Jumat, 17 Februari 2012

[Album] back number - Superstar


back number - スーパースター (Superstar)
(2011 - Universal Music Japan)

Tracklist:
1. はなびら (Hanabira)
2. スーパースターになったら (Superstar ni nattara)
3. 花束 (Hanataba)
4. 思い出せなくなるその日まで (Omoidasenaku naru sono hi made)
5. あやしいひかり (Ayashii hikari)
6. 半透明人間 (Hantoumei ningen)
7. チェックのワンピース (Check no One Piece)
8. ミスターパーフェクト (Mister Perfect)
9. こぼれ落ちて (Koboreochite)
10. リッツパーティー (Ritz Party)
11. 電車の窓から (Densha no mado kara)
12. 幸せ (Shiawase)


back number adalah band pop-rock Jepang dengan berat bersih tiga orang personel: Iyori Shimizu (vokal+gitar), Kazuya Kojima (bass), dan Hisashi Kurihara (drum)—fyi, ejaan nama ketiga personelnya ini belum bisa dikonfirmasi ya, gw cuma pake jasa kanji-romaji converter online =P. But who are they really? Gw juga baru denger mereka pertama kali pertengahan tahun 2011 lalu ketika single mereka "Hanataba" begitu merenggut perhatian gw sehingga akhirnya menjadi lagu J-Pop terfavorit gw di tahun bersangkutan. Single-single mereka selain itu tidak terlalu menarik perhatian gw, tetapi pada akhirnya gw iseng dengerin album major debut mereka, Superstar. Dan, wow, didn't expect it but albumnya ternyata berisi lagu-lagu enak yang dirangkai dengan oke. Seriously. Padahal gw akui, musik back number itu terdengar biasa saja, tetapi gampang banget membuai dan memunculkan efek "enjoy". Gw sampe berusaha mencari-cari apa yang membuat musik biasa back number ini bisa begitu enak dinikmati.

Sebagaimana disebut tadi, musik back number itu pop rock, rata-rata dalam irama medium dan bertema cinta. This would sounds like some Indonesian bands, doesn't it? Di atas kertas (atau webpage =P) bisa dianggap begitu, sound mereka serupa nuansa dengan band-band pop-rock komersil Indonesia, hanya saja lagu-lagu yang dibawakannya menurut pada "kebiasaan Jepang" yang punya lompatan notasi dan kord yang jelas berbeda—cenderung banyak minor—dengan kebiasaan musisi Indonesia atau bangsa lainnya *sotoy*. "Biasa saja"-nya back number juga terindikasi dari dinginnya sambutan publik Jepang terhadap album ini. Tapi, mungkin salah satu yang menyebabkan gw menikmati album ini adalah: "biasa saja"-nya J-Pop tetaplah menarik di telinga gw, istilahnya "eksotik", hehe. Rasanya gw udah cukup lama tidak mendengar band Jepang yang membawakan lagu-lagu pop melodik dengan musik sederhana yang mudah dicerna serta dengan vokal yang tidak menyebalkan, mengingat industri musik sana udah kepenuhan entah sama produk-produk komersial seperti boyband dan girlband—yang tujuan utamanya jelas bukan supremasi musik, artis-artis dengan musik terlalu kreatif dan berat sehingga kerap sulit dinikmati, artis-artis yang musiknya terlalu ke-Amerika/Eropa-an, atau yang dulunya dikenal dengan musik sederhana dan melodik (seperti Spitz) sudah jarang berkarya. Sebuah kerinduan yang mungkin baru gw sadari ketika akhirnya mendengarkan album Superstar ini. Keistimewaannya justru datang dari kesederhanaannya.

Ke-kurang-sreg-an gw saat mendengar single-single mereka sebelumnya secara terpisah ("Hanabira", "Hanataba", "Omoidasenaku naru sono mae ni") terlesap begitu saja ketika mendengarkan album ini dari awal sampe akhir. Lagu-lagunya sangat ramah di kuping dan ingatan, vokal Iyori Shimizu pun punya appeal tersendiri: vokalnya bundar (atau bahasa muggle-nya: vokal bulat), lembut, mulus, kadang terdengar nelangsa, tetapi tulus, nggak pake suara palsu nan maksa seperti kebanyakan vokalis pop Jepang yang lama kelamaan terdengar annoying (*ehem* *lirik flumpool, remioromen dan sejenisnya* *sorry*). Well, jujur jika didengarkan secara sepotong-sepotong (seperti pada klip preview "Superstar album digest" di bagian akhir postingan ini) maka sepertinya lagu-lagu back number dalam album ini terdengar serupa semua, beda di irama aja. Memang itulah yang jadi kesulitan gw ketika mencoba membedakan satu lagu dengan lagu lainnya dalam album ini, yah karena nadanya gak jauh-jauh dan mirip-mirip...tapi memang enak-enak semua. Gimana bisa? Karena mereka punya cara presentasi yang cerdas.

"Hanabira" ternyata sebuah lagu medium-fast berhias string section bermelodi minor nan catchy yang cukup berenergi sebagai track pembuka. back number pun makin meyakinkan ketika lagu yang lebih cepat berdetak disko "Superstar ni nattara" berkumandang. Track ini seperti semacam mantera, karena lewat lagu ini gw mulai bisa mengira apa sebab lagu-lagu band ini terasa oke meski sebenarnya berformula biasa saja. "Superstar ni nattara" adalah contoh jelas range back number dalam membuat dan mengaransemen lagu mereka: struktur ringkas dan padat, intro yang distinctive, getokan drum yang asik, serta variasi komposisi dalam sebuah lagu. Mungkin yang lebih tau musik bisa lebih jago menjelaskan ini, tetapi sepenangkapan gw, pengaturan atau komposisi kemunculan bunyi/permainan instrumen dan vokalnya berbeda-beda di tiap bagian (intro, verse, pre-chorus, chorus, bridge, interlude dst.) dalam masing-masing lagu, tidak monoton, sehingga nikmat didengar kuping, meski tanpa skill personil yang luar biasa sekali (they're good, though). Nah, sejak itu gw jadi memperhatikan bahwa setiap track setelahnya juga memiliki kekuatan serupa. Contoh lagi adalah track ketiga, love ballad berirama medium "Hanataba" yang titik istimewanya terletak pada verse 1-nya yang cuma ada drum dan bass menemani vokal (diulangi juga di bagian akhir/coda), begitu intim dan dalem—dalam versi berbeda muncul juga di track "Mister Perfect" dan "Densha no mado kara". Track "Mister Perfect" pun agak lain sendiri karena diawali dengan vokal saja menyanyikan bagian chorus (a cappela lah istilahnya) lalu kemudian baru bunyi instrumen muncul perlahan hingga penuh di bagian chorus, quite nice.

Baiklah, cukup dengan penjabaran dari pertanyaan "kenapa bisa enak". Cuman mau menegaskan bahwa gw suka sama album Superstar ini dan cukup untuk meletakkannya di salah satu album favorit gw di tahun 2011. "Hanataba" jelas jadi highlight, namun gw juga punya beberapa track favorit lainnya. Yang langsung jadi favorit kedua adalah track "Densha no mado kara" dengan perpaduan drum lembut dan petikan melodi gitar yang begitu kalem, intim (mengulang kata intim), dan merasuk, melodinya pun indah dan mudah diingat. Lainnya lagi adalah lagu mellow yang dominan gitar akustik "Check no One Piece" (artinya "gaun terusan bermotif kotak-kotak", in case you're wondering),  "Hanabira", serta "Superstar ni nattara" yang asik sekali. Dua track lain yang perlu gw kasih "special mention" karena agak lain adalah "Koboreochite" yang paling ngerock tanpa tanggung-tanggung, serta lagu ceria "Ritz Party" yang melodinya tidak minor sendiri =D. Oh ya, kecerdasan back number dalam album ini bukan hanya soal aransemen lagu satu per satu, namun juga urutan lagu pada albumnya yang membuatnya sangat enjoyable. Antara yang medium, pelan sekali dan cepat disebar dan disusun dengan sangat baik dan tidak menjemukan, kecuali mungkin track penutup "Shiawase", sebuah ballad kesedihan yang content-nya tidak sevariatif track-track lainnya (cuma alat band plus string section yang keras), serta kurang memberi kesan berarti selain bahwa lagu ini paling panjang durasinya. But then again, gw udah telanjur menikmati keseluruhan album ini. Sebuah album pop-rock-biasa yang tetap fresh dan istimewa, "superstar" dengan caranya sendiri *eaaa*.



My score: 7,5/10


back number


Previews




Superstar album digest


"Hanabira" (short ver.)


"Hanataba" (short ver.)


"Omoidasenaku naru sono hi made"


"Ritz Party"

8 komentar:

  1. Aku sukaaaaaa banget album ini! Simpel tapi enak didengar, dan herannya nggak bikin bosen sama sekali =D. Selain Hanataba, aku paling suka Check no One Piece (baru tahu artinya "gaun terusan bermotif kotak-kotak", makasih Om), lagunya syahdu banget, suara instrumen dan vokalnya empuk banget, refrainnya juga, bikin hening semesta, "orokara check no one piece yoo, dokokade mitsukeru tabi ni akimi wo, omoidasu no kana, yadanaaaa ... yadanaaaa ..." *yakali gitu nulisnya =').

    Oh iya, Om, lirik lagu mereka tentang apa, sih? Kok kayaknya lirih banget (ada yang sampai bergetar gitu).

    P.S.
    Aku paling suka baca review Om, selain "berbobot", bisa buat penghilang stres juga, karena selalu ada unsur humornya ("bahasa muggle"?) =P *lompat *kabur.

    BalasHapus
  2. @Rafael: kalo soal lirik itu kebanyakan kira-kira tentang hubungan percintaan, kayak "Hanataba" itu kan soal ngajak jadian *hehe*, "Hanabira" itu kalo nggak salah soal kerinduan, "Omoidasenaku naru sono hi made" itu soal kekasih yang sudah tiada, "Ritz Party" kayaknya tentang hubungan jarak jauh, nah "Check no One Piece" itu soal saat-saat terakhir sebelum putus/pasangannya pergi. Sepertinya yang bukan soal cinta cuman "Koboreochite" (soal kedewasaan) dan "Densha no mado kara" (soal mengenang kampung halaman).

    Puji Tuhan kalau bisa menghibur mas Rafael. Terima kasih ya =)

    BalasHapus
  3. minta link downloadnya dong gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan rujuk laman "About This Blog" ya. thank you =)

      Hapus
  4. Keren banget ! Lagunya menenangkan hati ^^
    Paling demen ama yg baru Koi, ama yg udah jadul Hanataba.
    Ulas lagi donk gan ! Dua jempol dah !

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke, nanti kalo mereka keluar album lagi pasti saya ulas =)

      Hapus
  5. Keren reviewnya bung..
    Aku baru-baru aja nih suka sama back number. Gara-gara ketemu sama track "stay with me" dari album Ato no Matsuri.
    Ini baru aja berhasil download album Superstar. Dan sambil dengerin Supasuta, album Ato no Matsuri sedang proses download. :D

    Setuju gan sama pendapatmu soal "biasa" nya lagu2 back number namun tetap enak didengar. Justru kalau jarang orang suka malah bikin tambah menarik buatku gan. hehe

    Kemarin itu sempet nyari2 liriknya Stay with Me di internet ga ketemu yg romaji/english nya. Ketemunya cuma video dgn lirik jepang. Terus akhirnya bikin sendiri lirik romajinya dengan dengerin PV nya diulang2 sampek selesai. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, sebagai yang suka lagu2nya back number, saya ucapkan terima kasih atas upayanya =). Thanks juga udah mampir ya.

      Hapus