Sabtu, 22 April 2017

[Movie] Dear Nathan (2017)


Dear Nathan
(2017 - Rapi Films)

Directed by Indra Gunawan
Screenplay by Bagus Bramanti, Gea Rexy
Based on the novel by Erisca Febriani
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Amanda Rawles, Jefri Nichol, Surya Saputra, Ayu Diah Pasha, Rayn Wijaya, Diandra Agatha, Beby Tsabina, Chicco Kurniawan, Karina Suwandi


Sebagaimana anggota penonton di luar target demografinya, mudah bagi gw untuk jatuh pada prasangka bahwa Dear Nathan adalah film alay. You know, palingan cuma anak-anak baru gede aja yang akan demen. Apalagi kalau bukan kisah cewek (yang digambarkan manis) ketemu cowok (yang digambarkan bandel) di sekolah, keduanya dengan nama-nama fancy berhubung ceritanya berdasarkan novel, muncul benih-benih cinta serta berbagai rintangan dan halangan yang harus mereka hadapi untuk cinta bertumbuh. Dan, memang, pola cerita itu masih dipakai di film ini. But "alay"? Belum tentu. Penggarapan dan taste ternyata ngaruh banget sama bagaimana hasil akhir sebuah film meski pola kisahnya daur ulang yang sudah-sudah, dan ini terbukti di Dear Nathan.

Sedikit tentang plotnya, film ini berkisah tentang hubungan Salma (Amanda Rawles) yang termasuk siswi SMA baik-baik dengan Nathan (Jefri Nichol) yang kerap bermasalah, baik di lingkungan sosial maupun di keluarganya yang ternyata menyimpan banyak tragedi. Hubungan mereka nggak sepenuhnya didukung oleh circle mereka, demikian pula diramaikan oleh (tentu saja) sosok-sosok lain yang ingin merebut hati Salma maupun Nathan.

Yang menarik adalah bagaimana kisah biasa dan terlalu familier itu bisa dituturkan tetap dengan enak dan believable. Film ini pandai memilih fokus, sekalipun packed dengan berbagai persoalan yang khas anak-anak SMA--cinta-studi dan everything in between, konflik-konflik yang dihadirkan bukan berarti harus digelontorkan segambreng biar kesannya rumit, or even diada-adain. Salah satu pilihan yang gw rasa tepat adalah biarlah karakter yang banyak masalah hanya Nathan, yang memang cukup fungsional dalam menggerakkan ceritanya, nggak perlu ditambah-tambahin dengan baggage-nya Salma--hanya secara subtle ditunjukkan dia cuma punya ibu, nggak juga perlu persoalan rebutan pacar atau bertengkar sama teman diperpanjang dengan terlalu.

Di luar itu, gw merasakan ada kombinasi yang works antara angle penuturannya yang memang dari anak SMA tentang anak SMA, dengan kedewasaan dalam memandang persoalan yang terjadi. Ini bukan cerita tentang orang dewasa dari fantasi anak SMA, atau tentang anak SMA dari ingatan terdistorsi orang dewasa, yang seringkali membuat film-film seperti ini kurang imbang hasilnya. Di satu sisi, dialog-dialog, ekspresi, interaksi, serta kegiatan keseharian yang digambarkan terbilang sangat wajar terjadi di usia-usia SMA, lagi-lagi gw harus pakai kata believable di sini, karena memang demikian. Di sisi lain, gw nggak merasakan film ini meng-indulge melankolisme bahwa persoalan cinta remaja adalah pertaruhan hidup-mati, tetapi just a period of life, karena masih ada persoalan akademik, persoalan keluarga, persoalan ekonomi, yang mungkin sama atau lebih penting. Namun, juga nggak sertamerta meredamkan unsur emosi.

Kesan paling kuat yang gw dapat adalah film ini membalikkan prasangka buruk gw sebelumnya. Nggak nyangka bahwa kualitasnya ternyata cukup matang dan sangat bertanggungjawab, terutama sebagai film drama roman remaja, nggak menghina logika, nggak alay, dan nggak nyangka bahwa gw bisa enjoy. Teknisnya juga sekilas tampak kayak sederhana tetapi masih kerasa ada upayanya, contoh dari kekompakkan warna visual dari desain produksi dan sinematografinya, nggak mencolok tapi tertata. Di antara film-film roman tentang remaja atau target penonton remaja yang gw tonton dalam tahun-tahun belakangan ini, mungkin Dear Nathan-lah yang paling nggenah.





My score: 7,5/10

Selasa, 28 Maret 2017

[Movie] Life (2017)


Life
(2017 - Columbia)

Directed by Daniel Espinosa
Written by Rhett Reese, Paul Wernick
Produced by David Ellis
Cast: Jake Gyllenhaal, Rebecca Ferguson, Ryan Reynolds, Hiroyuki Sanada, Ariyon Bakare, Olga Dihovichnaya


"Life" adalah sebuah kata yang begitu luas maknanya, mencakup segala hal, sehingga kalau dipakai buat jadi judul sebuah karya cerita malah terdengar sangat malas, kayak nggak ada judul lain. I mean, setiap cerita pasti mengisahkan tentang suatu life, kehidupan, entah itu karakternya atau dunianya, entah itu nyata atau khayalan. Kalau bisa juga semua orang yang bikin cerita pakai aja judul "life" daripada repot memeras otak buat merangkai judul yang menggambarkan isi sekaligus catchywhich is itulah yang terjadi dalam 10 tahun terakhir ketika gw sudah mengenal tiga karya berbeda dengan judul Life, dari serial TV kepolisian berjudul Life (2007), film biografi James Dean dan fotografernya yang juga berjudul Life (2015), dan kali ini ada film horor sci-fi antariksa juga berjudul Life, atau kalau mau nurut tipografinya, L I F E =_='. Film Life terbaru ini tergolong out of nowhere muncul dalam radar gw, karena kabar beritanya baru gw dengar menjelang rilis. Meski demikian, pemakaian bintang-bintang berkualitas kelas internasional seperti Jake Gyllenhaal, Rebecca Ferguson, Ryan Reynolds, hingga Hiroyuki Sanada mendorong gw untuk setidaknya nyicip filmnya siapa tahu punya daya tarik lebih dari sekadar judul yang payah.

Life berlatar (mungkin) tak jauh di masa depan, stasiun antariksa ISS yang mengorbit bumi sedang punya misi menerima dan meneliti suatu sampel (terduga) makhluk hidup dari planet Mars, sebagai lanjutan pembuktian teori tentang adanya kehidupan di planet jiran itu. Proses ini utamanya dilakukan oleh peneliti Hugh Derry (Ariyon Bakare) disokong oleh lima astronot lainnya yang bertugas di sana: Kapten Ekaterina Golovnika (Olga Dihovichnaya), pilot Rory Adams (Ryan Reynolds), teknisi Sho Murakami (Hiroyuki Sanada), serta dua dokter Miranda North (Rebecca Ferguson) dan David Jordan (Jake Gyllenhaal). Beberapa kali percobaan, Hugh akhirnya berhasil mengondisikan lingkungan laboratoriumnya sehingga temuan mereka dari Mars yang berupa sel kecil itu hidup kembali, bahkan cukup cepat tumbuh besar. Saking cepatnya, para antariksawan ini kewalahan, karena sel yang mereka namai Calvin itu ternyata juga kuat dan mampu memangsa makhluk hidup lain demi bertahan hidup. Terperangkap di dalam bangunan yang melayang-layang di luar angkasa, para astronot ini tak hanya harus mencari cara untuk tidak jadi korban selanjutnya, tetapi juga berupaya agar makhluk itu nggak sampai masuk ke bumi. 

Jadi, "life" yang dimaksud di sini merujuk pada si Calvin yang ternyata hidup, atau "life" dalam arti nyawa tiap-tiap orang yang terancam akan keberadaan Calvin, atau apalah, yang pasti harusnya film ini bisa diberi judul yang lebih dramatis dan spesifik daripada L I F E doang. Memang, meski dengan segala unsur latar belakang serta tema yang agak-agak scientific dan fancy itu, film ini sebenarnya cukup sederhana. Life pada dasarnya adalah creature horror, film horor tentang teror monster yang akan memangsa satu per satu tokoh dalam filmnya, mungkin ini mirip film-film macam Anaconda, Lake Placid, atau film-film zombie, polanya kira-kira sama. Tetapi, bedanya di sini semuanya terjadi di stasiun luar angkasa lengkap dengan gravitasi nol-nya. Menurut gw ini poin penting, selain karena jarang banget film berlatar antariksa yang nyaris semua adegannya memakai gravitasi nol (kecuali, well, Gravity (2013)), keadaan ini juga membuatnya punya sensasi berbeda. Dalam pandangan gw, gravitasi nol membuat manusia a.k.a. calon korban akan lebih cepat dalam bereaksi terhadap serangan monsternya, gerakannya lebih leluasa--tinggal meluncur gitu nggak mungkin pakai acara jatoh =D, plus mereka ini para astronot yang pastinya bukan orang-orang bodoh atau panikan, sehingga membuat horornya lebih dinamis. Dan, keadaan ini juga menuntut si monsternya lebih pandai dan dan aksinya lebih mengerikan, sehingga intensitas thrill-nya bisa ditingkatkan.

Buat gw, film ini mewujudkan semua potensi dramatik dan thrill tadi dengan cukup pantas. Ketegangan dan teror yang dibangun benar-benar sanggup ditonjolkan sehingga nggak jarang bikin senewen. Karena film ini dibangun sebagai horor, kalau syarat utama film horor sudah dipenuhi, ya film ini sudah termasuk berhasil. Kemudian dipercantik lagi dengan nilai tambah berupa kelengkapan produksi yang mantap, bahwa semua tokoh, benda, bahkan kamera yang menyorotnya juga seakan-akan melayang-layang karena ceritanya ini dalam kondisi gravitasi nol, yang tanpa atas dan bawah, dan ditampilkan dengan tata visual yang mulus, sehingga jadi cukup believable—kecuali penerangannya sih ya yang kayaknya terlalu gelap deh. Kalau dibilang ini versi skop kecilnya dari Gravity ya nggak juga, karena film ini menampilkan lebih banyak orang—sehingga teknik melayang-layang juga jadi lebih ribet, tetapi memang di film ini ruangannya terbatas di situ-situ saja. 

