Minggu, 22 Oktober 2017

[Movie] Detroit (2017)

Tante Kathryn Bigelow ini sepertinya sedang ambil spesialisasi true story, kemarin sudah Zero Dark Thirty dan sekarang Detroit. Jadi katanya di kota Detroit, AS tahun 1967 terjadi kerusuhan besar-besaran bermotif ras, dan di tengah-tengah itu terjadi sebuah kasus besar yang penyelesaiannya nggak membantu memadamkan konflik bermotif ras di sana. Di sebuah motel terjadi penggerebekan yang cukup lama, ketika kepolisian lokal menginterogasi sekelompok pemuda-pemudi--sebagian besar berkulit hitam--atas dugaan penembakan liar ke arah polisi yang sedang tugas jaga di dekat situ. Film ini lumayan mendetail dalam menuturkan dalam beberapa tahapan: dari latar situasinya, perkenalan beberapa karakter kunci, proses penggerebekan, hingga aftermath-nya di pengadilan dsb.

Dengan penuturannya itu, sebenarnya agak sulit untuk bisa "menikmati" film ini, ketika bagian kebrutalan dan intimidasi polisi terhadap orang-orang yang bahkan belum berstatus tersangka tersebut ditunjukan dalam detail yang panjang dan melelahkan. Disclaimer-nya sih bagian tersebut lebih kepada interpretasi terhadap bukti-bukti yang disampaikan di pengadilan, yang fakta-faktanya masih simpang siur berhubung putusan pengadilannya dianggap kontroversial. Dan lagi, gw belum menangkap apa sebenarnya standing point dari si pembuat film terhadap isu ini, selain menunjukkan bahwa para oknum polisi ini sengaja nggak pakai protokol yang seharusnya karena rasis aja. Cuman, nggak bisa dipungkiri film ini punya banyak momen yang mencekam bahkan emosional, terampil bangetlah pengadeganannya, sehingga tetap bisa terus diikuti. Bolehlah.


Detroit
(2017 - Annapurna Pictures/MGM/Entertainment One)

Directed by Kathryn Bigelow
Written by Mark Boal
Produced by Megan Ellison, Karthryn Bigelow, Mark Boal, Matthew Budman, Colin Wilson
Cast: John Boyega, Will Poulter, Algee Smith, Anthony Mackie, Laz Alonso, Jacob Latimore, Jason Mitchell, Hannah Murray, Jack Reynor, Kaitlyn Dever, Ben O'Toole, John Krasinski, Nathan Davis Junior, David Malcolm Kelley, Peyton 'Alex' Smith, Jeremy Strong
My score: 7/10

[Movie] It (2017)

It ini termasuk dalam jenis film yang jadi alasan gw nggak suka nonton horor, tetapi sekaligus juga jenis film yang bikin gw nggak sepenuhnya menjauhi genre ini. Buat gw, film horor itu 'berhasil' kalau seram, tapi film horor itu 'bagus' kalau isinya lebih daripada sekadar parade penampakan dan kengerian--gw benci banget ditakut-takutin oleh film horor tanpa alasan valid *uhuk Ju-on*. Saat nonton It, jujur, hampir nggak kehitung gw ketakutan dan berusaha look the other way ketika ekspektasi gw dipermainkan oleh film sialan ini (adegan OHP slide itu ya Gustii....). Namun, It juga tetap bisa bikin perhatian tak terpecah ketika bagian drama, karakter, bahkan humornya juga digarap dengan serius.

Dasar kisahnya memang dikondisikan "rapuh" supaya sense ngerinya lebih berasa, bertumpu pada sekelompok anak-anak kecil/praremaja dalam menghadapi teror supranatural di sebuah kota kecil, dilakukan oleh semacam jin pemangsa nyawa anak-anak yang mampu bergonta-ganti wujud tapi favoritnya adalah badut. Untungnya film ini terus menggali dan menonjolkan karakter-karakter ini plus hubungan antarmereka, sehingga gw yang nonton emang benar-benar peduli sama nasib mereka, bukan sekadar kasihan karena masih bocah. Di satu sisi gw memang masih punya beberapa pertanyaan tentang mitologi yang coba dibangun lewat sosok "it" di film ini, pun merasa filmnya agak tertatih dalam bagian perkenalan berhubung tokoh-tokohnya banyak banget. Hanya saja, karena kadung penggarapan keseluruhannya sudah bagus, dan horornya juga berhasil, gw rela menyatakan tidak ada sesal--atau pun kesal-telah menonton film ini.


