Rabu, 05 Desember 2018

My Movie Picks of November 2018

November telah berlalu, saatnya bikin rapor film paling berkesan bagi gw dari yang gw tonton sepanjang bulan tersebut. Niat menggalakkan diri untuk menonton lebih banyak film sepertinya masih belum bisa diimplementasikan maksimal, namun untunglah bulan ini bisa menemukan yang sangat berkesan.





1. One Cut of the Dead
(2018 - Asmik Ace/ENBU Seminar)
dir. Shin-ichiro Ueda
Cast: Takayuki Hamatsu, Yuzuki Akiyama, Kazuaki Nagaya, Harumi Syuhama, Manabu Hosoi, Hiroshi Ichihara, Shuntaro Yamazaki, Mao, Shin-ichiro Osawa, Yoshiko Takehara


Ketika syuting film zombi di tempat yang konon angker, para pemain dan kru malah didatangi zombi betulan. Gw masih bimbang mau melabelkan film ini sebagai bedon atau justru jenius, karena premis di atas bukanlah gambaran tepat untuk film komedi zombi ini--and I'll say nothing further hehe. Yang jelas impresi film ini bakal membekas cukup lama di gw. Pengecohannya itu lho. Di sini kita bisa lihat hal yang kayaknya random ternyata dibuat dengan perhitungan dan ketelitian luar biasa, dan hasilnya adalah hiburan tingkat tinggi. Gw mungkin bukan pemuja perfilman Jepang tapi when they make something good, it's usually unlike any other, dan ini salah satu buktinya.
My score: 8/10






2. Widows
(2018 - 20th Century Fox)
dir. Steve McQueen
Cast: Viola Davis, Michelle Rodriguez, Elizabeth Debicki, Cynthia Erivo, Liam Neeson, Colin Farrel, Daniel Kaluuya, Brian Tyree Henry, Robert Duvall, Jacki Weaver, Carrie Coon, Garret Dillahunt, Lucas Haas


Walau berangkat dari premis kisah sekelompok orang membuat rencana perampokan, yang udah berulang-ulang kali diangkat, film ini rupanya memberi berbagai lapisan-lapisan yang membuatnya tidak biasa-biasa. Film ini mampu mencakupkan tema kriminal dengan isu gender, politik, ras, tapi nggak sekadar tempelan, dan tanpa harus mengorbankan laju penuturannya. Bagian 'laga'-nya memang nggak sebanyak dramanya, namun buat gw sih nggak sampai menjemukan karena dramanya itu bernas dan penting. And look at that cast.
My score: 7,5/10






3. The Nutcracker and the Four Realms
(2018 - Disney)
dir. Lasse Hallström, Joe Johnston
Cast: Mackenzie Foy, Keira Knightley, Morgan Freeman, Hellen Mirren, Jayden Fowora-Knight, Matthew Macadyen, Eugenio Derbez, Richard E. Grant


Butuh waktu cukup lama bagi Disney untuk bikin film fairy tale yang digarap dengan desain produksi practical yang semegah ini. Gw seneng banget mengamati rancang set, kostum, riasan, serta desain karakternya yang sangat elaborate, kelihatan banget mahal dan kerja kerasnya yang nggak bergantung sama animasi CGI semata *uhuk Alice in Wonderland uhuk*, serba klasik gitulah. Itu bahkan sudah lebih dari cukup mengompensasi ceritanya yang bisa dibilang safe saja dan cenderung ngulang formula film-film Disney yang sudah-sudah. Shot (dominantly) on film!
My score: 7/10






4. Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur
(2018 - Soraya Intercine Films)
dir. Rocky Soraya, Anggy Umbara
Cast: Luna Maya, Herjunot Ali, Teuku Rifnu Wikana, Alex Abbad, Verdi Solaiman, Kiki Narendra, Oppie Kumis, Asri Welas, Ence Bagus


Kekuatan terbesar film ini sebenarnya terletak pada nostalgia...namun bagi gw yang nonton film-film Suzzanna hanya di TV dan kayaknya nggak pernah secara utuh, nostalgia mungkin hanya works sebagian saja--walau tetep sih melihat Luna Maya dengan cara bicara dan gestur klasik Suzzanna adalah hiburan hakiki =). Justru yang menarik buat gw adalah arah film ini untuk bikin si tokoh Suzzanna sebagai hantu pendendam tapi tetap protagonis, dan itu bisa disampaikan dengan baik. Filmnya memang nggak tergolong seram dan beberapa titik terasa off, namun dengan konsep serta kemasannya yang proper, film ini jelas jauh dari kategori tercela.
My score: 7/10


Selasa, 13 November 2018

My Movie Picks of October 2018

Kalau nyari blockbusters, Oktober itu memang bulan sepoi-sepoi saja. Namun, buat bagi para peminat film, bulan tersebut justru dihiasi line-up yang bikin bergairah, karena nggak melulu kenceng-kencengan ledakan atau sekuel/prekuel/reboot/remake/reimagine/ricarica dan sebangsanya. Nah, bagaimana hasilnya, beginilah rapor dari gw untuk Oktober 2018.





1. Bad Times at the El Royale
(2018 - 20th Century Fox)
dir. Drew Goddard
Cast: Jeff Bridges, Chris Hemsworth, Jon Hamm, Dakota Johnson, Cynthia Erivo, Cailee Spaeny, Lewis Pullman, Shea Wingham, Xavier Dolan, Nick Offerman



Meleburkan premis "sekelompok orang nggak saling kenal terjebak di satu tempat" dengan berbagai unsur yang biasanya hanya muat di satu film masing-masing, dari konspirasi, kriminal, sekte sesat, sampai ke blantika musik. Mirip-mirip konsep bertutur serial Lost, kayaknya si Goddard lagi agak pamer sama kemampuan meramu cerita, plus keterampilan presentasi audio visual yang berkelas (dan shot on film!), tapi ya memang filmnya berhasil ngebawa gw untuk ngikutin terus ragam misteri dari karakter-karakternya yang akhirnya "tumpah" semua di hotel El Royale. Walau nggak se-mindblowing The Cabin in the Woods-nya Goddard beberapa tahun lalu, film ini masih sama menghiburnya, terutama dengan bumbu dark comedy-nya.
My score: 7,5/10





2. Smallfoot
(2018 - Warner Bros./Warner Animation Group)
dir. Karey Kirkpatrick
Cast: Channing Tatum, Zendaya, James Corden, Common, Danny DeVito, LeBron James, Gina Rodriguez, Yara Shahidi


Film ini memainkan perspektif makhluk mitos yeti atau bigfoot, dengan memutarbalikkan bahwa manusialah yang merupakan "makhluk mitos" bagi para yeti =). Secara visual film ini menurut gw kurang appealing ya, terutama di desain karakter. Pun sebagai musikal animasi, lagu-lagunya kurang nempel. Namun, film ini punya amunisi di komedi slapstick ala Looney Tunes yang sukses bikin gw ketawa kenceng, serta pada tema eksistensialisme serta etika yang lumayan bikin cerita film ini lebih berbobot dari yang dikira.
My score: 7,5/10





3. First Man
(2018 - Universal)
dir. Damien Chazelle
Cast: Ryan Gosling, Claire Foy, Jason Clarke, Kyle Chandler, Corey Stoll, Patrick Fugit, Ciarán Hinds, Pablo Schreiber, Olivia Hamilton


Karena tahunya Chazelle itu yang bikin Whiplash dan La La Land, film ini memberi kesan doi lagi ganti perseneling. Menceritakan tentang Neil Armstrong, seorang tokoh nyata dan dikenal oleh begitu banyak orang di dunia, Chazelle lebih memilih menjabarkan ganjalan batin sang astronot ketimbang kisah "sukses/inspiratif/patriotis" dari satu momen kebanggaan Amerika dalam sejarah. Makanya, di saat langkah-langkah proyek pendaratan ke bulan ditampilkan dengan cukup detail, nuansa yang keluar sepanjang film tuh selalu sendu, beda dengan dua film Chazelle sebelumnya yang "bergejolak". Tuturannya sih baik, dan justru mungkin paling mendekati gambaran pribadi Armstrong yang memang dikenal modest dan tertutup, tapi ya gw agak kaget aja sih si Chazelle bikin filmnya dengan gaya begini.
My score: 7,5/10





4. A Star Is Born
(2018 - Warner Bros.)
dir. Bradley Cooper
Cast: Lady Gaga, Bradley Cooper, Sam Elliott, Rafi Gavron, Andrew Dice Clay, Anthony Ramos, Ron Rifkin


Remake ke-sekian dari kisah sepasang seniman mengarungi cinta dan karier di industri hiburan, ketika yang satu mengorbitkan yang lain sampai jadi lebih sukses dan belakangan bikin hubungan merenggang. Yang pasti, penyesuaian dengan kondisi kekiniannya oke, lagu-lagunya emang beneran bisa jadi hits di dunia nyata (dan sebagai soundtrack ternyata memang jadi hits di dunia nyata), dan tentu saja motornya adalah performa mantap dari para aktornya. Agak kendor iramanya seiring filmnya berjalan dari pertengahan, tapi the idea bahwa film ini ada sebagai remake tapi bisa tetap relevan, apalagi dengan lagu-lagunya yang memorable, dan ini adalah debut film panjang Cooper sebagai sutradara, akan membuat film ini masuk dalam memori sebagai karya yang impresif.
My score: 7/10





5. Bohemian Rhapsody
(2018 - 20th Century Fox)
dir. Bryan Singer
Cast: Rami Malek, Lucy Boynton, Gwilym Lee, Joseph Mazzello, Ben Hardy, Aidan Gillen, Allen Leech, Tom Hollander, Mike Myers


Separuh daya tarik film ini adalah lagu-lagu band Queen yang ditaruh pada konteks terhadap karier mereka--tumbuh di era 1990-an membuat gw masih kena sama musik Queen, walau mungkin cuma yang radio hits aja hehe. Dari situ aja, film ini udah pasti dapat predikat menghibur, ditambah lagi penanganan visualnya yang apik. Hanya saja sebagai sebuah biografi tokoh dan band-nya, gw kurang bisa menangkap apa pegangan utama yang ingin diceritakan, semua seakan ingin diutarakan tapi  harus se-light mungkin dalam waktu terbatas, jadinya nggak ada yang bener-bener nancep. Efeknya, sekeren-kerennya reka ulang show Queen di acara panggung Live Aid di akhir film ini, gw nggak bisa merasakan signifikansi emosional event itu terhadap ceritanya.
My score: 7/10





6. Dear Nathan: Hello Salma
(2018 - Rapi Film)
dir. Indra Gunawan
Cast: Jefri Nichol, Amanda Rawles, Susan Sameh, Devano Danendra, Karina Suwandi, Gito Gilas, Surya Saputra, Diandra Agatha, Rendi Jhon


On paper, topik-topik yang diangkat di film ini lebih membumi dan penting daripada Dear Nathan pertama. Tokoh-tokoh kita digambarkan dalam proses lulus SMA ke kuliah, lalu berbenturan dengan persoalan keluarga yang juga terkait erat dengan urusan pendidikan dan cinta. Nggak terlalu nghayal disko lagilah. Namun, apakah itu membuat film ini lebih baik dari yang pertama, gw nggak bisa mengiyakan. Yang gw lihat alurnya masih dibuat muter-muter juga, mungkin karena overwhelmed sama topik-topiknya sendiri. Malah charm-nya sedikit menurun oleh satu-dua tokoh baru yang penampilannya nggak imbang dengan yang lain. Tapi, kalau mau fair, ini adalah follow-up yang cukup pantas bagi film pertamanya, yang buat gw masih jadi salah satu film roman remaja dengan penggarapan terbaik dalam beberapa tahun ini.
My score: 7/10



Senin, 08 Oktober 2018

My Movie Picks of September 2018

Secara pribadi September kemarin bukan bulan yang semarak dalam hal menonton film buat gw, namun untungnya masih berhasil menemukan yang berkesan. Tiga doang sih, tapi ya okelah, hehe.



1. Aruna & Lidahnya
(2018 - Palari Films)
Dir. Edwin
Cast: Dian Sastrowardoyo, Oka Antara, Nicholas Saputra, Hannah Al Rashid, Ayu Azhari, Deddy Mahendra Desta


Ada perasaan senang setelah kelar nonton film ini, sesuatu yang tidak benar-benar gw persiapkan ketika akan menyaksikan sebuah film arahan Edwin--yang setahu gw lebih sering berkutat di ranah yang lebih edgy dan simbolik, bahkan Posesif tahun lalu juga masih berasa begitu. His latest commercial attempt ini terlihat sebagai hasil kolaborasi dan kompromi yang pas antara menghantarkan cerita jalan-jalan dan pertemanan antar-adult yang ringan penuh canda ria yang kadang konyol dan absurd, sekaligus tetap terasa kedewasaannya. Overall feeling tersebut juga lumayan sukses mengalihkan gw dari ganjalan-ganjalan kecil tentang apa sih sebenernya kerjaan Aruna serta teori konspirasi yang agak terlalu berat buat dijadikan  "hanya" kisah pendamping.
My score: 8/10






2. Crazy Rich Asians
(2018 - Warner Bros.)
Dir. Jon M. Chu
Cast: Constance Wu, Henry Golding, Michelle Yeoh, Gemma Chan, Awkwafina, Ken Jeong, Chris Pang, Sonoya Mizuno, Lisa Lu, Nico Santos, Jing Lusi, Pierre Png, Jimmy O. Yang, Tan Kheng Hua


Potensi menjadi kisah receh ala telenovela Meksiko atau sekadar Meteor Garden versi Hollywood sanggup dipatahkan. Walau dengan premis dasar hubungan cinta yang terhalang keluarga besar, kompleksitas karakternya berhasil memberikan sudut pandang tersendiri--terutama dari tokoh utama ceweknya yang Chinese-American sehingga duduk konfliknya jelas bukanlah karena perbedaan ekonomi. Apakah merepresentasikan kaum jetset berdarah Asia yang otentik? Entahlah. Yang pasti, film komedi romantis ini begitu lancar bercerita, ritmenya asyik, dan sukses memunculkan makna "crazy rich" dan "Asian" dalam suatu persembahan yang terintegrasi, bukan cuma hiasan atau lucu-lucuan doang.
My score: 7,5/10






3. Something in Between
(2018 - Screenplay Films)
Dir. Asep Kusdinar
Cast: Jefri Nichol, Amanda Rawles, Junior Liem, Slamet Rahardjo, Yayu Unru, Naufal Samudra, Febby Rastanty, Amara, Dolly Martin, Djenar Maesa Ayu, Surya Saputra, Denira Wiraguna


Bagi yang masih sabar berharap bahwa kali aja Screenplay Films bisa menghasilkan film drama romantis remaja yang actually 'nggenah', harapan itu semakin nyata ketika Something in Between rilis di bioskop September kemarin. Iya, film ini paling mendekati harapan itu. Tak lagi dijejali dialog-dialog ajaib-maunya-puitis-bawa-bawa-Tuhan, ataupun 'twist' daur ulang dari sekian ratus opera sabun semisal amnesia, kembaran rahasia, sakit-sakit stadium empat ke atas, salah sangka bikin depresi bertahun-tahun, dsb. Film yang ini berjalan sebagaimana roman remaja 'seharusnya', dengan kadar manis, haru, dan lucu secukupnya. Bagian terajaib dari film ini pun masih acceptable, karena memang bermain di ranah fantasy romance. Dengan masih ada kekurangan sana-sini, gw berani bilang ini film roman Screenplay terbaik sejauh ini =).
My score: 7/10



Minggu, 16 September 2018

My Movie Picks of August 2018

Ketika tahu line-up bulan Agustus, gw ada feeling bahwa ini akan jadi bulan yang baik bagi penggemar film seperti gw. Well, walau pada akhirnya tidak sebanyak yang diharapkan, ternyata memang muncul judul-judul yang cukup meninggalkan kesan kuat, bukan hanya paling "bener" di bulan periode bersangkutan semata.