That being said, selain itu semua, film ini pada akhirnya nggak memberi apa-apa lagi. Ceritanya dan penuturannya sangat straightforward tanpa memberikan bahasan yang lebih, ya cuma horor di gravitasi nol, siapa yang mati duluan siapa yang tersisa, udah, bye. Selain gravitasi nol tadi—ya kasih juga deh poin buat diversity karakternya, film ini jadi terasa nggak memberikan sesuatu yang baru lagi. Horor antariksa udah dipopulerkan oleh seri Alien—dan film ini terang-terangan mengikuti pola film Alien, serta mungkin puluhan judul lain yang nggak seterkenal itu yang mengangkat topik dan jalan cerita serupa. Satu titik yang mungkin akan dibahas cukup panjang, yaitu soal klimaks hingga tutupannya, juga menurut gw merupakan batas tipis antara bold dan cheaply manipulative. Gw pribadi lebih condong ke yang terakhir, menganggapnya sebagai trik terakhir agar ngangkat filmnya biar nggak dibilang horor "biasa", padahal jadinya ya biasa juga, udah pernah kok dilakukan sebelumnya di film-film yang nggak kalah high profile, hih. Meski begitu, itu nggak sampai membuat gw menurunkan nilai Life sebagai film yang memberikan sajian hiburan yang gripping selama 100-an menit. Paling nggak filmnya nggak selempeng dan semalas judulnya.





My score: 7/10

Jumat, 24 Maret 2017

[Movie] Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale (2017)


劇場版 ソードアート・オンライン -オーディナル・スケール- (Gekijo-ban Sword Art Online -Ordinal Scale -)
Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale
(2017 - Odex/Aniplex)

Directed by Tomohiko Ito
Screenplay by Reki Kawahara, Tomohiko Ito
Based on novel series "Sword Art Online" by Reki Kawahara, characters designed by abec
Production by A-1 Pictures
Cast: Yoshitsugu Matsuoka, Haruka Tomatsu, Kanae Ito, Ayana Taketatsu, Rina Hidaka, Ayahi Takagaki, Miyuki Sawashiro, Hiroaki Hirata, Hiroki Yasumoto, Koichi Yamadera, Sayaka Kanda, Yoshio Inoue, Takeshi Kaga


Gw lupa udah pernah mention atau belum, tetapi perlu digarisbawahi bahwa kita hidup di era yang enak untuk menjadi seorang penggemar anime Jepang di Indonesia. Paling kelihatan adalah semakin sering film-film anime atau film-film berdasarkan manga atau anime populer yang diedarkan di bioskop-bioskop sini secara resmi. Coba kalau udah begini sejak 10-15 tahun yang lalu, pasti konsumsi anime bajakan nggak akan seakut sekarang =P. Anyway, kenapa gw ungkit hal ini lagi, salah satunya adalah keberadaan film-film seperti Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale ini. Khusus yang ini, kalau sampai berani diimpor ke Indonesia berarti punya popularitas dan populasi penggemar potensial dong....sesuatu yang sepertinya luput dari radar gw karena gw nggak tahu menahu sama sekali tentang keberadaan franchise ini =D. Ini menandakan bahwa antusiasme penggemar manga dan anime di sini masih berlanjut, nggak stuck di satu periode aja kayak terjadi pada gw--yang dimulai dari angkatan Doraemon dan Saint Seiya lalu berakhir di angkatan Naruto, One Piece, dan Bleach, hehe. Curhat sedikit, gw masih kagum sama antusiasme para "otaku"--sebutan penggemar pop culture Jepang menurut majalah Animonster--yang mungkin sekarang di usia sekolah atau kuliah (semacam beregenerasi terus di rentang usia ini), yang sepertinya makin kompak mendukung produk kesenangan mereka ini. Pernah dibuktikan waktu gw nonton Your Name tempo hari, lalu dibuktikan lagi saat menonton Sword Art Online the Movie ini kemarin, yang jam pertama hampir full sampe AC teaternya berasa jauh lebih hangat dan kadar oksigennya berasa lebih tipis dari yang seharusnya *okay mungkin memang AC-nya bermasalah*. Semoga baik pihak pembuat dan pemilik karya maupun penggemarnya nggak taking this for granted ya.

Naturally, gw harus mencari-cari soal Sword Art Online di internet berhubung wawasan gw nol. Awalnya gw kira ini macam game online *ya maap*, ternyata ini adalah sebuah kisah rekaan Reki Kawahara dalam bentuk novel bergambar, yang kemudian diadaptasi jadi serial anime di TV juga manga, dan katanya salah satu yang populer di era 2010-an. Premis dasarnya adalah tentang Jepang di masa depan, ketika tercipta sebuah massive multi-player online role playing game dalam format virtual reality bernama Sword Art Online (SAO), yang dapat memberikan penggunanya sensasi full immersion seolah benar-benar hidup dalam dunia permainannya ketika memakai alat khusus dan kesadarannya "tertuang" dalam dunia virtual itu. Namun, ketika diluncurkan dan langsung diserbu pengguna, baru ketahuan bahwa setiap pemain yang sudah log in ternyata nggak bisa log out. Parahnya lagi, orang yang mencoba log out paksa dengan mencopot alat dari kepalanya, atau mati di dalam permainan, maka orang tersebut akan mati betulan. Tokoh utama cerita ini adalah Kirito dan Asuna--bukan nama sebenarnya melainkan nama avatar mereka di dunia virtual, yang berjuang bersama menyelamatkan orang-orang dari jebakan permainan tersebut, dan sebagai bonus yang tidak di-include dalam paket permainan =P, keduanya menjalin kasih bahkan punya "anak virtual" bersama-sama. Nah, Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale ini mengambil kisah setelah Kirito dan Asuna dkk berhasil mengalahkan si pencipta permainan yang menjebak mereka yang bernama Kayaba, dan kini mereka sudah bisa bebas hidup di dunia nyata, dan dunia virtual ketika memang pengen, tanpa takut terancam nyawa.

Kisah Ordinal Scale mengambil waktu beberapa tahun setelahnya, ketika muncul teknologi Augma, alat augmented reality yang, nggak seperti virtual reality, menyajikan fitur-fitur virtual tetapi si penggunanya tetap sadar dan bergerak di dunia nyata. Ingat Pokemon Go? Begitulah =D. Di antara fitur tersebut, muncullah permainan baru bernama Ordinal Scale (OS), yang mengajak para pemainnya mengumpulkan poin dan berlomba merebut top skor dengan mengalahkan rupa-rupa monster virtual yang dimunculkan di beberapa tempat umum--bayangkan Pokemon Go dengan alat Nintendo Wii yang benar-benar beraksi gerak fisik bukan cuma gesek layar. Kirito (suara oleh Yoshitsugu Matsuoka), Asuna (Haruka Tomatsu), dkk pun mencoba permainan ini, walau sensasinya berbeda dengan virtual reality karena fisik nyata mereka akan langsung terpengaruh. Yang mencurigakan, monster-monster yang dimunculkan adalah yang pernah mereka temui di SAO, padahal orang dan perusahaan yang membuatnya berbeda. Belum lagi muncul sosok misterius bernama Eiji (Yoshio Inoue), pemangku peringkat 2 top skor permainan tersebut yang diketahui mencelakakan pemain lain, serta sosok gadis ber-hoodie yang datang dan menghilang di sekitar Kirito dan Asuna, yang mirip dengan seorang virtual idol bernama Yuna (Sayaka Kanda). Misteri ini memaksa Kirito dan Asuna dkk untuk mengulik keterkaitan Ordinal Scale dan SAO, sebelum banyak nyawa terenggut seperti yang terjadi pada pengalaman sebelumnya.

Begini, lagi-lagi karena pengetahuan gw nol tentang Sword Art Online sebelumnya, adalah kewajaran jika gw kayak missing beberapa elemen mendasarnya, terutama karakternya. Film Ordinal Scale ini jelas adalah kelanjutan dari berepisode-episode serial animenya, dan basically diperuntukkan bagi mereka yang sudah kenal baik sama universe-nya. Maka bagi yang baru tune in di film ini, jangan terlalu berharap langsung mengerti sifat-sifat serta histori karakternya yang ternyata lumayan banyak itu, dan akan banyak referensi yang hanya diketahui oleh penonton setianya, termasuk tokoh-tokoh tamu yang datang dan pergi tetapi kelihatan punya hubungan dekat dengan para tokoh utamanya. Namun, secara garis besar cerita, film ini termasuk ramah juga sama penonton baru kayak gw. Gambaran tentang world-building-nya diinformasikan cukup komprehensif di bagian awal, sehingga selanjutnya gw cukup bisa mengikuti ceritanya, walau tentu nggak akan selegit mereka yang udah khatam serial animenya. Toh, elemen-elemen yang dijadikan penggerak utama cerita termasuk all new, nggak terkait langsung sama cerita sebelumnya, baik dari permainan dan aturannya yang baru, musuh-musuhnya, dan goal-nya hanya berlaku di cerita yang ini, jadi nggak terlalu masalah sebenarnya.

Memang sih, di satu sisi plot film ini tak lebih dari sekadar mengulang konsep dasar cerita awalnya, hanya kali ini dalam kemasan berbeda. Basis film ini tetap upaya sekelompok orang muda mengalahkan monster-monster, dan oknum yang bertanggungjawab atas para monster tersebut. Film ini kemudian jadi mengulang rutin film sejenis: kalahkan satu monster, monster yang lebih kuat muncul, lalu kemampuan si jagoan meningkat, dan sebagainya. Lalu sebagai fan-service, setiap karakter, termasuk yang numpang nongol bentar, diberi kesempatan unjuk jurus andalan masing-masing. Bahkan di satu titik cerita film ini membawa tokohnya kembali ke dunia permainan SOA demi memenangkan amunisi untuk balik lagi mengalahkan musuh yang sesungguhnya, dan ini jelas-jelas merujuk pada yang sudah pernah mereka lakukan sebelum cerita dalam film ini. Dan, rasanya karakter-karakter ini nggak mengalami perubahan secara substansial ketika cerita berakhir, selain bahwa mereka sudah menyelesaikan satu lagi petualangan bersama-sama, semacam sebuah episode dengan durasi lebih panjang saja. Ya mungkin itulah yang harus dimaklumi terjadi dalam sebuah film yang dasar cerita dan karakternya "sudah jadi" lebih dulu di luar filmnya sendiri.

