Sabtu, 24 Juni 2017

[Movie] Wonder Woman (2017)

Agak kasihan sebenarnya melihat film Wonder Woman diberi begitu banyak beban politik. Ini pertama kalinya Wonder Woman, superhero utama dari DC Comics selain Superman dan Batman, punya film layar lebar sendiri setelah 75 tahun eksis. Digarap oleh Patty Jenkins (sutradara Monster-nya Charlize Theron, serial The Killing) di saat Hollywood konon masih nggak percaya ngasih modal ratusan juta dolar kepada sutradara wanita buat bikin film blockbuster. Ditambah lagi, film ini berada di tengah-tengah ujian kesabaran kritikus dan sebagian penonton pada film-film DC Extended Universe setelah Man of Steel, Batman v Superman, dan Suicide Squad dianggap bapuk—although I tend to disagree. Kabar baiknya, film Wonder Woman bisa tetap berdiri tegak dengan semua beban itu, karena hasilnya ternyata (untungnya) memuaskan.

Dirancang sebagai kisah asal muasal--jadi sebelum cerita Batman v Superman, ini film tentang awal perjalanan kepahlawanan seorang manusia sakti, dalam tuturan selurus mungkin. Seorang sosok idealis dari negeri dewata yang dihadapkan kenyataan dunia luar yang menguji prinsipnya, dan kebetulan sosok itu seorang wanita berbentuk Gal Gadot =). Kisah klasik dengan pendekatan yang klasik juga, antara dongeng, petualangan, laga, dan sentuhan sejarah fictionalized. Diperkuat dengan desain visual oke serta rancang konsep kesaktian Diana sang Wonder Woman yang seru abis—demen banget gw pas adegan ngebolakin mobil like "out of my way, bitch!" =D. Ada yang politis pun subtil saja, seperti pertanyaan-pertanyaan Diana tentang posisi wanita di peradaban "modern", dan bahwa di sini tidak ada penyorotan bagian tubuh perempuan bermotif seksual. Bisa banget sih diperingkas durasinya, tetapi film ini sudah berhasil mencapai tujuannya dalam menanamkan tentang siapa Wonder Woman itu, apa kekuatannnya, apa yang diperjuangkannya, bikin paham dan malah mungkin bikin sayang akan sosoknya.


Wonder Woman
(2017 - Warner Bros.)

Directed by Patty Jenkins
Screenplay by Allan Heinberg
Story by Zack Snyder, Allan Heinberg, Jason Fuchs
Produced by Charles Roven, Zack Snyder, Deborah Snyder, Richard Suckle
Cast: Gal Gadot, Chris Pine, Connie Nielsen, Robin Wright, Danny Huston, David Thewlis, Lucy Davis, Elena Anaya, Saïd Taghmaoui, Ewen Bremner, Eugene Brave Rock
My score: 7,5/10

Kamis, 15 Juni 2017

[Movie] Critical Eleven (2017)

Terlepas dari statusnya sebagai film yang diangkat dari novel yang katanya best-selling--again untuk blantika novel gw selalu pakai "katanya" karena gw emang nggak ngikutin, gw menemukan bahwa apa yang mau diceritakan di Critical Eleven termasuk menarik. Layaknya mengutip dari berbagai curhatan radio dan acara konsultasi rumah tangga, film ini ingin menggambarkan ungkapan bahwa tahun-tahun pertama pernikahan adalah masa-masa terberat yang menentukan lembaga ini akan lanjut atau tidak. Film ini cukup menunjukkan beberapa contoh detailnya, mengenai pengaruhnya di karier, relasi dengan keluarga besar, hingga suka-duka perihal keturunan. Ketika banyak film roman mengagungkan cinta sebagai faktor tunggal dan pernikahan sebagai tujuan akhir, film ini bisa mengarahkan ke pandangan yang sebenarnya sudah banyak yang tahu tapi terkesan ditutuptutupi oleh tim PR dan marketing jasa wedding: bahwa kehiudpan setelah pernikahan adalah sebuah perjuangan yang bisa jadi lebih berat daripada mendapatkan cinta itu sendiri.