It
(2017 - New Line Cinema/Warner Bros.)

Directed by Andy Muschietti
Screenplay by Chase Palmer, Cary Fukunaga, Gary Dauberman
Based on the novel by Stephen King
Produced by Dan Lin, Roy Lee, Seth Grahame-Smith, David Katzenberg, Barbara Muschietti
Cast: Jaden Lieberher, Jeremy Ray Taylor, Sophia Lillis, Finn Wolfhard, Chosen Jacobs, Jack Dylan Grazer, Wyatt Oleff, Bill Skarsgård, Nicholas Hamilton, Jake Sim, Logan Thompson, Owen Teague, Jackson Robert Scott
My score: 7,5/10

[Movie] Turah (2017)

Dalam semangat film Siti, Fourcolours Films mempersembahkan film panjang perdana sutradara Wicaksono Wisnu Legowo berjudul Turah. Kenapa gw mention Siti, selain karena rumah produksinya sama, adalah karena skala cerita dan penggarapannya yang agak serupa, walau pada akhirnya hasilnya cukup berbeda. Turah (kalau nggak salah artinya "sisa" atau "lebihan") berkisah tentang sesuatu yang sangat sederhana, tentang orang-orang sederhana, tetapi dengan perkara yang kalau dipikir-pikir cukup kompleks juga.

Sebuah kampung pinggir laut di Tegal (itu di Jawa Tengah, kali aja ada yang nggak tahu) dihuni oleh orang-orang yang bergantung pada seorang tuan tanah yang juga memberi mereka mata pencaharian. Turah adalah sosok yang terbilang rajin dan nggak macem-macem, sehingga diberi kepercayaan oleh si tuan tanah untuk jadi semacam "asisten supervisor" kampung tersebut. Lalu ada Jadag, yang merasa tidak diperlakukan adil oleh sang tuan tanah, walaupun dianya juga berkelakuan nggak simpatik karena demen mabok dan selingkuh dan nuduh semua pihak lain sengaja bikin hidupnya susah. Semua orang ingin punya hidup lebih baik, tetapi kadang mereka nggak tahu pilihannya apa saja, nggak berani meninggalkan apa yang ada karena bisa saja berarti kehilangan segalanya.

Gw bilang kompleks karena ada persoalan sosial yang bisa ditangkap dari situasi di kampung tersebut. Jadag itu sebenarnya lumayan eye-opener, dia yang berusaha menyadarkan bahwa saking tergantungnya mereka sama si tuan tanah, mereka seperti terperangkap di situ-situ saja sambil me-raja-kan si tuan tanah yang "pemberian"-nya juga nggak cukup-cukup amat. Buat dia cara paling cepat mengubahnya adalah lewat konfrontasi. Di sisi lain, orang seperti Turah tidak ingin cari masalah, jalanin apa yang ada sebaik-baiknya meskipun berarti itu beberapa cita-citanya akan terus tertunda--dan makin berat untuk beranjak karena cuma dia yang sanggup nyalain listrik buat warga kampung. 

Bagusnya, semuanya diramu dengan sensible dan terkesan jujur berasal dari area tersebut, bukan seperti model satir yang sengaja ambil latar "kampung" hanya sebagai perumpamaan. Ada sedikit let down sih ketika film ini mencapai konklusi, entah dari cara penyampaiannya atau justru pemilihan konklusinya, yang menurut gw kurang satu-dua drive lagi agar lebih berdampak, berasa tiba-tiba kelar aja. Yah bagaimanapun, respek tetap gw berikan untuk film ini. Meski memang tampak sederhana, film ini tetap sukses bikin perhatian tersita--dari yang awalnya tergoda untuk tertawa karena dialeknya yang khas sampai lama-lama serius perhatikan ceritanya yang memang kaya makna.


Turah
(2017 - Fourcolours Films)

Written & Directed by Wicaksono Wisnu Legowo
Produced by Ifa Isfansyah
Cast: Ubaidillah, Slamet Ambari, Yono Daryono, Rudi Iteng, Narti Diono, Cartiwi, Muh. Riziq, Siti Khalimatus Sadiyah, Aminah
My score: 7,5/10

Rabu, 18 Oktober 2017

[Movie] Baby Driver (2017)

Gw begitu menantikan film ini simply karena akan jadi kali pertama nonton film karya Edgar Wright di bioskop. Buat gw doi adalah salah satu sutradara yang paling exciting karya-karyanya, walau memang modal gw cuma pernah lihat Shaun of the Dead dan Scott Pilgrim vs the World (plus Hot Fuzz tapi gak dari awal nonton di Global TV) yang keren gellla itu. Dan betapa excitment itu terbayar ketika akhirnya gw menyaksikan Baby Driver. Konsep gabungkan action, komedi, dan musik yang unlike anything I've seen, sekali lagi membuktikan kreativitas, intelektualitas, dan selera humor asyik seorang Edgar Wright. Gimana coba caranya bikin film tentang dunia perampokan tapi setiap gerakan dan timing kelahi dan tembak-tembakannya dipas-pasin sama irama lagu yang mengiringi, plus referensi lirik-lirik lagu dalam dialog-dialognya tapi nggak kelihatan ngawang-ngawang maksa. 

Jalan ceritanya mungkin familier, seorang getaway guy--bertugas membawa tim perampok untuk kabur--yang berencana berhenti dari dunia hitam, apalagi setelah ketemu dengan seorang pujaan hati, tetapi niatnya itu selalu terhalang. Film ini memunculkan banyak kata sifat dalam benak gw setelah menonton: seru, lincah, asyik, lucu, cerah, nggaya, tapi juga violent, tapi juga manis dan romantis. Deskripsinya mungkin agak membingungkan, tapi ya itu tadi, semuanya diramu menjadi sesuatu yang beda sekaligus lengkap, dengan karakter-karakter yang ditulis dengan presisi dan dimainkan dengan apik, pokoknya menyenangkan, tanpa perlu membodoh-bodohi. Tipe film yang tetap asyik untuk ditonton berulang-ulang.


Baby Driver
(2017 - TriStar)

Written & Directed by Edgar Wright
Produced by Tim Bevan, Nira Park
Cast: Ansel Elgort, Kevin Spacey, Jamie Foxx, Lily James, Jon Hamm, Eiza Gonzalez, Jon Bernthal, C.J. Jones, Flea, Lanny Joon, Brogan Hall, Paul Williams
My score: 7,5/10

[Movie] Bad Genius (2017)

Katanya sih nyontek di sekolah itu hal yang (hampir) semua orang pernah melakukan, malah kadang udah kayak nggak berasa salah gitu. Macam buang sampah sembaranganlah, ngelanggar hukum dan berdampak buruk tapi dianggap yaudahsik. Dan, menurut pengalaman gw, itu juga dijadikan "alat" transaksi pergaulan, biar dianggap temen. Semakin gencar pihak sekolah membuat metode anticontek, semakin siswa-siswi lebih kreatif dalam cari cara mencontek--dan kenapa energi kreativitas itu tidak disalurkan untuk cari cara supaya bisa ingat pelajaran akan selalu jadi misteri. Anyway, rupanya itu bisa dijadikan sebuah sajian film yang menarik dalam Bad Genius. Si jenius di ini bukan hanya jenius dalam pelajaran, tetapi dalam mengambil kesempatan. Didorong oleh teman-teman sekelasnya di SMA, ia membuka bisnis contekan dengan metode unik. Teman senang, dia untung, sama-sama lulus. Tawaran yang lebih tinggi pun dijabanin, sekalipun risiko dan taruhannya juga makin besar. Tapi, mau sampai kapan?

Mungkin karena model sistem pendidikan formal di Thailand dan Indonesia mirip-mirip, jadi gampang banget terhubung sama film ini. Apalagi dibikin kayak film-film laga perampokan gitu, ada tim dengan tugas masing-masing dan semua dipepet waktu. Sensasi kegelisahan saat nggak bisa jawab pertanyaan dan berusaha cari contekan saat pengawas sedang lengah bisa di-capture dengan bagus di sini. Seru banget, dan kok ya bisa kepikiran bikin sesuatu yang kita anggap "biasa" menjadi tontonan yang menghibur. Untungnya, film ini nggak terus mengglorifikasi kehebatan mencontek dan bagaimana itu jadi duit. Gw cukup setuju dengan konklusi film ini, bahwa hal yang kita pikir hanya akan kita lakukan di satu periode saja dan tuntas, ternyata akan tetap berdampak pada kelanjutan hidup kita apa pun itu bentuknya #cieebijak.


ฉลาดเกมส์โกง (Chalard Games Goeng)
Bad Genius
(2017 - GDH)

Directed by Nattawut Poonpiriya
Written by Nattawut Poonpiriya, Tanida Hantaweewatana, Vasudhorn Piyaromna
Produced by Jira Maligool, Vanridee Pongsittisak, Suwimon Techasupinan, Chenchonnee Soonthonsaratul, Weerachai Yaikwawong
Cast: Chutimon Chuengcharoensukying, Chanon Santinatornkul, Teeradon Supapunpinyo, Eisaya Hosuwan, Thaneth Warakulnukroh, Sarinrat Thomas
My score: 7,5/10

Minggu, 17 September 2017

My Top 20 Do As Infinity Songs So Far

Harusnya postingan ini dibuat paling enggak dua minggu lalu ya, pas banget ketika artisnya didatangkan untuk perform di Jakarta. Mohon permaklumannya ya, hehe. Yang pasti, diundangnya Do As Infinity untuk pertama kalinya manggung di Indonesia dengan jadi bintang tamu Nakama Festival 2017 di Ancol, 3 September lalu, sertamerta membangkitkan lagi desire gw *wink wink* untuk mendengarkan lagi lagu-lagu mereka. Apalagi penampilan mereka di sini waktu itu cuma satu jam jadi tentu banyak lagu favorit gw yang nggak sempat dinyanyikan. Setelah gw nonton gw malah jadi makin sering memutar lagu mereka. Maka, naturally gw tergerak untuk bikin postingan 20 lagu Do As Infinity terfavorit gw sepanjang masa.

Do As Infinity's live performance in Indonesia (finally) happened in 2017. We want more please... \(^o^)/

Sedikit latar belakang, Do As Infinity adalah artis/band Jepang yang bertanggungjawab atas kesukaan gw pada J-Pop. Zaman masih SMA, awal era 2000-an *go figure*, gw langsung tertarik ketika pertama kali dengar secuplik lagu "Fukai Mori" di akhir serial animasi Inu Yasha, karena selain melodinya catchy, ada vibe berbeda dari lagu anime/J-Pop yang sebelumnya gw tahu. Vokal Tomiko Van manis tapi "gagah", dan musiknya adalah pop-rock dengan sedikit sentuhan elektronik tetapi punya depth dan otentisitas. Dalam lain kesempatan gw mulai mengulik (via teman-teman seperminatan =)) dan menemukan bahwa lagu-lagu Do As Infinity yang lain juga sama bagusnya. And just like that, I became a fan.

Ada periode gw berusaha sebanyak mungkin mendapatkan CD album mereka, yang kebetulan pernah beberapa kali tersedia di toko kaset Duta Suara atau World of Music (WoM) di Jakarta, walau kebanyakan versi impor Taiwan sehingga lumayan musti nabung dulu tiap beli T-T. Fyi, CD/kaset versi lokal yang diedarkan oleh Indosemar Sakti seinget gw hanyalah album Need Your Love (2005) dan mungkin Do The A-side (2005). Namun, justru saat-saat mereka ingin di-push untuk lebih populer di Indonesia itulah, Do As Infinity memutuskan untuk bubar jalan. Sempat syok saiah. Tetapi mereka akhirnya reuni lagi di tahun 2008, minus sang pendiri sekaligus the genius behind their music, Dai Nagao--obviously inisial namanya dijadikan dasar nama Do As Infinity (DAI). Dan masih ada sampai sekarang, tuh sampai kemarin bisa manggung di Jakarta.



Jadi, setelah 28 single, 11 album orisinal, sekian album kompilasi dan live, dan sekalipun gw nggak se-klik itu pada rilisan-rilisan mereka pascareuni, rasanya itu lebih dari cukup amunisi untuk gw bisa menarik 20 lagu yang menurut gw paling yahud dari Do As Infinity. So here goes...


Kamis, 31 Agustus 2017

[Movie] Valerian and the City of a Thousand Planets (2017)

Gw makin menyadari kecenderungan gw untuk mencari, dan menyukai, film-film "mahal" yang sudah diramalkan akan flop. Karena itu, of course-lah gw sangat menantikan Valerian and the City of a Thousand Planets XD. Diangkat dari komik yang mungkin hanya terkenal di Eropah, film space opera ini menampilkan sepasang polisi antariksa, Valerian (Dane DeHaan) dan Laureline (Cara Delevigne, namanya susye-susye ye) dalam menyelesaikan misi antargalaksi. Basis mereka ada di Alpha, stasiun luar angkasa raksasa yang dihuni seluruh spesies di semesta. Kalau mau digampangin, ada dua macam petualangan besar yang dilakukan oleh Valerian dan Laureline, meskipun masih berkaitan. Pertama, misi mengambil "barang" langka dari sebuah pasar dimensi lain (yup =)), dan kedua adalah penyelamatan komandan mereka yang diculik karena "barang" yang didapatkan di pasar tadi. Bagian kedua ini seluruhnya terjadi di wilayah Alpha yang isinya memang aneka rupa.

Jika merindukan kisah petualangan fantasi futuristis yang riang dan seru, maka film ini adalah pelipurnya. Apalagi world-building-nya sangat menarik, mendetail, dan works, didukung persembahan rancangan visual yang keren-ren-ren banget. Gw juga suka bahwa film ini bisa selalu moving forward dalam hal setting dan perjalanan tokoh-tokohnya, ketemu dengan tokoh-tokoh dan tempat dan situasi yang selalu berganti, sebagaimana adventure seharusnya, jadi nggak mboseni. Hanya saja paruh keduanya itu nggak se-exciting yang awal, mungkin karena masuk dalam ranah intrik politik yang sebenarnya menarik--dan strangely sangat relevan dengan Indonesia, tapi jadi agak ngeberatin keasyikan yang sudah dibangun sebelumnya. Walau begitu, rasa senang menyaksikan film ini nggak sertamerta hilang. Valerian tetap sebuah film yang menyegarkan dan menceriakan, serta bikin kagum karena bisa secara maksimal memfungsikan muka nyolot Delevigne.


Valerian and the City of a Thousand Planets
(2017 - EuropaCorp)

Directed by Luc Besson
Screenplay by Luc Besson
Based on the comic book series "Valerian and Laureline" by Pierre Christin, Jean-Claude Mézières
Produced by Luc Besson, Virginie Besson-Silla
Cast: Dane DeHaan, Cara Delevigne, Clive Owen, Rihanna, Sam Spruell, Ethan Hawke, Herbie Hancock, Kris Wu, Ola Rapace, Alain Chabat, Sasha Luss, Aymeline Valade, Pauline Hoarau, Marilhéa Peillard
My score: 7/10

[Movie] War for the Planet of the Apes (2017)

Seri prekuel/reboot dari Planet of the Apes, kendati terkesan just another alat pengeruk uang ala Hollywood yang lagi kehabisan ide, ternyata selalu tampil mengejutkan. Rise of the Planet of the Apes (2011) yang seru abis, Dawn of the Planet of the Apes (2014) yang thoughtful, dan sekarang ada War of the Planet of the Apes. War tampaknya disiapkan untuk jadi penutup trilogi kisah yang bertumpu pada perjalanan sosok Caesar (Andy Serkis), pemimpin dari kaum primata yang berevolusi jadi bersifat dan berkemampuan seperti manusia, dan makin merapat pada asal-usul kisah Planet of the Apes (film pertamanya tahun 1968, atau mungkin ada yang tahu remake-nya tahun 2001), tentang primata yang makin manusiawi dan manusia yang makin hewani.

"War" di sini--sepenangkapan gw sih--mengacu pada perseteruan Caesar dengan kaum manusia demi bertahan hidup, padahal selama ini Caesar selalu mengupayakan damai. Adalah Colonel (Woody Harrelson) yang proaktif ingin menangkapi kaum primata, seolah menyangkal bahwa kaum manusia semakin tak sanggup lagi menaklukkan bumi. Buat gw, War tetap konsisten menyajikan tema yang provoking seperti film-film sebelumnya, dan itu yang bikin trilogi reboot Planet of the Apes ini jadi somewhat istimewa. Emang sih makin ke sini seolah makin dark dan moody dari segi penyajian--dan pacing melamban, hehe, tetapi War sukses jadi puncak pencapaian persembahan visual dari seri ini, dari sinematografinya yang keren gilak, beberapa pengadeganan yang thrilling dan rapi sekali, sampai ke animasi digital para primata yang makin mencengangkan saking realistisnya, yang juga bikin gw makin bersimpati secara emosional dengan tokoh-tokohnya meski gw berasal dari spesies berbeda =P.


War for the Planet of the Apes
(2017 - 20th Century Fox)

Directed by Matt Reeves
Written by Mark Bomback, Matt Reeves
Based on the characters created by Rick Jaffa, Amanda Silver
Inspired by the novel "Planet of the Apes" by Pierre Boulle
Produced by Peter Chernin, Dylan Clark, Rick Jaffa, Amanda Silver
Cast: Andy Serkis, Woody Harrelson, Steve Zahn, Karin Konoval, Amiah Miller, Terry Notary, Ty Olson, Michael Adamthwaite, Gabriel Chavarria
My score: 7,5/10

Rabu, 09 Agustus 2017

[Movie] Dunkirk (2017)

Kalau membaca nama Christopher Nolan pasti langsung kebayang film-film canggih dan high concept pokoknya pasti keren dsb. Gw juga berpikiran yang sama. Makanya, ada sedikit keterkejutan ketika oom Chris bikin film sejarah, yang notabene pasti udah ketahuan cerita dan endingnya kayak gimana =P. Dan memang benar, menyaksikan Dunkirk, nggak ada tuh jalan cerita yang penuh konsep meledakkan pikiran *maksudnya mindblowing* dan intrak-intrik ribet. "Hanya" soal tiga sudut pandang dalam peristiwa penyelamatan besar-besaran para tentara Inggris yang terkepung di pantai Dunkerque, Prancis pada masa Perang Dunia II, dengan inti cerita sesederhana tentang menyelamatkan dan diselamatkan. Namun, sisi antik oom Chris tetap mau ditunjukkan, yaitu bahwa tiga kisah ini berada dalam rentang waktu yang berbeda-beda. Ada yang 1 minggu, 1 hari, dan 1 jam, yang akan bersinggungan di satu titik, tetapi dituturkan berbarengan dengan gaya editing mengikuti tensi adegan di masing-masing cerita, yang langsung mengingatkan gw pada Cloud Atlas.

Sebagian besar film ini memang bertumpu pada technical marvel yang dimanfaatkan dengan baik di sini. Minim bantuan animasi digital dengan tujuan memberikan gambaran yang lebih tangible, dan tata suara yang menyatu dengan musik dibuat untuk menggiring pada sensasi berada di tengah-tengah situasi yang dirasakan tokoh-tokohnya. In a way, film ini jadinya lebih ke memberikan audio visual experience dibandingkan bernarasi--again, karena jalan ceritanya sangat lurus dan sederhana. Bercerita dalam tiga rentang waktu berbeda juga bagian dari upaya menimbulkan sensasi itu, bahwa waktu "lama" atau "sebentar" itu relatif tergantung situasinya--ibarat mobil jalan 3 kilometer dalam 5 menit terasa lebih sebentar daripada angkot ngetem 1 menit =|. Biar demikian, film ini sanggup bikin gw memetakan gambaran besar tentang apa itu peristiwa Dunkirk as a whole dan apa yang harus direfleksikan dari sana. Pada akhirnya film ini mungkin bukan karya oom Chris ter-wow buat gw, namun setidaknya sudah mencapai apa yang menjadi niatnya, ya sebagaimana karya-karyanya sebelum ini. 

NB: Sebagian besar film ini direkam menggunakan kamera IMAX, ada kali 70-an persen, dan looks really good in IMAX screen. Gw dulu pernah nulis harapan gw agar oom Chris bikin film khusus IMAX tanpa perlu yang panjang-panjang biar nggak pegel kalau ditonton di Keong Emas yang notabene gw anggap "IMAX betulan satu-satunya di Indonesia". Well, Dunkirk yang mostly IMAX dan cuma 106 menit ini yang paling mendekati harapan itu haha....walau tetep aja nggak diputar di Keong Emas T-T.


Dunkirk
(2017 - Warner Bros.)

Written & Directed by Christopher Nolan
Produced by Emma Thomas, Christopher Nolan
Cast: Fionn Whitehead, Harry Styles, Aneurin Barnard, Kenneth Branagh, James D'Arcy, Mark Rylance, Cillian Murphy, Tom Glynn-Carney, Barry Keoghan, Tom Hardy, Jack Lowden
My score: 7,5/10


Jumat, 04 Agustus 2017

[Movie] Let's Go Jets (2017)

Beda budaya kali ya. Kisah (nyata) orang atau orang-orang underdog yang meraih prestasi kelas dunia, kalau di Indonesia belum apa-apa udah dikasih beban harus "inspiratif" dan "nasionalisme". Di Jepang, jadinya film komedi =D. Sangat mungkin generalisasi gw tadi keliru, tetapi kalau merujuk pada Let's Go Jets, tampaknya buat orang-orang perpeleman Jepang sana, menyajikan cerita dengan gaya komikal akan lebih efektif dalam menyampaikan nilai-nilai yang diusung, sekalipun berdasarkan kisah nyata. Seriously, Let's Go Jets ini disusun sedemikian rupa seperti sport movies fiksi adaptasi manga ataupun J-dorama yang suka agak melebih-lebihkan, dengan watak-watak spesifik seperti ada si perfect, si ceria, si minder, si somseu yang selalu merasa lebih oke dari yang lain, dst dst., dan tentu saja dimotori oleh si pengajar yang keras dan eksentrik, dengan cita-cita yang mungkin ketinggian: menang kejuaraan cheer dance tingkat SMA di Amerika Serikat--makanya judul asli film ini "chia-dan" dari "chia-dansu" penjepangan frase cheer dance =).

Apa pun detail yang sebenarnya terjadi di kisah nyatanya, susunan karakter dan jalinan cerita di film ini terbukti sangat works menjadi tontonan yang menyenangkan. Mungkin agak klise sih jadinya, dari yang nggak bisa apa-apa jadi bisa, ada momen-momen down dan harus dimotivasi lagi biar bangkit lagi semangatnya, juga sisipan soal romansa SMA, plus tentu saja ada pertaruhan ekstrakurikuler cheer dance-nya terancam ditutup karena nggak pernah berprestasi apa-apa *yaelah ^.^'*. Namun, yang memang nggak bisa gw tolak adalah film ini bisa bikin larut di antara momen lucu, gembira, dan sisi emosionalnya--yang menurut gw bagian ini diadegankan sangat menarik dan paling nggak klise. Gw sebenarnya berharap winning performance di klimaksnya bisa lebih wow lagi--ya mungkin faktor pemain bukan yang betulan latihan keras tiga tahun hehe. Tetatpi, paling penting nilai-nilai tentang kerja keras serta kegembiraanya tetap bisa tersampaikan, so it's alright.


チア☆ダン~女子高生がチアダンスで全米制覇しちゃったホントの話~
Chia☆Dan ~Joshi Kosei ga Chia Dansu de Zenbei Seiha Shichatta Honto no Hanashi~
a.k.a. Let's Go Jets
(2017 - Toho)

Directed by Hayato Kawai
Written by Tamio Hayashi
Produced by Tamako Tsujimoto, Atsuyuki Shimoda
Cast: Suzu Hirose, Yuki Amami, Ayami Nakajo, Hirona Yamazaki, Mackenyu, Miu Tomita, Haruka Fukuhara, Yurina Yanagi, Kentaro, Saki Minamino, Hana Hizuki, Takayuki Kinoshita, Yasuhito Hida, Kitaro
My score: 7/10