Namun, di luar itu semua, buat gw kemasan baru yang coba dibikin di film ini terhadap hal-hal rutin tadi cukup intriguing juga. Ide tentang augmented reality game, serta teknologi yang terlalu terintegrasi dan mempengaruhi manusianya langsung di kehidupan nyata, dieksekusi dengan cukup baik. Bukan cuma dari persoalan game yang tampak nyata, tetapi sampai ke kebutuhan sehari-hari macam kupon belanja, tokoh idola virtual, hingga kemampuan teknologi menghitung pola kebiasaan penggunanya lalu merekomendasikan sesuai analisa itu dan terkadang manusia blindly ngikutin saran digital itu, dan juga menyangkut soal menciptakan sebuah persona di dunia maya demi menggantikan rasa kehilangan di dunia nyata. Siapa yang berani menyangkal bahwa film ini sedang merefleksikan hidup kita sekarang, atau yang akan datang. Untungnya, Ordinal Scale nggak terus memilih jalur yang terlalu berat atau being too weird about it ataupun sok ngerumit-rumitin, masih bisa ditangkap dengan mudah kok.

Gw rasa Ordinal Scale termasuk berhasil dalam menyeimbangkan olahan ceritanya yang appealing ke penggemar lama sekaligus masih bisa diterima oleh penonton baru, nggak bingungin-bingungin amat. Kualitas animasinya juga baik, ditambah penataan adegan-adegan laga serta efek digital yang menyokong film ini hingga cukup layak disaksikan di layar lebar. Kalau soal humor atau soundtrack, itu sangat bergantung sama selera sih, anime banget dah pokoknya, heuheu. Gw akui nggak sepenuhnya menikmati film ini karena beberapa unsur missing tadi, again berhubung gw benar-benar penonton yang baru banget, namun gw nggak bisa nggak memberi highlight pada konsep cerita tentang hubungan manusia dan teknologi yang dibahasnya.






My score: 6,5/10

Selasa, 21 Maret 2017

[Movie] Beauty and the Beast (2017)


Beauty and the Beast
(2017 - Disney)

Directed by Bill Condon
Screenplay by Stephen Chobsky, Evan Spiliotopoulos
Based on Disney's Beauty and the Beast written by Linda Woolverton
Produced by David Hoberman, Todd Lieberman,
Cast: Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Kevin Klein, Josh Gad, Ewan McGregor, Ian McKellen, Emma Thompson, Stanley Tucci, Audra McDonald, Gugu Mbatha-Raw, Nathan Mack, Hattie Morahan


Film animasi Disney klasik Beauty And the Beast (1991) adalah sebuah fenomena karena banyak faktor. Selain karena filmnya sendiri bagus, film ini juga memantapkan kebangkitan animasi Disney di peta perfilman dunia berkat sukses di box office, punya lagu soundtrack ikonik yang sering diputar di radio-radio dan TV (istilahnya "pop version"), menang sepasang Piala Oscar dan jadi film animasi bioskop pertama yang masuk nominasi Best Picture di Oscar—dan itu di zaman jumlah nominasinya masih lima judul bukan 8-10 judul kayak sekarang. Status klasik film ini membuat Beauty and the Beast lebih identik dengan Disney ketimbang dongeng aslinya yang asal Prancis atau serial procedural yang dibintangi Linda Hamilton dan Ron Perlman dulu *ekspos umur*. Maka, ketika Disney memutuskan untuk me-remake film ini ke bentuk live action selepas kesuksesan Alice in Wonderland (2010), Maleficent (2014), dan Cinderella (2015), ada excitement sekaligus kekhawatiran, setidaknya buat gw. Excitement karena Disney telah membuktikan mampu mentransfer "magic" dari versi animasinya ke live action lewat berbagai teknologi sinema yang tersedia sekarang, maka membuat Beauty and the Beast dengan skala akbar setara bahkan lebih dari versi animasinya jelas bukan masalah, Disney gitu, duwitnya banyak. Namun, muncul pula kekhawatiran bagaimana film ini bisa menyamai atau meleibihi pencapaian substansial film animasinya yang telanjur ikonik, dan tentu itu butuh dari sekadar bikin filmnya sedapat mungkin mirip dengan versi animasinya.

Iya, untuk yang kali ini Disney memutuskan membuat Beauty and the Beast sebagai dongeng musikal yang bagian besarnya merujuk pada versi animasinya, baik dari plot, karakter, sampai ke lagu-lagu yang digunakan. Jadi, ceritanya ya tetap tentang seorang gadis cantik nan cerdas yang terkurung di istana milik seorang pangeran yang dikutuk berwujud seperti hewan buas (beast), sampai akhirnya keduanya saling jatuh cinta. Proses menuju inti plot tersebut juga lebih kurang mirip seperti versi animasinya, yaitu Maurice (Kevin Kline) kedapatan melanggar aturan (yang obviously tak tertulis) di istana Beast (Dan Stevens) lalu dikurung sebagai hukumannya. Putri Maurice, Belle (Emma Watson) bersikeras untuk bertukar tempat dengan ayahnya, sehingga justru ia yang menjalani hukuman dari Beast. Akan tetapi, dengan bantuan para pelayan Beast yang kini semuanya berwujud perabotan istana, Belle dibuat untuk lebih nyaman tinggal di sana. Sebab, Belle mungkin satu-satunya orang yang dapat mematahkan kutukan yang menimpa Beast dan seisi istana, dengan cara menjadi cinta sejati dari si Beast. Masalahnya, maukah Belle mencintai Beast yang, err.., a beast, dan mampukah Beast mencintai orang lain beruhubung ia dikutuk karena nggak tahu cara untuk mencintai.

Gw termasuk senang dengan keberadaan dan hasil dari Beauty and the Beast versi terbaru ini. Film ini terbilang baik dalam membuat versi "hidup" dari animasinya, masih membawa keindahan visual dan suara, serta selipan-selipan humor yang, to say the least, nggak mempermalukan versi pendahulunya. Beberapa tambahan untuk memperkuat ceritanya juga menyatu dengan baik, seperti tentang sosok ibu Belle dan juga kehidupan Beast sebelum dikutuk. Tambahan-tambahan ini masih berhasil memperkuat message utama dari film ini perihal menilai orang dari penampilan luar, juga gw makin paham motivasi Belle untuk bertahan di istana—karena balik ke desa membuatnya kembali merasa lebih terasing, apalagi ada si ganjen Gaston (Luke Evans), selain karena porsi hubungan Belle dan Beast lebih dieksplorasi. Ini tentu saja menambah dimensi cerita serta para tokohnya sehingga nggak terlalu, well, kartunik lagi.

Akan tetapi, lebih dari sekadar menuturkan kembali cerita klasik terkenal, yang buat gw paling impresif dari Beauty and the Beast versi ini adalah formatnya sebagai film musikal. You might already know that I'm fond of musicals, dan film ini bisa mempersembahkannya dengan apik. Baik lagu-lagu lama yang sudah dikenal maupun lagu-lagu yang baru sama kuatnya, dan rancangan pengadeganannya pun terbilang menggetarkan dan exciting—terlepas dari kualitas vokal dua pemeran utamanya, Watson dan Stevens yang memang bukan jagoan musical theatre, untuk yang ini juaranya ada di Evans dan Audra McDonald sebagai si lemari pakaian. Gw begitu terkesan sama tampilan musikal film ini, apalagi dihiasi oleh desain produksi, kostum, dan visual efek yang megah—termasuk sebuah homage pada Moulin Rouge! (2001) mentang-mentang adegan itu dinyanyikan Ewan McGregor (Lumiere) =D. Sampai-sampai gw berharap bahwa film ini lebih banyak musical number-nya ketimbang dialognya…

Which brings us to the one tiny problem I have with this film. Film ini pada dasarnya sudah mengerjakan semua PR-nya dengan memuaskan, susunan ceritanya bagus, casting-nya oke, visualnya oke, musiknya bagus. Namun, entah berapa kali gw merasakan bahwa film ini terseret-seret temponya, dan gw perhatikan itu selalu terjadi di adegan non-musikal. Gw nggak masalah filmnya jadi panjang karena perlu tambahan dan tambalan cerita—berbeda dari versi animasinya yang memang dirancang lebih singkat dan padat, namun seharusnya versi barunya ini juga mampu menjaga intensitas dan ritme dramatiknya sebagaimana dilakukan di adegan-adegan musikalnya. Yang menurut gw juga turut menjadi faktor penyebabnya adalah akting beberapa pemainnya terlihat masih awkward, termasuk unfortunately  Watson yang di sini kayaknya masih belum memberi variasi ekspresi—tapi mbaknya emang cantek sih T-T, serta beberapa karakter CGI-nya yang nggak seekspresif dan (ironically) sehidup versi animasinya. Alhasil, walau gw setuju bahwa keseluruhan film ini disajikan dengan begitu apik, gw mungkin nggak sampai menikmati dengan sepenuhnya puas, cukup saja.

Kalau menanyakan tingkat kepuasan dari remake live action dari animasi Disney belakangan ini, gw mungkin masih lebih condong pada Cinderella, yang menurut gw ada ikatan cerita dan emosi yang terjaga dan lebih konsisten, although perbandingannya mungkin kurang fair sih karena Cinderella bukan musikal. Nevertheless, buat gw Beauty and the Beast bukan film yang gagal, far from it, terlebih karena kemegahannya serta penghormatannya pada konsep klasik animasi Disney, dan terutama karena ini sebuah musikal, yang jarang-jarang bisa berhasil di zaman penonton-gampang-komplen sekarang ini.






My score: 7,5/10

[Movie] Trinity, the Nekad Traveler (2017)


Trinity, the Nekad Traveler
(2017 - Tujuh Bintang Sinema)

Directed by Rizal Mantovani
Screenplay by Rahabi Mandra
Story by Trinity, Piu Syarif
Based on the book "The Naked Traveler" by Trinity
Produced by Ronny Irawan, Agung Saputra
Cast: Maudy Ayunda, Hamish Daud, Ayu Dewi, Rachel Amanda, Anggika Bolsterli, Babe Cabiita, Farhan, Cut Mini, Tompi, Bio One


Proyek film adaptasi buku nonfiksi bukan hal yang baru-baru amat sih, adaptasi film-filmnya Raditya Dika pun berasal dari buku yang bukan novel fiksi, demikian juga Sokola Rimba, My Stupid Boss, hingga Jakarta Undercover. Apa pun itu, meski buku sumbernya nggak memuat plot atau karakterisasi, saat dibikin jadi film fiksi, ya plot dan karakterisasi itu perlulah dikreasikan supaya lebih enak ngikutinnya dengan masih memuat sebagian atau seluruh spirit dari buku sumbernya. Dalam iklim demikian,  masih terbilang wajar saja bila muncul proyek film Trinity, the Nekad Traveler, berdasarkan buku populer The Naked Traveler yang merupakan catatan berbagai pengembaraan sang penulis yang bernama Trinity. Namun, siapa sangka bahwa perubahan kata naked ke nekad—yang btw menurut KBBI harusnya "nekat"—ternyata memang menggambarkan motivasi tim pembuatnya: nekat bikin sekalipun konsepnya nggak matang.

Gw agak bingung kalau disuruh menceritakan ulang film ini tentang apa. Yang paling jelas ini film soal versi fiksionalisasi dari Trinity (Maudy Ayunda) mencari jalan memenuhi bucket list-nya yang mostly melibatkan pergi ke tempat-tempat jauh atau melakukan hal-hal ekstrem yang nggak ada di lingkungan tempat dia tinggal. Itu plot yang cukup sederhana dan bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang kaya, terus masuk juga soal percintaan dan persahabatan. Masalahnya, film ini kayak belum mampu mengembangkan itu semua dengan maksimal, paling nggak dari hasil akhir yang gw lihat di bioskop. Gw menebak bahwa ada benturan antara keinginan bercerita sebagaimana sebuah film seharusnya, dengan tuntutan bahwa film ini harus mereka ulang pengalaman-pengalaman traveling-nya Trinity ke berbagai tempat eksotis (walau gw ragu kalau Filipina itu termasuk kategori eksotis *eh*) sebagaimana isi bukunya yang jelas-jelas nonfiksi. Celakanya, justru bagian itulah yang lebih banyak diberi oleh film ini, semacam dokumentasi jalan-jalan, tanpa jalinan cerita yang utuh untuk merekatkannya. 

Film ini lebih senang memamerkan pemandangan lokasi-lokasi syuting mereka sambil memberi berbagai tips berwisata sekaligus berpromosi pariwisata yang porsinya unecessarily lebih panjang daripada bercerita tentang perjuangan atau konflik yang dialami Trinity dalam mencapai tujuannya. Gw ambil contoh, porsi nunggu pesawat di Makassar dan jalan-jalan di pasar di Manila nggak perlulah sepanjang itu, karena yang terjadi di adegan-adegan itu nggak pernah terkait dengan bagian lain, jadi montage juga cukuplah. Dalam bagian besar filmnya, gw merasa ini lebih seperti news feature pariwisata di Trans 7 ketimbang an actual film. Kadung begitu sekalian aja tiap mampir makan kasih keterangan nama menu dan harga masing-masing plus alamat dan jam operasionalnya -_-'. Padahal berdasarkan film-film sejenis sebelumnya (dari Eat Prat Love ke Rayya ke Rizal's 5 cm), kalau ceritanya udah fix, motivasi dan plot utamanya udah kepegang, pemandangan indah tuh perkara gampang kok. Lihat aja film-filmnya Screenplay Films *lah balik ke situ =P*.

Modal untuk jadi film yang lebih menarik sudah tersedia lho. Ada tokoh Paul (Hamish Daud) yang seakan jadi tandem sehati sepikiran Trinity mengenai "traveling", ada sahabat-sahabat sehobi Trinity yang diajak jalan bareng ke Filipina, lalu ada tokoh misterius Mr. X yang berkontribusi dalam mewujudkan impian Trinity. Kalau gw pribadi, bagian Mr. X itu yang paling potensial dijadikan plot device film ini, karena ini bagian cerita yang paling "materi film banget", yang nantinya akan memancing perubahan pada si tokoh Trinity. Sayangnya kontribusi si Mr. X ini cuma dimunculkan satu kali doang, dimanfaatkan buat lagi-lagi pamer lokasi wisata sebanyak-banyaknya, di bagian menjelang akhir pula, ck. Anyway, gw menemukan sih isyarat bahwa konflik utama cerita ini adalah Trinity kadang lebih mementingkan bucket list ketimbang pekerjaan resminya ataupun keluarga dan sahabatnya, namun nggak ada yang dikembangkan dengan semestinya, bahkan beberapa nggak diselesaikan dengan baik, mungkin demi menganut prinsip "traveling itu perjalanan yang terus menerus tiada akhir" bla bla bla. Bagian yang bisa gw sebut "cerita" baru gw bisa tangkap di hanya 30 menit terakhir, itu pun bukan dengan cara yang enak, karena terlalu mengandalkan narasi voice over. In the end, keseluruhan film ini terasa hollow aja buat gw.

Yah…bukannya nggak ada sama sekali nilai baik yang dipunya film ini. Pemandangan itu one thing—walau yang terkait sama cerita itu paling cuma satu atau dua, tetapi gw juga cukup menghargai film ini dalam membentuk tone yang cukup jelas terhadap presentasi filmnya. Supaya jelas fiksionalisasinya, maka film ini dibikin lebih ke komedi, dengan berbagai tokoh karikatural (orang tua dan bos Trinity, plus Tompi =D), hingga breaking the 4th wall dengan Trinity beberapa kali memberi penjelasan langsung ke penonton dengan menghadap kamera. Kentara mereka ingin membawa film ini ke arah fun, dan itu cukup bisa diwujudkan, meski akhirnya tersandung oleh arah cerita dan penuturan yang kurang menyenangkan buat gw karena terganggu oleh "kepentingan" lain tadi—dan gw belum menyinggung perpindahan topik mendadak out of nowhere tentang betapa indahnya negeri kita, like, where's that come from? Oh, konon film ini juga punya misi sampingan menginspirasi penontonnya agar dapat berwisata dan meng-embrace-nya lebih dari sekadar numpang mampir dan numpang foto. Pada tahap tertentu, film ini cukup bisa membangkitkan itu di gw, tetapi mungkin karena gw pernah pengalaman ke Filipina, dan melihat apa yang ditunjukkan di film ini, gw sih masih belum menemukan alasan valid untuk wisata ke sana lagi =P.





My score: 5,5/10

Senin, 20 Maret 2017

[Movie] Bid'ah Cinta (2017)


Bid'ah Cinta
(2017 - Kaninga Pictures)

Directed by Nurman Hakim
Written by Ben Sohib, Nurman Hakim, Zaim Rofiqi
Produced by Nurman Hakim, Joya D. Sahri
Cast: Dimas Aditya, Ayushita Nugraha, Ibnu Jamil, Fuad Idris, Alex Abbad, Dewi Irawan, Ronny P. Tjandra, Karlina Inawati, Yoga Pratama, Wawan Cenut, Norman Akyuwen, Ade Firman Hakim, Jajang C. Noer, Tanta Ginting, Khiva Iskak


Setelah The Window, cepet juga jeda sutradara Nurman Hakim untuk film selanjutnya, Bid'ah Cinta. Kali ini sepertinya lebih dekat dengan riwayat Hakim di dua film terawalnya, 3 Doa 3 Cinta dan Khalifah, yang berbicara tentang kompleksitas kehidupan karakter-karakter beragama Islam di negeri ini—mulai tentang anak-anak pesantren hingga stigma dalam berbusana. Namun, kalau dari segi skala, Bid'ah Cinta mungkin jadi yang terbesar. Bisa jadi itu karena gw lihatnya sekadar dari jumlah pemain yang berderet-deret, tetapi ternyata bisa dilihat juga dari isu-isu yang mau diangkat dalam lingkup sebuah kampung di tengah (atau pinggir?) Jakarta, semacam refleksi dari situasi sosial yang makin marak terjadi di negeri ini. Memang, dari judulnya (dan posternya) film ini seakan mengarahkan fokus pada kisah cinta muda-mudi, segitiga pula, namun rupanya pengejewantahan kata "bid'ah" dan "cinta" dieksplorasi lebih dari pada sekadar judul.

Gw menangkap Bid'ah Cinta adalah rangkuman kisah-kisah yang bermuara pada perbedaan pandangan—atau aliran—terhadap agama yang sama, dalam hal ini adalah Islam. Di suatu kampung mulai ada pergesekan antara penganut Islam lokal yang dipimpin oleh sesepuh kampung, pak Haji Rohili (Fuad Idris), dengan penganut Islam puritan yang mulai banyak peminatnya sejak kehadiran ustaz Jaiz (Alex Abbad). Yang membedakan kedua aliran ini adalah kaum puritan sudah nggak melakukan macam-macam tradisi yang nggak diperintahkan atau dicontohkan dalam hukum agama, atau sering disebut bidah—contoh di sini maulidan dan tahlilan. Di antara gesekan dua gagasan ini, ada sepasang muda-mudi yang menjalin hubungan dekat, Khalida (Ayushita Nugraha) dan Kamal (Dimas Aditya), hanya saja hubungan mereka tak sepenuhnya direstui karena perbedaan aliran agama yang mereka jalani. Kamal dari keluarga Haji Jamat (Ronny P. Tjandra) yang puritan serta kerabat dari Jaiz. Sementara Khalida adalah putri Haji Rohili, yang tentu saja lebih senang bila Khalida dijodohkan sama Hasan (Ibnu Jamil) yang baik budi, tidak sombong, dan sealiran. Namun, mengubah arah hati tidaklah semudah itu. 

Rupanya, kisah cinta Khalida dan Kamal tadi bisa dibilang "hanya" sebagai penggerak utama film ini, karena ada berbagai subplot yang juga diceritakan di sekitar mereka. Lebih dari pada soal hubungan Khalida dan Kamal, ada pula persoalan masjid kampung yang jadi "rebutan" antar dua kubu yang memengaruhi kegiatan keagamaan di kampung tersebut. Ada pula kisah Farouk (Wawan Cenut) yang juga ingin merebut hati Khalida, tetapi kehidupan yang serabutan dan gemar mabok terus menjadi penghalang, sampai ia menemukan cara yang diharapkan mampu membuatnya berubah secepat mungkin. Muncul pula Sandra (Ade Firman Hakim), sosok yang religius tetapi mendapat pandangan miring dari sesama jemaah karena fakta bahwa ia wanita transgender. Tak lupa—seperti film-film bertema Islam bikinan Hakim sebelumnya, film ini juga membahas tentang stigma "teroris" yang dalam dekade-dekade belakangan kerap dikaitkan dengan penganut Islam. Bagian ini digerakkan lewat tokoh kakak Khalida, Zaki (Yoga Pratama) yang kekeuh menuduh Kamal adalah bagian dari kelompok umat pendukung terorisme, serta kemunculan dua ustaz baru (Tanta Ginting dan Khiva Iskak) di lingkungan ustaz Jaiz yang diam-diam mengundang tanya.

Kalau dijabarkan kayak begitu tadi, kesannya film ini kepenuhan topik. Akan tetapi, Bid'ah Cinta ternyata berhasil mengatasi risiko kepenuhan itu dengan penuturan yang rapi dan terus terkait satu dengan yang lain. Kisahnya seperti terpencar-pencar, tokoh-tokohnya pun demikian banyak, namun gw tetap merasakan setiap cerita yang disampaikan film ini tetap punya satu benang merah, sebab akibatnya tetap nyambung, gw pun tetap bisa balik lagi ke tokoh atau cerita yang mana tanpa merasa kesasar atau kehilangan. Gw bisa merasakan film ini tetap satu cerita utuh, yaitu cerita tentang sebuah kampung menghadapi masalah perbedaan pandangan, dan yang cukup penting juga adalah semuanya itu mengarah kepada sebuah statement yang jelas. Film ini nggak membenarkan atau menyalahkan pandangan yang manapun, nggak bisa segala sesuatu dikelompok-kelompokkan dengan prasangka masing-masing dan harus selalu dibikin bertikai, semua punya argumen yang valid—dan diolah dalam berbagai dialog yang cukup mengena, tetapi bahwa yang seharusnya diperhatikan oleh semua pihak adalah cinta kasih terhadap sesama. Statement ini begitu jelas namun nggak dijejali ke penonton secara verbal, melainkan dititipkan pada penataan adegan serta dialog, hingga memainkan prasangka penonton terhadap karakter-karakternya, classy.

Di luar susunan cerita, film ini juga makin bikin nyaman dilihat lewat pemeranan dan nilai produksinya yang layak. Gw suka sama presentasi visual film ini, gabungan desain produksi dan sinematografinya memberikan kesan sederhana tetapi "bertekstur" dan berkarakter, dan di sisi lain, walau terkesan agak terlalu bersih dan lengang untuk sebuah kampung di Jakarta, masih tetap terasa membumi dan believable. Para pemain yang jumlahnya belasan itu pun bisa memberikan akting yang baik. Mungkin presentasi filmnya yang multiplot nggak memberi mereka ruang yang lebih leluasa dalam memberikan performa menonjol, tetapi menampilkan akting yang saling kompak dan terkait tetaplah sebuah pencapaian. Btw, gw melihat film ini cukup baik dalam memadukan gaya penuturan yang komunikatif dengan artistry-nya, jadi nggak terlalu cerewet apalagi memanipulasi emosi, tetapi nggak terlalu "sunyi sunyi nyeni" juga, sehingga seharusnya sih film ini bisa diterima penonton dalam jangkauan lebih luas ketimbang 3 Doa 3 Cinta atau The Window, misalnya. Ada juga saat film ini hampir mengesankan semua persoalan pasti selesai dengan cara-cara klise, namun terselamatkan oleh manuver yang mengarahkan gw untuk melihat bahwa nggak semua problem kehidupan yang dikisahkan bisa tuntas tas dalam waktu bersamaan.

Tentu saja Bid'ah Cinta bukannya tanpa problem. Kalau buat gw, meski gw cukup menikmati cerita dan tampilannya—yang agak mengingatkan pada tuturan gaya film atau drama TV lawas dengan angle cerita serupa, which was not a bad thing, problem yang paling kelihatan dari film ini terletak pada lajunya. Entah berapa kali gw merasa durasi adegan film ini bisa dipersingkat—dan ya itu termasuk adegan dangdutannya. Andai di-trim lagi aja, pasti film ini akan lebih terasa impact-nya. Terus terang itu cukup bikin gw tertahan untuk benar-benar menikmati film ini seutuhnya, tetapi cuma itu aja sih, selebihnya oke kok. Toh, buat gw beberapa bagian lain yang dicapai Bid'ah Cinta sudah cukup untuk membuatnya sebagai film yang patut, bahkan perlu ditonton oleh lebih banyak orang. Meski kesannya isu yang diangkat cukup sensitif dan agak dihindari dalam percakapan umum, film ini masih bisa membawakannya dengan articulate, nggak ofensif ataupun defensif, sembari menyuntikkan humor dan sweetness yang bikin filmnya nggak segitunya menjenuhkan. Seusai nonton gw bukan cuma mendapatkan kisah cinta Khalida dan Kamal dan Hasan, tetapi juga kisah satu kampung itu, dan suatu insight dari isu-isu relevan perihal kehidupan beragama di Indonesia, dalam tuturan yang mudah diserap dan kemasan yang terampil.





My score: 7,5/10

Minggu, 19 Maret 2017

[Movie] Gold (2016)


Gold
(2016 - Sierra Affinity/Black Bear Pictures/Highway 61 Films/TWC-Dimension)

Directed by Stephen Gaghan
Written by Patrick Masset, John Zinman
Produced by Teddy Schwarzman, Michael Nozik, Matthew McConaughey, Patrick Masset, John Zinman
Cast: Matthew McConaughey, Édgar Ramírez, Bryce Dallas Howard, Corey Stoll, Toby Kebbell, Joshua Harto, Bill Camp, Rachael Taylor, Stacey Keach, Craig T. Nelson, Bruce Greenwood, Jirayu Tantrakul


Kalau mengulik asal-usulnya, Gold harusnya jadi film yang sangat menarik. Buat gw, pertama adalah sutradaranya, Stephen Gaghan, yang kembali bikin film setelah Syriana (2005) yang gw sukai, karena film multikarakter dan multiplot itu bisa memberi gambaran tentang konspirasi perihal minyak bumi yang melibatkan korporasi-korporasi dan pemerintah-pemerintah. Doi juga yang nulis skenario film seputar perang narkoba AS-Meksiko, Traffic (2000). Dengan resume demikian, gw cukup menantikan penanganannya terhadap skandal penipuan investasi tambang emas yang diangkat di Gold. Nah, yang kedua, ternyata skandal yang dimaksud berdasarkan skandal betulan yang terjadinya di Indonesia negeri kita bersama, tepatnya pada era 1990-an—masih Orde Baru—yang melibatkan perusahaan Kanada, Bre-X di kawasan bernama Busang, Kalimantan Timur. Everyone should be excited, right? Walau akhirnya film ini merancang tokoh-tokoh dan jalan cerita yang berbeda dari aslinya—bahkan setting waktu dan tempatnya di-altered kecuali nama "Indonesia" dan rezim Suharto-nya, sepertinya nggak ada yang bisa menghalangi film ini untuk jadi sesuatu yang menarik, kecuali si yang bikin film yang mengacaukannya sendiri…which was exactly what happened.

Gold menitikberatkan pada kiprah Kenny Wells (Matthew McConaughey) dalam upaya terakhirnya meraih kesuksesan, setelah ia membuat perusahaan investasi tambang Washoe warisan ayahnya (Craig T. Nelson) di Reno, Nevada *inget Sister Act*, Amerika Serikat mengalami kebangkrutan di penghujung era 1980-an. Upaya untuk bangkitnya itu diawali oleh mimpi menemukan emas di tengah hutan belantara Indonesia *=D*, dan ia bermaksud mewujudkan mimpinya itu. Nekat, ia lalu menggandeng Michael Acosta (Édgar Ramírez), pelacak tambang ternama untuk terjun ke tengah hutan hujan tropis Kalimantan dan membuktikan mimpinya itu, sekalipun harus menggadaikan sisa-sisa harta yang dia miliki. Selama berminggu-minggu Michael dan Kenny mencoba bertahan di ganasnya hutan, demi memimpin penggalian tanah sampai ketemu emas. Ketika nyaris putus asa, akhirnya Michael menyampaikan mereka menemukan emas, dan kemungkinan ada berton-ton emas lainnya di bawah tanah sana. Dengan adanya penemuan ini, langkah selanjutnya adalah mencari investor untuk membuka pertambangan di lokasi tersebut. Di sinilah masalah mulai merumit, ketika banyak pihak dengan pengaruh modal dan politiknya ingin mengambil bagian, sementara Kenny yang take everything about this personally emoh untuk lepas tangan dari proyek ini.

Okay, meski nggak persis sama dengan skandal emas Busang *thanks Wikipedia*, sinopsis Gold tadi masih terbilang menarik, ya nggak? Titik cerita yang coba dikembangkan pun oke sebenarnya, bahwa si Kenny ini dapat "wahyu" untuk membuktikan diri dia bisa sukses, too good too be true, sampai kemudian berakhir dengan skandal memalukan. Akan tetapi, ada masalah dari segi tone yang gw rasakan. Film ini seolah mencoba bikin komedi satir sok asik bernuansa vintage—mungkin terinspirasi The Wolf of Wall Street dan American Hustle, lalu digabungkan dengan drama tentang kriminalitas kaum berdasi, lalu digabungkan pula dengan kisah persohiban Kenny dan Michael. Sayangnya, menurut gw, none of them worked properly. Persahabatan Kenny dan Michael nggak pernah sampai tertanam dengan baik dalam benak gw, karena baru benar-benar (dipaksa) kelihatan pada satu adegan menjelang babak akhir. Percampuran kisah antara perjalanan hidup Kenny dengan skandal yang dialaminya buat gw juga nggak pernah dipadukan dengan enak, jadinya malah bikin gw bingung sebenarnya core cerita film ini tuh apanya, mau ngurusin Kenny atau ngurusin skandal, atau ngurusin hubungan Kenny-Michael. Cerita-cerita ini bisa saja menarik, tetapi entah kenapa ketika digabungkan jadi satu film malah lemah semua, nggak fokus, dan excitement-nya kayak ketahan-tahan, tanpa benar-benar mencapai titik yang intens di sebagian besar durasinya. 

Padahal ya, skandal yang diangkat di sini akan sangat menarik kalau lebih diulik dan di-emphasize. Film ini diawali dengan cukup informatif tentang cara kerja perusahaan tambang serta proses mencari investornya. Demikian pula ketika merembet ke kongkalikong dengan perusahaan-perusahaan besar serta pemerintah—di sini juga menyinggung salah satu anak presiden Indonesia saat itu yang kebagian jatah besar, tentu saja nama oknum dan karakterisasinya di-altered juga di sini. Dan ketika sampai pada skandalnya, gw bayangkan pasti akan cukup nendang bila tetap dengan tone political thriller sebagaimana gw pernah menemukannya di film Syriana, yang kemudian juga menyangkut hukuman yang ditanggung oleh si biang kerok skandal yang tidak sampai diproses hukum. Apa lacur, itu hanya harapan gw saja, itu adalah potensi Gold yang kurang..err..digali. Yang terjadi adalah film ini kelihatan kepengen banget mengalihkan perhatian penonton pada sisi pribadi karakter-karakternya, supaya filmnya ini lebih terlihat "menyenangkan" dan "emosional", sebelum akhirnya pindah fokus pada kasusnya—mungkin karena menganggap semua orang udah tahu ending-nya jadi sengaja dibawa ke "mana-mana" dulu gitu, sehingga ending-nya jadi rada nge-twist. Namun, ya itu tadi, perpaduannya nggak terasa padu, nggak benar-benar sampai menyenangkan, boro-boro emosional, dan, twist apanyah?!

Film ini untungnya masih punya beberapa nilai yang layak disaksikan. Nilai tertingginya ada pada permainan McConaughey yang melepas semua slengean-tapi-ganteng-nya menjadi slengean-jelek-gendut-pulak dengan total, baik secara fisik maupun emosinya. Meski pada akhirnya nggak disokong oleh penuturan cerita yang enak, performanya sebagai Kenny adalah penyelamat kualitas film ini. Nilai yang kedua adalah—untungnya—film ini masih bisa memberi gambaran tentang manuver-manuver bisnis bidang pertambangan. Again, sekalipun nggak disokong dengan penceritaan terbaik, film ini masih bisa memberi sedikit sampel tentang perilaku manusia sebelum dan sesudah melihat duit sekalipun mainannya udah di skala multinasional. Baru lihat doang lho itu. Paling nggak, gw masih bisa nangkap dark side dari bisnis kapitalis skala internasional seperti tambang emas dari film ini, sebagaimana gw bisa nangkap sisi serupa dari dunia perminyakan di Syriana—udah gw sebut tiga kali aja, go find and watch that one folks.

Itu pun gw belum membahas cara film ini menggambarkan Indonesia ya. Gw termasuk yang menganggap impresi tentang Indonesia film ini secara garis besar memang agak mirip kenyataannya, nggak persis sih tapi nggak sengaco gambaran Malaysia di Zoolander-lah, toh segala elemen sejarah film ini memang sengaja dibedain jadi gw bisa terima aja kalau nggak akurat. Tetapi, memang dalam beberapa hal film ini terlalu meng-alter hal-hal yang nggak penting yang malah jadinya lucu aja. Contohnya ada kesan di film ini bahwa Jakarta dan hutan Kalimantan itu deket, beberapa kata bahasa Indonesianya ketahuan banget cuma modal Google tanpa konsultan, dan bahwa Jakarta itu mirip Bangkok. Well, filmnya emang syuting di Bangkok tapi yang masak memakai sisi yang Bangkok banget seperti sungai besar nan bersih Chao Phraya di tengah kota. Yah untung aja pas Kenny bawain oleh-oleh buat pacarnya (Bryce Dallas Howard) berupa kain batik emang kelihatan batik Indonesia sih. Ya tapi udahlah, nggak ngaruh, toh filmnya nggak kece-kece amat juga.





My score: 6/10

Rabu, 15 Maret 2017

[Movie] London Love Story 2 (2017)


London Love Story 2
(2017 - Screenplay Films)

Directed by Asep Kusdinar
Written by Sukhdev Singh, Tisa TS
Produced by Sukhdev Singh, Wicky V. Olindo
Cast: Dimas Anggara, Michelle Ziudith, Rizky Nazar, Ramzi, Salshabilla Adriani, Mawar Eva De Jongh, Irene Librawati, Ina Marika


I know. Ngapain gw nonton film beginian. Mana London Love Story pertama itu film yang bikin sakit kepala berkat berbagai kekonyolan sinetron-ish-nya. Tetapi, kilah gw sih cuma satu: Screenplay Films. Somehow sejak tahun lalu gw merasa terbeban untuk "mengawal" film-film keluaran rumah produksi yang berawal dari pemasok FTV buat SCTV ini, yang tercatat cukup konsisten mencetak film laris dan bikin dedek-dedek alay makin rajin ke bioskop dan turut membangkitkan gairah bisnis perfilman nasional tahun-tahun belakangan ini. Kalau gw sih sejak ILY from 38.000 Ft (2016) tepatnya, ketika mereka membuktikan punya niat luhur memproduksi film-film mereka yang bertarget remaja dengan layak dan "seperti film bioskop" walaupun ceritanya masih seperti "itu". Well, sempat ada let down sih di Promise ketika nilai produksi yang mahal disia-siakan oleh penuturan yang kecentilan. Itu pula yang bikin gw lumayan prepare saat akan nonton London Love Story 2, bahwa mungkin titik puncak mereka hanya akan sampai di ILY.

Mundur sedikit, London Love Story sepertinya ingin dijadikan seri perjalanan cinta antara dua insan muda Indonesia yang cukup beruntung bisa tinggal di luar negeri dengan nama yang sangat novel, Dave (Dimas Anggara) dan Caramel (Michelle Ziudith). Beruntung (or not) gw sempat menonton filmnya di TV, sehingga yah lumayan informed bahwa keduanya dipertemukan di Bali lalu si Caramel minggat tanpa bilang setelah melihat dari jauh Dave mesra dengan wanita lain yang mengaku tunangannya lalu mereka tanpa sengaja ketemu lagi di London dan Dave menjelaskan sudah menolak pertunangan itu dan selesailah salah paham selama setahun itu dengan keduanya jadian. I know. Move along.

Di London Love Story 2, kisahnya satu tahun kemudian, Dave dan Caramel sudah tunangan. Keduanya begitu mesra dengan Dave selalu memberikan rupa-rupa surprise unyu kepada Caramel, termasuk tiket liburan bareng ke Swiss, sekaligus mengunjungi sahabat mereka Sam (Ramzi). Di tengah liburan itu, muncul sosok Gilang (Rizky Nazar), teman dari Sam, seorang chef dari Indonesia. Namun, bagi Caramel orang tersebut lebih daripada itu, karena ternyata keduanya punya masa lalu bersama sebelum Caramel bejumpa dengan Dave. Keduanya seolah kompak sama-sama diam pura-pura baru kenal, tetapi sikap diam-diam perhatian dari Gilang membuat Caramel tak nyaman, apalagi dia sudah punya Dave dan most of the time mereka jalan rame-ramean di selama di Swiss. Sampai kapan mereka bisa diam saja begitu, dan sampai kapan mereka bisa merahasiakan ini semua dari Dave.

I mean, wow, kalau lihat dari sinopsisnya saja, tanpa melihat ini produksi Screenplay dan dimainkan oleh anak-anak ini, this can actually be a legit romance film, even for adults =D. Di luar ekspektasi gw, kisah London Love Story 2 ternyata memuat konflik-konflik relationship yang terbilang lebih masuk akal daripada film-film Screenplay sebelumnya. Kisahnya sendiri straightforward begitu, bahkan kayaknya beberapa adegan sudah pernah dilakukan di film-film Screenplay lainnya, tetapi di sini entah kenapa lebih ada volumenya. Meski, yah, di beberapa titik film ini teteup mau masukkan elemen "twist" seperti biasa, untungnya penuturannya nggak terlalu mengandalkan itu sebagai alat kejut buat penontonnya. Yang ada hanyalah pengungkapan dari petunjuk-petunjuk yang sudah jelas dipaparkan di terlebih dahulu, predictable tetapi setidaknya nggak tiba-tiba ada, dan nggak asal flashback saja. Kata-kata mutiara buatannya pun nggak terlalu banyak, malahan gw lihat film ini lebih banyak bermain di visual, yaitu dari ekspresi dan gestur pemainnya. Ke-verbal-annya dikurangi, sehingga memberi ruang lebih longgar bagi mood dan emosi. Progress! =D.

Tentu saja, beberapa penyakit film-film pendahulunya masih kambuh di beberapa tempat. Pengungkapan dan penjelasan di bagian penutupnya masih dengan cara klasik "kamu salah mengira", humor-humor receh (nggak sereceh Promise sih =_=), atau masih ada kesan film ini cuma pinjam setting luar negeri buat jualan tanpa benar-benar ada pengaruhnya sama cerita. Namun, problem yang paling mendasar ternyata balik lagi ke cerita, khususnya karakterisasi. Gw cukup fine sama jalan ceritanya—again karena sebab akibatnya yang paling masuk akal dari semua film Screenplay, tetapi film ini masih memberi buaian melenakan bahwa orang-orang ini sudah punya karier sebagus itu dan masalah-masalah seribet itu dalam umur yang sangat muda. Masih umur 19 sekolah di luar negeri mikirnya udah nikah aja, umur 20 udah bisa bergelar "chef" di Swiss, dan bahwa "masa lalu" ternyata baru 2 tahun sebelumnya, like, yaelah masih ada sisa bau pensil 2B Ujian Nasional aja kesannya udah lamaaa banget. Yah, karena filmnya ingin memuaskan target penontonnya yang remaja yang konon nggak boleh dikasih yang terlalu harsh reality, mau nggak mau gw harus maklum.

Akan tetapi, gw kali ini lebih ingin mengingat akan hal-hal positif yang dilakukan film ini, yang mungkin patut dipetik oleh mereka yang ingin bikin karya sejenis. Screenplay kali ini benar-benar meningkatkan cara berceritanya (yah lumayanlah) serta of course nilai produksinya. Meski ke-Eropa-annya itu nggak pengaruh buat cerita, tetapi cukup ngaruh dari segi produksi. Yang gw perhatiin khususnya Swiss yang sepertinya sangat kolaboratif untuk keperluan film ini lebih dari sekedar ambil pemandangan, malah sampai bisa ada adegan kebut-kebutan mobil antik (ah, yang kurang dari Promise akhirnya dibayar di sini hahaha =P), demikian pula persembahan visual cerah berwarna yang bikin film ini sangat enak dinikmati di layar lebar. Namun, mungkin yang paling mengejutkan gw adalah para pemainnya yang berhasil untuk tidak menjengkelkan—termasuk Michelle yang biasanya histerikal dan Ramzi sebagai comic relief yang paling rawan jadi menjengkelkan. Bahkan, ketika tiba pada sebuah adegan yang cukup intens antara dua karakter seperti reversed-version of AADC 2, ternyata jauh dari kata gagal ataupun norak. Gw kayaknya perlu give credit ke sutradaranya atau siapa pun yang mampu membuat aktor-aktor langganan Screenplay tersebut bisa begitu kali ini.

Atau, gwnya saja yang sudah terlalu melunak dan tak lagi laik dalam mengritisi, sehingga mudah terperdaya oleh segala hal yang ditawarkan film ini. Well, bagaimanapun, setiap kali ekspektasi kita bisa dilampaui oleh karya yang kita nikmati, rasanya akan enak aja, ya 'kan? Itu yang gw dapat dari London Love Story 2. Kekonyolan-kekonyolan masih belum lepas di berbagai elemennya, namun di saat bersamaan film ini juga menunjukkan niat dan upaya maju—ke arah yang lebih benar dibandingkan Promise, dan itu menyenangkan untuk disaksikan.




My score: 6,5/10

Selasa, 14 Maret 2017

[Movie] Hidden Figures (2016)


Hidden Figures
(2016 - 20th Century Fox)

Directed by Theodore Melfi
Screenplay by Allison Schroeder, Theodore Melfi
Based on the book by Margot Lee Shetterly
Produced by Donna Gigliotti, Peter Chernin, Jenno Topping, Pharrell Williams, Theodore Melfi
Cast: Taraji P. Henson, Octavia Spencer, Janelle Monáe, Kevin Costner, Kirsten Dunst, Jim Parsons, Mahershala Ali, Aldis Hodge, Glen Powell, Kimberly Quinn, Olek Krupa, Kurt Krause, Donna Biscoe


Kisah keberhasilan orang-orang yang sebelumnya diremehkan alias underdog bukan cuma kesukaan penonton sini—kerap juga dilabeli "kisah inspiratif". Hollywood juga cukup sering mengangkat kisah-kisah seperti ini, dan biasanya pola berkisahnya mirip-mirip: orang atau orang-orang yang berangkat dari keadaan susah atau dianggap nggak berkemampuan ternyata sanggup membuat pencapaian besar, tinggal taruh saja keberhasilan atau pencapaian orang atau orang-orang tersebut ada di bidang apa. Pola tersebut juga sedikit banyak digunakan dalam Hidden Figures, sebuah film berdasarkan kisah nyata pencapaian badan antariksa Amerika Serikat, NASA. Namun, ada yang unik dalam Hidden Figures, pola cerita filmnya mungkin tak berubah, tetapi topiknya termasuk segar, karena nggak banyak diketahui publik. Film ini mengangkat kisah para wanita Afrika-Amerika yang ternyata turut berjasa dalam beberapa misi antariksa terawal NASA di era 1960-an, yang notabene adalah masa-masa diskriminasi gender dan ras masih sangat kental di keseharian warga sana.

Hidden Figures berfokus pada tiga wanita Afrika-Amerika yang bekerja untuk NASA, Katherine Goble (Taraji P. Henson), Dorothy Vaughan (Octavia Spencer), dan Mary Jackson (Janelle Monáe). Ketiganya adalah bagian dari tim West Area Computers, bukan komputer mesin ya, tapi "computer" dalam artian orang-orang yang meng-compute alias menghitung berbagai angka untuk keperluan apalah-apalah di NASA. Iya, jadi sebelum punya mesin komputer, untuk beberapa penghitungan matematika dan fisika segala macam, NASA menyerahkannya pada tim yang seluruhnya wanita, yang kemudian dibagi juga jadi tim komputer wanita kulit putih dan wanita kulit hitam/berwarna, akibat politik segregasi saat itu yang memisahkan kedua ras ini dalam hal apapun—rumah makan, toilet, tempat duduk bus, bahkan pintu masuk gedung fasilitas umum. Karena gender dan ras, Katherine cs hanya bisa berharap karier mereka akan sampai di tukang hitung di balik layar saja seperti sekarang. Namun, menjelang misi-misi perdana NASA untuk meluncurkan pesawat berawak ke luar angkasa—setelah keduluan Uni Soviet, kesempatan yang tak disangka akhirnya menghampiri para wanita ini. Katherine yang jenius sejak kecil ditugaskan ke tim utama peluncuran pesawat ruang angkasa pimpinan Al Harrison (Kevin Costner), sementara Mary dipindahkan untuk menjadi tukang hitung di bagian engineering--keduanya jadi orang kulit berwarna pertama di posisi masing-masing.

Akan tetapi, kerja mereka bukan berarti tanpa halangan. Katherine kerap mendapat perlakuan tak mengenakan dari orang-orang sekitarnya yang (nyaris) semuanya pria berkulit putih—dan berpakaian kayak seragam =D, juga secara rutin terganggu kerjanya karena toilet untuk wanita kulit berwarna ada di gedung yang berbeda. Ada pun Mary terdorong untuk jadi lebih dari sekadar tukang hitung, dan berkeinginan jadi engineer langsung, namun ia terbentur sebuah syarat gelar yang proses mendapatkannya juga nggak fair karena segregasi ras tadi. Sementara Dorothy yang telah menjadi semacam supervisor tak resmi dari para wanita ini hampir putus asa ketika mengetahui ia nggak akan jadi supervisor betulan di timnya sendiri. Sampai akhirnya ia diam-diam belajar bahasa komputer secara otodidak, dan jadi satu-satunya orang yang berhasil mengoperasikan mesin komputer baru dari IBM untuk keperluan NASA. 

Kalau diperhatikan sebenarnya Hidden Figures ini bukan kisah underdog seperti biasa. Sejak awal perkenalan tokoh-tokoh ini, gw merasa filmnya cukup menghemat waktu gw dengan ngeskip kerja keras mereka sebelum akhirnya diterima NASA. Toh pokoknya mereka berhasil diterima NASA, nggak main-main, artinya sudah fix mereka itu punya kemampuan istimewa. Film ini justru langsung fokus pada persoalan berbeda yang dialami oleh Katherine, Dorothy dan Mary masing-masing setelah berada di NASA, dan ketiga cerita punya satu benang merah: masalahnya adalah bukan pada sejauh apa kemampuan mereka, tetapi sebesar apa kesempatan yang diberikan pada mereka. Ketiga sosok ini jadi semacam pilihan terakhir di saat kepepet di lingkungan mereka, karena keberadaan mereka hampir nggak diketahui, terlebih lagi karena mereka perempuan, yang sering dianggap nggak lebih cerdas di bidang sains daripada laki-laki, berkulit hitam pula, yang sering nggak diberi hak yang sama seperti warga mayoritas walau sesama warga negara. Misalnya mereka diajak lebih awal, apakah NASA akan berhasil mendahului Uni Soviet dalam teknologi antariksa? Bisa jadi. Equal opportunity, peluang yang setara, adalah kata kuncinya.

Namun, ketiga wanita dalam cerita ini juga bukannya ngedumel ketika diperlakukan diskriminatif. Bisa dipahami, mereka sudah cukup beruntung bisa bekerja untuk NASA, lembaga negara berwawasan antariksa, bahwa ilmu yang susah payah mereka timba di bidang sains bisa bermanfaat di sini, itu jauh lebih mending dari keadaan sebagian besar kaum mereka saat itu. Instead, yang mereka lakukan adalah membuktikan kinerja mereka, tak menyia-nyiakan kesempatan—karena salah sedikit pasti "penghakiman"-nya akan ke mana-mana, dan sampai akhirnya nggak ada pihak bisa menyangkal bahwa diskriminasi adalah sesuatu yang tak beralasan, pada akhirnya ilmulah yang berbicara. Memang agak politis ya, dan persoalan diskriminasi gender apalagi ras memang terus jadi isu hangat di Amerika Serikat sampai sekarang. Ada kalanya juga terkesan film ini hanya ingin mengampanyekan "nilai-nilai Amerika" ideal yang konon nggak membeda-bedakan latar belakang dan jati diri orang dalam segala bidang, tetapi toh rasanya nilai itu juga layak dipetik oleh penonton di mana pun. Maksud gw, negara kita aja masih belum lepas dari saling diskriminasi tho, baik dari segi suku, agama, ras, pilihan politik, pilihan tempat nongkrong, maupun akreditasi sekolah *lah*.

Walau begitu, yang gw suka juga dari Hidden Figures adalah cara bertuturnya yang begitu lembut dan nggak tensi tinggi. Isunya cukup sensitif, tetapi dibawakan dengan santai, dengan mendekatkan simpati penonton pada ketiga karakternya, yang memang pada dasarnya adalah manusia dengan kehidupan dan aspirasi layaknya orang kebanyakan, termasuk adanya persoalan keluarga dan asmara. Apa yang dikerjakan oleh para tokoh jago matematika ini di kantor masing-masing juga ditunjukkan seperlunya, nggak terlalu detail spesifik tetapi paling nggak gw tetap bisa kira-kira mereka ngurusin apa, dan jadi tahu mereka ingin mencapai apa. Dengan cara ini, ditambah performa para pemain yang keren-keren dalam Southern accent =D, ngikutin ceritanya pun jadi enak. Diselipkan humor sana-sini, musik yang asyik—ya iyalah ada Pharrell jadi produsernya =), serta persembahan visual yang cerah berwarna, namun tak lupa mengondisikan momen-momen emosional di saat yang tepat. Memang sih ada kalanya gw merasa beberapa adegan yang ketahuan banget dimodifikasi agar terkesan lebih "film", biasalah berhubungan dengan detik-detik mepet khas Hollywood, tapi nggak sampai menyimpangkan maksud utama ceritanya, yaitu tentang breaking the (unnecessary) barriers demi kemajuan bersama. Tuturannya ringan, menyenangkan, nggak terlalu ngoyo dalam menyampaikan "pesan moral", tetapi nilai-nilai yang hendak disampaikan tetap tersampaikan.





My score: 7,5/10

Senin, 13 Maret 2017

[Movie] Galih & Ratna (2017)


Galih & Ratna
(2017 - 360 Degrees Synergy/Nant Entertainment)

Directed by Lucky Kuswandi
Screenplay by Fathan Todjon, Lucky Kuswandi
Based on the novel "Gita Cinta dari SMA" by Eddy D. Iskandar
Produced by Sendi Sugiharto, Ninin Musa
Cast: Refal Hady, Sheryl Sheinafia, Joko Anwar, Marissa Anita, Ayu Diah Pasha, Hengky Tarnando, Sari Koeswoyo, Rain Chudori, Stella Lee, Agra Piliang, Indra Birowo, Anneqe Bunglon


Masih dalam tren semangat nostalgia dalam perfilman saat ini, sineas Lucky Kuswandi (Selamat Pagi Malam) urun karya dengan mengdaptasi ulang novel roman Gita Cinta dari SMA. Bagi yang belum ngeh, novel ini pernah diadaptasi jadi film berudul sama di tahun 1979 dengan bintang Rano Karno dan Yessy Gusman sebagai Galih dan Ratna, serta menghasilkan lagu-lagu soundtrack orisinal yang jadi hits. So there's your every Indonesian pop culture in a sentence. Kini lewat film Galih & Ratna, kisah dua insan remaja di bangku SMA *aihh* ini diberikan berbagai modifikasi agar lebih sesuai dengan situasi masa kini, dan katanya sih memang dari susunan plotnya ada yang diubah sehingga memang nggak sama persis dengan novel ataupun film pendahulunya. Katanya ya, gw sih kurang paham, beda generasi =P. Akan tetapi, rupanya film ini tetap nggak jauh dari kata nostalgia, meski mungkin dalam perwujudan yang berbeda.

Galih (Refal Hady) adalah siswa SMA agak pendiam dengan prestasi akademis yang baik, dan itulah satu-satunya jalan agar bisa lanjut kuliah dengan beasiswa, berhubung ia anak yatim dengan penghidupan pas-pasan. Ratna (Sheryl Sheinafia) adalah murid pindahan di SMA-nya Galih, berhubung ayahnya (Hengky Tarnando) akan dinas ke luar negeri jadinya Ratna dititip di mansion-nya tante Tantri (Marissa Anita) di tahun terakhir SMA-nya. Galih dan Ratna saling tertarik satu dengan yang lain karena kesukaan pada musik, khususnya merujuk pada Galih yang masih memutar kaset dengan sebuah pemutar portabel bernama walkman =). Uniknya lagi, Galih ternyata sedang mengelola sebuah toko yang menjual kaset, meneruskan usaha mendiang ayahnya. Tentu saja, di zaman sekarang, toko kaset nggak ada pembelinya, dan kapling tokonya Galih sudah di-listed untuk dijual oleh ibunya (Ayu Diah Pasha). Namun, Ratna memberi dorongan pada Galih untuk mencari cara agar toko tersebut hidup kembali dan berkelanjutan. Sebaliknya, Galih memberi dorongan pada Ratna untuk lebih tekun mengejar cita-cita, yang kebetulan adalah bermain musik. Itu dan sekalian mereka jadianlah. But of course, semua hal itu ternyata bertentangan dengan situasi sekitar mereka yang tak selalu mendukung hubungan mereka ataupun keinginan-keinginan mereka.

Nothing screams nostalgia more than cassette tapes. Buat adek-adek yang nggak tahu, kaset yang dimaksud di sini adalah penyimpan data suara berbentuk pita magnetik, yang dipakai juga untuk menjual rekaman musik sejak tahun 1970-an sampai, untuk kasus Indonesia, tahun 2008-an ketika handphone dengan aplikasi musik serta USB flashdisk sudah bisa dijangkau sebagian besar orang. Sebagai penggemar musik tentu saja gw dulu banyak beli kaset, ya karena nggak sanggup beli CD yang harganya bisa 7 kali lipatnya. Inevitably gw sering juga beli kaset kosong untuk diisi rekaman lagu-lagu dari kaset/CD lain (baik dari koleksi sendiri maupun minjem punya orang) sesuai keinginan gw saat itu, bikin ala-ala album kompilasi Now That's What I Called Music gitu, atau di film ini istilahnya "mix tape"—yang kemudian mendasari gw bikin playlist My J-Pop sampai sekarang, hehe. Alasan melakukan itu teknis aja sih, saat itu belum punya CD changer/CD player di mobil jadi kalau mau denger musik di jalan lebih aman kalau pakai kaset, dan kalau naik angkot bawa portable CD player/discman itu repot jadi kalau kebetulan beli CD gandakanlah isinya ke kaset biar bisa didengarkan di walkman yang ukurannya lebih kecil. 

Sebagaimana bisa dilihat, kenangan gw terhadap mix tape memang tidaklah seromantis nostalgia yang dilakukan film Galih & Ratna, yang mengglorifikasi bahwa pilihan lagunya bisa menggambarkan ungkapan hati, hingga fakta tiap track di kaset nggak bisa di-skip. Don't get me wrong, romantisasi kaset di Galih & Ratna cukup gw mengerti, something old dan small yang hampir terlupakan tetapi punya nilai yang lebih kurang dianggap lebih deep daripada metode-metode sekarang yang terlalu terkomputerisasi jadi kesannya kurang upaya. Gw paham, but I don't have to agree, right? Romantisasi bahwa membeli kaset berarti menghargai semua musik yang diberikan artisnya lebih utuh tanpa diskip bisa gw patahkan dengan argumen bahwa mendengarkan kaset pasti tidak akan kontinyu karena akan kepotong oleh perpindahan sisi/side, dan kadang jarak silent dari lagu terakhir side A sebelum beralih ke side B bisa sampai satu menitan—malah gw inget kaset album artis Indonesia yang mengisi silent-nya dengan lagu track pertamanya walau cuma sebagian. Kalau mau langsung lanjut ke Side B harus effort pencet fast forward dan atau ngebalikin dulu kasetnya. Dalam hal ini, sorry, CD wins. Dan in any day, kualitas suara di kaset bukanlah yang terbaik maupun yang paling stabil. Ya nggak apa-apa kalau memang ingin membangkitkan nostalgia zaman kaset, sah-sah aja, tetapi itu berarti sah juga buat gw untuk nggak ikut terlarut sama romantisasi yang dilakukan Galih & Ratna, dan lebih memilih menganggapnya sebagai logika lucu-lucuan anak SMA aja biar filmnya jalan.

Nevertheless, film Galih & Ratna buat gw nggak berada dalam kelompok yang buruk. Dalam penyusunan dan penyampaian karakter dan cerita, film ini termasuk rapi. Dialog-dialognya cukup natural, adegan-adegannya juga, demikian dilema yang harus dialami tokoh-tokoh utamanya, serta inklusi musik dalam ceritanya, semuanya cukup bisa gw terima tanpa perlawanan, nggak ada yang dilebih-lebihkan sebagaimana penyakit banyak film Indonesia tentang kehidupan masa SMA. Persoalan yang diangkat tetap dalam lingkup cinta, akademi, masa depan, dan keluarga, yang diporsikan dengan seimbang, lengkap dengan drama maupun humornya yang cukup kena banyak. Dimasukkannya unsur masa kini dengan hadirnya media sosial, serta perbedaan "dunia" Galih dan Ratna secara ekonomi, digambarkan cukup wajar. Gw juga nggak bisa mengelak bahwa beberapa bagian film ini cukup membangkitkan kenangan masa SMA, mungkin secara khusus adalah bagian razia barang di sekolah hehehe. Sebagai film yang bercerita, gw nggak ada komplain.

Yang gw cukup ada komplain adalah tampilan dan kemasan dari semuanya. Kalau boleh sebentar lihat lagi posternya, gw genuinely akan susah percaya bahwa Refal dan Sheryl adalah anak SMA. Iya gw tahu sih bahwa mungkin itu mewakili kecenderungan anak SMA Indonesia sekarang yang mukanya tua-tua *thanks, KFC*, tetapi apa salahnya kalau si lakinya agak dikurangi distribusi bulu di mukanya biar agak mudaan. Gw juga melihat missed opportunity dari segi visual yang terlalu "straightforward", kalau nggak mau disebut flat, baik itu pemilihan lokasi, dekorasi, ataupun angle gambar. Gambar yang bisa benar-benar gw nikmati hanyalah di adegan-adegan toko kaset vintage-nya Galih. Sisanya...entahlah, mungkin buat gw perpaduan warna serba biru-abu-ijo muda-putih agak kurang complementary dalam sebuah kisah roman remaja. Satu lagi, dari sekian banyak pembahasan mix tape dan kaset-kaset yang tampak di layar, ternyata yang berkesempatan diperdengarkan dari semua itu hanyalah "Sakura"-nya Fariz RM. Mungkin memang repot kalau dari segi hak cipta, tapi ya masak dari sekian banyak kaset satu lagu doang yang boleh didengar penonton—tolonglah Sony Music Indonesia itu katalog lagu-lagu akhir 1990-an dan awal 2000-annya pinjemin napa, masak cover kasetnya doang yang nongol. Maunya bisa tribute sama rilisan-rilisan era kaset jadinya kentang 'kan =(. Dampaknya buat gw, konsep dan makna mix tape jadinya masih berupa konsep saja. Film ini mungkin akan lebih alive jika menunjukkan kelihaian Galih dan Ratna memilih lagu yang sesuai pesanan teman-temannya, lagu-lagu yang memang dikenal dan sudah ada di era kaset. Tapi ya sudahlah, repot juga sih emang administrasinya buat beginian.

Entah gw-nya aja yang hard to please, tetapi ini hal-hal kecil tersebut cukup merintangi gw untuk benar-benar "merasakan" film ini. Penghargaan gw ternyata hanya terhenti pada bagaimana film ini bercerita dengan lancar, juga kepada akting para pemainnya (di luar tampilan fisik) yang sesuai dengan tuntutan cerita, which is important enough. Plus kecermatan dalam product placement-nya hehe. Selebihnya, gw hanya kurang terkesima, nggak mendapati pesonanya, masih berjarak aja, kenikmatan saat menyaksikannya kurang terasa paripurna, dengan alasan sebagaimana gw sudah paparkan di atas. Gw menebak mungkin film ini memang dimaksudkan sebagai film yang dibuat nggak neko-neko, apa adanya saja, tanpa muatan yang terlalu ini dan itu, tanpa kemasan yang "gimana-gimana", yang berbeda dengan film Lucky Kuswandi sebelumnya, misalnya. Kalau memang itu, ya film ini sudah mencapainya, tapi ya itu saja.





My score: 7/10