layar bioskop ya, yang gw bilang sendu itu), hingga aktingnya, terutama dari Ranggani Puspandya yang menurut gw lebih menonjol daripada Nadine. Perlu dipuji juga kalau mengingat klaim para pembuatnya bahwa film ini adalah passion project dari orang-orang yang katanya baru mau masuk industri film (pada waktu itu ya, sekarang sih sebagian udah ada yang masuk), terus nekad jalan ke Himalaya dan bikin film, eh bisa tayang di bioskop. Pastinya beda jauh sama gw jalan-jalan yang hasilnya cuma foto-foto buat cover photo di Facebook. Tapi ada satu hal yang benar-benar mengusik gw dari film ini: kenapa road movie Indonesia harus ada ganjanya?




My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar