Senin, 04 November 2013

[Movie] Merry Go Round (2013)


Merry Go Round
(2013 - VidiVici Multimedia/Sama Pictures)

Directed by Nanang Istiabudi
Written by Faldin Martha
Produced by Eddy Lukman S, Sri Wahyuni
Cast: Tya Arifin, Guiliano Mathino Lio, Dwi AP, Dewi Irawan, Reza "The Groove", Poppy Sovia, Je Sebastian, Bucek Depp, Ray Sahetapy, Keke Soeryo, Hengky Tornando, Ike Muti, Christopher, Epy Kusnandar


Nggak ada yang salah dengan film kampanye. Nggak ada. Apalagi kalau niatnya sudah baik yakni memberikan informasi yang bermanfaat kepada siapa pun penontonnya. Film Mata Tertutup-nya Garin Nugroho adalah contoh yang membuktikan bahwa film kampanye bisa juga dinikmati sebagai karya seni yang utuh dan berdampak. Yang salah adalah, kalau filmnya jadi nggak konsentrasi menyampaikan cerita yang lebih dari sekedar pengetahuan, lebih dari sekedar "Oh gitu ceritanya, kasian ya," tanpa berhasil membuat efek emosional jangka panjang. Itulah yang menurut gw terjadi pada Merry Go Round, film yang memang dari sononya sudah diseting jadi film kampanye antinarkoba yang memuat berbagai informasi tentang pecandu narkoba dan cara mengatasinya.

Langkah yang kurang tepat dilakukan oleh film Merry Go Round adalah keinginannya untuk menceritakan segala hal tentang narkoba di Indonesia dalam satu film, tapi kurang memiliki penguasaan dan kelihaian dalam bercerita, sehingga membuatnya lebih ke "kepenuhan" ketimbang "berbobot". Tak kurang film ini menceritakan tentang nasib empat pecandu narkoba. Menurut gw sih itu kebanyakan, jadi kurang personal dan intim. Sure, keempat orang ini punya hubungan yang berkaitan, tetapi menurut gw masing-masing kisah mereka cukup berat dan pelik untuk diceritakan sekaligus. Lagipula, film ini tidak bercerita tentang empat orang pecandu saja, tetapi juga soal masing-masing keluarga mereka, pihak pengedar, orang-orang di rehabilitasi, juga aksi dari kepolisian. Traffic-nya Steven Soderbergh bisa mengatasi ini dengan pembagian cerita yang fair dan jelas, dan tiap bagian cerita punya tokoh utama yang terfokus dan tergali. Nanang Istiabudi dan tim Merry Go Round resep dasarnya mirip, tapi belum sampai pada penguasaan materi cerita dan perlakuan terhadap karakter seperti film itu.

Kita diperkenalkan pada Dewo (Guiliano Mathino Lio) dan Arman (Reza "The Groove"), mereka teman sesakaw sepenanggungan. Keuangan mereka sedang tiris untuk "pake" sehingga mulai meneror ibunya Arman (Dewi Irawan), padahal di rumah barang-barang sudah habis dijual Arman untuk beli jatah. Singkat cerita, Arman mati overdosed, lalu ibu Arman jadi sering diskusi bareng ibu-ibu di pusat rehabilitasi, lalu Dewo cari cara lain untuk fly: adik perempuannya, Tasya (Tya Arifin). Tasya dibawa Dewo ke bandar putau (Je Sebastian dan Poppy Sovia) untuk dijadikan jaminan agar dapat obat. Yes, Tasya kemudian dicekoki narkoba dan jadi pengguna juga. Untung, Tasya cepat-cepat pergi ke rehabilitasi untuk sembuh, tapi hubungannya dengan narkoba belum berhenti, terutama ketika ia direkrut polisi untuk meringkus pengedar narkoba. Satunya lagi adalah Rama (Dwi AP), temennya Dewo dan Arman juga. Walaupun kondisinya terlihat nggak separah Arman dan Dewo, tetapi ketergantungannya pada sabu-sabu tetap berat, sekalipun ia sudah dinikahkan dengan Tasya.

Ribet? Well, gw masih belum cerita tentang para anggota keluarga yang saling menangis dan saling berteriak, polisi antinarkoba yang berusaha membongkar peredaran narkoba lewat kejar-kejaran dan samar-samaran, dan ibu-ibu rehabilitasi yang serba hadir dan sering melontarkan penjelasan istilah-istilah dalam lingkup rehabilitasi narkoba serta berbagai nasihat yang diujarkan antar mereka saja ketimbang dilontarkan ke tokoh-tokoh utama kita. Entah kenapa...

Berikut ini adalah cara gw menggambarkan Merry Go Round: kisah empat orang tentang cara hidup mereka yang salah di masa lalu yang direka ulang diperagakan-oleh-model ala-ala acara Solusi Life atau Kick Andy, tapi tanpa testimoni dari orang aslinya. Padahal, what make those reka ulang on TV shows works is the real people. Di Merry Go Round, jadinya hanya bagian reka ulangnya, yang juga pemainnya kurang bisa menyampaikan emosi yang genuine dan believable, cuma seperti peragaan saja. Film ini hanya menyampaikan informasi, bahwa pecandu tuh kelakuannya begini, cara dapet "barang"-nya begini, caranya tipu-tipu orang tua tuh kayak gini, setelah mengalami ini kemudian mengalami ini, dan sebagainya. Semua tentang apa yang terjadi dan dialami, tapi tidak tentang apa yang dirasakan. Padahal film ini diklaim berdasarkan kisah nyata. Kisah nyatanya siapa? Taauk. Nggak ada keterangannya sama sekali selain sekadar klaim.

But big credits kepada Dewi Irawan, satu-satunya pemain yang bisa mengujarkan dialog-dialog pretensius dan sinetronik dengan emosi meyakinkan dan, well,  jauh dari kesan sinetronik, sayang yang lainnya nggak bisa mengimbangi. Salut juga bagi siapa pun yang punya ide tentang simbolisasi komidi putar sebagai lambang orang-orang yang terjebak pada narkoba. Terlihat menyenangkan tapi hanya berputar di situ-situ saja, dan orang di dalamnya hanya bisa keluar kalau memang mau keluar, nggak bisa disuruh. Bagian film yang rada surealis ini ditampilkan selang-seling dengan adegan "reka ulang" lainnya, is probably the best part of the film, bisa jadi satu film pendek yang cukup oke. Too bad, ia harus digabungkan dengan bagian lain dari film ini yang *kalau kata Syahrini* terlalu too much dan cukup melelahkan untuk diikuti. Sekalipun gw tau niatnya baik.



My score: 5,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar