Minggu, 26 Februari 2012

[Movie] Dilema (2012)


Dilema
(2012 - WGE Pictures/87 Films)

Directed by Robert Ronny, Adilla Dimitri, Rinaldy Puspoyo, Robby Ertanto
Written by Wulan Guritno, Adilla Dimitri, Robert Ronny, Robby Ertanto, Rinaldy Puspoyo
Produced by Wulan Guritno, Adilla Dimitri
Cast: Roy Marten, Slamet Rahardjo, Reza Rahadian, Pevita Pearce, Ario Bayu, Winky Wiryawan, Baim Wong, Wulan Guritno, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Ray Sahetapi, Jajang C. Noer, Abimana Aryasatya, Kenes Andari, Verdi Solaiman, Rangga Djoned


Sebenarnya gw cukup kesulitan menjabarkan ulang konsep dari film Dilema. Film ini diklaim sebagai film omnibus, yang kalo gw gak salah tangkep maknanya adalah dalam durasi full feature (kali ini sekitar 90 menit) terdapat beberapa segmen film pendek yang digarap terpisah—cerita dan atau pembuatnya—yang memiliki sedikit keterkaitan entah itu tema (seperti Perempuan Punya Cerita), seting (misalnya Paris Je T'aime) ataupun genre (seperti horor 4Bia atau Takut), atau ada juga seperti Jakarta Maghrib yang terdiri dari beberapa segmen cerita terpisah namun digarap oleh kru yang sama. Tapi biasanya, sekat antar segmen di film omnibus itu jelas dan berurut. Dilema boleh disebut omnibus, ada 5 segmen yang konon dibuat terpisah, menurut laman wiki resminya ada segmen The Officer (sutradara Adilla Dimitri), Garis Keras/Hardline (sutradara Robby Ertanto), The Big Boss (sutradara Rinaldy Puspoyo), The Gambler (sutradara  Robert Ronny), dan Rendezvous yang entah siapa sutradaranya (di wiki-nya sih ditulis Yudi Datau—yang menjabat sinematografer film ini—tapi nggak tercantum resmi baik di film maupun poster). Akan tetapi, kelima segmen ini tidaklah terpisah-terpisah amat, semua segmen masih sangat berkait, malah lebih mirip film multi-plot ketimbang film omnibus. Lagipula, tiap segmen disajikan random tanpa sekat segmen yang jelas, gw bahkan nggak tau judul tiap segmen sebelum liat di credit roll akhir. Nah, jadinya lebih mirip film Traffic atau Babel...tapi tiap segmen dibuat oleh sutradara berbeda...mmm...yah kira-kira begitulah *segitu dulu bingungnya*.

Dalam Dilema, penonton diberi sajian 5 sisi nista kehidupan ibukota. The Officer bercerita soal polisi yang baru mulai patroli di hari pertama, Ario (Ario Bayu) mengikuti seniornya Bowo (Tio Pakusadewo) yang preman dan korup—somehow gw gak yakin otentisitas polisi reserse kriminal tampilannya bisa kayak duo Lethal Weapon seperti Ario dan Bowo, ada yang bisa konfirmasi? =). Garis Keras adalah tentang runtuhnya hubungan persahabatan Ibnu (Baim Wong) dan Said (Winky Wiryawan) yang tergabung dalam gerakan kekerasan radikal atas nama agama, karena salah satu mulai menyadari ada yang salah dengan tindakan-tindakan mereka. The Big Boss mengikuti arsitek muda Adrian (Reza Rahadian) yang secara misterius dipanggil oleh Sonny Wibisono (Roy Marten), seorang pengusaha raksasa sekaligus bukan-rahasia-lagi dedengkot organized crime yang berkuasa (baik ekonomi maupun aparat hukum) di Jakarta yang sudah mendekati ajal. The Gambler cukup sederhana mengisahkan seorang paruh baya, Sigit (Slamet Rahardjo) yang meski sudah lama tidak berjudi, tiba-tiba datang bernostalgia ke perjudian (tentu saja tempat ilegal) milik Gilang (Ray Sahetapi) dan kembali main demi mendapatkan jam tangan warisannya kembali. Sedang Rendezvous mungkin akan familiar bagi yang sering nonton filmnya Nayato, tentang seorang gadis muda, Dian (Pevita Pearce) yang sedang liburan galau karena kurang perhatian orang tua kemudian bertemu dengan seorang wanita tomboy, Rima (Wulan Guritno) yang menyeretnya kembali ke pergaulan bebas (plus the "now, kiss" moment between them girls, fufufu).

