Sabtu, 21 November 2009

[Movie] 2012 (2009)


2012
(2009 - Columbia)


Directed by Roland Emmerich

Written by Roland Emmerich & Harald Kloser

Produced by Roland Emmerich, Harald Kloser, Larry J. Franco

Cast: John Cusack, Chiwetel Ejiofor, Amanda Peet, Thandie Newton, Danny Glover, Oliver Platt, Woody Harrelson.



Mari gw awali ulasan ini dengan deklarasi: meributkan, membuat kontroversi, malah melarang-larang pemutaran film 2012 adalah tindakan BODOH, TOLOL, IDIOT, MALAS BERPIKIR, BERPIKIRAN SEMPIT, TIDAK BERPENDIDIKAN, KAMPUNGAN, TIDAK BERDASAR, NORAK, dan KURANG KERJAAN!! Ya, itu juga berlaku bagi Andi Soraya, Ayu Azhari, pimpinan2 MUI daerah yg ketahuan sekali hanya ingin namanya dicetak di koran atau sekedar ingin merasa berkuasa, dan tentu saja biang keladi dari semua ini: INFOTAINMENT. Well, semua orang juga kayaknya udah tau sich kalo wartawan infotainment adalah profesi paling kurang kerjaan di muka bumi, apalagi editornya yg mengangkat hal ini jadi berita, udah kurang kerjaan, norak, IQ-nya tiarap lagi kalo nggak mau disebut idiot (bagi gw merekalah sumber bencana yg sesungguhnya). Jika film ini memang menyesatkan, maka menyesatkan juga perlu disematkan kepada Transformers, Harry Potter, Ayat-Ayat Cinta (masa orang Mesir ngomongnya bahasa Indonesia semua) dan sinetron Lorong Waktu (hei, tidak ada seroang pun yg bisa memutar balik waktu, oke?). Asal tau saja, ini bukan film soal kiamat, tapi bencana besar. Siapa bilang kiamat 2012 itu ramalan suku Maya? Suku Maya hanya menamatkan kalendernya di 2012 (malah peradaban mereka udah punah jauh sebelum itu), dan setelah itu akan ada periode baru di bumi ini, tinggal diulang lagi, cuma gitu kok repot. Justru si bule2 kurang kerjaan itu yg menyebut dirinya “scientist” yg mengulirkan teori bahwa akan ada aktivitas matahari yg akan menghancurkan bumi. Dan tau apa tanggapan “scientist betulan” dari NASA?
It’s bullshit. There you go. Case closed!

Tapi tetap saja, gara2 orang2 infotainment yg kurang kerjaan dan idiot itu, gw susah dapet tiket untuk nonton 2012 dan baru bisa nonton baru2 ini (gw nonton film karena itu hobi gw, bukan karena buzz nya,
but I guess no one would care), beli tiket pas jam makan siang untuk nonton sepulang kantor sore2. Setelah akhirnya nonton, ternyata ketololan dan keidiotan tidak hanya melanda para wartawan dan editor infotainment, tapi juga justru dari pembuat film 2012 sendiri dan….penonton yg udah antre capek2. We’re struggling our way to the box office just for this?

Jadi ceritanya, tahun 2009 matahari mulai mengeluarkan gelombang yang mendidihkan inti bumi (anehnya malah bukan permukaan bumi. Ketololan pertama). Ini membuat kerak bumi akan mengalami pergeseran dan perubahan yg drastis. Mendapat laporan ini, negara2 besar di dunia membuat suatu proyek di pegunungan Himalaya, yg hanya bisa kita lihat di akhir film. Rupanya, bumi udah mulai “berubah” lebih cepat, di tahun 2012. Mulai terjadi tanah pecah dengan ukuran besar lalu pelan2 tenggelam ke laut, gunung meletus nggak wajar, dan tsunami besar-besaran yg pada akhirnya, seperti dalam posternya, sampe aja gitu di Himalaya (yg gw pertanyakan bagaimana bisa. Ketololan kedua). Jualan film 2012 cuman itu, dengan visual efek yg memang bagus sekali, tidak memusingkan dan seperti kata Roger Ebert, memberi kita kesempatan untuk melihat dan menghargai teknik visual efeknya. Gw pribadi suka adegan kapal pesiar terbalik. Nah, supaya adegan2 fantastis itu bisa terlihat, maka perlu ada cerita di tempat2 kejadiannya. Kita diperkenalkan pada tokoh2 mulai dari para ilmuwan (Chiwetel Ejiofor, Jimi Mistry), pemerintahan (Oliver Platt, Danny Glover yg jadi presiden AS, Thandie Newton), dan yg gak berhubungan banget, wakil dari rakyat biasa (John Cusack, Amanda Peet dan anak2nya). Intinya adalah mereka berusaha selamat dan sampai di “bahtera” keselamatan di Himalaya itu. Dan dalam tradisi Independence Day, The Day After Tomorrow, Deep Impact dan pokoknya film2 Hollywood, tentu saja tokoh2 “kesayangan” kita selamat, tinggal nikmati saja bagaimana caranya mereka selamat.
See? Bukan kiamat toh?

Kenapa gw bilang tokoh2 “kesayangan”? Karena film ini punya porsi penokohan yg lumayan membuat ikatan dengan penonton. Kita seneng sama yg ini, kesal sama yg lain.
And it worked. Fragmen2 hubungan antar manusia yg bertebaran di tengah2 peristiwa maut cukup membuat gw tersentuh. Itu dan visual efek adalah nilai plus dari 2012. Sayangnya, nilai plusnya cuman itu. Sisanya adalah adegan2 serba kebetulan dan bo’ong banget yg diulang-ulang. Maksud gw adalah, bagaimana keluarganya John Cusack selalu menemukan jalan untuk lolos dari “kejaran” gempa atau gunung meletus, dan bagaimana ada aja hal2 kecil yg sengaja dibuat mepet (nyari peta, manggil anjing, mobil dan pesawat nggak nyala, pintu kejepit dsb) hanya supaya penonton merasakan ketegangan. Adegan2 itu sangatlah bodoh dan film banget, tapi sialnya memang berhasil membuat tegang (ketololan ketiga). Oh ya, kayaknya ketegangan juga sedikit dipengaruhi penggunaan kamera digital sepanjang film, entah emang supaya ada efek riil, atau cuman untuk menghemat biaya syuting, hehe. Film ini juga menyimpan dilema moral mengenai siapa yg pantas untuk masuk ke “bahtera”, kenapa dia bisa dan yg lain nggak, tapi sekali lagi film ini tidak mau menjual itu.

Nah, kalo sudah tau film ini mau menjual apa, dan ternyata yg kita dapatkan sesuai dengan yg diiklankan, apakah berarti film ini gagal? Sayangnya, tidak. Anda ingin film bencana, visual efek besar, tokoh2 yg mengundang simpati, dan adegan2
thrilling? You got it. Walaupun sangat biasa dan bodoh secara ilmiah, tapi itu yg Anda harapkan, dan film ini memenuhinya. Tidak lebih jelek daripada yg diiklankan (bukan kontroversi idiotnya ya), dan juga tidak lebih bagus, ya segitu-segitu aja. Jadi kesimpulan gw, film ini bodoh sekaligus berhasil. What you see is what you get, and that’s okay. Kalo yg di luar dugaan sekaligus tidak bodoh, tontonlah Knowing, karena mnurut gw, endingnya lebih “benar”. Kalaupun memang akhirnya film ini ditarik, mungkin pilihan selanjutnya: Hantu Binal Jembatan Semanggi…wow, “binal”…, mungkin ini juga film kiamat dalam segi kreativitas membuat judul.



My score
6/10


NB: Gw menemukan sesuatu yg lucu di berita detkHot.com, ada wawancara telepon dengan seseorang dari MUI, katanya ada dugaan penodaan agama dalam 2012 karena ada penghancuran bagunan seperti masjid. Padahal “bangunan seperti masjid” itu ternyata adalah kubah GEREJA St. Peter’s Basilica di Vatikan. Jangan2 dia pikir gedung DPR/MPR dan Balai Sarbini itu masjid juga lagi. Dan kita masih betanya-tanya kenapa bangsa kita nggak maju-maju…



[Album] GReeeeN - Shio,Koshou


GReeeeN - 塩、コショウ
Shio,Koshou
(2009 – Nayutawave/ Universal Music Japan)

1. 光 Hikari
2. 口笛
Kuchibue
3. 遥か
Haruka
4. 歩み
Ayumi
5. いつまでも
Itsu Made mo
6. 旅人
Tabibito
7. ハレルヤ!!!!
Hallelujah!!!
8. STORY
9. 刹那
Setsuna
10. 冬のある日の唄
Fuyu no Aru Hi no Uta
11. 扉
Tobira
12. 空への手紙
Sora e no Tegami
13. 父母唄
Fubo Uta
14. 髭、コソウ
Hige, Kosou (Secret Track)


GReeeeN sekali lagi membuat gw kagum. Sebuah group vokal yg suaranya tidak terlalu enak didengar dan bahkan muka2nya sampai sekarang belum ketahuan seperti apa, tapi dengan mulus dan sukses menjual album2 mereka dengan jumlah yg nggak main2. Kuartet yg terdiri dari sarjana kedokteran gigi ini sukses hanya dengan resep klasik: lagu-lagu enak. Di Indonesia mana bisa begitu? Gabungan pop, hip-hop, rap, reggae, rock dan dance serta lirik yg mudah diterima rupanya formula yg ampuh untuk membawa karya2 mereka senantiasa laris. Album debut mereka tahun 2007 A', Domo. Hajimemashite ("Oh, halo. Salam kenal." ^_^) yg gw suka sekali sukses terjual setengah jutaan keping. Album kedua A', Domo. Hisashiburi desu. ("Oh, halo.
Lama tak jumpa." ^0^) yg gw gak terlalu suka, ternyata meledak hingga hampir dua kali jumlah album pertama. Album ketiga pun masih sanggup menyamai prestasi album kedua mereka, dan untungnya lagi, gw menyukai album ketiga GReeeeN ini (idih, siapa gw?).

Shio, Koshou ("Garam, Lada"...ampun deh judul album macam apa ini? ^.^') merangkum cukup banyak lagu (13, track 14 gak gw anggep lagu, cuman teriak2 doang) dan untungnya daya tarik nada2
catchy dan beat2 menyenangkan ala GReeeeN masih kental. Jika dibanding dengan album pertama, album ini cenderung lebih kalem. Kalo dibandingin album kedua (yg memuat superhit "Kiseki") yg menurut penilaian gw terlalu beban sehingga kurang menghibur, gw bilang album ini lebih enjoyable, antara yg irama nya cepet, medium, dan slow porsinya pas. Sebenernya nggak ada sesuatu yg baru yg ditawarkan di album ketiga ini, tapi gimana ya, lagunya enak2 sih. Gw gak bisa menjelaskan dengan deskriptif jelas bagaimana musik GReeeeN ini, tapi yg pasti melodi2nya akan mudah diterima oleh kuping siapapun.

Lagu2 yg gw suka antara lain single2 “Ayumi”, “Setsuna”, “Tobira”, lalu lagu2 baru seperti
“Kuchibue” (my most favorite track of the album), “Itsu Made mo”, “Hallelujah!!”, “Fuyu no Aru Hi no Uta”, “Sora e no Tegami”, dan lagu manis untuk ayah-ibu “Fubo Uta”, tapi bukan berarti lagu2 lain nggak bagus. Semuanya terpadu dengan cukup mulus. Gw merasakan sesuatu yg hilang di album kedua ada di Shio,Koshou, yaitu perasaan malas mengskip lagu. Singkatnya, dari pop ballad sampai disco reggae yg mantap, album ini menawarkan warna yg solid dan nyaman didengar dimanapun dan kapanpun (cieileeh...nggak sih, nggak selebay itu).

Karena kadung udah mendengarkan 2 album mereka sebelumnya, mau nggak mau lama2 kesan pengulangan muncul juga. Nada2nya mulai keliatan “ke situ-situ aja”. Tapi untungnya GReeeeN
masih pintar meramu musik mereka sehingga tidak terlalu membosankan. Begitu pintar sampe gw gak mau tau arti liriknya, nggak musingin sembernya vokal2 mereka, bahkan udah nggak peduli lagi sama kepenasaranan bagaimana tampang asli mereka. Lagunya enak2. Titik. Itu sangat cukup untuk membuat album ini layak didengarkan dari awal hingga akhir. Tidak seimpresif album pertama, tapi kualitasnya nggak jauh kok dari situ.


My score:
7,5/10



GReeeeN


Previews

Ayumi


Setsuna


Haruka



Jumat, 20 November 2009

[Album] Superfly - Box Emotions




Superfly - Box Emotions
(2009 - Warner Music Japan)


Tracklist:
01 Alright!!
02 How Do I Survive?

03 Searching
04 My Best Of My Life

05 恋する瞳は美しい
Koisuru Hitomi wa Utsukushii
06 やさしい気持ちで Yasashii Kimochi de
07 Bad Girl
08 アイデンティティの行方 Identity no Yukue
09 誕生 Tanjou
10 See You

11 春のまぼろし
Haru no Maboroshi
12 Hanky Panky

13 愛に抱かれて Ai ni Dakarete


Superfly adalah nama proyek musik asal Jepang bernuansa pop, rock n roll, soul tahun 60-70an. Tadinya anggotanya ada 2, tapi sejak single ke-3 mereka pada tahun 2007 hingga sekarang "anggota tetap"-nya cuman sang vokalis manis, Shiho Ochi. Yg satunya lagi, gitaris Koichi Tabo hanya di belakang layar bersama musisi pendukung lainnya.


Tahun 2008 ketika gw masih sangat "aktif di dunia per-J-Pop-an" sebagai seorang pendengar, bagi gw Superfly adalah artis/penyanyi/band/apapun
yg sangat menjanjikan. Lagu bagus, musik asik, dan vokal yg bisa lembut enak dan kuat lancar secara bersamaan, yg gak gw sangka bisa ditemukan dalam diri seseorang yg berkewarganegaraan Jepang. Album debut self-titled nya pun gw kasih full 5 bintang (jaman friendster gw masih pake bintang) karena sangat, sangat enjoyable. Untungnya konsumen Jepang pun kira2 sependapat sehingga album Superfly itu sempet 2 minggu nangkring di puncak ranking album Oricon maupun Billboard Japan. Kecenderungannya adalah, kalo karya terdahulunya sukses dan disukai, maka karya selanjutnya, bagaimanapun kualitasnya, pasti akan sukses juga. Memang benar, album Box Emotions pun bisa dapet no. 1 di ranking mingguan, tapi sepertinya belum bisa menyamai album pertamanya yg nyaris sempurna itu.

Formulanya hampir mirip dengan album pertamanya. Ada 13
track yg berusaha menjadi mesin waktu ke era flower generation, hentakan drum dan distorsi gitar rock pun digelar tanpa malu-malu sebagai pendukung tembakan suara Shiho dalam lagu2 yg umumnya berirama cepat. It's not bad actually. Tapi setelah mendengar album ini beberapa kali sampe abis, gw ngerasa Superfly dalam Box Emotions terlalu emosi. Setiap lagunya masih terbilang enak2, tapi itu kalau didengar satu per satu secara lepas, bukan berkelanjutan. Baik instrumen maupun vokalnya terlalu digeber dengan tensi tinggi, beat-beatnya hampir seragam. Ini mungkin akan terasa exciting dalam konser, tapi dalam sebuah album rekaman, rasanya jadi repetitif. Jika dibandingkan dengan album pertama yg lagu2nya lebih berkarakter, lagu2 di Box Emotions sulit dikenali yg satu dari yg lain. Jadi mungkin permasalahan terletak di urutan lagu...mungkin. Gw hanya bisa menikmati bener 5 lagu pertama dan 3 lagu terakhir, karena susunannya enak.

Sekali lagi, lagu2 dalam Box Emotions sebenernya enak2.
Yg gw suka terutama single "My Best of My Life" yg nuansanya mirip "Ai wo Komete Hanataba wo" di album pertama, lalu "How Do I Survive?" yg hentakannya asik, "Koisuru Hitomi wa Utsukushii" yg bisa buat disko, "Haru no Maboroshi" yg tempo nya agak tenang, "Hanky Panky" yg exciting, dan lagu slow ballad "Ai ni Dakarete" dimana range vokal Shiho dipamerkan dengan anggunnya. Sisanya adalah lagu2 yg seperti gw gambarkan sebelumnya, bagus2 tapi agak ngotot.

Jadi kesimpulannya, Superfly sebagai artis masih menjanjikan, tapi sayang Box Emotions kurang berhasil membuat gw terhibur tuntas.



my score
7/10



Superfly


Previews

How Do I Survive?



My Best of My Life (live in Fuji TV's "our music 6")..love it



Alright!!


Koisuru Hitomi wa Utsukushii


Yasashii Kimochi de





Minggu, 08 November 2009

[Movie] This Is It (2009)


This Is It
(2009 - Columbia Pictures)

Directed by Kenny Ortega
Produced by Paul Gongeware, Randy Philips, Kenny Ortega
Featuring: Michael Jackson, the crew, the band, the dancers, the background vocalists etc.



Gw gak pernah review film dokumenter (karena emang jarang banget nonton, terakhir Farenheit 9/11), apalagi film pertunjukan alias konser. Michael Jackson's This Is It adalah gabungan keduanya. Ia dokumenter yg memberi informasi mengenai tur konser
comeback Michael Jackson yg sedianya dimulai di London bulan Juli 2009, semacam behind-the-scene lah. Ia juga sekaligus konser yg difilmkan, dan gw menikmatinya sebagaimana gw menikmati setiap menyaksikan DVD konser band favorit gw ASIAN KUNG-FU GENERATION atau Linkin Park....hanya saja This Is It minus penonton di venuenya, karena semua performance direkam di sesi latihan untuk tur This Is It yg batal digelar itu—bagi yg nggak ngeh, Michael Jackson udah keburu meninggal 25 Juni 2009, udah mepet banget padahal sama jadwal turnya.

Sekadar latar belakang, gw bukanlah macam orang yg akan teriak2 "I love you, Michael!!" sambil nangis2 (lalu dibalas dengan suara lembut MJ: "I love you more." ^_^') setiap MJ tampil, apalagi sampe meniru gaya2nya. Michael Jackson memang terkenal banget, buanget selama beberapa dekade dengan mungkin jutaan penggemar fanatik, saking terkenalnya banyak yg familiar sama
gimmick2 khasnya (contoh: "I-hi!"), sampe sering gw denger rumor kalo dia pake kuasa setan atau apapun itu, konyol. Gw cuman suka Michael Jackson sebagaimana gw suka musisi2 lainnya yaitu karena karyanya, tapi gw akan selalu kepincut ketika nonton performa MJ, entah kenapa. Dalam This Is It, gw dipuaskan dengan MJ membawakan beberapa hits favorit seperti "Billie Jean", "Smooth Criminal", "Black or White", "Beat It", "They Don't Care About Us", "I Just Can't Stop Loving You" dan my personal favourite "Man In The Mirror"—tapi cuman bentar, dan beberapa lagu lainnya ("Thriller"? ada dong, rencananya pake 3D lagi!) dan tak ketinggalan koreografi yg bikin geleng2 kepala...semuanya ditampilkan masih dalam tahap latihan dan sound-check, dirangkai juga dengan pemaparan konsep (dalam sketsa animasi komputer), proses kreatif, styuting film2 pendukung pertunjukan yg keren abis, audisi dancer, kesaksian orang2 tentang bekerja sama dengan MJ, pokoknya persiapan2 apa yg akan ditampilkan di panggung untuk setiap lagu, plus pake ada salah2 lagi karena kadang MJ merasa ada yg kurang pas sehingga harus diulang ("this is why we do practice" hahaha), bahkan diana lupa loh lirik lagu "I Want You Back".

Tapi apa kesan yg bisa ditangkap dari sekedar dokumentasi latihan2?
Truthfully, sebagus sebuah konser betulan (mungkin juga didukung gw nonton di baris kedua dari paling depan hahaha). Hei, ini Michael Jackson, the King of Pop, panutan hampir semua artis top dari Justin Timberlake sampe Agnes Monica (atau Ressa Herlambang ??) sampe Rain. Ini yg original! Di usia yg paruh baya (nggak keliatan sih, thanks to those nip/tuck things. Tapi tetep gw berpikir "aduh plis jangan close-up ke mukanya"..sereum euy), MJ masih punya energi dan tampak siap untuk menghibur penggemarnya. Kita bisa melihat kesungguhan hati MJ untuk memberikan yg terbaik bagi separuh penduduk bumi ini yg udah kangen sama penampilannya-nya setelah sekian taun untuk alasan yg hanya dia dan Tuhan yg tau absen melakukan apapun sebagai seorang artis. Mulai dari aransemen musik, koreografi sampe efek2 panggung, MJ ingin semuanya terbaik dan sesuai dengan yg ingin disaksikan fans (dan "do it with love. L-O-V-E, love. God bless you" hoho). Alhasil, meski baru latihan dan eksekusi konsepnya belum 100%, fellas, I enjoyed it very much. Untungnya, konser ini tanpa gemuruh penonton sehingga kita bisa menikmati performa MJ secara tenang, tapi sebagai gantinya yg terjadi adalah penonton di bioskoplah yg tepuk tangan beberapa kali setiap lagu usai, termasuk gw! (ini beneran loh), malah mungkin ikutan nyanyi.

Gw membaca dan mendengar pendapat bahwa film ini "orang yg bukan penggemar MJ mungkin nggak suka." Buat gw itu nggak sepenuhnya benar. Mungkin lebih tepatnya "orang yg bukan penggemar MJ akan mengerti mengapa dia adalah
entertainer (bukan "entertain" ya, tapi "entertainer") yg paling dikenal dan digandrungi di seluruh dunia" melalui film ini, karena gw yakin sebagaimana ia bisa menggalang penggemar di setiap benua, MJ juga pasti bisa menyihir orang2 "awam" lainnya. Meski Michael Jackson's This Is It bukan konser yg sesungguhnya, he was still awesome, gimana coba kalo konsernya bener2 jadi. Silakan telan pemberitaan aneh2 mengenai dia di media (yg memang aneh), tapi sebagai seorang artis, Michael Jackson adalah Michael Jackson yg takkan terganti. Btw, nonton beginian di bioskop asik juga ternyata.


my score
8/10


NB: "Setlist" di film This Is It dari Wikipedia: (nggak sebanyak ini sich, ada yg nggak satu lagu penuh)


1. "Wanna Be Startin' Somethin'"

2. "Speechless"

3. "Bad"

4. "Smooth Criminal

5. "The Way You Make Me Feel

6. "Jam (with snippet of Another Part Of Me)"

7. "Mind Is The Magic"

8. "They Don't Care About Us" (with snippets of "HIStory", "She Drives Me Wild" "Why You Wanna Trip On Me and Bad")

9."Human Nature"

10. "I Want You Back"

11. "The Love You Save"

12. "I'll Be There"

13. "Shake Your Body (Down to the Ground)"

14. "I Just Can't Stop Loving You"

15. "Thriller" (with snippets of "Ghosts" and "Threatened")

16. "Who Is It"

17. "Beat It"

18. "Black Or White"

19. "Earth Song"

20. "Billie Jean"

21. "Man In The Mirror"

22. "This Is It" (played during the credits)

23. "Heal The World" (live audio played during the credits)


Minggu, 01 November 2009

[Movie] 9 (2009)


9
(2009 - Focus Features)


Directed by Shane Acker

Screenplay by Pamela Pettler

Story by Shane Acker

Produced by Tim Burton, Timur Bekmambetov, Jim Lenley, Dana Ginsburg, Jinko Gotoh

Cast: Elijah Wood, Christopher Plummer, Jennifer Connelly, John C. Reilly, Martin Landau, Crispin Glover



Focus Features adalah studio yg selama ini mengedarkan film2 yg disebut-sebut "arthouse", "sidestream" atau istilah gampangnya: mudah dijauhi orang, misalnya Lost In Translation,The Pianist dan Eternal Sunshine Of The Spotless Mind. Pokoknya yg temanya beda dan cenderung tidak populer meskipun secara mutu rata2 jauh dari memalukan. Kecenderungan ini pun masih kerasa ketika Focus masuk ke bidang animasi. Awal tahun ini mereka nelurin Coraline yg memang bagus kualitasnya, dan kali ini 9 (baca: nine, tapi kalo mau bilang songo atau salapan ya terserah sih), film animasi CGI hadir dengan tema yg sama gelapnya serta sama-sama bukan tontonan anak2.


9 adalah versi panjang dari film animasi pendek nomine Oscar berjudul sama. Kisahnya tentang seorang (?) boneka karung kecil bernomor punggung 9 (Elijah Wood) yg terbangun di sebuah laboratorium ketika manusia sudah tidak ada lagi, kiamat. Dengan rasa penasaran, 9 menjelajah kota yg sudah porak-poranda, lalu dia bertemu dengan makhluk seperti dirinya, bernomor punggung 2 (Martin Landau). Dengan demikian, 9 tahu bahwa di tidak sendirian. Tapi tiba2 datang makhluk robot berbentuk tengkorak anjing yg menyerang mereka, dan kemudian berhasil menangkap 2. 9 kemudian diselamatkan oleh 5 (John C. Reilly) di sebuah gereja, dimana dia bertemu yang lainnya, termasuk yang jadi pemimpin, 1 (Christopher Plummer). Di sanalah 9 tahu bahwa boneka2 karung ini ada sembilan biji, namun ada juga yg terpencar-pencar. 9 pun gerah pada kenyataan bahwa 1 tidak berniat menyelamatkan 2, padahal dia teman mereka (karena memang 2 dibawa ke tempat yg berbahaya). Tanpa menunggu terlalu lama, 9 pun nekad mengajak 5 untuk pergi ketempat 2 ditangkap. Mereka berhasil dengan usaha mengalahkan si robot tengkorak dengan bantuan si jagoan 7 (Jennifer Connelly). Namun, 9 yg ternyata membawa sebuah benda penting (semacam batere), menemukan tempat yg pas untuk memasang benda itu, karena penasaran, dipasang deh...tanpa disangka, 9 telah membangunkan sebuah mesin besar nan hebat, yg bisa membuat mesin2 lainnya, bahkan menyerap nyawa 2 sehingga tubuh bonekanya tidak hidup lagi. 9, 5 dan 7 berhasil menyelamatkan diri, mencari tahu apa sebenarnya mesin itu, dan meyakinkan rekan2 yg lain untuk bisa menghentikan mesin itu. Masalahnya, kesembilan boneka ini tidaklah akur, apalagi 1 yg lebih memilih menghindar, dan lagipula, mesin supercerdas itu mengincar setiap nyawa boneka karung itu dengan berbagai cara. Buat apa gerangan? Dan pertanyaan yg lebih besar, kok bisa ada boneka2 karung yg bisa jalan2 dan ngomong?


Technically
, langsung aja gw bilang, film 9 punya konsep visual yg original. Meski suram dan dunianya luluh lantak, tapi semuanya bagus aja diliat dan berbeda dari yg pernah ada. Dihiasi adegan2 action yg cukup seru, sound yg oke, dan terutama animasi yg mantep. Dari segi tema memang sama dengan Terminator atau The Matrix, tentang manusia yg kalah dikuasai mesin ciptaannya sendiri, bedanya tidak ada makhluk manusia di sini. Film ini berhasil membangun karakater2 yg mudah dikenali (selain desain yg unik2), terutama karena sifat2 1 sampe 9 berbeda satu sama lain. 9 adalah yg paling muda, paling berani, dan paling inisiatif dalam bertindak, bertolak belakang dengan 1 yg merasa sebagai pemimpin, berpengalaman, sangat hati2 dan cenderung keras kepala. 2 adalah semacam ilmuwan dengan semangat seperti 9 versi tua, lalu 5 adalah seorang penolong dan cenderung bersikap ragu2, 6 agak mistis dan berada di dunianya sendiri, 7 yg punya skill fisik tinggi dan nggak neko-neko, kemudian ada 8 yg bertubuh tinggi besar tapi kayaknya otaknya kecil banget. Mnurut gw sih yg paling lucu si kembar peneliti bisu, 3 dan 4, setiap kemunculan mereka bikin sedikit seger setelah sepanjang film suasananya redup selalu. Jalan ceritanya mudah diikuti, memanfaatkan waktu kira2 80 menit saja dengan baik, awalnya agak lambat tapi lama2 cukup exciting kok, dan ketika kita kira ceritanya udah bakal kelar, ternyata masih ada lagi. 9 sebenarnya punya bekal lengkap sebagai film yg baik.

Ceritanya sendiri agak berat di balik plot
good vs evil dan karakter menarik di permukaan. Dialognya terbilang sedikit, sedikit tapi berat. Tadinya sih gw gak ngeh, tapi temen gw yg nonton bareng malah langsung merasa nonton film ini kayak belajar filsafat terutama kepada bagaimana manusia (atau apapun itu) punya rasa keingintahuan begitu besar, bahkan ingin menyamai penciptanya, hingga pada akhirnya membawa malapetaka. Hmm, buat gw bagian ini agak tersembunyi, nggak sejelas film2 Pixar misalnya. Well, mungkin gw harus nonton lagi karena memang gw kurang peka sama hal2 begituan kalo cuman nonton sekali. Tapi memang banyak yg bisa digali dari film ini, mungkin termasuk soal nilai tanggung jawab dan pengorbanan. Yg justru gw langsung tanggap adalah mengenai jati diri kesembilan boneka ini. Akan sangat spoiler kalo gw beberkan di sini, tapi intinya ada hubungannya dengan "purpose of life". Awalnya 9 nggak tau apa2, lalu ke level ceroboh, kemudian belajar untuk jadi lebih bijak, dan akhirnya, menemukan pencerahan. Know who you are and you'll know what to do. Mantap.

Secara keseluruhan 9 adalah film yg menarik dan sebenarnya tidak membosankan. Hanya saja nilai
entertainment nya nggak terlalu muncul akibat mood-nya yg memang kelam (dan serius), humornya minim, bahkan keterikatan emosi dengan penonton (gw) pun kayaknya nggak terlalu berasa. Apakah film ini wajib tonton? Hmm, bisa dibilang sangat nggak rugi kalo nonton, tapi nggak nonton pun no problem sih. Yang jelas, animasi dan karakterisasi nya pantas ditengok.


My score:
7/10

Sabtu, 31 Oktober 2009

[Movie] Ruma Maida (2009)


Ruma Maida

(2009 - Lamp Pictures/Karuna Pictures)


Directed by Teddy Soeriaatmadja

Written by Ayu Utami

Produced by Doddy M. Husna

Cast: Atiqah Hasiholan, Yama Carlos, Frans Tumbuan, Hengky Solaeman, Davina Veronica Hariadi, Nino Fernandez, Imelda Soraya, Verdy Solaiman, Wulan Guritno


Film Ruma Maida adalah film nasional yg entah pake pelet apa, seakan-akan memanggil gw bagaikan patung kucing pemanggil di toko2 emas untuk menontonnya dengan tidak berat hati. Faktor poster yg bagus dan ide yg menarik dan berbeda mungkin jadi pertimbangan awal. Lalu ada sutradara Teddy Soeriaatmadja yg berdasarkan resumenya yg pernah gw tonton, gemar menampilkan gambar2 yg bagus, dan naskahnya ditulis oleh sastrawan sastrawati (?) muda Ayu Utami, penulis antara lain novel2 yg menjadi buah bibir blantika sastra nasional, Saman dan Larung--gw gak pernah baca karya2nya, sebagaimana gw emang nggak gemar baca, tapi konon beliau cenderung punya pemikiran yg menarik, sampe salah seorang temen gw pengen kawin sama dia karena merasa soulmate hihihi (you know who you are v ^_^ ). Akhirnya, gw ke bioskop pulang kerja, sendirian, nonton Ruma Maia di Bekasi (fyi, ini bukan semacam film yg akan laku di Bekasi, lain cerita kalo horor atau komedi jorok). Hasilnya? Not bad, actually.

Jakarta, 1998. Maida (Atiqah Hasiholan) adalah mahasiswi jurusan Sejarah tingkat akhir, namun menghabiskan banyak waktunya mengajar anak2 jalanan di sebuah rumah kolonial tua yg tak berpenghuni. Rumah itu bukan rumah sembarangan, karena berdasarkan pengakuan 3 manula dari orkes keroncong, rumah itu tempat tinggal dari seorang komponis indo yg bernama Ishak Pahing (Nino Fernandez), pencipta sebuah lagu berjudul "Pulau Tenggara" yg menginspirasi Soekarno membuat gerakan non-blok. Akhirnya, Maida langsung mendapat pencerahan dan menjadikan sejarah Ishak Pahing sebagai topik skirpsinya. Namun, suatu hari datang orang2 yg mengaku ditugaskan oleh pemilik rumah untuk mengosongkan rumah tua tersebut, untuk dialihfungsikan menjadi pertokoan. Maida bertatap muka dengan sang arsitek, Sakera (Yama Carlos) dan menuntut mempertemukannya dengan sang pemilik, yg belakangan diketahui bernama Dasaad Muchlisin (Frans Tumbuan) yg keukeuh mau merombak lahan rumah itu menjadi lebih modern, meskipun Sakera maunya sih desain aslinya masih sebagian dipertahankan. Maida barengan Sakera pun mencari cara supaya meyakinkan Dasaad agar bangunan itu tetap berdiri dengan mencari nilai sejarah rumah itu, yah skalian cari bahan skripsi kali ye. Lalu dari sini kita disuguhkan juga benih cinta antara Maida dan Sakera, lalu secara selang seling ada juga flashback mengenai kisah mengenai Ishak Pahing (not history, but his story), kisah cintanya dengan vokalis orkes keroncong Sumpah Pemuda asuhannya, Nani Kuddus (Imelda Soraya), juga cinta segitiga dirinya dan sang istri dengan mata-mata Jepang, Maruyama (Verdi Solaiman). Lalu apa yg sebenarnya terjadi sehingga rumah Ishak Pahing kini terbengkalai? Yang pasti kisah2 di tersebut diusahakan bersinggungan dengan peristiwa2 sejarah bangsa kita, semacam "the other side of the story" meskipun fiksi--Ishak Pahing dan apapun yg berhubungan dengannya adalah fiksi, tapi tetep gw pernah coba nge-google, bego beut yak T-T'.

Gw cukup bingung untuk mengungkapkan apa sebenarnya inti film ini. Menurut gw sih benang merahnya udah gw ceritain di atas, dan maksudnya jelas bahkan tersurat: Jas Merah=jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tapi film ini nggak cuma tentang itu. Gw merasakan ada beberapa muatan dari ceritanya. Di sini kita lihat 3 pihak yg berbeda sikap soal rumah itu: Maida jelas nggak mau rumah itu diapa-apain karena punya nilai sejarah, lalu ada Sakera yg ditugaskan untuk mengubah fungsi bangunan itu, tapi masih ingin mempertahankan desain2 yang ada, dan Dasaad si self-declared tidak suka sejarah yg ingin merubuhkan rumah itu menjadi bangunan baru. Pro, ragu2, dan kontra. Aren't they one of us? Film ini juga mengangkat isu pendidikan, tapi lebih berkaitan dengan bagaimana memposisikan pendidikan sebagai bagian untuk memajukan bangsa (ceritanya memang nggak difokuskan ke pendidikan anak jalanan, karena mungkin itu sudah bagiannya Laskar Pelangi). Lalu ada beberapa hint mengenai casualties dari peristiwa sejarah, seperti tulisan "pribumi" di rumah2 pasca kerusuhan Mei 1998, dan juga chaos saat kemerdekaan 1945, juga isu2 lain yg menjadi persoalan bangsa ini meski hanya sebatas dialog selintas. Wah, banyak deh bagian2 yg cukup bikin perenungan. Tambah lagi, kita melihat keadaan negeri kita, well, Jakarta setidaknya, dari tingkat paling bawah (anak jalanan) sampe yg paling atas (Dasaad).

Sebagai sebuah karya film, Ruma Maida memang terlihat seperti "film" dengan kelengkapan teknisnya. Gambar2 cantik persembahan sang sutradara masih ada walaupun nggak seperti lukisan layaknya Banyu Biru dan Ruang. Adegan pembukanya keren. Agak mengulang film Ruang, Pak Teddy bikin pembeda dengan memakai gambar sephia di setting masa lampau, cakep, tapi nggak seperti Ruang, yg bagian "masa kini" nya dibuat lebih alami dan cenderung kasar bahkan bergoyang-goyang, mau niru Slumdog Millionaire kali. Kostum dan make-upnya pun terbilang bagus. Sebuah adegan yg gw suka, ketika kita baru tau Maruyama itu mata-mata, dia langung pake baju militer dan menggelar bendera Jepang di temboknya, gw gak tau adegan ini seberapa penting dan perlunya (sama seperti adegan penyiksaan Ishak oleh Maruyama), tapi keren aja diliatnya (^_^'). Pokoknya film ini dibuat dengan effort yg oke...untuk setting masa lalunya. Mungkin terlalu lelah membuat setting masa lalu, tim desain produksinya jadi kedodoran di setting 1998, karena setau gw tahun itu Kijang baru modelnya gak kayak itu, blum ada Vios sbg taksi, TV LCD widescreen blum dilaunching, nggak ada bangunan baru Blok A Tanah Abang, treadmill blum secanggih itu, dan bahkan belum ada rencana pembangunan JALUR BUSWAY! Emang sih hal2 ini agak tricky kecuali ada visual efek yg bisa menghapus itu, tapi tetep aja ganggu, apalagi jalur buswaynya keliatan 2 kali.

Selain itu, film ini lemah di segi casting. Maida memang digambarkan perempuan idealis dan kikuk, tapi Atiqah bagi gw terlihat bingung gerak-geriknya kalo nggak mau disebut over-acting. Yama Carlos lama2 makin mirip Keanu Reeves: tampak bagus di layar asalkan tidak bicara. Blum lagi gw sebut pemeran Soekarno, haduh.......*gak berani bilangnya*. Tapi setidaknya sektor akting diselamatkan oleh oom Frans Tumbuan yg luar biasa (udah bau Citra ^.^'), Hengky Solaeman (sbg Oom Kuan) dan surprisingly, Nino Fernandez. Pemeran anak2nya pun cukup memberi kesegaran tersendiri walaupun porsinya nggak banyak. Yang gw suka juga dari film ini adalah tampilnya detail2 para tokohnya tanpa harus dieksploitasi secara berlebihan. Mungkin emang dasar penulis naskahnya adalah novelis, tiap karakter punya identitas yg riil, punya suku, agama, profesi dsb, sehingga believable dan tidak kartunis, dan itu perlu diberi kredit tersendiri.

Perasaan gw terbelah saat nonton film ini, cerita bagus, teknisnya baik (kecuali yg gw sebut tadi), tapi sayang eksekusinya sedikit tersandung di segi akting, pun penceritaan di tengah2 juga agak kemana-mana (kayaknya interaksi dengan tokoh sejarah nyatanya kebanyakan deh), tapi untungnya dibayar dengan manis di akhir. Jadi, sepertinya gw akan menganggap film ini termasuk kategori "bisa lebih baik lagi". Gw amat sangat menghargai niat baik pembuat film ini, modal ceritanya oke dan punya pesan penting tanpa harus pretensius (sok penting). Apakah kata-kata "Pendidikan itu memerdekakan jiwa" atau "Sejarah itu penting, yang baik kita rayakan, yang buruk kita catat dan jangan sampai terjadi lagi" termasuk menggurui? Nggak ah, ini lebih kepada mengajak, lagian ini bukan hal yg baru. Tapi mnurut gw, Ruma Maida punya satu lagi pesan penting yg tersirat di bagian akhir dan hampir nggak keliatan: tanpa tahu sejarah, kita tidak punya jati diri. Agree.


My score: 7,5/10



NB: Mau tanya dong, apakah toga wisuda Jurusan Sejarah UI tahun 1998/1999 warnanya kuning dan oranye? Setau gw kalo Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, seperti gw, warnanya kuning dan putih...



Rabu, 28 Oktober 2009

[Movie] The Fall (2008)


The Fall

(2008 – Googly Films/presented by David Fincher and Spike Jonze)

Directed by Tarsem

Screenplay by Dan Gilroy, Nico Soultanakis, Tarsem
Based on the 1981 Bulgarian film "Yo Ho Ho" written by Valeri Petrov

Produced by Tarsem

Cast: Lee Pace, Catinca Untaru, Justine Waddell, Robert France.



Lama banget setelah salah satu temen gw merekomendasikan, dan setelah gw liat trailernya, akhirnya gw menonton film The Fall, skalian tes mutu DVD keluaran Jive Collection yg harganya Rp59 ribu (ternyata nggak seburuk yg gw kira, tapi tetep aja teknisnya agak kurang). The Fall adalah karya ke-2 sutradara kelahiran India, Tarsem (di imdb.com: Tarsem Singh) setelah film The Cell-nya Jennifer Lopez tahun 2000 (pernah nonton sedikit di TV tapi ketiduran pas iklan hihihi). Kelar taun 2006, tanpa ada perusahaan film yg sudi mencolek untuk sekadar distribusi, The Fall malang melintang (a.k.a. luntang lantung) di festival2 film dunia, dan akhirnya dirilis di bioskop umum tahun 2008 (di Indonesia di jaringan Blitz Megaplex skitar bulan Mei). Yg menjanjikan dari pak Tarsem, sebagaimana The Cell, adalah suguhan desain dan gambar nan fantastis. Lagipula, film ambisius yg murni pake duit Tarsem sendiri ini (dikumpulkan dari "profesi utama"-nya sebagai pembuat iklan dan video musik, kasian ya)—thus called "independent", mengambil lokasi syuting di seluruh dunia, literally.

The Fall berkisah tentang hubungan unik seorang anak imigran Rumania umur 5 tahun yg kerja di kebun jeruk (bukan kebon jeruk ya), Alexandria (Catinca Untaru) yg tangannya patah habis jatuh di kebun, dan Roy (Lee Pace), seorang stuntman film yg habis kecelakaan pas syuting dan kakinya lumpuh. Mereka berdua dirawat di sebuah rumah sakit di Los Angeles (imdb.com bilang mungkin sekitar taun 1920-an) dimana mereka dipertemukan. Pada pertemuan pertama mereka, setelah tau nama si anak perempuan itu, Roy berkisah mengenai Alexander Yang Agung, asal nama Alexandria. Alexandria tertarik dengan dongeng Roy, dan Roy pun mengundangnya kembali ke bangsalnya untuk bercerita sebuah kisah epik. Maka persahabatan mereka dibangun melalui dongeng yg dibuat Roy, serta imajinasi visual dari Alexandria yg juga turut menambahkan beberapa aspek dalam dongeng tersebut, termasuk gambaran tokoh2nya yg adalah orang2 yg dikenalnya. Dongengnya sendiri mengenai 5 (plus 1) orang hebat (yg kemudian salah satu tokohnya, Bandit adalah paralel Roy yg sama2 nggak bisa berenang) dari berbagai latar belakang tapi bertujuan satu: membunuh gubernur Odious yg jahat. Petualangan seru plus kisah cinta dan tragedi, serta gambaran "curhat" Roy mewarnai dongeng ini. Namun seejuatinya, Roy punya maksud tertentu dibalik sikap manisnya sama Alexandria, dia pengen diambilin morfin (kalo Alexandria bilang morphin3 ^_^') biar bisa "tidur nyenyak". Alexandria yg polos dan tulus pun mau aja, agar dongeng mereka bisa lanjut, sampai suatu saat imajinasi dan kepolosannya itu berakibat fatal.

Gw nonton film ini 2 kali, dan sepertinya memang harus gitu caranya untuk menikmati film indah ini. Pada kali pertama, meski dengan kualitas gambar DVD yg kurang halus, gw terpaku pada visualnya yg anjr*t top banget, para penggemar fotografi pasti bakal gregetan deh. Asal tau aja, untuk mendapat setting dongengnya yg memang antah-berantah, Tarsem tidak lari ke kantor visual efek, tapi langsung ke kantor2 pariwisata di berbagai belahan dunia untuk minta izin syuting di tempat2 yg bisa ditangkap kamera dengan indahnya. Bagaikan art directionnya sudah disediakan oleh Tuhan dan nenek moyang kita (bangunan dan situs alami nya sebagian termasuk UNESCO World Heritage) dan dimanfaatkan dengan sangat, sangat baik oleh angle-angle ajaib Tarsem (he has the eyes for these stuffs), karena adegan2 luar ruangan—termasuk sawah terasering Bali dan padang pasir oranye yg ada di Afrika—adalah memang asli, dan istana2nya sebagian besar adalah bangunan2 pariwisata bersejarah di India. Yup, termasuk "kolam" bertangga-tangga segitiga itu. Ditambah desain kostum yg out of this world dan masih banyak adegan2 yg akan panjang kalo diceritain di sini, Tarsem sukses menciptakan dunia dongeng tanpa harus keluar dari bumi. Bravo!!



Kali kedua gw nonton, gw memang udah nge-set untuk fokus sama ceritanya, karena jujur ceritanya tidaklah mudah dicerna sekali makan. Ternyata film ini punya beberapa detil tersembunyi yg lucu juga untuk diketahui, bahkan judul "the fall" pun punya makna yg beragam—Alexandria jatuh dari pohon, Roy jatuh dari jembatan, Alexandria jatuh ke "tipu daya" Roy dan dunia khayalannya sendiri, Roy jatuh mentalnya karena pengkhianatan cinta, dan ada jatuh satu lagi yg gak akan gw bilang di sini hehehe. Visualisasi dongeng adalah dari imajinasi Alexandria, ketauan dari adanya kertas pesan dan peta bolong2 seperti kertas pesan yg dimiliknya, kotak barang berharga yg persis miliknya juga, dan dia juga salah mengira "an Indian" (suku asli Amerika) adalah seseorang dari India. Detail lain yg cukup subtle antara lain, ketika Alexandria berbuat sesuatu yg nggak sesuai harapan Roy, Roy langsung memunculkan tragedi dalam kisahnya. Pun ketika Alexandria menggambarkan sang Putri kekasih Bandit adalah perawat/nurse Evelyn (Justine Waddell), dan karena emang dirawat di RS Katolik (oh ya, ini juga bukan set, tapi bangunan beneran di Afrika Selatan), Roy kira Evelyn itu seorang suster/biarawati (nggak papah, di Indonesia sampe sekarang masih rancu kok). Lalu bagaimana Roy menggambarkan kisah cintanya yg pupus gara2 si cewek lebih milih si aktor utama ketimbang dirinya yg cuman stuntman—jadi salah satu alasan pengen bunuh diri, patut diperhatikan juga. Dan satu lagi, adalah ketika di bagian akhir, Alexandria menuntut agar Roy mengakhiri dongengnya. Roy hanya bisa memikirkan akhir yg tragis (a.k.a. yg paling gampang kan?), tapi Alexandria juga merasa memiliki dongeng ini dan dia mau agar berakhir bahagia, adegan ini sebenarnya adalah obrolan heart to heart kedua orang ini.


The Fall sukses sebagai sebuah film karena menyeimbangkan visual dongeng dan kedalaman cerita di dunia nyata. Tanpa visual efek berlebihan, toh dunia fantasinya mengagumkan. Dan tanpa aktor terkenal, toh di dunia nyatanya, adegan2nya dibuat believable, apalagi interaksi si Alexandria yg aslinya (si Catinca itu) gak bisa bahasa Inggris ini dengan Roy dibuat senatural mungkin, nggak palsu. Sayang ceritanya kelewat subtle—bedakan dengan mengabaikan yah—dan mungkin puitis, jadinya kurang berasa langsung ke gw, mungkin memang musti nonton lebih dari 1 kali (dan gw dengan senang hati bersedia, ini bukan film jelek). Tapi okelah, pemanjaan mata habis-habisan mungkin sangat cukup untuk mengangkat nilai film ini. Beberapa adegan favorit gw adalah tari kecak penunjuk arah di Candi Gunung Kawi (of course), adegan pernikahan yg dikelilingi tarian memutar kaum Sufi, Otta si ksatria berkulit hitam yg jatuh tapi ditopang puluhan panah di punggungnya (oops), dan adegan sumur bertangga segitiga, plus adegan klimaks yg selang-seling antara dongeng dan realita, hehe. Boleh dibilang, meski keuntungan finansialnya diragukan, pengorbanan Tarsem dalam "memperjuangkan" The Fall tidaklah sia-sia bila ditilik (aih..ditiliiik) sebagai sebuah karya seni.

Amanah yg bisa diambil dari film ini: life goes on, man, nggak usah lebay dah! ^m^'


My score: 7,5/10


Beberapa dari konon 18 negara lokasi syuting film ini (kayaknya ada sebagian yg cuman 1 detik munculnya hehehe) http://en.wikipedia.org/wiki/The_Fall_%282008_film%29 atau http://www.imdb.com/title/tt0460791/locations




Selasa, 20 Oktober 2009

[Movie] Inglourious Basterds (2009)


Inglourious Basterds

(2009 – Universal/The Weinstein Company)

Written & Directed by Quentin Tarantino
Produced by Lawrence Bender

Cast: Brad Pitt, Mélanie Laurent, Christoph Waltz, Eli Roth, Michael Fassbender, Diane Kruger, Til Schweiger, Daniel Brühl



Setelah sekian minggu, gw akhirnya masuk lagi ke bioskop, dan keluar dengan sangat puaaas. Inglourious Basterds adalah karya terbaru dari Quentin Tarantino. Sekali lagi: Quentin Tarantino. Nama ini perlu gw ulang dengan maksud menekankan bahwa beliau bukanlah Steven Spielberg yang sangat lurus gayanya, bukan pula Michael Bay yg maunya gila dan hingar bingar tapi tanpa tujuan. Meskipun gw baru menonton 2 biji karyanya—Kill Bill Vol. 1 dan 2, eh itu itungannya satu apa dua yah?— terlihat sekali Quentin Tarantino (sebut 3 kali ^o^) ini berlatar belakang penonton dan pencinta film sejati, bahkan konon film2 kampungan kelas B pun disukainya. Selain kerap meniru aspek2 dari film lain (halo? Film samurai, film yakuza, film kung-fu, anime, film koboi, semua ada di Kill Bill,
right?), ia juga paham betul apa yg harus diperbuat agar penonton tidak bosan tanpa mengabaikan ide yang ingin disampaikan, tak terkecuali di Inglourious Basterds ini—kenapa ejaannya kayak gini gw juga nggak paham, mungkin ini ejaan yg bisa dibaca orang Jerman?

Kini Pak Tarantino bermain-main dengan tema Nazi dan Yahudi di masa Perang Dunia II, tepatnya di masa pendudukan Nazi di Prancis, yg diklaim bergaya film "spaghetti Western" atau koboi2an brutal yg dibuat orang2 Itali (contohnya film The Good,The Bad,The Ugly yg dibintangi Clint Eastwood...info dari imdb.com hoho). Dalam bentuk
chapter-chapter yg paralel mirip Kill Bill, cerita Inglourious Basterds mengalir di 2 jalur yg menuju ke satu muara di akhir. Pertama adalah mengenai Shosanna Dreyfus (Mélanie Laurent). Ia lolos dari pembantaian yg dipimpin oleh Kolonel Hans Landa (Christoph Waltz, dengan performa yg luar biasa) terhadap keluarganya yg sembunyi di sebuah rumah petani Prancis. Beberapa tahun kemudian, Shosanna punya identitas samaran Emmanuelle Mimieux, bule pemilik sebuah bioskop di Paris. Dengan rangkaian kejadian tak terduga, Shosanna punya kesempatan membalaskan dendamnya kepada Nazi ketika bioskopnya terpilih sebagai tempat pemutaran perdana film propaganda Nazi dalam pekan film Jerman di Paris, yg bakal dipenuhi oleh petinggi2 Nazi, termasuk Kolonel Landa.

Kisah kedua adalah misi rahasia nan penuh dendam dari pasukan Amerika pimpinan Sersan Aldo Raine (Brad Pitt) bernama The Basterds. The Basterds terdiri atas sekelompok pria Yahudi (plus seorang Jerman
psycho yg hobi membunuh perwira Nazi) yang dilatih militer dengan tujuan menghabisi setiap orang berafiliasi Nazi yg mereka temui, dan mengumpulkan kulit kepalanya (hoeek). They really did. Aksi mereka sangat brutal tanpa ampun (in somewhat cruel yet hillarious way) sehingga reputasi mereka pun sampai di telinga sang führer Hitler, yang pengen The Basterds segera dibasmi. Suatu ketika The Basterds diberi misi bersama agen dari Inggris, Letnan Archie Hicox (Michael Fassbender) dan aktris Jerman sekaligus agen ganda untuk Inggris, Bridget von Hammersmark (Diane Kruger) untuk "panen" kepala2 Nazi yg akan menghadiri tayang perdana pekan film Jerman di Paris. Masalahnya, The Basterds bukanlah pasukan yg pandai menyamar (^_^').

Kisah di atas mungkin akan dianggap satu lagi film pelampiasan dendam kaum Yahudi sama Nazi, sebagaimana mungkin ratusan film lain yg bernada sama. Tapi, lagi2, ini filmnya Quentin Tarantino, yg sepertinya mengerti apa artinya potong pinggir (
cutting edge ihihihi). Film ini jelas fiksi dari awal sampe akhir, yg historicaly accurate palingan cuman settingnya. Tarantino bercerita lewat 5 bab yg dapat berdiri sendiri namun punya benang merah—sudah gw usahakan rangkum di atas—dan tiap chapternya punya sesuatu yg menarik. Polanya mirip: ada sedikit cerita latar belakang, lalu ngobrol ngalor ngidul ngulon ngwetan (tapi sebenernya tetep menarik untuk disimak), lalu sebelum penonton (=gw) bosan, ketegangan langsung dibangun dan disambung aksi yg dibuat cepat (nan kejam berdarah) dan tak terduga. Humor nyelekit yg bikin nyengir tak pernah absen dari perilaku tokoh2nya, plus ada tulisan penunjuk nama tokoh, subtitle yg kadang gak konsisten (orangnya ngomong bhs Prancis "Merci", subtitlenya yg harusnya bhs Inggris tulisannya "Merci" juga, piye toh? ^o^'), juga intercut footage2 "keterangan" yg agak norak itu (perkenalan tokoh, dan penjelasan mengena film 35 mm yg mudah terbakar haha). Selain itu, Tarantino masih suka mengesyut hal2 kecil secara perlahan seperti berdandan, nyalain pipa, memotong makanan, menaruh krim dsb dengan sangat cantik. Satu lagi, beliau juga menggunakan perbedaan bahasa dengan sangat brilian, orang Jerman ngomong Jerman, orang Prancis ngomong Prancis, The Basterds ngomong Inggris. Kalau berpindah bahasa, pasti ada maksudnya. QT is in to details for sure.

Dengan gaya pengarahan Tarantino yg unik juga, para aktor diberi ruang yg sangat leluasa untuk mengerahkan seluruh kemampuannya. Gw berharap setidaknya salah satu aktor saja di film ini patut dipertimbangkan untuk mendapatkan penghargaan, terutama Christoph Waltz yg
hands down sukses abeis memerankan Kolonel Landa yg cerdas, menyebalkan, licik dan pandai berkomunikasi—dalam bahasa apapun heuheuheu—sekaligus intimidatif (eh, di udah menang deing Best Male Performance di Cannes kmaren dalam film ini, congrats!). Brad Pitt, Mélanie Laurent (pernah main di film Taiwan setting Singapur, Rice Rhapsody, yg diputer jutaan kali di Celestial Movie Channel), bahkan Diane Kruger juga membuktikan akting mereka dengan maksimal. Oh ya, Hitler digambarkan komikal di sini, kocak dah ^0^.

Agak segan untuk bilang film ini "bagus" sebagai rekomendasi kepada orang lain. Ini semacam film yg harus ditonton dulu dengan mata kepala sendiri untuk memutuskan suka atau tidak. "Bagus" itu standarnya apa? Apakah yg plotnya mudah dimengerti (berfokus pada benang merah selalu)? Dialog yg ringkas dan
straight to the point? Karakter yang menyenangkan? Atau mumpung berlatar belakang Perang Dunia, adegan perang yg spektakuler? Maap aja, bagi yg mengharapkan hal2 itu di film ini pasti bakal kecewa. Kecenderungannya bercerita kemana-mana mungkin akan bikin kesal dalang Parto di Opera Van Java (hihihi). Atau yg bagus itu justru yg penuh drama, alurnya rumit dengan dialog terlalu serius dan bahasa tingkat tinggi? Lagi2 maap, ini juga bukan film seperti itu. Inglourious Basterds (dan kemungkinan besar film2 Tarantino lainnya) punya standar sendiri yg rancu kalo harus dibandingkan dengan film2 lain. Dan meskipun terkesan bikin film seenak udel, Pak QT sendiri sepertinya bisa membaca mood penonton filmnya: ketika saat nonton kita udah hampir bilang "aduh, bose--eh?", tiba2 ditebus lewat cara yg unexpected. Pun dari segi penokohan berhasil dibangun dengan sangat kuat. Jadi kalo dibilang film ini "jelek" pun rasanya janggal.

Gw tidak merasa fanatik Tarantino, tapi yg pasti gw bisa bilang film2 dia, termasuk Inglourious Basterds ini, setidaknya merupakan pengalaman berkesan. Apalagi, adegan klimaks Inglourious Basterds sangat
thrilling to the max, nendang banget! Gw juga melihat ada yang rada puitis--bocoran sedikit: Shosanna eventually had the last laugh. Inglourious Basterds adalah film yg bagus (dan gw suka) sebagaimana adanya: beda, entertaining, nggak perlu mikir banget (hanya perlu ikutin aja kemana jalannya cerita), tetap artistik sekaligus norak (musiknya dong, hehehe), kejam, satir (dialognya, gw paling suka waktu Bridget bilang "Do you Americans speak any other language besides English?" Gotcha! ^0^'), dan tidak punya maksud tersembunyi. Nggak ada tendensi untuk menebar simpati sama kaum Yahudi, karena film ini hanya dibuat sebagai karya seni yg menghibur dengan caranya yg aneh unik, just because he can. Quentin Tarantino (total gw nyebut nama ini 5 kali, blum termasuk panggilan lainnya ^.^) is definitely sedeng and not your typical filmmaker. Even the end credits ran rather quick. Jadi filmnya bagus atau nggak? Taauk dah. Yang jelas, kalo mau nonton, tonton sampe abis yah. Harus!



My score:
8,5/10
(yeah,
just because I can! -_- v)


NB: Ada Mike Myers cameo jadi petinggi militer Inggris yg ngebrief Lt. Hicox, logatnya bagus deh.


Senin, 19 Oktober 2009

[Movie] Gran Torino (2008)


Gran Torino
(2008 – Warner Bros.)


Directed by Clint Eastwood

Screenplay by Nick Schenk

Story by Dave Johannson, Nick Schenk

Produced by Clint Eastwood, Bill Gerber, Robert Lorenz

Cast: Clint Eastwood, Bee Vang, Christopher Carley, Ahney Her, John Carroll Lynch



Marathon VCD sewaan gw (silahkan liat 3 postingan sebelumnya) ditutup dengan menonton film yg konon terakhir kalinya kita akan melihat Clint Eastwood sebagai aktor. Meskipun begitu, Gran Torino nyatanya menjadi “kenang2an” akting Clint Eastwood yg jempolan, dan membuktikan bahwa jika nggak jadi aktor pun beliau akan tetap
survive sebagai sutradara film2 berkualitas. Ih, padahal gw tadinya gak suka lho film2 yg diarahkan Clint Eastwood sebelumnya, karena endingnya nyelekit bikin depresi dan alurnya lamaaaaa banget macem Mystic River dan Million Dollar Baby. Anggapan itu berubah waktu gw nonton Letters From Iwo Jima yg digarap apik (dan endingnya nggak terlalu bikin depresi), dan Gran Torino ini pun bikin gw sama sekali nggak membenci kakek timurkayu ini.

Film Gran Torino tidaklah segahar judulnya—yg adalah jenis mobil klasik yg masih banyak diincar orang krn nilai pretisenya. Film ini mengisahkan Walt Kowalski (Clint Eastwood), seorang veteran perang Korea, sepeninggal istrinya. Walt bukanlah orang yg menyenangkan, hubungannya dengan kedua putranya yg masing2 sudah berkeluarga pun tidak bisa dibilang dekat. Sebelum wafat, istrinya juga "menitipkan" sang suami pada pastur Janovich (Christopher Carley) yg masih muda, yg penasaran dengan kekerasan hati Walt. Di lain pihak, kompleks rumahnya (di Detroit, Massachusets, kota asalnya Eminem kalo nggak salah) kini jadi lingkungan komunitas etnis Hmong bermukim (suku yg aslinya di China selatan, Vietnam, Myanmar, Thailand dkk). Tak hanya itu, geng2 brandalan merajalela di sana.

Tetangga sebelah Walt pun adalah keluarga Hmong, dan suatu hari Walt menangkap basah anak laki2 tetangganya itu mau mencuri mobil Gran Torino miliknya. Anak laki2 itu bernama Thao (Bee Vang), dan dia sering diintimidasi sepupunya yg anggota geng. Ketika terjadi keributan antara Thao dan keluarga vs gang sepupunya yg sampe menginjak halaman rumah Walt, Walt turun tangan dan mengusir anak2 sok bandel itu. Perbuatan itu dianggap heroik sehinga Walt mau tak mau menerima beragam bentuk tanda terima kasih dari komunitas Hmong, plus kakak Thao, Sue (Ahney Her), menyuruh adiknya kerja apa aja deh sama Walt sebagai bentuk balas jasa sekaligus hukuman. Walt tadinya enggan, tapi lama2 hubungannya dengan Thao juga Sue menjadi dekat—sama Thao kayak anak, kalo sama Sue kayak tmen ngobrol yg klop. Thao yg tadinya gak punya tujuan hidup yg pasti (mnurut Sue, kalo perempuan Hmong-Amerika banyak yg masuk kuliah, yg laki2 banyak masuk penjara ^_^), dari Walt belajar banyak mengenai keterampilan teknik dan konstruksi —karena kalo tetangga minta perbaikin apa sama Walt, malah si Thao yg disuruh hehehe, bahkan berhasil mendapatkan kerja jadi pekerja konstruksi (a.k.a. kuli bangunan, tapi klo di Amerika kesannya agak lebih elit yah?) dari kenalan Walt, selain bagaimana menjadi bagian dari masyarakat dan juga cara menghadapi cewek yg ditaksir ^.^'. Tapi perkembangan menggembirakan ini tidak menghilangkan gangguan dari anak2 geng. Thao masih saja diincar, hanya saja kini ia punya Walt yg ternyata mau melindunginya dengan caranya sendiri. Tapi apakah itu baik, mengingat anak2 geng ini adalah orang2 nekad?


Jalan cerita film Gran Torino dibangun lewat kejadian sehari-hari, mungkin agak terkesan lambat, tapi bagi gw nggak mboseni (mungkin istilahnya:
captivating). Rasanya enak aja melihat Walt yg sesepuh keras kepala dan dingin mulai mencair ketika mengenal lebih dekat tetangganya, juga serasa mengembalikan sifat “keayahannya” lagi ketika Thao hadir di hidupnya. Ia tidak terlalu bangga dengan anak2nya sendiri, tapi ia merasa berharga ketika membantu Thao. Kecuali dialog Walt dan si pastur yg terlalu filosofis mengenai hidup dan mati selepas kematian si nyonya, apa yg ditampilkan di film ini mengalir baik dan menyentuh. Perubahan diri Walt sangat mengundang simpati, dan simpati kita terhadap orang2 di sekitar Walt terutama Thao dan Sue pun tak terhindarkan, apalagi ketika “sesuatu” terjadi pada mereka *oops*, waduh, gw jadinya sama marahnya kayak Walt. Salut buat penulis naskah dan kakek Clint sebagai sutradaranya yang membuat kisah yang kuat, membumi dan tidak basi ini. Gw mau menekankan sesuatu soal endingnya dengan berusaha tidak meng-spoil banyak2, bahwa adegannya agak “bikin depresi”, tapi dengan ending “demikian” di saat yg bersamaan Walt telah berbuat sesuatu yang besar buat Thao, Sue, bahkan lingkungannya. See for yourself, it’s beautiful T—T.

Secara teknis filmnya nggak terlalu istimewa, bahkan kesan artistik pun tampaknya agak absen—atau jangan2 pengaruh nonton di VCD yg notabene formatnya fullscreen. Sinematografi dan tata artistiknya tampak apa adanya (bukan pas2an yah), mungkin agar kesannya sederhana dan lebih
believable. Music scorenya pun minim. Letak kualitas film ini memang terletak pada cerita, alur penceritaan dan akting Clint Eastwood. Pemeran Thao, Sue dan orang2 Hmong lainnya bisa dibilang kaku, maklum hampir semuanya bukanlah aktor betulan dan ini film pertama mereka, but that's okay. Film ini juga sedikit membuka wawasan gw bahwa ternyata ada etnis yg bernama Hmong yg jadi sekutu Amerika waktu perang Vietnam, lalu untuk menghindari pengusiran/pembasmian etnis (karena Amerika kalah, tentu saja) beberapa dari mereka diungsikan ke Amerika dan sampai kini membentuk komunitas etnis Hmong terbesar di luar benua Asia. Secara keseluruhan, Gran Torino adalah film bagus yg sekaligus menjadi “grand exit” bagi karir akting Clint Eastwood, serta menawarkan inspirasi agar manusia tidak menyia-nyiakan hidupnya dengan menjadi berarti bagi orang lain. Malahan, di film ini amanah tersebut bagi gw lebih mengena daripada film Up yg punya pesan serupa, jelas minus rumah terbang. Worth to watch.


My score:
8/10


Minggu, 18 Oktober 2009

[Movie] Taken (2008)


Taken
(2008 – EuropaCorp)


Directed by Pierre Morel

Written by Luc Besson, Robert Mark Kamen

Produced by Luc Besson

Cast: Liam Neeson, Maggie Grace, Famke Janssen, Olivier Rabourdin, Xander Berkeley



Entah datang dari mana, Taken pelan2 menjadi salah satu film yg sukses selama setahun lebih di seluruh dunia. Taken adalah film produksi Prancis dengan maksud dan tujuan sbagai konsumsi internasional dengan cara memakai aktor non-Prancis dan dialog berbahasa Inggris, terima kasih kepada nama yg sudah sering melakukan hal semacam itu, Luc Besson (sutradara The Fifth Element dan produser Leon/The Professional, 3 seri The Transporter, serta Kiss of the Dragon nya Jet Li). Peredarannya di dunia pun sangat bersahaja dengan cara bergiliran. Di bioskop Prancis tayang sekitar Februari 2008, di Indonesia sendiri (di jaringan Blitz Megaplex) skitar bulan Juli 2008, di AS malah Januari 2009 dan tak dinyana menjadi salah satu film pertama di 2009 yg pendapatannya tembus 100 juta dolar AS! Demi kepenasaranan gw atas prestasinya, Taken menjadi salah satu pilihan VCD yg gw sewa untuk ditonton marathon barengan Garuda di Dadaku, Coraline, dan Gran Torino kira2 seminggu sebelum tulisan ini terbit.


Cerita Taken sebenernya biasa saja, klasik. Bryan Mills (Liam Neeson) adalah mantan agen CIA yg sedang berusaha mempererat tali kasih dengan putri remajanya, Kim (Maggie Grace) yg kini tinggal di Los Angeles bersama mantan istrinya, Lenore (Famke Janssen) dan suami barunya, Stuart (Xander Berkeley) yg kaya raya. Suatu hari Kim minta persetujuan sang ayah agar bisa liburan sambil mengunjugi berbagai museum di Paris bareng temannya, Amanda (Katie Cassidy)—katanya di sana tinggal di apartemen sodara, jadi gak sendirian. Bryan khawatir dong, anaknya baru genap 17 taun udah jalan2 ke luar negeri tanpa pengawasan orang dewasa. Dicap “parno amat sih loe” sama mantan istrinya, dan Kim yg minta2 sambil mewek, Bryan pun mengizinkan. Namun, yg dikhawatirkan Bryan terjadi juga. Kim hanya berdua dan apartemen sodaranya Amanda ternyata lagi kosong. Tak hanya itu, tiba2 apartemen Paris itu dimasuki orang2 asing yg membawa paksa Amanda dan akhirnya Kim. Untungnya Kim sebelum diculik sedang menelepon Bryan sehingga dengan cara yg keren, Bryan punya petunjuk awal bagaimana cara utk menemukan putrinya. Bryan bergegas ke Paris dan menelusuri jejak putrinya yg telah diculik berkat sisa2
skill nya sebagai agen misi rahasia, yg ternyata membawanya pada seluk beluk gangster Albania dan penjualan perempuan di Paris. Tapi kali ini ia bertindak bukan untuk tugas negara, ini urusan pribadi, dan Bryan tidak akan sungkan untuk menghabisi si pelaku maupun siapapun yg menghalangi demi mendapatkan putrinya kembali dengan selamat.

Harapan untuk mendapatkan tembak2an, berantem2an, kejar2an dan ketegangan seperti film2 spionase macam trilogi Bourne atau Mission:Impossible, ada banget. Eksekusinya mungkin tidak spektakuler, tapi nggak cupu. Akan tetapi, nilai plus dari film ini terletak pada oom Liam Neeson yg bisa menyeimbangkan kekuatan akting dengan kemampuan
action (sesuatu yg tidak bisa dilakukannya di Star Wars Episode I, hehe). Sejak awal gw udah diajak simpati abis sama si bapak ini, apalagi melihat bahwa kemampuan spionase (seakan-akan) masih 100% mantap. Dengan motivasi utamanya adalah urusan pribadi, rasa2nya penonton bisa memaklumi apapun yg dilakukan oleh Bryan Mills, termasuk interogasi+penyiksaan kepada tersangka penculik, sampai menyerempet lengan istri Jean-Claude (Olivier Rabourdin), inspektur polisi Prancis kenalannya, dengan peluru!( gw shock waktu liat adegan ini), dan oom Liam sukses berat membawakan karakternya. Lewat alur yg sebenernya gak ribet atau terlalu gimanaa gitu, Taken ternyata dipoles cukup oke dengan unsur drama dan beberapa adegan aksi yg lumayan menegangkan (tapi kalo di VCD soundnya loyo banget).

Kekurangan? Selain bahwa jalan ceritanya serta sinematografinya terbilang standar, tak terkecuali pas adegan penutupnya (
B-movie banget deh), sebenernya film ini terbilang aman. Tidak istimewa, tapi sama sekali tidak jelek. Detail2 yg nggak masuk akal mungkin agak mengusik, dari Bryan Mills yg tampak terlalu jago (Roger Ebert malah bilang, kalo semua agen CIA kayak Bryan Mills, Al Qaeda udah pasti dibasmi dari kapan tau), bagaimana bisa dia bisa bawa senjata banyak ke negara orang padahal dia tidak datang atas nama negara, sampai dia masuk ke “sarang penyamun” ganster Albania di Paris dengan bahasa Inggris namun tidak dicurigai (?), tapi dengan jika ditonton dengan toleransi tinggi (ini bukan Hollywood), Taken rupanya lumayan enak dinikmati. It won’t hurt to watch.


My score:
6,5/10