Kamis, 16 Mei 2013

[Movie] Star Trek Into Darkness (2013)


Star Trek Into Darkness
(2013 - Paramount)

Directed by J.J. Abrams
Screenplay by Roberto Orci, Alex Kurtzman, Damon Lindelof
Based on the television series "Star Trek" created by Gene Roddenberry
Produced by J.J. Abrams, Bryan Burk, Damon Lindelof, Alex Kurtzman, Roberto Orci
Cast: Chris Pine, Zachary Quinto, Benedict Cumberbatch, Zoe Saldana, Alice Eve, Karl Urban, Simon Pegg, John Cho, Anton Yelchin, Peter Weller, Bruce Greenwood, Leonard Nimoy


Star Trek perlu perkenalan lagi gak ya? Perlu ya? Nggak usah deh =p. Well, bagi generasi gw yang pernah melewati masa ketika saluran televisi cuma ada empat dan tidak dua puluh empat jam, "Star Trek" adalah salah satu tontonan impor yang sukses mengisi waktu santai bersama keluarga. I was just a casual viewer, gw gak bisa dibilang menggemari apalagi mengaku sebagai Trekkie, nggak pernah juga nonton satu pun versi layar lebar dari serial aslinya, tapi nggak benci juga. Palingan gw cuma tahu konsep dan beberapa karakter...lalu sisanya lupa, hehe. Anak-anak generasi sekarang yang udah tahu iPhone, iPad, dan film-filmnya Michael Bay pun kalau disuruh nonton "Star Trek" lama pasti bakal menilai serial fiksi ilmiah berlatar antariksa ini cupu dan mbosenin, dan nggak realistis *ciee tau deh yang udah pinter*. Mungkin untuk itulah mengapa Paramount membuat penyegaran dengan film Star Trek (2009) yang disutradarai J.J. Abrams, yang sukses menggaet penonton masa kini yang lebih suka hingar bingar dan haha-hihi—contohnya gw =p, sekaligus respek terhadap materi aslinya. 

Respek bagaimana maksudnya? Ya karena Star Trek 2009 bukan merombak yang lama, melainkan melanjutkan konsep semesta "Star Trek" yang sebagian besar merupakan "peragaan" dari teori-teori ilmiah ini. Meskipun sebuah reboot, Star Trek 2009 juga masih "lanjutan" kisah aslinya. Kalau sudah nonton, maka Anda akan tahu bahwa Star Trek 2009 adalah alternate universe dari kisah-kisah "Star Trek" yang sudah ada. Artinya, semesta utama tetap dibiarkan ada, "sudah terjadi", kontinuitasnya tidak diganggu. Sedangkan Star Trek 2009 ini jadi beda karena pihak-pihak tertentu, yang berasal dari semesta utama *ups* telah mengubah sejarah, dan mengubah segalanya jadi berbeda dari yang seharusnya. Karakter-karakternya sama, tetapi karena persitiwa itu—yang melibatkan black hole dan time-travel, jalan hidup setiap orang berubah. Nah, dari segi kreatif, Abrams dan tim pun dengan ini bisa mengembangkan kelanjutan kisah Kapten Kirk dkk ini dengan lebih leluasa.

Lalu apakah mereka langsung semena-mena dalam bikin cerita? Star Trek Into Darkness membuktikan, tidaklah demikian. Rupanya, perkenalan tokoh-tokoh—yang ditata dengan brilian—di Star Trek 2009 belumlah "selesai". Into Darkness memperdalam itu, utamanya Kapten Kirk (Chris Pine) dan Mr. Spock (Zachary Quinto). Bertugas dalam misi yang sama di kapal Enterprise bukan berarti mereka langsung sepikiran seia sekata. Kirk yang masih slengean dan emosional (dan kekurangan sosok ayah sejak lahir) terus bertabrakan dengan Spock, blasteran Vulcan-manusia, yang taat peraturan dan mengandalkan logika. Terlepas dari plot yang awalnya kayak-biasa-lalu-berbalik-jadi-agak-ribet-tapi-nggak-ngagetin-amat, menurut gw inti Into Darkness adalah kembali pada Kirk dan Spock. Bagaimana kemudian kedua watak berbeda ini menyatu dan betul-betul jadi rekan seperjuangan tidak terjadi begitu saja, ada proses pematangan karakter di sini. Ada Kirk yang kemudian berusaha jadi "bener" dan meraih status pemimpin yang sejati (setelah sebelumnya banyak "ditolong" oleh keadaan =)), dan ada Spock yang terus digedor sisi kemanusiaannya yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Segala tembak-tembakan, kejar-kejaran, humor-humor, intrik-intrik politik, kehadiran villain yang impossibly tangguh, rupanya hanyalah "alat" untuk—pake istilah Paskibraka—menggembleng tokoh-tokoh kita sebelum akhirnya terbukti benar-benar pantas mengemban misi panjang menjelajahi semesta raya. 

Star Trek Into Darkness mungkin tidak memiliki plot terpintar, but they definitely have a clever USE of it. Dasar mas J.J., inti utama itu lagi-lagi dibalut dalam sebuah persembahan yang begitu asyik dan "melarang" mata ini kelayapan ke mana-mana. Usahanya membuat seri Star Trek lebih seru kembali dilanjutkan bahkan lebih lagi. Gw malah lebih ingat momen-momen laga di Into Darkness dibanding sebelumnya. Sekalipun rada generik, kejar-kejaran di Planet Nibiru dengan hutan merahnya, baku tembak di Kronos (planetnya bangsa Klingon), space-diving, hingga baku hantam di atas truk sampah terbang begitu seru. Desain produksinya apik, sinematografinya tetap konsisten dengan warna-warna cerah, musiknya mantap (gw suka sama theme-nya John Harrison), dan dilengkapi dengan efek visual yang lebih jempolan lagi. Dari indera penglihatan dan pendengaran, film ini bisa dibilang setingkat di atas pendahulunya, apalagi kalau disaksikan dalam format IMAX (karena beberapa adegan memang ditangkap pakai kamera IMAX). Dua jam lebih dikit nggak terasa lama saking dipenuhi dengan keseruan audio visual yang fun dan thrilling, juga karena pacing-nya terjaga baik. Terlebih lagi, semua itu digunakan bukan supaya keren aja, tetapi ada fungsinya, seperti gw bahas sebelumnya.

Pengen seragamnya dah...

Emphasize film terhadap karakter-karakternya pun disambut baik oleh performa setiap aktor yang terlibat di dalamnya. Ketika dibutuhkan untuk lebih emosional, maka cast lama seperti Pine, Quinto, Karl Urban, Zoe Saldana, John Cho, Anton Yelchin, Bruce Greenwood, dan still my favorite Simon Pegg mengerjakannya dengan sangat baik, hubungan antar tokoh pun terlihat makin erat. Chemistry Pine dan Quinto semakin kompak, bahkan mungkin para penikmat yaoi sudah bisa langsung bikin fan-fiction mereka ciuman, dasar ngeres. Demikian pula okenya penampilan aktor Peter Weller sebagai Laksamana Marcus yang kehadirannya signifikan, tetapi tentu saja yang paling menarik perhatian adalah penampilan teatrikal nan meyakinkan dari Benedict Cumberbatch sebagai John Harisson yang manipulatif. However, they all blended perfectly. Seperti film sebelumnya, tidak ada yang lebih unggul dari yang lain, semua pemainnya mantep dalam perannya. Palingan cuma Alice Eve sebagai Dr. Carol yang cenderung biasa aktingnya, tapi nggak jelek juga.

Dan jangan salah, detil-detil yang (mungkin) lebih menarik para Trekkies tentang "itu apa ini apa kok bisa gini kok bisa gitu" juga tetap dihadirkan dengan tidak terlalu membingungkan, seperti prinsip-prinsip korps Starfleet, permesinan pesawat Enterprise, apa hubungan shield pesawat dengan transporter, sistem gravitasi di pesawat, tentang bangsa Klingon...wait, gw merasa sedang di-Star-Trek-isasi nih sama film ini, haha. Anyway, mungkin itulah yang jadi keberhasilan film-film Star Trek versi J.J. Abrams ini, yakni merangkul non-fans untuk masuk ke dalam dunia "Star Trek" yang penuh wonder dengan cara yang menghibur dan lebih universal, nggak ekslusif tetapi masih menyematkan detil-detil khas Star Trek yang membuatnya berbeda dari film-film petualangan fiksi-ilmiah lainnya (toh katanya mas J.J. juga lebih nge-fan sama Star Wars...eh dianya skarang lagi siap-siap bikin Star Wars episode VII =|).

Jadi di manakah letak Star Trek Into Darkness di mata gw, berhubung Star Trek 2009 adalah salah satu film favorit gw yang udah gw tonton lebih kurang 7 kali? Let's just say, Into Darkness sama bagusnya dengan Star Trek 2009, sedikit pembeda adalah yang 2009 lebih cerah ceria, lebih fun, sedangkan Into Darkness lebih pol action-nya, jadi lebih fun *lho*. Gw puas sama dua-duanya, dan ditonton berapa kali pun tidak bosan. Toh kedua film ini adalah sebuah rangkaian yang solid mengenai karakter-karakternya. Star Trek 2009 adalah introduction yang sangat baik, sedangkan Into Darkness mengembangkannya dengan sangat baik pula. Keduanya jadi paket dasar yang komplet sebelum menuju petualangan-petualangan yang lebih besar di kemudian hari. Dengan pengokohan di penokohan, maka gw pun siap ikutan petualangan mereka selanjutnya dengan senang hati...ke tempat-tempat yang belum pernah dijamah manusia *eaaa*.




My score: 8/10

Selasa, 14 Mei 2013

Nonton di Gading XXI IMAX (3D): Star Trek Into Darkness

Yuhu, perasaan baru kemarin deh, sekarang kita udah bahas lagi yang namanya teater IMAX. Abisnya, IMAX dan konconya si grup 21/XXI telah membuka lagi teater IMAX komersial baru di Jakarta. Dari Gandaria City Mall di Jakarta Selatan kita menuju Utara agak ke Timur, ke salah satu kompleks perbelanjaan terbesar dan paling disayangi penduduk Jakarta, Mal Kelapa Gading, tepatnya di atap gedung Mal Kelapa Gading 2...tapi masuknya musti dari Gading XXI jadi itungannya masuk Mal Kelapa Gading 3 *ribet* *mal aja bersekuel*.

Puji Tuhan semesta alam, selain karena berada di mal yang bisa dibilang terfavorit gw (karena toko/resto kesenangan gw hampir semua ada di situ, dan kalo ke sana nggak ada peer-pressure harus berpakaian indah kayak di mal-mal horangkayah daerah Pusat/Selatan =p), letak teater IMAX baru ini lebih dekat dan lebih nggak ngerepotin dari rumah gw di Bekasi dibandingkan kakaknya di Gandaria City. Itu mah subjektif ya. Tapi ternyata, dalam berbagai segi, harus diakui bahwa Gading IMAX adalah teater IMAX sejauh ini paling mendekati ideal yang pernah ada di Indonesia.

Gading IMAX baru dibuka tangga 25 April 2013 lalu, bertepatan dengan rilisnya film Iron Man 3 yang juga tersedia dalam format IMAX 3D. Sama seperti pembukaan Gandaria IMAX tahun lalu, gw 'kan agak-agak anti-mainstream gitu ya *ditabok*, jadi nggak langsung coba nonton itu di Gading IMAX. Mengingat harga tiketnya sekitar dua kali harga tiket bioskop reguler dan gw nggak segitu nge-fan-nya sama Iron Man, gw harus selektiflah sama film-film yang gw mau tonton di IMAX. Untungnya, salah satu film yang gw nantikan tahun ini, Star Trek Into Darkness diputar juga dalam format IMAX 3D, dan lebih untung lagi, filmnya bisa ditonton pada pemutaran midnight tanggal 11 Mei 2013, 4 hari sebelum peredaran resminya tanggal 15 Mei. Aseekkk, langsung coba ah bioskop barunya....


Bersama 3 orang teman di larut malam gw pun mulai menjajal si teater baru ini. Tanpa ragu harus dikatakan, Gading IMAX lebih oke daripada Gandaria IMAX. Well, standar layar persegi melengkung dan tata bangku ala stadion (bisa lihat jelas dari posisi mana pun) jelas sudah dipenuhi, tapi ada lagi keunggulan yang lain. Pertama dari jumlah kursinya yang mencapai 539. Angka 500-an adalah jumlah yang sangat besar untuk ukuran bioskop komersial, jadi kemungkinan nggak kebagian tiket bisa diperkecil. Kedua, dan yang terpenting, ukuran layarnya yang quite significantly lebih besar dari Gandaria City IMAX, yakni (diklaim) 24x14 meter (3 meter lebih panjang dan 4 meter lebih tinggi). Ngeliatnya juga jadinya lebih enak dan lebih puas sentosa. 

Secara angka mungkin masih tidak sebesar Teater IMAX Keong Emas, TMII yang layarnya berukuran 28,28 x 21,38 meter (ukuran yang tercatat di Museum Rekor Indonesia sebagai layar bioskop terbesar di Indonesia) dan bisa muat sampe 956 orang, tetapi tentu saja IMAX versi XXI unggul di kenyamanan bangku dan tata suara yang lebih bertanggung jawab, dan bisa 3D. Itu sebabnya gw bilang Gading IMAX itu paling mendekati ideal, ia punya kenyamanan khas XXI, juga punya IMAX sensation yang lebih mufakat dari segi suara, gambar, dan ukuran layarnya. I still wish it was bigger, tetapi gw sudah cukup puas dengan ukuran layar di Gading IMAX ini ketimbang di Gandaria IMAX yang jomplang banget nget sama Keong Emas. Kalau 21/XXI mau bikin teater IMAX lagi, seiogianyalah minimal seperti yang di Gading ini *maunya*.

Gambaran perbandingan ukuran layar IMAX
yang ada di Indonesia sampai tahun 2013

Nah, bagaikan sebuah permainan takdir, film pertama yang gw tonton di Gading IMAX adalah Star Trek Into Darkness, sekuel dari Star Trek yang merupakan film fiksi pertama dalam format IMAX yang gw tonton (dua kali) di Teater IMAX Keong Emas tahun 2009 lalu. Tak cuma film biasa yang di-blow-up sesuai presentasi IMAX beresolusi tinggi, Star Trek Into Darkness ternyata juga dari sononya syuting menggunakan kamera khusus IMAX untuk beberapa adegannya, terutama yang setting-nya di luar ruangan. Konon sih ada total 30-an menit dari 130-an menit durasinya. Sama seperti The Dark Knight Rises versi IMAX, tampilan gambar film ini pun bergantian antara yang widescreen biasa (layar nggak penuh), dengan gambar-gambar IMAX yang memenuhi seluruh layar besarnya. And I got to tell you, gambar-gambar IMAX-nya memang cakep dan jernih, adegan pun jadi terasa lebih nampol dan seru. Banget.

Tetapi bedanya dengan The Dark Knight Rises IMAX, Star Trek Into Darkness versi ini dipresentasikan dalam IMAX 3D. 3D-nya di sini hasil konversi dari gambar 2 dimensi, jadi saat syuting sebenarnya tidak dimaksudkan jadi 3D (beda dengan Prometheus yang disyut pake kamera 3D), sehingga menurut pengamatan gw, efek 3D-nya nggak ngaruh-ngaruh amat, cuma beberapa kali aja yang berasa. Tetapi mengingat adegan-adegan khusus format IMAX-nya saat ini hanya bisa dinikmati memakai kacamata 3D, jadi ya udahlah, tetep oke kok, setimpal sama harga yang dibayar dan usaha penonton untuk dapat menontonnya. Intinya sih, gw lebih merasa wow sama gambar-gambar skala besar khas IMAX-nya ketimbang efek 3D-nya. Lagian, Star Trek Into Darkness sendiri adalah salah satu film yang saking okenya, 3D atau enggaknya udah nggak ngaruh sama kenikmatan menonton, hehe (review-nya di sini).

Poster Star Trek Into Darkness
versi IMAX 3D
Keterangan paling bawah itu
penting!

Kesimpulannya, Gading XXI IMAX ini adalah pengalaman sinema yang musti dicoba oleh para pecinta film. Sejauh ini dari segi harga masih sama dengan Gandaria IMAX, tetapi menurut gw sih lebih worth it...yah kecuali kalau Anda memang berdomisili di bagian Selatan atau Barat Daya Jakarta, cukup ngerepotin sih kalo itu. Setelah di Jakarta Selatan dan Jakarta Utara, katanya juga grup 21/XXI masih akan membuka teater IMAX di beberapa tempat lagi, baik di luar Jakarta maupun di setiap kota administratif DKI Jakarta, kalo gak salah sih total mau bikin 8 lagi. Nah saran aja nih buat IMAX dan 21/XXI: 'kan Jakarta Timur udah ada Keong Emas tuh, gimana kalo bikin di Bekasi aja? *maunya*.


Gading XXI IMAX
Mal Kelapa Gading 3 lt. 3, Jl. Bulevar Kelapa Gading, Kelapa Gading, Jakarta Utara
Harga tiket per orang:
Rp 60.000,- (Senin-Kamis)
Rp 75.000,- (Jumat, hari sebelum tanggal merah)
Rp 100.000,- (Sabtu, Minggu, hari tanggal merah)
Parkir Mobil: Rp 3.000,- per jam
Informasi lengkap http://www.21cineplex.com/imax

Jumat, 10 Mei 2013

[Movie] Iron Man 3 (2013)


Iron Man 3
(2013 - Marvel Studios/Walt Disney)

Directed by Shane Black
Screenplay by Drew Pearce, Shane Black
Based on the comic book by Stan Lee, Don Heck, Larry Lieber, Jack Kirby
Produced by Kevin Feige
Cast: Robert Downey Jr., Gwyneth Paltrow, Don Cheadle, Guy Pearce, Rebecca Hall, Jon Favreau, Ben Kingsley, James Badge Dale, Ty Simpkins, William Sadler, Miguel Ferrer, Stephanie Szostak, Paul Bettany


Karena nggak terlalu gimana gitu sama Iron Man dan Iron Man 2, gw jadinya nggak punya ekspektasi gimana gitu sama Iron Man 3 *terlalu banyak "gimana gitu"*. Dulu sih komplain gw terletak pada tata adegan laga yang kurang menggelegar, tetapi gw masih termasuk suka karena kedua film pertamanya itu punya karakter, selera humor, dan gaya penyutradaraan non-laga yang asyik banget. Kini tiba di Iron Man 3 yang menanggung beban untuk jadi "harus besar", pun tak lagi disutradarai oleh Jon Favreau, melainkan oleh Shane Black, yang baru pernah menyutradarai satu film berjudul Kiss Kiss Bang Bang (dibintangi Robert Downey, Jr. juga) tetapi berpengalaman dalam menulis skenario film-film action macam Lethal Weapon dan The Long Kiss Goodnight. Mungkin ini pertanda bagus dan dapat menambal apa yang kurang di dua film pertama. Or maybe not.

Keadaan mulai menenang pascaperistiwa di The Avengers, tapi Tony Stark (Robert Downey, Jr.) malah semakin sering berkutat pada pengembangan zirah Iron Man-nya, sehingga waktu istirahat ataupun bercengkerama dengan kekasihnya, Pepper Potts (Gwyneth Paltrow) semakin sedikit. Ditambah lagi, ada ancaman dari sesosok teroris eksentrik, The Mandarin (Ben Kingsley) yang meresahkan warga Amerika. Ancaman itu tak main-main, sebuah peristiwa peledakan bioskop Mann's Chinese yang disaksikan ajudan Tony, Happy Hogan (Jon Favreau) yang begitu sulit diselidiki karena tak ada jejak bahan peledaknya, diklaim sebagai salah satu aksi The Mandarin, dan ia mengancam akan melakukan yang lebih besar lagi. Di saat yang sama, kemunculan ilmuan dari AIM, Aldrich Killian (Guy Pearce) dari masa lalu Tony pun memperumit keadaan karena rekayasa gen penyembuhan kerusakan tubuh secara cepat miliknya ditolak oleh Stark Industries—tepatnya oleh Pepper sebagai CEO-nya, karena berpotensi jadi senjata berbahaya. Apakah kedua perkara ini berhubungan? Well, duh, of course.

Cerita yang diangkat Iron Man 3 ini fine-fine aja sebenarnya, yah mungkin agak kurang fresh alias udah lumayan familiar karena pernah ada pola serupa di salah satu installment Spider-Man atau Batman The Dark Knight, tentang pahlawan kita yang harus jatuh banget saking kuatnya musuh dan perlu "retreat" demi membangun motivasi lagi yang lebih kokoh untuk comeback, demikian pula pengungkapan main villain-nya yang pernah juga gw saksikan di Equilibrium. Nothing's really new here, but that's okay. Kisahnya sendiri disampaikan cukup rapi, intrik-intriknya nggak gampangan, hal yang satu dengan yang lain pasti ada hubungannya, dan sebagainya dan sebagainya. Yang jadi masalah gw adalah, tone redup film ini bikin agak nggak nyaman. Ya, nggak apa-apa sih bila di film ketiga ini mau dibikin lebih serius di segala bidang, tetapi menurut gw itu malah bikin fun factor yang gw temukan dari dua film sebelumnya nyaris menguap...lagipula kalau mau dibikin "serius", adanya Extremis (emm...kasih tau gak ya ini apaan? =p) tidaklah mendukung itu. Sorry, dari perkara senjata pemusnah masal di film pertama dan teknologi pesaing Iron Man di film kedua, metode musuh di film ketiga ini agak...errr...I mean, fire-y people? Really? Kurang nakutin ah *belagu*.

Yaudah sih. Nggak masalah kalau memang inti dari film ini bukan soal si musuh dan metodenya melainkan soal titik balik Tony Stark (dikuatkan adegan paling akhir setelah kredit) or...something, cukup tersampaikan kok. Toh meskipun berkurang unsur lucu dan fun-nya, atau setidaknya lucunya tidak dengan cara yang sama dengan versi Jon Favreau, dan kayaknya berkurang juga unsur improvisasi yang membuat dua film pertamanya jadi mengalir asyik, Iron Man 3 masih bisa unggul di adegan-adegan aksi yang lebih spektakuler dan mengundang decak kagum, suatu hal yang tidak gw temukan di pendahulunya. That climax is a killer, add that with the Stark house attack and skydiving scenes, awesomeness! Efek visualnya lebih jagoan, akting pemainnya pun nggak ada yang mengecewakan. Gampangnya, Iron Man 3 tetaplah sebuah film hiburan yang cukup berhasil. Tapi apakah lebih dari itu? Gw rasa sih enggak. Beda soal kalau ini film perdana tentang Iron Man. Tetapi setelah film Iron Man 1 dan 2 yang lebih "realis" dan lebih asyik pembawaannya, perubahan yang diambil Iron Man 3 ini nggak juga membawa gw untuk lebih lagi menyukai dunia Iron Man. Lebih unggul di satu unsur tapi di unsur lain (yang justru gw suka) malah berkurang, jatuhnya ya sama aja. Entahlah, dari dulu gw emang nggak berjodoh sama Iron Man.




My score: 6/10

Selasa, 07 Mei 2013

[Movie] Kisah 3 Titik (2013)


Kisah 3 Titik
(2013 - Lola Amaria Production/Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI)

Directed by Bobby Prabowo
Written by Charmantha Adjie
Produced by Lola Amaria
Cast: Ririn Ekawati, Maryam Supraba, Lola Amaria, Rangga Djoned, Dimas Hary CSP, Ingrid Widjanarko, Gesata Stella, Donny Alamsyah, Miea Kusuma, Arswendi Nasution, Gary Iskak, Joshua Pandelaki, Haffez Ali, Richa Novisa, Ella Hamid, Ence Bagus, Gia Partawinata


Dengan tema yang diusungnya, Kisah 3 Titik memang sengaja diputar berdekatan dengan Hari Pekerja (1 Mei), yang juga biasa dikenal sebagai hari banyak-banyaknya serikat buruh berunjuk rasa di kota-kota. Tetapi kita tahu sendiri bahwa unjuk rasa buruh itu nggak cuma tiap 1 Mei. Setidaknya setahunan terakhir ini sebagaimana terangkat di media massa nasional, unjuk rasa serikat buruh ini kayak kegiatan dwibulanan, sering banget, bahkan ampe ada yang nutup jalan tol segala. Isu yang sering diangkat adalah soal kenaikan upah dan penghapusan sistem outsourcing. Lalu biasanya “dilawan” oleh kaum pengusaha bahwa kenaikan upah dan penghapusan outsourcing artinya kenaikan ongkos produksi, sehingga secara pasif-agresif “mengancam” akan gulung tikar, PHK besar-besaran, atau investor pindah ke negara lain sehingga akan terjadi pengangguran masal di negeri kita ini. Orang yang (terlampau) awam pasti hanya bisa bereaksi “ih apaan sih bikin macet aja deh”, yang sebenarnya sama saja kayak bilang “ya udah terima aja nasib lo” atau “cari aja kerjaan lain napa sih *sambil sruput Starbucks*”, padahal permasalahan sebenarnya lebih besar dari yang kasat mata.

Setidaknya itulah yang coba diangkat dalam film produksi Lola Amaria ini. Lola yang sebelumnya sukses memotret kehidupan buruh migran/TKW Indonesia di Hong Kong dalam Minggu Pagi di Victoria Park, kali ini memotret perihal yang lebih pelik tentang dunia kerja dan berada tepat di tanah air. Beberapa permasalahan tenaga kerja di Indonesia ini diwakili oleh tiga karakter perempuan yang bernama—atau dipanggil—Titik, dalam keadaan lingkungan kerja yang berbeda satu dengan yang lain, namun memiliki tantangan dan permasalahan yang sama-sama pelik. Lumayanlah untuk menjawab keingintahuan tentang duduk perkara di balik—contohnya saja—demo-demo itu.

Titik Sulastri (Ririn Ekawati yang bermain gemilang) adalah janda miskin satu anak yang baru saja ditinggal wafat oleh suaminya dalam keadaan hamil. Tak punya siapa-siapa lagi di ibukota, demi menghidupi keluarga dan mempersiapkan kelahiran, Titik pun kemudian bekerja di sebuah pabrik, dan terpaksa merahasiakan kehamilannya. Namun, kebijakan, peraturan, serta pergaulan di tempat kerja tak menguntungkannya, khususnya sebagai perempuan hamil. Apalagi statusnya hanya sebagai buruh kontrak yang tidak punya tunjangan-tunjangan dan hak-hak layaknya pegawai tetap, libur tanpa digaji pun nggak bisa lama-lama, boro-boro cuti melahirkan. Mulut ember sesama rekannya membuatnya harus menghadapi personalia dan dihadapkan pada pilihan...well, bukan pilihan sih. Kontrak Titik diputus di tengah jalan, dan hanya dapat kembali lagi seandainya masih ada lowongan. (Inilah yang membuat karyawan kontrak/outsource lebih banyak dipakai perusahaan-perusahaan manufaktur ketimbang menerima karyawan tetap: lebih murah dan replacable. Kalau kontraknya habis tinggal cari yang lain atau perpanjang yang sudah ada, bila perlu kontrak terus sampai bertahun-tahun.)

Kisah kedua datang dari Kartika (Maryam Supraba), gadis berperawakan tomboy yang bekerja di pabrik sepatu rumahan. Datang dari latar belakang yang keras dan gelap, Kartika berharap dapat membangun kehidupan baru lewat pekerjaannya yang halal ini. Namun situasi tempat kerjanya begitu mengusiknya ketika perusahaan mem-PHK sejumlah pegawai akibat masalah keuangan, lalu mandornya memberi tugas yang lowong kepada anak-anak SD yang dikoordinir preman. Gimana nggak geram, anak-anak yang sepatutnya sudah ada di jalur yang benar untuk masa depan lebih baik malah dimanfaatkan, bahkan “diracuni” oleh pihak-pihak yang hanya mau ambil untung.

Di sisi yang agak kontras, ada Titik Dewanti (Lola Amaria), pegawai kantor manajemen perusahaan manufaktur yang selama ini merasa telah bekerja keras namun minim apresiasi, akhirnya diangkat sebagai manajer SDM untuk pabrik inner beauty alias pakaian dalam (tempat kerja Titik Sulastri) yang baru diakusisi perusahaan. Lewat jabatan barunya, Titik berusaha membuat penyesuaian regulasi ketenagakerjaan, mulai dari sistem kenaikan upah hingga jaminan sosial, sesuai peraturan pemerintahlah (ciee, titipan nih ye), pun dengan dukungan penelitian di lapangan. Namun apa yang didapat justru penolakan mentah-mentah, bahkan cenderung menindas, baik dari bawahannya maupun manajemen di atasnya, dan justru Titik-lah yang ujung-ujungnya diantagonisir. Ini orang-orang maunya apa sih! *ikutan emosi*

Yup, menyaksikan Kisah 3 Titik ini cukup bikin emosi saking nyatanya keadaan dan permasalahan yang digambarkannya. Pada titik ini—no pun intended—gw harus memuji kejelian dan ketelitian para pembuat film ini terhadap isu yang diusungnya. Permasalahan ketenagakerjaan dalam negeri, dari yang kecil sampai yang besar, dari buruh rendahan hingga manajemen di kantoran, disampaikan dengan komprehensif, lugas, dan nggak mengada-ada, mewakili banget deh (demikian kata seorang teman yang pernah kerja di pabrik). Pengetahuan-pengetahuan tentang buruh kontrak/outsourcing, hierarki kerja, "permainan" kotor, politik kantor, hingga apa pentingnya cuti melahirkan bagi perempuan, disampaikan dengan baik tanpa menggurui. Argumen kesejahteraan versi buruh vs versi pengusaha pun disematkan dengan cukup mudah dipahami, serta menguatkan kelebihan film ini yang melihat dari berbagai, err, titik pandang, tidak hanya pembelaan tak berimbang. Sebagai film yang dapat menambah wawasan, Kisah 3 Titik perlu diberi jempol.

Namun, sebuah film cerita yang baik tak cukup berhenti di menambah wawasan, tentu harus diimbangi dengan unsur naratif yang dapat membawa penonton terlibat di dalamnya. Untungnya, penceritaan film ini cukup memuluskan jalan bagi penonton untuk ikut mengalami apa yang dialami para tokohnya, semua ditampilkan tanpa dramatisasi yang terlampau nghayal. Mungkin yang jadi masalah, sesungguhnya arah penceritaan ketiga kisah ini tidak terlalu konkrit, kalau tidak mau dibilang nggak utuh. Ketiga cerita tampak seperti cuma perkenalan karakter dan lingkungannya, baru mengarah pada permasalahan utama di bagian akhir banget, lalu selesai. Hal ini paling kelihatan dari kisah Kartika yang konflik utamanya agak ketutup sama office romance dengan Anto (Donny Alamsyah), jadi peralihannya agak tiba-tiba. (Terlalu) Banyaknya karakter yang ditampilkan berpengaruh juga kali ya, jadi agak overload gitu, dan gw nggak tahu fungsi penting mereka selain tak lebih dari penegas deskripsi ruang dan sosial saja. Tetapi mungkin inilah visi kreatif film ini. Film ini hanya bercerita, hanya berkisah, serta, dengan akhiran yang ditampilkan, seperti bertanya kepada penonton "now that you know, how do we solve it?". Hanya ada bagian "diketahui" dan "ditanyakan", sedangkan jawabannya harus cari sendiri *berasa ujian IPA*. Jurus yang jitu, membuat film ini bukan cuma sebagai penambah pengetahuan, tetapi juga memancing diskusi, apalagi bagi yang memang berada dalam dunia kerja atau bidang-bidang yang ditunjukkan film ini. Ngerasa banget deh.

Setidaknya misi film ini untuk jadi "filmnya para pekerja" terbilang berhasil. Gw meskipun gak punya pengalaman di sektor manufaktur, tetap bisa mengerti kegelisahan dan motivasi tiap-tiap orang yang ada di sini, termasuk yang tukang jilat dan tukang tikung itu—walau masih heran aja kenapa ada orang-orang "sampe segitunya" pengen survive/naik kariernya, idih. Anyway, secara filmis pun film perdana sutradara Bobby Prabowo ini jauh dari kata jelek. Kemasan penceritaan dan audio visualnya mungkin sekilas tidak istimewa, tetapi masih efektif, terutama dalam hal menunjukkan sudut-sudut kontras kota Jakarta yang menegaskan gambaran realitas yang ada (sekalipun film ini fiksi). Gw juga senang dengan penggambaran tokohnya yang tidak all saints *pasang "Never Ever"* yang bisa dijadikan simbol tentang sulitnya jadi orang "bener" di dunia kerja. Plus gambaran bahwa di mana pun Anda berada, tukang gunjing itu pasti ada. Human nature yang satu itu...




My score: 7/10

Jumat, 03 Mei 2013

[Movie] What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013)


What They Don't Talk About When They Talk About Love
a.k.a. Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta
(2013 - Cinesurya Pictures/Amalina Pictures)

Written & Directed by Mouly Surya
Produced by Rama Adi, Tia Hasibuan, Fauzan Zidni, Ninin Musa
Cast: Karina Salim, Ayushita Nugraha, Nicholas Saputra, Anggun Priambodo, Lupita Jennifer, Jajang C. Noer, Tutie Kirana, Khiva Iskak


Dari segi mana pun, kesan yang terpancar dari What They Don't Talk About When They Talk About Love adalah "wih pasti aneh nih". Judulnya panjang bangeut, pake bahasa enggris, apalagi sebelumnya menjadi film Indonesia pertama yang masuk kompetisi di Festival Film Sundance 2013 di Amerika Serikat—festival film independen terkemuka dunia, kesan "film festival yang sulit dicerna" pun semakin nempel. Honestly, film ini memang bukan tipe crowd-pleasing, butuh kesabaran dan niat tulus untuk menontonnya, bukannya sekadar sebagai selingan. Tetapi jika melesapkan semua kecurigaan dan harapan yang enggak-enggak, film ini sendiri nyatanya sebuah karya yang manis, heartfelt, dan orisinal. Gw malah merasa film ini salah satu yang paling orisinal yang pernah gw tonton. Intinya, film ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, lagipula nggak se-aneh itu kok. Dan gw selanjutnya akan merujuk film ini sebagai "film ini" saja, karena judulnya kepanjangan, dan singkatan resminya (Don't Talk Love/Tidak Bicara Cinta) rasanya kurang mencakup, jadi ya udahlah ya.

Film ini hendak bercerita tentang cinta antar remaja usia SMA di sebuah Sekolah Luar Biasa di Jakarta, dalam hal ini SLB untuk penyandang tunanetra (istilahnya SLB A *abis ngewiki*). Ada Diana (Karina Salim) yang dari keluarga berada mengalami cinta pertamanya dengan teman sekelasnya, Andhika (Anggun Priambodo). Lalu ada Fitri (Ayushita Nugraha, iya, Ayushita yang dulu poninya bentuk lope-lope itu), yang gemar dengan kisah supranatural, menemukan cintanya dengan "hantu dokter", yang sebenarnya adalah manusia bernama Edo (Nicholas Saputra), anak ibu warung dan penghuni lingkungan SLB (Jajang C. Noer). Kedua kisah ini akan biasa banget bila kita melupakan bahwa Diana itu penyandang low-vision—bisa melihat hanya dari jarak deket banget/nempel muka, Andhika dan Fitri penyandang tunanetra total, dan Edo si anak punk tunarungu. Dalam keadaan masing-masing, proses mereka menemukan cinta itu tentu tidak biasa. Bagaimana Diana bisa menarik perhatian Andhika tanpa saling lihat-lihatan dulu? Bagaimana Edo yang tak bisa bicara dan mendengar menyampaikan perasaannya kepada Fitri yang tidak bisa melihat? Penggambaran proses inilah yang bagi gw menjadikan film ini unik, karena gw belum pernah menyaksikan yang seperti ini. Begitu telaten dan detil, dan tetap bikin senyam-senyum saking manisnya.

Dengan setting, karakter, serta fokus penceritaan, sebenarnya gampang saja menangkap apa yang mau disampaikan sutradara dan penulis Mouly Surya lewat film bioskop keduanya sejak Fiksi. (2008) ini. Bahwa meski memiliki kekurangan fungsi fisik, mereka sama kok kayak umumnya remaja, caranya aja yang beda. Mereka punya segala kesukaan dan kemauan, dan labil, hanya saja perlu cara tersendiri untuk menyampaikan dan memenuhinya. Bandel-bandelnya juga nggak jauh beda sama yang anak-anak yang fisiknya berfungsi lengkap. Diana-Andhika adalah contoh cinta monyet paling standar, innocent, pula jenaka, menyaksikan kisah mereka adalah bagian menghibur dalam film ini. Fitri-Edo adalah versi nakalnya, yang digerakkan oleh gejolak nafsu kawula muda, namun tak kalah romantisnya. Keberhasilan film ini bukan untuk mengajak mengasihani keadaan tokohnya, tetapi membawa penonton (setidaknya gw) untuk benar-benar memandang segala sesuatu dari sudut pandang mereka, yang sudah sampai pada tahap nyaman dan santai saja dengan kehidupannya sekalipun fungsi inderanya tidak lengkap.

Memang seakan-akan tokoh-tokoh ini seperti steril dari keadaan sosial lebih luas, hanya berkutat pada lingkungan SLB (ada asramanya) yang fasilitasnya relatif cukup baik, tetapi mungkin memang sejauh itulah dunia mereka di usia ini, belum saatnya mengkhawatirkan hal yang lain-lain. Persentuhan tokoh-tokoh ini dengan dunia luar digambarkan minim, paling hanya diwakili Maya (Lupita Jennifer) si remaja ngartis penggemar rainbow cake yang sering mampir dan ikut kegiatan di SLB, atau Edo yang beli rokok di 7-Eleven, atau pacar Fitri yang sehat-lahir-tapi-batin-belum-tentu (Khiva Iskak) yang kerap memanfaatkan Fitri demi isi celananya. Namun, film ini tidak membahas tentang pembedaan anak-anak penyandang cacat dengan yang bukan, tidak juga bertitikberat pada perlakuan yang mereka dapatkan dari masyarakat. Film ini hanya bicara, emmm, cinta. Sesederhana itu. Ditambah dengan sebuah segmen "what-if" yang jujur agak mengejutkan dan membingungkan, gw malah semakin jelas menangkap bahwa yang ingin disampaikan mbak Mouly ketika membuat kisah cinta antar remaja dengan disabilitas ini adalah penekanan pada cinta remajanya, bukan semata-mata soal disabilitasnya. Artinya—sekalipun tentu menyematkan misi awareness—film ini hanya mau bercerita tentang cinta "biasa" milik anak-anak remaja luar biasa ini, bukan mengeksploitasi dengan haru biru apalagi merendahkan. Tentang kehidupan normal, but different version of normalAnd I think she did it brilliantly.

Konsep dan pengisahan yang brilian itu pun semakin memukau dengan presentasinya yang sangat cantik ciamik joss gandhos. Dengan kisah yang visioner dan orisinal seperti ini, aspek lain pun melengkapi dengan eloknya. Production design-nya terlihat apa adanya namun sangat teliti dan berfungsi, pun tata sinematografinya begitu menggoda iman saking kerennya, bahkan dari shot paling awal dengan angle-angle artistik. Presentasinya visual begitu artsy, melengkapi tata adegannya yang panjang-panjang dan, well, banyak yang akan menganggapnya lamban (contohnya ngitung 70 sampe 100 sambil sisiran tanpa cut =p), jarang dialog pula. Tetapi anehnya gw selalu merasa ada yang menarik untuk disaksikan di layar. Menyaksikan sebuah proses kegiatan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh kita secara seksama itulah yang berhasil membawa gw masuk ke dalam dunia plus jalan pikiran Diana cs. Tambahkanlah itu dengan tata suara yang fungsional, penyuntingan yang nggak nyiksa, musik yang cantik, bahkan pemilihan lagu-lagu soundtrack yang tak sembarang ("Nurlela"-nya Bing Slamet itu highlight), dan tentu saja kunci pentingnya ada di performa aktor yang nyaris tanpa cela. Akting mereka di sini, terutama empat tokoh utama kita, bukan cuma soal memerankan tokoh dengan disabilitas, namun juga penyampaian emosi ala anak-anak remaja yang genuine dan mengundang empati. Perihal ini, predikat istimewa versi gw akan diberikan pada Karina Salim yang innocence-nya begitu believable, dan Nicholas Saputra yang selalu handal dan terpercaya kualitasnya. 

Yah terserah mau dibilang sok nyeni atau apalah, tetapi buat gw film ini adalah film yang luar biasa. Benar, ini sebuah film art, jenis yang kerap "ditakuti" khalayak umum. Penuturan dan kemasannya memang agak lain dari yang lain, tetapi bila mau bersabar, maka efek menyenangkan seusai menontonnya pasti didapat jua. Ini kisah(-kisah) cinta yang manis, dan semakin manis karena film ini memaparkan cara merajut cinta yang sangat jarang terlihat atau terpikirkan oleh sebagian besar orang, yang disampaikan melalui bahasa gambar yang teliti tak banyak omong. Lewat film ini, mbak Mouly membuktikan bahwa kualitas kerjanya di film Fiksi. yang cermat dan "sakit" itu (dan berbuah 4 piala Citra FFI 2008) bukanlah kebetulan, bahkan kalau jujur film ini melebihi ekspektasi gw berdasarkan film tersebut. I thought it was going to be too weird and distant. Gw justru melihat film ini lebih cermat, lebih indah, lebih pas dengan pacing-nya yang slow, dan lebih terasa emosinya lewat caranya membangun tiap-tiap karakter dengan perlahan. Senyum yang tersungging di muka gw di hampir sepanjang film dan sesudahnya adalah buktinya. Film yang unik dan cantik, sekaligus memberi suka hati dengan caranya sendiri. Film istimewa ya kayak gini ini.




My score: 9/10

Selasa, 30 April 2013

[Movie] 9 Summers 10 Autumns (2013)


9 Summers 10 Autumns
(2013 - Angka Fortuna Sinema)

Directed by Ifa Isfansyah
Screenplay by Fajar Nugros, Ifa Isfansyah, Iwan Setyawan
Based on the novel by "9 Summers 10 Autumns: Dari Kota Apel ke the Big Apple" by Iwan Setyawan
Produced by Edwin Nazir, Arya Pradana, Diana Nazir
Cast: Ihsan Tarore, Alex Komang, Dewi Irawan, Agni Pratistha, Dira Sugandi, Hayria Faturrahman, Shafil Hamdi Nawara, Epy Kusnandar, Ence Bagus, Ria Irawan, Ade Irawan


Jaminan mutu sudah tertera pada film 9 Summers 10 Autumns ini. Ada nama-nama aktor sekaliber Alex Komang dan Dewi Irawan, pun ada sutradara Ifa Isfansyah. Well, karya Ifa sebelumnya, Ambilkan Bulan mungkin terlalu "coba-coba" jika dibandingkan film-filmnya yang lebih apik seperti Garuda di Dadaku atau tentu saja Sang Penari, namun mantu Garin Nugroho ini semakin hari semakin layak dipercaya dalam menghasilkan karya berkualitas dan enak ditonton. Yang jadi garapannya kali ini adalah kisah nyata seorang putra dari keluarga sangat sangat sederhana di Batu (tetangganya Malang) yang dalam usia awal 30-an sukses menjabat posisi direktur sebuah perusahaan di New York! Yoih, New York yang itu. Anak sopir angkot dari sebuah daerah yang bahkan banyak orang yang gak yakin letaknya di mana, bisa memimpin sebuah perusahaan multinasional di kota terbesar di dunia. 

Iwan Setyawan (Ihsan Tarore, waktu kecil dimainkan Shafil Hamdi Nawara), atau sering dipanggil Bayek, adalah semacam anak harapan keluarga karena dialah satu-satunya anak laki-laki dari lima anak yang dipunyai Bapak (Alex Komang) dan Ibuk (Dewi Irawan). Walaupun hidup pas-pasan di rumah yang sempit, Iwan termasuk anak cemerlang yang giat belajar, bahkan digambarkan suka dengan pelajaran yang di atas stratanya, terutama hitung-hitungan. Setelah lulus SMA, Iwan berhasil masuk Institut Pertanian Bogor jurusan Statistika lewat jalur PMDK (tanpa tes UMPTN, atau apalah itu istilahnya sekarang), lalu bekerja di perusahaan surveyor di Jakarta hingga akhirnya berhasil lolos untuk bekerja dalam bidang yang sama di New York mulai tahun 2001, dan beberapa tahun kemudian bisa menduduki jabatan tertinggi di sana.

Tentu saja penceritaan nggak cuma segitu doang. Soal kesulitan ekonomi tentu ditunjukkan, tetapi masa kecil Iwan dan posisinya dalam keluarga juga patut disimak. Ia anak yang berprestasi di tengah segala keterbatasan itu (termasuk sifat pemalunya yang banget-banget), dijaga betul sama Ibuk dan kakak-adiknya, tetapi tidak serukun itu dengan si Bapak. Ibuk menanamkan Iwan kelak dapat memperoleh lebih dari yang mereka punya sekarang, sedangkan harapan Bapak tak jauh-jauh ingin anaknya kelak jadi "laki-laki", tulang punggung keluarga seperti dirinya. Yah, bisa dimengerti sih kegemasan si Bapak melihat kesenangan dan kegiatan Iwan emang kurang "anak laki" pada umumnya: nyaris gak pernah main di luar, dan lebih sering membantu Ibuk dan kakak-kakaknya di dapur ketimbang bantuin Bapak merawat mobil angkot. Pas udah gedean lumayanlah Iwan mau disuruh jadi kernet angkot sepulang sekolah. Namun, tetap saja didikan keras Bapak yang ingin putranya membantu usahanya dan stop berpolah gunyu-gunyu itu menimbulkan konflik batin pada Iwan yang memang lebih suka sama hal-hal akademik dan seni. Ini semakin memuncak ketika Bapak keberatan sama niat Iwan ke IPB, yang berarti meninggalkan seluruh keluarga.

Gw salut dengan kisah yang diangkat dalam film ini. Iwan Setyawan asli yang (menurut kredit) ikut dalam penulisan naskahnya kelihatan sekali begitu sayang pada keluarganya. Salutnya lagi, film ini (paling tidak kesannya) bertutur apa adanya bukannya hanya menunjukkan yang bagus-bagus aja. Terlepas dari distorsi memori ataupun dramatisasi, setidaknya penggambarannya menjadi tidak one-dimensional. Iwan tidak malu dengan gambaran Bapak yang pernah masuk penjara, tidak keberatan film ini menunjukkan sense of fashion-nya yang ngondek mencolok kayak lebih cocok untuk cowok-cowok Osaka daripada New York, tidak malu juga dengan penggambaran dirinya pernah abai membiayai keluarga demi pergaulan middle-class sok-kaya ala Jakarta. Ia bahkan tidak ragu menempatkan dirinya sendiri sebagai tokoh yang, well, paling "kurang ajar" di antara anggota keluarganya. Kentara bahwa tujuan dibuatnya kisah ini bukan untuk bilang "aku hebat", tapi "keluargaku hebat". Sebab, tanpa keluarga serta dinamika hubungannya, terutama dengan Ibuk dan Bapak, ia tidak bakal bergerak untuk mencapai segala yang akhirnya dia capai, pun dengan tetap menjadi dirinya sendiri (perlu diperhatikan bahwa Iwan menekuni bidang yang memang dia gemari).

Salut juga perlu ditujukan pada Ifa Isfansyah dan tim yang berhasil menata kisah perjalanan hidup Iwan, yang jujur saja berpotensi berjalan datar karena absennya konflik besar, menjadi suguhan sinematik yang rapih dan mudah dinikmati. Kepekaannya pada hal-hal kecil membuat adegan demi adegan selalu tampak berwarna, selalu ada yang menarik disimak. Ada jenaka, ada haru, ada cinta monyet, namun semua terasa alami dan mudah terhubung dengan penontonnya. Di sisi lain, penggambaran kesepian Iwan di New York dengan membuatnya berinteraksi khayal dengan Iwan kecil juga tidak terasa janggal. Kisah dituturkan perlahan tapi pasti dan membuat penasaran sekalipun penonton sudah punya bayangan bagaimana akhirannya. Detil-detil produksinya nyaris tiada cela. Tata adegan, sinematografi, tata suara, tata musik, penyuntingan, semua terlihat dan terdengar indah, cakep dah. Sudut-sudut yang dalam kenyataan tampak nggak enak dilihat pun bisa terkesan estetik (kayak rumah Iwan di Batu, kostnya di Bogor, dsb). Desain produksi juga perlu diberi pujian atas keberhasilannya menggambarkan pergantian era dari 1980-an hingga 2010-an dengan mulus sampai ke properti terkecil seperti kaleng margarin Palmboom vintage ataupun budaya pop 1990-an seperti Catatan Si Boy dan Asia Bagus =).

Sekarang dari segi akting, Ihsan kali ini sukses meyakinkan bahwa dia mampu berakting dengan baik dan berdedikasi. Mungkin juga karena perjalanan hidup Iwan Setyawan tidak terlalu beda dengannya yang juga memperoleh sukses nasional sekalipun datang dari keluarga sangat sederhana *eh inget aja gw =p*, penggunaan aksen Jawa-nya pun tidak tampak kaku. Namun, jawara akting tentu saja ada pada Alex Komang dan Dewi Irawan yang bikin gw nggak bisa bayangkan kalau yang main bukan mereka. Pak Alex sukses menjadi seorang Bapak pekerja keras dan berwatak keras yang punya cara sendiri dalam menunjukkan kasih pada sang putra, dan Ibu Dewi tak kalah cadas sebagai Ibuk yang selalu ada untuk Iwan, termasuk membelanya dari kekeraskepalaan sang Bapak. Sedangkan penampilan aktor-aktor lain umumnya tak terlalu banyak namun cukup berkesan, seperti Agni Pratistha, Hayria Faturrahman, Epy Kusnandar, Ence Bagus (jadi sopir mikrolet yang sering gw naikin, M-26 Kampung Melayu-Bekasi =)), aktor-aktor cilik yang asli dari sekitaran Malang, hingga yang singkat banget tapi apik dari Ade Irawan sebagai eyang putri dan Ria Irawan sebagai ibu jual pecel lele. Mungkin justru aktor-aktor bulenya yang kaku banget. O well, nggak papa lah.

9 Summers 10 Autumns bisa dianggap hanyalah satu lagi kisah sukses yang diharapkan dapat menginspirasi banyak orang. Setahu gw penonton Indonesia banyak yang suka dengan film semacam ini, seperti terlihat pada sambutan Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, atau Negeri 5 Menara. Nah anggaplah 9 Summers 10 Autumns ini versi penyendirinya. Tetapi, kelebihan film ini adalah caranya memberi perspektif berbeda. Film ini tidak cuma memperagakan bagaimana Iwan kecil yang "takut miskin" akhirnya bisa jadi lebih dari yang dia impikan, kalau gitu doang mah baca sinopsis juga selesai. Film ini bercerita dari perenungan Iwan di tengah kesuksesannya di negeri orang yang merindukan pusat hidupnya: keluarganya. Keluargalah penggerak utama kisah ini. Itu pula yang dapat menjelaskan kenapa lebih banyak adegan ber-setting Indonesia ketimbang di New York, karena bukan New York-nya yang harus diagung-agungkan—sekalipun bagian New York-nya memang asli 100% di New York *ala-ala film apaaa gitu ya*. Cerita sederhana dan membangkitkan, penuturan enak dan menghibur, aktor-aktor bagus, dilengkapi dengan tata audio visual serba apik, 9 Summers 10 Autumns (yang btw artinya 9 musim panas dan 10 musim gugur=10 tahun, kali aja ada yang nanya) adalah film yang hangat, memberi banyak senyuman, serta harusnya banyak ditonton masyarakat. Ucapkan salam.




My score: 8/10

Selasa, 23 April 2013

[Movie] Oblivion (2013)


Oblivion
(2013 - Universal)

Directed by Joseph Kosinski
Screenplay by Karl Gajdusek, Michael DeBruyn
Based on the graphic novel, original story by Joseph Kosinski
Produced by Joseph Kosinski, Peter Chernin, Dylan Clark, Barry Levine, Duncan Henderson
Cast: Tom Cruise, Morgan Freeman, Olga Kurylenko, Andrea Riseborough, Melissa Leo, Nikolaj Coster-Waldau


Entah datangnya dari mana, tahun-tahun belakangan ini gw agak enggan untuk buru-buru menyaksikan film-film yang dibintangutamai Tom Cruise. Mungkin eneg karena hampir setiap poster film-filmnya harus kudu ada muka dan nama dia gede-gede? Mungkin karena rata-rata aktingnya terlalu sadar-diri-kalau-keren-dan-terkenal-jadi-harus-belagak-cool-terus-terusan? Atau mungkin karena gw sirik aja? Anyway, begitu pula dengan Oblivion ini. Sure, film ini bakal laris, sebuah film fiksi ilmiah futuristik penuh efek visual dan ada Tom Cruise-nya pula. Tapi ya gw nggak excited-excited amat. Gw memutuskan menunda nonton film ini di minggu pertama dengan pertimbangan supaya nggak merusak anggaran dasar nonton bioskop bulanan (karena HTM semua bioskop udah pada naik rata-rata 20%, cih), dan juga memprioritaskan film-film Indonesia yang umumnya berumur lebih pendek di bioskop. Gw rasa bulan depan juga film ini masih ada, Tom Cruise gitu loh. Pun rupanya reaksi teman-teman yang sudah nonton duluan sungguh bervariasi layaknya harga tiket pesawat terbang di internet. So let's see.

Tahun 2017, Bumi diinvasi makhluk asing yang disebut Scavs dengan meledakkan Bulan, sehingga memaksa manusia melawan dengan senjata nuklir. Kaum manusia menang, tetapi Bumi tetap luluh lantakh ("kh" supaya kayak Bams Samsons). Tahun 2077, sebagian penduduk Bumi telah bermigrasi ke salah satu satelit Saturnus, Titan. Sebagiannya lagi masih singgah di stasiun luar angkasa yang mengorbit Bumi yang disebut Tet, jangan tambah "e" lagi. Jack Harper (Tom Cruise) bersama rekan-tapi-mesranya, Vika (Andrea Riseborough) kini dalam sisa 2 minggu shift kerja sebelum bisa balik ke Titan, sebagai petugas pengawas mesin-mesin yang sedang mengumpulkan sumber energi Bumi yang masih tersisa agar dapat dibawa ke Titan. Dan demi kelancaran dan fokus dalam bertugas, baik Jack maupun Vika sudah dihapus ingatannya sebelum terjun ke Bumi. Tak hanya inspeksi dan memperbaiki kalau ada mesin yang rusak, Jack harus melindungi mesin-mesin itu dari gerilya kaum alien Scavs yang ternyata masih ada tersisa di Bumi. Meski tak memiliki ingatan masa lampau, Jack rupanya masih sering diganggu mimpi-mimpi tentang kota New York sebelum perang yang selalu dibintangi sesosok wanita yang sama. Suatu ketika dalam inspeksinya ia menemukan Julia (Olga Kurylenko), wanita yang selalu muncul dalam mimpinya itu. Kehadiran Julia menjadi awal dari pengungkapan segala hal, membuat Jack mempertanyakan semua yang ia ketahui dan yakini selama ini.

Oblivion sejak awal sudah mengetengahkan tone misteri dalam kisahnya. Keadaan yang sunyi, polos, monokromatis, dunia serasa milik Jack dan Vika berdua bahkan yang ngontrak pun nggak ada, dan senantiasa ada pertanyaan demi pertanyaan yang menghinggapi penonton, mulai dari apa, siapa, bagaimana, mengapa, hingga kapan...kapan ini film selesai, hahaha. Harus diakui bahwa plot yang dibangun oleh sutradara Joseph Kosinski memang bergerak lambat. Perkenalan tokoh dan situasi Bumi 2077 ini terlihat terperinci dan di saat yang sama terasa lelet, malah konflik baru muncul ketika Julia hadir, yakni nyaris satu jam setelah film berjalan...atau setidaknya rasanya satu jam, entahlah, you know what I mean lah. Tapi di mata gw, itu semua sebenarnya cukup terlunasi, terutama dari segi visual.

Terlepas dari laju cerita yang mungkin terlalu terulur, serta tidak semua misteri terungkap dengan jelas atau terlalu sambil lalu (ini merujuk pada kemunculan Morgan Freeman and the gang =p), Oblivion sesungguhnya adalah film yang dibuat dengan jeli, dan tentu saja layak ditonton. Selambat-lambatnya penuturan dan seaneh-anehnya beberapa titik cerita, film ini tetap cukup solid dalam membangun alur dan karakternya. Apalagi, sebagaimana karya debut Kosinski sebelumnya, TRON: Legacy yang juga (malah lebih) lemah di jalan cerita, adegan-adegan laga dan rancangan visual grande-nya sangat memuaskan. Adegan laganya  bahkan 1-2 kali memancing gw untuk berseru "anjreet" =). Demikian pula desain futuristik minimalis nan sophisticated dari rumah, mesin-mesin serta peralatan yang diperlihatkan—dengan tema desain "bundar-bundar"—sungguh memanjakan mata. Efek visualnya jempolan, khususnya karena dapat membuat mesin-mesin terbang jadi tampak sangat tangible. The swimming pool on the tower is really fancy.

Tapi kolamnya serem juga sih kalau bawahnya bening gitu...

Faktor pemainnya turut melengkapi dengan oke sekalipun nggak terlampau istimewa karena nggak pakai telor. Mungkin yang paling menonjol adalah penampilan Andrea Riseborough yang tampak cerah tapi misterius itu. Cakep banget sih enggak, tapi British accent-nya itu lho =). Dan, yaah, Tom Cruise okelah, tetep dengan kesan gw-bintang-utama-jadi-harus-selalu-tampak-dan-terdengar-keren-termasuk-di-intonasi-bicara, tapi setidaknya di sini beberapa kali tampak jelas doski melakukan adegan-adegan berbahaya (stunt) sendiri tanpa pengganti—jika bukan berarti visual efeknya canggih banget =p. Salut lah.

All in all, techincally, Oblivion ini oke sekali. Gambarnya clean dengan komposisi yang anggun (dan katanya disyut dengan kamera digital beresolusi 4K yang sangat jernih), tata suaranya keren, tata musiknya yang dibuat grup elektronik Prancis M83 juga asoy sekalipun sering terdengar seperti versi remix karya-karya Hans Zimmer. Gambaran keadaan alam Bumi yang hancur dan kosong juga menimbulkan kekaguman karena sebagian bukanlah gambar murni animasi melainkan pemandangan lokasi betulan, yang mengingatkan pada adegan pembuka Prometheus...dan emang ambil lokasinya sama-sama di Islandia juga. Ih, kok nyontek sih?

Well, untuk hal ini, jika diperhatikan Oblivion memang mengambil banyak referensi dari kisah-kisah di film lain, terutama yang fiksi ilmiah. Selama perjalanan film ini, kita bisa merasakan vibe seperti film-film fiksi ilmiah terkenal macam Wall-E, The Matrix, Dark City, Star Wars, Moon, Independence Day, Total Recall, Planet of the Apes, hingga 2001: A Space Odyssey. Bahkan referensi film yang terakhir itu cukup "vulgar" dengan pemakaian Odyssey sebagai nama pesawat naas yang ditumpangi Julia. Dan rasa-rasanya, kalau paham sama referensi-referensi tersebut, penonton bakal banyak tersenyum dengan Oblivion ini, baik karena gambar maupun jalan ceritanya yang "wah, ini/itu/anu banget nih". Tapi, mungkinkah Joseph Kosinski yang juga menggagas cerita aslinya dalam format komik ini (tapi belum terbit) emang nggak kreatip dan bisanya nyontek doang, atau justru meniatkan Oblivion sebagai penghormatan pada genre ini? Silahkan nilai sendiri. Sedangkan buat gw, ide-ide "orang lain" itu dileburkan dengan cukup baik dan mulus kok, malah bikin gw penasaran untuk menyimak hingga akhir, dengan cara seperti (film) apa Kosinski akan menyelesaikan filmnya. Oblivion, sebuah suguhan cukup apik dan traktiran yang menyenangkan khususnya bagi penggemar bidang sci-fi, dan umumnya bagi siapa pun yang mau sedikit bersabar =P.




My score: 7/10

Jumat, 19 April 2013

[Movie] Mursala (2013)


Mursala
(2013 - Raj's Production)

Directed by Viva Westi
Written by Tubagus Deddy, Viva Westi
Produced by Anna Sinaga
Cast: Rio Dewanto, Titi Rajo Bintang, Mongol Stress, Anna Sinaga, Tio Pakusadewo, Reins Christiana Situmeang, Rudy Salam, Roy Ricardo, Elza Syarief


Mungkin memang agak berlebihan jika mengharapkan Mursala akan segemilang karya apik Viva Westi sebelumnya, Rayya Cahaya di Atas Cahaya yang jadi film nomer 1 gw tahun lalu. Benar mbak Westi memboyong beberapa "tim sukses"-nya di film itu, yakni Titi Rajo Bintang d/h Titi Sjuman, lalu Tio Pakusadewo, juga sinematografer Ipung Rachmat Syaiful. Tetapi harus diingat juga bahwa film ini diinisiasi oleh tim yang bisa dibilang masih baru dalam dunia film, yang dipimpin oleh Anna Sinaga (di filmnya ditambahkan "SH"), pengacara muda yang juga ikut tampil berakting di sini. Ditambah lagi film ini mengemban pesan pariwisata Pulau Mursala di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, juga mengangkat kebudayaan Batak nan kental dalam plotnya. Di satu sisi ini sangat menjanjikan, namun di sisi lain, ternyata...hmm, entah karena kecapekan atau kebanyakan pressure atau apa, hasilnya tidak terlalu maksimal di beberapa aspeknya yang cukup krusial.

Film Mursala berpusat pada Anggiat Simbolon (Rio Dewanto), seorang pengacara muda asal Tapanuli Tengah yang kariernya sukses di Jakarta, yang berharap dapat menikah dengan kekasihnya, Clarissa Saragih (Anna Sinaga). Sayangnya ketika niat ini dibawa ke sang inang (Reins Christiana Situmeang) dan warga kampungnya, kedua insan Batak ini tidak diperbolehkan menikah karena marga mereka termasuk dalam PARNA, yakni 70 marga yang masih dalam satu keturunan sehingga dianggap "saudara sekandung". Jika melanggar, maka Anggiat akan dikeluarkan dari adat, imbasnya tidak boleh pulang ke kampung halamannya lagi. Inang tak tega dengan kegelisahan putranya, mulai mengarahkan Anggiat ke paribannya (sepupu) yang seorang aktivis lingkungan di sekitar pulau Mursala, Uli Sinaga (Titi Rajo Bintang) yang sudah dikenalnya sejak kecil. Lalu apakah Anggiat akan tetap memperjuangkan cinta atas adat?

Bagi orang-orang "romantis", jawaban pertanyaan di atas adalah "Ya iya dong! Cinta jelas mengalahkan segalanya! nya! nya! *gema*". Tapi inilah hal menarik yang juga cukup berhasil diangkat dalam film ini. Penghormatan orang-orang Batak terhadap adatnya sangatlah kuat. Sangat kuat. Bahkan dalam film ini digambarkan tokoh bersuku Batak yang tidak dibesarkan dalam lingkungan adat pun tidak berani macam-macam untuk perkara ini. Cinta beda bangsa udah susah, beda agama susah, beda budaya susah, lah ini budayanya sama kok masih susah juga. Tampak tak masuk akal, tapi ini benar adanya, karena ini menyangkut harta yang paling berharga, keluarga. Hal ini juga ditegaskan dengan Anggiat yang bisa dibilang "kelas atas" tidak canggung untuk bergaul dengan tulang/pamannya (Tio Pakusadewo) yang seorang sopir Metro Mini, di lapo sederhana di Jakarta. Karena keluarga. 

Story-wise, film Mursala ini sangat menarik, lengkap, dan tidak mengada-ada. Gambaran tentang adat Batak dan orang-orangnya di berbagai keadaan juga ditampilkan dengan komprehensif dan dapat (dengan mudah) ditemukan dalam keseharian. Susunan cerita human drama tentang pertentangan demi pertentangan antara cinta, keluarga, adat, karier, dan persahabatan menyatu dengan tidak berlebihan. Salah satu hal yang menarik gw adalah halusnya bangunan hubungan Anggiat dan Uli, yakni kesamaan mereka menentang ketidakadilan lewat profesi masing-masing. Jadi, kasus pencurian sendal dan penyuluhan anti-bom ikan bukan cuma selingan yang kepanjangan, tetapi membangun hubungan karakter mereka berdua, yang bukan karena terpaksa, atau bukan juga karena tuntutan ini film bertema cinta jadi harus miraculously segera bersatu.

Naaah...masalah mulai muncul pada tahap eksekusi. Sangat banyak bukti visual bahwa mbak Viva Westi struggling untuk menampilkan performa terbaik dari pemainnya. Rio Dewanto seperti belum mengeluarkan akting terbaiknya, masih kayak FTV. Pemain-pemain debutan seperti Anna Sinaga, Reins Situmeang (ibunda Anna), Roy Ricardo (adiknya Melaney Ricardo) dan...ehm...pengacara kondang Elza Syarief sebagai dirinya sendiri terlihat canggung sekali. Kalau satu dua adegan sih nggak apa-apa ya, cuman...emm...gimana ya...sepertinya mbak Westi dan editornya kehabisan stok gambar berisi performa bagus sehingga yang ditampilkan yang ya-udah-mau-gimana-lagi. Kaku banget. Kalau mau diibaratkan, maap-maap nih, sebagian besar adegan film ini seperti sinetron lepas produksi TVRI daerah era 90-2000an yang minim budget dan memakai pemain-pemain non-profesional. Continuity-nya juga kadang melompat-lompat agak jauh, kadang nggak masuk akal. Dan yang bikin gw ampe tutup muka saking malunya tuh product placement Telkomsel yang menurut gw bisa lebih halus lagi. Daripada "aku 'kan pake Telkomsel," bernada iklan radio, mendingan "iya, ternyata bisa nih pake Telkomsel," dengan nada biasa aja dan agak terkejut basa-basi *saran aja*.

I really wanted to love Mursala, dan memang masih banyak hal yang membuat gw bisa bertahan mantengin film berdurasi 1,5 jam ini. Titi Rajo Bintang sekali lagi membuktikan ia aktris yang berdedikasi tinggi, dengan segala aksen, bahasa, dan gestur yang digunakan. Penampilan Mongol Stress sebagai Sahat si pengarang/penulis juga hitungannya termasuk top 3 bersama Titi dan Tio. Beberapa gag berhasil menghibur, misalnya waktu Sahat di perahu bisa berkomunikasi lancar dengan Uli di dermaga padahal jaraknya nggak deket—hence, jawaban mengapa banyak orang Batak kalo ngomong biasa aja tetep suaranya keras =). Sinematografinya asik (syutingnya pake seluloid, berasa film banget), apalagi ada bonus pemandangan air terjun Mursala yang heavenly itu—sayang kayaknya proses konversi gambar ke digital-nya kurang mantep jadi banyak yang kelihatan burem dan kasar gitu. Musiknya mengalun mulus, dan lagu tema "Mursala" dari Iwan Fals di akhir juga menjadi salah satu aspek paling baik film ini. Serta tentu saja ceritanya yang sebenarnya punya kualitas jempolan dan berhasil menggambarkan masyarakat dan budaya Batak dari sudut pandang orang-orangnya sendiri, bukan kartunis seperti biasa terjadi di film/sinetron/lawak nasional. Informasi-informasi tentang adat serta profesi (dan kritik sosial dikit-dikit) pun tidak asal tempel. Nevertheless, gw harus jujur, film ini terbata-bata dalam bertutur dan kagok dalam mengusahakan segenap modal yang sebenarnya sudah baik itu. And don't get me started on the poster design...  




My score: 6,5/10

Rabu, 17 April 2013

[Movie] Hari Ini Pasti Menang (2013)


Hari Ini Pasti Menang
(2013 - Bogalakon Pictures)

Directed by Andibachtiar Yusuf
Written by Swastika Nohara, Andibachtiar Yusuf
Produced by Andibachtiar Yusuf, Mega Setiawati Widjaja
Cast: Mathias Muchus, Ray Sahetaphy, Zhendy Zain, Tika Putri, Ibnu Jamil, Ramon Y. Tungka, Verdi Solaiman, Henky Solaiman, Deddy Mahendra Desta, Manahan Hutauruk, Ario Prabowo


Nama sutradara dan penulis Andibachtiar Yusuf sangat lekat dengan sepakbola jika menilik filmografinya yang semuanya berkaitan dengan permainan yang konon paling digemari bangsa Indonesia itu. Mulai dari dokumenter The Conductors sampai fiksi panjang perdananya Romeo Juliet yang sempat ribut-ribut itu (yang justru semakin membuktikan bahwa premis filmnya nggak ngarang doang). Hari Ini Pasti Menang lagi-lagi mengangkat sepakbola, namun gw sendiri tidak melihat bahwa ini "film olah raga", gw malah melihatnya sebagai sebuah political thriller. Film ini sama sekali bukan kisah zero to hero, dengan klimaks kemenangan tim protagonis yang membanggakan mengharu biru. Hari Ini Pasti Menang bergulir "setelah" memiliki kemenangan itu, yang dapat dikatakan tidaklah lagi membanggakan.

Hari Ini Pasti Menang adalah sebuah perumpamaan tentang suatu bangsa yang "ketergantungan"-nya terhadap sepakbola diam-diam telah diperalat segelintir pihak. Ini bukan Indonesia yang kita kenal, ini "Indonesia" yang tim sepakbolanya punya prestasi yang grafiknya terus naik, bahkan sukses menembus perempat final Piala Dunia 2014 di Brazil. Pemain mudanya, Gabriel Omar Baskoro (Zhendy Zain) menjadi bintang idola setelah menyandang top scorer di sana. Gw yakin kalian yang membaca mulai bereaksi "ih, nghayalnya ketinggian banget", tapi sudahlah, that's not the whole point. Kisah film ini dimulai dari investigasi yang dilakukan wartawati sekaligus teman kecil Gabriel, Andien (Tika Putri) tentang judi dan pengaturan hasil pertandingan sepakbola di "Indonesia" ini. Praktik ini bukan sekadar taruhan-taruhan kecil, tetapi sudah merambah ke tingkat pemerintahan, pengusaha, bahkan pelatih, wasit, dan pemainnya sendiri, baik liga nasional maupun laga internasional, dengan nominal yang fantastis.

Film ini menyampaikan ironi. Di tengah gambaran ideal prestasi persepakbolaan Indonesia layaknya di Eropa, ditunjukkan pula bahwa ada harga yang harus dibayar. Sepakbola semakin digemari, di saat yang sama semakin digerakkan oleh uang, sehingga siapa saja yang niat dan kuat bisa menghasilkan uang dari sepakbola meskipun tidak terlibat secara kasat mata lewat judi dan match-fixing. Tujuannya bukan lagi menumbuhkan prestasi, melainkan pertumbuhan rekening dan gengsi. Malahan dari info salah satu narasumber Andien, prestasi sepakbola "Indonesia" hingga tahun 2014 itu merupakan salah satu efek dari praktik-praktik tersembunyi itu. Gaya hidup hedonis Gabriel pun tak luput dari pertanyaan, apakah benar itu semua murni didapat dari "jerih payah"-nya, terlepas dari kemampuannya yang diakui luar biasa. Mungkinkah kepercayaan publik, dan juga kebanggaan sang ayah Edi Baskoro (Mathias Muchus) yang setulus hati, jiwa, dan raga mendukungnya menjadi pemain sepakbola profesional, selama ini telah dikhianaaati *pasang lagu Kerispatih* demi uang dan kesenangan duniawi? Pengungkapan hal ini, terutama karena melibatkan orang-orang "besar" tentu akan berdampak masif, dan pihak yang "risih karena nggak merasa bersih" tentu tak akan tinggal diam.

Yes, gw lebih suka melihat film ini sebagai thriller konspirasi ketimbang drama berlatar olah raga. Emang sih kecenderungan gw lebih suka thriller-misteri ketimbang olah raga apalagi sepakbola. Benar kita melihat ada dinamika hubungan antar manusia dari Garbiel, ayahnya, dengan Andien, dengan coach Bram (Ray Sahetapy), juga manajer Gabriel, Emir (Desta), tetapi konflik di antara mereka muncul akibat isu ketidakjujuran itu. Adegan pertandingan sepakbola pun tidak sedikit, namun (cerdasnya) penonton diajak untuk lebih memperhatikan pengaruh judi dan match-fixing terhadap pertandingan itu. And everything is presented really well. Ada sih kecenderungan nyinyir dan banyak banget nyindir sana sini (dan umpatan-umpatan vulgar tapi kurang variatif =p), tetapi tidak terlalu mengacaukan fokus terhadap topik yang ingin disampaikan, sebab terlihat jelas bahwa Andibachtiar Yusuf dan timnya tahu betul apa yang mereka bicarakan. Dan karena stay to the topic itu pula film ini jadi punya sisi yang dapat menarik penonton awam atau yang rabun sepakbola kayak gw.

In the other hand, Hari Ini Pasti Menang juga cukup memuaskan sebagai sebuah sajian sinematik. Jalinan plot yang tampak kompleks terpapar cukup jelas dan dibangun dengan mantap. Pun gambaran "Indonesia" dimensi alternatif ini cukup mendukung, misalnya pemilihan sudut-sudut kota Jakarta yang terlihat "maju", atau lembar uang 200.000 bergambar Gus Dur. Sekhayal-khayalnya, setidaknya masih plausible. Sinematografinya nyaman dipandang, tata suara dan musiknya oke, efek visualnya...emm..."lolos"-lah, dan penyuntingannya tepat guna, tidak terlalu ada yang menyeret-nyeret atau terlalu cepat. Penampilan deretan aktornya pun bisa dibilang top of the game *halah*. Kita bisa menyaksikan Mathias Muchus dan Ray Sahetapy kembali unjuk performa kelas tuna. Demikian pula Tika Putri, Verdi Solaiman, Henky Solaiman, dan sang scene-stealer Ario Prabowo sebagai bandar judi di lapangan, yang tampil sangat meyakinkan.

Penampilan perdana Zhendy Zain yang mukanya campuran Darius Sinathrya dan Naga Lyla itu juga nggak jelek-jelek amat, tapi mungkin agak kebanting sama aktor-aktor yang lain, atau mungkin juga karena ceritanya sendiri tidak memberi kedalaman lebih lanjut terhadap karakter Gabriel Omar, misalnya apa sebab gaya hidup dan tindak-tanduknya tidak terlalu dijelaskan selain karena...emmm...orangnya sok iye aja. Bagi penggemar sepakbola sendiri tampaknya akan diberi "traktiran" berupa banyaknya referensi tentang dunia sepakbola baik nasional maupun internasional di dunia "nyata", juga cameo beberapa pemain sepakbola betulan, selain tentu saja adegan-adegan pertandingan yang cukup ekstensif. Tapi tentang adegan-adegan pertandingan ini gw pribadi mungkin gak terlalu dipuaskan karena pengambilan gambarnya yang tidak sedinamis harapan gw. Pengennya kamera gak cuma mengamati, namun juga "ikut main", seperti misalnya pertandingan rugby di Invictus, sehingga dapat membawa penononton seakan terlibat di lapangan. Tapi gak masalah, bisa dimaklumi, ya karena itu tadi, bukan di sana intinya. 

Hari Ini Pasti Menang adalah film yang impresif buat gw. Sajian yang tak hanya cukup berbeda dan menghibur, namun juga memberikan asupan pemikiran. Tak hanya bagi pemerhati sepakbola, tetapi bagi semua yang merasa jadi bagian bangsa ini. Gw nggak menganggap bahwa film ini gegabah menuduh bahwa persepakbolaan Indonesia saat ini dipenuhi sama orang-orang jahat, atau menyatakan bahwa judi dan match-fixing benar-benar terjadi (kalo di Eropa sih gw denger emang terjadi). Wong setting-nya aja "dunia lain". Tetapi film ini tetap sebuah statement yang berani tanpa harus banal, bahwa kalau pun keadaan sudah lebih baik tapi orang-orangnya nggak berubah, ya sama aja bohong. Kalau motivasi orang-orangnya tetep nggak bener, mau sebagus apa pun prestasi sepakbola kita, tetep aja nggak bakalan benar-benar maju. Ironi-ironi itu rupanya terus ditunjukkan hingga detik terakhir durasi film ini (setelah kredit akhir bergulir...eh ini spoiler bukan yah? =p), yang seakan mengajak penonton untuk terus merenung, mau sampai kapan Indonesia membiarkan persepakbolaannya, atau bidang apapun yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dikacaukan diurus oleh orang-orang yang tak benar-benar peduli dan tak bermotivasi murni. Kita dahaga akan gelar, penghormatan, dan kebanggan, tapi kita juga butuh kejujuran...tapi...hmm....




My score: 7,5/10

Senin, 15 April 2013

[Movie] Finding Srimulat (2013)


Finding Srimulat
(2013 - MagMA Entertainment)

Written & Directed by Charles Gozali
Produced by Hendrick Gozali, Yusuf Hamdani
Cast: Reza Rahadian, Rianti Cartwright, Kadir Mubarak, Kabul "Tessy" Basuki, Mamiek Prakoso, Gogon Margono, Djujuk Djuwariah, Nadila Ernesta, Butet Kartaredjasa, Fauzi Baadila, Ray Sahetapy, Nungky Kusumastuti, Adi Kurdi, Tri Retno "Nunung" Prayudati, Mongol, Insan Nur Akbar


Bagi *uhuk* adik-adik yang mungkin kurang familiar, Srimulat itu adalah grup pertunjukkan komedi a.k.a. lawak yang bermula di Solo, Jawa Tengah sekitar tahun 1950-an, yang kemudian berjaya di jagat hiburan Nusantara lewat penampilan di televisi nasional dan (kalo nggak salah) beberapa film layar lebar. Anggotanya terbilang sangat banyak dan bergenerasi-generasi bahkan bercabang (ada cabang Solo, Jakarta dsb.), dengan karakteristik dan penggemar masing-masing, sampai kadang ada yang bikin sub-grup atau solo karier atau mungkin keluar dari kelompok Srimulat membentuk grup baru. Yah macem versi sepuh dari AKB48. Nothing is original under the sun. Gw sendiri sempet "akrab" dengan Srimulat lewat acara TV "Aneka Ria Srimulat" yang ditayangkan Indosiar pada era 1990-an, yah gara-gara ortu juga sih yang rajin nonton, hehe. 

Tetapi lewat itu gw jadi bisa menangkap sedikit demi sedikit karakteristik pertunjukan Srimulat dan juga pemainnya. Meski dengan set-up bermacam-macam, setting panggung tak pernah jauh dari ruang tamu sebuah rumah, ada pembantu dan majikan (dan ibu Djujuk selalu jadi majikan, kebalikan dengan Nunung =D), lalu kalau ada twist horor di akhir yang jadi demit selalu yang namanya Yongki atau Paul (keduanya sekarang sudah wafat). Penonton kerap melempari bingkisan ke panggung, umumnya rokok, yang pasti akan ditanggapi spontan oleh para pelakon, misalnya "sekali-sekali lempar duit dong"—and sometimes they really got thrown some money. Pakemnya memang seragam, toh yang jadi hiburan utama adalah lawakan-lawakan dari para pelakon yang umumnya berupa spontanitas yang hidup. Gags yang sederhana, akrab, membumi, slapstick tapi tak lepas dari kesan cerdas menjadi ciri khas Srimulat yang tidak pernah dirasa membosankan. Mungkin justru anggota Srimulatnya yang letih dengan itu semua, sehingga kerap terjadi naik-turun performa dan eksistensi. 

Sutradara dan penulis Charles Gozali mencoba mengangkat sejarah dan kondisi grup Srimulat itu dalam kisah film Finding Srimulat. Sesosok event organizer muda bernama Adi (diperankan oleh everybody's favorite actor Reza Rahadian) harus menghadapi beban bertubi ketika kantornya tutup dan otomatis tak punya biaya untuk kelahiran anak sulungnya dari sang istri, Astrid (Rianti Cartwright) yang di-insist oleh dokternya untuk operasi Caesar (tentu saja). Perhatikan korelasi operasi Caesar dan biaya =p. Namun, justru di kondisi seperti ini, Adi melihat peluang dalam pahlawan masa kecilnya, Srimulat, sekalipun grup ini sudah menua. Ia menggagas sebuah pertunjukan comeback Srimulat sebagai sebuah grup instead of terpisah-pisah seperti saat ini. Lalu dimulailah usaha untuk mengumpulkan anggota-anggota Srimulat yang tersebar, mulai dari Kadir, Tessy, Mamiek Prakoso, hingga Gogon, yang mewakili anggota-anggota Srimulat yang "sepi job" di dunia hiburan, dan terakhir sang pemimpin, ibu Djujuk. Masalahnya tentu saja mengenai pembiayaan, serta apakah benar-benar revival panggung Srimulat yang tradisional ini akan ada yang nonton di era busway. Ditambah lagi Adi melakukan ini tanpa sepengetahuan istrinya yang sebentar lagi melahirkan, termasuk dalam penggunaan dana pribadi.

Ada kesan kuat bahwa film ini adalah passion project dari Charles Gozali. Ini terlihat dari isi ceritanya yang memuat pengetahuan tentang Srimulat dengan cukup teliti dan lengkap, pun memasukkan beberapa unsur kisah nyata pengalaman dan keadaan para anggota Srimulat, sehingga bukan tak mungkin sosok Adi juga adalah cerminan Charles yang antusias ingin menghidupkan Srimulat lagi. Untungnya, passion itu tersalurkan dengan baik lewat konsep dan naskah yang menurut gw ditata cerdas. Tone absurd film ini memang sudah ditekankan lewat pembukaan ketika Adi ngomong langsung ke kamera dan juga cerita proses kelahiran dirinya yang lain dari yang lain. Akan tetapi film ini tak terus berkutat di sana, karena nyatanya keseluruhan plot dan peristiwa-peristiwa yang dirangkum dalam ceritanya tidaklah asal masuk, justru sangat rapi dan logis. Salah satu contohnya ketika film ini mengakali sulitnya mengumpulkan sebanyak mungkin anggota Srimulat terutama yang lagi padat jadwal untuk ikut main, poin ini dengan mulus dimasukkan ke dalam cerita yang diwakili oleh tokoh Nunung. Gags klasik khas Srimulat pun ditaruh tidak salah tempat dan tetap mampu memancing tawa sekalipun sudah familiar bagi penggemarnya (like my Mum correctly guessed the cigarette gag =D). Adegan flash mob di Stasiun Balapan, Solo juga termasuk cara jitu menginklusi sentuhan kekinian dengan Srimulat, dan bermanfaat juga bagi jalan cerita. Kayak konyol, tapi tidak tak mungkin.

Jalan ceritanya gw kasih jempol deh, tapi soal presentasi keseluruhan itu beda cerita ya, hehe. Eksekusi Finding Srimulat memang kebanyakan absurd dan komedi Indonesia banget yang memang agak alon-alon temponya. Bagi generasi yang lebih muda mungkin akan merasa film komedi ini kurang "meledak" tawanya, ya karena leluconnya memang termasuk klasik nyaris out-of-fashion kalau nggak mau disebut segmented  atau angkatan-babe-guwe (dan lagi yang bahasa Jawa nggak pake subtitel, hehe), tapi gw yakin pasti masih ada yang bikin ketawa bagi angkatan ini. Problem utama gw sebenarnya di tata adegannya yang tidak terlampau istimewa, malah cenderung kaku. Beberapa adegan masih kelihatan banget "syutingnya nggak barengan" sehingga kesannya kurang tek-tok atau editing-nya kurang mantep gitu (cth: adegan si Mongol di bengkel atau Dion di panggung). Akan tetapi, atas nama absurditas, itu tak selamanya menganggu. Toh, nilai hiburan film ini jauh melebihi nilai-nilai teknisnya itu.

Penampilan Reza sebagai tulang punggung cerita tidak tercela, demikian juga Rianti (yang makin ke sini malah makin bagus mainnya) jika mengabaikan palsunya perut dan gerak-gerik hamilnya =P. Sedikitnya, mereka mampu mengimbangi kharisma senior mereka anggota Srimulat yang seperti biasa dapat diandalkan untuk tampil dengan sungguh-sungguh, dalam adegan dramatis sekalipun. Tessy mungkin yang paling lemah di antara kawan-kawannya (terutama Mamiek dan Gogon) tetapi usahanya dalam peran dramatis tetap patut diapresiasi. And to my surprise, ibu Djujuk ternyata menjadi pelakon Srimulat yang menurut gw paling meyakinkan di film ini, sebab untuk pertama kalinya gw melihat dimensi ketokohan ibu Djujuk selain citra pipih "nyonya majikan"-nya selama ini.

Film ini memang komedi-drama (dan semi-dokumenter?) yang berniat menghibur sekaligus membangkitkan nostalgia. Kelihatan betul bahwa film ini dibuat oleh orang-orang yang peduli dan menyayangi Srimulat, bukan justru mempermalukannya dan memperlakukannya asal-asalan sebagai alat jualan semata (eh, ini ada di ceritanya juga =)). Salut atas bagaimana film ini menggabungkan modernitas dan tradisi, tua dan muda, komedi dan drama, kecerdasan dan keabsurdan menjadi sebuah tontonan yang enak dan nggak terlalu maksa. Well, beberapa adegan emosionalnya mungkin agak dipaksa, tetapi porsinya tidak sampai "mencemari" hakikat film ini yang harusnya menggelakkan penonton dengan tulus sekaligus menyentuh hati. Finding Srimulat adalah sebuah tontonan yang tepat sebagaimana janjinya, sederhana namun cerdik dan berselera humor yang pas. Mungkin tidak sempurna, namun tidak bisa dipungkiri ia tak bisa dipandang sebelah mata. Mungkin juga film ini akan lebih meriah seandainya lebih banyak lagi anggota Srimulat yang bergabung, misalnya Tarsan atau Eko DJ, atau porsi Nunung yang diperbanyak. Tetapi dengan anggota Srimulat yang tidak terlalu banyak pun Charles Gozali berhasil menyajikan sebuah tribute yang penuh hormat, kekaguman, harapan, dan kasih sayang, serta penegasan bahwa sesungguhnya Srimulat tidak pernah kehilangan pecintanya.




My score: 7/10


NB: anggota Srimulat terfavorit gw adalah alm. Triman, yang jago tap dance, dan gag andalannya adalah mengucapkan nama aliasnya dengan mulut terbuka lebar, "Bambaaaang...." XD