Selasa, 09 Februari 2010

[Movie] Sita Sings The Blues (2008)


Sita Sings The Blues
(2008 - Creative Commons Attribute-Share Alike)

Directed, Written, Produced, Animated, Designed, Edited, and everything else except specified by Nina Paley

Based on the classic Indian epic "The Ramayana" by Valmiki

Cast: Annette Hanshaw, Aseem Chhabra, Bhavana Nagulapally, Manish Acharya, Reena Shah, Sanjiv Jhaveri, Debargo Sanyal, Nina Paley



Sita Sings The Blues adalah film animasi independen yg mulai dirilis tahun 2008. "Dirilis" di sini benar2 berarti "release" karena selain pemutaran di festival2, semua orang dapat menontonnya dengan bebas dan gratis lewat situs2
streaming internet (YouTube dan teman2nya) bahkan boleh diunduh dalam berbagai format. Gratis! Seperti membajak tapi justru digalakkan a.k.a. encouraged oleh si pembuat, animator Amerika, Nina Paley (karena beliau ingin mempelopori gerakan free culture. Wah, Miss Paley, I bet Indonesians would glad to support you ^o^ V), karena teorinya, semakin banyak orang yg nonton, semakin banyak pula permintaan untuk DVD dan merchandise ekslusifnya, nice thought. Intinya, inilah film yg paling pantes disebut "independen" bahkan sampe ke distribusinya, hehehe. Tapi itu cerita lain. Sebagai sebuah film, Sita Sings The Blues adalah tontonan yg ternyata cukup unik dan segar. Bertagline "the greatest break-up story ever told", film ini bercerita tentang Rama dan Sita dari epos "Ramayana" (diangkat dari versi original India, bukan versi wayang Jawa...apa sama aja yah?) dari sudut pandang Sita, sekaligus autobigrafi dari Nina Paley tentang perceraiannya, sehingga mungkin semacam ungkapan "I feel you" Paley pada Sita, hehehe.

Film ini bercerita dari Rama dan Sita (versi Jawanya: Sinta) sudah menikah. Rama hampir diangkat jadi raja di Ayodya, tapi seorang istri raja yg bukan ibu Rama merasa iri sehingga mempengaruhi sang raja (ayah Rama) untuk menyuruh Rama mengasingkan diri di hutan selama 14 tahun. Sita sebagai istri setia pun turut. Suatu ketika, raja dari Lanka/Alengka, Ravana (Rahwana) terobsesi pada Sita lalu menculiknya. Ravana menanti Sita untuk jatuh ke pelukannya, tapi Sita tetap menunggu Rama suaminya untuk menyelamatkannya. Singkat cerita, Rama plus Hanuman (Hanoman) datang membasmi Ravana dan menyelamatkan Sita, tapi Rama ragu akan kesucian dan kesetiaan Sita, karena Sita sudah berapa lama tinggal di rumah laki2 lain. Sita pun diuji kesuciannya lewat api, dan lulus. Tapi kembali di Ayodya, Rama sudah menjadi raja, dan Sita tengah mengandung anak kembar, Rama tak nyaman dengan desas-desus di negerinya bahwa seorang raja rela menerima istrinya kembali yg udah tinggal lama di rumah laki2 lain. Untuk itu, Rama pun menyuruh adiknya, Laxman (Lakshmana) untuk mengasingkan Sita di hutan. Dalam keterupurukan, Sita bertemu guru/resi Valmiki (Walmiki) yg kemudian menuliskan kisah Rama dan Sita. Sita melahirkan anak kembar di hutan, Kush dan Luv (Kusa dan Lawa). Kush dan Luv dididik oleh Valmiki tidak untuk membenci ayah mereka, tapi justru menyanyikan puja-puji untuk Rama. Suatu hari Rama mendengar puja-puji itu, dan singkat cerita lagi, ia tahu bahwa si kembar adalah anak2 Sita, tapi Rama masih ragu apakah mereka itu anak2 dirinya. Maka untuk terakhir kalinya, Sita membuat sumpah bahwa ia setia dan anak2nya adalah anak2 Rama, dan jika demikian ia akan diterima di "rahim" Ibu Pertiwi...dan Sita pun seketika ditelan bumi, meninggalkan kesedihan dan penyesalan bagi Rama. Spoiler kah ini? ^.^


Banyak aspek menarik dari film ini. Kisah yg mengambil sudut pandang Sita ini mempersembahkan hal yg jarang digali: kemanusiaan. Okey, memang Sita adalah titisan dewi Laksmi (muncul di awal film), istri Rama yg titisan dewa Wisnu (yg selalu digambarkan berkulit biru), dan biasanya hikmah yg diambil dari kisah ini hanya pada betapa perkasanya Rama melawan Rahwana, dan betapa hebat kesetiaan Sita. Namun Sita Sings The Blues ini mengeksplor lebih jauh lagi. Bagaimana perasaan Sita ketika "dituduh" oleh suaminya, 2 kali malah. Selain itu, film ini berusaha menggambarkan betapa "dingin"nya Rama (mungkin itu sebabnya dia biru? =_=). Lewat film ini, Paley seakan-akan memberi kemenangan pada Sita, pada wanita yg "terzalimi" oleh keraguan suaminya sendiri (lihat adegan Laksmi dan Wisnu di paling akhir). Tadi, gw bilang film ini juga menampilkan autobiografi Nina Paley, dan memang dibuat seakan-akan paralel dengan kisah Sita di Ramayana. Suami Nina, Dave ditugaskan ke India untuk berapa lama, hubungan mereka renggang meskipun Nina sempat mengunjungi sang suami, dan tiba2 tanpa alasan yg jelas Dave minta pisah...


Tapi sabar dulu, semua yg gw jabarin di atas disajikan dalam bentuk kartun yg lucu dan cantik. Ada setidaknya 5 macam animasi. Ada bagian dewa-dewi di awal dan akhir yg menyimbolkan asal-usul tokoh2 kisah ini. Ada bagian kartun kasar tentang kisah hidup Nina Paley yg mirip karikatur koran. Ada bagian narasi berupa 3 orang India berbentuk wayang (versi India) yg mengobrol tentang kisah ini--konon bagian ini spontan a.k.a.
unscripted, sehingga terdengar segar dan menggelitik, karena dalam obrolan ini tak jarang orang2 ini saling lempar argumen tentang pendapat mereka mengenai epos Ramayana. Lalu ada bagian cerita inti Ramayana yg seperti lukisan kertas dengan pensil warna, tapi mulutnya bergerak mengikuti dialog ala sandiwara atau mungkin film Bollywood. Dan yg paling substansial, kartun flash 2 dimensi dengan desain karakter yg tampak original, sebagai visualisasi musikal, karena Paley menggunakan lagu2 dari penyanyi jazz jadul Annette Hanshaw ("mengisi" suara Sita) yg dipas-pasin dengan kisah Ramayana. Sita nyanyi jazz! Cerita tetap berjalan di bagian musikal ini, tapi menghibur sekali karena gerakan2 tokohnya disingkron-kan dengan irama lagu. Cara jalannya Hanuman lucu deh.



Rama, Hanuman, dan Sita, versi segmen musikal di Sita Sings The Blues


Meskipun gw bilang lucu, Sita Sings The Blues bukanlah parodi yg cenderung ke penghinaan terhadap kisah yg udah turun temurun ini, setidaknya mnurut gw. Di balik gambar2 kartun yg lucu, Sita Sings The Blues menyimpan pula unsur satir. Dialog2 tokoh Ramayana dibuat tidak ribet dan sengaja diucapkan secara kaku (biar dramatis gimana gitu), bahkan Rama seringkali mengucapkan dialog yg agak o'on (waktu mau mengasingkan Sita, Rama bilang "Say, Sita, would you like to take trip", "But we were just got here", "Yeah great, get packing", hahaha). Ini mungkin dendam pribadi Paley pada tokoh "suami". Lalu puja-puji Kush dan Luv untuk Rama, yg liriknya super nyindir, ditulis sendiri oleh Paley juga menguatkan "dendam" itu, watch it and you'll know what I mean. ^o^. Meski dalam bentuk kartun dan dialog2 serta adegan2nya tampak nggak serius, Sita Sings The Blues sukses menyampaikan sisi kemanusiaan dari Ramayana, terutama perasaan istri/perempuan, dengan caranya sendiri.

Keluhan gw buat Sita Sings The Blues hanya ada pada beberapa adegan yg seakan-akan hanya dipanjang-panjangkan, apalagi ada intermission 3 menitnya hehe. Tapi secara keseluruhan, gw suka sekali film ini. Gambar bagus, cerita dan penceritaan yg segar, lucu, menghibur, punya makna yg dalam, dan yg penting bisa ditonton gratis pula. Ayo tonton versi lain dari kisah Rama dan Sita ini. Gw jadi inget lagi cerita Ramayana gara2 film ini lho.




my score:
8/10


get it here:
http://www.sitasingstheblues.com/

Senin, 08 Februari 2010

[Movie] Wanted (2008)



Wanted
(2008 - Universal)

Directed by Timur Bekmambetov
Screenplay by Michael Brandt, Derek Haas, Chris Morgan
Screen Story by Michael Brandt, Derek Haas
Based on the comic book series created by Mark Millar and J.G. Jones
Produced by Marc Platt, Jim Lemley, Jason Netter, Iain Smith
Cast: James McAvoy, Morgan Freeman, Angelina Jolie, Thomas Kretchsmann, Terrence Stamp, Common



Wanted, barengan sama Mamma Mia!, adalah film hit 2008 yg gw lewatkan begitu saja entah kenapa pas waktu rilis di bioskopnya. Kali ini, barengan sama Mamma Mia! juga, Wanted mendapat kehormatan untuk gw sewa VCDnya dari Video Ezy yg koleksinya makin lama makin bapuk itu.
However, serius, gw bertanya-tanya kenapa ya dulu gw skip Wanted. Padahal trailernya keren penuh dengan adegan2 nggak masuk akal tapi tampak oke dilihat, premisnya menarik, ada Angelina Jolie dan Morgan Freeman pula. Dan setelah gw tonton, filmnya ternyata nggak jelek.

Diangkat dari serial komik berjudul sama, meski konon--menurut mbak Wikipedia--adaptasinya agak bebas gitu, jadi banyak banget bedanya sama versi aslinya. Alkisah Wesley Gibson (James McAvoy) adalah seorang pegawai biasa yg punya kehidupan yg
sucks: ditinggal ayahnya waktu masih bayi, bos nyebelin yg minta ditimpuk pake lemaknya sendiri, pacar yg tukang komplain, temen deket yg songong dan nilep pacarnya, serta punya "penyakit" hampir jantungan kalo lagi nahan emosi tinggi. Kalo pake bahasa ala subtitel di TV: pecundang (sebuah kata yg hampir tidak pernah diucapkan oleh orang2 Indonesia tapi entah darimana para penerjemah itu menemukannya). Suatu ketika tiba2 nongol seorang cewek berwujud Angelina Jolie (^_^'), belakangan diketahui bernama Fox (tanpa Megan pastinya), mengatakan dia kenal ayah Wesley, seorang pembunuh bayaran paling andal. Ayahnya itu baru saja terbunuh oleh Cross (Thomas Kretschmann), dan kini Cross mengincar Wesley beserta keseluruhan gembong Fraternity, "perkumpulan" pembunuh bayaran super tempat bernaungnya Fox dan ayah Wesley. Ia kemudian diboyong ke markas Fraternity dan berhasil diyakinkan oleh si bos, Sloan (Morgan Freeman) bahwa ia punya kemampuan potensial menjadi sehebat ayahnya. Singkat cerita Wesley meninggalkan kehidupan lamanya lalu dilatih oleh orang2 Fraternity untuk mengasah naluri pembunuh bayaran untuk menjadi salah satu dari Fraternity--dalam serangkaian sesi latihan yg unik--, lalu menjalankan tugas sebagai pembunuh bayaran, sekaligus bersiap-siap membasmi Cross...or so we've assumed..

Agak standar ceritanya? Tenang, ada
plot twistnya kok, cukup unexpected meski nggak terlalu ngagetin gimana gitu. Tapi selain itu, tentu saja yg dicari dalam film semacam ini adalah soal visual...dan visual di Wanted agak lain dari film2 sejenis, maklum sutradaranya orang Rusia, bukan lulusan Hollywood, jadi gayanya agak berbeda, dalam artian yg baik. Beberapa kali gw berucap "halah!" sambil nyengir setiap ada adegan2 orang lompatin gedung, mobil Fox ngangkut Wesley sambil ngepot, Wesley mukul sahabatnya pake keyboard komputer trus keys yg copot berformasi frase "f**k you", alat tambahan mirip "periskop" buat pistol, nembak tepat sasaran dari jarak jauuuuuuuuuuuuuh banget, mobil lompat jungkir balik sambil nembak orang dari atas mobil lain, dan gongnya adalah: peluru belok! (Kalo adegan di atap kereta mah biasaa, di Jakarta tiap hari orang pada kayak gitu, haha ^_^;). Weleh, sutradara film ini sinting banget sih fantasinya, dan lebih sinting lagi karena adegan2 tsb justru menghibur ketimbang jadi menjengkelkan (contoh yg menjengkelkan: Charlie's Angels: Full Throttle), karena kadung dunianya Wanted bukanlah dunia nyata, dan orang2 Fraternity adalah orang2 sakti mandraguna, jadi terima sajalah adegan2 implausible dan impossible itu.

Bisa dibilang Wanted punya bahan2 yg oke menjadi sebuah film yg sukses. Adegan
action absurdnya didukung oleh teknik kamera, efek suara dan visual yg mumpuni, editingnya juga dinamis dan nggak bikin bingung, bagous. Wanted juga punya bintang2 untuk dijual, misalnya Angelina Jolie yg sebenernya tokoh pendukung tapi mukanya di poster meuni geda pisan, aktor jempolan Morgan Freeman, lalu ada rapper Common, yg bermain baik dalam karakter mereka yang terbilang lempeng bak tokoh komik--oh, ini emang adaptasi komik ya, hihihi. Justru tokoh utamanya, aktor Skotlandia James McAvoy yg sepertinya belum dikenal luas, tapi cukup cocok memerankan loser yg jadi jagoan, meski intonasi aksen Amerikanya masih terdengar textbook. Dari segi naskah sendiri sebenernya cukup bisa mengimbangi adegan2 aksinya, nggak brilian atau gimana tapi nggak dangkal juga, tanpa terlalu dalam terjebak dalam klise ala Hollywood ataupun melankoli ala Korea, apalagi diakhiri dengan dilema yg, yaah, lumayan bikin perenungan: pilih prinsip atau nyawa. Gw cuman masih nggak ngeh sama teori relasi antara tikus, selai kacang, dan bom. Tapiii...apalah arti cerita kalau memang adegan2 aksinya saja yg dinantikan. Well, at least di film ini adegan2 aksi sintingnya masih cukup peduli untuk memberi ruang sama ceritanya agar diserap oleh gw sbg penonton.

Mungkin satu lagi hal yg nggak gw suka dari Wanted adalah
soundtracknya yg modelnya terlalu mirip2 sama Spider-Man atau DareDevil, kurang nampol, biasa ajah. Tapi di luar itu, Wanted adalah film yg sangat enjoyable baik visual, karakter, maupun plotnya. Nggak rugi ditonton, walaupun gw agak merasa rugi karena nggak nonton di bioskop dulu. How I wish I could be just like Wesley, escape from my common, potentially depressing life to find my true potential, hoho ^_^ v.


my score:
7/10


Jumat, 05 Februari 2010

[Movie] Mamma Mia! (2008)


Mamma Mia!
(2008 - Universal)

Directed by Phyllida Lloyd
Screenplay by Catherine Johnson

Based on the musical play written by Catherine Johnson

Produced by Judy Craymer, Gary Goetzman

Cast: Meryl Streep, Amanda Seyfried, Pierce Brosnan, Stellan Skarsgård, Colin Firth, Julie Walters, Christine Baranski, Dominic Cooper


Seperti gw tulis di review Nine, gw suka film musikal, itulah salah satu alasan gw akhirnya tertarik nonton Mamma Mia!, apalagi film ini memakai lagu2 lawas nan klasik dari ABBA, yg sedikit banyak pasti diketahui oleh sebagian orang, terutama kalo sering denger radio Sonora, hihihi. Tapi harusnya gw udah menduga film komedi-romantis musikal ini bakal "perempuan sekali"--bahkan jangan2 itu alasan gw baru nonton sekarang bukanya dari dulu. Tanpa bermaksud diskriminasi gender, tapi setelah cukup menonton film2 komedi romantis serta telenovela yg kebanyakan sangat "berpihak" pada fantasi wanita, gw memutuskan untuk menghindar sebisa mungkin dari film komedi romantis dan telenovela (pengecualian pada (500) Days of Summer dan Betty La Fea, because they're different), dan cukup membaca 1 chicklit berjudul Cintapuccino, yg jelas2 dari, oleh dan untuk perempuan, gw pun bersumpah nggak akan menyentuh namanya chicklit atau teenlit atau selulit (?). Gw bahkan kesal dengan bab tambahan di akhir novel Harry Poter and The Deathly Hallows yg menjurus ke arah sana. Apa maksud gw mengatakan "berpihak pada fantasi wanita"? Dari beberapa film dengan target perempuan, semuanya selalu soal mimpi dan harapan (mostly tentang cinta) di tengah situasi yg paling nggak mungkin menjadi terwujud secara terlalu mudah meski sudah lewat jalan berliku yg emosional, muter jauh2 ternyata akhirnya gitu2 juga (contoh: Mari Mar atau Twilight mungkin?). Mamma Mia!, versi film dari pertunjukkan panggung musikal berjudul sama ini agak mending karena meng-skip bagian jalan berliku emosional lalu menggantinya dengan lagu2 asik dari ABBA, tapi tetep aja penyelesaiannya terlalu mudah...atau jangan2 emang sengaja karena, sekali lagi, targetnya perempuan.

Sophie (Amanda Seyfried) tinggal di sebuah pulau di Yunani bersama sang ibu, Donna (Meryl Sheridan) yg punya hotel wisata di sana. Sophie akan menikah dengan Sky (Dominic Cooper, Jamie Cullum versi agak tinggian ^_^), dan ia ingin sekali hari bahagianya itu dihadiri oleh ayahnya yg sama sekali nggak dikenalnya, mengingat gadis 20 tahun ini dibesarkan oleh sang ibu sendiri saja, dan mungkin dengan alasan tertentu, Donna nggak pernah singgung seiprit pun tentang ayah Sophie. Maka Sophie pun punya akal mengundang diam2 ayahnya...agak ribet sebab kemungkinannya ada 3 orang (wow...tante Donna nakal ya ^.^;), dengan harapan mempertemukan mereka dengan sang ibu akan menguak misteri siapa ayah biologisnya. Mereka antara lain seorang petualang dan penulis buku Bill Andersson (Stellan Skarsgård), bankir Inggris Harry Bright (Colin Firth), dan arsitek Irlandia Sam Carmichael (Pierce Brosnan), ketiganya datang kompakan sekaligus sehari sebelum hari-H pernikahan Sophie. Sophie berusaha menyembunyikan mereka sebelum acara, tapi Donna langsung tahu dan berusaha menyembunyikan mereka dari Sophie (ugh..). Lalu ada CLBK Donna dengan ketiga pria ini, lalu ada keraguan Sky sama Sophie yg lebih berat untuk cari tau siapa ayahnya daripada pernikahan mereka. Eh, ada nyelip soal Sophie yg pengen juga keluar dari pulau rumahnya mencari jati diri ("I Have A Dream"
anyone?). Dan ada 2 sahabat yg dulu satu grup nyanyi bareng Donna, Rosie (Julie Walters) dan Tanya (Christine Baranski) memeriahkan suasana. Semuanya bernyanyi dan menari, tralala, trilili, lalu diakhiri dengan siapa jadian dengan siapa, dengan seketika dan mudahnya.

Well
, jika ditonton lewat perspektif sinis dan chauvinis, film ini biasa2 saja...o wait, I can't help it, gw nemu kekurangan2 di sana sini. Ceritanya sesungguhnya menarik sekali, bahkan plotnya dibangun cukup baik, tapi penyelesaiannya lagi-lagi terlalu cetek, seakan2 endingnya dibuat sedemikian rupa supaya sekadar filmnya selesai. Adegan2 baik musikal maupun dialog masih sangat teatrikal, sangat mungkin terpengaruh oleh penulis naskah dan sutradaranya yg adalah orang2 yg juga menggarap pertunjukan Mamma Mia! versi panggung. Sinematografi tampak biasa, tapi itu mungkin karena gw nontonnya di VCD sewaan ^_^;. Beberapa koreografi dan penempatan lagu terlihat terlalu konyol, bahkan ada lagu2 yg kayaknya gak usah ada di film ini juga nggak papa. Dan lagi, Pierce Brosnan kalo nyanyi suaranya jelek!

Tapi ya sudahlah, film ini memang tidak dibuat untuk dianggap terlalu serius. Film ini buat lucu2an. Camkan itu, dan Mamma Mia! akan jadi tontonan yg cukup menyenangkan, terima kasih kepada ABBA sebagai empunya lagu2 oke yg dkumandangkan sepanjang film,
thank you for the music lah pokoknya, hehehe. Cerita yg menarik itu pun jadinya nggak terlalu penting banget karena rangkaian lagu2nya dan sing-a-long nya lah yg akan lebih terngiang-ngiang. Gw paling suka adegan "Dancing Queen", paling seru meski agak2 nggak meaning. Penokohannya menarik, perilakunya sesuai dengan maksud bahwa film ini adalah komedi, dan untungnya dibawakan oleh para aktor, baik yg senior maupun yg junior, dengan santai, kompak, dan meyakinkan sehingga enak aja ditontonnya. Mereka begitu menikmati dan cukup berhasil menularkan mood senang itu ke gw. Lagian, kapan sih Meryl Streep mainnya jelek?

Pada akhirnya, buat gw sebagai penyuka musikal, Mamma Mia! berhasil mencapai taraf menghibur...tapi sebagai film secara keseluruhan nggak bagus2 amat sebenernya...atau mungkin karena gw laki2? Entahlah...


"
See that girl...tonetonetonetonet...watch that scene...terereret...diggin' the Dancing Queen...jreng!" ^O^/~



my score:
6/10



NB: Fyi bagi yg nggak tau, radio Sonora adalah stasiun radio FM di Jakarta (sekarang udah berjaringan di mana-mana) dengan segmen keluarga tapi lebih berat ke orang tua...bahkan dulu penyiarnya pake bahasa yg kayaknya lebih baku daripada RRI..tua beut dah, hehehe.


Rabu, 03 Februari 2010

52nd Grammy Awards / 2010


courtesy of Grammy's fanpage @ facebook

Pergelaran anugerah paling prestige bagi industri musik Amerika Serikat dan dunia baru aja kelar hari Senin pagi, 2 Februari (WIB) lalu. Tahun 2010 ini, Grammy mencoba kembali menunjukkan gengsinya sebagai pergelaran musik paling wah, dan buat gw sih cukup berhasil. Dibandingkan acara tahun lalu yg kriik kriik, tahun ini acaranya terbilang lebih menghibur.
Opening dari Lady Gaga plus Elton John yg muka2nya pada coreng moreng kayak lagi pelatihan kamuflase tentara, agak kurang mantep sih mnurut gw. Tapi "21 Guns" dari Green Day dan para pemeran drama musikal American Idiot (yg bakal memakai lagu2 Green Day) tampak bagus sekali, pun penampilan Beyonce lengkap dengan putaran kepala ala trio macan, sirkus akrobat P!nk, robot2an The Black Eyed Peas, Jamie Foxx+T-Pain+Slash+satu orang lagi gw gak tau, Dave Matthews Band yg agak Nodame Cantabile, "Bridge Over Troubled Water" dari David Foster+Andrea Boccelli+Mary J. Blige untuk Haiti, Maxwell+Roberta Flack adalah penampilan2 yg berkualitas dan exciting. Tribut untuk Michael Jackson oleh Celine Dion, Usher, Carrie Underwood, Jennifer Hudson, dan Smokey Robinson + suara asli Michael Jackson yg menyanyikan "Earth Song" juga menyentuh, walaupun VT 3-Dimensi yg digembar-gemborkan itu jelas nggak ngaruh bagi penonton TV. Eh, bahkan pemenang Best New Artist, band country Zac Brown Band ternyata cukup atraktif krn menutup penampilannya dengan musik ala koboi. Yee-haw..

Meski demikian ada juga penampilan2 yg nanggung untuk ukuran Grammy. Penampilan penutup oleh Drake, Eminem dan Lil Wayne sebenernya biasa aja (katanya banyak yg disensor yah?) tapi bolehlah. Bon Jovi menyanyikan 3 lagu, termasuk 1 lagu klasik yg dipilih secara online oleh penggemar (jatuh kepada "Livin' On A Prayer"), kesannya terlalu singkat dan nggak maksimal. Pun Taylor Swift bersama vokalis band lawas Fleetwood Mac, Stevie Nicks malah terlihat memalukan. Taylor Swift-nya fals, bahkan sering!! (entah udah berapa kali gw liat Taylor Swift nyanyi live dan selalu fals) Duh si mbak udah brapa lama sih jadi artis..?.


Ngomong2 Taylor Swift, kalo gw boleh berpendapat di sini, sejak lama gw menganggap cewek manis ini agak overrated. Lagu2nya terdengar sama semua walaupun liriknya emang menarik, diluar vokal yg lemah. Mungkin beberapa orang berpendapat sama dengan gw, sehingga nggak ridho dia menang Grammy untuk kategori sekelas Album Of The Year. Untungnya pemenang2 yg lain nggak begitu mengecewakan setidaknya buat gw--walaupun banyak juga yg gw nggak kenal hahaha. Jason Mraz akhirnya dapat Grammy setelah tahun lalu--mnurut gw--dia dirampok John Mayer di Best Male Pop Vocal dan Coldplay di Song Of The Year.
Jason said "make it mine", and Grammy replied "I'm yours" hihihi *garing*.

Some Winners:


Album of The Year
: Fearless / Taylor Swift
Record of The Year
: Use Somebody / Kings of Leon
Song of The Year
: Single Ladies (Put A Ring On It) / Beyoncé
Best New Artist
: Zac Brown Band

Best Pop Vocal Album
: The E.N.D. / The Black Eyed Peas
Best Female Pop Vocal Performance
: Halo / Beyoncé
Best Male Pop Vocal Performance
: Make It Mine / Jason Mraz
Best Pop Performance By A Duo Or Group With Vocals
: I Gotta Feeling / The Black Eyed Peas
Best Pop Collaboration With Vocals
: Lucky / Jason Mraz & Colbie Caillat
Best Traditional Pop Vocal Album
: Michael Bublé Meets Madison Square Garden / Michael Bublé

Best Dance Recording
: Poker Face / Lady Gaga
Best Electronic/Dance Album
: The Fame / Lady Gaga

Best Rock Album
: 21st Century Breakdown / Green Day
Best Rock Song
: Use Somebody / Kings Of Leon
Best Solo Rock Vocal Performance
: Working On A Dream / Bruce Springsteen
Best Rock Performance By A Duo Or Group With Vocals
: Use Somebody / Kings Of Leon
Best Hard Rock Performance
: War Machine / AC/DC
Best Metal Performance
: Dissident Aggressor / Judas Priest

Best Alternative Music Album
: Wolfgang Amadeus Phoenix / Phoenix

Best R&B Album
: Blacksummers' Night / Maxwell
Best Contemporary R&B Album
: I Am... Sasha Fierce / Beyoncé
Best R&B Song
: Single Ladies (Put A Ring On It) / Beyoncé
Best Female R&B Vocal Performance
: Single Ladies (Put A Ring On It) / Beyoncé
Best Male R&B Vocal Performance
: Pretty Wings / Maxwell
Best R&B Performance By A Duo Or Group With Vocals
: Blame It / Jamie Foxx & T-Pain
Best Traditional R&B Vocal Performance
: At Last / Beyoncé
Best Urban/Alternative Performance
: Pearls / India.Arie & Dobet Gnahore

Best Rap Album
: Relapse / Eminem
Best Rap Song
: Run This Town / Jay-Z, Rihanna & Kanye West
Best Rap Solo Performance
: D.O.A. (Death Of Auto-Tune) / Jay-Z
Best Rap Performance By A Duo Or Group
: Crack A Bottle / Eminem, Dr. Dre & 50 Cent
Best Rap/Sung Collaboration
: Run This Town / Jay-Z, Rihanna & Kanye West

Best Compilation Soundtrack Album For Motion Picture, Television Or Other Visual Media
: Slumdog Millionaire / Various Artists
Best Score Soundtrack Album For Motion Picture, Television Or Other Visual Media
: Up
Best Song Written For Motion Picture, Television Or Other Visual Media
: Jai Ho (From Slumdog Millionaire)

Best Short Form Music Video
: Boom Boom Pow / The Black Eyed Peas


complete winners @
grammy.com

Kamis, 28 Januari 2010

[Movie] Nine (2009)


Nine
(2009 - The Weinstein Company)

Directed by Rob Marshall

Screenplay by Michael Tolkin, Anthony Minghella

Based on a musical play by Arthur Kopit, Maury Yeston

Based on the story by Mario Fratti

Inspired by the 1963 Italian film "8½" by Federico Fellini

Produced by John DeLuca, Marc Platt, Harvey Weinstein, Rob Marshall

Cast: Daniel Day-Lewis, Marion Cotillard, Penélope Cruz, Nicole Kidman, Kate Hudson, Judi Dench, Fergie, Sophia Loren



Gw adalah salah satu orang yg suka dengan film musikal. Gw sedih ketika Moulin Rouge! memble di Oscar 2002, dan amat sangat nggak keberatan ketika Chicago, film yg disutradarai oleh Rob Marshall, menang Best Picture di Oscar 2003 lalu. Mnurut gw kedua film itu berhasil secara hiburan maupun artistik, bukan sekedar orang2 yg bernyanyi dalam cerita. Kalau Moulin Rouge!-nya Baz Luhrmann bentuknya semacam
tribute film2 musikal klasik serta film2 India, maka Chicago berhasil membawa excitement yg setara menonton pertunjukan musikal di teater broadway (kayak gw pernah aja ^_^;) dengan tetap berpegang pada kemasan sinematik—selain materi ceritanya yg memang bagus dan nyentil—lewat visualisasi "dua dunia": dunia nyata, dan panggung musikal dalam imajinasi tokoh sebagai simbol ungkapan hati (smacam penyempurnaan dari serial Ally McBeal, haha). Rob Marshall kembali mencoba melakukan hal yg kira2 sama, memfilmkan pertunjukkan musikal yg terkenal, Nine, yg diilhami film Italia 1960-an yg—konon—merupakan masterpiece, 8½. Selain sebagai event kembalinya tim sukses dari film Chicago, Nine juga memasang aktor2 kelas hiu sebagai bahan jualannya. Gw perhatiin banyak kritikus yg kurang suka film Nine, mungkin karena film ini dianggap kualitasnya jauh dari film sumber aslinya. Good thing I never know that old movie, hehe.

Guido Contini (Daniel Day-Lewis) adalah seorang sutradara terkenal Italia di tahun 1960-an yg banyak menelurkan film2 sukses. Begitu sukses sehingga ia pun dituntut untuk terus membuat film sukses. Suatu kali produser udah menentukan film yg akan dibuat Guido, bahkan udah ada judulnya, "Italia", dan udah ada
press conference, padahal ide cerita filmnya aja belum ada! Tak tahan, Guido pun nekad kabur ke kawasan wisata yg jauh. Perekat plot film ini adalah bagaimana dalam tekanan, kebingunan dan kebuntuan, Guido harus berhasil membuat film "Italia" itu. Guido pun mulai mencari pelampiasan sembari mencari ide cerita filmnya, dan yg ada dalam pikirannya adalah 7 wanita yg lalu lalang sepanjang hidupnya, masing2 punya makna tersendiri. Istrinya, Luisa (Marion Cotillard) adalah wanita yg jadi "milik" resmi Guido yg senantiasa mendukungnya, tapi justru yg paling nggak ia pedulikan. Carla (Penélope Cruz) adalah istri orang yg sudah lama bermain api dengan Guido sebagai pelampiasan hasrat badaninya. Lalu ada Claudia Jenssen (Nicole Kidman), selalu menjadi bintang dalam film2 Guido, serta lewat dialah Guido selama ini selalu memperoleh inspirasi. Lili (Judi Dench), penata busana film2 Guido yg selalu menjadi rekan kerja dan rekan diskusi yg nggak pernah salah. Juga ada wartawan fashion Amerika, Stephanie (Kate Hudson) yg nge-fans sama Guido serta film2nya, and a little bit more. 2 wanita lainnya muncul dari kenangan masa lalu Guido: Saraghina (Fergie), pelacur yg pertama kali "mengajar" Guido yg waktu itu berumu 9 tahun tentang cinta dan wanita (no..it's not what you think), yg sedikit banyak mempengaruhi cara Guido menggambarkan wanita dalam film2nya yg tampil sensual dan kerap bugil; lalu mendiang sang Mamma (Sophia Loren), yg mungkin satu2nya wanita yg Guido tau cara mencintainya.

Kenapa musti ada wanita2 ini, yg satu per satu bernyanyi dan menari di studio imajinasi Guido (di film ini)? Itulah yg bikin gw agak
loading waktu nonton dan untungnya dibayar cukup lunas di bagian akhir. Dengan kata lain film ini mungkin akan masuk kategori "nggak jelas" bagi sebagian orang. Tapi mari gw coba mengungkapkan apa yg gw tangkep. Kenapa Guido nggak nemu2 ide cerita? Setelah film ini hampir abis gw baru ngeh bahwa Guido yg udah tua punya imajinasi yg masih stuck berkeliaran di usia 9 tahun, makanya kalo adegan nyanyi Guido main panjat2an di set studio kayak di mainan mistar di TK itu loh. Jiwanya yg 9 tahun itu hanya mau segala sesuatu sesuai dengan kemauannya, nggak mau disuruh-suruh sebagaimana ia sekarang ini—makin disuruh malah makin ngeyel. Tibalah kini saatnya ide2nya sudah habis, dan di sinilah kekanakan jiwa Guido musti dihadapkan pada akumulasi masalah dunia nyata yg selama ini tanpa sadar dipupuknya sendiri. Luisa, yg tadinya adalah seorang aktris, udah capek mengalah dan berkorban demi kesuksesan suaminya yg rajin menjamah perempuan2 di pergaulannya, dengan bonus rajin berbohong. Carla tak segan bertindak nekad demi mendapat cinta Guido—bukan sekadar hubungan badan, meski harus membahayakan perkawinannya sendiri. Claudia kali ini ogah memberi inspirasi buat Guido, ia pun ingin dicintai Guido tapi sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai wanita "buatan" Guido sebagaimana dalam film2 karyanya. Mereka sudah tak mau lagi jadi "agen kepuasan" Guido. Guido pun mulai tersadar lewat pertemuannya dengan Stephanie, ia begitu mudah terlena pada hal2 yg menyenangkan dirinya, tapi langsung kabur kalo keadaan lagi nggak enak. Mau lari ke mana? Ke Mamma? Sorry, she's dead already. Guido dipaksa jadi dewasa, harus, sekarang...and I just spoiled quite a lot there ^_^;

Proses pendewasaan kembali Guido ini dirangkai dalam adegan2 yg diselingi dengan nyanyian dan tarian persis kayak gaya film Chicago. Paruh awal Nine sangat
entertaining, naik-turun mood adegan dan lagu2nya disusun enak, tapi lama2 kerasa juga durasi film ini di tengah2 ketika adegan lagunya mulai berasa kebanyakan (padahal separuh dari "playlist" pertunjukkan aslinya udah dipangkas lho), nguap ya nguap deh. Mungkin memang tuntutan naskahnya yg ingin segala sesuatunya berjalan tidak terburu-buru, apalagi mengingat salah satu penulis naskahnya adalah almarhum Anthony Minghella, sutradara The English Patient dan Cold Mountain yg puitis sekaligus boring itu, pengaruhnya masih ada sedikit. Namun di luar itu, gw nggak punya hal lain untuk diprotes. Dialog2nya bagus, situasi dan permasalahan yg dialami serta solusi yg dibuat Guido digambarkan sangat riil dan menguatkan pesan film ini. Teknis? Oh, my...ini adalah hattrick dari Rob Marshall setelah sukses membuat mata dimanjakan oleh kekompakan tata artistik, kostum, tata cahaya dan sinematografi plus musik sebagaimana di Chicago dan Memoirs of a Geisha. Lagu2 (walau nggak langsung nancep di kuping) dan koreografinya pun nggak kalah asik disimak. Pokoknya penataan adegannya, baik yg dunia nyata maupun dunia "panggung"nya okeh sekali deh (dan Rob Marshall kayaknya masih suka dengan gambar asap rokok dan lampu blitz kamera). Adegan perkenalan para wanita Guido di awal film ditata begitu keren; adegan ini impactnya sama kayak prolog di film2 James Bond, penggugah selera. Lain dari itu, gw bahkan sampe tepuk tangan (tanpa suara dong pastinya) sehabis bagiannya Fergie nyanyi "Be Italian" ditemani tamborin, bangku dan pasir. Mantaf...



Saraghina (Fergie) menyanyikan "Be Italian"; the scene that made me applaud.


Soal aktor yg jadi daya tarik utama film Nine,
let me say this: nama tenar emang nggak ngebo'ong ^_^. Daniel Day-Lewis dan Judi Dench adalah dua orang yg nama2nya aja adalah sinonim dari kata "kualitas". Marion Cotillard yg terlihat lebih anggun dan cantik daripada di Public Enemies sukses abis menunjukkan kelasnya. Penélope Cruz luar biasa total berakting, selain luar biasa rrrr...@.@, awesome. Fergie, Nicole Kidman, Kate Hudson dan Sophia Loren yg munculnya sebentar2 pun tampil berkesan.

Overall
, buat gw Nine adalah film yg bagus. Hanya saja, emang nggak se-entertaining dan se-fun Chicago, dan durasinya sangat potensial membuat mata mepet pada jurang kantuk, itu juga lebih karena visualisasinya tak jarang terlalu"simbolik" sehingga sekali waktu bikin bingung "ini maksudnya apa yah?". Ceritanya nggak biasa, malah mungkin nggak terlalu menarik bagi banyak orang, belum lagi kenyataan bahwa nggak semua orang suka dengan gaya film musikal macam ini, apalagi menggunakan gerak dan lagu sebagai simbol keadaan hati, bukannya alih2 menjelaskan cerita. Beberapa temen yg nonton bareng gw bilang adegan penutupnya agak gantung, tapi bagi gw nggak juga. Adegan penutupnya sempurna untuk cerita film ini, gw seneng dengan simbolisasi dan apa yg disimbolisasikan—selain karena adegannya ditata dengan cantik. Guido nggak lagi bergantung pada orang2 yg selama jadi pelariannya, semua sudah ada di belakangnya. Now, Guido is finally in control of himself, on his lap ^_^ (kurang spoiler apa coba gw haha...tapi teteplah tulisan gw nggak mungkin bisa mendeskripsikan eksekusi filmnya sendiri secara utuh). Dan gw jadi rada penasaran, versi adaptasi-kuadratnya aja udah begini oke dibilang jelek, gimana film sumber aslinya yah?



my score:
7,5/10


NB:

- Penerjemahnya (di bioskop) kurang oke nih, agak susah dinalar. Masa lupa bahasa Indonesianya "script" itu apa? Hmm, memang belum ada yg bisa sejago almarhum Rashid Rachman.

Minggu, 24 Januari 2010

My Top 5 Cinema

Setelah cukup lama malang melintang di dunia pernontonan, dan menyambut menjamurnya bioskop2 selama 2 tahun terakhir ini, gw iseng2 nih ngedaftar 5 bioskop yg paling gw suka. Perlu diingat ini sangat subjektif, karena gw hanya menilai tempat2 yg pernah gw kunjungi, which is gak jauh2 dari tempat tinggal gw di Bekasi, Jawa barat, sebuah kota suburban tepat di timur Jakarta yg dengan sombongnya udah punya 7 pusat perbelanjaan (mall dan yg- maunya-mall), dan semua kecuali satu punya bioskop 21...karena yg sisa satu bioskopnya sedang dalam tahap pembangunan (kali ini Blitz Megaplex) =_=. Tapi sepertinya, nggak semua wakil Bekasi jadi favorit gw..we'll see...

Beberapa bioskop yg jadi nominasi tapi gagal masuk daftar antara lain: Semanggi 21 (Plaza Semanggi, deket banget sama kantor) yg emang agak sering tapi bioskopnya standar saja; Hollywood KC 21 (Planet Hollywood/Hotel Kartika Chandra) yg enak dan murah tapi parkirnya muahal, Plaza Indonesia XXI (Plaza Indonesia Extension/eXX) yg sebenarnya enak, tapi kecil2 dan terletak di mall semi-museum yg nggak punya tempat makan dengan harga terjangkau; Djakarta Theater XXI yg dulu sempat jadi favorit tapi belum gw kunjungi lagi semenjak renovasi; dan Blitz Megaplex GI (Grand Indonesia) yg memang cineplex terbesar dengan studio terbanyak serta punya 2 layar bioskop tergede se-Indonesia, tapi sound-nya senantiasa bergaung dan bergema.

Dan akhirnya, saudara-saudara, inilah 5 bioskop kesukaan gw, dalam urutan mundur:



5. Gading XXI
– Mall Kelapa Gading III Lt.3, Jl. Boulevard Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara –

Sejak nggak dapet tiket nonton Petualangan Sherina setelah antre 1 jam lebih zaman dahulu kala, gw bersumpah nggak akan nonton di Gading 21 lagi. Sayang sumpah itu harus dilanggar untuk nonton E.T. 25th anniversary, ^_^'. Tapi untungnya, Mall Kelapa Gading kemudian menjadi mall yg besar dan menambah satu bioskop lagi dengan kualitas dan kenyamanan lebih mumpuni: Gading XXI. Kalo gak salah ini adalah bioskop XXI kedua setelah Studio XXI eX. Namun, Gading XXI adalah semacam versi downgrade dari pendahulunnya: studio lebih kecil dan kursi yg lebih standar, yg kemudian jadi model baku bioskop XXI di manapun di negeri ini. Gakpapa sih, masih tetep enak, kualitas teknisnya bagus (tapi gw sempet mengalami mati lampu di sini, hehe), harganya cukup fair (sekarang 20rb Senin- Kamis, 25 rb Jumat, 35rb weekend+libur), film2nya pun selalu update. Faktor lain yg bikin gw suka bioskop ini adalah....Mall Kelapa Gading, hehehe. Ini salah satu mall terfavorit gw se-Indonesia, enak buat jalan2 dan ada toko2 serta tempat2 makan yg gw senengin. Tapi gw udah jarang banget sih nonton di sini. Disebabkan oleh letaknya yg cukup jauh dari rumah (walau bisa ditempuh dalam waktu cepat), tapi terutama jika film2 yg ditayangkan sama, gw lebih memilih nonton di bioskop yg "no.1" di daftar ini, you'll see why.

pintu depan Gading XXI, entah tahun kapan. Courtesy of skyscrapercity.com




4. Blitz Megaplex PVJ

– Paris Van Java Resort Lifestyle Place Jl. Sukajadi, Bandung (biang macet) –


Siapa yg iseng udah capek2 jalan ke luar kota tapi malah cari bioskop? Oh, ada. Saya! Hahaha. Mendengar ada bioskop baru (yg saat itu baru "akan jadi" jaringan) di Bandung, apalagi ada sebuah film yg hanya ditayangkan di sana (The Queen), dan ketika ternyata keluarga gw sedang
ingin jalan ke Bandung, langsung deh gw minta didrop di Paris Van Java untuk nyoba si bioskop baru ituh. Sampe sekarang gw baru 3 kali nonton di situ dan gw menganggap Blitz PVJ adalah salah satu bisokop yg paling nyaman dari semua yg gw kunjungi. Suasananya tuh sangat friendly, cozy, nggak kelewat mewah, nggak tensi, asik lah. Harga tiketnya terbilang murah (paling mahal 27rb, dan itu weekend+libur) meskipun tetep lebih mahal dari jaringan 21/XXI di kotanya. Tata letak seatnya enak (kemiringan step-nya nggak bikin pandangan kita kehalang sama kursi depan, dan kursi yg paling depan pun nggak harus nge-dongak banget. Bravo Blitz!) dengan layar termasuk besar yg memang adalah jualan utama jaringan Blitz. Sound dan pengoperasian proyektor juga bagus (pergantian rol nggak kentara). Sbenernya gw bilang Blitz PVJ lebih bagus ketimbang "adiknya" yg lebih bongsor, Grand Indonesia. Jajanannya juga lebih terjangkau harganya...tapi itu dulu T_T, sekarang udah mendekati "harga Jakarta", sebagaimana harga2 barang di Bandung saat ini. Kekurangannya cukup jelas, letaknya 2,5 jam dari rumah gw, tapi itu sih bisa dimaklumi, kan beda kota. Tapi kekurangan yg utama justru disebabkan oleh distributor film yg kerap menganaktirikan market Bandung, banyak film2 yg highly-anticipated datangnya telat (padahal nggak hamil ^_^')...walaupun gara2 ini juga gw punya kesempatan nonton Watchmen kedua kali hehe. Tapi gak papa lah, overall Blitz PVJ hade euy.


Lobi dan loket Blitz PVJ. Courtesy of manggamuda.com




3. Studio XXI eX

– Plaza Indonesia Entertainment X'nter (eX) Lt.2, Jl. M.H Thamrin, Jakarta Pusat (gedung kubus2 berwarna warni di belakang Kedubes Jepang, perpanjangan Plaza Indonesia) –


Belum lama ini gw nonton Avatar di sini, setelah terakhir gw menginjakkan kaki 2 tahunan sebelumnya di bioskop pertama di Indonesia yg menyandang label "XXI" ini. Meskipun jarang, kesan yg tertinggal dari bioskop mewah ini selalu tetap sama: kursi...or should i say: kursi malas. Guys, kursinya wueeeeenak banget. Mirip sofa dari beludru, empuk. Di sinilah satu2nya tempat gw bisa ketiduran pas nonton. Tak perlu kuatir menyenggol atau mencium "aroma" tetangga, ukuran kursinya sangat memungkinkan gw untuk duduk dalam versi posisi apa saja. Layar dan sound bagus, maksimalnya 21/XXI lah, karena semua 4 studionya THX Certified, nendang abis. Dulu bioskop ini harganya mahal banget, jadi gw paling hanya nonton film2 tertentu (Lord of The Rings, Harry Potter, King Kong, Memoirs of A Geisha among others), sekarang karena banyak saingan, jadinya sedikit dimurahin, tapi tetep aja tiket bioskop ini adalah 21/XXI paling mahal (25rb Senin- Kamis, 35 rb Jumat, 50rb weekend+libur) barengan Plaza Senayan XXI. Letaknya cukup strategis kalo dari kantor bahkan rumah gw walaupun memang nggak deket. Sepertinya sampe saat ini Studio XXI eX tetep jadi yg teristimewa dari jaringan 21/XXI, desain interiornya pun paling bagus. Ada harga ada barang, T-T.


Kali ini gw foto sendiri pake handphone, mau nunjukkin kursinya eX XXI yg okeh sekali itu...tapi gw emang gak bakat jadi paparazzi, maap yah T_T





2. Blitz Megaplex MOI

– Mall Of Indonesia Lt.2, Jl. Boulevard Barat Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara (tersembunyi di balik ruko2 Kelapa Gading Square, entah ide bodoh siapa itu) –

Pada mulanya gw agak eneg mau ke sini, itu semua gara2 letaknya ada di kompleks terpadu (mall, ruko, rukan, apartemen) Kelapa Gading Square yg program acara pemasarannya wara-wiri di televisi kita, yg dipandu oleh Feni Rose dan ibu Evelyn Setiawan sebagai wakli
marketing Agung Sedayu Group (dengan jargon2 andalan: letak strategis, semua serba lengkap, harga terjangkau, marketing gathering hari minggu, hari senin harga naik...hoeek). Tapi atas nama coba2, gw jabanin juga tempat ini...eh, malah kepincut jadinya. Layar besar pasti, operator proyektor jago , soundnya okeh (nggak menggema seperti di Grand Indonesia), desain interior cukup bagus, tata letak seatnya enak banget, dan yg penting harga paling murah diantara Blitz di Jakarta (20rb Senin-Kamis/35rb Weekend+libur), meskipun lagi2 masih lebih mahal dari 21/XXI yg ada di kawasan yg sama. But, hey, I like it very much. Kekurangannya cuman ada di kursi khas Blitz yg sandarannya flexibel (jadi nggak menahan badan, pegel dah), dan lokasinya lumayan jauh dari rumah atau kantor, sekitar 45 menit, itu pun kalo nggak macet, jadi effortnya harus lebih besar (siapin uang tol, parkir, makan kalo2 laper). But still, ini adalah bioskop Blitz yg terbaik mnurut gw.


Auditorium 1 Blitz MOI, courtesy of blitzmegaplex.com




1. Mega Bekasi XXI

– Mega Bekasi Hypermall (a.k.a. Giant Bekasi, karena tulisan Giant (hipermarket)nya lebih gede daripada judul mallnya), lt. 5 alias atap, Jl. Ahmad Yani, Bekasi, Jawa Barat (tepat depan gerbang tol Bekasi Barat) –

Banyak faktor yg membuat gw memilih bioskop ini menjadi favorit no.1. Gedung yg seakan2 "beda dunia" dengan Mega Bekasi Hypermall di bawahnya (karena lebih mirip pasar/ITC versi sangat kacau) ini hanya 10-15 menit naik mobil dari garasi rumah gw sampe parkir, jadi nonton jam malem pun nggak masalah. Harga tidak mahal (15rb senin-kamis, 20 rb jumat, 25 rb weekend+libur). Biaya parkirnya pun sangat bersahabat, maksimal 6rb rupiah saja. Secara teknis dan desain bioskop, XXI berstudio 7 ini sama sekali nggak memalukan. Lobby nya
mungkin yg paling luaaas dari semua franchise 21/XXI, soundnya maupun pengopersian proyektornya cukup oke (walau sebenarnya belum maksimal). Oh, dan sepertinya, studio 1 dan 2 nya kapasitasnya paling besar dari antara semua jaringan 21/XXI, persis Plaza Senayan 21 dulu sebelum renovasi. Malah sekarang udah ada bioskop 3Dnya. Complete package. Sayangnya, film2 yg ditayangkan sesuai dengan "market" Bekasi, jadi sebagian besar adalah film2 nasional (terutama horror, laku deh) atau Hollywood populer (pasarnya kebanyakan remaja sobat Bekasi alias Sobek hehehe). Bahkan Star Trek pun gak sampe tayang di sana. Kayaknya juga Mega Bekasi XXI jadi semacam pusat keramaian yg memang ramai, tiap malem ada live music di Cafe XXI nya yg letaknya di "halaman" luar bioskop, yg kadang pula suaranya tembus ke dalam studio bioskop ^_^;. Tapi bagaimanapunjuga, Mega Bekasi XXI tetep bioskop pilihan utama gw: dekat, murah, nyaman, kualitas cukup.


Jepretan gw untuk lobi dan tampak luar Mega Bekasi XXI. Not just a bad paparazzi, I'm simply not a good photographer Y___Y



So, fellas, mari ke bioskop! ^O^


Rabu, 20 Januari 2010

Nonton Avatar dalam format 3D


Avatar adalah film yg digembar-gemborkan sebagai pencapaian termutakhir teknologi film saat ini, dan memang dibuat untuk disaksikan dalam format 3-dimensi, apalagi si James Cameron sang sutradara/penulis/produser sendiri yg meng-invent kamera khusus 3D yg konon lebih canggih dari yg sudah ada. Okelah, apa artinya sesumbar kalau belum dibuktikan....dan buktinya, gw nonton 2 kali dalam format 3D, hahaha *korban kapitalisme*.

Sebelumnya gw udah nonton Avatar versi normal sebagai tontonan bisokop penutup tahun 2009. Gw agak "terpaksa" nonton dalam versi normal, 2 hari setelah jadwal rilis karena rangkaian alasan berikut: 1. Pengen nonton secepatnya, sebelum tahun 2009 berakhir, biar gaul getoh; 2. Hanya sempet nonton Sabtu atau Minggu, karena Seninnya (21 Desember) berangkat road trip sekeluarga mudik ke Denpasar; 3. Nonton dalam format 3D di hari Sabtu dan Minggu (plus Jumat) adalah bunuh diri karena harga tiketnya dua kali lipatnya Senin-Kamis, yg notabene udah 2 kali lipatnya harga tiket non-3D—duit dari mane bang? Untuk itu, gw memutuskan untuk nonton dalam format biasa, dan cukup worth it (nonton di Plaza Indonesia eX XXI emang maknyuss).

Setelah itu, blantika perbioskopan gw di tahun 2010 diawali dengan menonton Avatar 3D bareng beberapa teman sekantor. Berdasarkan pengalaman, nonton film 3D buat gw lebih mending di Blitz Megaplex dibandingkan XXI, lebih mahal sih tapi kacamata RealD 3D di Blitz lebih nyaman bagi gw yg berkacamata. Karena itulah kami memilih nonton di cabang Blitz di mall Pacific Place (itu loh, yg pernah ada wanita muda dibunuh di tangga darurat =_=;). Ternyata, wow, cukup puas. Janji2 teknologi itu memang terbukti. Gw bener2 bisa ngeliat "ruang" di dalam layar dan sesekali beberapa benda keluar layar, gambarnya terang pula, nggak terlalu bikin pusing. Gw paling suka berkas2 cahaya matahari yg nyorot hutan Pandora, bener2real. Dalam format 3D ini juga gw memperhatikan banyak banget serangga yah di film ini ^o^'.

Entah kenapa, seminggu kemudian gw terpanggil lagi untuk nonton Avatar dalam format 3D. Kali ini sendirian, gw memilih nonton di Blitz di Grand Indonesia (itu loh, yg ada orang lompat dari lantai 5 =_=; Kenapa gw nontonnya di situs2 TKP gini yah?) terutama karena layar di sana lebih besar. Percobaan pertama gagal karena diwarnai dengan insiden hilangnya handphone di bus TransJakarta, damn! Tapi gw keukueh mau nonton hari berikutnya dan berhasil ^o^;. Overall, hampir sama seperti pengalaman nonton sebelumnya, plus layar yg lebih gede, cuman sayang sound bioskopnya tidak se-mantap di Pacific Place apalagi di eX XXI. Tapi okelah, kapan lagi nonton Avatar dalam format 3D, di DVD kan nggak bisa.

Lucunya, meskipun nonton dalam format 3D, toh gw bukannya mencari-cari kapan efek 3Dnya akan keluar. Baik versi normal maupun 3D, Avatar "memaksa" gw untuk nonton "film"nya, bukan hanya gambar 3 dimensinya, which is a good point. James Cameron membuat filmnya sedemikian rupa sehingga teknologi canggih dalam Avatar tidak mengalihkan perhatian penonton pada filmnya sendiri, efek2 3D nya nggak ada yg terkesan maksa "supaya keliatan 3D", semua terlihat pas dan tepat. Well done, Sir.

Dalam review gw kmaren setelah nonton versi normal, gw bilang nilainya "segitu" dulu (8,5/10) karena belum nonton versi 3D yg konon adalah format yg pantas. Tapi setelah nonton versi 3D, dua kali bahkan, gw nggak terbebani untuk menaikkan atau menurunkan nilainya. Setiap kali nonton ulang, gw merasa "nilainya memang pantas", berbeda dengan setiap kali gw nonton Star Trek yg kayaknya nilai dari gwnya naik terus. Ceritanya tidak terlalu baru, endingnya rada predictable dan durasi yg kerasa lamanya masih jadi faktor yg membatasi gw memberi nilai lebih tinggi. APALAGI nih ya... di format 3D nggak ada adegan Jake dan Neytiri "mating before Eywa"!! What? Why? Kali ini bukan ditutupin secara manual kayak waktu nonton Star Trek di teater IMAX Keong Emas, tapi emang udah di-edit dari sononya. Apakah adegan "begituan" belum pantas disaksikan secara 3D? Yaelah, bukan orang beneran aja kok musti dipotong siy. Maka, lengkaplah keputusan gw nggak menaikkan nilai film ini (kurang meyakinkan yah, hihihi).

Eh, denger2 Avatar ini mau maen juga di Teater IMAX Keong Emas TMII lho (seperti biasa info di media kurang jelas, musti nelpon ke call centernya sepertinya). Mungkin berformat IMAX biasa, belum 3D, dan mungkin adegan "mating before Eywa" nya juga hilang...hmm, I think I'll skip it. ^m^



My score 8,5/10



NB: Oh btw, Avatar baru aja menang Best Motion Picture Drama dan Best Director dalam Golden Globe Awards. Congragulations (?). Gw suka sih film ini, tapi kalo menang film terbaik rasanya agak gimanaa gitu... ^_^;


Minggu, 17 Januari 2010

[Movie] The Princess and The Frog (2009)



The Princess and The Frog
(2009 - Walt Disney)

Directed by Ron Clements & Jon Musker

Story by Ron Clements, John Musker, Greg Erb, Jason Oremland

Screenplay by Ron Clements, Jon Musker, Rob Edwards

Produced by Peter Del Vecho

Cast: Anika Noni Rose, Bruno Campos, Keith David, Michael-Leon Wooley, Jennifer Cody, Jim Cummings, Terrence Howard, Oprah Winfrey, John Goodman



Nggak lama gw menonton ulang film animasi gambaran-tangan (terjemahan
hand-drawn animation, menurut Kamus Bahasa Indonesia-edisi saya) produksi Walt Disney terakhir yg berbentuk musikal--you know, yg tokoh2nya bernyanyi, yaitu Mulan yg aslinya dirilis 1998 (Tarzan ke sini udah gak gitu lagi bentuknya bukan? gw gak tau deh Home On The Range kayak gimana), baru2 ini gw nonton The Princess and The Frog yg kembali ke format itu, yg dirilis 11 tahun setelah Mulan. Disney akhirnya eling bahwa this is what they do best, setelah sebelumnya pertengahan tahun 2000-an ada orang tolol (CEO Disney, udah gak lagi siy kayaknya) yg memutuskan secara sepihak bahwa animasi tradisional (bukan animasi komputer 3 dimensi ala Pixar) udah ketinggalan zaman dan tidak menguntungkan lagi, sehingga departemen yg memproduksi film macam ini ditutup aja gitu, dengan produksi terakhir adalah Home On The Range di tahun 2004 yg emang rugi bandar. Untung aja dedengkot Pixar, John Lasseter, yg juga jadi salah satu petinggi Disney sekarang, masih punya hati dan otak untuk membuka kembali departemen animasi tradisional Disney. Entah gw baca dimana, tapi sempat Lasseter yg pecinta animasi format apapun ini mengeluarkan quote "hand-drawn animation had become a scapegoat for bad storyteling." Benar sekali, kalo sebuah film ceritanya jelek ya jelek aja, entah itu tradisional, 3D atau live action sekalipun. Buktinya Lilo & Stitch yg lahir di era maraknya 3D sukses tuh. Jadi pada akhirnya Disney menelurkan animasi tradisional pertama mereka setelah "kantor"nya buka lagi. Selain film yg "kembali-ke-asal": dongeng, putri, lagu2, magic; film ini juga jadi sejarah karena animasi Disney pertama yg menampilkan tokoh utama putri berkulit hitam.

Dibilang putri juga bukan sih. Jadi film bersetting di New Orleans, Amerika Serikat di era kelahiran musik jazz awal 1900-an ini terinspirasi dari dongeng Pangeran Kodok--seorang pangeran yg kena kutuk jadi kodok dan bisa kembali ke bentuk semula kalau dicium seorang putri yg mencintainya,
as simple as that. Tapi akan panjang sekali kalau gw menceritakan jalan cerita film ini dari awal, latar belakang cerita The Prince and The Frog sendiri agak kompleks. Tiana (Anika Noni Rose) adalah seorang pelayan di dua tempat siang dan malam untuk mengumpulkan uang agar bisa mewujudkan impian tak terwujud dari mendiang ayahnya (Terrence Howard): membuka restoran sendiri. Jadi, Tiana itu miskin dan pekerja keras,how realistic. Ia bersahabat dengan anak orang kaya nan manja, Lottie (Jennifer Cody) sejak kecil karena sang ibu Eudora (Oprah Winfrey) adalah penjahit langganan membuat gaun2 ala putri2an untuk Lottie. Suatu ketika dalam pesta Mardi Grass di rumah Lottie, karena satu dan lain hal, Tiana berpakaian ala putri dan bertemu dengan seekor kodok....yg bisa ngomong! Si kodok mengaku sebagai Pangeran Naveen (Bruno Campos) dari Maldonia, yg sedianya akan bertemu dan dijodohkan pada Lottie, tapi malangnya ia bertemu dengan penyihir sirik, Dr. Facilier (Keith David) dan mengubahnya jadi kodok. Iseng2 percaya sama dongeng pangeran kodok, Naveen minta Tiana menciumnya biar bisa jadi manusia lagi--fyi, si Naveen kira Tiana itu putri. Namun apa yg terjadi adalah...emm...yg tidak diharapkan *kalo gw kasih tau spoiler gak yah?* eh tapi di trailernya udah ketahuan, yaudah deh: malah Tiana ketularan jadi kodok! Selanjutnya mereka berdua pergi berpetualang bertemu dengan berbagai tokoh dengan tujuan utama "menyembuhkan" wujud mereka. Well, at least that's what they want.

Gw lumayan suka
twist dari dongeng pangeran kodok di sini, sehingga jalan ceritanya tidak terlalu mudah ditebak walaupun memakai formula animasi Disney yg klasik (happy ending love story dan lagi2 penjahatnya jahat karena jahat). Seperti yg gw bilang muatan yg dibawa film ini agak kompleks. Si "putri" kita Tiana akan gampang disukai bukan hanya elok rupa dan--di akhir kisah--beruntung, tapi karena dia independen dan dapat diandalkan yg dihasilkan dari pergumulan hidupnya yg jika direnungkan terasa amat riil (apalagi ia dari keluarga miskin...dan dari kulit berwarna, perlu diingat ini settingnya Amerika awal 1900-an). Latar belakang pangeran Naveen pun juga nggak terlalu konyol: pangeran hidupnya boros dan urakan sehingga orang tuanya a.k.a. raja+ratu Maldonia menyetop sama sekali suplai biaya hidupnya, maka dia datang ke New Orleans mencari anak wong sugih untuk dinikahi (yang akan saling menguntungkan, Naveen bakal kebagian duit, Lottie bakal dapet gelar putri sebagaimana impiannya sejak kecil). Untungnya bagian2 kompleks itu cukup subtle sehingga gak membuat film ini terlalu serius, maklum target utama film ini adalah anak2 dan remaja putri pastinya. Semua ditampilkan aman dengan warna2 dan tingkah polah setiap karakter yg akan mengundang minimal senyum simpul, apalagi dengan dialek yg lucu2. Tokoh2 yg berhasil membuat gw begitu adalah Naveen (dialog dan ekspresinya oke2 sekali), Louis si buaya peniup terompet, dan terutama Lottie, she's ridiculous in a fun, good way. ^O^'.

Dari segi visual, gambar2nya memang mengundang nostalgia pada era kejayaan animasi 2D Disney. Desain karakternya cukup bagus dan penggunaan warna2nya sangat ciamik. Gw suka bahwa film ini banyak menggunakan warna2 yg biasa digunakan dalam karya seni asal New Orleans/Cajun apalagi ada setting karnaval Mardi Grass, kayak lukisan2 di dinding Popeye's Chicken gitu loh. Ini paling keliatan di lagu "Almost There" yg dinyanyikan Tiana saat hampir berhasil mendapat tempat usaha. Tapi kalo dari segi animasi, kayaknya kelihatan lebih kasar jika dibandingkan film2 animasi Disney 90-an dan awal 2000-an, jangan2 gara2 terlalu lama absen di dunia animasi gambaran-tangan, keahlian para animator Disney jadi agak terkikis hohoho.

Sayangnya lagi, secara keseluruhan film ini kurang
memorable buat gw. Impactnya nggak seperti waktu gw nonton The Lion King, Mulan, Lilo & Stitch, bahkan Hercules, termasuk Aladdin dan The Little Mermaid yg notabene digarap oleh duo sutradara yg sama. Permainan moodnya kurang oke, dan gw curiga penyebab utama dari kurangnya greget dari film ini adalah segi musik, baik komposisi maupun penempatannya, padahal film ini memang musikal. Walaupun cukup fresh dengan aliran jazz, rasanya penempatan lagu2nya terlalu sering dan dekat, lagu yg anthemic pun sepertinya nggak ada, jadinya kurang ngeresep. Sayang sekali, karena sialnya film musikal adalah kelemahan di segi musik membuat film ini lemah 50 persen ~teori dari mana coba tuch? ^_^'~.

The Princess and The Frog memang dicanangkan sebagai kembalinya animasi klasik Disney, tapi bagi gw
overall filmnya nggak istimewa2 banget. Well, setidaknya gw dihibur dengan gambar dan karakter2 yg menarik, juga amanah yg harusnya jadi pegangan bagi kita semua: carilah dahulu yg kamu benar2 PERLU, maka kamu nggak akan kehilangan yang kamu MAU. Amen.


my score:
6,5/10


Senin, 11 Januari 2010

[Movie] Sherlock Holmes (2009)



Sherlock Holmes
(2009 - Warner Bros.)

Directed by Guy Ritchie

Screen Story by Lionel Wigram, Michael Robert Johnson

Screenplay by Michael Robert Johnson, Anthony Peckham, Simon Kinberg

Based on the characters created by Arthur Conan Doyle

Produced by Joel Silver, Lionel Wingram, Susan Downey, Dan Lin

Cast: Robert Downey Jr., Jude Law, Rachel McAdams, Mark Strong, Eddie Marsan



Sherlock Holmes adalah detektif fiksi paling terkenal di dunia, demikian katanya. Tapi yah dasar bukan penggemar novel, gw taunya Sherlock Holmes ya dari komik Detective Conan, ^o^'. Cover buku komik Detective Conan volume 1 adalah Conan yg berpakaian jas panjang dengan topi dan pipa, konon inilah
image umum Sherlock Holmes selama ini. Tapi sekarang, muncul Sherlock Holmes dengan kisah baru, dan image yg baru. Kita tidak akan melihat Holmes dengan topi dan pipa khasnya, tapi film terbaru karya Guy Ritchie ini tetaplah sebuah film detektif yg (lagi2 konon) ala Holmes yg rupanya menghibur dan sama sekali nggak jelek.

Film diawali dengan Sherlock Holmes (Robert Downey Jr) bareng mitranya Dr. John Watson (Jude Law) dan polisi meringkus Lord Blackwood (Mark Strong) yg ketahuan membunuh beberapa wanita untuk melakukan ritual magis. Blackwood ditangkap dan divonis hukuman mati, tapi sebelum mati, Blackwood memperingatkan Holmes bahwa ia akan bangkit lagi dan akan ada malapetaka yg di luar kuasa Holmes. Holmes adalah orang yg percaya akan sains dan berpikir rasional tentu tidak terlalu menganggap ini serius. Lord Blackwood pun akhirnya digantung dan dipastikan koit oleh Dr. Watson. Beberapa waktu kemudian, Holmes kedatangan Irene Adler (Rachel McAdams), seorang wanita pencuri lihai dan satu2nya wanita yg dicintai Holmes. Adler meminta bantuan Holmes untuk mencari seseorang bernama Reordan. Holmes dan Watson akhirnya menemukan Reordan sudah dalam bentuk mayat...di makam Lord Blackwood. Mayat Blackwood pun sudah nggak ada bekasnya, ini sesuai dengan yg dikatakan oleh Blackwood sebelum digantung, apalagi setelah itu ada beberapa orang, yg merupakan orang penting pemerintahan, tewas dengan cara yg tampak mistik. Holmes pun tertantang untuk membongkar keanehan ini, dimulai dari petunjuk paling dekat yaitu Reordan, dan satu per satu petunjuk pun terbuka meskipun Holmes dan Watson kerap terhalang oleh pihak2 yg tak ingin kasus ini terpecahkan. Mending gw ceritain sampe sini aja yah...^o^


Proses pemecahan kasus dalam film ini mengingatkan gw sama Detective Conan dan serial House, wajar karena memang dua judul tersebut mengambil inspirasi dari karakter dan cara kerja Sherlock Holmes, istilahnya analisa "deduktif": dari hal yg kecil2 bisa diketahui hal yg lebih besar. Bahkan tokoh Holmes di film ini sangat mirip dengan tokoh Dr. Gregory House yg gw lebih kenal duluan, lengkap dengan kejeniusan, keanehan, dan kecanduannya, dan tokoh Dr. Watson sedikit banyak mengingatkan gw sama Dr. Wilson, keduanya dalam serial House. Jadi bisa dibilang gw udah cukup "terlatih" lah sama gaya detektif macam ini, hehe. Untungnya dalam film Sherlock Holmes 2009, semua disajikan cukup menarik dan tidak membosankan, cukup cerdas lah
twist2nya. Kita udah tau penjahatnya siapa, tapi asik aja mengikut Holmes mencari tahu "bagaimana" cara si penjahat melakukan aksinya yg dianggap black magic. Menariknya lagi, film ini juga diisi dengan dialog2 lucu dan subplot yg memberi kesempatan penonton melihat perkembangan tokohnya. Kita lihat bagaimana Holmes dengan berbagai cara tersirat berusaha mencegah Watson untuk tidak hanya menikah, tapi juga berhenti jadi mitranya dan keluar dari rumah/kantor detektif swasta mereka. Ia nggak ridho sahabatnya -yg sering juga jadi babysitter buat Holmes- pergi begitu saja. Lalu kita menyaksikan hubungan unik Holmes dan Adler yg dalam hati saling tertarik, tapi bermusuhan secara profesi. Setiap karakter utama pun dibuat terlibat dengan kasus yg ditangani Holmes: Watson yg mau pensiun nggak tahan untuk ikut memecahkan misteri, selain mencoba mengembalikan reputasinya yg telah menyatakan Lord Blackwood mati tapi kok sekarang bisa hidup lagi; lalu Adler yg juga ikut nimbrung bareng Holmes dan Watson karena ada misi tersembunyi.

Materi cerita dan naskah yg oke tadi ternyata bisa diakomodasi oleh sang sutradara dengan cukup baik dalam hasil akhir filmnya. Gw lumayan suka adegan Holmes menganalisa cara mengalahkan lawan sebelum bertindak, juga adegan "perulangan" waktu Holmes buntutin Adler dari rumahnya, selain pada adegan hipotesa di klimaks, yg dihiasi beberapa kali
slow-motion sekejap mirip serial CSI. Para pemeran bermain bagus (Mr Downey and Mr Law are a nice pair), dan secara teknis film ini nggak mengecewakan. Sinematografinya dibuat agak suram dan "kotor" mungkin agar menguatkan nuansa misteri dan ke-jadul-annya, dan gw agak memperhatikan ada permainan lensa yg cukup okeh di sini. Kostum dan setting London abad ke-19nya juga okeh sekali, tentu dipoles dengan visual efek. Tapi gw agak terganggu sama porsi pukul2an yg banyak sekali. Kelihatannya sutradara Guy Ritchie demen banget sama adegan berantem, sehingga ketika cerita menyimpan celah untuk tokoh2nya berkelahi, maka jadilah perkelahian, se-nggak-penting apapun itu. Apalagi ada beberapa adegan yg nggak masuk akal (di pelabuhan, mnurut loe?). Bisa jadi ini sebagai alat "biar nggak ngantuk", tapi bagi gw film ini akan lebih oke kalo berantemnya agak dikurangi (sekaligus mengurangi durasi biar lebih ringkes), dan sektor misteri kasusnya agak ditambah fokusnya, toh pemecahan trik2 kejahatannya pun sebenarnya nggak kalah keren.

Secara keseluruhan, jujur gw
enjoy dengan film Sherlock Holmes ini. Penokohannya menarik, humor2nya cukup lucu dan nggak murahan, kasusnya juga nggak terlalu gampangan. Meski bukan favorit, gw harus mengamini bahwa film ini fun dan entertaining, with some brain too, sebagaimana kisah detektif seharusnya. Menyenangkan lah.


my score:
7/10


Sabtu, 09 Januari 2010

[Movie] Mulan (1998)



Mulan

(1998 - Walt Disney)


Directed by Tony Bancroft & Barry Cook

Story by Robert D. San Souci

Screenplay by Rita Hsiao, Christopher Sanders, Philip LaZebnik, Raymond Singer, Eugenia Bostwick-Singer

Inspired by the Chinese poem "Ballad of Hua Mulan"

Produced by Pam Coats

Cast: Ming-Na, Eddie Murphy, B.D. Wong, Miguel Ferrer, James Hong, Pat Morita



Film ketiga yg gw tonton lewat DVD di liburan ini adalah animasi Disney Mulan. Mulan udah lama jadi salah satu film animasi panjang Disney, atau istilahnya "Walt Disney Classics" favorit gw. Sebagai manusia yg lahir di pertengahan dekade 1980-an, menonton film animasi Disney terutama yg dirilis 1990-an adalah suatu "kewajiban", oh ralat: menonton dan membeli soundtracknya, tak terkecuali Mulan ini. Gw dulu punya sih VCDnya yg gw beli di Manila (Filipina) berbahasa Inggris tanpa subtitel...dan VCD gitu loch. Ketika Mulan dirilis di DVD beberapa tahun lalu, gw udah ngincer, tapi baru gw dapet sekitar 6 bulan yg lalu karena lagi diskon "ngabisin stok" dengan harga Rp 40 rb saja, barengan sama DVD Zodiac. Senang rasanya nonton film favorit dalam kualitas yg lebih baik (dan tidak didubbing seperti yg ditayangkan di RCTI, jadi aneh).


Mulan (Ming-Na) adalah seorang anak perempuan dan satu2nya dalam keluarga Fa, yg tomboi dan senantiasa dianggap tidak sanggup membawa nama baik keluarga, meski demikian ia begitu disayangi oleh Ayah (Oh Soon-Tek), Ibu (Freda Foh Shen) dan neneknya (June Foray) yg sableng (hehehe). Suatu ketika, wilayah kerajaan Tiongkok tengah disatroni oleh pasukan bangsa Han dari utara pimpinan Shan-Yu (Miguel Ferrer) nan bengis dan keji, dengan tujuan utama ke Kota Terlarang (istana Kaisar, ibukota negara, fyi) untuk membunuh Kaisar (Pat Morita). Kaisar memerintahkan untuk menambah pasukan, yaitu merekrut satu laki2 dari setiap keluarga di negeri China untuk dilatih dan ikut bergabung dalam pasukan melawan bangsa Han, dan perintah itu juga berlaku bagi keluarga Mulan. Sayang, di keluarga Fa, satu-satunya laki2 hanya sang Ayah yg sudah sakit2an. Mulan tak tega, melepas sang Ayah ke medan perang sama saja dengan menghantarnya ke ajal. Mulan pun mengumpulkan tekad, beda tipis sama "nekad", dengan mengambil peralatan perang sang Ayah dan berangkat ke pusat pelatihan, menyamar sebagai laki2. Bersama "utusan" dari roh nenek moyangnya, si naga merah Mushu (Eddie Murphy) dan si jangkrik mujur, Mulan yg tadinya nggak bisa apa2 perlahan-lahan menjadi prajurit yg terlatih dan setara dengan para prajurit amatir lainnya yg semuanya laki-laki, meski sepertinya kurang cukup terlatih ketika tiba2 harus menghadapi serangan langsung dari pasukan Shan-Yu yg semakin dekat ke Kota Terlarang,
or is she?

Dulu waktu gw nonton pertama kali, baru lulus SD, gw hanya sekedar terhibur dengan keseruan dan kelucuan dari adegan2, gambar dan desain2 cantik, serta lagu2 yg enak. Menonton sekarang, 11 tahun kemudian, gw jadi sangat mengapresiasi ceritanya yg cukup solid, logis dan tak ada yg terlalu mubazir. Biarpun humornya udah nggak terlalu lucu lagi, tapi sekarang gw lihat bahwa nilai2 moral, terutama tentang kesetaraan gender disampaikan begitu
subtle dan smooth, serta dikemas dengan sangat menghibur. Gw baru sadar bahwa dalam film ada tentang pengorbanan sekaligus penghormatan Mulan untuk sang ayah, yang terbukti tak sia-sia; juga soal pembuktian diri, dari Mulan yg dianggap "laki-laki" lemah yg kemudian jadi yang paling berjasa, pun Mushu yg tadinya tidak dianggap akhirnya punya andil besar dalam keberhasilan Mulan. Gw juga menemukan motif Shan-Yu menyerang China, karena Kaisar membangun Tembok Besar yg baginya merupakan lambang arogansi, bukannya bikin takut musuh tapi malah kayak "ngundang", nantangin. Tim penulis ceritanya oke niy.

Pace
-nya juga enak sekali diikuti. Adegan tes pengantin Mulan di awal sangat komikal, tapi adegan tanpa kata ketika Mulan memutuskan untuk berangkat menggantikan ayahnya juga sukses karena serius dan emosional (tapi untungnya masih bisa diterima segala umur), pokoknya film ini berhasil membangun emosi penonton dengan baik, didukung iringan musik latar yang manteph dari (alm) Jerry Goldsmith. Lagu2 yg menghiasi memang terbilang sedikit, tapi penempatannya begitu tepat dan nggak mengganggu cerita. Secara visual Mulan juga cukup terpuji. Desain baik karakter maupun hal2 lainnya tetap terlihat cantik hingga sekarang. Banyak gambar2 terutama pemandangan alam China (jelas dalam bentuk "lukisan") yg menyegarkan mata. Selain itu, film ini juga cukup banyak menggunakan bantuan CGI yg menyempurnakan animasinya. Gw pun masih menganggap adegan "tumpah"nya pasukan berkuda Han di gunung salju adalah adegan paling keren yg pernah ada di film animasi apapun...dan film ini ada sebelum Lord of The Rings...canggih dah.

Jika ada kekurangan dari film ini, mungkin...apa yah...absurditas khas Disney yg tak bisa lepas dan sepertinya memang harus ada, seperti adanya
sidekick yg komikal sebagai pemancing tawa (Mushu dan jangkrik serta trio prajurit rekan Mulan) dan karakter penjahatnya yg terlalu absolut (jahat karena...ya jahat aja), padahal dalam bagian2 lain film ini agak berbeda dari klise film2 fairy tale Disney yg ada sebelumnya (the heroine actually kick some ass, no kissing, and almost no magic). Adegan klimaksnya menurut gw terlalu kekanakan, meskipun memang seru. Tapi ya udahlah, ditonton kesekian kali pun, Mulan memang tetap cocok bersanding dengan Beauty and The Beast dan The Lion King sebagai film animasi Disney 1990-an terbaik mulai dari cerita, gambar dan tentunya musik. Classic indeed.


my score:
8/10



PS:

- Dalam beberapa dialog, negeri China disebut sebagai "Middle Kingdom". Dalam huruf China/Kanji, "China" atau "Tiongkok" ditulis dengan 2 huruf yg berarti "tengah/pusat" dan "negara". ^_^


- Ngomong2 soal Manila (gw beli versi VCD di sana), gw perhatiin pers Filipina sepertinya bangga sekali dengan keterlibatan penyanyi/aktris panggung asal Filipina, Lea Salonga yg jadi
singing-voice Mulan. Di sana lagu "Reflection" lebih terkenal sebagai hits milik Lea (versi film), bukan Christina Aguilera (yg versi pop). Setiap promo film maupun soundtrack Mulan pun selalu nempelin nama Lea...plis deh...=_=' Untung filmnya emang bagus.