Jumat, 09 November 2012

[Movie] Atambua 39° Celsius (2012)


Atambua 39° Celsius
(2012 - Miles Films)

Written and Directed by Riri Riza
Produced by Mira Lesmana
Cast: Gudino Soares, Petrus Beyleto, Putri Moruk


Dulu, Atambua hanyalah sebuah nama yang gw lihat waktu iseng ngecek KTP bokap, sebab beliau lahir di sana. "Di tengah jalan" istilahnya, karena konon kakek-nenek gw sedang dalam perjalanan dari Timor Timur ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (masih di pulau yang sama, kali aja ada yang gak tau =p) lalu suatu ketika numpang melahirkan di Atambua ^_^;. But what do you know, sekitar setengah abad kemudian, tepatnya 1999, Atambua malah sering masuk TV, termasuk TV internasional. Keren gak tuh =D. "Peradaban" terakhir di antah berantah perbatasan NTT menuju Timor Timur ini sering disebut di berita-berita kala itu karena jadi tempat pengungsian utama warga Timor Timur yang memilih ikut Indonesia pascareferendum, yaitu ketika warga provinsi (atau "wilayah jajahan", tergantung Anda menilai dari sudut pandang "ahli sejarah" yang mana) termuda Indonesia kala itu memutuskan untuk merdeka, dan kini lebih dikenal sebagai Timor Leste. Tentu perubahan status ini tidak murah harganya, salah satunya adalah terpisah-pisahnya anggota banyak keluarga, antara yang mau tinggal di tanah kelahiran atau yang ingin tetap jadi bagian dari RI. Yang terakhir ini banyak yang akhirnya menyeberang perbatasan ke Indonesian-side of Timor, tinggal di kawasan pengungsian di Atambua hingga merantau ke Kupang dan sebagainya.

Atambua 39° Celsius mengangkat salah satu sisi itu. Dengan "perkenalan" yang butuh kesabaran ekstra karena tanpa banyak dialog, pada awalnya kita akan disuguhi keseharian tokoh utama kita, seorang pemuda pengungsi dari Timor Leste, Joao (Gudino Soares) sehari-hari ngurus rumah-nya (walau tidak layak untuk disebut demikian) di pagi hari, narik ojek di kota, siangnya main sama temen-temen, dan malamnya kembali tidur, atau "menyambut" kepulangan sang ayah, Ronaldo (Petrus Beyleto) yang selalu mabuk. Mereka memang hanya tinggal berdua. Ronaldo mengajak putra sulungnya itu ke wilayah Indonesia selepas referendum, menetap di kawasan pengungsian deket stadion terbengkalai di Atambua. Ronaldo kini bekerja sebagai sopir angkutan umum, namun kemudian diketahui ia dulu salah satu pejuang pro-integrasi (yang mungkin juga ikut bentrok berdarah dengan pejuang pro-kemerdekaan). Hingga kini pun ia bertekad nggak akan kembali ke tanah kelahirannya kalau Timor Leste tidak bergabung lagi ke Indonesia, meskipun istri dan dua anaknya yang lebih muda ada di sana. Secara paralel datang pula seorang pemudi, Nikia (Putri Moruk), teman kecil Joao yang baru kembali dari Kupang karena kakeknya baru meninggal dunia di kampung pengungsian Atambua.

Ngomong-ngomong nih, setiap kerjasama Mira Lesmana dan Miles Films-nya dengan Riri Riza memang senantiasa patut disimak. Duo kribo ini sebelumnya sukses membuktikan bahwa film Indonesia bisa kembali jadi box office di negeri sendiri lewat Petualangan Sherina, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, pun menghasilkan karya sinematis bermutu seperti Gie dan 3 Hari Untuk Selamanya. Satu hal yang gw amati, Miles (dan mungkin juga Riri Riza) punya sebuah aspek yang masih belum dikuasai perusahaan film lain, yakni kemampuan memasarkan film berdasarkan potensinya. Miles tahu betul cerita sederhana dalam Petualangan Sherina atau Laskar Pelangi bisa appealing ke publik luas sehingga dipromosikan dengan sangat gencar. Di sisi lain, mereka juga tahu 3 Hari Untuk Selamanya punya segmen terbatas sehingga dipasarkan lebih bersahaja. Atambua 39° Celsius juga demikian, para empunya film ini tampaknya sadar potensi film ini akan "sangat terbatas" dan akan lebih tepat bila dipasang di festival-festival, sehingga pemutaran komersilnya pun dibuat terbatas juga.

Terbatasnya gimana sih? Well, contohnya, God only knows about plot. Maksudnya, kalo misalnya gw ditanya "filmnya soal apa?", sori, gw gak bisa jawab, tangkapan gw gak secemerlang itu =P. Tapi, anggap saja ini tentang 3 orang yang berusaha menata kembali kehidupan setelah kehilangan keutuhan keluarga. Pun penceritaannya tidaklah semanismanja yang ditemukan di film-film Riza yang ditargetkan pada anak-anak. Menampilkan para tokoh dan masyarakat sekitarnya berkegiatan, sedikit sekali dialog (sekalinya ada, pake bahasa Timor), editing patah-patah, juga Riza banyak menggunakan adegan-adegan sunyi yang mungkin menampilkan simbol, mengingatkan gw sama si maestro arthouse Indonesia, Garin Nugroho, atau mungkin juga tidak *tuh bingung kan*. "Kesabaran" adalah kunci utamanya, dan it's quite rewarding karena sebenarnya film ini punya sebab akibat yang logis. Karena kesabaran, gw lumayan dapat pegangan tentang motif dan tujuan tokoh-tokohnya. Joao kangen sekali ibunya yang hanya bisa ia lampiaskan lewat pesan rekaman suara kaset yang diulang-ulang, hubungan dengan ayahnya dingin, dan asmara yang dirasakannya terhadap Nikia adalah satu-satunya yang dapat meng-excite-kan hidupnya. Ronaldo larut dalam rutinitas mencari nafkah, lalu menghamburkannya dalam mabuk dan judi *pasang Cucu Cahyati*, sampai-sampai sang putra dibiarkan mengurus diri sendiri, mungkin terlalu lama menanti harapan akan kembalinya tanah kelahirannya ke negara yang dicintainya. Nikia mungkin yang paling tidak dipahami latar belakang dan motifnya, meski akhirnya cukup terjelaskan di bagian akhir.

Tapi memang beberapa plot point agak lemah dan datar ditampilkan, meskipun tetap indah dimaknai, seindah tampilan sinematografi sinematik tanpa "photoshop" (*uhuk* *lirik Rumah di Seribu Ombak*) yang konon pake salah satu varian kamera DSLR ini. Lihat ketika Joao nekad mencari Nikia di Kupang, karena "pegangan" Joao saat ini hanyalah gadis pujaannya itu, apalagi setelah sang ayah ditahan polisi akibat berkelahi. Lihat juga Ronaldo yang akhirnya luluh selepas dari tahanan, karena ia kini benar-benar sendiri, sama sekali tanpa anggota keluarga yang secara moral dikasihi dan mengasihi dia, yang more or less selama ini ia sia-siakan. Penampilan dari Petrus Beyleto sebagai Ronaldo mungkin jadi bumbu tersendiri di tengah-tengah film yang berjalan datar ini, karena tokohnya sendiri memang emosional. Gudino Soares sebagai Joao ada di peringkat dua, meskipun belum "hebat" tapi kelihatan sekali ia took directions really well. Putri Moruk mungkin terbilang paling kaku sehingga tokohnya yang agak misterius itu pun jadi tidak bisa lebih menarik lagi, dan tidak ketahuan apa yang ada dibenaknya, terutama dalam mengurus makam kakeknya seorang diri, tapi ya gak jelek kok.

Atambua 39° Celsius adalah sebuah film yang digarap dengan serius dan baik namun memang tidak mudah dinikmati. "Tidak mudah" artinya masih bisa dong. Pemandangan alam maupun pengenalan sosial-budaya masyarakat Timor, khususnya Atambua selalu jadi daya tarik yang menyegarkan, lumayan menambah wawasan kekayaan budaya bangsa, jadi bisa dikira-kira kalau ke NTT oleh-olehnya apa. Gw mau dong kain tenunnya =). Pun pemotretan Riza terhadap kehidupan Joao dan pemuda sebayanya tampak sincere dan fair serta sesekali jenaka. Ia tidak hanya menyorot sisi "prihatin" dari kota dan masyarakat yang terkesan terabaikan oleh pihak pemerintahan (kita) itu, tetapi juga bagaimana orang-orang di sana tetap berusaha move on, sebagaimana sedang diusahakan Joao, Ronaldo dan Nikia masing-masing. Se-"terbatas"-nya Atambua 39° Celsius, film ini tetap kembali kepada human story, tidak terbebani pesan politis atau nilai propaganda. Cuma soal Joao dan Ronaldo plus Nikia yang rindu akan kasih sayang sejati. Secara keseluruhan mungkin kurang menggigit, kurang tercolek emosinya, tidak "sepanas" temperatur pada judulnya, tetapi nilai kemanusiaan itu tetap ada di sana.




My score: 7,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar