Minggu, 09 Februari 2020

My Movie Picks of January 2020

Tiap awal tahun, khususnya Januari biasanya adalah bulan yang "aneh" buat rilisan film, terutama bioskop. Antara sisaan film-film bulan Desember yang masih banyak beredar, dan film-film blockbuster terbaru yang agak di-rem perilisannya, sehingga jarang banget yang meledak secara box office. Di lain pihak juga jadi banyak film-film jagoan "award" yang dilemparkan ke khalayak. Nah, dari antara semua itu, manakah yang berhasil meninggalkan kesan signifikan buat gw? Let's see lah..






1. 1917
(2019 - DreamWorks/Amblin/Universal)
dir. Sam Mendes
Cast: George MacKay, Dean-Charles Chapman, Colin Firth, Andrew Scott, Mark Strong, Benedict Cumberbatch, Richard Madden, Claire Duburcq


Sekalipun nggak nge-fan banget sama Mendes, mendengar bahwa doski bikin film perang dengan hanya dengan satu (or should I say, dua) continuous shot bikin gw langsung penasaran. Dengan cerita yang sebenarnya sederhana banget--dua prajurit dari titik A diutus jalan ke titik B melewati berbagai risiko, a.k.a. Saving Private Ryan versi mini, 1917 adalah sebuah demonstrasi kemahiran storytelling dan filmmaking yang mencengangkan. Bagaimana merencanakan sorotan kamera hingga tiap frame jadi tampak sempurna, bagaimana para aktor mengatur emosi agar tetap berkesinambungan, bagaimana merancang blocking dan setting sehingga tidak tampak monoton sekalipun (seolah-olah) tanpa terpotong, dan bagaimana juga tempo cerita terjaga sehingga dinamika adegan yang bekelanjutan tanpa henti itu bisa terasa natural, tanpa kesan diburu-buru atau diseret-seret demi durasi (ya kadang masih berasa sih dikit, hehe). Keheranan-keheranan itu terus berdengung sepanjang film ini, dan membawa gw pada kesimpulan bahwa ini salah satu film masa kini yang dibuat dengan ambisi besar dan terbukti sanggup memenuhi ambisi itu.
My score: 8/10






2. Klaus
(2019 - Netflix/SPA Studios)
dir. Sergio Pablos
Cast: Jason Schwartzman, J.K. Simmons, Rashida Jones, Will Sasso, Joan Cusack, Norm MacDonald


Sebuah versi alternatif dari asal usul mitos Santa Claus yang dibuat dengan cukup berbeda. Dengan tradisi konsep seperti Disney klasik, film ini menggabungkan hikayat Santa dengan kisah perjalanan seorang pemuda yang mengalami perubahan hidup dan menemukan jati diri, tentu saja dengan gaya komikal. Sekilas nampak dark karena warna visualnya memang tidak serba cerah ceria, namun nggak menghalangi film ini untuk menunjukkan kualitas teknik animasinya yang halus sekalipun "hanya" 2D, desain gambar yang indah nian, karakter-karakter yang menarik, humor yang elegan, dan terutama cerita yang punya hati. Dan, gw juga suka bahwa pada akhirnya ini bukan soal menebalkan Santa Claus sebagai sosok, tetapi pada misi yang dikerjakannya, karena itulah yang sebenarnya lebih penting untuk diingat dan diwariskan.
My score: 8/10






3. Bombshell
(2019 - Lionsgate)
dir. Jay Roach
Cast: Charlize Theron, Nicole Kidman, Margot Robbie, John Lithgow, Allison Janney, Kate McKinnon, Connie Britton, Malcolm McDowell, Mark Duplass


Dalam tujuannya sebagai representasi kisah nyata pengungkapan skandal pelecehan seksual seorang petinggi stasiun televisi Fox News di Amerika terhadap para pegawai wanitanya--yang kemudian juga mendorong pengungkapan serupa di lembaga-lembaga bidang lain, Bombshell terbilang bisa memberikan berbagai informasi cukup komprehensif. Keputusannya untuk disajikan dalam alur lincah dan sentuhan dark humour menjadikan film ini nggak terlalu berat untuk dinikmati, walau juga terasa pahit saat menyaksikan momen-momen pilu pengalaman para korban. Di satu sisi gw agak menyayangkan tone lincah yang di-set di awal tadi agak hilang di pertengahan hingga akhir. Namun, untungnya gw nggak sampai kehilangan tujuan utama kisah ini diceritakan, apalagi para pemeran utamanya sanggup memberi penampilan super-prima sepanjang film.
My score: 7,5/10





Senin, 20 Januari 2020

My Movie Picks of December 2019

Baiklah, setelah keriuhan senarai akhir tahun usai, mari kita kembali ke senarai rutin bulanan. Biasanya akhir tahun tuh rilisan film terbaru nggak sebanyak bulan-bulan lain, tetapi justru yang paling jadi unggulan, baik dari segi box office maupun yang pemancing awards. Dan kayaknya itu kembali tercermin dari film-film yang gw tandai sepanjang Desember 2019 ini, sampai ada enam plus satu judul. Makanya ngeposting ini agak lama hehehe *lagi-lagi alesan*






1. Knives Out
(2019 - Lionsgate)
dir. Rian Johnson
Cast: Daniel Craig, Ana de Armas, Jamie Lee Curtis, Chris Evans, Christopher Plummer, Don Johnson, Toni Collette, Michael Shannon, Katherine Langford, Lakeith Stanfield, Jaeden Martell, Noah Segan, Edi Patterson, Riki Lindhome, K. Callan


Kisah misteri detektif-detektifan dengan mengundang banyak nama aktor-aktris terkenal sepertinya harus terus banyak dibikin deh. Knives Out sendiri adalah kisah orisinal dalam tradisi karya misteri Agatha Christe, namun dengan suntikan tema-tema kontemporer dan, sebagai bumbu penyedap penting, humor gelap. Diawali dengan "standar" kasus kematian seorang patriarch kaya raya yang menimbulkan berbagai misteri, pertanyaan muncul mulai dari penyebab kematiannya, hingga warisannya jatuh ke siapa--macam kasus-kasus Detektif Conan yang dirotasi setiap 2 buku sekali. Meski demikian, kelihaian penuturannya membuat film ini tetap exciting, tidak hanya kelar pada pengungkapan "siapa pelakunya" lewat beberapa manuver adegan yang smart, namun juga pembangunan banyaknya tokoh serta kekonyolan mereka masing-masing. Sebagai dark comedy campur thriller dan misteri, humor maupun ketegangannya terjaga banget sehingga bikin makin pasrah mengikuti ke mana arah ceritanya, karena yakin akan semakin dipuaskan di bagian akhir.
My score: 8/10






2. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
(2020 - Visinema Pictures)
dir. Angga Dwimas Sasongko
Cast: Rachel Amanda, Rio Dewanto, Sheila Dara, Donny Damara, Oka Antara, Susan Bachtiar, Niken Anjani, Ardhito Pramono, Agla Artalidia, Sinyo, Nayla Denny Purnama, M. Adhiyat, Alleyra Fakhira Kurniawan, Syaqilla Afiffah Putri, Joe P. Project, Umay Shahab


Mempersembahkan kisah sosok orang tua dengan tiga anaknya, yang berangkat dari pembedaan cara perlakuan antara anak satu dengan anak yang lain secara perlahan bepengaruh dan memuncak pada kehidupan anak-anak saat dewasa. Gw menangkap film ini sebagai slice of life yang cukup spesifik: kehidupan dari sebuah keluarga berkecukupan Jakarta yang punya konflik tak kasatmata dan kesannya kurang istimewa, namun justru bisa terhubung dengan banyak orang dan banyak keluarga. I mean, gw sih pernah banget ngegas sama ortu maupun saudara buat masalah-masalah yang lebih sepele daripada yang ada di film ini. Maka buat gw, nilai utama film ini adalah sensasi rasa dramatis yang didapat dari hal-hal keseharian, dari topik-topik yang mungkin bukan hal besar bagi sebagian orang tapi big enough bagi sebagian yang lain. Sekalipun gw kurang sreg dengan salah satu poin konflik yang dimunculkan di sini, kemenangan utama film ini terletak pada presence keluarga Narendra yang diarahkan dan diperankan dengan sangat baik. Emosi yang mereka keluarkan saat bersama-sama bisa menularkan vibe yang efektif dan genuine, baik saat mereka sedih, bahagia maupun saat bertengkar, hingga diksi dialog yang di atas kertas tampak artifisial mampu mereka wajarkan dengan sempurna.
My score: 7,5/10






3. The Two Popes
(2019 - Netflix)
dir. Fernando Mereilles
Cast: Jonathan Pryce, Anthony Hopkins, Juan Minujin, Luis Gnecco, Maria Ucedo, Lisandro Fiks, German de Silva


Film ini adalah dramatisasi dari satu periode sejarah ketika Paus Benediktus XVI menyatakan mundur hingga terpilihnya Paus Fransiskus pada tahun 2013. Sebagian besarnya dalam bentuk dialog antara dua tokoh pemimpin umat Katolik sedunia ini, yang mempunyai berbagai perbedaan pandangan dalam berbagai soal yang cukup prinsipil, diselingi juga dengan kisah masa lalu Paus Fransiskus atau bernama asli Jorge Mario Bergoglio saat masih melayani di negaranya, Argentina. Hanya lewat "ngobrol", interaksi kedua tokoh ini terasa intens dan dinamis, terutama ditekankan dengan perbedaan karakter keduanya--media selama ini mencondongkan yang satu sangat kaku dan yang satu lagi lebih down-to-earth. Namun, yang gw salut adalah film ini nggak memojokkan satu tokoh atau satu pandangan saja, karena masing-masing punya poin-poin valid. Dan lebih salut lagi, film sukses menonjolkan sisi manusiawi dari dua tokoh ini--terlepas mereka beneran seperti yang digambarkan di film ini atau tidak ya--sehingga presentasinya pun jadi nyaman disimak, nggak kelewat berat kok.
My score: 7,5/10






4. Jumanji: Welcome to the Jungle
(2017 - Columbia)
dir. Jake Kasdan
Cast: Dwayne Johnson, Kevin Hart, Jack Black, Karen Gillan, Nick Jonas, Rhys Darby, Bobby Cannavale, Alex Wolff, Ser'Darius Blain, Madison Iseman, Morgan Turner


Betul, ini yang rilis tahun 2017 yang baru gw tonton menjelang perilissan Jumanji: The Next Level ^_^;. Gw lupa kenapa nggak nonton pas rilis di bioskop, dan agak menyesal juga karena ternyata kontennya sendiri jauh dari kata buruk. Ini adalah model film fantasi petualangan komedi yang dirancang dan dieksekusi dengan semangat bersenang-senang. Dibekali oleh plot yang sederhana--namun merupakan pemutakhiran yang bagus dari Jumanji (1994) versi lawas, humor-humor yang nggak self-indulgent, hingga performa bersemangat dan berenergi positif dari para pemerannya, maka jadilah sebuah film yang tinggi nilai hiburan tetapi tidak melulu bertumpu semata pada kecanggihan efek visual dan nama besar film yang legendaris.
My score: 7,5/10






5. Imperfect
(2019 - Starvision)
dir. Ernest Prakasa
Cast: Jessica Mila, Reza Rahadian, Clara Bernadeth, Yasmin Napper, Shareefa Daanish, Karina Suwandi, Dewi Irawan, Ernest Prakasa, Boy William, Dion Wiyoko, Tutie Kirana, Kiki Narendra, Karina Nadila, Devina Aureel, Kiky Saputri, Zsa Zsa Utari, Aci Resti, Neneng Wulandari, Asri Welas


Kali ini film komedi Ernest Prakasa merapat ke topik-topik yang hangat dan berkelanjutan dalam pergaulan, khususnya soal bias penilaian fisik perempuan. Angle dari topiknya juga terbilang jitu, bahwa Rara si tokoh utama bertubuh gemuk dan kurang bisa berdandan tetapi bekerja di perusahaan kosmetik, bagian marketing pula, bidang yang terkenal punya standar gaya tertentu. Kisah Rara yang ditantang untuk memenuhi standar tersebut menjadi benang merah film, dan kemudian berpengaruh pada hubungannya dengan kekasih dan keluarganya. Di luar itu, disematkan lagi beberapa subplot, yang sesaat terasa seperti distraksi dan melebar, namun pada akhirnya bisa ditangkap sebagai penguat message yang hendak disampaikan. Tapi, balik lagi bahwa film ini komedi, penyampaiannya yang ringan membuat alir filmnya nyaman dinikmati, apalagi dengan berbagai selipan humor yang bagi gw sih kadar lucunya paling tinggi di antara film-film Ernest sebelumnya.
My score: 7,5/10






6. Dark Waters
(2019 - Focus Features/Participant Media)
dir. Todd Haynes
Cast: Mark Ruffalo, Anne Hathaway, Tim Robbins, Bill Camp, Victor Garber, Mare Winningham, Bill Pullman


Melengkapi jajaran film berdasarkan kisah nyata pengungkapan sisi gelap korporasi raksasa, kali ini yang diangkat adalah perusahaan kimia DuPont, yang terbukti menutup-nutupi berbagai efek buruk dari produk-produknya, khususnya bagi para pegawai pabriknya dan warga sekitar. Dibandingkan dengan Erin Brockovich (2000) yang bertema mirip, film ini jelas lebih kelam dan depressing, apalagi mengingat produk DuPont juga cukup dikenal di Indonesia (brand yang bikin lapisan antilengket teflon di panci dan wajan, walau sebenarnya unsur-unsur serupa dari DuPont juga terdapat di barang-barang rumah tangga yang lain). Namun, kekuatan film ini bukan semata-mata menambah pengetahuan dan faktor kedekatan terhadap topiknya, melainkan juga terletak pada performa tulus Ruffalo cs, yang mampu memberikan gambaran seemosional mungkin dari beratnya dan panjangnya kasus ini.
My score: 7,5/10






7. Marriage Story
(2019 - Netflix/Heyday Films)
dir. Noah Baumbach
Cast: Scarlett Johansson, Adam Driver, Laura Dern, Alan Alda, Ray Liotta, Julie Hagerty, Merritt Weaver


Yang unik, dan mungkin agak ironis dengan judulnya, film ini menuturkan proses terjadinya sebuah perceraian. Proses ini dijalani oleh sepasang seniman peran: suami adalah sutradara teater muda berbakat, dan istri adalah aktris film Los Angeles yang hijrah ke teater New York ikut suaminya. Alasan-alasan mereka mau bercerai kemudian dipaparkan, mulai dari konflik emosional, tempat tinggal, hingga perihal profesi. Pada perjalanannya, film ini dengan cermat menyorot kedua tokoh ini di satu sisi dalam posisi simpatik, tetapi ada pula momen-momen bahwa keduanya bikin antipati, terutama ketika proses perceraian mereka sudah masuk ke ranah hukum. Dalam dinamika kisah yang demikian, Johansson dan Driver sebagai pemeran utama menunaikan tugasnya dengan tanpa cela, yaitu menggunakan ekspresi dan emosi mereka sebagai motor yang menghidupkan cerita, baik ketika mood-nya lagi santai bahkan jenaka, maupun saat tensi tinggi.
My score: 7,5/10




Minggu, 05 Januari 2020

Year-End Note: My Top 10 Films of 2019


This is it. Usai perenungan yang cukup alot *dalih karena nggak posting lebih cepat =P*, gw akhirnya siap menggelontorkan 10 film teratas sepanjang tahun 2019 versi gw . Dalam satu tahun jelas banyak banget film yang dilepas ke khalayak, dari berbagai bangsa dan genre, apalagi sekarang medianya nggak cuma di bioskop-bioskop. Artinya, nggak mungkin gw akan mencakup semua judul yang ada. Makanya, seperti biasa gw melakukan pra-eliminasi bahwa yang gw taruh di senarai adalah film-film yang dirilis resmi di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2019, biar hidup gw nggak lebih ribet. 10 judul yang akan gw sebut adalah film-film yang menurut gw paling berkesan, membekas, dan atau gw paling nikmati. Terbaik secara objektif? Belum tentu, atau bahkan, jelas tidak. Toh patokannya gw sendiri, subjectivity is my jam =)).





HONOURABLE MENTIONS
Sebelum masuk ke top 10, gw juga ingin menyerukan special shoutouts buat 5 film lain yang sudah memberi kesan masing-masing buat gw di tahun 2019. Untuk yang ini, gw urutkan sesuai abjad ya.


Aladdin, dir. Guy Ritchie
Tak sekadar memeragakan ulang film animasi musikal Disney nan legendaris, film ini memberi suplemen tema yang relevan dengan dunia modern, laga bombastis, dan aura kebintangan Naomi Scott =).

Alita: Battle Angel, dir. Robert Rodriguez
Awalnya hanya terpukau pada digdaya visual efek/CGI, excitement film ini tidak pernah pudar seiring durasinya, sekalipun banyak hal yang harus diceritakan dalam durasi yang terbatas.

Glass, dir. M. Night Shyamalan
Sebuah crossover-sequel dari karakter-karakter berkekuatan unik dalam film Unbreakable dan Split. Memang tidak berskala mentereng, tetapi balutan thriller-misteri minimalisnya justru memunculkan sisi "main-main", membuat gw duduk pasrah menikmati apa pun yang disajikan. Ape lo.

The Mule, dir. Clint Eastwood
Film nggak neko-neko yang disokong kekuatan aneka emosi di tiap pengadeganan dan permainan simpatik dari para pemerannya.

Terlalu Tampan, dir. Sabrina Rochelle Kalangie
Upaya paling efektif dalam menghidupkan konsep komik nan absurd menjadi tontonan dengan gaya humor yang juga absurd, namun tetap lancar dalam bertutur.





Dan, berikut adalah 10 besarnya.




MY TOP 10 FILMS OF 2019






10. Knives Out
dir. Rian Johnson

Kisah misteri/detektif-detektifan yang dibawakan dengan cara yang lincah bahkan cenderung jenaka. Ketimbang terjebak kesan kuno dan berulang, film ini menampilkan berbagai sentuhan modern yang relevan, mulai dari rancangan karakter-karakternya yang rada eksentrik sampai ke dialog-dialog cerdik-nya.






9. Weathering With You
dir. Makoto Shinkai

Tak hanya jago gambar, Shinkai sekali lagi membuktikan kemampuannya untuk mengolah cerita dengan tema berlapis, namun dengan penuturan yang bikin nyaman dan senang, bikin hanyut pada emosinya, dan akhirnya juga mampu bikin merenung. Kok bisa gitu kepikiran bikin cerita tentang "pawang hujan" dikembangkan jadi kisah romantika remaja yang kini banget, nggak soal mistisnya doang.






8. Dua Garis Biru
dir. Gina S. Noer

Judul teranyar bertema kehamilan remaja tak terencana yang digarap dengan penuh perhitungan. Membawa sensibilitas dalam bercerita, memuat banyak simbol namun nggak membatasi alir penuturannya untuk bisa dipahami dan dirasakan semua kalangan.






7. Keluarga Cemara
dir. Yandy Laurens

Tak jauh dari kesan yang timbul saat membaca judul atau melihat gambar-gambar promosinya, film ini begitu lembut dan sederhana. Padahal, membuat film keluarga di tengah kompleksitas kehidupan kontemporer adalah sebuah tantangan tersendiri, dan film ini berhasil mengatasi itu, menghasilkan sebuah tontonan yang menghangatkan dan seringkali menghanyutkan.






6. Avengers: Endgame
dir. Anthony Russo, Joe Russo

Movie event of the year yang meroketkan karier Stephanie Poetri benar-benar menghidupi definisi frase tersebut. Sebagai jilid pamungkas dari film-film Marvel Cinematic Universe angkatan pertama, 3 jam durasi film ini tak hanya menuntaskan misi penyelamatan dunia yang ditampilkan dengan dahsyat riuh rendah gegap gempita. Film ini sekaligus jadi momen selebrasi bagi para karakter, para pemain, dan juga para kreator di balik layar yang telah mempersembahkan aksi puluhan karakter Marvel terintegrasi lewat judul demi judul pengubah peta box office dunia selama lebih dari 10 tahun non-stop. Dan, getaran dari semangat itu sangat dirasakan saat menonton hingga usai.






5. Parasite
dir. Bong Joon Ho

Awalnya akan dikira film ini tentang satu hal saja--satu keluarga pengangguran ngapusi satu keluarga kaya supaya dapat kerja, namun dengan lihai film ini membawa penonton pada belokan-belokan tak terduga, sampai akhirnya tiba pada gambaran utuh tentang keresahan yang hendak disampaikan para pembuatnya. Bermain di ranah komedi gelap dan thriller, digerakkan oleh akting yang kompak serta kontrol ritme yang menimbulkan rasa excited, ini adalah salah satu spesimen terbaik dari film-film yang punya pesan lantang namun di saat yang sama memberikan hiburan.






4. Ad Astra
dir. James Gray

Disajikan sebagai drama sci-fi, sulit untuk nggak terpukau pada imajinasi yang ditawarkan: masa tak terlalu jauh di depan andai eksplorasi dan kolonialisasi antariksa jadi hal jamak, yang disajikan lewat visual yang elok dan, well, membumi. Terlebih lagi, film ini berhasil memaparkan semesta ceritanya yang cukup kompleks, sekaligus menuturkan kisah tentang hubungan ayah dan anak dalam proses pencarian dan pendamaian, hanya dalam satu kali jalan.






3. Ford v Ferrari
dir. James Mangold

Diadaptasi dari kisah nyata kemenangan pertama perusahaan mobil AS, Ford di event balap tahunan 24 Hours of Le Mans tahun 1966, garis besarnya adalah upaya orang-orang yang tadinya tak diperhitungkan membuktikan kemampuan mencapai puncak. Namun, bukan glorifikasi keberhasilan yang diutamakan. Film ini merangkaikan kisah di balik layar, khususnya persahabatan Caroll Shelby dan pembalap Ken Miles serta keluarganya, dalam tuturan yang hangat dan manusiawi. Tetapi tak ketinggalan, penataan adegan-adegan balap vintage-nya juga digeber maksimal, sampai bikin lupa bahwa kadang dunia nyata tak semanis harapan kita.








2. Shazam!
dir. David F. Sandberg

Tampil tanpa beban sebagai entry yang paling "longgar" dalam semesta superhero DC, film ini mencuat dengan premisnya yang simpel dan fun, disuguhkan dalam kemasan laga komedi yang solid. Tak hanya mengambil jalur laga superhero baik versus penjahat seperti umumnya--dengan pengadeganan yang thrilling ber-visual keren andalkan CGI, nyawa film ini juga terletak pada kisah persahabatan dan kekeluargaan, makanya mudah mengena dan nggak terlalu ribet dinalar. Ditambah lagi, sajian komedinya tampil organik dan bersinergi dengan ceritanya, bahkan sampai di pertarungan pamungkasnya. Sebuah paket hiburan lengkap, satu hal yang mungkin sulit disematkan pada film-film keluaran DC di tahun-tahun sebelumnya.










1. Joker
dir. Todd Phillips

Menonton Joker adalah salah satu pengalaman paling "lain" sepanjang tahun 2019. Menyadur sosok penjahat utama dalam kisah Batman, film ini completely kebalikan dari film superhero yang pernah ada, mengajak untuk mengalami kehidupan seseorang yang nantinya jadi penjahat besar. Terlepas dari kualitas teknis premium minim efek dan performa akting layak puja-puji, penuturannya begitu runut dan tak sulit dipahami, tetapi di situlah "masalahnya", seolah mencolek sisi tergelap penonton, yang secara moral seharusnya tidak simpati terhadap si Arthur Fleck dan pilihan-pilihannya--toh di tengah-tengah bobrok dunia, seseorang seharusnya bisa tetap memilih kindness, tetapi Arthur tidak. Alhasil, buat gw, Joker adalah sebuah drama kriminal mencekam dan so dark sampai-sampai sulit untuk menyingkirkannya dari ingatan. A stand-out indeed.




Dan demikianlah catatan dan senarai tahunan gw untuk 2019. Semoga 2020 menjadi tahun yang lebih exciting lagi ya. See you around!

Kamis, 02 Januari 2020

Year-End Note: The 10 Indonesian Films of 2019

Sebuah comeback =)). Setelah tahun lalu absen, gw mencoba meneruskan kembali catatan film-film Indonesia yang notable sepanjang tahun. Senarainya masih dibuat dalam urutan abjad, karena emang di sini motivasinya bukan mencari yang terbaik dan mana yang melebihi yang lain, melainkan memberi apresiasi terhadap blantika film Indonesia itu sendiri *eaak serius amat*. Berikut ini adalah 10 film Indonesia yang menurut gw pantas untuk predikat tersebut dengan alasannya masing-masing. Again, dalam urutan abjad ya.





THE 10 INDONESIAN FILMS OF 2019



27 Steps of May
sutradara Ravi Bharwani


Merefleksikan dua sisi kehidupan atas sebuah trauma kekerasan: sang korban dan satu-satunya orang terdekat yang tersisa. Banyak simbol, tetapi nggak sampai bikin kebingungan, malah bikin makin peduli. Performa aktor-aktornya juara kelas.






Bebas
sutradara Riri Riza


Bermain di dua masa sekaligus, berpusat pada nilai persahabatan dan nostalgia. Versi lokal dari film Korea, Sunny (2011) ini dengan terampil mengindonesiakan berbagai aspek ceritanya, sehingga menjadi tetap terasa wajar dan punya rasa. Daftar soundtrack-nya ngehek sih.






Bumi Manusia
sutradara Hanung Bramantyo


Film roman berlatar masa kolonial berskala besar adalah risiko yang jarang sekali diambil di blantika sinema Indonesia. Jadi, gw bersyukur bahwa film seperti Bumi Manusia berhasil diproduksi secara proper dan ditayangkan (dan laku). Sempurna? Tentu tidak. Tetapi, skor terbaik film ini adalah bisa membuat durasi 3 jam nggak berat untuk diikuti dan yang nonton nggak kekurangan informasi. Itu sudah pencapaian yang besar.






Dua Garis Biru
sutradara Gina S. Noer


Film yang dipasarkan dengan kemasaan visual imut-imut, namun digarap dengan pemikiran mendalam. Versi mutakhir dari topik kehamilan remaja Indonesia yang nggak hanya sekadar menyulut diskusi, namun juga disajikan dengan kepekaan moral dan emosi.






Imperfect
sutradara Ernest Prakasa


Ernest Prakasa melanjutkan tradisi mengangkat premis sederhana tapi aktual dalam film komedinya. Berangkat dari kecenderungan sosial dalam bias penilaian tampilan fisik, khususnya perempuan, tujuan akhir film ini sudah terlihat jelas, yaitu pembelajaran mengenai penerimaan diri serta sensibilitas terhadap orang lain. Untungnya, sajiannya sangat ringan dan kemasannya jenaka, bahkan bisa jadi ini film Ernest yang humornya paling pecah.






Keluarga Cemara
sutradara Yandy Laurens


Reinterpretasi dari kisah sebuah keluarga yang kehilangan privilege (istilah nakanak Twitter untuk 'orang kaya tiba-tiba miskin') yang rupanya berhasil mempertahankan spirit dari kisah-kisah yang disadurnya (gw sendiri familier dengan serial TV-nya), dengan sentuhan yang relevan dengan masa kini, dan percikan ekstra di sisi emosi. Pemetaan konflik dan karakternya terampil, pemilihan dan pengarahan pemainnya juga cermat. Pesannya sama, bahwa fokusnya bukan pada gimana cara jadi kaya lagi layaknya kisah-kisah para motivator, melainkan bagaimana memelihara harta yang paling berharga, yaitu…*insert theme song*.






Kucumbu Tubuh Indahku
sutradara Garin Nugroho


Sudah berkali-kali gw kemukakan, seorang Garin Nugroho adalah jenis sineas yang "udahlah terserah mas Garin aja". Premisnya cukup abstrak: sejarah kekerasan yang membentuk jati diri seorang penari lengger lanang, lengkap dengan pengaruh aspek budaya, sosial, ekonomi, politik, geografi, dan kepercayaan. Begitupun cara bertuturnya terbilang menantang (a.k.a. gw kayaknya belum paham sepenuhnya, hahaha). Hanya saja, keterampilan dan artistry Garin dalam mengeksekusi adegan masih dan selalu menawan, yang belum bisa ditandingi ataupun bahkan kepikiran oleh sineas manapun.






Perempuan Tanah Jahanam
sutradara Joko Anwar


Joko Anwar menampilkan pemandangan baru dalam genre horor-thriller negeri ini. Betapa leganya gw bahwa tampilan "desa angker"-nya terlihat seperti actual desa, demikian pula dengan mitologi yang hendak dibangun terasa masih segaris dengan mitos-mitos lokal kita, sehingga tak sulit untuk masuk dalam suspension of disbelief-nya. Ya kalau soal serem dan seru, itu niscaya.






Terlalu Tampan
sutradara Sabrina Rochelle Kalangie


Film ini adalah contoh terbaik sinergi antara konsep absurd (ini adaptasi sebuah komik) dan penggarapan yang sama absurdnya. Nggak ada yang perlu direalistiskan dari ide "seorang pemuda yang harus disembunyikan karena keterlalutampanannya dapat menimbulkan keresahan dan kekacauan massal". Dijalankan dalam plot persahabatan dan kisah asmara remaja, langkah paling tepat film ini adalah memperlakukan segalanya se-wacky mungkin, namun dengan pengaturan visual dan ritme humor yang terkontrol, bikin seneng nontonnya.






Twivortiare
sutradara Benny Setiawan


Dengan presentasi yang tidak terlalu mewah, pemandangan utama dari film ini adalah konser akting Reza Rahadian dan Raihaanun sebagai pasangan muda yang kawin, cerai, lalu dekat lagi terus kawin lagi, tapi bermasalah lagi. Berkat mereka, penonton dapat tersedot untuk menilik dan mengikuti naik turun kehidupan karakter mereka, mencoba menyerap motivasi dan dilema mereka masing-masing, hingga akhirnya menyadari bahwa yang satu tak sepenuhnya salah dan yang lain tak sepenuhnya benar.






Selasa, 31 Desember 2019

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2019

I wonder apakah mendengarkan album musik masih menjadi kebiasaan umum di zaman ini. Penjualan CD fisik yang makin jarang, sementara streaming/download bisa memudahkan pendengar menentukan playlist menurut selera masing-masing. Gw sendiri maunya menganggap mendengarkan album adalah waktu khusus gw menyaksikan seorang artis menunjukkan "diri", dengan materi dan urutan lagu sesuai yang dimaksudkan artis tersebut, benar-benar waktu untuk "mendengarkan", tinggal nanti perkara gw merasa enjoy atau tidak. Ya harus gw akui juga gw termasuk jarang memberi waktu untuk mencari dan mendengarkan lebih banyak album di tahun 2019, sehingga yang gw taruh di senarai kali ini bisa jadi nggak necessarily "favorit" gw, tetapi yang sedikitnya gw bisa nikmati dari track awal hingga track akhir.






My Top 10 Albums of 2019





10. Marion - Marion Jola


Udah biasalah ya kalau ajang Indonesian Idol juaranya tidak selalu yang paling melejit kariernya di musik. Ini terbukti lagi dengan hadirnya Marion Jola, juara keenam di angkatannya, meluncur tidak hanya sebagai sekadar penyanyi rekaman yang lagunya beredar di mana-mana (mungkin melebihi rekan-rekan kontestan yang lain), tetapi juga sebagai seorang penyanyi yang punya karakter. Suara renyahnya berhasil ditangkap oleh para produser yang kemudian disajikan dalam musik urban-pop yang ternyata klop banget. Itu makin terbukti dari album debut Marion ini, yang tidak hanya berisi deretan lagu-lagu catchy, tetapi menyuratkan benang merah yang jelas dari segi sound, bukan sekadar "yang penting punya album".






9. Weezer (Teal Album) - Weezer


Cukup dua alasan menempatkan album lagu-lagu cover ini di senarai gw. Pertama, pilihan lagunya (kebanyakan dari 1980-1990an) apik dan sesekali nggak terduga akan dipilih oleh band rock/power pop seperti mereka (TLC's "No Scrubs" anyone?). Dan kedua, mereka nggak kecentilan berusaha meng-alter lagu-lagu yang mereka cover, malah bisa dibilang notasi dan gayanya hampir persis dengan lagu-lagu aslinya, hanya beda pada instrumen yang dipakai. Apa adanya banget, tapi jadi terdengar sincere dan bikin seneng dengernya.






8. III - The Lumineers


Lagu-lagu The Lumineers memang biasanya berisi cerita, tetapi khusus di album ketiga ini mereka benar-benar bikin sebuah plot yang diceritakan lewat 10 track. Mengenai ceritanya apa, untungnya dibantu oleh visualisasi video musik yang sepuluh-sepuluhnya sudah ada di YouTube, yang pasti agak tragis dan dark gitulah. Bagi gw The Lumineers sukses dalam menciptakan mood setiap fase yang ingin diceritakan, dari yang manis sampai yang angsty, sehingga mendengarkan lagu ini bukan cuma nyari track mana yang bisa jadi favorit, tetapi layak dijadikan "experience" secara utuh.






7. Pikiran dan Perjalanan - Barasuara


Barasuara dengan musik rock puitis dan eksperimentalnya memukau gw di album pertama mereka Taifun (2015). Gw cukup sadar bahwa akan sulit mem-follow up album yang punya ragam dan komposisi dahsyat itu. Ya bener sih, impresi gw terhadap album kedua mereka ini nggak sekuat yang sebelumnya. Tetapi, enaknya Barasuara adalah pasti ada something new dalam tiap track mereka, baik dari bunyi maupun lirik, sekalipun tidak se-distinct album pertama. Dan, entah karena sugesti judul atau bagaimana, mendengarkan album ini secara utuh tetap sebuah pengalaman yang asyik, terutama saat lagi dalam perjalanan, hehehe.






6. Hometown - ASIAN KUNG-FU GENERATION


Waktu awal-awal gw kenal AKG, mereka kerap dibandingin sama Weezer. Semesta ternyata lucu banget, berhubung vokalis Weezer, Rivers Cuomo menikah dengan orang Jepang dan membuatnya sering interaksi dengan musisi lokal, akhirnya sampailah pada tahun 2018 Cuomo ciptain lagu bareng AKG *mindblown*, total ada 2 track di album ini. Terlepas dari itu, Hometown mengalunkan sisi AKG yang tidak terlalu eksperimental, tetapi juga tidak serba distrosi. Tercermin juga sih mereka agak makin kalem sekaligus di sini menekankan pada melodi, which is definitely not a bad thing.






5. re.gen.er.ate - Endah N Rhesa


It has been a while, duo akustik suami istri ini kembali melepas sebuah album orisinal berlirik bahasa Inggris sebagaimana tiga album pertama mereka pada kurun 2005-2015. Jelas mereka tak melulu hanya berinstrumen gitar akustik dan bass, di sini mereka juga menambah bantuan beberapa bunyi lain walau tetap berkonsep minimalis. Buat gw, album ini lebih terasa lebih kuat vibe positifnya, bikin senyum-senyum dan bikin nyaman. Bisa jadi karena di sini lebih banyak lagu yang berirama pop, bahkan ada R&B-nya juga, walau jejak folk dan blues-nya masih ada.






4. Traveler - Official HIGE DANdism


Gw gembira akhirnya bisa menemukan artis J-Pop baru yang bisa gw nikmati lebih dari satu-dua lagu. Sejak single "Stand By You" yang gw suka banget tahun lalu, band piano-pop ini meluncurkan serangkaian single yang konsisten dengan musiknya yang uplifting, lalu album ini makin menunjukkan amunisi yang sangat asyik dari mereka: 14 track yang mencakup unsur dance, R&B, soul, groove dengan rasa J-Pop. Keseluruhan album yang begitu mudah dinikmati secara utuh dan berulang-ulang.






3. Romansa ke Masa Depan - Glenn Fredly


Kita mungkin nggak teralu sadar bahwa nyaris satu dekade Glenn nggak bikin album solo orisinal, dan selama itu pula rakyat Indonesia agak stuck sama hits-nya yang lampau. Hadirnya album ini, gw yakin mengatakan, bisa menambah daftar hit itu. Keseluruhan album ini tepat seperti Glenn yang dikenal dulu: musik pop-urban yang ber-layer, vokal mumpuni, nada-nada yang mudah nyeplak di ingatan, lirik-lirik cinta yang sederhana tapi nyelekit, ada juga lirik-lirik bertema keresahan sosial. Namun, Glenn bisa menata yang familier itu menjadi terdengar segar dan baru, belum lagi dimasukkan juga warna hiphop dan country (!) bersama beberapa artis tamu yang bikin album ini makin seru.






2. Taller - Jamie Cullum


Perhatian gw terhadap Cullum agak terputus beberapa tahun, sampai akhirnya gw mencoba lagi mendengarkan album terbarunya ini. And oh boy, Cullum belum berubah, dalam artian  memberanikan diri menerabas batas-batas yang mengotakkan dirinya sebagai "artis jazz". Kali ini benang merah di album Taller (judulnya kemungkinan sebuah in-joke karena masnya kerap dianggap pendek =)) yang gw tangkap adalah Cullum membuat album bernuansa soul, R&B, blues, hingga hiphop, tapi dengan karakter khas dirinya. Tetap diselingi beberapa tembang minimalis diiringi permainan pianonya, album yang semuanya orisinal ditulis (dan juga co-written) oleh Cullum sendiri ini jelas satu lagi karya Cullum yang sangat enjoyable.











1. LEXICON - Isyana Sarasvati

Satu hal yang gw masih heran adalah Sony Music Indonesia yang dulu gw anggap bersifat sangat "major label" banget, mengizinkan seorang Isyana membuat album seperti ini. LEXICON jelas-jelas bukan album pop, bahkan kalau boleh disebutkan, ini adalah album opera/classical/crossover--Isyana memang ada latar belakang musik klasik, yang amat langka dibuat oleh artis-artis kita. And she actually made a great one. Musik-musik yang sudah dikumpul di bank musikalitas Isyana seakan ditumpahkan di delapan track orisinal miliknya dalam album yang terkonsep cermat dan dramatis: ada yang minimalis, yang full orchestra, hingga yang metal (!). Lagu-lagunya sendiri masih memiliki nada yang bisa diterima para pendengar pop, lirik-lirik puitisnya juga nggak terlalu puzzling, namun akan terasa sekali bahwa eksplorasi yang dilakukan kali ini membuat Isyana terdengar lebih lepas dan leluasa, bahwa bakat besarnya tidak lagi ditahan-tahan. Brava!




Senin, 30 Desember 2019

Year-End Note: My Top 10 International Songs of 2019

Sering gw tekankan dari tahun ke tahun, kalau soal lagu-lagu luar Indonesia atau Jepang, selera gw mainstream banget =D. Biar begitu, menyusun 10 lagu yang paling gw nikmati dari tahun 2019 ternyata nggak segampang itu, karena harus pilih yang ini atau yang itu, perlu dengerin lagi berulang-ulang. Akhirnya, jadilah 10 lagu di bawah ini: ada yang pasti disukai banyak orang lain, ada juga yang agak under-the-radar tapi gw suka banget. Enjoy.






My Top 10 International Songs of 2019



10. "bad guy" - Billie Eilish

Gw taruh di sini karena lagu ini kayak masuk kuping gw dan ogah keluar. Dibilang lagu aneh ya emang aneh, si mbaknya dianggap "bernyanyi" pun kayaknya enggak. Tetapi, memang secara komposisi lagu ini emang sangat-sangat menarik. Atmosfernya dark dan liriknya bikin resah tetapi sekaligus jenaka dan bisa bikin bopping. I promise this will be the only weirdo on my list =)).







9. “Don't Start Now” – Dua Lipa

Menuju ke album kedua, Dua Lipa belum bisa lepas dari musik dansa-dansi, bukan berarti jadi sekadar ulang-ulang aja. Calon anthem anak-anak party ini  nggak cuma sekadar dentum irama yang dikencengin, justru yang dititikberatkan adalah petikan bass yang menambah kesan groovy







8. "Sunflower" - Post Malone & Swae Lee

Lagi musim pengaburan batas antara pop-rock-hiphop, lagu ini kemudian menyelinap ke posisi atas dan sering sekali diputar di radio-radio. Sekilas lebih difokuskan pada lirik, musik dan struktur lagunya juga sederhana (2 verse dan 2 chorus tanpa diulang), namun kecermatan pemilihan musik yang chill tapi tetap bikin angguk-angguk kecil menjadi alasan lagu ini ada di jajaran comfort song gw sepanjang tahun ini.







7. "Hard Place" - H.E.R.

Kalau di radio sini H.E.R. ngehits banget lewat "Best Part", tapi baru lewat "Hard Place" ini gw benar-benar tertarik pada musik yang ditawarkannya. Musik lagu ini lebih condong ke R&B tradisional tanpa suara mesin, yang mengantar tuturan kisah dilema dalam hubungan percintaan yang syahdu. Bagian favorit gw adalah unsur gitar akustik yang nggak sering gw dapatkan dari lagu-lagu R&B, dan sepertinya memang jadi ciri musik H.E.R.







6. "Bounce Back" - Little Mix

Dari yang mungkin bisa dibilang girlband UK paling keren di semua lini (vokal-dance-lagu) saat ini, meluncurkan yet another lagu jejogedan. Yang bikin agak beda adalah kali ini lagunya diberi sentuhan soul dan hiphop--serta menyadur bagian dari lagu "Back to Life" (1989) milik Soul II Soul. Tetapi yang penting, lewat lagu yang tujuan utamanya emang buat gerak lincah ini masih memberi ruang luas bagi harmoni vokal keempat nona ini.







5. "I Will Be Stronger" - Celine Dion

Dari segi vokal, seorang Celine Dion akan selalu ada di barisan elit, hanya saja mungkin dari segi materi lagu, masa terkuatnya sudah diakumulasi di era 1990-an. Meski begitu, gw salut bahwa bu Celine tak gentar untuk terus merekam lagu aneka warna dan gaya, sehingga versatilitasnya justru semakin menjadi. Di antara susunan lagu di album terbarunya, Courage, perhatian gw paling tertuju pada lagu "I Will Be Stronger", sebuah ballad yang tender didominasi piano dan organ, dengan gaya yang mengingatkan pada artis-artis Inggris. Dengan liriknya yang dirangkai apik, lagu ini juga menunaikan fungsinya dalam menunjukkan range vokal bu Celine yang masih sangat kece itu.








4. "Juice" - Lizzo

Memang sekilas Lizzo ini kayak cuma ngomel-ngomel aja di lagu-lagunya, karena gayanya yang gonta-ganti nyanyi dan nge-rap, dan mungkin itulah yang bikin musiknya mudah dikenali. Biar begitu, di lagu ini Lizzo menunjukkan dia juga ada kemampuan vokal serta actually punya sisi fun. Mengiringi liriknya tentang kepercayaan diri adalah gaya musik ajojing yang dipengaruhi pada funk dan disko, yang bikin mood cerah ceria tiap didengerin.







3. "Talk" - Khalid

Jujur gw awalnya nggak terlalu tertarik pada gaya nyanyi mas Khalid gara-gara "Young Dumb & Broke" yang cenderung males-malesan itu. Untunglah warna vokalnya yang sebenarnya keren itu dimanfaatkan lebih layak dalam lagu electro-R&B santai ini--diproduseri oleh duo Disclosure yang berarliran EDM. Yang juga gw suka adalah meski bertema percintaan, liriknya nggak terlalu gombal, masih cocoklah buat si masnya yang baru umur 21.







2. "Mankind" - Jamie Cullum

Bagi gw lagu ini paling representatif terhadap album terbaru Cullum yang mengarah ke urban-R&B dengan tetap berbasis jazz. Lagu ini juga kembali menyegarkan dan mengingatkan siapapun yang mendengar betapa berbakatnya mas ini. Komposisi musik jempolan, nada-nada apik, lirik yang cantik dan otentik, serta gaya vokalnya yang asyik dan legit banget, semua dihadirkan dalam lagu yang juga ada sentuhan soul ini.


versi ngamen:










1. "Someone You Loved" - Lewis Capaldi

My Indonesian ears strikes again, begitu mudah termagnet sama lagu ballad sendu nan emosional ini. Jelas bahwa lagu ini soal kehilangan, tetapi kesederhanaan kemasannya--hanya didominasi piano menemani vokal sincere Capaldi--justru semakin mempertebal pain yang tersirat dalam lagu ini. Setiap berkumandang gw nggak kuasa ikut nyanyi dan berusaha menyamai level emosi yang ditampilkan Capaldi di sini. Padahal mungkin yang bikin lagu juga nggak sebegininya, tetapi yang bisa gw tangkap bahwa lebih dari nada dan lirik, Capaldi sanggup menyampaikan 'rasa' dalam lagu ini, tanpa harus ada ornamen peramai sana-sini. Classic.





Minggu, 29 Desember 2019

Year-End Note: My Top 10 Indonesian Songs of 2019

Lanjut kita dengan tangga lagu-lagu dari negeri sendiri *template skrip radio*. Jika ada yang paling diuntungkan dari pergeseran konsumsi musik ke digital streaming, itu adalah musik Indonesia. Dengan akses legal yang makin mudah, maka semakin mudah pula kita menemukan karya-karya yang sesuai dengan selera sekalipun nama-nama artisnya belum pernah muncul di media massa, nggak perlu nunggu nongol di radio/TV dulu.

Tapi, ya dasar orang lama, tetep aja cara discovery utama untuk musik Indonesia bagi gw tetap radio, hehehe, baru gw beranjak ke streaming yang syukur-syukur bisa dibantu menemukan karya/artis lain yang similar. Dan, sebenanya bakal kelihatan sih dari senarai ini bahwa taste gw makin mengerucut ke situ-situ aja ^n^, bahkan ada nama yang berulang  atau cuma bongkar pasang kolaborator, terutama yang di balik layar (produser/arranger). Ya udahlah, yang penting jujur bahwa inilah 10 lagu Indonesia yang paling gw nikmati dari tahun 2019.






My Top 10 Indonesian Songs of 2019






10. "Seribu Bulan Sejuta Malam" - Kahitna

Untuk sebuah band berusia tiga dekade seperti Kahitna, kayaknya udah nggak "harus" lagi untuk bikin lagu hit terus-terusan, saking udah banyak koleksi hit mereka di masa lalu yang akan terus bikin mereka dicari. Yet, tahun 2019 mereka merilis sebuah smooth love ballad yang menimbulkan nuansa klasik sekaligus refreshing. Dengan aransemen yang lengkap, juga harmoni vokal serta lapisan instrumen analog yang dipakai, tentu saja masih layak dan pantas untuk dimainkan di mana-mana. Emang jangan dilawan sih.







9. "Masih Ada" - Ecoutez

Perubahan formasi Ecoutez memang sudah bertahun-tahun yang lalu, namun baru dalam lagu ini gw merasakan chemistry yang sempurna dari mereka. Sebenarnya nggak terlalu jauh juga dari musik pop dengan warna acid-jazz yang diusung Ecoutez sejak dulu, tapi komposisi nada dan ritme dalam lagu inilah yang paling masuk dan komplementer dengan vokal jernih Andrea Lee.







8. "Saling Merindu" - RAN

Gw melihat bahwa RAN adalah salah satu artis pop kita yang terus improving setiap merilis karya. Lagu ini adalah bukti terbarunya, jiwa dan style-nya memang tetap sama, tetapi memiliki kualitas yang coba ditingkatkan di berbagai segi, terlebih di lirik, kord, aransemen, hingga mixing suara, dan mereka menampilkannya seolah ringan dan mudah.








7. "Rayu (with LALEILMANINO)" - Marion Jola

Tema lagunya termasuk nyeleneh, lagu cinta yang justru minta kata-kata bukan perbuatan =D, tapi itu mungkin bagian dari suntikan unsur kontemporer dari lagu yang style-nya (mohon maaf nih buat angkatan 80-an) vintage. Dan ternyata memang bisa masuk di suara renyah Marion, paket yang asyik sekali didengarkan kapan pun.







6. "Senja Teduh Pelita" - MALIQ & D'Essentials

Kalau MALIQ akhirnya membuat lagu dengan judul yang ada kata 'senja', you know they're going to slay it =)). Ritme santai mengasyikkan dipadu sama kelembutan nada dan lirik membuai, tetap dalam komposisi berunsur jazzy dan soul, saat didengarkan tak kuasa memunculkan ketenangan dan, well, keteduhan. Senja nggak harus unplugged lho.







5. "For a Minute" - Endah N Rhesa

Dari bunyi-bunyian terawal, lagu ini sudah meng-captivate gw. Padahal kalau dipikir-pikir lagu ini sederhana saja, singkat pula, tapi rangkaian nada yang dibunyikan oleh instrumen maupun suara vokal Endah terdengar sangat padu dan presisi, kayak langsung nusuk ke batin gitu, dan pesan motivasinya pun jadi tersampaikan mulus.







4. "Orang Biasa" - Glenn Fredly

Glenn is really back, tahun ini menelurkan berbagai karya yang jauh dari kata mengecewakan. Apakah kita mengharapkan lirik-lirik simpel tapi 'bangsat' khas Glenn yang dulu? Ada bener di lagu ini. Dibungkus dengan gaya pop soulful nyaris kayak lagu-lagu tembang kenangan, komposisinya bermain tak hanya di instrumen tapi juga di vokal. Sebuah ballad yang menghanyutkan namun juga  penuh tenaga.







3. "untuk hati yang terluka" - Isyana Sarasvati

Kita masuk pada periode Isyana edisi lebih klasikal, untungnya sensitivitas pop doi nggak sertamerta hilang. Ketika lagu ini muncul, baik nada maupun iramanya sangat mudah ditangkap, namun aransemen dan style-nya lebih eksploratif, bikin lagu ini berlipat-lipat istimewanya. Piano klasik, rock, hingga opera yang diramu jadi lagu pop yang dramatis nan emosional. Tentu beda banget dari gaya pop-R&B-nya dulu, tapi buat gw ini justru yang so far paling mencakup artistry Isyana baik sebagai vokalis maupun musisi.







2. "Adu Rayu" - Yovie Widianto-Tulus-Glenn

Iya, gw juga awalnya geli baca judulnya. Namun, kualitas tiga musisi pria kenamaan Indonesia ini emang nggak bohonglah ya. Bahwa liriknya bercerita dari dua sudut pandang sekaligus saja sudah menempatkan lagu ini beda dari lagu-lagu cinta kebanyakan. Bungkusan musiknya santai walau cukup kompleks, agak-agak lounge-y, dan kolaborasi vokal Tulus dan Glenn yang nggak setengah-setengah menambahkan kesan simpatik, ibarat karakter dalam film, jadi nggak tahu mau memihak Tulus atau Glenn =P.














1. "Balada Insan Muda" - Diskoria

Duo DJ Diskoria menelurkan sebuah lagu orisinal yang, menurut gw, antara berani sekaligus obvious. Lagu ini semacam rangkuman dari gaya-gaya musik yang konon populer di jagat disko/dugem/club Jakarta era 1980-an. Gw bilang berani karena di tahun 2019 ini para musisi perdiskoan biasanya berlomba-lomba bikin sound yang baru bahkan kalau perlu 'futuristis, mereka malah menengok ke 20-30-an tahun ke belakang. Tetapi, juga obvious karena penikmat musik 80's masih ada banget dan masih punya power terhadap kultur pop. Plus semakin banyak kecenderungan kaum milenial dan kaum now yang terbuka pada hal-hal vintage. Gw mungkin bukan bagian dari era itu *true story*, tapi entah kenapa sejak pertama dengar, lagu ini seolah menyedot gw dalam suasana yang memang coba dibangkitkannya. Nggak hanya dari irama yang emang bikin jejogedan dan aransemen bunyi yang komplet--bass, gitar, synthesizer, strings, tetapi juga dari pemilihan kata bak film-film lawas, perangkaian nada, hingga pengaturan paduan vokal cewek-cowok yang langsung menimbulkan atmosfer yang spesifik dan menyenangkan. Awesome track.





Year-End Note: My Top 10 J-Pop Songs of 2019

Di akhir tahun yang penuh deadline (yang dibikin-bikin sendiri =P), gw akan memulai Year-End Note gw dengan senarai lagu-lagu Jepang. Mengapa? Karena 2019 adalah tahun yang sangat baik bagi penggemar J-Pop di luar Jepang, dengan semakin banyaknya artis-artis papan atas Jepang akhirnya mau membuka diri dan menebarkan karya-karya mereka di platform digital internasional, utamanya Spotify, YouTube, dan Apple yang juga banyak digunakan di Indonesia. Semoga di tahun-tahun ke depan juga akhirnya label-label musik mulai luluh untuk memasang video musik di YouTube dalam VERSI UTUH ketimbang "-short version-" ya. Aamiin.

So, sepanjang tahun ini gw dengan cukup mudah men-discover lagu-lagu J-Pop lewat aplikasi streaming musik sehingga sekarang agak gampang untuk menyusun 10 yang paling gw suka. Well, pada akhirnya emang muter-muter di situ aja sih jangkauannya, tapi yang penting kan enjoy ;).





My Top 10 J-Pop Songs of 2019



10. "Ambitious" - Superfly

Sound vintage pop-rock Superfly kini semakin melebur dengan semangat kontemporer. Lagu ini uptempo, cukup ramai dengan gabungan strings dan instrumen nge-rock, tapi nggak terlalu nge-gas juga, sehingga lagu bertema motivasi ini tetap punya kenyamanan ketika didengar.







9. "仰げば青空 (Aogeba aozora)" - Hata Motohiro

Hata tahun ini menunaikan gilirannya membuat lagu bertema kelulusan/musim semi/bunga sakura (semacam wajib buat artis-artis Jepang selain tentang summer dan Christmas) yang biasa digambarkan sebagai momen bittersweet. Walau bukan termasuk karya termautnya, gw tetap terlarut pada style khas Hata yang sudah familier itu, terasa menenangkan dalam nada dan suaranya.







8. "青春 (Seishun)" - Sukima Switch

Nggak jauh-jauh dengan judulnya yang berarti masa muda/remaja, duo pop-dulunya-jazzy ini membawakan sebuah kisah kasih di sekolah dalam nada-nada lembut namun memberi nuansa optimistis. Emang jagonya Sukima Switch dalam lagu-lagu kayak gini, ini salah satu yang paling berasa hangatnya.