1. Sebelum Iblis Menjemput
(2018 - Sky Media)
Dir. Timo Tjahjanto
Cast: Chelsea Islan, Pevita Pearce, Samo Rafael, Karina Suwandi, Ray Sahetapy, Hadijah Shahab, Kinaryosih, Ruth Marini


Dari sekian upaya "horor premium" yang dirilis tahun ini, film ini buat gw punya paket lengkap. Seram iya, kejam iya, seru iya, kualitas visual dan audio bagus iya banget, plus jalan cerita yang nggak ribet tapi rapih susunannya. Malah, sebenarnya misteri film ini kayak udah diberesin di paruh awal, sisanya tinggal "pesta horor"-nya aja...yang ternyata gw bisa enjoy entah kenapa. Apapun kompromi yang dilakukan antara sineas yang notabene one-half of the Mo Brothers bersama para produser dari Screenplay Films =), yang pasti hasil akhirnya memuaskan buat gw yang bukan penggemar horor ini.
My score: 8/10





2. Christopher Robin
(2018 - Disney)
Dir. Marc Forster
Cast: Ewan McGregor, Hayley Atwell, Jim Cummings, Bronte Carmichael, Mark Gatiss, Brad Garrett, Nick Mohammed, Peter Capaldi, Sophie Okonedo, Toby Jones


Hype film ini agak adem ya, padahal setelah menonton, menurut gw ini salah satu film keluarga live action keluaran Disney terbaik di era sekarang. Film ini bisa dibilang kelanjutan dari kisah-kisah Winnie the Pooh versi Disney, terutama saat si bocah Christopher Robin sudah dewasa dan bekeluarga, dan dihadapkan pada ribetnya tekanan dunia "nyata". Selipan filosofis dan kalimat-kalimat yang sederhana tapi aww-so-deep masih dipertahankan, namun yang mengesankan gw adalah atmosfernya yang hangat dan memancarkan energi positif. Nggak memakai warna-warna terlalu cerah mencolok, nggak terlalu berusaha melawak, tapi nggak terlalu sendu haru biru juga. Pas banget.
My score: 8/10





3. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
(2018 - Lifelike Pictures/Fox International Productions)
Dir. Angga Dwimas Sasongko
Cast: Vino G. Bastian, Yayan Ruhian, Sherina Munaf, Fariz Alfarazi, Ruth Marini, Marsha Timothy, Aghniny Haque, Yusuf Mahardika, Dwi Sasono, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Marcella Zalianty, Andi /rif, Dian Sidik


Adalah salah satu film Indonesia paling dinantikan tahun ini terutama sebagai "pertaruhan" sampai mana perfilman kita bisa menghasilkan sebuah blockbuster yang layak. Dan buat gw, film ini layak. Upaya keras dalam meng-assemble segala aspek produksi film ini terbayar. Departemen artisik, suara dan visual, plus musiknya gw paling suka banget. Gw pun suka dengan cara film ini dibawa sebagai "cerita silat" yang biasa dikenal: dari pertikaian guru-murid persilatan, ke ilmu meringankan tubuh, ke huru-hara di warung makan, sampai ke sosok-sosok yang tiba-tiba datang dan pergi sesuka hatimu hoo kejamnya dikau, tampak klise tapi dimasukkin aja semua di sini tanpa ditahan-tahan, toh itu yang bikin seru. Gw cuma berharap humornya bisa lebih gesit, tapi apa yang ditampilkan sudah cukup dalam rangka menghibur, terlebih bagian kelahinya yang punya porsi mengenyangkan. Satu lagi, mungkin ini film Indonesia dengan product placement paling alus sepanjang masa hehehe.
My score: 7,5/10





4. Searching
(2018 - Sony Pictures)
Dir. Aneesh Chaganty
Cast: John Cho, Debra Messing, Michelle La, Joseph Lee, Sara Sohn


Setelah gaya found footage banyak dipakai, kini mulai muncul gaya bercerita baru yang lumayan kekinian, yaitu (seolah-olah) lewat display layar komputer. Secara yekan komputer sekarang bisa video, bisa nelepon, dan segala informasi bisa tersimpan atau dicari secara digital. Searching menggunakan medium tersebut untuk bercerita--quite appropriately--tentang seorang ayah mencari putri remajanya yang hilang tanpa kabar, dan berujung pada dugaan tindak kriminal. Di luar gayanya yang sangat atraktif, bukan itu yang bikin film ini berhasil. Melainkan karena film ini tetap mampu bercerita dengan baik, nilai-nilai dramatisnya tetap muncul walau penataan adegannya nggak "sinematis".
My score: 7,5/10





5. The Meg
(2018 - Warner Bros.)
Dir. Jon Turtletaub
Cast: Jason Statham, Li Bingbing, Rainn Wilson, Cliff Curtis, Winston Chao, Ruby Rose, Sophia Cai, Page Kennedy, Robert Taylor, Ólafur Darri Ólafsson, Jessica McNamee


The Meg adalah film yang seyogianya disantap tanpa perlu mind the details karena sejak kalimat premisnya saja sudah lebih mirip wahana 4-dimensi daripada film cerita. Hiu raksasa purba ternyata masih ada dan muncul lagi ke permukaan di masa kini dan mulai meneror, ini adalah resep untuk membuat rangkaian adegan seru-seruan dan kaget-kagetan yang, well, menyenangkan. Model-model film yang bakal sering dapat rating oke tiap tayang di TV nasional.
My score: 7/10





6. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta
(2018 - Mooryati Soedibyo Cinema)
Dir. Hanung Bramantyo
Cast: Ario Bayu, Adinia Wirasti, Marthino Lio, Putri Marino, Deddy Sutomo, Anindya Putri, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Christine Hakim, Hans de Kraker, Asmara Abigail, Rukman Rosadi, Meriam Bellina


Bikin film sejarah Indonesia itu 1. nggak murah, 2. nggak mudah risetnya, dan 3. nggak mudah bikin untuk bisa dinikmati sebagai tontonan khalayak. Sultan Agung adalah film biografi sejarah kesekian yang dihasilkan Hanung and the gang, dan menurut gw secara konsep film ini yang paling akomodatif terhadap berbagai kepentingan. Bukan cuma pelajaran sejarah, film ini memasukkan unsur mythical, unsur agama, hingga unsur laga, baik itu peperangan maupun laga persilatan,  dan pemilihan aktor yang mumpuni bikin filmnya terasa manusiawi. Secara cerita juga lebih terstruktur, jadi panjangnya durasi dengan pelbagai dramatisasi pun tetap bisa pahamlah arahnya ke mana. Bagian paling bagus buat gw adalah pas babak pertama soal tahta kerajaan Mataram, sayang makin ke belakang secara naratif kayak banyak yang ke-skip saking banyak hal terjadi. Tapi, overall film ini masuk sebagai film sejarah yang cukup amanlah.
My score: 7/10





7. Kafir
(2018 - Starvision)
Dir. Azhar Kinoi Lubis
Cast: Putri Ayudya, Sujiwo Tejo, Indah Permatasari, Rangga Azof, Nadya Arina, Nova Eliza, Slamet Ambari, Oce Permatasari, Laksmi Notokusumo


Dari look-nya, ada harapan bahwa Kafir layak disandingkan di antara film-film "horor premium" Indonesia yang belakangan banyak muncul. Harapan itu lumayan terpenuhi...paling tidak sebelum menginjak bagian penyelesaiannya. Gw cukup suka bahwa film ini bermain di kisah seputar pelet dan santet dengan cara yang berkelas dan emosional, walau menurut gw untuk menjadi "horor" yang menyeramkan atau memilukan film ini masih agak malu-malu nggak tega gitu. Cuma semua itu jadi terhempas ketika diselesaikan dengan, let's say, kayak pembuatnya nggak kepikiran cara yang lebih kreatif selain the villain explains everything in annoying laughs. Bagaimanapun, gw tetap menghargai Kafir sebagai kelanjutan contoh film horor Indonesia masa kini yang diproduksi dengan baik, dan niat baik.
My score: 7/10


Rabu, 08 Agustus 2018

My Movie Picks of July 2018

Lanjut ke bulan selanjutnya, sepertinya gw lagi dalam fase ketika mood sedang sulit untuk di-uplift dengan menonton film-film terbaru. Dan, iya, gw percaya menilai bagus tidaknya sebuah film kadang tergantung juga pada situasi diri saat itu. Di "ampas" masa liburan kayak bulan Juli ini gw cukup berharap sama beberapa rilisan bioskop, tetapi akhirnya jadi sering cari "pelarian" ke film-film lama yang belum gw tonton via home video. Inti curhatan tadi sebenarnya hanyalah jangan terlalu kaget sama rekapan gw untuk bulan Juli ini, hehe. Semoga yang di bulan baru lebih exciting lah ya.






1. Gone Girl
(2014 - 20th Century Fox)
Dir. David Fincher
Cast: Ben Affleck, Rosamund Pike, Carrie Coon, Tyler Perry, Kim Dickens, Patrick Fugit, Neil Patrick Harris, Missy Pyle, Emily Ratajkowski, Casey Wilson, Sela Ward


Dan akhirnya kesampaian juga menonton film yang sangat hype pada masanya ini--tapi batal rilis di bioskop Indonesia konon gegara yang punya film nggak mau filmnya ada yang dipotong/disunting demi sensor secuil pun. Gayanya sang sutradara seperti biasa seakan mengalir saja tanpa kehebohan, tetapi menyaksikan adegan demi adegan tanpa mampu teralihkan, serta munculnya ketegangan dan keresahan di adegan yang "kayak nggak ada apa-apa", membuktikan ada keahlian yang dilakukan tak kasatmata. Memadukan kisah kriminal dengan drama rumah tangga namun tidak jatuh jadi opera sabun, ide liar sang pemilik cerita sukses disajikan sebagai film yang begitu memikat, dihiasi dialog-dialog witty dan akting berkelas yang membuatnya tidak sesuram kedengarannya.
My score: 8/10





2. Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
(2017 - Fox Searchlight)
Dir. Matthew McDonagh
Cast: Frances McDormand, Sam Rockwell, Woody Harrelson, Caleb Landry Jones, Peter Dinklage, Lucas Hedges, Abbie Cornish, John Hawkes, Željko Ivanek


Meski dipicu oleh sebuah kasus kriminal tak terselesaikan--hingga ibu sang korban kukuh menuntut keadilan, film ini rupanya ingin lebih mengupas karakter-karakternya yang bisa dibilang terjebak dalam keadaan, ataupun terjebak oleh keputusan mereka sendiri. Kalau disarikan ceritanya agak sedih karena berisi tokoh-tokoh bernasib tragis, tapi untungnya film ini menyajikannya dengan dark humour, dialog ngocol, dan pilihan-pilihan adegan yang menghentak.
My score: 7,5/10





3. Mission: Impossible - Fallout
(2018 - Paramount)
Dir. Christopher McQuarrie
Cast: Tom Cruise, Henry Cavill, Rebecca Ferguson, Simon Pegg, Ving Rhames, Alec Baldwin, Angela Bassett, Sean Harris, Vanessa Kirby, Michelle Monaghan, Wes Bentley


Franchise Mission: Impossible *iya, ada titik dua di tengah* sepertinya mau memakemkan gaya penuturan action spionase yang nggak banyak ngomong tapi berbicara lewat situasi, satu hal yang sukses besar di episode sebelumnya, Mission: Impossible - Rogue Nation (2015). Fallout sendiri gw tangkap seperti semacam rangkuman berbagai elemen lima film sebelumnya, entah itu pengulangan tema, setting, hingga pengulangan karakter dari film sebelumnya yang gw sangka udah beres eh rupanya ceritanya ini lanjutan langsung dari Rogue Nation jadinya muncul lagi, hehe. Meski Fallout tetap seru banget, gw merasa Rogue Nation, yang dalam memori gw masih lebih fresh, masih jadi favorit pribadi. Ya daripada M:I-2, ye 'kan =p.
My score: 7,5/10





4. Ant-Man and the Wasp
(2018 - Marvel Studios)
Dir. Peyton Reed
Cast: Paul Rudd, Evangeline Lilly, Michael Douglas, Michelle Pfeiffer, Laurence Fishburne, Walton Goggins, Hannah John-Kamen, Michael Peña, Judy Greer, Bobby Cannavale, Abby Ryder Forston.


Kalau ditimbang-timbang dengan film-film Marvel lainnya, Ant-Man (2015) adalah yang paling nggak dibebankan dengan misi menyelamatkan seluruh jagat raya, sehingga munculnya pun appropriately lebih ceria, ringan, dan paling menyenangkan. Sekuel-nya ini menurut gw masih dengan pembawaan yang sama, bahkan kini dengan jalan cerita yang lebih tidak klise, dan masih sama lucunya. Namun, sisi lain dari kesamaan tersebut adalah jadinya film ini nggak terasa sesegar kemunculan pertamanya. Untunglah kehadiran mbak Evangeline sebagai The Wasp memang exciting, hehe *penggemar sejak Lost*.
My score: 7/10





5. Buffalo Boys
(2018 - Infinite Studios/ Screenplay Infinite Films)
Dir. Mike Wiluan
Cast: Ario Bayu, Yoshi Sudarso, Pevita Pearce, Tyo Pakusadewo, Reinout Bussemaker, Happy Salma, Daniel Adnan, Mikha Tambayong, Donny Damara, El Manik, Zack Lee, Sunny Pang, Alex Abbad, Mark 'Conan' Stevens


Okay, apakah ini film terbaik di luar sana? Bukan. Akan tetapi, sebagai sebuah laga fantasi, film ini tetap sebuah "ke-ngaco-an" yang menyenangkan, mewujudnyatakan imajinasi tentang petualangan ala wild west yang dimuat-muatin dalam setting Indonesia zaman kolonial. Upaya keras dalam memproduksi film ini terlihat jelas: adegan-adegan laganya keren, look-nya mahal berasa nonton film luar negeri, Sudarso sukses berbahasa Indonesia tanpa aksen aneh-aneh, dan yang paling gw salut adalah para aktor elit Indonesia di sini berhasil mengujarkan lines mereka dengan artikulatif dan beremosi sekalipun susunan kalimatnya ketahuan banget asalnya ditulis tidak dalam bahasa Indonesia. Gw perlu taruh film ini di senarai, karena harus diingat lagi bahwasanya Indonesia bisa banget memproduksi (atau ko-produksi) film berskala mancanegara seperti ini...tinggal masalah mau (kasih modal) atau nggak =D.
My score: 7/10




Minggu, 08 Juli 2018

My Movie Picks of June 2018

Balik lagi ke rutinitas nonton yang agak normal, bulan Juni kemarin film-film yang gw tonton beraneka ragam, tapi saat direkap hasilnya lumayan mengejutkan, hehe. Mari...



1. Hereditary
(2018 - A24)
Dir. Ari Aster
Cast: Toni Collette, Gabriel Byrne, Alex Wolff, Milly Shapiro, Ann Dowd, Mallory Bechtel


Buat gw yang nggak demen horor, syarat film horor yang bagus itu cukup berat. Pertama harus punya cerita oke, kedua harus beneran serem. Hereditary termasuk yang memenuhi kedua syarat itu, sekalipun dengan metode yang sedikit beda. Kisah tentang keluarga yang menyimpan misteri selepas wafatnya si nenek, baik itu misteri hubungan antarmereka yang kompleks maupun misteri kutukan supranatural yang memperparah itu semua. Menurut gw ini adalah horor ilmu hitam yang melebur dengan thriller psikologis, tampil dengan penataan adegan yang bernilai artistik tersendiri dan performa akting yang hebat. Cuma ya bagian-bagian seremnya cenderung stres-bikin-pengen-ngomong-kasar sih ketimbang model kaget-jadi-bikin-ketawa-rame-rame.
My score: 7,5/10





2. Incredibles 2
(2018 - Disney/Pixar)
Dir. Brad Bird
Cast: Craig T. Nelson, Holly Hunter, Bob Odenkirk, Catherine Keener, Sarah Vowell, Huckleberry Milner, Eli Fucile, Samuel L. Jackson, Sophia Bush, Brad Bird, Isabella Rossellini


Melanjutkan petualangan seru keluarga Parr yang punya kekuatan super di tengah masyarakat yang melarang aktivitas superhero. Film kedua ini makin menekankan pada benturan kepentingan keluarga vs menjadi pahlawan bagi dunia. Tetap seru, lucu, lincah, enak dilihat, walau gw merasa ceritanya jadi agak penuh dan terlalu panjang, dan intrik penjahatnya juga predictable
My score: 7/10





3. Jurassic World: Fallen Kingdom
(2018 - Universal)
Dir. J.A. Bayona
Cast: Chris Pratt, Bryce Dallas Howard, Rafe Spall, Justice Smith, Daniella Pineda, James Cromwell, Isabella Sermon, Geraldine Chaplin, Toby Jones, B.D. Wong, Jeff Goldblum


Sebagai yang termasuk suka sama Jurassic World (2015), gw sebenarnya nggak expect banyak dari sekuelnya ini. Dan, well, ternyata hasilnya memang nggak segelegar yang sebelumnya, apalagi di paruh kedua ruang ceritanya dipersempit. Cuma, aksi dinosaurusnya tetap oke, world building-nya semakin mantap, dan hint mengenai arah cerita di sekuel selanjutnya cukup bikin penasaran. Oh, adegan favorit tentu saja yang (seolah) satu take di dalam ruang sempit  mirip Children of Men (2006) versi bawah air =D.
My score: 7/10





4. Kulari ke Pantai
(2018 - Miles Film)
Dir. Riri Riza
Cast: Maisha Kanna, Lil'li Latisha, Marsha Timothy, Suku_Dani, Ibnu Jamil, Lukman Sardi, Karina Suwandi, M. Adhiyat, Varun Tanjdung, Dodit Mulyanto, Fadlan Rizal, Ligwina Hananto

Gw suka pada tone film ini yang agak realis, bisa bikin relate sama karakter-karakternya yang gampang ditemui di kenyataan sekarang. Ini bukan anak baik vs anak jahat, tapi konflik yang timbul karena beda kebiasaan dan beda lingkungan saat traveling bersama. Cuma mungkin saking realisnya—walau tetap ceria dan enak disaksikan, bawaan filmnya jadi terlalu santai dan…apa ya…kayak nggak terlalu penting banget untuk diikutin. Mungkin bakal lebih megang kalau durasinya agak di-trim dan konfliknya dipertajam?
My score: 7/10





5. Hostiles
(2017 - Entertainment Studios/Waypoint Entertainment/Bloom)
Dir. Scott Cooper
Cast: Christian Bale, Rosamund Pike, Wes Studi, Ben Foster, Rory Cochrane, Jesse Plemons, Stephen Lang, David Midthunder, Adam Beach, Q'orianka Kilcher, Xavier Horsechief, Tanaya Beatty, Timothée Chalamet, Peter Mullan, Ryan Bingham


Mungkin bukan film pertama yang ingin mengangkat bahwa kaum pendatang vs native di Amerika sana bukan sesederhana baik vs jahat seperti dalam film-film koboi kebanyakan. Ritmenya cenerung mendayu-dayu, namun memberi tonjolan emosi dari para aktornya yang keren-keren, serta lumayan bisa meng-highlight tentang makna 'hostile' di tengah indahnya wild west. Gambarnya cakep sangat.
My score: 7/10





6. Insya Allah Sah 2
(2018 - MD Pictures)
Dir. Anggy Umbara & Bounty Umbara
Cast: Pandji Pragiwaksono, Donny Alamsyah, Luna Maya, Nirina Zubir, Tata Ginting, Ray Sahetapy, Dewi Yull, Miller Khan, Meriam Bellina, Tarsan


'Mengejutkan' adalah kata yang tepat untuk menggambarkan. Ceritanya yang absurd bisa gw ikutin tanpa banyak komplain dari awal sampai akhir. Tujuannya jelas, lajunya asyik. Mungkin halangan terbesarnya adalah pada banyaknya lelucon yang miss. Walau nggak seheboh film-film Umbara bros. yang gw tahu, ternyata film ini tetap bisa memberikan hiburan yang cukup. Dan, bisa jadi ini film bernilai Islami paling accessible dan menyenangkan yang pernah rilis di Indonesia dalam waktu-waktu ini.
My score: 7/10




Jumat, 15 Juni 2018

My Movie Picks of May 2018

Better late than never kan yah? Hehe T-T. Entah kenapa bulan lalu frekuensi nonton agak tersendat, sehingga sedikit sekali judul yang gw tonton utuh, dan lebih sedikit pula yang gw pikir layak naik di rekap akhir bulan. So, ini dia film berkesan versi gw selama bulan Mei kemarin.




1. Deadpool 2
(2018 - 20th Century Fox)
Dir. David Leitch
Cast: Ryan Reynolds, Josh Brolin, Morena Baccarin, Julian Dennison, Zazie Beetz, T.J. Miller, Karan Soni, Leslie Uggans, Brianna Hildebrand, Stefan Kapicic, Shioli Kutsuna, Eddie Marsan


Aneka lelucuan dan kekejaman kartunik mampu membuat Deadpool pertama (2016) tampil sangat menghibur dan beda dari film superhero mainstream Hollywood lain, sekalipun ceritanya receh banget. Gw cukup senang bahwa sekuelnya masih mempertahankan resep pentingnya, kali ini ditaruh dalam cerita yang (sedikit agak) lebih ada isinya, walau tetap street-level sih, bukan yang menyelamatkan kelestarian umat manusia juga. Namun, apalah, yang penting filmnya menghibur lucu-lucu jahat gitu, dengan tata laga yang lebih keren plus visual yang lebih vibrant, serta tampilan lebih banyak tokoh mutan di universe X-Men--menyambung salah satu joke film pertama yang katanya bujetnya nggak banyak, yang ini lebih jelas lebih mahal dong =). 
My score: 7,5/10





2. Tully
(2018 - Sierra Affinity/Focus Pictures)
Dir. Jason Reitman
Cast: Charlize Theron, Mackenzie Davis, Ron Livingston, Mark Duplass, Elaine Tan, Lia Frankland, Asher Miles Fallica


Menyorot seorang ibu muda dengan hari-hari mengurus anak-anak yang kecil--salah satunya dengan kondisi khusus, kemudian kedatangan seorang pengasuh anak shift malam (=P) mendorong penyegaran baru dalam keluarganya. Bagaimanapun ringan terdengar, film ini mampu dikemas dengan membumi namun lincah, menggelitik, dan performa berdedikasi oleh si mantan talent iklan Electronic City, Charlize Theron.
My score: 7,5/10





3. Solo: A Star Wars Story
(2018 - Lucasfilm)
Dir. Ron Howard
Cast: Alden Ehrenreich, Donald Glover, Emilia Clarke, Woody Harrelson, Phoebe Waller-Bridge, Thandie Newton, Joonas Suotamo, Paul Bettany, Jon Favreau, Erin Kellyman


Mengambil origin story dari salah satu tokoh terpopuler dari franchise yang juga populer, film ini jelas menimbulkan antisipasi yang cukup tinggi, pemainnya pada keren-keren pula. Tapi, pelbagai drama di balik layar pembuatan film ini (sutradara dipecat) sedikit banyak berasa juga di hasil akhirnya. Keseluruhan filmnya untungnya menghibur, gw suka desain-desain set dan kostumnya, poin-poin ceritanya oke walau kadang terasa terlalu condensed (susu kali =p). Cuma gw juga merasa ada banyak potensi komedi dan fun yang tidak sampai maksimal di sini. Gw malah berandai mungkin versi sutradara yang sebelumnya (Phil Lord dan Christopher Miller) bisa lebih lucu dan enerjik dari ini, but we'll never know.
My score: 7/10


Sabtu, 05 Mei 2018

My Movie Picks of April 2018

Berbekal menonton hanya beberapa judul, baik di bioskop maupun format lain, berikut adalah rekapitulasi film-film paling berkesan buat gw selama bulan April 2018 kemarin. Mari...




1. Avengers: Infinity War
(2018 - Marvel Studios)
Dir. Anthony Russo & Joe Russo
Cast: Robert Downey Jr., Chris Hemsworth, Chris Evans, Scarlett Johansson, Mark Ruffalo, Chris Pratt, Josh Brolin, Zoe Saldana, Benedict Cumberbatch, Tom Holland, Elizabeth Olsen, Paul Bettany, Chadwick Boseman, Tom Hiddleston, Sebastian Stan, Anthony Mackie, Don Cheadle, Dave Bautista, Pom Klementieff, Karen Gillan, Peter Dinklage, Gwyneth Paltrow, Letitia Wright, Bradley Cooper, Vin Diesel


Impresi semerta gw usai nonton ini mirip dengan The Avengers pertama (2012), yaitu keberhasilan dalam mengakomodir begitu banyak karakter dalam porsi yang seimbang. Tentu saja kadar kekaguman itu meningkat ketika jumlah tokohnya makin banyak--like, banyak buanget--di sini. Itu sudah termasuk memperkenalkan lebih lanjut soal sosok villain semesta Thanos yang selama ini cuma tampil iprit-iprit doang film-film Marvel sebelumnya. Demikian pula enaknya penggabungan tone karakternya, dari yang witty macam Iron Man dan Doctor Strange, badass macam Captain America dan Black Widow, sampai yang lawak receh kayak Guardians of the Galaxy dan Thor. Ceritanya cukup straightforward, agak dark karena 'kan ini udah masuk bab akhir melawan si biang jahat. Istimewa banget sih nggak, tetapi bisa dipresentasikan dalam skala besar dan terasa, well, lebih genting dari Age of Ultron (2015), misalnya. Nggak hanya yang terbesar, gw juga merasa ini film Marvel yang paling gw nikmati secara menyeluruh, dan jadinya gw ikutan makin menantikan Avengers 4 yang akan rilis hanya setahun lagi.
My score: 8/10





2. Confessions
(2010 - Toho)
Dir. Tetsuya Nakashima
Cast: Takako Mastu, Masaki Okada, Yoshino Kimura, Yukito Nishii, Kaoru Fujiwara, Ai Hashimoto


Ide-ide cerita yang "sakit" memang cukup sering ditemui di karya-karya buatan Jepang *hehe*, namun film ini adalah salah satu yang bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang agak beda dan stylish. Dasarnya sih ini kisah balas dendam, berangkat dari seorang guru yang kehilangan anak semata wayangnya yang masih kecil karena perbuatan dua murid SMP yang diajarnya, tetapi metodenya nggak sesimpel nyawa dibalas nyawa. Ide-nya memang violent, karakternya psycho semua, tetapi film ini berhasil mengindari jebakan menjadi film yang terlalu moody ataupun terlalu teatrikal--yah bisa dibilang film ini adalah gabungan keduanya, but with music. Penuturan non-linear dari berbagai sudut pandang, dengan menampilkan gambar-gambar dinamis bagai video musik (sesuatu yang sebenarnya jarang dilakukan sineas Jepang untuk "drama serius"), justru menjaga film ini untuk tetap menarik dan selaras dengan absurditas ceritanya.
My score: 7,5/10





3. A Quiet Place
(2018 - Paramount)
Dir. John Krasinski
Cast: Emily Blunt, John Krasinski, Millicent Simmonds, Noah Jupe


Idenya cukup simpel: jangan bersuara jika tidak ingin dimangsa monster. Pengembangan ceritanya juga terbilang sederhana, yaitu sebuah keluarga berusaha melanjutkan hidup di tengah ancaman monster/alien, tentu saja harus menyesuaikan keadaan dengan sedapat mungkin tidak menimbulkan suara. Namun, kali ini si emak lagi hamil besar yakale ntar kalau lahiran nggak bersuara yekan. Di tengah kesederhanaan itu, kenyaristiadaan dialog oral bukan cuma gimmick cari sensasi. Ada intensitas yang luar biasa, nggak hanya dari ketegangan yang timbul di sana-sini, tetapi juga dari penyampaian tentang keluarga itu sendiri. Gw bisa dibuat simpati sama keluarga ini sekalipun gw bahkan nggak tahu siapa aja nama-namanya =).
My Score: 7,5/10




4. Jelita Sejuba, Mencintai Kesatria Negara
(2018 - Drelin Amagra)
Dir. Ray Nayoan
Cast: Putri Marino, Wafda Saifan Lubis, Aldy Maldini, Yayu Unru, Nena Rosier


Daya tarik utama film ini, setidaknya buat gw, adalah lingkungannya yang close to home. Film ini diklaim sebagai film layar lebar yang pertama mengangkat secara spesifik tokoh istri prajurit TNI-AD, also known as ibuk-ibuk Persit (Persatuan Istri Tentara)--karena dulu mungkin pernah ada dalam bentuk miniseri atau FTV kali ya. Filmnya sendiri berjalan sebagai sebuah drama roman dari awal pertemuan sampai berumahtangga dan beranak, dari sudut pandang sang perempuan, nggak terlalu berat sebagai alat "humas" ketentaraan. Meski kisahnya rada klasik, film ini diisi sejumlah adegan yang well-crafted dan kontemporer, serta akting mumpuni dari segenap pemerannya. Sehingga, sekalipun secara lingkup narasi agak di situ-situ aja--padahal gw menantikan si anak pulang sekolah upset rumahnya kosong kekunci karena maknya lagi rapat Persit *lah tjurhat*, film ini masih cukup enaklah diikuti.
My score: 6,5/10

Rabu, 04 April 2018

My Movie Picks of March 2018

Saatnya mencatat film-film berkesan yang sudah gw tonton di bulan Maret 2018. Dihitung-hitung ternyata gw nontonnya lumayan banyak, dan sebagian cukup berkesan sehingga perlu gw tuliskan di postingan ini.



1. Ready Player One
(2018 - Warner Bros.)
Dir. Steven Spielberg
Cast: Tye Sheridan, Olivia Cooke, Ben Mendelsohn, Mark Rylance, Simon Pegg, Lena Waithe, Win Morisaki, Philip Zhao, T.J. Miller, Hannah John-Kamen


Memanglah Spielberg tak bisa kita dustakan--walau kemaren ada The BFG sih -_-. Nggak lama setelah perilisan film Spielberg-mode-drama-serius The Post sekitar sebulan lalu, sekarang dirilis lagi film Spielberg-mode-blockbuster yang duh-of-course spektakuler membahana. Dengan cerita futuristis tentang petualangan dunia maya yang memengaruhi langsung eksistensi di dunia nyata, film ini nggak hanya ditampilkan dengan keseruan dan keasyikan beroktan tinggi, tetapi juga relevan. Ada refleksi tentang hubungan sosial yang "ditentukan" dunia maya, ada nilai nostalgia dengan ribuan elemen dari kultur pop dunia (Street Fighter!, Star Trek!, Hello Kitty!, There's Something About Mary! xD), dan, yang mungkin makin jarang dalam blockbuster Hollywood belakangan ini, daya pukau. Sekalipun banyak adegannya kayak riweuh dan berat CGI, semuanya masih mampu mengikat perhatian, segar, kreatif, simply because Spielberg masih setia pada pengertian "motion" pada motion picture.
My score: 8/10





2. The Shape of Water
(2017 - Fox Searchlight)
Dir. Guillermo del Toro
Cast: Sally Hawkins, Michael Shannon, Richard Jenkins, Octavia Spencer, Doug Jones, Michael Stuhlbarg, David Hewlett, Nick Searcy


Lama menantikan akhirnya filmnya dilepas juga di bioskop Indonesia, didorong oleh kemenangannya di Piala Oscar tempo hari sebagai sang Best Picture. Gw rasa film ini jadi salah satu curahan paling "tumpah" dari isi kepala del Toro, dan hasilnya sangat indah. Premis yang nyeleneh (perempuan bisu yang jatuh cinta pada manusia ikan) tidak dibiarkan sendiri, melainkan diperlengkapi oleh karakterisasi yang menarik, mewakili berbagai sifat dan isu, penuturan yang bikin terhanyut, dan ketelitian audio visual tak terbantahkan--OMG visualnya elok nian. Tabrakan antara kisah imajinatif nan ajaib dengan drama, romansa, komedi, bahkan musik berhasil bikin gw terbawa pada dunianya tanpa perlawanan. Di sini makin menunjukkan kemampuan del Toro bercerita dalam metode yang rich, bahkan sampai ke detail benda dan makna di balik warna, yang nggak akan cukup diserap kalau sekali jalan. A master craft indeed.
My score: 8/10





3. Love for Sale
(2018 - Visinema Pictures)
Dir. Andibachtiar Yusuf
Cast: Gading Marten, Della Dartyan, Verdi Solaiman, Rukman Rosadi, Adriano Qalbi, Albert Halim, Sabrina Rochelle, Rizky Mocil, Toro Margens, Dayu Wijanto


Berhubung gw cuma tahu film-film Bang Ucup yang tema olahraga penuh gejolak, gw nggak menyangka beliau bisa begitu tender di film yang satu ini. Yah, sekalipun premisnya agak nakal juga, pria berusia matang dan lajang menyewa pasangan pura-pura demi taruhan. Dengan angle dan style yang begitu membumi--mungkin salah satu representasi orang Jakarta kelas pekerja/menengah paling riil yang pernah gw tonton, toh filmnya nggak berkutat pada pertanyaan akhirnya bakal jadian atau nggak. Yang menurut gw menarik adalah film ini lebih concern pada perjalanan perasaan si tokoh utama *tsaah*, semacam kursus singkat dari yang tadinya hidup gitu-gitu aja, ketemu lagi sama sensasi mencinta dan dicinta, sampai ke "pengakhiran"-nya, yang bermain-main pada batas semu dan tidak. Bittersweet dan nuanced gimana gitu, dan semuanya sukses tersampaikan di balik roman dan komedinya yang witty. Makin menyenangkan melihat bahwa para aktor asyik banget mainnya, dan presentasi visual yang pas, nggak sok cakep nggak juga sok gritty.
My score: 8/10





4. Boyhood
(2014 - IFC Pictures)
Dir. Richard Linklater
Cast: Ellar Coltrane, Patricia Arquette, Ethan Hawke, Lorelei Linklater, Marco Perella, Libby Villari, Brad Hawkins, Zoe Graham


Late in the game yah saya, baru kesampaian nonton karena nemu DVD (resmi dong gela loe) yang diskon. Kalau dilihat sekilas film ini kayak nggak ada ceritanya, terkesan hanya menjual gimmick bahwa pengambilan gambarnya dilakukan dalam rentang dalam 12 tahun (jadi setahun sekali syuting sekitar semingguan kali ya) memakai aktor-aktor yang sama, dan tentu saja yang paling kelihatan adalah si bocah lelaki Coltrane yang mulai syuting saat umur 7 sampai 19 tahun. Namun, buat gw film ini masih tetap memikat karena menyorot secara personal pertumbuhan seorang anak laki-laki dalam keluarganya yang bisa dibilang broken home, baik dalam duka maupun sukanya, serta jadi semakin immersive karena pemerannya bertumbuh dan bertambah tua secara alami di depan mata penonton. Gw pikir-pikir pasti produser dan sutradaranya berdoa kenceng supaya para pemainnya ini nggak kenapa-kenapa sebelum syuting kelar selama lebih dari satu dekade, hehe.
My score: 8/10





5. #TemanTapiMenikah
(2018 - Falcon Pictures)
Dir. Rako Prijanto
Cast: Adipati Dolken, Vanesha Prescilla, Refal Hady, Sari Nila, Cut Beby Tshabina, Denira Wiraguna, Diandra Agatha, Rendi John, Shara Virrisya


Pada dasarnya gw searah dengan pendapat bahwa ini adalah film drama roman yang tampil manis dengan visual yang sangat-sangat enak dilihat--dan memang kemasannya cenderung stylized, mungkin karena tokoh-tokohnya emang "arteeis". Namun, salah satu poin yang perlu gw tekankan di sini adalah bahwa sejak awal film ini sudah memberitahukan ending-nya seperti apa, dan motivasi-motivasi karakternya juga terpapar jelas. Dengan rahasia semua sudah terbuka, nggak pake twist-twist-an, kok ya bisa gw tetap menikmati momen demi momen antara tokoh Ditto dan Ayu dari temenan akrab di sekolah hingga akhirnya jadian belasan tahun kemudian. Mungkin ada andil dari penataan ritmenya yang asyik serta performa akting yang kompak, jadinya, dengan segala ups and downs ceritanya, film ini berhasil menghibur. And prepare to witness Adipati Dolken's best movie performance yet.
My score: 7,5/10





6. Yowis Ben
(2018 - Starvision)
Dir. Fajar Nugros, Bayu Skak
Cast: Bayu Skak, Joshua Suherman, Brandon Salim, Cut Meyriska, Tutus Thomson, Tri Yudiman, Arief Didu, Indra Wijaya, Ence Bagus, Richard Oh, Erick Estrada, Cak Kartolo, Cak Sapari


Kisah familiar anak SMA "cupu" yang ingin bikin pembuktian lewat karya, tapi dengan suntikan elemen lokal (dalam hal ini kota Malang, Jawa Timur) yang kental. Agak berisiko untuk sebuah film yang rilis nasional, tetapi berhubung film ini melibatkan orang-orang yang know what they want to do, hasilnya adalah sebuah komedi remaja yang cukup universal dan menurut gw sih lucu. Ya walaupun ceritanya sangat been-there-done-that, pemanfaatan secuplik kehidupan anak SMA masa kini di Malang, pemakaian lagu-laggu pop-punk berbahasa Jawa, hingga penempatan gags-nya yang nggak pernah absen tapi nggak ganggu, bikin filmnya jadi seger sih.
My score: 7/10





7. Sekala Niskala (The Seen and Unseen)
(2018 - Fourcolours Films/Treewater Productions)
Dir. Kamila Andini
Cast: Thaly Titi Kasih, Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena, Ayu Laksmi, I Ketut Rina, Happy Salma, Gusti Ayu Raka


Paling tidak gw sudah antisipasi bahwa film ini tidak dituturkan seperti film-film yang biasa gw tonton. Lumayan, gw bisa terhanyut dengan setiap usaha si anak perempuan dalam menghadapi, atau bisa dibilang "mencegah" kepergian saudara kembarnya yang sakit parah, yang dimanifestasikan dengan ritual-ritual yang ia ciptakan/bayangkan sendiri. Seolah-olah tidak ada kata yang bisa mengungkapkan rasa kehilangan orang sedekat itu selain imajinasi. Di film panjang keduanya ini, Kamila sebagai sutradara mencoba tuturkan konsep kesedihan dan kedukaan seorang anak dengan simbol-simbol artsy, bikin film ini punya keunikan tersendiri. Mungkin gw akan apresiasi lebih andai presentasi visualnya bisa secerah still di atas.
My score: 7/10





8. Tomb Raider
(2018 - MGM/Warner Bros.)
Dir. Roar Uthag
Cast: Alicia Vikander, Daniel Wu, Walton Goggins, Dominic West, Kristin Scott Thomas, Derek Jacobi


Gw hampir lupa apa kesan yang gw dapat saat menonton dua film Lara Croft Tomb Raider yang dibintangi Angelina Jolie dulu. Sehingga, kemunculan Tomb Raider versi reboot ini lumayan fresh bagi gw. Pendekatannya yang seperti origin story dan petualangan yang nggak terlalu over the top ternyata lumayan bisa menghibur, terutama karena si Lara Croft-nya sendiri (oleh si mbak ca'em Alicia) jadi lebih simpatik, sehingga nggak perlu lagi terdistraksi oleh ukuran itunya.
My score: 7/10





9. Pacific Rim Uprising
(2018 - Legendary/Universal)
Dir. Steven S. DeKnight
Cast: John Boyega, Scott Eastwood, Cailee Spaeny, Charlie Day, Burn Gorman, Jing Tian, Max Zhang, Adria Arjona, Rinko Kikuchi, Karan Bar, Wesley Wong, Ivanna Sakhno, Mackenyu, Lily Ji


Sebagai penggemar Pacific Rim pertama (2013), kayaknya wajar jika merasa ada sedikit letdown dari sekuelnya ini. Sedikit sekali karakter terdahulu yang masih bertahan, dan karakter-karakter barunya juga kurang cukup waktu untuk menjadi kesukaan, serta dengan gaya penuturannya yang ekspres. Beruntung, film ini masih punya adegan-adegan seru, desain robot jaeger yang ganteng dan cantik, dan sebenarnya punya ide cerita yang sangat potensial menggenjot skala Pacific Rim sebagai sebuah franchise lebih besar--serius, menurut gw konsep ceritanya keren lho ini, walau tetap aja gw agak berharap lebih sih.
My score: 6,5/10




Rabu, 07 Maret 2018

WINNERS of the 90th Oscars (and how many I got them right)

Dan hasil Oscar ke-90 sudah keluar kemarin, saatnya ngecek sejauh apa ke(tidak)saktian gw dalam menebak para pemenangnya. Berikut adalah nama pemenangnya, dan ada tanda O kalau tebakan gw benar, dan X kalau tebakan gw salah. Here we go.



best picture
THE SHAPE OF WATER (X)
Aku salah tapi aku senang tapi aku belum nonton tapi aku tetap gembira *tangis bahagya*


directing
THE SHAPE OF WATER (O)
Horeeeee!!! Felicidades Guillermo del Toro!!! Lengkap sudah trio sahabat sineas kece asal Meksiko, Guillermo, Alejandro González Iñárritu, dan Alfonso Cuarón masing-masing dapat Piala Oscar untuk Directing, dan hebatnya dalam waktu berdekatan: Guillermo tahun ini, Alejandro tahun 2016 dan 2015 *beuh kemaruk =p*, Alfonso tahun 2014. Ah senangnya :')


actor in a leading role
Gary Oldman, DARKEST HOUR (O)
safe!


actress in a leading role
Frances McDormand, THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI (O)
safe!!


actor in a supporting role
Sam Rockwell, THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI (O)
safe!!! Si villain di film Charlie's Angles bisa juga dapat Oscar hehe.


actress in a supporting role
Allison Janney, I, TONYA (O)
safe!!!!


animated feature film
COCO (O)
Woo-hoo.


cinematography
BLADE RUNNER 2049 (O)
Akhirnyaaaaaaa.......Setelah 13 kali ter-PHP :'D. Congratulations Mr. Roger Deakins!


costume design
PHANTOM THREAD (O)
eh bener lho, hehe


film editing
DUNKIRK (O)
yeaay...


makeup and hairstyling
DARKEST HOUR (O)
yaiyalaaah...


original score
THE SHAPE OF WATER (O)
Yey.


original song
"Remember Me", COCO (X)
Haha, nggak keberatan sih.


production design
THE SHAPE OF WATER (O)
Duh 'kan jadi makin pengen nonton di layar besar ='(


sound editing
DUNKIRK (X)

sound mixing
DUNKIRK  (O)
Strategiku di dua kategori sound berhasil!!! =P


visual effects
BLADE RUNNER 2049 (X)
Bahkan yang ketiga kalinya pun trilogi prekuel Planet of the Apes nggak dapet. Nasibmu Apes, Apes...


adapted screenplay
CALL ME BY YOUR NAME (O)
Hehe.


original screenplay
GET OUT (O)
Hehe.


foreign language film
A FANTASTIC WOMAN (Chile) (O)
Nebaknya agak ngasal tapi bener =). Mungkin karena sejalan sama tema equality secara film ini tentang dan dimainkan oleh seorang transgender.


documentary feature
ICARUS (X)
Ya namanya juga tebak ngasal.


documentary short
HEAVEN IS A TRAFFIC JAM ON THE 405 (O)
Lucky guess.


animated short film
DEAR BASKETBALL (X)
wew Kobe Bryant dapat Oscar =).


live-action short film
THE SILENT CHILD (X)
Ya namanya juga tebak ngasal.




Hasilnya adalah....17 benar dari 24 kategori alias 70% persen!! *membungkuk hormat*. Lumayan lah, nilai rata-rata tebakan gw gak turun-turun amat karena masih bisa di atas setengah, hehe. 

Piala Oscar ke-90 ini jatuhnya nggak seheboh tahun lalu--halah tahun lalu hebohnya juga karena "huru-hara", juga beberapa pemenangnya pada akhirnya lumayan bisa ditebak, tetapi secara keseluruhan cukup menyenangkan. Seperti gw singgung di atas, tahun ini punya beberapa kemenangan yang menggembirakan gw sebagai penggemar film, dari Gary Oldman ke Roger Deakins ke Guillermo del Toro, hingga ke fakta bahwa Best Picture yang akhirnya terpilih adalah film bergenre fantasi bertema cinta antara seorang perempuan bisu dan manusia ikan, bukan your usual Oscar-bait dramas. Tanpa harus heboh-heboh banget di permukaan--bahkan show-nya sendiri termasuk plain saja, VT nominasinya aja standar banget, karena mungkin cari aman aja kali ya--Oscar kali ini mungkin yang paling agak "gila" sebenarnya dalam memilih pemenangnya. Apapun itu, selamat buat para pemenang, dan selamat buat kalian yang menang taruhan =P.