Minggu, 10 Maret 2019

My Movie Picks of February 2019

Gw lupa kalo Februari itu nggak sampe 30 hari, jadi harusnya bikin postingan agak cepetan, huhu. Anyway, bulan kemaren tontonan gw lumayan banyak neh, dan berikut adalah beberapa yang rasanya patut gw catat.




1. Annihilation
(2018 - Paramount/Netflix)
dir. Alex Garland
Cast: Natalie Portman, Jennifer Jason Leigh, Oscar Isaac, Gina Rodriguez, Tessa Thompson, Tuva Novotny, Benedict Wong, David Gyasi


Konsep sci-fi-nya yang sebenarnya agak rumit rupanya tetap bisa jadi pegangan yang ampuh dalam gw mengikuti film ini hingga akhir. Penuturannya yang moody membangun tensi yang bikin terus penasaran terhadap apa yang nanti para karakternya temukan--apa di balik munculnya sebuah kubah raksasa yang bikin semua orang yang masuk ke situ nggak pernah keluar lagi. Pun karakternya dibangun sedemikian rupa sehingga ceritanya ada sisi manusiawi yang cukup menggugah. Beberapa desain visualnya berada di garis antara cantik dan grotesque dan trippy, tapi justru menambah pesona aneh keseluruhan film ini =).
My score: 8/10






2. Terlalu Tampan
(2019 - Visinema Pictures)
dir. Sabrina Rochelle Kalangie
Cast: Ari Irham, Calvin Jeremy, Rachel Amanda, Nikita Willy, Dimas Danang, Tarra Budiman, Marcelino Lefrandt, Iis Dahlia, Ratna Riantiarno, Unang


Karena berdasarkan komik--well, istilah yang dipake adalah "webtoon" yang notabene komik yang terbit via internet/aplikasi--gw lumayan siap terima apa pun yang akan ditawarkan film ini, karena nggak ada contoh pendahulu di Indonesia yang bisa dibandingkan. Karakterisasi, logika, dan keabsurdan khas komik benar-benar dihidupkan dalam film ini, yang bahkan mungkin lebih works ke gw ketimbang film-film Jepang ber-tone serupa, dan itu sepertinya yang bikin gw happy sepanjang nonton. Kisahnya masih berkutat pada relationship anak-anak remaja, nggak ada yang terlalu baru, namun penggarapannya yang berani nyeleneh bikin cita rasanya lebih fresh. Mungkin bakal lebih mantep kalau makin ke belakang makin menggila, tapi keseluruhannya ini udah cukup baik kok.
My score: 7,5/10






3. Alita: Battle Angel
(2019 - 20th Century Fox)
dir. Robert Rodriguez
Cast: Rosa Salazar, Christoph Waltz, Keean Johnson, Jennifer Connelly, Mahershala Ali, Jackie Earle Haley, Ed Skrein, Jorge Lendeborg Jr., Lana Condor, Jeff Fahey


Harapan gw lumayan tinggi ketika Robert Rodriguez ditunjuk James Cameron untuk bikin film laga sci-fi berdasarkan komik Jepang ini, jadi ngebayangin Spy Kids disuntik teknologi (dan dana) Avatar =D. Kabar buruknya, film ini nggak sampai mendekati kedua judul yang gw sebut tadi. Tetapi, nggak masalah karena hasilnya adalah sebuah sajian laga yang exciting, dan tentu saja pameran teknologi efek visual kelas puncak. Menurut gw film ini sudah cukup oke dalam mengatasi tantangan tentang worldbuilding-nya yang terbilang besar dan kompleks--karena namanya komik Jepang 'kan cenderung seri-nya panjang, juga mengatasi unsur body horror-nya dengan brilian. Namun, satu hal yang gw salut adalah penyusunan cerita yang bikin benak gw merasa ceritanya sudah tuntas, sekalipun (seharusnya) bakal lanjut.
My score: 7,5/10






4. The Breadwinner
(2017 - Universal/GKIDS/Studio Canal/Aircraft Pictures/Cartoon Saloon/Melusine Productions)
dir. Nora Twomey
Cast: Saara Chaudry, Soma Bhatia, Shaista Latif, Ali Badshah, Noorin Gulamgaus, Laara Sadiq, Kawa Ada


Sebuah film dengan animasi indah, banget, tetapi mampu menyampaikan gambaran yang efektif tentang situasi yang cukup pelik. Dalam hal ini kisahnya tentang sebuah keluarga Afghanistan di rezim Taliban, yang tak punya laki-laki dewasa di rumahnya sehingga si putri bungsu harus menyamar jadi anak laki-laki untuk cari makan di luar rumah. Tidak sertamerta provokatif, karena masih memakai sudut pandang anak-anak, tetapi tetap mampu bikin gw terenyuh lewat berbagai momennya.
My score: 8/10






5. The Ballad of Buster Scruggs
(2018 - Netflix/Annapurna Pictures/Mike Zoss Productions)
dir. Joel Coen, Ethan Coen
Cast: Tim Blake Nelson, David Krumholtz, Clancy Brown, Willie Watson, James Franco, Stephen Root, Liam Neeson, Harry Melling, John Waits, Sam Dillon, Zoe Kazan, Bill Heck, Grainger Hines, Brendan Gleeson, Tyne Daly, Jonjo O'Neill, Saul Rubinek, Chelcie Ross


Film ini bener-bener kombo 6 in 1 karena terdiri dari enam cerita yang nggak ada kaitannya sama sekali, selain bahwa semuanya berlatar dunia koboi ketika tanah Amerika lagi mulai dieksplorasi sampai ke pedalamannya. Dari soal outlaw bersenjata, perampok, pemburu hadiah, pencari tambang, pertunjukan keliling, pertikaian dengan penduduk asli, sampai kisah cinta, pokoknya unsur-unsur yang bisa kita bayangkan dari semua kisah western. Mungkin karena kisahnya pendek-pendek, penuturannya jadi lebih padat dan ringkas, tetapi tiap kisah digarap dengan apik sehingga ngikutinnya juga enak. Eksentrisitas dan dry humor khas Coen bersaudara tentu saja masih tampil, tapi untungnya keseluruhannya bisa tetap bisa menghibur.
My score: 8/10






6. The Lego Movie 2
(2019 - Warner Bros./Warner Animation Group)
dir. Mike Mitchell
Cast: Chris Pratt, Elizabeth Banks, Will Arnett, Tiffany Hadish, Stephanie Beatriz, Charlie Day, Alison Brie, Nick Offerman, Maya Rudolph, Will Ferrell, Jadon Sand, Brooklynn Prince


The Lego Movie pertama menurut gw sangat groundbreaking, bikin ngakak sentosa baik karena saking konyolnya sekaligus karena punya lapisan-lapisan cerita yang gokil-kok-bisa-kepikiran. Yang gw agak takutkan pada sekuel (dan sudah terjadi pada spin-off-nya) ternyata terjadi juga pada sekuelnya ini, yaitu belum mampu menyamai tingkat brilian plus kesegaran film pertamanya walaupun pendekatan dan eksplorasi ceritanya tergolong mirip. Namun, bagaimana pun gw tetap suka sama beberapa ide yang dimunculkan di sini, dan lelucon-leluconnya juga masih mampu memunculkan tawa yang rela.
My score: 7,5/10






7. BlacKkKlansman
(2018 - Focus Features/Legendary Pictures)
dir. Spike Lee
Cast: John David Washington, Adam Driver, Laura Harrier, Topher Grace, Jasper Pääkkönen, Ryan Eggold, Michael Buschemi, Ken Garito, Paul Walter Hauser, Ashlie Atkinson, Corey Hawkins, Fred Weller, Harry Belafonte


Dari reputasi seorang Spike Lee harusnya sudah menyangka bahwa film ini akan politis banget, like nget nget, khususnya tentang diskriminasi ras di Amerika. Namun, harus diakui bahwa sebagai sebuah film bertema kriminal dan terinspirasi kisah nyata, film ini dituturkan dengan "megang" dan menarik. Untuk memata-matai organisasi rasis dan cenderung teroris Ku Klux Klan, seorang detektif kulit hitam pura-pura mendaftarkan diri sebagai anggota lewat telepon ^_^;, lalu saat ketemuan langsung dengan orang organisasi, rekan detektif yang kulit putih jadi "pemeran pengganti"-nya. Isu sosial dan politisnya memang jadi garis paling tebal, tapi cukup bisa dikompensasi lewat dark humor, referensi kultur pop, dan tentu saja performa akting yang kompak, sehingga filmnya jadi berat-berat-tapi-enggak gitu.
My score: 7,5/10





Senin, 04 Maret 2019

Winners of the 91st Oscars (and how many I guessed them right)

Yaampun...baru sempet nge-followup sekarang, haha. Baiklah karena udah agak telat momentumnya, langsung aja gw mau cek seberapa jitu tebakan gw tahun ini di The 91st Oscars. Yang gw kasih tanda O berarti tebakan gw sebelumnya benar, sedangkan X artinya gw salah dan mohon dibukakan pintu maaf.



best picture
GREEN BOOK (O)

Nah kan bener. Well, terima tidak terima, bisa dibilang film inilah pilihan paling "tradisional" yang ternyata juga masih jadi pilihan para voter Oscar. Ternyata suara keberatan dari berbagai pihak  mengenai konten film ini terbukti nggak banyak memengaruhi pilihan tersebut. Oh, akhirnya ada pemenang Best Picture yang sudah (bahkan di beberapa tempat masih) tayang di bioskop Indonesia sebelum penyelenggaraan Oscars, hehehe.



directing
ROMA (O)

Hanya turut bangga bahwa selama gw hidup bisa menyaksikan Alfonso Cuaron menang Piala Oscar buat penyutradaraan sebanyak dua kali *sujud syukur*--sebelumnya beliau menang tahun 2014 untuk Gravity.



actor in a leading role
Rami Malek, BOHEMIAN RHAPSODY (O)

Walah bener *tapi tetep agak nggak rela*



actress in a leading role
Olivia Colman, THE FAVOURITE (X)

Whoaaa...bukti bahwa jagoan dari British Academy Film Awards (BAFTA) harus patut diwaspadai di Oscars.



actor in a supporting role
Mahershala Ali, GREEN BOOK (O)

Oscar kedua hanya dalam tiga tahun *tepuk tangan*



actress in a supporting role
Regina King, IF BEALE STREET COULD TALK (X)

Weits, kerennn.



animated feature film
SPIDER-MAN: INTO THE SPIDER-VERSE (O)

Akhirnya mau juga mereka nengok yang bukan Disney/Pixar =D.



cinematography
ROMA (X)

Usetttt...felicidades, Senor Cuaron. Dengan demikian Bapak ini secara pribadi sudah mengoleksi Oscar untuk bidang penyutradaraan (Gravity, Roma), editing (Gravity), dan sekarang sinematografi, gimana nggak idola coba...



costume design
BLACK PANTHER (X)

Wakanda foreva...



film editing
BOHEMIAN RHAPSODY (O)

Lha bener.



makeup and hairstyling
VICE (O)

Yaiyalah



original score
BLACK PANTHER (X)

*Silang tangan di depan dada lalu tegap sambil kepala angguk satu kali*



original song
"Shallow", A STAR IS BORN (O)

Lady Gaga (and Mark Ronson, et all) is now an Oscar winner. 



production design
BLACK PANTHER (X)

That's three Oscars for Marvel Studios. Good job.



sound editing
BOHEMIAN RHAPSODY (X)

Yang ini salah...tetapi itu berarti... (lanjut ke bawah)



sound mixing
BOHEMIAN RHAPSODY (O)

...yang ini benar. Ehehehe



visual effects
FIRST MAN (X)

Dalam tradisi Inception dan Interstellar, ternyata yang paling nggak kelihatan "pamer" efek visual bisa berjaya. Ikut senang bahwa First Man kebagian Oscar juga akhirnya =)/



adapted screenplay
BLACKKKLANSMAN (O)

Yes bener.



original screenplay
GREEN BOOK (O)

Nah kan bener juga.



foreign language film
ROMA (Mexico) (O)

Yaeyalahhh



documentary feature
FREE SOLO (X)

Meneketehe.



documentary short
PERIOD. END OF SENTENCE (X)

Meneketehe



animated short film
BAO (O)

Satu-satunya yang gw pernah tonton (karena dibundling sama Incredibles 2) dan ternyata menang ^_^.



live-action short film
SKIN (O)

Meneketehe tapi kok bener ^_^;




Jadiii...menurut angka, gw nebak benar 14 dari 24 kategori, jadi hanya 58 persen semata. Tetapi, di luar ukuran angka gw yang sepertinya akan sulit mencapai sempurna, hasil Oscars tahun ini adalah yang paling "asas kekeluargaan", kayaknya semua film yang diunggulkan kebagian piala, nggak ada yang kemaruk. Malahan film-film yang populer dan mendulang box office tinggi seperti Bohemian Rhapsody bisa dapat total 4 piala, juga Black Panther dapat 3 piala. Ibaratnya Oscars tahun ini emang sedang mendekatkan diri lagi sama penonton awam kebanyakan dengan memilih film-film yang relatif lebih dikenal luas. Ya nggak masalah sih asalkan pilihan filmnya emang bagus ye bukan buat ngemis rating show-nya *ups*. Until the next Oscars, guys.




Minggu, 24 Februari 2019

Tebak-tebakan Pemenang The 91st Oscars

Ahh...sudah tiba waktunya untuk embahnya award-award-an di dunia, The Oscars. Serius, udah tinggal hitungan jam lho dari saat postingan ini terbit. Awards season tahun ini di Hollywood sepertinya jadi salah satu yang paling banyak ulah. Bukan akibat iklim industrinya yang didorong untuk kedepankan diversity dan equal opportunity, bukan juga hanya karena calon-calon pemenangnya yang (akhirnya) sulit ditebak, melainkan terutama karena si Academy of Motion Pictures Arts & Sciences (AMPAS) yang labil banget dalam penyelenggaraannya. Pernah denger wacana penghargaan khusus "popular film" digelontorkan tahun lalu yang kemudian jadi bahan olok-olok di media sosial sehingga akhirnya dibatalin? Atau udah diumumin host Kevin Hart tapi terus nggak jadi gara-gara jejak digital-nya, dan lama banget nggak ada penggantinya akhirnya ditentukan acaranya nggak pakai host? Dan beberapa hal lainnya yang bikin kelabilan Academy lebih banyak diomongin netizen daripada ribut-ribut siapa yang layak menang hahaha.

Ya sudahlah ya, nggak bisa ditahan bahwa setiap perhelatan Oscar, para penggemar film seperti gw pasti mau ikutan nebak-nebak siapa saja yang akan mendapat piala. Seperti gw singgung tadi, tahun ini jadi yang cukup sulit ditebak karena setiap nomine ada aja catch-nya, sedikit sekali yang "pasti menang". Untuk itu, kayaknya gw akan nggak terlalu sedih apabila tebakan gw banyak salah hehe. Baiklah, berikut tebakan gw untuk para peraih piala Oscar di tahun ke-91 ini.




best picture
GREEN BOOK

Menebak kategori ini sekarang ternyata lebih memeras pikiran daripada tahun lalu. Para kritikus kayaknya banyak memberi dukungan pada Roma--yang akan sangat gw amini =). Tetapi, dari ajang-ajang yang dinilai oleh langsung para pekerja film Hollywood, yang sebagian dari mereka juga ikut nge-vote buat Oscar, punya hasil yang berbeda-beda. Di antara ajang yang terbesar, asosiasi aktor (SAG-AFTRA lewat ajang Screen Actors Guild Awards) memberi penghargaan utama pada Black Panther, asosiasi sutradara (DGA) mengganjar Roma, lalu asosiasi produser (PGA) kasih ke Green Book.

Tebakan gw pemenang Oscar nanti bisa jadi ada di antara tiga ini, tetapi ketiga film ini juga punya sisi yang memberatkan. Black Panther itu mungkin pilihan terlalu ekstrem karena status blockbuster-nya, entah Oscar sudah siap untuk ke arah sini sekarang. Roma akan jadi jagoan banyak pengamat, tetapi apakah Oscar juga ridho menganugerahkan penghargaan tertinggi untuk film yang tadinya hanya akan dirilis langsung di layanan streaming Netflix (walau akhirnya tayang di bioskop terbatas beberapa minggu sebelum muncul di Netflix supaya penuhi syarat masuk Oscar), belum lagi filmnya berbahasa non-Inggris. Green Book yang pure drama "materi Oscar banget" juga belakangan dapat banyak kecaman karena dianggap nggak tepat dalam gambarkan diskriminasi ras.

Namun, menurut gw tetap Green Book yang punya kesempatan agak paling besar, berkaca pada ajang PGA Awards yang metode pemilihannya mirip sama Oscar yaitu preferential ballot--berdasarkan pilihan terbanyak dan bobot pilihannya. Para nomine yang masing-masing banyak pro-kontra membuat pilihan nomor satunya kemungkinan akan terbagi-bagi banget, sehingga akan menguntungkan film yang lebih banyak di pilihan nomor dua atau tiga (nggak dianggap terrrbaik tapi bukan yang terbapuk juga), dan gw rasa itu akan terjadi pada Green Book. Yah namanya juga nebak.

pleasant surprise: ROMA



directing
ROMA

Ini bukan karena gw pemuja Alfonso Cuaron ya, tapi Directors Guild of America (DGA) Awards sudah bersabda ya masak gw harus menyangkal =)).



actor in a leading role
Rami Malek, BOHEMIAN RHAPSODY

Tebakan paling aman berhubung Screen Actors Guild (SAG) Awards dan bahkan British Academy Film Awards (BAFTA) memahkotai si mas keturunan Mesir ini. Bukan favorit personal gw ya, apalagi kalau menilai senioritas, saingan di kategori ini berat-berat banget. Kalau mau surprise banget ala kemenangan Adrien Brody tahun 2004 di The Pianist (yang nggak pernah menang penghargaan-penghargaan pra-Oscar), pengennya sih antara Bradley Cooper atau Christian Bale. Atau Willem Dafoe. Atau Viggo Mortensen *lah semuanya dong*.

pleasant surprise: Bradley Cooper, A STAR IS BORN



actress in a leading role
Glenn Close, THE WIFE

Pegangan tante Glenn tahun ini adalah semua ajang menominasikan dia di kategori ini, dan memenangkan sebagian besarnya. Sempet agak goyah ketika BAFTA justru memilih Olivia Colman dari The Favourite, tetapi mengingat ada unsur overdue (harusnya dari dulu sudah dapat Oscar tapi  nyatanya nggak dapet-dapet), bolehlah kali ini Oscar-nya jatuh ke mantan pemeran Cruella De Vil ini =D.



actor in a supporting role
Mahershala Ali, GREEN BOOK

Sama dengan Rami Malek tadi, yaitu SAG dan BAFTA kompakan memilih bang Ali, jadi kemungkinan besarnya Oscar bisa juga diraih. Dan lucu juga nanti di berita-berita bahwa dua pemenang Oscar tahun ini namanya bernuansa Timur Tengah =).




actress in a supporting role
Rachel Weisz, THE FAVOURITE

Inilah kategori yang paling mbingungin tahun ini selain Best Picture. Pemenang SAG Awards di kategori ini, Emily Blunt (A Quiet Place) nggak masuk nominasi Oscar. Pemenang BAFTA, Rachel Weisz (The Favourite) masuk sih, tapi di BAFTA pesaing-nya agak beda dengan yang di Oscar, dan kayaknya baru itu ajang besar yang diraihnya. Bahwa Regina King (If Beale Street Could Talk) adalah aktris yang makin dikenal prestasinya di Amerika--beberapa kali dapat Emmy Awards lewat beberapa serial TV, juga jadi kontender cukup kuat sejak didorong lewat kemenangan di ajang-ajang penghargaan kritikus film macam Golden Globe dan Critics' Choice Awards. Tapi, serius, gw bener-bener nggak ada tebakan pasti di sini, jadi akhirnya milih yang secara statistik masuk nominasi di semua ajang penghargaan itu dan pernah menang.

pleasant surprise: Amy Adams, VICE, just because




animated feature film
SPIDER-MAN: INTO THE SPIDER-VERSE

Semoga ya! Dengan banyaknya penghargaan yang diraih film ini, nyapu nyaris bersih malah, bisa benar-benar terjadi juga di Oscar. Ya tapi jangan kaget juga sih kalau akhirnya yang dapet malah Ralph Breaks the Internet atau Incredibles 2, secara kecenderungan kategori ini 'kan Disney atau Pixar gitu de...


pleasant surprise: MIRAI, udah lama anime Jepang nggak menang euy.




cinematography
A STAR IS BORN

Bold choice? Naah. Berhubung ini kategori yang paling random nominasinya, nggak mirip sama ajang-ajang pra-Oscar, jadi tebakan yang manapun sah-sah aja, hehe. 

pleasant surprise: ROMA




costume design
THE FAVOURITE

Film latar ningrat zaman dahulu kala selalu punya faktor yang menarik buat para voter Oscar. Padahal kalau mau embrace film blockbuster macam Black Panther, kategori ini buat gw adalah yang paling pantes dan paling tepat.

pleasant surprise: BLACK PANTHER




film editing
BOHEMIAN RHAPSODY

Untuk kategori yang random harus lemparkan tebakan yang random juga. Gw pribadi sih lebih rela film ini menang di kategori ini ketimbang yang lain *eh*.




makeup and hairstyling
VICE

Coba google "vice movie" lalu silakan yakinkan diri bahwa orang yang kalian lihat di foto itu adalah Christian Bale dan Amy Adams. Monggo.




original score
BLACKKKLANSMAN

Masih dalam rangka nebak-nebak buah manggis semata.




original song
"Shallow", A STAR IS BORN

Nah kalau ini kategorinya tiap tahun memang random, jadi nebak-nya seharusnya nggak perlu analisis lebih. Gw nebak "Shallow" karena paling terkenal, tapi mengingat nature kategori ini, who knows. Malah bisa jadi "I'll Fight" dari dokumenter (!) RBG yang dapat.




production design
THE FAVOURITE

Mirip sama kostum, yang latar tempo doeloe semacam punya nilai plus buat Oscar. Tapi, akan sangat senang sekali hatiku kalau Roma, notabene juga latar zaman lampau, bisa menang di sini juga.

pleasant surprise: ROMA




sound editing
FIRST MAN

Tebak manggis lagi. Gw akan taruh dua film berbeda di kategori Sound Editing dan Sound Mixing karena kemungkinan pemenang dua kategori akan sama, jadi kesempatan gw untuk nebak satu bener lebih terbuka, hehe.

pleasant surprise: ROMA




sound mixing
BOHEMIAN RHAPSODY

Film dengan unsur musik lebih sering menang di sini jadi ya sudahlah tebak ini aja di sini, tapi prinsip yang gw sebut di atas (sound editing) tetep berlaku.

pleasant surprise: ROMA




visual effects
AVENGERS: INFINITY WAR

Biar rating acara TV-nya naik nanti.

pleasant surprise: READY PLAYER ONE




adapted screenplay
BLAKKKLANSMAN

Premisnya agak konyol tapi timely dengan keadaan Amerika Serikat saat ini, jadi sepertinya voting akan condong ke sini.




original screenplay
GREEN BOOK

Mau bagaimana pun, sebelum ribut-ribut di media soal isu yang diangkat di dalamnya, Green Book adalah feel good movie yang dijagokan banyak pihak, jadi ada kemungkinan di kategori ini akan dapat.




foreign language film
ROMA (Mexico)

Yang paling banyak diungkit, kemungkinan akan paling banyak di-vote. Dan kebetulan gw juga dukung penuh film ini, hehe




documentary feature
RBG

Karena subyeknya, Hakim Agung Ruth Baden Ginsburg lagi lumayan terkenal kayaknya, jadi ini aja amannya.



documentary short
A NIGHT AT A GARDEN

Tebak aje....



animated short film
BAO

Tebbak aje...



live-action short film
SKIN

Tebbbakkk aje....



So, nggak ada salahnya tebak-tebakan dong, nanti akan kita cocokkan dengan hasilnya saat acara penganugerahan The 91st Oscars yang akan dihelat pada Senin, 25 Februari 2019 pagi WIB. Santai ajalah kalau banyak yang salah heuheu.

Jumat, 08 Februari 2019

My Movie Picks of January 2019

Yuklah mari kita mulai 2019 ini dengan postingan daftar film-film terkece yang berhasil gw tonton selama bulan Januari. Sebagaimana gw pernah jelaskan, dalam senarai bulanan gw mengumpulkan film-film paling berkesan dalam urutan preferensi, baik yang gw tonton di bioskop maupun media lain dalam bulan bersangkutan, tapi yang memang gw baru pertama kali tonton alias bukan nonton ulang. Dan, bulan Januari ternyata memunculkan judul-judul yang termasuk kuat, a good way to start the new year.