7. "僕は君を問わない with 高橋 優 (Boku wa kimi wo towanai with Yu Takahashi)" - HIROBA

Si gitarisnya Ikimonogakari, Yoshiki Mizuno bikin proyek solo dengan nama HIROBA. Walau sebagian besar lagu-lagu Ikimonogakari dia yang bikin, Mizuno menampilkan bunyi dan suara yang beda banget lewat HIROBA, yah terutama sekali karena dia sendiri mengisi vokalnya. Lagu yang gw temukan dan gw suka kali ini adalah hasil kolaborasinya dengan Yu Takahashi (one of my favorite J-Pop artists). Dalam bungkusan pop-rock bernada minor dan lirik mengandung pesan sosial, keduanya bersatu padu mewujudkan karya yang, well, semacam gabungan style lirik Takahashi dengan musik gaya Ikimonogari versi lebih keras, yang hasilnya keren juga (dengan bantuan Seiji Kameda sebagai arranger).







6. "Dororo" - ASIAN KUNG-FU GENERATION

Band kesayangan gw sepanjang masa ini udah masuk usia 20-an tahun tapi gw senang bahwa mereka masih dianggap relevan sehingga masih diberi kesempatan bikin karya yang baru terus. Lagu ini dipakai sebagai opening theme serial anime Dororo versi 2019, dan mungkin itu yang mendorong mereka bikin lagu dengan gaya back-to-basics mereka, power pop yang rancak dan ringan dan ringkas, tipe-tipe paling favorit gw dari band ini.







5. "イエスタデイ (Yesterday)" - Official HIGE DANdism

Band ini termasuk yang paling sering muncul dalam playlist J-Pop di Spotify sepanjang tahun ini dengan lagu yang berbeda-beda, dan menurut gw hampir semuanya cukup notable. Kentara bahwa musik pop mereka banyak meminjam unsur groove dan funk, gw akhirnya memilih "Yesterday" sebagai salah satu favorit gw tahun ini, karena selain catchy, mereka menambahkan beat disko dan strings section yang memberi kesan grand, melengkapi aransemen yang sudah jempolan.







4. "僕は僕で僕じゃない (Boku wa boku de boku ja nai)" - Seiya Matsumuro

Setelah mengimpresi gw lewat album debutnya tahun lalu, singer-songwriter multi-instrumentalis berkacamata ini ternyata masih punya amunisi di single-nya yang ini. Selain liriknya yang nggak standar tapi penuh makna (dan agak depresif), daya tarik lagu ini bagi gw terletak pada pemilihan nada dan kord yang renyah ketimbang sendu, gampang banget nempel di ingatan, serta pembawaan Matsumuro yang sepenuh hati.







3. "最後のPiece feat. シェネル & Beverly (Saigo no Piece feat. Che'Nelle & Beverly)" - SPICY CHOCOLATE

Artis/DJ Jepang emang nggak melulu bikin karya buat party-party, malah banyak banget bikin karya rekaman yang chill dan sangat radio friendly. Salah satu temuan "random" gw tahun ini kembali menjadi bukti. SPICY CHOCOLATE merancang musik R&B adem ala Amerika yang bikin angguk-angguk kecil lewat single ini, dan makin mantap dengan mengundang dua vokalis impor dengan suara emas yang memang berkarier di Jepang: Che'Nelle dari Malaysia-Australia dan Beverly dari Filipina.

(Videonya cuma ada versi pendek -_-')

Untung ada audionya =D.







2. "ただそこにある(Tada soko ni aru)" - LEGO BIG MORL

Mungkin karena gw orang Indonesia ya, termasuk gampang banget hanyut sama lagu-lagu ballad. Dan, jika modelnya adalah rock ballad yang sangat catchy dan lirik "ambyar" seperti lagu ini, gw nggak bisa mengelak. Polanya memang klasik, bergantian antara tender dan power, dan dinamika itu yang bikin lagu ini mudah merasuk sekalipun belum paham liriknya.









1. "白日 (Hakujitsu)" - King Gnu

Tahun 2019 menjadi breakthrough band ini, dan salah satunya berkat lagu "Hakujistu" ini. Selain dijadikan theme song salah satu dorama/sinetron, lagu ini rupanya cukup sukses di internet, bahkan videonya sudah mencapai lebih dari 100 juta kali tonton di YouTube. Untuk kali ini, gw sehati dengan internet =). Lagu ini punya daya magis. Genre-nya cukup mbingungin untuk diungkap: apakah rock, apakah funk, apakah hip-hop, apakah pop saja? Yang pasti semua unsur itu ada. Diawali dengan vokal yang lirih, pendengar lagu ini akan dibawa pada perjalanan "penuh liku" lewat sound dan aransemen penuh warna tadi, tapi masih tetap mudah dicerna. Keren. Banget.






Senin, 09 Desember 2019

My Movie Picks of November 2019

November mungkin nggak identik dengan perayaan film-film besar di bioskop, tetapi khusus tahun ini ternyata banyak juga judul-judul unggulan yang digelontorkan di bioskop dan format-format lain. Gw pun terhitung nonton cukup banyak judul sepanjang bulan November, luckily most of them were fine-fine aja, namun rupanya, hanya sedikit yang meninggalkan jejak berarti. Inilah mereka.






1. Ford v Ferrari
(2019 - 20th Century Fox)
dir. James Mangold
Cast: Matt Damon, Christian Bale, Caitroina Balfe, Jon Bernthal, Josh Lucas, Noah Jupe, Tracy Letts


Salah satu biopik yang done right. Topik dan temanya sebenarnya cukup segmented apalagi orang macam gw yang tahu sangat sedikit tentang balap otomotif, alih-alih mengenal titik-titik sejarah krusial blantikanya. Namun, dengan keahlian storytelling yang informatif sekaligus menggugah, gw gampang banget terlarut dalam perjalanan tokoh-tokoh utama kita yang bernaung di bendera perusahaan Ford dalam misi mengguncang supremasi si langganan juara, Ferrari dalam ajang balapan 24 jam di Le Mans, Prancis tahun 1966. Klise zero to hero? Nggak juga ah, malah konsep zero dan hero agak dikaburkan di sini, terutama di bagian klimaks yang lumayan bikin cengang. Karena toh film ini nggak cuma berfokus pada misi utama itu, melainkan juga kehidupan para pelakunya yang dibuat sangat membumi dan hangat, bikin gw bisa bersimpati pada setiap reaksi mereka terhadap pelbagai kondisi dan situasi yang menimpa. Dan, adegan balapnya juga seru banget dong.
My score: 8/10






2. Frozen 2
(2019 - Disney)
dir. Jennifer Lee, Chris Buck
Cast: Kristen Bell, Idina Menzel, Josh Gad, Jonathan Groff, Evan Rachel Wood, Jeremy Sisto, Sterling K. Brown, Alfred Molina, Martha Plimpton, Jason Ritter, Ciaran Hinds


Disney sekarang mulai lebih pede untuk bikin sekuel film-film animasi sukses mereka untuk konsumsi bioskop (biasanya direct-to-video), terbukti dari adanya sekuel Wreck-It Ralph, dan sekarang sekuelnya Frozen. Bisa jadi bukan masalah besar seandainya Frozen pertama bukanlah film animasi terlaris dan tersukses sepanjang masa di dunia--tanpa melihat The Lion King versi 2019 yang sering nggak dianggep "animasi" ya. Para kreator menjawab tantangan tersebut dengan menguraikan lebih banyak latar belakang kedua bersaudari Elsa dan Anna sebagai pemimpin kerajaan Arendelle, dan bagaimana hal itu akan berdampak bagi mereka di masa depan. Agak berat sih jadinya, dan wonder serta surprises-nya tidak sampai seberdampak film pertamanya buat gw. Beruntung keahlian Disney untuk menghibur tidak pernah luntur, dan film ini masih punya banyak momen yang menunjukkan itu (lagunya Kristoff, anyone?), serta kecanggihan visualnya masih sangat, sangat memukau.
My score: 7/10