Namun, Critical Eleven tidak jatuh jadi sebuah film depresif seperti Revolutionary Road, misalnya. Film ini masih dibawa cenderung lebih ringan, lebih ke arah roman dewasa nan mellow. Ini bisa jadi fortunate sekaligus unfortunate. Fortunate karena diperankan dengan apik oleh deretan pemain kelas wahid, yang tampak articulate dalam merepresentasikan cerita yang hendak diangkat sehingga begitu believable, visual film ini juga cerah, cantik, berisi, dan "mahal". Unfortunate-nya adalah mungkin isu utama yang diangkat terlalu berat untuk dikemas ringan. I mean, diawali dengan begitu manis, most of the rest ternyata begitu sendu, sehingga harus terus diingatkan bahwa film ini bukan soal so sweet-so sweet-an seperti yang mungkin tersugesti di posternya. Dan, seandainya diizinkan melepaskan faktor fan-service-ing penggemar novelnya, gw tampaknya akan lebih menikmati film ini bila dituturkan lebih ringkas, dan jumlah karakter lebih ramping, hehe. Tapi udah cukuplah untuk saat ini.


Critical Eleven
(2017 - Starvision/Legacy Pictures)

Directed by Monty Tiwa, Robert Ronny
Screenplay by Jenny Jusuf, Monty Tiwa, Robert Ronny, Ika Natassa
Based on the novel by Ika Natassa
Produced by Chand Parwez Servia, Robert Ronny
Cast: Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Widyawati Sophiaan, Slamet Rahardjo Djarot, Revalina S. Temat, Astrid Tiar, Hannah Al Rashid, Hamish Daud, Refal Hady, Anggika Bolsterli, Aci Resti
My score: 7/10


Kamis, 08 Juni 2017

[Movie] Alien: Covenant (2017)

Walau gw bukan pengikut franchise Alien, gw termasuk dalam kelompok yang kepincut sama Prometheus (2012), film yang memang dikonsepkan sebagai prekuel seri Alien, tetapi memberi sentuhan berbeda dengan suntikan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang menurut gw lumayan cocok diterapkan dalam sebuah kisah fiksi ilmiah. Menurut gw film itu sudah cukup oke berdiri sendiri, sehingga gw agak ragu apakah keberadaan Alien: Covenant sebagai sekuelnya sekaligus jembatan mendekati kisah di seri Alien, memang benar-benar perlu gw tonton. Well, ternyata setelah ditonton gw cukup terkesan karena ramuan antara horor, thriller, sci-fi, dan again sentuhan filosofisnya--walau kali ini nggak seberat Prometheus, menurut gw dituturkan dengan menarik.

Mungkin yang agak berbeda adalah unsur horor dan serangan alien-nya makin terasa menyeramkan, serta temanya makin jelas tentang "creation", tentang ciptaan yang mencipta, yang bertumpu pada karakter David (Michael Fassbender). Yah mungkin ada yang menganggap film tentang survival orang-orang yang terancam dimusnahkan nyawanya oleh sel-sel alien nggak perlulah dibikin mikir-mikir amat, tapi buat gw itulah yang membuat Prometheus dan Alien: Covenant lebih dari sekadar ngeri-ngerian--dan btw opa Ridley Scott masih belum kehilangan taji buat menata adegan yang bikin deg-degan, kerennn. Gw mungkin nggak setercengang seperti saat pertama nonton Prometheus, dan pula sayangnya Alien: Covenant nggak punya karakter-karakter baru yang interesting enough untuk bisa bikin peduli, selain daripada David dan kloningan versi lebih barunya, Walter yang sudah di-set-up sejak Prometheus, juga susunan karakternya yang pasang-berpasang tetapi melambangkan kesetaraan. Di luar itu, film ini adalah follow up yang cukup mampu melanjutkan ide-ide yang dilempar di Prometheus, dalam presentasi yang tetap menarik. Itu buat gw lho ya, nggak tahu deh kalau buat yang udah ngikutin seri Alien sejak awal...


Alien: Covenant
(2017 - 20th Century Fox)

Directed by Ridley Scott
Screenplay by John Logan, Dante Harper
Story by Jack Paglen, Michael Green
Produced by Michael Schaefer, Ridley Scott, Mark Huffam, David Giler, Walter Hill
Cast: Michael Fassbender, Katherine Waterston, Billy Crudup, Danny McBride, Demián Bichir, Carmen Ejogo, Jussie Smollett, Callie Hernandez, Amy Seimetz, Nathaniel Dean, Alexander England, Benjamin Rigby, Uli Latukefu, Tess Haubrich, James Franco, Guy Pearce
My score: 7,5/10

Selasa, 30 Mei 2017

[Movie] Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)

Mengenai sikap gw terhadap film-film Marvel Studios, gw nggak bisa dibilang nge-fan, tetapi juga nggak benci. Udah lebih dari selusin film-film Marvel gw tonton, menurut gw secara keseluruhan, well, okay, tapi tingkat kenikmatannya fluktuatif. Guardians of the Galaxy (2014) termasuk yang paling bisa gw nikmati, mungkin karena kisahnya nggak melulu "superhero", tapi lebih ke petualangan dengan sentuhan komedi oddball, visual lebih berwarna, dan hiasan lagu-lagu retro. Wajar dong kalau gw agak berharap setidaknya Guardians of the Galaxy Vol. 2 paling nggak bisa menyamai yang pertama. Filmnya masih menggunakan bahan-bahan relatif sama dengan yang pertama, ya termasuk tone komedi dan musik 70's-nya, dan perkenalan planet-planet dan alien-alien baru dengan ciri khas masing-masing. Bedanya, sekarang lebih ramai karakter, dan ceritanya lebih ingin mendekatkan penonton dengan sisi personal karakter-karakternya, terutama soal relasi mereka dengan "keluarga" masing-masing.

Di atas kertas, itu gabungan yang bagus, dan gw yakin itu works untuk banyak orang. Tapi, buat gw formula yang dipakai di Vol. 2 membuatnya: 1. kepanjangan, dan 2. kelebaran. Maksud baik untuk menggali lebih dalam karakternya malah kesannya membuat mereka terpencar-pencar, dan memang sejak awal tidak ada misi atau purpose tertentu yang harus mereka capai bersama, sehingga sendi-sendi ceritanya sesekali terasa longgar. Beruntung film ini masih dikemas dengan haha-hihi seperti film pertamanya, rancangan adegan-adegan laganya boleh, ada beberapa gag nggak penting tapi masih bikin ketawa, dan karakter-karakter utamanya masih menyenangkan. Cuma, karena bagian-bagian itu sudah dicapai sebelumnya di film pertama, freshness-nya agak berkurang aja sih di sini.



Guardians of the Galaxy Vol. 2
(2017 - Marvel Studios)

Written & Directed by James Gunn
Produced by Kevin Feige
Cast: Chris Pratt, Zoe Saldana, Dave Bautista, Bradley Cooper, Vin Diesel, Kurt Russell, Michael Rooker, Karen Gillan, Pom Klementieff, Elizabeth Debicki, Chris Sullivan, Sean Gunn, Sylvester Stallone
My score: 6,5/10

Minggu, 28 Mei 2017

[Movie] Kartini (2017)

Raden Ajeng Kartini adalah pahlawan nasional Indonesia paling terkenal, namun gw merasa bahwa beliau tidak pernah diperkenalkan secara komprehensif, termasuk dalam buku-buku sejarah. Selalu pokoknya dia bangsawati Jawa zaman kolonial yang bikin sekolah buat anak-anak pribumi, udah. Well, beliau identik juga dengan ide emansipasi wanita, tetapi apakah semua orang benar-benar tahu itu artinya apa, sampai-sampai perayaan Hari Kartini malah bikin lomba pakai baju daerah yang nggak ada kaitannya sama sekali? Dalam lautan gagasan-gagasan kurang lengkap itulah, gw senang dengan keberadaan film Kartini. Sederhana aja, baru lewat film ini gw diajak untuk "mengenal" apa dan siapa itu Kartini. Di zaman penjajahan Belanda, Kartini hidup di lingkungan yang mungkin dianggap lebih beruntung, kaya, punya akses pendidikan. Dan, ia memanfaatkan privilage itu untuk berkarya--membuat artikel budaya, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, dan transfer ilmu ke kaumnya sendiri. Bahwa sesungguhnya perjuangannya bukan melawan Belanda (yang ironically justru sangat membantunya dalam meraih cita-cita), melainkan melawan lingkungan rumahnya sendiri, tradisi-tradisi dan pemikiran-pemikiran yang membatasi terobosan-terobosan baik yang dilakukannya, hanya karena dia perempuan.

Di luar itu, film Kartini juga berfungsi baik sebagai sebuah film sejarah dengan dramatisasinya. Ya jelas selain nilai produksi apik dan jajaran pemain kelas wahid, visi film ini dalam menggambarkan Kartini yang rebel dan kaya imajinasi menurut gw sangat menarik. Itu bikin filmnya terasa hidup dan relatable untuk ditonton zaman sekarang--bukan soal otentik secara sejarah, melainkan interpretasi emosi yang riil. Konteks sejarah. sosial, dan budayanya juga bisa dikedepankan dengan mulus sehingga menyaksikannya jadi berasa utuh. Ada humor dan ada haru, sesuatu yang tak heran bila melihat nama Hanung Bramantyo selaku sutradara tapi, percaya deh, di sini beda sekali sensasinya. Somehow lebih tulus, tepat porsi, nggak serba bombastis, dan lebih kena dalam berbagai sisi. Gw berani bilang, ini film Hanung yang paling gw nikmati, tanpa komplain sedikit pun.


Kartini
(2017 - Legacy Pictures/Screenplay Films)

Directed by Hanung Bramantyo
Written by Bagus Bramanti, Hanung Bramantyo
Produced by Robert Ronny
Cast: Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Acha Septriasa, Ayushita Nugraha, Djenar Maesa Ayu, Denny Sumargo, Giras Basuwondo, Nova Eliza, Rukman Rosadi, Dwi Sasono, Reza Rahadian, Rudy Wowor, Hans De Kraker, Barbara van Kooten, Rebecca Reijman
My score: 8/10

Sabtu, 27 Mei 2017

[Movie] Fast & Furious 8 (2017)

Seri Fast & Furious begitu mengesankan karena berawal lumayan sederhana dan hampir kolaps di tengah jalan, sampai akhirnya bangkit dan bahkan jadi favorit warga dunia, yah dibilang terhitung sejak Fast Five (2011). Seri ini survive dan semakin sukses dengan menawarkan aksi laga kejar-kejaran mobil ditambah pemilihan pemain/casting yang makin ke sini makin berkilau. Dengan Fast & Furious 8, seri ini membuktikan sudah menemukan jalurnya. Durasi 2 jam 15 menitan terdiri dari 5-6 adegan laga heboh berkaitan dengan mobil--salah satunya yang dijuluki "make it rain" gw suka banget, dan di antaranya diselipkan cerita seorang mastermind yang ingin menguasai dunia (obviously) digabung dengan opera sabun tentang famili (bukan rumah makan Padang), yang sebenarnya nggak perlu terlalu dihiraukan karena toh, biar kata ada upaya permainan emosi dengan "penyanderaan psikologis" dan pengkhianatan, udah pada tahulah pada akhirnya semua akan baik-baik saja.

Nah, mungkin itu yang menjadikan sensasi nonton film kedelapan ini nggak istimewa-istimewa amat, rasanya bak rutinitas saja, sama halnya kalau ngikutin serial TV Amerika zaman dulu--sekarang juga ada sih--yang sudah terpola setiap episodenya, cuma ini versi (dua kali) lebih panjang aja durasinya. Biar begitu, gw sih tetap enjoy adegan-adegan laganya, humor-humornya juga kece, penampilan Charlize Theron dan Helen Mirren juga memikat. Pokoknya film yang menghibur dan "safe" untuk bisa lanjut ke sekuel selanjutnya.


Fast & Furious 8
a.k.a. The Fate of the Furious
(2017 - Universal)

Directed by F. Gary Gray
Written by Chris Morgan
Based on the characters created by Gary Scott Thompson
Produced by Neil H. Moritz, Vin Diesel, Michael Fottrell, Chris Morgan
Cast: Vin Diesel, Dwayne Johnson, Charlize Theron, Michelle Rodriguez, Jason Statham, Tyrese Gibson, Chris 'Ludacris' Bridges, Nathalie Emmanuel, Kurt Russell, Scott Eastwood, Elsa Pataky, Kristofer Hivju, Luke Evans, Helen Mirren
My score: 7/10

Just a little change...

Well, quite big change, actually. Kalau diperhatikan blog ini sekarang jarang banget update-nya, terhitung dalam dua bulan belakangan. Apakah gw mulai lesu dalam nge-blog, muak, jenuh, bosan di rumah lagi sendirian papa sibuk mama arisan? Kalau pertanyaan itu, jawabannya antara ya dan tidak. Jenuh dan bosan--sekalipun almh Nike Ardilla bilang bosan mungkin itu sifatmu--sebenarnya tidak. Gw masih nonton film sebanyak biasanya, gw pun pengen banget menuliskan review setiap film yang gw tonton di bioskop untuk diposting di blog ini. Akan tetapi, bagian yang mungkin benar adalah 'lesu'-nya. Kenapa? Karena gw sekarang sudah punya pekerjaan baru yang jadi alokasi utama waktu dan tenaga gw, sehingga energinya agak berkurang untuk melakukan hobi lama gw ini. I mean, ini sebenarnya fase yang berulang, dalam delapan tahun gw nge-blog, setiap gw masuk ke pekerjaan baru pasti nge-blognya tersendat. Dan, don't get me wrong, kerjaan gw sekarang sebenarnya sangat mendukung kecintaan gw sama film, cuma ya soal waktu dan energi itu harus gw banyak curahkan ke profesi, dan, setidaknya sampai sekarang, gw masih belum bisa manage dengan baik.

Untuk itu, gw sedang mencoba nge-blog dengan pendekatan baru, supaya blog ini tetap hidup, supaya gw tetap bisa menyalurkan suara gw dengan cara ini. Dengan waktu yang ada, gw ternyata nggak sanggup untuk me-review semua film yang gw tonton, sehingga gw memutuskan hanya akan menerbitkan review judul-judul pilihan, preferably yang gw memang suka--karena yang paling males untuk di-review adalah yang nggak bagus tapi nggak jelek juga, kemungkinan yang model ginilah yang terpaksa gw skip review-nya. Jujur, gw sudah coba itu dalam review-review terakhir, tetapi, bisa dilihat sendiri, akhirnya gw cuma sanggup menerbitkan review sejumlah hitungan jari sebelah tangan.

Karena itu, gw akan mencoba membuat format baru, yang mungkin cukup kontroversial *halah*. Most likely, gw akan mencoba menuliskan review judul-judul film pilihan itu secara singkat--contoh mungkin seperti satu butir review di rubrik Rapid Film Review yang selama ini gw pakai untuk review film-film lama. Enaknya, di zaman smartphone dan wi-fi ini, bacanya jadi nggak terlalu panjang sehingga nggak memakan batere. Nah, efek sampingnya, isinya jadi nggak semendalam dan nggak mungkin akan sengalor-ngidul yang gw ingini. Namun, buat gw itu lebih baik daripada nothingI've always thought I need this, I still do, dan gw senang bahwa tulisan-tulisan gw ada yang baca dan menanggapi, gw nggak bisa menelantarkan perasaan-perasaan itu begitu saja. Yah, namanya hidup nggak bisalah dapat semua-mua, ya nggak?

Mau nggak mau memang musti ada perubahan, seperti yang musti terjadi di album ketiga sampai ketujuh-nya Linkin Park. Gw berharap lewat pendekatan baru ini Ajirenji tetap bisa jalan, malah siapa tahu jadi meningkat suatu saat nanti. Dicoba dulu ajalah ya....



Minggu, 30 April 2017

[Movie] Get Out (2017)


Get Out
(2017 - Universal)

Written & Directed by Jordan Peele
Produced by Jason Blum, Jordan Peele, Edward H. Hamm Jr., Sean McKittrick
Cast: Daniel Kaluuya, Allison Williams, Catherine Keener, Bradley Whitford, Caleb Landry Jones, Marcus Henderson, Betty Gabriel, Lakeith Stanfield, LilRel Howry


Kalau lihat poster dan nama produser Jason Blum, kentaranya Get Out ini pasti horor-thriller. Namun, sepertinya film ini punya "kelonggaran" dalam menentukan genre. Sutradaranya aja selama ini dikenal sebagai komedian, bikin film seram, dan menyinggung persoalan ras. Formula tersebut buat gw sudah cukup bikin penasaranuntuk menyaksikannya, nggak perlu tahu sinopsisnya lebih lanjut karena biasanya itu akan menghambarkan pengalaman nonton film beginian. Well, berita bahwa ini salah satu film horor-thriller tersukses di Amerika tahun ini juga jadi penguat alasan untuk nonton sih, pengen tahu what the fuss is about, hehe.

Chris (Daniel Kaluuya) diajak pacarnya, Rose (Allison Williams) ke rumah orang tuanya di sebuah kota kecil. Yang bikin nggak biasa, walaupun ini latarnya masa kini yang katanya sudah lebih "toleran", Chris itu berkulit hitam, dan keluarga Rose berkulit putih dan tinggalnya bukan di kota besar, wajar dong Chris sempat nanya, "Emang keluarga kamu tahu aku berkulit hitam?". Tapi, pas ketemu sih nggak kenapa-kenapa. Bahkan, ada dua orang berkulit hitam yang kerja di rumah mereka. Cuma, Chris merasakan kejanggalan pada dua orang tersebut. Mungkin gambaran termudahnya adalah mereka nggak berperilaku seperti orang berkulit hitam, atau simply nggak seperti manusia normalnya. Misteri ini ternyata akan terus mengejar Chris selama ia berada di tempat tersebut.

Berhubung gw jarang nonton horor, gw sepertinya mengerti kenapa cerita yang diangkat film ini "kena" buat penonton di Amerika sana. Ketegangan antarras di sana rupanya belum sepenuhnya hilang--bahkan saat-saat ini makin mengemuka lagi seperti berbagai kasus penembakan polisi terhadap orang-orang berkulit hitam yang masih sering dicurigai sebagai penjahat. Topik ini diolah oleh Jordan Peele menjadi bahan-bahan untuk memunculkan kejanggalan dan kengerian perilaku manusia, and took it to the extreme. Dan menurut gw penempatan-penempatannya terbilang cermat, contoh ketika Chris di-"pamer"-kan di sebuah pesta yang mengundang pandangan dan perlakuan yang aneh banget kepada Chris dari orang-orang, lama-lama jadi creepy juga, seperti menunjukkan batas tipis antara penasaran sama orang dari latar belakang "berbeda" atau menganggapnya semacam objek eksotis yang musti dikorek-korek. Kedengarannya lucu emang, tapi yang menganggap ini lucu berarti juga menganggap ngesuitin mbak-mbak yang lagi nunggu angkot di pinggir jalan itu menyenangkan. Freak.

Buat gw Get Out adalah perpaduan menarik antara topik yang penting dengan dark comedy dan juga horor-thriller. Memang sih, film ini nggak bikin ketakutan gimana gitu, melainkan lebih ke permainan misteri yang gw akui cukup menegangkan. Ketakutannya bukan pada emosi, tapi pada pikiran. Untungnya itu sama sekali nggak melunturkan nilai hiburan film ini. Dalam perjalanan ceritanya sih sempat kepikir juga ke gw bahwa beberapa ide-ide-nya itu agak terlalu khayal, namun gw masih bisa terima setelah menempatkan pada konteksnya tadi, ada statment yang ingin disampaikan dengan cara yang bisa dibilang kreatif. Film yang menarik, lajunya juga asik, ringkas, aktingnya tepat, dan disajikan dengan sangat komunikatif. Sebuah film yang bisa juga dipandang sebagai cara elegan untuk protes terhadap rasisme modern tanpa perlu berbusa-busa. 





My score: 7,5/10

Sabtu, 29 April 2017

[Movie] Night Bus (2017)


Night Bus
(2017 - Night Bus Pictures)

Directed by Emil Heradi
Screenplay by Rahabi Mandra
Produced by Darius Sintahrya, Teuku Rifnu Wikana
Cast: Teuku Rifnu Wikana, Yayu Unru, Edward Akbar, Torro Margens, Laksmi Notokusumo, Keinaya Messi Gusti, Hana Prinantina, Agus Nur Amal, Rahael Ketsia, Arya Saloka Perwira, Abdurrahman Arif, Tino Saroengallo, Alex Abbad, Tyo Pakusadewo, Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Arswendi Nasution, Egi Fadly, Ade Firman Hakim


Dalam situasi perfilman Indonesia yang kayaknya semua orang (entah kenapa) pengen bikin film dan sebagian besar ingin filmnya disukai sebanyak mungkin orang, dan itu not saying much ketika "yang disukai sebanyak mungkin orang" itu range-nya sangat-sangat terbatas, butuh nyali dan ketegaran hati untuk muncul dan membuat karya yang benar-benar berbeda. Soalnya, beda itu bisa jadi menarik, tetapi bisa juga jadi dijauhi karena dianggap asing. Semua negara sih begitu, masalahnya di Indonesia penonton film yang "mainstream" aja hitungannya masih dikit--yang terlaris sepanjang masa aja nggak sampai 3 persen jumlah penduduk tanah air, gimana yang lain. Anyway, yang ingin gw bicarakan di sini sebenarnya adalah respek gw sama keberadaan film Night Bus. Pertama-tama karena berani mengambil tema cerita dan arah penggarapan yang berbeda, yaitu drama thriller berlatar daerah konflik. Dan, yang kedua, dan terpenting, film ini digarap dengan proper.

Night Bus berkisah tentang sebuah bus antarkota di pulau (mungkin) Sumatera yang menempuh trayek malam selama 12 jam ke kota yang bernama Sampar (tentu kota fiktif). Setiap penumpang, bahkan sopir dan kernetnya, punya motivasi masing-masing untuk ke Sampar. Premis ini masih terlihat abstrak ya, sebelum akhirnya diketahui bahwa Sampar adalah sebuah kota yang sedang dilanda konflik separatisme bersenjata. Perjalanan bus ini akan selalu terhenti, baik itu oleh militer negara, milisi pemberontak, maupun orang-orang lain entah dari mana. Dan mungkin tidak semua orang akan sampai di tujuan awal mereka.

Buat gw Night Bus melakukan beberapa hal dengan baik, khususnya dari penyusunan cerita dan penuturannya. Mungkin poin yang paling menarik buat gw adalah (cukup sering gw kemukakan juga) world-building-nya. Tanpa harus ada penjelasan ke sana ke mari, film ini berhasil membangun dunianya yang mungkin nggak familier bagi penontonnya dengan cukup utuh, sembari cerita terus berjalan. Gw menangkap mungkin ini terinspirasi dari beberapa contoh yang nyata terjadi di sejarah Indonesia, seperti masa daerah operasi militer di Aceh atau Papua. Yang kemudian nyambung ke nilai menarik lainnya dari film ini, yaitu komentar tentang moralitas di tengah konflik. Somehow diperlihatkan karena konflik ini, sikap dan langkah-langkah pihak negara maupun pemberontak kayak nggak ada bedanya, sama-sama menimbulkan ketakutan dan intimidasi terutama ke rakyat sipil yang sekadar lewat via bus ini, gara-gara nggak tahu siapa berpihak ke siapa, dan siapapun akan dicurigai.

Nilai plus lainnya adalah segi pemeranan. Pemain-pemainnya banyak, nggak semuanya ternama, namun satu sama lain mampu memberikan performa yang sama-sama baik dan berdampak bagi keseluruhan cerita, apalagi ada semacam batas kabur antara mana yang baik dan yang nggak, mengingat hampir semua tokoh ini punya sisi gelap masing-masing. Paling nggak beberapa tokoh "pegangan"-nya cukup gampang dikenali. Penataan adegannya juga sanggup menimbulkan cekam yang cukup masuk akal. Dan thanks juga buat departemen editing, pemorsiannya terbilang cukup seimbang dan bener-bener ceritanya jadi "jalan". 

Gw pikir ada sih beberapa hal yang bisa saja di-trim biar durasinya lebih compact sedikit. Namun, itu sebenarnya bukan gangguan yang sangat....jika dibandingkan dengan presentasi gambarnya yang bikin gw bertanya-tanya sama pilihan artistiknya. Gw cukup salut dengan pemilihan lokasi hingga desain busnya yang cukup nyambung dengan nyawa ceritanya. Tetapi, agak disayangkan bahwa sebagian besar dari itu semua tampil, well, temaram. Iya sih judulnya ada kata "night" dan latar waktunya terjadi semalaman suntuk, tapi 'kan bisa kali dibuat lebih terang, entah dari pencahayaan atau dari coloring-nya, demi kenyamanan kita bersama. Performanya akan lebih terlihat, yang nonton juga nggak lelah memicingkan mata untuk mengatasi redupnya gambar selama nyaris dua seperempat jam. I mean, mungkin harusnya ketika ada lampu atau api, itu cahayanya dikencengin aja, sedikit nggak realistis tapi yang penting nggap redup gitu =/.

Biar demikian, untunglah *nah, selalu masih ada untungnya* kelemahan film ini terletak di teknisnya, bukan di konten dan konteksnya, ini more or less kebalikan dari sebagian besar film yang ada sekarang. Respek tetap gw berikan untuk film ini, yang berangkat dari ide dan cerita menarik, and I think I could say it's quite original, menjadi sebuah film yang dituturkan dan diperankan dengan baik.





My score: 7/10

Sabtu, 22 April 2017

[Movie] Dear Nathan (2017)


Dear Nathan
(2017 - Rapi Films)

Directed by Indra Gunawan
Screenplay by Bagus Bramanti, Gea Rexy
Based on the novel by Erisca Febriani
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Amanda Rawles, Jefri Nichol, Surya Saputra, Ayu Diah Pasha, Rayn Wijaya, Diandra Agatha, Beby Tsabina, Chicco Kurniawan, Karina Suwandi


Sebagaimana anggota penonton di luar target demografinya, mudah bagi gw untuk jatuh pada prasangka bahwa Dear Nathan adalah film alay. You know, palingan cuma anak-anak baru gede aja yang akan demen. Apalagi kalau bukan kisah cewek (yang digambarkan manis) ketemu cowok (yang digambarkan bandel) di sekolah, keduanya dengan nama-nama fancy berhubung ceritanya berdasarkan novel, muncul benih-benih cinta serta berbagai rintangan dan halangan yang harus mereka hadapi untuk cinta bertumbuh. Dan, memang, pola cerita itu masih dipakai di film ini. But "alay"? Belum tentu. Penggarapan dan taste ternyata ngaruh banget sama bagaimana hasil akhir sebuah film meski pola kisahnya daur ulang yang sudah-sudah, dan ini terbukti di Dear Nathan.

Sedikit tentang plotnya, film ini berkisah tentang hubungan Salma (Amanda Rawles) yang termasuk siswi SMA baik-baik dengan Nathan (Jefri Nichol) yang kerap bermasalah, baik di lingkungan sosial maupun di keluarganya yang ternyata menyimpan banyak tragedi. Hubungan mereka nggak sepenuhnya didukung oleh circle mereka, demikian pula diramaikan oleh (tentu saja) sosok-sosok lain yang ingin merebut hati Salma maupun Nathan.

Yang menarik adalah bagaimana kisah biasa dan terlalu familier itu bisa dituturkan tetap dengan enak dan believable. Film ini pandai memilih fokus, sekalipun packed dengan berbagai persoalan yang khas anak-anak SMA--cinta-studi dan everything in between, konflik-konflik yang dihadirkan bukan berarti harus digelontorkan segambreng biar kesannya rumit, or even diada-adain. Salah satu pilihan yang gw rasa tepat adalah biarlah karakter yang banyak masalah hanya Nathan, yang memang cukup fungsional dalam menggerakkan ceritanya, nggak perlu ditambah-tambahin dengan baggage-nya Salma--hanya secara subtle ditunjukkan dia cuma punya ibu, nggak juga perlu persoalan rebutan pacar atau bertengkar sama teman diperpanjang dengan terlalu.

Di luar itu, gw merasakan ada kombinasi yang works antara angle penuturannya yang memang dari anak SMA tentang anak SMA, dengan kedewasaan dalam memandang persoalan yang terjadi. Ini bukan cerita tentang orang dewasa dari fantasi anak SMA, atau tentang anak SMA dari ingatan terdistorsi orang dewasa, yang seringkali membuat film-film seperti ini kurang imbang hasilnya. Di satu sisi, dialog-dialog, ekspresi, interaksi, serta kegiatan keseharian yang digambarkan terbilang sangat wajar terjadi di usia-usia SMA, lagi-lagi gw harus pakai kata believable di sini, karena memang demikian. Di sisi lain, gw nggak merasakan film ini meng-indulge melankolisme bahwa persoalan cinta remaja adalah pertaruhan hidup-mati, tetapi just a period of life, karena masih ada persoalan akademik, persoalan keluarga, persoalan ekonomi, yang mungkin sama atau lebih penting. Namun, juga nggak sertamerta meredamkan unsur emosi.

Kesan paling kuat yang gw dapat adalah film ini membalikkan prasangka buruk gw sebelumnya. Nggak nyangka bahwa kualitasnya ternyata cukup matang dan sangat bertanggungjawab, terutama sebagai film drama roman remaja, nggak menghina logika, nggak alay, dan nggak nyangka bahwa gw bisa enjoy. Teknisnya juga sekilas tampak kayak sederhana tetapi masih kerasa ada upayanya, contoh dari kekompakkan warna visual dari desain produksi dan sinematografinya, nggak mencolok tapi tertata. Di antara film-film roman tentang remaja atau target penonton remaja yang gw tonton dalam tahun-tahun belakangan ini, mungkin Dear Nathan-lah yang paling nggenah.





My score: 7,5/10