Interrestingly, Dilema ini justru cukup kawin bila dinikmati sebagai satu film utuh tanpa perlu mengingat embel-embel omnibus atau "kompilasi film pendek", ya karena memang kaitannya yang sangat nyambung, yang mulai ketahuan di pertengahan. Pun sebenarnya tone tiap segmennya nggak beda jauh meski sutradaranya beda-beda, mungkin kerja editor serta sinematografi yang berfungsi maksimal dalam hal ini—dan memang dikerjakan oleh orang-orang yang sama untuk semua segmen, sehingga ritmenya bisa terjaga, tidak ada segmen yang terasa lebih lemah dari yang lainnya, semua bisa tampil seimbang. Dengan kata lain, Dilema bisa dibilang tontonan yang solid sebagai satu kesatuan, pretty enjoyable. Mungkin masalahnya adalah di bagian cerita yang, yah gitu lagi gitu lagi. Nggak bisa dibilang terlalu ngaco sih, cuman setiap segmen punya basis plot yang tidak terlalu baru, entah itu remaja stress kena narkoba, seorang anak yatim piatu yang nggak sadar dia itu selama ini keberuntungannya sudah diatur, atau anak baru idealis vs senior korup. Garis Keras yang mengangkat isu kelompok berlabel agamayang bertindak radikal juga agak terlalu preachy dan sambungan ke "segmen lain"-nya pun maksa banget. Namun lagi-lagi, penyampaiannya dibuat sewajar mungkin, pun pada bagian akhir tiap segmen akhirnya kembali pada tema "dilema", dimana karakter-karakter dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang sulit, sehingga kekurangsegaran plot dasar dapat agak tersamarkan. 

Jika boleh memilih, bagian favorit gw jatuh pada segmen The Gambler. Kisahnya mungkin agak mengingatkan pada kesaksian-kesaksian di acara Solusi Life *heuheuheu*, pun properti arloji emas warisan yang dipertaruhkan tidak tampak "150 juta rupiah"—I mean, bannya kulit gitu =P. Namun plot yang masuk akal dan pendekatan yang ekstensif terhadap karakter Pak Sigit (yang dimainkan cukup mengesankan oleh Slamet Rahardjo) membuat gw jadi berpihak sama Pak Sigit meskipun tindakannya haram dan motivasinya untuk kambuh berjudi juga cetek, tapi gw akan ikut merasa senewen tiap kali kartunya kalah, haha. Merging-nya dengan segmen The Officer—spoiler dikit, walau awalnya juga terasa lame dan terlalu banget, tapi akhirnya punya ending paling kuat dari yang lain. Dari segi visual pun The Gambler yang paling oke, ini mungkin karena setingnya yang hanya di tempat judi ilegal (plus toiletnya), ruang dan pencahayaannya ditata paling menarik. 

Ngomong-ngomong soal visual, Dilema menurut gw ditangkap dengan tata kamera yang baik, pewarnaannya terjaga, hanya saja segi desain produksinya—selain The Gambler—terlihat kurang menarik dan terlalu sederhana sehingga tidak beda dengan sinetron atau FTV. We need to improve our production designing. Serta satu hal yang bikin kagok adalah rentang waktu tiap segmen, apakah waktunya bersamaan atau tiap segmen ada rentang waktu tersendiri tidak terlalu jelas, ini terutama di segmen Rendezvous yang suasananya selalu malam dan pakaian orang-orangnya selalu sama. Namun terlepas dari itu, Dilema masih bisa didapuk sebagai film yang layak tonton karena overall digarap serius, tidak mencelakakan dan tidak menjemukan, setidaknya bagi gw. Penampilan para aktor ternama di dalamnya juga bukan sekadar jualan, karena mereka semua bisa tampil baik. Gw cukup terkejut ketika melihat Baim Wong ternyata bisa akting betulan setelah selama ini dirinya hanya terlihat pura-pura akting di layar kaca =P, dan patut dicatat pula Wulan Guritno dalam film yang diproduksinya sendiri bareng suaminya ini membuktikan bahwa dia selalu bisa jadi aktris andalan dalam beragam peran, she's good. Sayangnya, meski berharap banyak pada Roy Marten, apalagi dengan perannya yang "serem", gw malah tidak merasakan apa yang harusnya gw rasakan pada tokoh Sonny Wibisono, mungkin harusnya oom Roy dan oom Tio tukeran peran, hehe. But anyway, good job buat kru Dilema, film ini sama sekali tidak memalukan. Eh...jadi...sutradara segmen Rendezvous siapa nih?



My score: 7/10

2 komentar:

  1. Bro, kalo The Raid tahu nggak rilis disini kapan?

    BalasHapus
  2. @Fanboy, katanya Maret, ditunggu saja =) *OOT, hehe

    BalasHapus