1. Roma
(2018 - Netflix/Participant Media/Esperanto Filmoj)
dir. Alfonso Cuarón
Cast: Yalitza Aparicio, Marina de Tavira, Diego Cortina Autrey, Carlos Peralta, Marco Graf, Daniela Demesa, Nancy García García, Verónica García, Fernando Grediaga, Jorge Antonio Guerrero, José Manuel Guerrero Mendoza


Melanjutkan keyakinan dan keimanan bahwa Yang Mulia Baginda Cuarón nggak pernah mengecewakan diriku, film ini hadir sebagai sebuah sajian yang lagi-lagi tampil berbeda, namun sekaligus menampilkan unsur-unsur yang pernah ditampilkan di film-film doski sebelumnya--serius, bahkan ada astronot (Gravity?) dan mainan sulap (Harry Potter? =P). Di antara kecermatan audio visual yang tiada banding, akting yang mengalir natural, dan unsur-unsur ekstrinsik *aihh* yang menopang komplet kisahnya--berlatar Meksiko 1970-an dengan gejolak politik dan sosialnya, bagian yang paling mengena buat gw justru pada sudut pandang yang dipilih. Seluruh kisah ini bertumpu pada Cleo, gadis berlatar belakang ras asli tanah Meksiko, yang kerja dan tinggal sebagai asisten rumah tangga di rumah sebuah keluarga kelas menengah di Mexico City. Tentang keseharian menjalani hidup merantau, dengan separuh--atau lebih--hidupnya diberikan untuk keluarga yang jadi majikannya itu. Biasanya, banyak kisah rumah tangga dituturkan hanya dari si majikan yang cuma ngeh hal-hal tertentu tentang kehidupan si ART--nggak usah di dalam cerita-cerita, di kehidupan nyata juga gitulah. Di film ini kayak ditukar bahwa penonton akan tahu banyak detail soal Cleo, tetapi kejadian-kejadian (yang terheboh pun) di keluarga majikannya hanya diketahui potongan-potongannya. Mau ngulik detail juga segan, karena meski akrab dan "dianggap" bagian dari keluarga, tinggal di rumah yang sama, sering berbagi ruang yang sama, bahkan sebenarnya ada kasih sayang tulus di antara mereka, tetapi pembatas antara dunia mereka akan selalu ada, dan mungkin tak akan pernah hilang. Bahwa film ini mampu menyelipkan pemikiran-pemikiran tersebut, dan banyak banget lagi pemikiran lainnya sepanjang film, tanpa nggurui "harusnya lo begini" atau "harusnya lo jangan begini", adalah bukti kinerja seorang maestro.
My score: 8,5/10






2. The Mule
(2018 - Warner Bros.)
dir. Clint Eastwood
Cast: Clint Eastwood, Bradley Cooper, Michael Peña, Dianne Wiest, Taissa Farmiga, Alison Eastwood, Laurence Fishburne, Ignacio Serricchio, Andy Garcia, Clifton Collins Jr.


Walau mungkin film-filmnya opa Eastwood nggak semuanya gw demen, tapi bersyukur bisa nonton yang satu ini di bioskop. Straightforward drama terinspirasi kisah nyata yang nggak neko-neko, namun bertutur lancar jaya, mampu memikat dari awal hingga akhir. Ini adalah pertama kali sejak 10 tahun terakhir opa Eastwood membintangi film yang disutradarainya sendiri (terakhir Gran Torino yang juga baguss), dan apa peran yang paling tepat di masa tuanya selain jadi seorang kakek-kakek pengantar narkoba selundupan, yekan =D. Sudut kriminal aparat AS vs mafia narkoba Meksiko mungkin rutin saja sih tampilannya di sini, tetapi bisa diimbangi dengan sisi tenderness yang dahsyat tentang persoalan keluarga si kakek, plus performa simpatik penuh karisma dari opa Eastwood.
My score: 8/10






3. Keluarga Cemara
(2019 - Visinema Pictures)
dir. Yandy Laurens
Cast: Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Zara JKT48, Widuri Puteri, Asri Welas, Abdurrahman Arif, Yasamin Jasem, Kafin Sulthan, Maudy Koesnaedi, Gading Marten, Ariyo Wahab


Ada dua hal yang bisa gw tarik kesimpulan dari film ini. Pertama, sebagai produk pengembangan IP (intellectual property), dalam hal ini dari seri cerita+serial TV lawas karya Arswendo Atmowiloto, film ini adalah adaptasi dan pemutakhiran yang efektif. Menghormati apa yang sudah pernah diterbitkan jauh sebelumnya, yakni kisah-kisah sederhana dari tokoh-tokoh yang sederhana, namun bisa tetap masuk dengan pola pikir zaman kini. Gw merasa nggak ada yang terlalu ujug-ujug nghayal di sini, termasuk brand placement-nya yang lumayan gede ya =P. Well, mungkin terkecuali pada upaya si skenario dalam "menutup-nutupi" nama asli Abah dan Emak, hehe. Kedua, dan yang paling matters, adalah pembangunan emosi yang luar bisa kena. Tanpa harus di-boost dengan akting histerikal ataupun musik ngegas, film ini sukses mengalir kalem, menghangatkan hati, dan sesekali menggelitik, nyelekit, hingga pada saatnya menampilkan momen-momen menonjok emosi.
My score: 8/10






4. Green Book
(2018 - Universal/Participant Media/DreamWorks Pictures/Amblin Partners)
dir. Peter Farrelly
Cast: Viggo Mortensen, Mahershala Ali, Linda Cardellini, Dimiter D. Marinov, Mike Hatton, Sebastian Maniscalco


Sari ceritanya sih agak standar, dua orang dengan latar belakang berseberangan yang dipersatukan oleh suatu keadaan dan kepentingan, dan dalam perjalanannya saling memberi pengaruh perubahan. Namun, yang bikin menarik adalah kompleksnya dua karakter yang dipertemukan di sini, apalagi dengan latar Amerika era 1960-an yang masih kental sentimen ras. Ada Tony Lip yang semacam ngikut aja apa yang ada di lingkungannya, jadi bouncer hayuk, jadi sopir hayuk, gaul sama mafia hayuk, berlaku rasis sama orang berkulit hitam ya hayuk juga, asal bisa survive. Lalu ada Dr. Don Shirley, musisi jenius (bukan nama bank ya) dan bergelar akademik tinggi, kaya, namun tetap banyak benturan sana-sini karena ia berkulit hitam. Hasilnya adalah film yang mengusung isu penting tetapi mampu menonjolkan kehangatan bahkan kejenakaan. Walau buat gw tone dan lajunya agak terlalu nyantai dan kelihatan banget "pesan moral" yang ingin ditekankan sejak awal, toh film berdasar kisah nyata ini berhasil merangkai diri jadi tontonan yang menyenangkan, apalagi dengan interaksi antara Mortensen dan Ali sebagai Tony dan Dr. Shirley yang jadi sumber energi terbesarnya.
My score: 7,5/10






5. Glass
(2019 - Universal/Buena Vista International)
dir. M. Night Shyamalan
Cast: James McAvoy, Bruce Willis, Samuel L. Jackson, Sarah Paulson, Anya Taylor-Joy, Spencer Treat Clark, Charlayne Woodard, Luke Kirby, Adam David Thompson


Jujur gw salah satu yang girang ketika pada bagian ujung film Split (2017) terungkap bahwa film itu masih terkait sama film Unbreakable (2000), dan bahwa akhirnya kedua film tersebut dibuatkan satu "sekuel gabungan" dalam Glass. Benang merah kedua film yang gw sebut di awal adalah menyorot tokoh-tokoh yang kita kenal sebagai superhero dan supervillain, tapi dalam pendekatan yang lebih realis dan kemasan genre yang berbeda-beda--Unbreakable itu drama supranatural, Split itu horor-thriller. Glass adalah rangkuman atas benang merah itu, tetapi lagi-lagi dari sisi yang nggak biasa. Gw juga nggak yakin genre yang ingin diusung di sini--apakah thriller kriminal, drama psikologis, atau murni aksi superhero, yang jelas ini semacam upaya Shyamalan "mengacak-ngacak" cara menuturkan kisah sejenis. Walau isi ceritanya nggak baru-baru amat, jujur lagi, gw tetap merasakan gembira ketika menonton ini. Gw kayak mau aja "dibodohin" sama Shyamalan dan segala twist-and-turns bertuturnya. Mungkin karena jasa para aktornya yang keren-keren (banget) mainnya, atau karena ketidakstandaran gayanya, atau mungkin karena gw, yang menganggap The Last Airbender (2010) dan After Earth (2013) masih ada nilai baiknya, memang nggak pernah benci-benci amat sama film-film Shyamalan =P.
My score: 7,5/10



Minggu, 27 Januari 2019

This Blog Is 10 Years Old

Alkisah tahun 2009, lima bulan sejak lulus kuliah dan sama sekali nggak ngapa-ngapain, gw memberanikan diri meneruskan hobi mengulas film (dan musik) dengan membuat blog sendiri. Ini masih dalam masa-masa tren sebagian warga internet menuangkan tulisan yang diterbitkan sendiri dalam bentuk blog. Kenapa gw sebut memberanikan diri, ya karena awalnya tulisan-tulisan yang gw buat itu hanya konsumsi pribadi, palingan gw posting di Friendster dan Facebook, meski dibuatnya sambil bermimipi juga akan dimuat di majalah-majalah. Lalu dibuatlah Ajirenji Mindstream Reviews yang begitu sederhana, dengan postingan perdana pada 26 Januari 2009. Untuk pertama kalinya, tulisan-tulisan gw terkekspos ke "dunia luar".

Sepuluh tahun kemudian, Januari 2019, blog ini masih ada. Total postingan sudah (atau baru hanya) 882, dilihat sebanyak total 1,9 juta kali. Blog ini masih sederhana, masih nggak ada canggih-canggihnya. Namun, banyak juga yang berubah. 

Dinamika kehidupan si penulis di dunia nyata terbukti berpengaruh pada cara blog ini dikelola. Dalam satu periode kadang bisa posting banyak banget, kadang malah nggak sama sekali. Tulisannya ada yang dipikirin baik-baik dan disusun cakep-cakep, tapi nggak sedikit juga yang sembarang dan bikin malu. Berbagai upaya untuk terus menulis secara berkala sudah dicoba. Dari yang mewajibkan diri untuk semua film yang ditonton dan album yang didengarkan harus diulas, kemudian ulas film yang ditonton di bioskop saja dan stop mengulas album musik, lalu ke pilih-pilih ulas film yang di atas rata-rata saja, hingga yang terkini hanya memberikan komentar singkat beberapa film sekaligus. Alasannya standar, makin sibuk, makin sempit waktu, makin lelah.

Meski demikian, di sisi lain, blog ini juga mengubah kehidupan nyata gw, dan gw nggak akan melupakan itu. Lewat blog ini gw bisa bertemu banyak sekali orang dengan minat serupa, yang pada perkembangannya benar-benar bisa berteman di dunia nyata sampai sekarang. Sebagai pribadi yang tidak hobi berinteraksi sosial, ini sesuatu yang gw akan selalu anggap berharga. Yang nggak kalah penting, karena blog ini gw dihantar untuk menjadikan menulis sebagai bagian dari profesi, dan cakupan bidangnya pun persis sama dengan yang selama ini gw bahas di blog. Ini adalah masa gw menjadi jurnalis untuk Muvila.com--yang beberapa tulisan gw di sana juga gw posting di sini. Saat itu gw harus belajar menulis lebih "bener", dan mengenal lebih dalam dunia yang selama ini gw cuma lihat luarnya saja, ya asyiknya, ya boroknya. Ajaibnya, pengenalan tersebut nggak membuat gw hilang rasa pada bidang ini. Saat ini pun gw masih berada di bidang film, walau lebih di sisi bisnisnya, yang ternyata nggak kalah drama ;).

Menulis di blog ini tetap jadi satu kebanggaan gw, yang isinya bisa gw klaim sebagai "hasil karya" dari tangan dan pikiran gw. Apalagi sekarang sudah mencapai 10 tahun, yang artinya inilah hal terlama yang gw "kerjakan" dalam hidup gw. Kadang kala gw berandai, bisa kali ya gw menjadikan blog ini lebih terlihat profesional, mungkin bikin domain sendiri, dimonetisasi, atau bikin versi video? (sementara nggak sampai berandai bikin ini jadi situs portal atau aplikasi gaya majalah, pengalaman membuktikan yang satu ini masih sangat rentan, hehe). Itu masih banget jadi harapan gw, namun gw pikir saat ini masih harus jalan selangkah demi selangkah, supaya nggak terlalu beban. Lagi-lagi karena tuntutan kehidupan dunia nyata, konsentrasi dan energi gw belum bisa terpusat ke blog ini semata. Sekarang cita-cita gw adalah konsisten aja dulu bikin konten di sini. Mohon doanya ya.

Di momen ini, gw mau ucapkan terima kasih pada semua teman-teman dan para pengunjung blog Ajirenji atas dukungannya. Terima kasih sudah mau membaca tulisan-tulisan gw yang isinya sangat subjektif dan belum tentu bermanfaat ini, mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan. Terima kasih untuk komentar-komentarnya yang membuat blog ini lebih hidup dan semangat gw untuk blog ini tetap ada. Terima kasih atas sepuluh tahun ini.

Mari gerak ke tahun-tahun selanjutnya.



Minggu, 20 Januari 2019

My Movie Picks of December 2018

Eehhh, hampir ketinggalan bikin daftar film favorit bulanan ^m^;;. Mohon maaf sudah membuat Anda menunggu begitu lama. Berikut adalah film-film paling berkesan yang gw tonton dalam berbagai medium dan metode selama Desember 2018 yaa...



1. Aquaman
(2018 - Warner Bros.)
dir. James Wan
Cast: Jason Momoa, Amber Heard, Patrick Wilson, Willem Dafoe, Dolph Lundgren, Yahya Abdul-Mateen II, Ludi Lin, Nicole Kidman, Temuera Robinson


Kalau mau dicari-cari sih ada aja kurangnya film ini, utamanya susunan ceritanya sudah pernah banget diangkat sama berbagai film. Tapi, gimana ya, film ini kayak ada "aura" yang berhasil bikin betah nontonnya, dan cukup bertahan ketika ditonton ulang. Kisah origin ke-superhero-an si manusia ikan yang diwarnai intrik tahta kerajaan samudera--sejalan dengan dunia film DC sekarang yang serba mythological, dari alien (Superman), dewa-dewi Yunani (Wonder Woman), dan sekarang dunia bawah laut yang orang-orangnya bisa napas dan ngomong di air. World-building-nya lancar, penuh excitement dari adegan-adegan laganya dan rancang visual yang kompleks dan keren banget--adegan-adegan bawah laut-nya juwara, plus penampilan Momoa yang bisa bikin sosok Aquaman, yang dulu sering dibilang sebagai superhero DC paling nggak guna, menjadi cool. Sebagai cinematic experience, ini adalah yang terbaik dari semesta DC sejauh ini.
My score: 7,5/10






2. Ralph Breaks the Internet
(2018 - Walt Disney)
dir. Phil Johnston, Rich Moore
Cast: John C. Reilly, Sarah Silverman, Taraji P. Henson, Gal Gadot, Alan Tudyk, Jack McBrayer, Jane Lynch, Alfred Molina, Ed O'Neill



Bagi gw Wreck-It Ralph dulu adalah salah satu contoh animasi modern terbaik Disney, di luar yang princess-princess-an. Kini muncul sekuelnya yang mencoba memperluas jangkauan meta dari kisahnya sekaligus menyambut fenomena internet yang udah jadi bagian dari kehidupan sebagian besar warga dunia (kayaknya). Sayang gw tidak sampai seterkesima waktu nonton Wreck-It Ralph dulu, biasalah, unsur surprise-nya agak berkurang. Tetapi, sekuelnya ini tetap bagus dari segi susunan cerita dan tentu saja juga teknik animasinya. Visualisasi konsep-konsep dunia internet-nya brilian dan lucu, kisah persahabatan si Ralph dan putri balap Vanellope juga mampu jadi core cerita yang baik dan menyentuh, ditambah tokoh-tokoh baru yang bisa mencuri perhatian.
My score: 8/10






3. Shoplifters
(2018 - Gaga Corporation)
dir. Hirokazu Kore'eda
Cast: Lily Franky, Sakura Ando, Mayu Matsuoka, Kairi Jyo, Miyu Sasaki, Kirin Kiki, Kengo Kora, Chizuru Ikewaki, Akira Emoto


Film ini bukan cuma merepresentasikan sudut-sudut Jepang yang lusuh dan "nggak kayak Jepang yang di TV-TV", tetapi secara universal mempertanyakan ulang pandangan tentang makna keluarga. Yang sedarah malah nggak ngurus, yang nggak sedarah justru punya ikatan kuat. Or is it? Banyak pemikiran yang bisa muncul dari film ini. Namun, di luar penataan adegan-adegannya yang mengalir anteng tapi menyita perhatian berkat performa para pemeran yang solid, dan pengungkapan-pengungkapan yang muncul kemudian, satu hal yang paling berhasil dilakukan film ini adalah membuat gw sebagai penonton juga ikut terikat pada keluarga ini. Sampai pada akhirnya disuruh memutuskan apakah mau mempertahankan ikatan itu atau tidak setelah berbagai hal telah terjadi dan terungkap.
My score: 8/10






4. Spider-Man: Into the Spider-Verse
(2018 - Columbia/Sony Pictures Animation)
dir. Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman
Cast: Shameik Moore, Jake Johnson, Hailee Steinfeld, Mahershala Ali, Nicolas Cage, Kathryn Hahn, Liev Schreiber, Brian Tyree Henry, Luna Lauren Velez, John Mulaney, Kimiko Glenn, Zoe Kravitz, Lily Tomlin, Chris Pine


Dari awal kunci kisah film ini adalah pada teori bahwa dunia ada berbagai dimensi alternatif, yang berarti ada berbagai versi Spider-Man, dan ini juga gara-gara komik Spider-Man (dan banyak komik superhero Amerika juga?) seringkali bikin edisi update atau reimagining atau simlpy versi alternatif dari si Spider-Man. Jika melihat itu, bisa jadi film ini adalah versi yang paling respek sama materi sumbernya, dan itu bukan soal gaya visualnya yang seperti komik atau cerita persis komik (toh komik versi yang mana?), melainkan dari cara film ini menuangkan prinsip bahwa di medium komik segala macam ide itu sah-sah saja. Pada akhirnya plot film ini memang bisa disederhanakan jadi kisah seorang remaja yang belajar memanfaatkan kekuatan supernya lalu mengalahkan musuh besar yang mengancam dunia, ngulang lagi aja ke hampir semua film superhero yang sudah ada. Namun, film ini bisa cukup stand-out dengan disuntikkannya berbagai ide liar, humor asyik, dan kelincahan yang mungkin hanya bisa dilakukan dalam format animasi.
My score: 7,5/10






5. Asal Kau Bahagia
(2018 - Falcon Pictures)
dir. Rako Prijanto
Cast: Aliando Syarief, Aurora Ribero, Teuku Rassya, Dewa Dayana, Surya Saputra, Vonny Cornellya, Meisya Siregar, Hans De Kraker, Sari Koeswoyo, Daan Aria


Nggak salah juga untuk curiga bahwa film ini hanya ingin mengendarai popularitas sebuah lagu pop, dan ditambahkan dengan para bintang muda yang punya demografi market yang lagi rajin-rajinnya ke bioskop--dan somehow karakter filmnya meminjam nama asli mereka masing-masing. Namun, untunglah semuanya bisa ditakar dan diramu menjadi fantasy romance remaja yang nggak ribet dan dituturkan dengan atmosfer yang sesuai. Dipresentasikan dengan visual cakep dan bisa menyelipkan humor di antara dayu-dayu cinta-cintaannya, citarasanya jadi terasa pas untuk genre ini.
My score: 7,5/10






6. Milly & Mamet
(2018 - Starvision/Miles Films)
dir. Ernest Prakasa
Cast: Sissy Prescillia, Dennis Adishwara, Julie Estelle, Yoshi Sudarso, Roy Marten, Arafah Rianti, Eva Celia, Ernest Prakasa, Dinda Kanyadewi, Aci Resti, Bintang Emon, Tike Priatnakusumah, Pierre Gruno, Melly Goeslaw, Isyana Sarasvati, Titi Kamal, Dian Sastrowardoyo, Adinia Wirasti


Menyorot fokus pada dua tokoh paling bikin ketawa di Ada Apa dengan Cinta? (2002), yang ternyata diketahui di Ada Apa dengan Cinta 2 (2016) keduanya malah sudah jadi pasangan *terkaget*. Agak melepas cinta-cintan galau AADC, spin-off ini memang terlihat lebih ringan dan cerah, tetapi tema film ini justru agak lebih deep tentang suami-istri muda yang sedang membangun keluarga tetapi juga mau (dan in a way, harus) mengembangkan diri di karier. Well, jadinya memang film ini tidak selucu yang diharapkan bila masih berpakem pada ingatan bahwa Milly (dulu) lemot dan Mamet (dulu) culun-gengges, namun film ini tetap bisa menyampaikan maksudnya dengan lancar, dan menghibur.
My score: 7,5/10




Sabtu, 05 Januari 2019

Year-End Note: My Top 10 Films of 2018

Bagian terakhir untuk catatan akhir tahun 2018 adalah untuk sinema. Nah, untuk senarai yang ini gw masih pakai prasyarat yang lama, supaya gw nggak terlalu ribet juga nyortirnya, yaitu berisi film-film yang rilis di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2018--jadi agak beda dengan senarai bulanan yang setahunan ini gw bikin. 

Perlu ditekankan pula bahwa pengurutan atau ranking di sini tidak selalu sesuai dengan ponten yang gw berikan ke masing-masing film, tetapi lebih menunjukkan tingkat experience yang gw rasakan saat nonton film tersebut, yang seringkali nggak ada hubungannya sama bagus-nggak-nya kualitas konten film tersebut. Karena film itu sifatnya abstrak yang value-nya berbeda-beda bagi tiap orang, yekan?





HONOURABLE MENTIONS
Berikut gw gelar dulu lima runner-ups yang sempat dipertimbangkan untuk masuk 10 besar. Filmnya nggak kalah berkesan sih, cuma yah agak tersenggol dikit dari lapisan teratas. Dalam urutan abjad.


Bad Times at the El Royale, dir. Drew Goddard
Kisah misteri karakter jamak yang digarap bak film klasik namun tetap terasa modern, yang kadang mencekam kadang lucu-pahit.

Crazy Rich Asians, dir. Jon M. Chu
Komedi romantis yang menyegarkan dengan penempatan benturan budaya dan pemikiran yang lumayan dekat.

Hereditary, dir. Ari Aster
Penuturan misterinya yang rapat kalah menyebalkan dari pembangunan horornya yang ganggu abis, sampe sempet kebawa ngeri kalau ada di ruangan tanpa lampu.

Logan Lucky, dir. Steven Soderbergh
Semacam versi "daerah" dari seri Ocean's-nya Soderbergh, yang hasilnya nggak hanya lebih sederhana skalanya, tapi malah lebih lucu dan lebih human.

Searching, dir. Aneesh Chaganty
Bisa menegangkan lalu menyentuh sebagai cerita utuh. Bukti bahwa gimmick visual--dalam hal ini semua pengisahan seolah terjadi di layar komputer--nggak boleh menghalangi penuturan cerita.







MY TOP 10 FILMS OF 2018



10. Aruna & Lidahnya
dir. Edwin
Kisah jalan-jalan dan makan-makan empat orang dewasa yang ringan nan memikat, terutama berkat padu akting dari para pemerannya, bawaannya jadi ikut senang. Oh, dan pengambilan gambar makanan-makanannya memang tampak kurang ajar jika ditonton dalam keadaan lapar.






9. Christopher Robin
dir. Marc Forster
Membenturkan innocence memori masa kecil dengan keribetan hidup sebagai orang dewasa, mungkin tema dan tampilan Pooh-bear dkk di sini agak terlalu "realistis". Tetapi, buat gw film ini berhasil menyajikan sebuah kisah untuk keluarga yang tampil hangat, menyentuh, mudah dicerna, dan tetap adventurous sekalipun tidak serba magical.







8. Aquaman
dir. James Wan
Beruntunglah generasi yang hidup saat ini bisa melihat sosok Aquaman menjelma menjadi sangat keren di layar lebar--bukan versi Super Friends =p, dibalut dengan kisah petualangan bawah dan atas laut yang megah. Gw masih kagum bagaimana mereka bisa berhasil men-deliver kehidupan bawah laut tanpa muncul terkesan, you know, silly. Sebagai film superhero bagian dari DC Universe, Aquaman adalah sebuah persembahan paling imajinatif, dan dalam berbagai hal menjadikannya salah satu yang paling bikin terkesan.






7. Avengers: Infinity War
dir. Anthony Russo, Joe Russo
Kulminasi visi ambisius yang digarap selama sekitar satu dekade, mengumpulkan puluhan karakter dari semesta film superhero Marvel. Kita sama-sama tahu ini proyek yang sangat gila, sampai-sampai jadi semacam hajatan tersendiri setara hari raya. Akan tetapi, gw sendiri tidak mengira bahwa hasilnya sanggup merangkul (hampir) semua karakter tersebut dengan porsi dan posisi tepat guna. Keakbaran ceritanya terasa, nggak sampai keblenger, namun momen-momen tiap karakter tidak sampai terhilang. Well done, indeed.






6. The Post
dir. Steven Spielberg
Kecanggihan teknologi film masa kini memang keren tetapi classic filmmaking yang dilakukan Spielberg kok ya tetap saja memukau. Sekilas memang cerita film ini tampak berat, namun mata nggak akan bisa berpaling dari kepiawaian para pemeran, gambar, pengadeganan, dan segala sesuatu yang terjadi di layar, yang mampu membawa sebuah momen dalam sejarah (yang gw sendiri kurang familier) dengan topik-topik tentang kemerdekaan pers menjadi terasa penting dan genting.






5. Sebelum Iblis Menjemput
dir. Timo Tjahjanto
Menonton film ini adalah salah satu pengalaman langka gw sangat menikmati film horor, and if you know me, that's quite something. Nilai produksinya yang wahid dimanfaatkan sedemikian baik dalam menyajikan sebuah experience horor yang mencekam dan meresahkan, komplet dari setan-setanan hingga darah-darahan, yang ditempatkan dengan presisi sehingga menghasilkan sensasi menonton yang heeeeboh.






4. Love for Sale
dir. Andibachtiar Yusuf
Gw udah expect bahwa nggak mungkin film ini akan lawak-lawak biasa. Konsepnya cukup besar, tetapi pendekatannya nggak ribet, dekat dengan keseharian, ritme-nya nyaman, witty namun nggak bawel, lugas tapi bersahaja, hingga kemudian tersadar bahwa ketimbang mencoba meng-impress dengan adegan-adegan yang wah, film ini telah memaksa gw untuk mengalami rasa yang dirasakan tokoh-tokohnya, dan sampe bikin kepikiran beberapa waktu setelah nonton.






3. The Shape of Water
dir. Guillermo Del Toro
Kalau dilihat lebih dekat, film ini seperti tumpahan berbagai ide dan topik--dan genre cerita, yang bisa berjalan secara terintegrasi dengan kisah cinta dua insan terpinggirkan yang ingin bahagia. Ini juga salah satu film yang mempan ditonton berulang-ulang, karena setiap gambar punya simbol-simbol visual yang mungkin terlewat kalau hanya nonton sekali, atau, yah, sekadar mengagumi keindahan film ini berkali-kali juga boleh.






2. One Cut of the Dead
dir. Shin'ichiro Ueda
Film ini jelas dan wajib gw catat sebagai pengalaman menonton paling "rusak" yang gw alami di tahun 2018. Hanya berbekal rekomendasi orang-orang yang bilang film horor-komedi ini wajib tonton, yang gw dapatkan adalah sebuah film yang akan susah banget gw hilangkan dari ingatan, saking luar biasanya film ini dalam memanipulasi ekspektasi gw. Lihat posternya yang berdarah begitu tapi ngecek LSF ternyata rating-nya "hanya" 13+ adalah salah satu indikasi keabsurdannya. A new classic for Japanese cinema.












1. Ready Player One
dir. Steven Spielberg
And then there's this movie. Di tahun yang riuh dengan berbagai film blockbuster dengan brand terkenal dan bujet raksasa, Ready Player One buat gw adalah yang paling memberikan kepuasaan di semua lini. I mean, se-mu-a. Jalan cerita, world-building, karakter, audio visual, ritme, animasi, laga, sampai ke detil referensi kultur pop berbagai zamannya, film inilah yang gw ingat paling bikin gw girang saat nonton di bioskop sepanjang 2018. Jika melihat isinya satu persatu, film ini mudah sekali terjebak jadi convoluted dan ke mana-mana. Namun, yang terjadi adalah di tangan dewata Spielberg film ini jadi begitu kaya, megah, dan exciting, relevan, namun tetap bermakna dan punya hati. Seolah bilangin "gini lho cara bikin film" dan I think everyone should pay attention.




Demikianlah senarai akhir tahun 2018 dari saya. Happy 2019!


Minggu, 30 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2018

Menyusun kategori album adalah yang paling sulit buat gw, terutama disebabkan pola mendengarkan musik yang kini lebih sering dengerin lagu per lagu, atau malah kalau dengerin di aplikasi streaming sering kesela iklan (qarna qu mizcheen...) atau nggak sengaja klik shuffle =P. Jadinya memang tidak terlalu banyak album yang gw kulik secara mendalam, sehingga prasyarat untuk bikin senarai akhir tahun gw longgarkan: asal enak ya masuk kandidat. Silakan dicek hasilnya di bawah ini.






My Top 10 Albums of 2018



10. Best Hit AKG 2 (2012-2018)
ASIAN KUNG-FU GENERATION

Semacam mandat dari diri sendiri, kalau band terfavorit ngerilis sesuatu yang didukung dong, hehe. Album ini mewakili paruh kedua dari 15 tahun mereka masuk major label, berisi lagu-lagu yang mereka rilis sejak tahun 2012, baik berupa single maupun lagu andalan di album-album. Album ini juga bisa jadi kisi-kisi arah musik AKG yang tidak lagi serba kenceng, dan lucunya rangkaian lagu-lagu yang ada di sini seolah ditakdirkan untuk dijadikan satu album seperti ini.






9. ALL TIME BEST ~Fukumimi 20th Anniversary ~
Fukumimi

Awalnya Fukumimi itu proyek kolaborasi antara Kyoko, Masayoshi Yamazaki, dan Suga Shikao, yang saat itu di bawah satu manajemen bernama Office Augusta. Gw rasa mereka juga nggak expect kalau nama Fukumimi akan lanjut sampai 20 tahun dengan lagu-lagu baru dari tahun ke tahun, dan "personel" yang bertambah, yakni artis-artis junior mereka di manajemen tersebut, sebut saja Chitose Hajime, Sukima Switch, Hata Motohiro, Yu Sakai, hingga Seiya Matsumuro. Biarpun sudah punya nama sendiri-sendiri, setiap mereka ngumpul di Fukumimi adalah momen yang menyenangkan bagi pendengarnya. Dan, album ini adalah perayaan atas perjalanan unik tersebut.






8. STARTING OVER
Yu Takahashi

Kalau boleh sotoy menginterpretasikan judulnya, album ini ingin membawa Takahashi seolah belum pernah bikin album sebelumnya. Tidak ada bagian yang terasa ambisius--kecuali jumlah track-nya yang ada 16 biji semuanya terasa segar dengan karakter khas doi berkisah tentang keseharian dengan kalimat-kalimat panjang tapi muat dalam sekian bar nada-nada yang catchy. Pun album ini seakan ada pembabakannya, ada yang kenceng, ada yang 'serius', ballad, hingga yang rada bercanda. Album Takahashi yang paling bisa gw nikmati sejak album perdananya.






7. Know.
Jason Mraz

Sekalipun belum lagi menghasilkan lagu hit yang signifikan banget, mendengarkan sekian lagu Mraz dalam sekali waktu amatlah menyenangkan. Ada familiarity yang terpancar dari lagu-lagunya, tetapi nggak jadi membosankan. Lagu-lagu nyantai dengan lirik yang mudah dipahami, dinyanyikan dengan sepenuh hati, you just can't refuse.






6.
Andrea Bocelli
Selera musik gw terkadang sangat random =D, ini salah satu buktinya. Di luar sana keberadaan album ini menjadi event tersendiri karena merupakan album pertama Bocelli yang berisi lagu-lagu baru (bukan cover), sejak album orisinal terakhirnya di tahun 2004. Tadinya gw menghampiri album ini karena penasaran dengan beberapa kolaborasi vokalnya--ada Ed Sheeran, Dua Lipa, dan Josh Groban, namun gw end-up mendengarkan seisi album yang dirangkai apik dan dikemas dalam aransemen musik klasik--or "traditional pop"--yang flawless paripurna. Bravo.






5. Hatsukoi
Utada Hikaru

Judul album ini artinya "cinta pertama", tetapi kayaknya sih nggak ada kaitannya sama lagu "First Love"-nya Utada yang terkenal buanget di sini. Bisa jadi artinya lebih kepada ini sebagai album pertama doi di bawah label baru, Sony's Epic Records. Yang bisa gw tangkap dari album ini adalah kesan Utada lagi 'genit' dengan permainan nada-nada yang catchy, dan komposisi musik yang lebih banyak live instruments, dan overall lebih terdengar optimistis. Nggak sertamerta jadi ceria sih, tapi yah lebih nyantailah. Dan, kalau mau dikait-kaitin sama masa-masa lagu "First Love", album ini seperti ingin mengedepankan lagi style R&B Utada yang mengangkat namanya dulu.






4. City Lights
Seiya Matsumuro

Matsumuro seringkali mengingatkan gw pada beberapa artis J-Pop lainnya, dari pembawaan vokal yang all-out dan berornamen seperti Fumido (not many Japanese vocalist can do this, IMHO), hingga kemasan pop-rock, dan kadang groove, yang agak throwback gaya Southern All Stars, tapi dalam versi artis solo. Album ini pun menunjukkan bahwa Matsumuro adalah artis yang (sekarang atau nantinya) patut diperhitungkan. Pemilihan nada, penekanan instrumen, hingga permainan kord yang berani, membuktikan kualitas musikalitasnya, dan masih dalam jalur pop.






3. Staying at Tamara's
George Ezra

Musik asyik dan lirik rapi jadi senjata Ezra di album keduanya ini. Gayanya bisa dibilang masih tradisional, folk-pop-rock yang sound-nya "Inggris" banget, namun doi nggak membiarkan suara bundar dan berat-nya itu menimbulkan kesan malas-malasan. Album yang ringkas, padat, berenergi, dengan rupa-rupa tempo dan topik.






2. Merakit
Yura Yunita

Di ranah komersial Yura memang terangkat berkat lagu-lagu ballad yang selow, namun kehadiran album ini menjadi perkenalan kembali gambaran lebih lengkap tentang range Yura--walau sebenarnya sudah pernah diperlihatkan di album pertamanya yang menurut gw lebih eksperimental. Di sini ia tidak hanya menghanyutkan dalam lagu pop ballad, tetapi juga fasih ketika dibungkus musik R&B, Broadway jazz, dan soul. Gw juga lebih merasa "deket" dengan musiknya berkat lirik-lirik yang lugas tapi dalam dan nada-nada yang lebih catchy. Oh, dan suara khas Yura yang memang nggak ada KW-nya. Album ini bukan hanya enjoyable, tetapi juga bikin respek pada sang artis dan segenap kerabat kerjanya =).











1. The Greatest Showman (soundtrack)
various artists

Sekalipun filmnya belum menembus daftar film musikal terfavorit gw sepanjang masa (sulit kayaknya), gw tetap wajib merayakan bagian terbaik dari The Greatest Showman, yaitu lagu-lagunya. Jika ngeh, film ini memang menampilkan serangkaian lagu pop modern sekalipun latar cerita filmnya tuh sekitar awal abad ke-20, konon sih mau menggambarkan visi P.T. Barnum sang tokoh utama yang lebih maju dari zamannya. Tetapi, gw lihat pemilihan ini juga berfungsi mendekatkan penonton sekarang pada ceritanya, I mean, apakah "Never Enough" dampaknya akan sebesar itu apabila benar-benar dibikin dalam komposisi klasik seriosa? Anyway, terlepas dari statusnya yang terkait dengan film, album ini adalah sekumpulan lagu pop enak yang dirangkai dan dikomposisikan secara cermat sehingga begitu mudah diterima kuping awam sekalipun, which is kind of the whole point.



Jumat, 28 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2018 (Japan)

Yeah, masih bennner gw dengerin J-Pop. Dipikir-pikir kasihan juga bahwa J-Pop tidak pernah benar-benar jadi tren di sini, padahal industri pop Jepanglah yang pertama kali dijuluki dengan inisial nama negara yang didempet dengan kata 'pop' =D. Gw tetap insist itu salah mereka sendiri yang nggak ambil kesempatan ketika punya crowd terbatas tapi kuat di awal era 2000-an dulu. Tetapi, gw juga nggak lelah mengampanyekan bahwa menemukan lagu-lagu J-Pop sekarang--yang legal--su dekat sudah lebih mudah, terutama dengan adanya YouTube dan Spotify/Apple Music/iTunes. Jadi, wahai anak-anak Jejepangan, baik angkatan dulu maupun yang baru-baru, silakan diikulik-kulik lagi lho.

So, anyway, hasil rangkuman lagu-lagu Jepang berkesan tahun 2018 adalah gabungan dari artis kesukaan gw a.k.a. yang itu-itu aja ^_^', ke yang benar-benar baru, ke yang konon saat ini sedang naik daun di Jepang. Silakan dicicipi...




My Top 10 Songs of 2018 (Japan)


10. "生者のマーチ (Seija no March)" – ASIAN KUNG-FU GENERATION

Not necessarily a single, lebih merupakan sebuah lagu pelengkap dalam album best of kedua mereka. Meski bukan yang pertama kali digunakan, mode slow-down dari AKG di lagu ini menurut gw adalah salah satu yang paling berhasil. Nggak sertamerta eksperimental namun tetap dewasa.








9. "贈る言葉 (Okuru kotoba)" – GReeeeN

Musik GReeeeN mungkin tidak berubah banyak, tetapi mungkin karena gw udah lama nggak mengikuti rilisan mereka, lagu ini jadi terdengar menyenangkan. Sebuah ballad dalam tradisi "Ai Uta" dan "Kiseki", rangkaian melodi yang gampang nyantol di kuping dibalut tempo medium yang membuatnya terdengar nyaman. Oh, kita masih belum tahu muka-muka personelnya ya?








8. "Kohakuiro no namida" – Miwa Sasagawa  ("琥珀色の涙" - 笹川美和)

Gw kurang tahu ini siapa, tetapi lagunya nyelip di antara playlist yang gw dengarkan di Spotify, dan gw langsung mengenali gaya aransemennya yang nggak mungkin bukan Keiichi Tomita (MISIA's "Everything", Mika Nakashima's "Will", Ken Hirai's "Canvas", among others). Dan, itulah alasan utama lagunya bisa nongkrong di senarai gw, hehe. Secara keseluruhan lagunya begitu syahdu, dengan kompleksitas kord dan instrumen khas Tomita dan ada unsur jazznya sedikit, mengiringi vokal lembut mendayu-dayu Sasagawa.








7. "Arigatou" – Yu Takahashi  ("ありがとう" - 高橋 優)

Semacam mendapat energi baru, setelah beberapa rilisan belakangan Takahashi agak ambisius dalam susunan nada dan aransemennya. Lagu ini seperti kembali ke karakter dan kemampuannya yang paling istimewa, yaitu liriknya yang panjang-panjang dipasangkan pada nada-nada yang tidak ribet namun mampu menonjolkan dinamika emosi saat dinyanyikan.








6. "Lemon" –  米津 玄師 (Kenshi Yonezu)

Yonezu dalam tahun-tahun ini meraih popularitas yang makin menanjak di blantika J-Pop, mungkin berkat warna suaranya yang cukup khas dan gaya bernyanyinya yang lugas. Namun, jangan lupa bahwa dia juga menghasilkan lagu-lagu yang mudah mengena. Lagu pop-rock ballad yang ini mewakili sisi yang lebih kalem dari Yonezu, tetapi itu pun nggak kalem-kalem banget--speed nyanyiannya masih cepet dan jangkauan nadanya masih lebar, semacam ada cerita dramatis nan tragis ingin disampaikan di dalamnya, walaupun gw juga nggak tahu pasti apa, hehe *kemudian cari terjemahannya*.








5. "Hana" – Hata Motohiro  ("花" - 秦 基博)

Udah tahu 'kan kalau Hata itu piawai bikin lagu-lagu yang lembut dan menghangatkan. Lagu barunya ini mungkin bukan berada di level lagu-lagu doi yang populer sebelumnya, tapi perkawinan antara petikan gitar dan irama yang kalem dengan suara tajam Hata menimbulkan kehangatan yang luar biasa saat didengarkan.








4. "Kitto ai wa fukouhei" – Seiya Matsumuro  ("きっと愛は不公平" - 松室 政哉)

Ini bukan melanjutkan pola kecenderungan gw untuk menyukai karya dari artis-artis berkacamata =D. Lagu ini nyaris bisa diabaikan karena sekilas bentuknya "hanya" love ballad biasa, tetapi rupanya menawarkan rasa berbeda lewat pilihan melodi dan kord yang cukup unexpected. Vokal Matsumuro yang tipis dan rada fragile itu pun menambah "tusukan" lagu ini. Formula standar dengan seasoning berbeda yang hasilnya tetap enak.








3. "Anata" – Utada Hikaru  ("あなた" - 宇多田ヒカル)

Agak kembali kembali pada roots awal gw tahu Utada, lagu ini memasukkan unsur R&B dan groove yang asik bener, bisa banget bikin angguk-angguk, dan kembali menonjolkan ketulusan dalam vokal rapuhnya. Well, seperti biasa, di antara nada-nada manis lagu Utada selalu saja digabung dengan nada-nada dan kord minor yang sepertinya memang nggak bisa lepas dari karakternya.








2. "Gifts" – Superfly

Superfly kalau lagi "bener", as in nggak terlalu berusaha kenceng-kencengan tarikan rock n roll, bisa menghasilkan karya yang menggetarkan. Kalau nggak salah lagu ini dirancang untuk jadi lagu utama (wajib?) dalam festival paduan suara SMP yang diselenggarakan NHK (kayak dulu "Tegami"-nya Angela Aki (2009)), tetapi sebagai lagu pop-rock dengan lirik inspiratip pun sedap didengar dan terasa grand berkat dinamika komposisi nada dan aransemen dari yang soft sampai yang all-power.














1. "Stand By You" –  Official髭男dism (Official Hige-Dandism)

Temuan baru yang entah datang dari mana, lagu ini begitu mudahnya merasuk di ingatan sejak pertama kali dengar. Dibawakan ceria dalam kemasan pop-funk yang groovy, tetapi dengan penataan nada yang dikasih twist nyelendro ala Jepang. Hasilnya begitu yang rancak, terasa fresh, dan memancing untuk ikutan bersenandung, termasuk yang nggak ngerti bahasa Jepang karena chorus-nya lumayan mudah ditangkap dan banyak vocables ho uwo uwo-nya =D. You see, perpaduan yang agak antik tapi hasilnya tetap pop kayak gini adalah alasan untuk terus mendengarkan J-Pop.