Sabtu, 21 Januari 2017

[Movie] xXx: Return of Xander Cage (2017)


xXx: Return of Xander Cage
(2017 - Paramount)

Directed by D.J. Caruso
Written by F. Scott Frazier
Based on the characters created by Rich Wilkes
Produced by Joe Roth, Jeff Kirschenbaum, Vin Diesel, Samantha Vincent
Cast: Vin Diesel, Donnie Yen, Deepika Padukone, Toni Collette, Nina Dobrev, Ruby Rose, Rory McCann, Kris Wu, Tony Jaa, Samuel L. Jackson, Michael Bipsing, Hermione Corfield, Tony Gonzalez, Neymar Jr., Ariadna Gutiérrez, Al Sapienza, Ice Cube


Menolak lupa. Dalam memori gw tentang film-film awal era 2000-an, xXx (2002) bukanlah salah satu yang berkesan karena filmnya, tetapi gw ingat the fact that it existed. Dalam ingatan gw--many thanks to local movie magazines at the time, xXx adalah sebuah upaya agar Vin Diesel yang baru aja sukses membintangi The Fast and the Furious (2001), dijadikan bintang laga baru yang nggak terpatok sama satu "merek" saja. Saat itu beritanya adalah Diesel ogah bermain di sekuel, maka daripada ikut di 2 Fast 2 Furious (2003), doski lebih mending ikut ke xXx yang juga disutradarai oleh sutradara Fast, Rob Cohen. Hasil akhir xXx yang gw tangkap adalah sebuah film mata-mata ala James Bond dan Mission: Impossible tapi dengan gaya pimped ala video musik MTV: lebih banyak party, lebih banyak musik, lebih banyak tato, lebih banyak seks tak berarti (walau nggak sampai pada level konotasi judulnya ya), dan oh ya, lebih banyak pamer laga dan stunt fantastis, mengingat ceritanya agen berkode Triple X adalah orang-orang yang gemar olahraga ekstrem. xXx pertama itu sukses di box office, tetapi, you guessed it, Diesel menolak untuk tampil di sekuelnya--apakah karena prinsip atau tarifnya nggak cocok hanya casting director sana yang tahu, maka jadilah xXx 2: The Next Level a.k.a. xXx: State of Union (2005) dibuat dengan bintang Ice Cube, dan konsep agen Triple X pun mau tak mau diperluas supaya nggak cuma milik si Xander Cage yang diperankan Diesel. 

Mari melongkap periode film-film Diesel banyak yang nggak sukses, doski akhirnya luluh untuk main sekuel-sekuel Fast & Furious sejak cameo di Tokyo Drift (2006), dari inilah arguably saatnya dia jadi bintang terkenal beneran, apalagi franchise Fast & Furious makin lama makin laku di seluruh dunia. Dan, mungkin karena inilah, Diesel jadi tergoda balikan lagi ke franchise xXx, supaya bisa meniru sukses Fast & Furious. Nah, apakah xXx adalah materi yang memang layak untuk dibuat bersekuel-sekuel mungkin perlu pembahasan lain lagi, karena gw sendiri agak lupa xXx pertama kayak gimana, kemungkinan besar gw nggak suka sampai-sampai nggak minat nonton sekuelnya. Tetapi, dengan jeda 12 tahun dari film terakhirnya dan perkembangan situasi sinema sekarang, yang lebih penting adalah seri terbaru xXx ini mau dibawa ke mana dan seperti apa. Buat gw, itulah problem terbesar dari xXx: Return of Xander Cage, karena film ini berusaha membangkitkan sesuatu yang nggak benar-benar dikangeni, dan nggak memberi nilai tambah dari itu, berhubung tawaran sejenis bahkan lebih baik sudah bertebaran di film-film lain.

Apa yang ditampilkan xXx: Return of Xander Cage benar-benar hanyalah pinjaman dari film-film yang lain. Mengumpulkan tim berbagai sifat dan keahlian dalam sebuah misi yang mempertaruhkan keselamatan dunia, tetapi operasinya yang keliling dunia itu harus dilakukan diam-diam karena mereka ditugasi badan intelijen. Sayangnya, film ini nggak berbuat sesuatu untuk menjadikan cerita yang nggak orisinal itu punya cita rasa tersendiri. Kalau maunya jadi versi "exxxtreme" dari Mission: Impossible, James Bond, atau Fast & Furious (mungkin bahkan The Expendables), gw cuma bisa ketawa aja. Seriously, adegan-adegan laga dan intrik yang ditampilkan di film ini malah kalah ekstrem dari film-film teranyar dari tiga franchise tadi. Motor yang bisa buat surfing dan kejar-kejaran di jalan layang (dan kolongnya) memang gw akui masih seru dan absurd, sayangnya nggak ada lagi yang lebih seru dan absurd dari dua adegan itu. Lha kalau Fast & Furious 7 bisa bikin mobil lompat antar gedung lantai 50-an, dan Tom Cruise di Mission: Impossible Rogue Nation mau nemplok di badan pesawat pas take off, sementara xXx: Return of Xander Cage cuma tawarkan adegan terjun payung, ya ngapain?

Ini belum bahas jalan cerita ya--tentang perebutan sebuah perangkat yang kalau dipakai orang jahat bisa mengancam perdamaian dunia, clearly nyontek dari Charlie's Angels =P. Katanya sih kalau film hore-hore kayak gini nggak usah pikirkan cerita. Tetapi untuk xXx: Return of Xander Cage ini, gw susah menerapkan permakluman kalau dari perancangan ceritanya udah ngeselin kayak nggak mau usaha gitu lho. Berangkat dari konsep agen Triple X adalah orang-orang yang bernyali besar dan bisa lakukan hal-hal di luar dugaan agen intelijen sekalipun, tetapi dari sini kelihatan sepertinya penulisnya kehabisan ide atau males aja. Sehingga yang diperbuatnya adalah menurunkan tingkat intelejensia tokoh-tokoh agen intelijennya, ketimbang berusaha membuat para agen Triple X lebih cerdas. Contoh paling krusial adalah adegan awal penerobosan jendela kaca ruang rapat para petinggi CIA. Jelas ada yang salah dari deskripsi ini. Ada kata "rahasia", "petinggi", dan "CIA" di situ, tetapi mereka berada di ruang yang ada "jendela kaca", yang bisa terlihat dari luar gedung (!!). Ya ampuuuun, kalau mau bikin film hore-hore dan lucu-lucuan nggak gini-gini amat kaliiii T-T. 

Tentu saja itu hanya awal dari so many dumbness yang bisa ditemukan di film ini, mulai dari yang klasik "baru jatuh udah sehat lagi sekejap pas ketemu di meeting point untuk last pose", sampai adegan "geledah keroyokan oleh para hacker berbikini" yang bikin gw bertanya-tanya ini film xXx atau xxx beneran. It's not even funny. Nah, speaking of funny, film ini juga kayaknya angot-angotan dalam menentukan tone. Mau fun dalam segi action film ini sialnya nggak sekreatif dan seimajinatif yang seharusnya, untungnya masih ada adegan-adegan yang gw sebut tadi yang interestingly selalu melibatkan Donnie Yen, thus film ini masih gw kasih poin. Mau ingin masuk ke ranah komedi action, sama juga, film ini nggak mengandung selera humor yang pas dan wild enough untuk layak dikatakan lucu, boro-boro memaklumi kebodohan tokoh-tokoh yang harusnya pintar. Paling banter film ini cuma bisa bikin various sexual innuendos, yang kalau delivery-nya aja nggak bener (sorry, Diesel, and Nina Dobrev) ya anyep juga jadinya.

Nevertheless, tampaknya xXx: Return of Xander Cage dalam memori gw akan berakhir sama seperti xXx pertama. Filmnya mungkin nggak seberapa berkesan selain tiruan-nggak-kesampaian dari Fast & Furious, tetapi keberadaannya cukup menarik untuk diingat. Ini terutama sangat terlihat jelas dari deretan pemainnya yang mengambil wajah-wajah terkenal berbagai teritori dunia: Amerika, India, China dan Asia Tenggara, Australia, Inggris, Amerika Latin, dan datang dari berbagai ras--sayangnya ensemble yang menarik ini zero chemistry, susah untuk disukai dan kayak nggak bermain seserius stunt people-nya, kecuali mungkin Rory McCann sebagai Tennyson si orang gila pecinta teori konspirasi. Boleh saja dibilang ini semua cuma trik Hollywood untuk ambil untung dengan cara baru, dan memang iya, tetapi ini juga mencerminkan kecenderungan terbaru industri film dunia bahwa film Hollywood nggak bisa bergantung lagi pada industri film lokalnya sendiri jika ingin survive. Positifnya, paling nggak film ini semakin memberi tempat bahwa yang jagoan dan yang keren bukan cuma Amerika kulit putih saja, dan, well, memberi sesuatu yang memang masih "dimakan" di berbagai belahan dunia, you know, action yang memang action. Still, buntut-buntutnya duit, dan jangan heran kalau trik ini berhasil. Cuma ya buat gw film ini lebih seperti exercise aja, nggak akan mengangkat siapa pun yang terlibat--apalagi penontonnya--ke level yang lebih atau gimana gitu, bahkan gw ragu jika franchise ini masih layak dilanjutkan dengan segala ketanggungan dan karakter-karakter yang nggak semengikat Fast & Furious misalnya. But we'll see, kalau laku ya pasti lanjut.





My score: 5,5/10

Kamis, 19 Januari 2017

[Movie] Patriots Day (2016)


Patriots Day
(2016 - Lionsgate/CBS Films)

Directed by Peter Berg
Screenplay by Peter Berg, Matt Cook, Joshua Zetumer
Story by Peter Berg, Matt Cook, Paul Tamasy, Eric Johnson
Produced by Scott Stuber, Dylan Clark, Mark Wahlberg, Stephen Levinsen, Hutch Parker, Dorothy Aufiero, Michael Radutzky
Cast: Mark Wahlberg, Kevin Bacon, John Goodman, J.K. Simmons, Michelle Monaghan, Alex Wolff, Themo Melikidze, Melissa Benoist, Jimmy O. Yang, Christopher O'Shea, Rachel Broshanan, Jake Picking, Lana Condor, Khandi Alexander


Peristiwa-peristiwa besar dan nyata sering jadi inspirasi menarik untuk diangkat ke layar lebar, sekalipun itu berupa tragedi. Buat gw pribadi film-film seperti ini selalu menarik—contoh favorit gw adalah United 93 atau Sully tempo hari, karena penasaran apa yang akan ditawarkan filmnya selain dari yang udah diketahui publik lewat media massa. Patriots Day sendiri adalah new addition dari film-film tersebut, berdasarkan salah satu tragedi besar yang menimpa Amerika Serikat, yaitu pengeboman event lari Boston Marathon tahun 2013 silam. Masih baru banget, makanya gw juga nggak heran bila angle yang dipakai di film ini cukup straightforward, yaitu reka ulang dari sebelum, saat, dan sesudah kejadiannya, semacam penyelidikan/procedural dengan meminjam sudut pandang karakter-karakter di dalamnya. 

Tokoh yang dijadikan "pengantar" cerita film ini adalah Tommy Saunders (Mark Wahlberg), seorang polisi penyelidik yang diturunkan sementara wewenangnya sebagai sanksi kebiasaannya minum. Di penyelenggaraan Boston Marathon pada hari peringatan Patriots Day, Saunders ditugaskan menjaga keamanan di sekitar garis finis. Ketika masih banyak peserta yang belum finis dan orang-orang masih berkerumun menonton, dua bom meledak beruntun di antara kerumunan penonton dalam jarak yang berdekatan. Ratusan orang terluka dan tiga orang dinyatakan tewas di tempat, termasuk seorang anak laki-laki 8 tahun. Sigapnya penyelamatan tentu bukan akhir cerita, komisaris polisi Boston, Ed Davis (John Goodman) harus berkerja sama dengan agen FBI Richard DesLauriers (Kevin Bacon) dalam mencari pelaku segera, sebelum kemungkinan ada ledakan lagi di tempat-tempat lain.

Akan tetapi, Patriots Day bukan saja kisah dari sisi kepolisian. Film ini juga sejak awal menampilkan karakter-karakter yang pada waktunya akan terkait dengan tragedi ini, baik dari pelakunya, kepolisian wilayah lain, sampai orang-orang sipil biasa yang akan bersentuhan dengan kasus ini dalam porsi tertentu. Tidak ada flashback atau apapun, semua digulirkan sesuai kronologi sampai akhirnya para pelaku diringkus aparat. Tentu saja, mengingat ini Amerika, kasus teror bom akan melibatkan banyak pihak, dan dilemanya adalah jika pihak berwajib salah langkah maka ada kemungkinan chaos di masyarakat—misalnya merilis wajah pelaku atau menuduh organisasi teror tertentu terlalu dini. 

Menurut gw Patriots Day ini adalah sebuah film yang tepat takaran dalam genrenya. Selain dapat lebih dalam saat mengikuti polisi dalam perkembangan kasusnya, juga penggambaran peristiwa pengeboman dan peringkusan aparat terhadap pelaku dari jarak dekat yang dibuat realistis dan mencekam, film ini juga bisa memberikan ruang bagi karakter-karakternya yang lumayan banyak itu untuk menarik perhatian dan membuat penonton peduli, bahkan yang awalnya kita nggak tahu karakter ini siapa dan fungsinya apa. Apalagi sebagian memakai aktor-aktor tidak terkenal sehingga menambah nuansa realistisnya. Sehingga, gw pikir film ini berhasil menciptakan thrill serta drama yang seimbang dan dapat langsung dirasakan penonton tanpa halangan.

Meski demikian, buat gw Patriots Day sampai pada tahap film yang baik, tetapi tidak lebih dari itu. Film ini nggak mengungkap motivasi lengkap dari pelakunya, juga nggak menyampaikan hal-hal atau sudut pandang baru dari kasus ini selain yang sudah di-coverage di media—yah kecuali pengorekan keterangan dari istri pelaku (diperankan si Supergirl, Melissa Benoist memakai hijab) yang menurut gw salah satu adegan paling intens di film ini. Kayaknya gw tahu kenapa, ini mungkin karena pilihan filmnya yang lebih menitikberatkan pada jalannya kasus, bukan pada satu dua karakter saja. Dan kayaknya gw tahu alasannya, karena film ini lebih ingin mengedepankan bahwa kasus ini berhasil diselesaikan karena "kerja sama dan dukungan semua pihak". Yea, sounds like every press statement by the police in our country, tetapi sedikit banyak film ini ya ingin menyorot itu, tentang bagaimana pihak kepolisian, pemerintah, tenaga kesehatan, dan warga Boston dan sekitarnya sigap menghadapi peristiwa ini, serta bagaimana para korban bertahan dan bangkit sekalipun ada yang luka-lukanya parah banget. Thus the slogan "Boston Strong". Gw setuju ini hal yang baik dan noble, cuma jadinya cerita dan gambaran tentang kasusnya sendiri jadi kayak kurang menyeluruh—yang bisa gw simpulkan hanyalah para pelakunya agak dodol ternyata.

Gw tetap menghargai film ini, yang tetap berusaha netral dalam bertutur dengan tujuan untuk membangitkan semangat instead of membangkitkan trauma, ditambah beberapa dialog "perenungan" yang mungkin sebenarnya agak nggak perlu tapi masih cukup sesuailah dengan konteks dan tujuannya. Nggak masalah. Toh dari segi penggarapan film ini termasuk sangat baik, performa pemainnya baik, perjalanan penyelidikannya berasa tegangnya, dan sepertinya belum pernah ada adegan baku tembak di kompleks perumahan se-intens di film ini. Film ini kemudian didutup berupa epilog wawancara dengan tokoh-tokoh asli yang diperankan di filmnya, bagian ini agak kepanjangan sih menurut gw, yang mungkin berpengaruh pada after-taste film ini buat gw karena nggak membiarkan gw menyimpulkan sendiri mengapa mereka mau dilibatkan dalam cerita film ini. Nevertheless, Patriots Day tetap mampu hadir sebagai tontonan yang menarik sekaligus lumayan informatif, dan itu cukup sih.





My score: 7/10

Minggu, 15 Januari 2017

[Movie] A Gift (2016)


พรจากฟ้า (Pohnjakfah)
A Gift 
(2016 - GDH)

Written & Directed by Chayanop Boonprakob & Kriangkrai Vachiratamporn, Nithiwat Tharatorn, Jira Maligool
Produced by Chenchonnanee Soonthonsaratul, Suwimol Techasupinan
Cast: Naphat Siangsomboon, Violette Wautier, Nittha Jirayungyurn, Sunny Suwanmethanon, Nuengthida Sophon, Chantavit Dhanasevi, Chaiwat Jirawattanakarn, Patranij Thirananthasit


Sepanjang pengetahuan gw film-film Thailand sering hadir dengan premis-premis yang cukup menarik. A Gift, however, kalau dijabarkan sebenarnya nggak termasuk yang menarik, hanya saja latar belakang proyek ini yang menarik. A Gift adalah sebuah proyek spesial penghormatan terhadap Raja Bhumibol yang mangkat bulan Oktober 2016 lalu. Uniknya, dan mungkin beruntungnya, ada satu cara agar proyek tribute ini tetap bisa appealing sebagai film, yaitu fakta bahwa sang raja adalah penyuka musik dan pencipta lagu. Maka A Gift dikonsepkan sebagai omnibus tiga cerita--dan tiga genre--terinspirasi dari tiga lagu gubahan Raja Bhumibol, dengan cerita-cerita ringan memakai pemain-pemain muda berpenampilan menarik (ibarat syarat ngelamar kerja ke bagian humas dan SPG ye) yang mungkin diharapkan bisa menggaet penonton muda. Walau, again, buat gw sih dari segi cerita film ini nggak spesial.

Cerita pertama adalah sebuah roman anak muda yang terjadi hanya beberapa jam di sebuah event diplomat. Beam ("Nine" Naphat Siangsomboon) dipilih untuk jadi stand-in tamu kehormatan dalam gladi resik, bersama Pang (Violette Wautier) jadi stand-in istrinya, demi kepentingan latihan flow acara dan dokumentasi. Interaksi mereka selama gladi resik pun berlanjut lebih dalam dari sekadar kenalan nama dan ngobrol-ngobrol. Cerita kedua adalah drama keluarga yang berpusat pada Fa ("Mew" Nittha Jirayungyurn) yang harus full-time merawat ayahnya, Pom (Chaiwat Jirawattanakarn) selepas meninggalnya sang ibu, Fah (Patranij Thirananthasit). Pom sendiri menderita Alzheimer dan masih mengira Fah belum meninggal. Kedatangan tukang setem piano, Aey (Sunny Suwanmethanon) memberikan semangat baru untuk Fa dalam merawat ayahnya. Cerita ketiga adalah sebuah komedi tentang Llong ("Ter" Chantavit Dhanasevi), mantan vokalis band metal yang kini kerja kantoran, namun terpanggil untuk memimpin sebuah band para pegawai kantornya sekalipun nggak disetujui atasannya.

Oke, kalau gw coba breakdown apa yang tersaji di sini mungkin semacam tiga contoh bagaimana sineas Thailand sering mengolah film-filmnya. Segmen pertama (berdasarkan lagu "Love at Sundown) menurut gw adalah yang paling menarik dan mungkin konsepnya paling pas sebagai sebuah cerita pendek. Selain bisa tampil romantis manis lucu dan sebagainya, bagian ini juga yang paling smooth dalam transisi adegan dan emosinya, dan nggak terasa overloaded sekalipun banyak yang terjadi dalam kurun waktu satu hari ceritanya, cuma akting pemainnya aja kali ya yang masih so-so--dan di segmen ini ada semacam "kearifan lokal" dari nasi box panitia acara =D. Segmen ketiga (berdasarkan lagu "New Year Greeting") juga tone cerianya agak mirip dengan yang pertama, tetapi ini lebih digeber lagi komedinya. Jenis komedinya itu kadang oddball kadang juga receh sih, beberapa kali trying too hard untuk jadi lucu, tetapi untuk segmen penutup bagian ini termasuk asyik karena paling meriah.

Gw sedikit bermasalah sama segmen kedua (berdasarkan lagu "Still On My Mind) yang tone-nya paling beda sendiri, karena paling depresif sekalipun masih diselipkan humor. Dengan premis mengharukan, segmen ini pun akhirnya dibawa mengharu biru mungkin karena komposisi lagu yang diangkat memang lebih membuai. Konsep ceritanya cukup bagus, tetapi gw rasa agak terlalu berat untuk dijadikan sebuah cerita pendek, banyak hal yang bisa dieksplorasi terpaksa harus diredam--proses Fa menerima penyakit sang ayah dan dampak-dampaknya, atau hubungannya dengan saudara-saudaranya, atau metode "antik" Aey dalam merawat Pom. Sehingga pada akhirnya gw sempat merasa cerita kedua ini flat dan over-melodramatic sekaligus, adukannya kayak kurang rata, ya gara-gara ide keseluruhannya harus disampaikan dalam waktu yang singkat itu.

Meski demikian, dalam kemasan keseluruhan, A Gift cukup menghibur gw. Production value-nya sendiri tidak terlalu fancy, bahkan kalau boleh bilang gw agak underwhelmed bahwa look filmnya nggak semeriah posternya, tetapi cerita-cerita yang agak biasa itu bisa disampaikan dengan cukup baik, plus bisa berkait dengan lagu-lagu yang memang jadi kerangka dasar eksistensi proyek ini. Asyiknya lagi, lagu-lagu tersebut dikemas dalam aransemen yang sangat keren, agak-agak jazz gitu, bahkan lagu terakhir bentuknya ska, sehingga memang benar-benar bisa dinikmati secara universal, bukan hanya karena lagu-lagu tersebut ciptaan mendiang Raja. Sehingga, niat untuk memberi penghormatan akan legacy sang Raja yang lebih personal di luar urusan kenegaraan, sekaligus membuat tontonan yang menghibur, gw bilang sih film ini sukses mencapainya.





My score: 7/10

Kamis, 12 Januari 2017

[Movie] Promise (2017)


Promise
(2017 - Screenplay Films/Legacy Pictures)

Directed by Asep Kusdinar
Written by Sukhdev Singh, Tisa TS
Produced by Sukhdev Singh, Wicky V. Olindo
Cast: Dimas Anggara, Amanda Rawles, Boy William, Mikha Tambayong, Mawar Eva De Jongh, Surya Saputra, Annisa Hertami, Ricky Cuaca, Ari Irham, Monica Oemardi, Ira Wibowo, Donny Alamsyah, Ira Wibowo


Gw pikir ya, setelah ILY from 38.000 ft yang menurut gw termasuk lumayan untuk genre roman picisan remaja Indonesia, film-film selanjutnya dari Screenplay Films akan, setidak-tidaknya, lebih tolerable buat ditonton oleh yang bukan target penontonnya. Lalu muncullah Promise. Oke, sebelum gw komentar macam-macam, gw harus menaruh film ini dalam konteks. Film ini masih menyasar remaja (terutama putri) yang senang dengan cerita cinta yang sederhana tapi cenderung diribet-ribetin make a big deal out of it, seperti nggak ada permasalahan hidup yang lain selain masalah cinta, karena mungkin dalam fase usia tersebut itulah hal terbesar yang mereka hadapi. Gw nggak bilang ini salah, toh cerita-cerita seperti ini mengena buat segmen remaja dan sebagian orang dewasa (inget Twilight?), dan bukan berarti nggak bisa digarap dengan bagus (inget AADC 1?). Screenplay menurut gw sangat berhasil dalam meng-cater target penonton itu dengan film-film roman remajanya, dibarengi dengan produksi yang nggak sembarangan. Hanya, to be mildly said, Promise bukanlah contoh terbaiknya.

Sebagaimana tradisi roman remaja dan komik serial cantik, awal kisah cinta yang diangkat di Promise dibuat konyol. Rahman (Dimas Anggara), seorang anak pengurus pesantren di Yogyakarta disuruh menikah oleh orang tuanya (Surya Saputra dan Annisa Hertami) dengan jodoh yang sudah ditentukan, sekalipun ia masih belum lulus SMA. Why? Gara-gara ia ketahuan menyimpan DVD porno milik sahabatnya yang memang bandel, Aji (Boy William). *I know, move along*. Kisah kemudian melompat dua tahun kemudian di Milan, Italia, Rahman yang kuliah grafis di sana didekati oleh sesama orang Indonesia, Moza (Mikha Tambayong). Sementara, hati Rahman masih tertutup untuk cinta yang baru, karena tujuannya ke Milan adalah demi mencari seseorang yang kini menghilang. Jadi sebenarnya Rahman udah nikah atau belum? Apakah orang yang dicari itu istrinya atau orang lain pilihannya sendiri? Dan apakah orang tersebut diperankan Amanda Rawles yang wajahnya tampil gede banget di poster? Gw bisa langsung jawab pertanyaan terakhir, iya. Selebihnya gw nggak bisa jawab, atau lebih tepatnya gw tidak "diperbolehkan" jawab karena pertanyaan-pertanyaan itulah yang dimainkan oleh film ini untuk memberi elemen surprise demi surprise demi surprise, yang sebenarnya juga nggak surprise sama sekali.

Menurut gw Promise adalah proyek yang terlalu self-aware dari Screenplay, karena gw lihat mereka terlalu keras berusaha membuat sesuatu yang beda dari materi yang itu-itu aja. Kisah cinta segi banyak, yang satu sama lain saling nggak tahu perasaan sesungguhnya, yang satu mau menjaga perasaan atau nggak mau menyakiti yang lain dengan nggak mengatakan yang sebenarnya, siapa jadian sama siapa, seputar situ-situ aja. Kini dicoba sudut pandangnya lebih ke cowoknya yang perasaannya "dipermainkan" oleh ceweknya, macam Great Expectations gitu =P, tetapi in the end isinya gitu-gitu lagi. Nah, karena isinya "sama aja" itulah dicoba satu hal beda dari Promise, yaitu penuturannya yang urutannya agak diacak-acak. Iyah, dari awal di Jogja, ke Milan dua tahun kemudian, mundur ke pertemuan Rahman dan Moza pertama kali di Milan, mundur lagi dua tahun sebelumnya ke Jogja lagi, balik lagi ke masa sekarang, mundur lagi, maju lagi menjelang akhir, eh mundur lagi dikit, mundur jauh, balik lagi, macam orang baru belajar nyetir mobil pertama kali nyoba parkir di mal. Mungkin maksudnya supaya setiap 15 menit ada "twist" yang bikin penontonnya bereaksi "howalah ternyata gitu ya" atau "tuh bener 'kan apa kubilang" =_=, dan katanya sih hal ini emang disukai target penonton roman remaja, makanya tiap ending film-film beginian pasti ada adegan flashback, silahkan dicek. Tapi yang nggak gini juga kaleeee……

Terlepas dari apakah gw suka atau tidak sama ceritanya, permasalahan utama Promise justru terletak di metode penuturannya itu. Maksud gw, film ini akan fine-fine saja jika alurnya dibuat berurutan. Malahan seandainnya demikian, feeling-nya akan lebih nusuk ketika kita sudah mengetahui informasi latar belakang karakternya dengan lengkap lalu muncul adegan yang jederr. Misalnya pertemuan Rahman dan Kanya (Amanda Rawles) pertama kali di Milan, karena jadi lebih tahu awkward-nya kayak gimana, nggak kosong seperti yang ditampilkan di hasil akhir film ini. Gara-gara ini juga, alur maju-mundur yang disajikan di film ini jadi lebih ke annoying daripada mengejutkan, karena yang ditampilkan saat flashback pun bukan informasi yang mengejutkan. Ibarat kita dapet kado ulang tahun atau kenaikan kelas dari orang lain berupa baju yang pas dibeli di toko kitanya ikut hadir bahkan fitting buat mastiin ukurannya, apanya yang surprise? Andai saja ditampilkan dalam alur yang biasa dan…well, flashback yang seperlunya di bagian ending aja seperti biasanyalah, mungkin film ini nggak akan terasa sekacau ini. Again, problem itu terlepas dari bahwa cerita ini tentang anak 18 sampai 20 tahun nikah-cerai semudah membalikkan halaman novel, atau yang katanya sahabat tapi nggak tahu sahabatnya alami peristiwa-peristiwa penting, atau sabotase akad nikah (?), dialog-dialog ala quotes Instagram dan Path yang nggak nyambung sama usia penuturnya, atau karakter-karakter utama yang nggak jelas maunya apa (mungkin gara-gara alur setrikaan itu sih), dan banyak hal lagi yang bikin gw nggak sanggup untuk terlarut dan menerima cerita ini dengan akal sehat.

Yah, untung aja nilai produksi film ini terbilang oke, jadi masih enak dilihat, kelihatan kelengkapan syutingnya dipersiapkan matang. Well, setelah ada adegan kecelakaan pesawat di ILY, mungkin memang berlebihan jika mengharapkan di Promise bakal ada tabrakan Ferrari beruntun gitu or something, tetapi dari penataan visual dan production design-nya, Promise masih cukup membuktikan komitmen Screenplay untuk bikin perbedaan jelas antara film bioskop dan FTV pagi-pagi/siang-siang SCTV. Gw juga menemukan bahwa performa para pemeran utamanya lumayan fasih untuk genre ini, tetapi mungkin yang paling menarik adalah Mikha Tambayong yang dari pengucapan dialog hingga pakaian hingga parasnya bisa klop dengan karakternya, nggak ngeselin, sehingga membuatnya jadi karakter yang paling kelihatan seperti manusia bernyawa di sini. Namun, mungkin itu saja hal positif yang bisa gw ambil dari Promise, film roman remaja yang ingin beda tetapi keinginan itu malah berdampak mengacaukan--ya kalau mau beda harus dari sejak penyusunan cerita dan karakternya dong. Dan, kayaknya gw kelewatan 'promise'-nya itu sebenarnya apa dan di mana.





My score: 5,5/10

Selasa, 10 Januari 2017

[Movie] La La Land (2016)


La La Land
(2016 - Summit Entertainment/Lionsgate)

Written & Directed by Damien Chazelle
Produced by Marc Platt, Gary Gilbert, Jordan Horowitz, Fred Berger
Cast: Ryan Gosling, Emma Stone, John Legend, Rosemarie DeWitt, J.K. Simmons, Finn Wittrock, Josh Pence, Tom Everett Scott, Callie Hernandez, Jessica Rothe, Sonoya Mizuno


Zaman emang berubah ya. Sampai pada pertengahan abad ke-20, kayak sebagian film Hollywood formatnya musikal--maksudnya bagian-bagian ceritanya dituturkan dengan musik dan nyanyian, tidak sama dengan film biasa yang ada adegan orang nyanyi ya. Namun, menjelang abad 21 film musikal Hollywood makin jarang aja, baik jarang yang bikin, jarang yang bagus, maupun jarang yang laku. Di zaman sekarang yang penontonnya gampang komplain dan kemasan musikal sendiri bukan lagi favorit publik kecuali kalau animasi, bikin film musikal live action itu emang nggak boleh setengah-setengah, butuh keterampilan dan kecintaan yang khusus, bukan sekadar pengen bikin cerita yang banyak lagunya karena it sounds cute. Gw termasuk penyuka film musikal tetapi gw sadar film musikal zaman milenium ini nggak semuanya created equal, yang bagus akan langsung jadi favorit gw (Moulin Rouge, Chicago, Les Miserables), sementara yang nanggung akan bye bye (Burlesque, Annie 2014 =_=). Namun, La La Land termasuk cepat bikin gw percaya meski sebelum nonton, karena satu nama, Damien Chazelle, yang sebelumnya sukses memukau dan memesona gw lewat film tentang drummer jazz, Whiplash yang keren dan exciting banget itu. Minimal, gw mengharapkan akan mendapat excitement yang sama. Eh ternyata, film ini justru memberi lebih.

Los Angeles alias L.A. atau sering dijuluki "LA LA Land" adalah muara orang-orang yang bermimpi jadi sukses di dunia entertainment--kompleks Hollywood pun letaknya di sana. Tersebutlah Mia (Emma Stone), salah satu dari sekian orang yang meninggalkan kampung halaman dan pindah ke L.A. demi mewujudkan cita-cita jadi aktris, bertahun-tahun audisi sana-sini sambil menyambung hidup dengan jadi barista di kedai kopi. Tersebutlah Sebastian (Ryan Gosling), seorang pianis jazz yang bercita-cita membangkitkan kembali jazz murni di L.A. dengan membuat sebuah klub sendiri, namun sementara harus menyambung hidup dengan ngamen di kafe dan kondangan. Dua orang dengan mimpi berbeda tapi sama kuatnya dan sama-sama tidak memilih zona nyaman, dipertemukan dan cinta pun tumbuh di antara keduanya. As in life, "jadian" bukanlah akhir cerita, dan masih ada cita-cita yang harus diperjuangkan. Mungkin hidup jadi terasa menyenangkan ketika bersama orang yang dicinta, tetapi tidak berarti jadi lebih mudah. Terdorong oleh dukungan Sebastian, Mia nekad melepas pekerjaan hariannya dan fokus bikin pertunjukan teater sendiri, sekalipun itu sangat mempertaruhkan masa depannya di L.A. Sebaliknya, Sebastian jadi merasa bertanggungjawab untuk mewujudkan mimpinya sesegera mungkin, memutuskan bergabung dalam sebuah band rekaman beraliran pop, sesuatu yang melanggar idealismenya. Akhirnya, seperti ada cinta segitiga antara Mia, Sebastian, dan mimpi-mimpi mereka.

Gw hampir nggak tahu harus mulai dari mana dalam mengomentari film ini, karena terlalu banyak hal yang bikin film ini begitu captivating dan menjadikannya--biar gw langsung saja bilang--salah satu film musikal modern terbaik yang pernah gw tonton. Mungkin gw mulai dari kemasan audio visualnya kali ya. Terlihat sekali bahwa film ini lahir dari perpaduan kecintaan akan musikal Hollywood zaman dulu dengan latar masa kini. Penyajiannya juga semacam penghormatan yang klasik-klasik, yang paling kentara adalah penggunaan film seluloid dan rasio Cinemascope buat gambarnya. Yang bikin gw nggak habis pikir adalah gimana cara orang-orang ini mengolah ambience klasik itu tetap relevan dengan hal-hal kekinian. L.A. yang bayangan gw adalah kota modern dan mungkin "kering"--agak bener sih terlihat dari pembagian waktu empat musim di filmnya tapi iklim di L.A. ternyata sama aja sepanjang tahun, disulap menjadi penuh warna dan dreamy tanpa terlihat salah tempat. Because, again, L.A. di sini adalah tempat berkumpulnya para pemimpi. 

Sebagai musikal, film ini juga berani bikin seperti film-film zaman dahulu yang memang sangat mengandalkan pengarahan, pengambilan gambar, dan komitmen para aktornya (dan extras-nya) untuk menyanyi dan menari dengan sungguh-sungguh, tanpa tergantung polesan efek visual atau bahkan editing. Perhitungan dalam merancang adegan-adegan ini bikin gw nganga pas nonton. Perhatikan baik-baik bahwa hampir setiap adegan bernyanyi dieksekusi dalam satu kali take tanpa diputus, itu pun sudah termasuk perpindahan dari adegan dialog biasa ke "dunia" musikal dengan sangat seamless. Itu berarti ada perkawinan antara skenario, akting, lirik dan musik, koreografi, framing dan pergerakan kamera, tata artistik dan pemilihan lokasi, tata cahaya, editing, dan segala hal lain yang terkait. Gw hampir mau menulis musical number terbaik yang menunjukkan itu di film ini, tetapi rasanya semua adegan musikalnya punya kualitas demikian, baik yang ada liriknya maupun yang hanya musik dan tarian, baik yang jazz maupun yang nggak =D. Jangan lupakan juga performa hebat Stone dan Gosling yang begitu lovable beserta keserasian mereka yang tak terbendung memancar di layar, bikin gw percaya bahwa mereka sudah biasa melakukan ini--mungkin emang iya mereka pernah main musikal tapi kayaknya pembuktiannya baru di sini.

Namun, tentu saja yang penting bukan hanya kehebatan kemasannya, konteks dalam ceritanya juga harus terkait. Oooh, bukan hanya terkait, segala sesuatu di La La Land itu beneran fusion dari segala sisi. Film ini boleh saja kemasannya musikal, yang kerap dianggap absurd bahkan konyol, tetapi bagaimana film ini menangani topik love and dreams justru sangat realis dan relevan buat semua orang, terutama yang punya kegairahan serupa dengan Mia dan Sebastian, yang sama-sama menaruh cita-cita sama pentingnya dengan cinta. Tahapan-tahapan perjalanan Mia dan Sebastian nggak sekalipun terkesan picisan, disusun sedemikian detail tanpa menahan laju filmnya (editing-nya keren!), sehingga gw bisa paham betul bagaimana Mia dengan impian di dunia seni perannya, bagaimana Sebastian dengan dunia jazz-nya, bagaimana perasaan mereka satu sama lain dengan musik sebagai pemicunya. Ada manis dan tawa, juga ada kebimbangan, kemarahan, dan ironi, semuanya itu diangkat dalam adegan-adegan yang masterfully crafted: mungkin beginilah rasa excited saat melangkah semakin dekat dengan cita-cita, atau saling suka dengan seseorang tapi gengsi mengakui, atau pas lagi seneng-senengnya jadian, atau beginilah proses saat sebuah rangkaian musik membangkitkan kenangan, dan sebagainya. Adegan-adegan tersebut memang ditata imajinatif, tetapi juga jadi deskripsi tepat akan setiap emosi yang sebenarnya begitu dekat dan nyata.

Dalam benak gw muncul sebuah kesimpulan tentang La La Land yang menurut gw cukup menggambarkan bahwa ini bukan film musikal rata-rata. Film ini bukan cuma cerita yang dituturkan lewat musik, tetapi seluruh film ini adalah musik. Bagaikan musik yang semua instrumen punya fungsi dan notasi masing-masing yang menciptakan harmoni, film ini benar-benar menunjukkan sebuah persembahan yang kompak dari semua departemen. Dan, dengan segala dinamikanya, film ini selalu berhasil memunculkan rasa yang tepat di tiap bagiannya, membuat perhatian dan emosi gw terlarut dan dibawa ke tempat-tempat yang seharusnya, tetapi nggak dengan cara-cara obvious--satu contoh: gimana caranya sebuah adegan konser yang riuh dan lagu yang enak justru memunculkan rasa gelisah hanya dari pengetahuan kita tentang karakter-karakter ini sebelum adegan tersebut. Memadukan gaya lama dan baru, menyandingkan mimpi dan realita, juga sedih dan bahagia, bahkan sempat juga menyelipkan sindiran tentang industri hiburan di sana, La La Land bikin gw yang nonton jadi merasa senang bukan hanya karena gw menyukai format musikal, atau hanya cerita atau teknis atau musiknya yang bagus, tetapi karena segala sisinya memang luar biasa sebagai sebuah karya film. Gila banget ini film.






My score: 9/10

Senin, 09 Januari 2017

[Movie] Arrival (2016)


Arrival
(2016 - Sony Pictures Releasing/Stage 6 Films/Paramount Pictures)

Directed by Denis Villeneuve
Screenplay by Eric Heisserer
Based on the story "Story of Your Life" by Ted Chiang
Produced by Shawn Levy, Dan Levine, Aaron Ryder, David Linde
Cast: Amy Adams, Jeremy Renner, Forest Whitaker, Michael Stuhlbarg, Tzi Ma, Mark O'Brien


Mau filmnya katanya ada unsur action atau in this case unsur sci-fi, gw selalu mewanti-wanti diri sama film-film karya sutradara Kanada, Denis Villeneuve. Karena berdasarkan pengalaman dua film sebelumnya yang gw tonton, Prisoners dan Sicario, pertanyaan gw untuk film karya doi akan selalu sama: apakah akan se-selow dan sedepresif itu lagi? Walau terkesan suuzon, gw merasa itu adalah antisipasi yang nggak salah, gw udah agak siap jika film terbarunya, Arrival ini kemungkinan nggak akan serame atau, well, semenyenangkan film-film sci-fi Hollywood dengan tema sejenis. Dan, terbukti setelah nonton, ekspektasi itu memang ada benarnya. Tetapi, ada juga yang tidak seperti ekspektasi, yaitu bahwa gw ternyata genuinely suka sama filmnya, hahaha.

Kisah Arrival sebenarnya cukup jamak ditemukan dalam ranah fiksi ilmiah. Suatu waktu ada benda terbang tak dikenal alias UFO parkir melayang di 12 titik di bumi, dan tentu saja di dalamnya ada aliennya. Pertanyaannya mendasar saja, mereka dari mana dan mau apa, apakah bermaksud baik atau jahat. Akan tetapi, film ini sendiri dimulai dari kilasan kilat kehidupan Louise Banks (Amy Adams), yang diperlihatkan punya seorang putri yang kemudian tumbuh remaja lalu meninggal karena suatu penyakit. Dari awal aja kayaknya monsieur Denis udah ngajak berdepresi ria nih. Kisah kemudian beralih pada hari kedatangan 12 UFO itu. Louise yang ternyata adalah ahli linguistik/ilmu bahasa di universitas, direkrut oleh Kolonel Weber (Forest Whitaker) untuk membantu timnya berkomunikasi dengan para alien yang parkir di Montana, AS. Ini maksudnya bukan si Louise bisa bahasa alien ya, justru ia diberdayakan, didampingi ahli fisika Ian Donnelly (Jeremy Renner), untuk menjajaki kemungkinan berkomunikasi dengan makhluk asing itu. Ini jelas butuh waktu tidak sebentar, sementara berbagai tekanan internasional mulai menghimpit karena ketakutan pihak "lawan" akan menyerang duluan.

Dengan pakem kisah yang lebih kurang cukup basic tersebut, Arrival ternyata diramu tak seperti yang gw bayangkan. Kalau nggak ada adegan perang dahsyat lawan alien itu sih udah gw duga ya *kembali ke paragraf pertama*. Satu hal yang unik dan secara biased gw senangi, plot film ini berjalan berdasarkan fokus pada bahasa, bahwa bahasa bukan cuma perkara sampingan yang digampangkan, melainkan penghubung penting antara hidup dan mati--salah-salah malah yang terjadi perang beneran. Film ini menggunakan berbagai teori ilmu bahasa dengan mengaplikasikannya pada komunikasi antara manusia dan alien, termasuk soal konon belajar bahasa asing bisa bikin ngerti cara pikir pemakai bahasa aslinya--karena terkait budaya dan semacamnya, contohnya kita nggak bisa langsung terjemahin "a piece of cake" jadi "sepotong kue" 'kan? Gw nggak bilang semua yang digambarkan di sini real atau akurat ya, cuma ya menarik aja ada film fiksi ilmiah yang meng-highlight bahwa bahasa itu juga ilmiah, because it is

Tentu saja film ini memakai teori-teori ilmiah lain sebagai penopang ceritanya, which is a good thing karena membuatnya bukan cuma film biasa yang ada aliennya. Dalam keadaan demikian, film ini mungkin jadi saudara spiritual dari Interstellar, namun dalam skala lebih "membumi" =P. Film ini tak hanya berfokus pada kedatangan alien, tetapi juga soal diplomasi, pengaruh media, juga sedikit politik antarbangsa, dan ternyata kehidupan pribadi Louise yang diperlihatkan di awal bukan cuma syarat perkenalan karakter semata, melainkan menambah dimensi emosional manusiawi yang terus tebawa hingga akhir film. Dari kemasannya sih film ini memang sendu--gambarnya kayak selalu mendung jam 4 sore atau menjelang maghrib baik indoor maupun outdoor, dan lajunya memang agak "membuai". Untungnya gw merasa pace film ini masih cukup acceptable karena semata-mata untuk carefully menuturkan cerita bukan banyakin gambar pemandangan kayak Sicario, paling nggak film ini masih peduli bahwa penonton ingin diarahkan pada jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di ceritanya, bukan ngelama-lamain di hal-hal lain hanya demi "membangun nuansa". Pengarahan adegannya begitu teliti, terampil tanpa ada sama sekali kesan manipulasi sok nge-twist. Ditambah lagi karakterisasinya dibangun dengan sensitivitas, mereka bukan orang-orang belagu sok pintar atau orang-orang ceroboh yang ngeselin, tetapi bisa dibuat simpatik, yang semakin ditopang oleh permainan yang prima dari aktornya.

Jadi begitulah, gw nggak kuasa untuk menyukai bahkan menikmati Arrival, berkat amunisi lengkap dari konsep, susunan cerita, penuturan, teknis audio visual, performa pemain, hingga perasaan ter-provoke saat menonton dan terkagum setelah nonton, nggak sedepresif itu ternyata. Tanpa harus gegap gempita atau sebaliknya terlalu bikin bertanya-tanya, Arrival bisa mengeksekusi semua amunisi itu dalam sebuah persembahan yang solid, utuh, dan tepat takarannya, serta menyampaikan ungkapan-ungkapan berarti tanpa pretensi. Salam buat yang suka bilang terjemahan tinggal gugeltrenslet ajah.





My score: 8/10

Jumat, 06 Januari 2017

[Movie] The Great Wall (2016)


The Great Wall
(2016 - Universal/Legendary)

Directed by Zhang Yimou
Screenplay by Carlo Bernard, Doug Miro, Tony Gilroy
Story by Max Brooks, Edward Zwick, Marshall Herskovitz
Produced by Thomas Tull, Charles Roven, John Jashni, Peter Loehr
Cast: Matt Damon, Pedro Pascal, Jing Tian, Willem Dafoe, Andy Lau, Zhang Hanyu, Eddie Peng, Kenny Lin, Lu Han, Chenney Chen, Wang Junkai, Huang Xuan, Zheng Kai


The Great Wall adalah sebuah proyek yang wajar bila melihat peta industri perfilman dunia sekarang. Bila rajin baca berita perfilman, film produksi Hollywood mulai merangkul potensi penonton film bioskop di China (yang kalau dapat 1 persen penduduk aja jumlahnya udah 13 juta orang! =O). Cara yang paling sering kita lihat belakangan adalah film-film blockbuster Hollywood, tak terkecuali franchise Marvel dan Star Wars, dibuat kerja sama produksi dengan China, biasanya disertai dengan masang pemain berdarah China atau memasukkan lokasi teritorial China atau setidaknya menampilkan sisi positif keterlibatan bangsa China dalam ceritanya. Konon ini berangkat dari adanya kuota film asing di China, tapi kalau kerja sama dengan perusahaan China nggak dihitung film asing, win-win. Namun, mulai banyak juga film produksi China dengan memakai pemain Hollywood, semacam menunjukkan upaya para pengusaha film di China untuk menjadi pembuat konten setara Hollywood, nggak cuma sebagai konsumen. Contohnya beberapa waktu lalu ada Dragon Blade (film produksi China dengan bintang Jackie Chan, John Cusack, dan Adrien Brody) atau Skiptrace (film China-AS arahan Renny Harlin dibintangi Jackie Chan dan Johnny Knoxville), atau kalau ditarik lagi ke tahun 2011 ada The Flowers of War garapan Zhang Yimou dengan bintang Christian Bale. Speaking of Zhang Yimou, beliaulah sutradara The Great Wall ini, yang diinisiasi oleh Legendary Entertainment (yang sekarang juga udah diakuisisi perusahaan China) sebagai film Hollywood pertama yang syuting sepenuhnya di China, sekaligus film pertama Zhang Yimou yang diproduksi studio Hollywood dengan skenario berbahasa Inggris.

Nah, di satu sisi The Great Wall adalah proyek yang sangat menarik dari skalanya yang besar, juga dengan keterlibatan Zhang Yimou. Konon Zhang Yimou adalah salah satu sineas paling terpandang dari China yang bolak-balik masuk festival film internasional lewat film-film drama penuh makna atau apalah. Sedangkan gw, mohon maaf sekali, hanya tahu karya beliau yang bukan "makanan festival" =D. Zhang Yimou yang gw kenal adalah film silat Hero (2002) yang lebay itu, film silat House of Flying Daggers (2004) yang lebih lebay itu, film prahara rumah tangga kekaisaran Curse of the Golden Flower (2006) yang super-duper lebay itu, plus upacara pembukaan Olimpiade Beijing 2008 yang luar biasa akbar-gelegar-bikin-bergetar itu. So, menurut gw, The Great Wall sepertinya nggak akan jauh dari "karakter" Zhang Yimou yang gw tahu, bikin film dengan dana ratusan juta dolar dari Hollywood mah hayuk ajah, pasti sanggup.

Di sisi lain, nggak bisa disembunyiin bahwa ide film ini agak maksa. Mungkin awalnya ingin bikin sesuatu yang besar dari monumen terkenal China, Tembok Besar alias The Great Wall, mulailah dicari-cari cerita yang cocok mengakomodasi kebesaran yang diinginkan sebagaimana kata "besar" di nama Tembok Besar. Nah, berhubung Legendary adalah rumah produksi yang erat dengan laga, sci-fi dan fantasi (contoh Inception, Pacific Rim, Godzilla, Warcraft), maka dibikinlah cerita legenda bahwa Tembok Besar itu sebagai pertahanan pertama melindungi kekaisaran China dari serangan monster. Ya bebas sih, toh faktanya keberadaan tembok ini agak kontraproduktif, setelah dibangun kekaisaran malah jadi lebih sering diserang bangsa asing jadi ya why not diserang monster juga =). Jadi bukan juga berasal dari cerita rakyat China atau apa pun. Sementara untuk bikin jadi blockbuster dipilihlah setting zaman pertengahan, dan supaya jadi internasional dipilihlah bintang Hollywood sebagai pemeran utama, kali ini ada Matt Damon, bersanding dengan bintang-bintang dari teritori Tiongkok. How could this unlikely combination works? Yet....it could =)).

Dua pria dari daratan Eropa, William (Matt Damon) dan Tovar (Pedro Pascal) adalah yang tersisa dari segerombol orang yang lakukan perjalanan panjang dari Barat ke negeri China demi bahan berharga yang disebut bubuk hitam—obviously yang dimaksud adalah mesiu. Saat hampir dekat ke tujuan, monster misterius menyerang mereka, namun William mampu memukul mundur monster itu. Tak lama keduanya tertangkap saat melewati Tembok Besar, yang anehnya sedang dipenuhi ribuan pasukan bersenjata lengkap dari kekaisaran China yang disebut Nameless Order. Ternyata, pasukan ini tengah bersiap melawan para monster misterius yang menyerang setiap 60 tahun sekali, yaitu kelompok lebih besar dari monster yang pernah dikalahkan William. Jenderal Shao (Zhang Hanyu) dan komandan Lin (Jing Tian) melihat keterampilan tempur dua orang asing ini bisa membantu mereka dalam melawan monster-monster itu, sehingga memutuskan untuk memberdayakan mereka daripada cuma disekap. Di saat bersamaan, sekalipun di tengah ancaman bencana seperti ini, William dan Tovar tak rela melupakan tujuan utama mereka untuk pulang ke Eropa jadi kaya raya.

Gw perlu memperingatkan bahwa film ini memang hanya soal itu, nggak lebih. The Great Wall adalah sebuah film action fantasi—walau kalau lihat dari teknologi yang dipakai dan penjelasan tentang monsternya, ini lebih ke sci fi sih—durasinya cuma 90 menit dengan karakter nggak terlalu banyak, jadi wajar aja kalau nggak perlu cerita ribet-ribet. Emang bener-bener ceritanya straight to the point ada monster yuk dikalahin, dirancang agar bisa memfasilitasi berbagai pemandangan laga yang jadi jualan utamanya, dan gw pikir film ini sudah melaksanakan seperti yang semestinya. Flow ceritanya tetap terasa wajar, perbedaaan bahasa digunakan dengan cukup masuk akal, karakterisasinya mudah untuk dikenali (nggak perlu sampai didalami). Namun, gw juga melihat sedikit muatan yang nggak membuat film ini kosong melompong banget, entah itu dari perbedaan cara pandang perang untuk negeri vs perang untuk keuntungan diri, kesetaraan gender—the women practically protect the men in this one, bahwa nggak ada noda musuh yang nggak belajar saat lakukan serangan kesekian kalinya, sedikit hint tentang pejabat pemerintahan yang berlomba-lomba menjilat kaisar, dan—ini mungkin pesanan hehe—ada upaya menunjukkan saling respek antarbudaya, malah seperti ditunjukkan bangsa Tiongkok agak lebih superior dari bangsa Eropa, terbukti mereka lebih dulu memakai teknologi mesiu dan crossbow =). Semacam antitesis dari orientalisme (kecenderungan anggap kebudayaan Timur itu lebih terbelakang) yang sering muncul dari karakter-karakter Asia di karya-karya bangsa Eropa dan Amerika.

Aaakan tetaaapiih, jelas bukan itu poin paling utama yang gw dapat dari film ini. Jika The Great Wall dilabeli sebagai action fantasi sci-fi yang akbar, maka itu sangat benar adanya. Oh my goodness persembahan visual film ini gilak men. Visualnya ditata dalam estetika khas Zhang Yimou yang somehow poetic dan imajinatif, kerap menampilkan bagian-bagian individual dalam jumlah yang buanyak dan membentuk berbagai konfigurasi keren, juga tampilan warna -warni kostum, bangunan, alam, dan benda-benda lainnya yang terang mencolok tapi terkoordinasi dengan indahnya, dibantu pula dengan animasi CGI strata Hollywood yang sangat halus, sedap dilihat dan sangat terkontrol (maap maap nih ya buat film The Sorcerer and the White Snake atau film-film fantasi China lain yang masih mabok CGI =p). Adegan-adegan perangnya benar-benar epic akbar menggelegar dengan konsep berbagai senjata mekanik raksasa ala steampunk yang mungkin nggak kepikiran sama Hollywood, serta dengan taktik-taktik perang yang seru banget, baik dari pihak manusia maupun monsternya. Pertarungan jarak dekat manusia vs monsternya juga mampu memunculkan ketegangan yang berarti, didukung hampir semua karakter di sini pada dibuat bad-ass. Formulanya mungkin Hollywood, tetapi dengan masuknya style yang gw tahu hanya bisa dilakukan Zhang Yimou—yang pastinya harus ada kain berkibar-kibar dan slow motion dong =D, The Great Wall jadi sebuah sajian yang beda dari film-film sejenis yang pernah gw lihat sebelumnya, bahkan mungkin more exciting dari yang murni Hollywood punya.

You guessed it, gw sangat terpuaskan sama The Great Wall ini, sejanggal apa pun proyek ini kelihatannya dari permukaan, dan selebay apa pun kemasannya. It's been a while gw bisa berseru spontan sama adegan-adegan laga sebuah film yang CGI-heavy, dan ternyata bisanya sekarang di film ini. Ini adalah film yang sangat menyenangkan, penuh hiburan mata dan telinga yang memuaskan—Ramin Djawadi once again bikin komposisi musik kece dan catchy. Bukan berarti bebas problem, kekurangan film ini agak signifikan juga di bagian akhirannya yang sayangnya nggak se-epic peperangan-peperangan yang ditampilkan sebelumnya. Tetap rame sih, dan bisa bikin gregetan juga tuh, cuma citarasanya nggak seheboh yang diharapkan. Namun, ya sudahlah. The Great Wall buat gw adalah perpaduan paling sempurna dari Hollywood dan China sejauh ini, ini adalah high quality entertainment dari dua raksasa industri film dunia saat ini. If anything, Zhang Yimou yang gw kenal begitu pandai bikin spektakel insane-tapi-tertata tetap bisa gw temukan di sini, dan bahwa sebenarnya nggak ada pihak yang dipermalukan di sini. Kerenlah pokoknya, film pembuka tahun yang nendang.





My score: 7,5/10

Kamis, 05 Januari 2017

[Movie] The Girl on the Train (2016)


The Girl on the Train
(2016 - DreamWorks Pictures/Amblin Entertainment/Reliance Entertainment)

Directed by Tate Taylor
Screenplay by Erin Cressida Wilson
Based on the novel by Paula Hawkins
Produced by Marc Platt, Jared LeBoff
Cast: Emily Blunt, Haley Bennett, Rebecca Ferguson, Luke Evans, Justin Theroux, Édgar Ramírez, Allison Janney, Lisa Kudrow, Laura Prepon, Darren Goldstein


Film ini mungkin kayak adem ayem aja ya, karena nggak ada nama-nama yang besar banget baik yang di depan maupun di balik kamera, tetapi still mereka nama-nama yang cukup well-known, sehingga daya tariknya lumayan kalau buat gw. Ada Tate Taylor yang dulu sukses berat dengan The Help, yang kini lagi-lagi meng-casting aktor-aktris yang menjanjikan. Gw sendiri nggak tahu banyak soal The Girl on the Train yang novel sumbernya katanya laris, tetapi gw sendiri nonton simply karena deretan pemainnya kece-kece dan konon kisahnya agak-agak misteri thriller gitu. Yang agak di luar dugaan gw adalah bahwa film ini sebuah thriller rumah tangga, dalam makna benar-benar paling denotatif.

Penuturan film ini digulirkan dengan cukup menarik, sering back-and-forth dengan fragmen-fragmen yang menerangkan latar belakang dan motivasi tokoh-tokohnya. Sudut pandang utama adalah dari Rachel (Emily Blunt), yang setiap hari naik kereta commuter dan gemar memandang sebuah rumah dan kegiatan pasangan suami-istri penghuninya--seorang wanita muda pirang dan seorang pria pekerja--dari jauh. Belakangan terungkap bahwa rumah itu sebenarnya sederet beda satu-dua rumah dari rumah lama Rachel, yang sekarang dihuni mantan suaminya, Tom Watson (Justin Theroux) bersama istri barunya, Anna (Rebecca Ferguson) dan bayi mereka. Rachel sendiri adalah seorang pecandu alkohol, suatu saat dia kumat dan ingin mendatangi rumah yang sering dia amati tadi, karena melihat si istri, yang belakangan diketahui bernama Megan Hipwell (Haley Bennett) bercengkerama bersama lelaki yang bukan suaminya. Sebelum sampai di sana, Rachel mengalami blackout dan sadar-sadar ia udah bangun di rumah keesokan harinya berlumuran darah dan tanah, bersamaan dengan ada kabar laporan Megan menghilang. 

Dari pemaparan konfliknya sejak awal, gw cukup terkesan sama film ini. Menarik bagaimana awalnya kita diperkenalkan karakter-karakter ini satu per satu dan lama-lama terungkap seluk beluk kehidupan mereka sebelumnya, yang memengaruhi keadaan mereka sekarang yang ibarat jaring. Kadang muncul kekhawatiran bahwa gaya ini akan dipakai buat munculin twist ala-ala, tetapi ternyata gw lihat ini lebih berfungsi mengajak penonton menyelami karakter-karakternya, bersamaan dengan memunculkan rasa penasaran sama misterinya. Konsepnya sih kayak begitu ya kalau gw lihat, toh memang kasus yang jadi plot device film ini nggak digali dari sisi penegak hukum, melainkan dari sisi orang biasa yang clue-clue-nya sedapatnya saja. Jadi selain pengen tahu ke mana si Megan, gw juga bisa lihat Rachel ini lama-lama jadi psycho goyah mentalnya gara-gara kehidupan Megan dan suaminya yang (dari jauh) dijadikan panutan hidup berbahagia paripurna seakan terkhianati. Ibarat seorang penonton sinetron dan infotainment yang gatal komentar di Instagram demi menasihati selebriti yang ketahuan selingkuh atau berfoto anonoh =P. Bahwa yang tidak Rachel perhitungkan adalah tindakannya itu malah memperumit keadaan dan jadi bumerang buat dirinya sendiri, berhubung kehidupan pribadinya juga kacau balau. Gimana nggak orang dia juga mabuk melulu, dan kenapa dia mabuk melulu juga terkait dengan hobinya melihat rumah lamanya dari jendela kereta.

Hanya saja, untuk sebuah thriller rumah tangga, film ini memang end up lebih berat ke bagian rumah tangganya ketimbang thriller-nya. Gw sih nggak masalah kalau filmnya ternyata bagian besarnya adalah tentang rumah tangga bermasalah yang melibatkan banyak pihak--selingkuh, cerai, KDRT fisik maupun psikologis, tetapi saat sudah tersedia potensi thriller dari misteri kasus orang hilangnya, film ini cenderung tipis, sehingga jatuhnya lebih ke kayak soap opera atau telenovela ajah gitu. Gw merasa film ini nggak menyajikan satu pun adegan yang thrilling, padahal kelihatan sudah coba dibangun dari warna gambarnya yang "mendung" dan musiknya. Agak disayangkan saat filmnya selesai bukannya seperti puas karena misterinya terlunaskan, melainkan ibarat lega episode rebutan suami atau rebutan warisan atau berantem jambak-jambakan di Maria Cinta yang Hilang akhirnya selesai. Which is nggak apa-apa juga sebenarnya, karena paling nggak film ini bisa bikin gw larut sama perjuangan karakternya, khususnya Rachel yang dimainkan dengan baik sekali oleh Blunt.

Ya begitulah, gw sih nggak menganggap film ini jelek juga, malahan gw masih bisa tahan mengikuti dan menikmati cerita bergulir dan performa akting oke dari deretan pemainnya, fine-fine aja filmnya. Gw juga merasa tuturan mondar-mandir antara masa sekarang dan bulan-bulan sebelumnya itu menarik juga. Cuma ya itu, film ini emang nggak sampai pada level gereget ataupun menggigit, eksplorasi psikologi (atau psikiatri?) dari tokoh-tokohnya yang sangat potensial pun nggak sampai jauh. So, buat gw film ini cukup berhasil di level menuturkan ceritanya saja, belum memberi "rasa" yang tepat untuk cerita tersebut--apalagi ceritanya sendiri bukan termasuk yang benar-benar baru dan orisinal gimana gitu. Mungkin bumbu yang paling pas adalah adegan-adegan ehemnya yang cukup mengangkat value film ini sebagai kisah rumah tangga yang memang dewasa, lumayanlah daripada nggak.





My score: 7/10

[Movie] Petualangan Singa Pemberani: Atlantos 2 (2016)


Petualangan Singa Pemberani: Atlantos 2
(2016 - Batavia Pictures)

Directed by Lee Croudy
Story by Firman Halim, Wisnu Hartandi
Produced by Lucki Lukman Hakim, Genesis Timotius, Christofer Santosa
Cast: Giring Nidji, Andhika Pratama, Arie Dagienkz


Proyek film animasi 3D dari produk es krim Wall's dengan tokoh singa Paddle Pop ini terus saja bermunculan di bioskop, gw berasumsi ini menandakan selalu ada aja yang nonton sekalipun nggak meledak-meledak amat. Lama-lama 'kan jadi penasaran. Seri film ini somehow dikelompokkan sebagai film Indonesia, sementara gw cek credits-nya animasinya diproduksi Thailand--konversi ke 3D-nya baru di Indonesia. Gw perhatikan gerak bibir tokohnya, film ini aslinya dibuat dalam bahasa Inggris, yang versi Indonesia hanyalah dubbing--pun dalam poster nama dubber yang dicantumkan cuma yang artis terkenal, yang dubber lain kayak sure-whatever gitu. Apakah agency-nya yang bikin dari Indonesia atau bagaimana, gw bingung juga sih menempatkan ini sebagai film Indonesia seutuhnya atau nggak. Tapi ya sudahlah, namanya juga demi engagement produk yang nggak hanya tersedia di satu negara, iyain aja dulu. Dan entah apakah keputusan yang tepat gw memulai nyoba seri ini dari Petualangan Singa Pemberani: Atlantos 2 yang notabene adalah film keenam dari seri ini sekaligus "sekuel" dari Petualangan Singa Pemberani: Atlantos, tetapi kayaknya nggak ngaruh juga sih. Ini adalah film yang dirancang dan dimaksudkan untuk menghibur anak-anak, dibuat sesederhana mungkin jadi kalaupun baru mulai sekarang pun bakal ngerti-ngerti juga.

Yang gw pahami dari episode kali ini adalah Paddle Pop (Giring Nidji) itu pangeran sebuah kerajaan yang gemar berpetualang dan memiliki kekuatan khusus dalam melawan kekuatan jahat. Kali ini, musuh lamanya Shadow Master (maaf pengisi suaranya gak gw catet pas end credits) bangkit kembali dan mengancam kelangsungan kehidupan di darat dan lautan lewat sebuah benda bernama Mutiara Laut (….iya setahu kita emang mutiara sebagian besar dari laut, tapi ya udah iyain aja dulu), sehingga Paddle Pop mencari cara untuk mengalahkannya. Hanya saja, kekuatan singa Paddle Pop tidak bisa maksimal di bawah laut, sehingga harus berguru pada sesosok singa pertapa bawah laut bernama Magus (Andhika Pratama), lalu meminta kekuatan dari kuil hiu putih, dan bekerja sama dengan musuh dari episode sebelumnya, Jenderal Khan (maaf pengisi suaranya gak gw catet pas end credits).

Film ini formatnya petualangan sangat "terstruktur", maksudnya setelah satu hal selesai, lanjut ke hal lainnya, seperti ada 9 episode cerita animasi pendek masing-masing berdurasi 10 menit yang disambung-sambung tapi nggak nyambung secara mood. Bikin gw nunggu kapan ini sampai ke poin utamanya, malah detour terus, sampe ngantuk karena apa yang disajikan di layar sangat plain dan nggak bikin gw excited meneruskan ceritanya. Nggak tahu ya, mungkin karena gw bukan segmen yang dituju film ini, tetapi gw memang hampir nggak mendapat value apa-apa dari menyaksikannya, lucu pun nggak—okelah bayi penyu raksasa itu kiyut sih, itu doang. Dan sayangnya lagi yang bikin film ini makin flat adalah penataan suara dan musiknya yang bener-bener flat, nggak ada dinamikanya. Padahal kalau melihat animasi yang tekniknya masih belum secanggih studio-studio Hollywood tapi udah termasuk rapi, bagian sound harusnya bisa membantu agar filmnya jadi "ekspresif", apalagi di bioskop yang sistemnya digital surround. Nyatanya ini nggak dimanfaatkan.

Untungnya, di sela-sela ngantuk itu gw bisa terhibur pada satu segmen, yaitu saat Paddle Pop dkk hendak masuk ke kuil hiu putih yang penuh tantangan untuk mendapat kekuatan singa darat dan laut (or something). In fact, gw sangat impressed pada bagian ini, karena selain desain visualnya adalah yang paling baik di sepanjang durasi film ini, tetapi juga penataan action yang cukup baik dan tension-nya terasa. Dan, di sini juga pesan moral terkuatnya disampaikan, hehe. Sayangnya ini bukan adegan klimaksnya, masih ada lagi yang lawan si musuh utama yang lagi-lagi plain, sehingga bagian kuil hiu putih ini nggak cukup untuk mendispensasi kebosanan gw selama satu jam sebelumnya dan 20 menit sesudahnya. Btw, ternyata kualitas animasi saat bagian close-up wajahnya bagus juga ya.

Jujur gw nggak tahu harus gimana menanggapi film ini. Ini film yang erat banget sama produk komersial tetapi untungnya tidak terlalu hardselling di ceritanya (ya iyalah heuheu). Konsep universe ceritanya juga okelah, tetapi karena dibawakannya terlalu kanak-kanak dan mengulang gaya kartun-kartun TV, jadi nggak menarik lagi buat gw. Ketika gw udahlah maklum aja sama animasinya yang belum sehalus Hollywood atau bahkan Jepang, teknis lainnya yang seharusnya lebih managable malah nggak ditangani dengan maksimal. Jadi ya udahlah, selama acceptable enough for kids, apa pun komentar gw atau anak-anak gedean mungkin nggak penting lagi.





My score: 5,5/10

Sabtu, 31 Desember 2016

Year-End Note: My Top 10 Films of 2016

10 film yang akan gw sebut adalah yang paling favorit, berkesan, dan sometimes paling "racun" buat gw (yang menyebabkan skor yang gw beri per film kadang jadi nggak ngaruh di sini), yang dirilis di bioskop komersial Indonesia sepanjang tahun 2016. No time to waste, mari kita mulai.


Eh sebelum itu =P, gw coba mention film-film yang hampir masuk 10 besar, kali ini dalam urutan abjad:

Ada Apa dengan Cinta? 2, directed by Riri Riza
Film yang memuat pesona yang sama dengan film pertamanya, bahkan lebih lagi dengan cerita yang mendewasa dan lebih matters.

Dangal, directed by Nitesh Tiwari
Film yang moving dalam kemasan menghibur khas Bollywood, tetapi yang paling mengesankan buat gw film ini menampilkan adegan-adegan pertandingan yang sama serunya seperti menonton pertandingan langsung.

Deadpool, directed by Tim Miller
Plotnya remeh banget, tetapi diramu sebagai laga komedi yang violent sekaligus sukses mengocok perut lewat humor-humor self-conscious-nya.

Mermaid directed by Stephen Chow
Film komedi fantasi absurd produksi China yang salah satu adegannya sukses bikin gw tertawa yang saking kerasnya sampai nggak sanggup bersuara.

One Way Trip directed by Choi Jung-yeol
Mengangkat sebuah kisah ujian persahabatan empat remaja di tengah tuduhan tindak kriminal, film ini sukses menghindar dari pakem-pakem klise film Korea--sejauh yang gw tahu ya.




Kalau begitu, silahkan simak 10 teratas film terfavorit gw di tahun 2016.




10. Finding Dory
directed by Andrew Stanton

Memang tidak gampang untuk mengulang rasa yang timbul saat dulu menyaksikan Finding Nemo (2003), namun Finding Dory tetap berhasil mencuri hati. Dengan petualangan baru yang berfokus pada pencarian orang tua si ikan pelupa Dory, film animasi Pixar ini mampu memunculkan kelucuan yang setara dengan pendahulunya, ditambah dengan kemunculan karakter-karakter baru yang sama lovable-nya dengan karakter-karakter lama. 






9. Warcraft
directed by Duncan Jones

Nonton kali pertama merasa nggak bagus-bagus amat tapi masih terhibur. Terus terpanggil lagi untuk nonton lagi, kok jadi tambah tertarik pada cerita dan dunianya. Eh terus jadi pengen nonton lagi dan akhirnya gw melihat kerennya film adaptasi game online ini. Salah satu ciri film dengan label "favorit" adalah yang ngangenin--atau mungkin ngeracunin, dan Warcraft sangat masuk dalam kelompok itu. Kompleksitas ceritanya mampu disajikan bersamaan dengan konsep visual dan laga yang oke, dan kelihatan bahwa yang bikin film punya kecintaan sama materi aslinya, sehingga hasilnya pun juga menyenangkan. 







8. Your Name.
directed by Makoto Shinkai

Belum terkikis kekaguman gw sama cara penuturan film anime Jepang bertema romansa remaja dengan sentuhan fantasi ini. Ketika romansa yang berkisar pada "takdir mempertemukan kita" nggak berakhir gombal, melainkan jadi kisah yang punya daya magis karena diiringi konsep yang sangat imajinatif namun terjelaskan dengan terampil. Film ini juga menampilkan makna baru tentang "saling kenal luar dalam". 







7. Room
directed by Lenny Abrahamson

Film yang amazingly mampu menuturkan kisah getir bersamaan dengan kepolosan anak sebagai sudut pandang utamanya. Getir itu kuat terasa, karena berkisah tentang wanita (dulunya) remaja korban penculikan yang disekap di sebuah ruang selama bertahun-tahun sampai dihamili oleh penculiknya. Namun, kelembutan dan kepolosan itu pun tetap mencuat berkat karakterisasi Jack, si anak yang selama ini hanya tahu dunia sebatas ruang sempit kemudian akhirnya bisa keluar dan mengalami dunia luar yang sesungguhnya.
Review di sini







6. Eye in the Sky
directed by Gavin Hood

Inilah film thriller di tahun 2016 yang paling bikin gw deg-degan dan terkuras emosi saat nonton di bioskop. Berpusat pada upaya pemberantasan teroris di sebuah negara Afrika lewat teknologi drone, film ini memperkenalkan bahwa aksi ini melibatkan berbagai macam pihak di tempat berbeda-beda (kali ini Inggris dan AS dan sekutunya), dengan keruwetan birokasi serta dilema moral yang setiap detik muncul. Meskipun fiksi, film ini juga dengan sangat baik menyatakan statement-nya tentang perang terhadap terorisme yang tidak sesederhana hitam dan putih. 







5. Sully
directed by Clint Eastwood

Tak hanya tentang peristiwa nyata pendaratan darurat sebuah pesawat berpenumpang di atas sungai besar di New York, film ini membawa gw menyelami psikologis Sully sang pilot dengan cukup menyeluruh, serta penggarapan adegan-adegannya yang mungkin sebenarnya tampak biasa, tidak serba dramatis, namun mampu menimbulkan rasa yang semestinya. Adegan detail pendaratan dan penyelamatan itu juara sekali. 





4. Athirah
directed by Riri Riza

Dari sebuah episode kisah hidup tokoh pemerintahan Indonesia saat ini, ditambah isu poligami, film ini akan mudah jatuh jadi pemujaan tokoh, jualan motivasi, menye-menye, dan sejenisnya. Untunglah film ini jatuh ke tangan Miles Films dan Riri Riza, yang mampu mengolah kisah melodrama ini tanpa mengkompromikan sense artistik mereka. Hanya dalam 80-an menit, film ini menyajikan apa yang perlu disajikan dengan komplet, ikut mengalami pergulatan batin tokoh-tokohnya, yang tentu saja dibungkus dalam presentasi yang amat sangat menawan. 







3. Zootopia
directed by Byron Howard & Rich Moore

Film ini masih belum keluar dari lingkaran nilai-nilai kekeluargaan dan motivasi untuk jadi yang terbaik sekalipun banyak rintangan, yang selalu ada di film-film Disney, khususnya yang animasi. Heran juga ketika film tentang peradaban modern hewan mamalia ini, yang plotnya digerakkan pada sebuah misteri kriminal, tetap mampu menyampaikan nilai-nilai itu, dan lebih lagi. Bahwa film ini disajikan dengan laju yang exciting, keseimbangan laga, humor, dan drama menyentuh, serta karakter-karakter yang mudah disukai dan wujudnya menggemaskan, semakin memantapkannya sebagai salah satu film animasi Hollywood terbaik dalam tahun-tahun belakangan. 







2. Spotlight
directed by Tom McCarthy

Ini mungkin adalah the truest form of film. Berdasarkan kisah nyata investigasi jurnalistik skandal pelecehan anak di lingkungan gereja di Boston, film ini hanya melakukan satu tugasnya dengan tepat: bercerita. Dengan susunan dan penuturan cerita yang solid, nggak pakai yang fancy-fancy, film ini sukses bikin gw fokus terus pada ceritanya, yang bikin emosi naik turun saat menyaksikan fakta demi fakta digulirkan dan tantangan demi tantangan menghimpit. Performa luar biasa dari deretan aktornya pun bukannya berusaha saling pamer kebisaan, semuanya tampil sama kuat dalam menyokong topik dan kisah yang hendak disampaikan, sebagaimana sebuah film semestinya. 
Review di sini










1. Surat dari Praha
directed by Angga Dwimas Sasongko

Film ini muncul di Januari 2016, dan setelah nonton pertama kali gw tahu film ini akan masuk daftar 10 teratas akhir tahun gw. Sekarang gw ingat-ingat lagi, sepanjang tahun ini belum ada yang bikin gw bereaksi seperti nonton Surat dari Praha. Film yang membuai gw dengan cerita tentang cinta yang tak terbereskan--baik sebagai kekasih, keluarga, ataupun rakyat, juga memberi perlakuan tepat porsi dan terintegrasi tentang episode kelam sejarah politik Indonesia. Dibungkus dalam persembahan visual yang sederhana namun penuh estetika, dan musiknya sebagai bagian dari cerita yang dieksekusi dengan efek menggetarkan. Buat gw adegan duet dadakan Laras dan Jaya adalah salah satu adegan terbaik tahun ini, dan salah satu movie music moment terbaik di film Indonesia manapun. Pukauan film ini pun ternyata sangat awet saat gw nonton beberapa kali--di bioskop, di streaming, hingga saat tayang di TV, sehingga gw merasa punya tanggung jawab kepada diri sendiri untuk menaruh film ini di posisi teratas tahun ini. 



Demikian bagian akhir catatan akhir tahun gw, semoga kiranya berkenan adanya. Selamat menyongsong tahun yang baru. Cheers.