Rabu, 29 Mei 2013

[Movie] Laura & Marsha (2013)


Laura & Marsha
(2013 - Inno Maleo Films)

Directed by Dinna Jasanti
Written by Titien Wattimena
Produced by Leni Lolang
Cast: Prisia Nasution, Adinia Wirasti, Ayal Oost, Ratna Riantiarno, Tutie Kirana, Restu Sinaga, Amina Afiqah Ibrahim


Film yang berkisah tentang perjalanan, atau sering diistilahkan road movie, senantiasa punya dua daya tarik utama. Pertama, lokasinya. Seringkali dalam film ditampilkan lokasi perjalanan yang menarik bahkan eksotis bagi kebanyakan penonton, bisa jadi semacam virtual traveling gitu. Kedua, karakternya. Tentu menarik menyaksikan interaksi dan perkembangan karakter-karakter yang sedang melakukan perjalanan bersama, apalagi kalau sifat-sifatnya ekstrim atau bertolak belakang. Malahan "drama" dapat terjadi hanya karena perbedaan karakter itu tanpa harus dipicu peristiwa atau keadaan sekitar. Film terakhir yang dalam ingatan gw berhasil mempersembahkan itu semua dengan baik adalah Rayya Cahaya di Atas Cahaya karya Viva Westi. Laura & Marsha karya Dinna Jasanti juga adalah contoh basic dalam mengusung dua daya tarik utama sebuah road movie. Film ini mengisahkan dua perempuan bersahabat yang melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa, dan dikisahkan juga dua orang ini punya sifat bertolak belakang. Secara filmis ini tentu menarik, sekalipun semua orang juga tahu kalau seorang yang well-planned melakukan perjalanan bersama seorang yang slebor adalah completely the worst traveling idea ever.

Laura (Prisia Nasution) kerja di sebuah agen perjalanan, punya seorang putri kecil (Amina Afiqah Ibrahim) yang diurusnya bersama sang bunda (Ratna Riantiarno) karena sudah empat tahun ditinggal entah ke mana oleh suaminya, Ryan (Restu Sinaga). Sempat mengalami koma sehabis ditabrak truk di depan kantornya di kompleks rukan Wijaya *sotoy*, Laura akhirnya mengiyakan tawaran sahabatnya seorang travel enthusiast dan penulis yang sebatang kara, Marsha (Adinia Wirasti), untuk jalan-jalan berdua ke Eropa. Hidup cuma sebentar, katanya. Jadi mereka mulai di Amsterdam, Belanda lalu nyewa mobil untuk jalan ke Jerman sampai  2 minggu kemudian berakhir di Venezia, Italia. Rencananya sih gitu. Rencananya.


Here's the thing, tentu akan menarik jika melihat dua watak bertolak belakang "bertarung" untuk menikmati perjalanan yang terbaik menurut masing-masing. Lagipula, konon katanya sifat asli seseorang akan kelihatan jelas saat traveling bersama. Laura sejak awal sudah ditunjukkan sebagai orang yang, meskipun kerja di agen perjalanan, banyak mikir dan kaku, juga terkesan "nggak menikmati perjalanan" karena masih terikat sama anaknya di rumah sehingga harus nelpon terus. Marsha digambarkan sebagai orang yang asyik aja, spontan, ingin coba segala sesuatu, gemar tantangan, cepat akrab sama orang baru, lalala yeyeye dan sejenisnya. Di atas kertas, ini adalah tontonan banget...hingga pada titik gw merasa pembuat film terlalu berusaha keras untuk membuat perjalanan Laura & Marsha ini lebih dramatis. Datanglah tokoh cowok lokal bernama Finn (Ayal Oost) yang sembarangan aja diajak naik mobil sama Marsha karena "dia 'kan tahu jalan". Lalu tibalah momen mereka tersesat di hutan di Jerman, dilanjutkan mereka harus susah payah melanjutkan perjalanan yang menguras tenaga dan emosi. Seakan gesekan dua insan berbeda sifat, dua sahabat tapi belum sepenuhnya saling jujur ini (which is strange) tidak dirasa cukup untuk memunculkan konflik dan drama. Ketimbang saling membongkar karakter asli masing-masing, yang gw lihat pada akhirnya adalah Laura yang sedang di-"inisiasi" oleh Marsha (yang menurut gw lama-lama jadi obnoxious) dalam situasi yang serba sulit. Cari perkara banget, menjurus kriminal pula. Ngajak-ngajak lagi. Merasa nggak salah lagi. Idih.

Filmnya sendiri nggak ada yang salah sih sebenarnya. Mungkin demi menonjolkan sisi adventure yang dinamis, dan memperkuat motivasi, peristiwa-peristiwa "akbar" yang terjadi di tengah-tengah film diputuskan perlu dimunculkan. Buat gw sih sedikit overdramatic, tapi ya nggak salah juga, bukan nggak mungkin bisa terjadi juga, toh. Beberapa kelucuan yang coba ditampilkan lama-lama ngeselin, tetapi gw yakin banyak yang akan terus menikmati. Kenyataan bahwa gw punya "perasaan" sama kisahnya pun justru menunjukkan keberhasilan filmnya, yakni melibatkan emosi gw. Entah emang maksudnya pembuatnya demikian atau enggak, gw jadinya pro-Laura, yang seakan dizalimi terus menerus oleh tingkah langkah Marsha, dan bukannya nggak sengaja(!). Gw memang tidak senaif Laura dalam hal melancong (ih, perlu gw sebut berapa negara udah gw kunjungin? *dicabein* *dilindes di Romantic Road*) tetapi, come on, to make her through all that? Not cute at all. Tetapi harus gw akui tiap karakter dibangun baik. Apalagi pembawaan Prisia dan Adinia yang prima dan intens, membuat gw tetap rela mengikuti perjalanan mereka hingga akhir. Sesungguhnya penampilan dua aktris inilah yang pada akhirnya jadi daya tarik utama film ini, termasuk keberhasilan Adinia membuat gw kesal sama tokoh Marsha bagaikan ibu-ibu penonton sinetron yang pengen nyubitin Dinda Kanya Dewi atau Leily Sagita kalau ketemu di mal. Yeah, that much.


Mungkin perlu diperjelas, komentar gw di atas bukanlah menyatakan filmnya jelek. Gagasan, maksud, tujuan, dan penuturan kisahnya oke, gwnya aja yang nggak seneng sama model cerita yang terlalu sengaja cari-cari masalah. Dalam segala hal yang lain, film ini perfectly fine. Penggarapannya matang, aliran ceritanya lancar dan mudah dipahami, dialognya mengalir enak dan alami, gambarnya nyaman, penyuntingannya asik, tata musiknya oke, dan penataan adegannya juga terasa natural sekali. Sedikit yang kurang sreg, gw pikir set-up awal ceritanya bisa dipangkas, atau setidaknya lebih konsisten. Kalau sebelum berangkat ke Eropa dimaksudkan sebagai latar belakang, maka harusnya kedua tokoh mendapat porsi di sana, jangan salah satu saja. Kalau mau diselipkan di tengah-tengah, ala-ala "Lost" gitu, harusnya keduanya juga caranya sama. Atau dibuang aja adegan latar belakangnya, biarkan penonton tahu sendiri lewat dialog antara mereka berdua sambil cerita berjalan. Dan dari segi traveling, film ini juga sedikit sekali memberi informasi tentang traveling itu sendiri, selain soal sewa mobil, SIM internasional, dan bisa beli ganja legal di "coffee shop" Amsterdam. Bagaimana dengan visa, imigrasi, bandara, perbatasan, bayar tol dan parkir? Nggak penting sih, cuma akan jadi knowledge yang lumayan berfaedah, kali aja ada yang ingin melakukan perjalanan seperti Laura & Marsha.

Laura & Marsha, sebagai sebuah road movie, pada dasarnya ingin menitikberatkan pada "menguji" persahabatan dua perempuan yang sama-sama pernah mengalami situasi-situasi yang berat, terutama bila dilihat dari sudut pandang perempuan ini (ditinggal suami, ditinggal ibu dll.). Di samping "pembongkaran" karakter dua sahabat ini, film ini juga di dalamnya memasang berbagai kebetulan dan peristiwa teromantisasi *uhuk* *klimaksnya* yang menurut gw sih kelihatan banget sebagai "iseng"-nya para pembuat film ini hanya demi bikin filmnya lebih seru aja, tidak lebih. Atau perlukah ditambah lebih banyak kemunculan landmark terkenal? Ah, terlalu turis itu, bukan traveler =p. Tetapi bila tetap berkonsentrasi pada sisi persahabatannya, film ini sudah menunjukkannya dengan baik, terima kasih juga pada kedua aktris utamanya yang bermain luar biasa. Amanah moralnya? Nggak usah travel bareng orang yang minatnya nggak sejalan, cari masalah banget itu sih. And try public transportations!




My score: 7/10

9 komentar:

  1. Wahhhh cepet banget reviewnya! Today bukannya baru keluar ya filmnya? hmmm adventure yang dinamis gak pake threesome ya? hahahaha *keplak diri sendiri*

    BalasHapus
    Balasan
    1. tempo hari dapat undangan screening *puji Tuhan =)* jadi bisa segera direview

      sebagai pengagum Y Tu Mama Tambien, gw juga sempat terbesit sedikit piktor sih *eh* tetapi ternyata arahnya gak ke sana =D

      Hapus
  2. Udah liat film nya..lumayan lah! Mnurut ku daya tarik utama film ini yah dua tokoh utama nya. Sya suka pngembangan karakter2 nya,especially Prisia..;) akting nya mulus serasa gk ada beban. Plus di suguhi view di eropa..aduh keren! Sayang sepi penonton!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Prisia keren ya, yah Rasti juga sih *walau sebel sama karakternya hehe*
      Sayang banget nih kalau sedikit penonton, patut ditonton padahal =(

      Hapus
  3. Btw ini film pertama nya Dinna Jasanti y mas? Koq gk pernah liat film Nayato lg ya? Apa kabar ya dia?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya benar ini film panjang perdananya Dinna Jasanti

      kalo Nayato kayaknya lagi liburan *ngarang*

      Hapus
  4. Pada dasarnya review lo sudah merangkum semua komentar gw ttg film ini sih nyo :
    1. Pemandangannya cakeupp : that moment when they opened the window in Innsbruck. Gorgeous!
    2. Sesungguhnya film ini punya potensi besar utk jadi lebih menarik, seandainya saja mereka stick to character's development, and not being OVERDRAMATIC dan kesinetron2an. First timer to Europe and they opted for a road trip? Helloo.. There's a thing called TRAIN, for instance. Drama masih tetep bisa terjadi kok eventho mrk naik pesawat/kereta. Dan endingnya mnurut gw agak2 "PS I Love You" yak..
    3. Yep, for me, the traveling factor should be given more emphasize. Hello, VISA? Terus itu mobil sewaannya yg ilang gimana kabarnya?
    4. But still, Ardinia Wirasti keren, meskipun keliatan kucel dan kumel banget (apa emg bgitu kesan yg mo ditimbulkan sbg travel-enthusiast slash backpacker?) Priscia Nasution juga not bad, but i like her more in "Sang Penari" tho..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepikir.
      Soal mobil sewaan itu juga lumayan ngeganjel tapi ya udahlah, udah rongsok juga =))

      oh endingnya PS. I Love You kayak gitu ya? *belum nonton*

      Thanks sharingnya ya, kaka Esti =)

      Hapus
    2. Bukan endingnya as in the way the movie ends, tapi plot yg terungkap di bagian akhir itu lhoo.. (you know what I mean)

      Hapus