Senin, 26 September 2016

[Movie] The BFG (2016)


The BFG
(2016 - Disney)

Directed by Steven Spielberg
Screenplay by Melissa Mathison
Based on the book by Roald Dahl
Produced by Steven Spielberg, Frank Marshall, Sam Mercer
Cast: Mark Rylance, Ruby Barnhill, Penelope Wilton, Jemaine Clement, Rebecca Hall, Rafe Spall, Bill Hader


Sebagai pecinta film yang mainstream, gw termasuk yang selalu menantikan karya-karya Steven Spielberg yang manapun. The BFG tentu saja termasuk di dalamnya, apalagi mengetahui ini mengumpulkan kembali tim sukses dari film tersuksesnya, E.T.: The Extra Terrestrial (1982), yaitu Spielberg sendiri dan penulis skenario alm. Melissa Mathison. Ditambah lagi bekerja sama dengan Disney, dengan mengadaptasi buku anak-anak karya penulis tersohor Roald Dahl. How exciting is that? Udah lama juga Spielberg nggak bikin film fantasi semua umur--kecuali kalau War Horse (2011) diitung =D. I mean, it has to be great, right?

Oke, ceritanya dulu deh. Seorang anak perempuan yatim piatu bernama Sophie (Ruby Barnhill) yang penuh imajinasi dan agak-agak precocious tinggal di sebuah panti asuhan di London, Inggris. Suatu malam dia tanpa sengaja melihat penampakan seorang raksasa, dan raksasa itu kemudian menangkap Sophie dan membawanya ke rumahnya di negeri para raksasa. Meskipun raksasa seyogianya memangsa manusia seperti Sophie, ternyata si raksasa itu berhati lembut dan baik, disapa dengan nama Big Friendly Giant atau BFG (Mark Rylance), yang pekerjaannya mengumpulkan mimpi. Namun, dibilang "big" pun si BFG ternyata adalah raksasa paling kecil di negeri raksasa. Dia sering dirisak oleh raksasa-raksasa lain yang lebih besar dan liar dan sudah lama ngidam daging manusia. Maka Sophie dan BFG saling bekerja sama untuk saling melindungi, termasuk sebuah ide mustahil dengan meminta bantuan Ratu Inggris (Penelope Wilton) untuk mencegah huru-hara yang disebabkan para raksasa.

Gw merasa film ini it is what it is, mengalirkan segala unsur fantasi dan kepolosan ceritanya tanpa harus mewakili "nilai-nilai" tertentu. Maksud gw, nggak ada penjelasan yang gimana gitu tentang keberadaan raksasa dan keajaiban-keajaiban yang terjadi di cerita ini, segala sesuatu ya diterima aja dulu. Tetapi, mungkin ini yang jadi problem buat gw dalam menangkap cerita ini. Dengan penuturan yang agak lamban dan sedikit old-fashioned, gw belum bisa dengan sempurna memahami world-building dari cerita ini. Sampai pada akhir durasi gw seperti tertahan untuk masuk dan terlarut ke dalam dunia yang ditampilkan di layar, terlalu banyak hal yang gw lewatkan atau memang tidak dijelaskan. Dunianya mungkin dirancang penuh wonder, tapi jadinya malah bikin gw wondering *halah*, dan buntutnya gw jadi nggak peduli lagi.

Contohnya gini, si BFG bilang pekerjaannya menangkap dan membagikan mimpi, tapi apa yang dia dapat dari situ dan apakah dia bagi-bagi mimpinya ke semua anak-anak dengan random atau pilih-pilih, dan apa alasannya? Apakah semua mimpi di dunia berasal dari si BFG? Lalu, satu poin yang sangat mengganggu gw adalah kenapa raksasa-raksasa itu harus "dibasmi" oleh pihak manusia padahal belum berbuat apa-apa, 'kan itu lebih cenderung membenarkan sikap suudzon dan diskriminasi berdasarkan praduga bersalah. Mungkin pertanyaan-pertanyaan gw ini agak-agak overthinking dan partypooping untuk dipertanyakan terhadap sebuah film fantasi yang dimaksudkan agar bisa dinikmati anak-anak, tapi ya begitulah yang gw rasakan saat nonton film ini. Pace-nya yang lambat dan kurang hidup--sebelum sampai ke bagian Ratu Inggris yang cukup jenaka--pun tidak membantu gw untuk bisa lebih menikmati film ini.

Namun, mana bisa gw nggak dapat sesuatu yang gw kagumi dari film Spielberg. Gw sih tak bisa tidak memuji production design yang megah nan indah, musik dari John Williams yang memberi  nyawa di beberapa bagian--walau kadang mirip nada-nada karya Williams buat Harry Potter, dan tentu saja visual effects-nya yang mulus, dan para aktor-aktris cukup punya nama (at least dalam ingatan gw) yang mau aja kebagian porsi sedikit mungkin karena bagaimana pun pengen ada di filmnya Spielberg =D. Beberapa sekuens panjang fantastikal khas Spielberg, terutama yang contiuous shot juga masih menghibur, walau kayaknya kalau dipersingkat akan lebih oke. Oh iya, dialog-dialognya juga dibuat agak lucu karena si BFG suka tukar-tukar kata, sayangnya agak kurang terepresentasi dengan baik dalam subtitel Indonesianya. Yah, lebih sayangnya sih bahwa gw kurang bisa merasakan magic dan warmth yang mungkin sebenarnya ada di film ini. Bisa jadi ini karya penyutradaraan Spielberg yang paling gw nggak nikmatin dalam dekade terakhir.





My score: 6,5/10

Kamis, 22 September 2016

[Movie] Sully (2016)


Sully
(2016 - Warner Bros.)

Directed by Clint Eastwood
Screenplay by Todd Komarnicki
Based on the book Highest Duty by Chesley "Sully" Sullenberger, Jeffrey Zaslow
Produced by Frank Marshall, Clint Eastwood, Tim Moore, Allyn Stewart
Cast: Tom Hanks, Aaron Eckhart, Laura Linney, Mike O'Malley, Anna Gunn, Jamey Sheridan, Ann Cusack, Molly Hagan, Jane Gabbert, Valerie Mahaffey, Holt McCallany, Chris Bauer


Entah buat yang lain, tapi dalam pikiran gw saat dengar proyek film Sully adalah adanya potensi keakbaran dari cerita dan sajiannya. Gimana nggak, ini film menyatukan sineas sepuh tapi ridiculously produktif Clint Eastwood dan sang aktor besar Tom Hanks, kisahnya tentang pesawat kecelakaan, direkam dengan peralatan yang diperuntukkan untuk format IMAX, diangkat dari kisah nyata pula. Kalau udah gini 'kan biasanya akan dibawa pada dramatisasi bombastis serba heboh oleh Hollywood. Nyatanya, Sully tidak berkembang ke arah itu. Film ini justru disajikan sederhana apa adanya, tanpa terlalu banyak ornamen penguat rasa *vetsin kali ah*, cuma 90 menit lagi. Tetapi, itu justru makin bikin gw kepincut sama filmnya.

Kisah Sully berpijak pada sebuah peristiwa bak mukjizat tapi nyata yang terjadi di New York, Amerika Serikat pada Januari 2009 silam, ketika pesawat penumpang domestik US Airways penerbangan 1549 baru aja lepas landas dari bandara LaGuardia, lalu mengalami kerusakan total pada mesin, sampai akhirnya pilot kapten Chesley "Sully" Sullenberger (di film diperankan Tom Hanks) memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat di atas sungai Hudson--antara kota New York dan New Jersey. Ini manuver yang nekat, tetapi pada akhirnya seluruh awak dan penumpang selamat, se-bayi-bayinya dan se-oma-opanya. Luar biasa, mengagumkan, heroik, menginspirasi, tetapi itu hanya bagian luarnya saja. Sebagaimana setiap peristiwa kecelakaan pesawat komersial, pasti diadakan investigasi oleh badan transportasi. Lah, salahnya di mana kalau semua orang di pesawat tadi selamat? Well, pendaratan pesawat di air ternyata belum pernah dilakukan (ternyata petunjuk keadaan darurat di pesawat tentang pendaratan di air itu baru sebatas amit-amit ye =_=), artinya kapten Sully sebenarnya saat itu sedang membahayakan nyawa ratusan orang dengan melakukan sesuatu yang sangat berisiko. Apalagi, analisis data menunjukkan Sully sebenarnya masih bisa memutar balik dan kembali ke bandara. Ketika di luar sana ia dielu-elukan sebagai pahlawan, di balik itu Sully terancam menerima konsekuensi terburuk dari keputusan daruratnya itu.

Atau setidaknya itulah tekanan yang dirasakan dan dipikirkan oleh Sully, dan itulah inti dari film ini. Rentang waktu film Sully sebenarnya singkat saja, hanya beberapa hari, dan plotnya bolak-balik dengan adanya flashback dari memori Sully. Menarik bahwa di balik segala kehebohan peristiwa ini di dunia nyata, film ini memilih untuk berfokus pada satu hal, yaitu kegelisahan Sully selama investigasi, dan itu ternyata tidak kalah dramatis. Gw perhatikan bahwa hampir semua, 90 persenlah, adegan di film ini adalah dari sudut pandang Sully, atau ada kehadiran Sully di sana. Yang paling kentara adalah tentang pembahasan pendaratan yang ditunjukkan beberapa kali dalam versi beda-beda. Ada versi mimpi Sully (alias versi what could've happen), lalu ada versi bagaimana Sully mengingatnya, ditambah versi pandangan orang luar seperti warga dan media yang meliput, sampai akhirnya pada detik-detik peristiwa yang sebenarnya lewat rekaman penerbangan yang didengarkan ulang. Sebagaimana memori setiap kita pasti ada yang terpotong atau terdistorsi, film ini seolah menunjukkan proses Sully untuk meyakinkan diri bahwa yang ia lakukan tidaklah salah, dan apa yang ia takutkan--sampai-sampai pihak dewan penyelidik terkesan cari-cari kesalahan dirinya--adalah berlebihan. Tetapi, he couldn't help it, dan wajar, peristiwa seperti ini, beserta dualisme dampaknya, belum pernah terjadi.

Buat gw, cerdas juga film ini dalam mengambil angle. Bukan di jalur biografi, tidak juga dalam jalur investigasi, tetapi lebih ke pergulatan hati si Sully ini. Dan, sepertinya itu pilihan yang sangat tepat, sebab selain keberhasilannya membuat "keajaiban", sosok Sully ini sebenarnya kurang menarik difilmkan, lurus banget gitu kehidupannya, hehe. Udah senior, kariernya baik-baik aja, keluarga baik-baik aja, sifat dan pembawannya juga baik-baik aja. Pembuat film ini nampaknya harus gali lebih dalam lagi tentang diri Sully yang layak untuk di-share dalam film yang merupakan dramatisasi tanpa harus ngarang tak terkendali, dan gw sih cukup puas dengan apa yang ditunjukkan di sini. Okelah ada juga sedikit upaya memunculkan nilai patriotisme khas Amerika dengan penghormatan pada semua profesi yang terlibat dalam peristiwa ini: dari pramugari, air traffic controller, nahkoda kapal ferry, polisi, pemadam kebakaran, hingga paramedis, yang menurut laporan sih memang sangat sigap karena berhasil mengevakuasi korban kurang dari setengah jam saja. But still, film ini bisa teguh pada angle cerita dari sisi psikologisnya Sully.

Di luar itu, salah satu hal yang bikin gw juga terpikat sama film ini adalah delivery dan eksekusinya yang straightforward sekali, nggak aneh-aneh, mengalir aja, namun pada saat yang diperlukan tetap bikin deg-degan. Ini keterampilan luar biasa yang gw nggak habis pikir gimana caranya dan cara menjelaskannya di sini. Gw sendiri mungkin salah satu yang sudah tahu tentang peristiwa ini dan tahu penumpangnya semua selamat, tetapi saat peristiwa itu ditunjukkan cukup detail di layar, tetep lho gw tertegun dan emosinya naik-turun karena khawatir sama orang-orang ini. Mungkin juga karena film ini saking berhasil membawakannya dengan membumi sehingga jadi kebayang mengerikannya kalau kejadian itu menimpa gw *amit-amit*. Seperti biasanya film Hollywood, di sini juga di-highlight beberapa karakter "jelata", yaitu penumpang yang jadi pinpoint penonton untuk menaruh rasa pedulinya saat bencana menimpa, tetapi untungnya juga nggak dibuat berlebihan dan nggak mengalihkan fokus cerita. Nggak ada tuh histeris-histerisan lebay, lihat-lihatan lama, orang-orang ngeselin, gambar slow motion, bahkan hentakan musik heboh, tetapi somehow dengan kebersahajaan dan keapa-adaannya, bagian-bagian film ini tetap menggetarkan buat gw. Musiknya tuh minimalis cuma pakai band jazz beberapa instrumen lho.

Bisa jadi karena opa Eastwood tuh udah sakti banget ya, sehingga tinggal pilih skenario dan aktor yang tepat maka adegan-adegan yang dieksekusinya nggak perlu dipoles menor dan rumit bisa beres dan ada rasanya, dan dikemas dengan penataan gambar yang sinematik lembut namun intens. Ini makin kelihatan di Sully, yang rentang ceritanya sangat ringkas dan hampir tanpa letupan kencang, dan bisa dibilang ringan dibandingkan misalnya dengan American Sniper atau Changeling apalagi Letters of Iwo Jima yang muatannya lebih kompleks, tetapi Sully masih bisa sanggup menggugah gw. Bahkan, menurut gw film ini lebih menggugah dari film-film si opa yang pernah gw tonton (mungkin setara sama Gran Torino). Atau juga mungkin karena selama beberapa pekan belakangan gw belum menemukan tontonan bioskop yang sememuaskan ini, jadinya Sully terasa istimewa haha. But that's still something, isn't it?





My score: 8/10

PS: Film ini 95 persen direkam dengan kamera khusus untuk IMAX (ARRI Alexa 65), dan hasilnya sangat tajam saat ditonton di teater layar raksasa IMAX. Gw puas dan senang waktu nonton di format tersebut, apalagi nggak pakai 3D, hehehe *keribetan orang berkacamata*

Selasa, 13 September 2016

[Movie] Algojo: Perang Santet (2016)


Algojo: Perang Santet
(2016 - IFS/Underdog Fightback)

Directed by Rudi Soedjarwo
Written by Anggi Septianto, Kim Kematt
Produced by Rudi Soedjarwo, Aulia Mahariza
Cast: Darius Sinathrya, Stevie Domminique, Otig Pakis, Christoffer Nelwan, Emil Kusumo, Galih Galinggis, Wani Siregar, Andi Bersama, Sabrina Athika, Osh Indah, Siska Sandy, Betet Kunamsinam, Kim Kematt


Apa kabar Rudi Soedjarwo? *pendahuluan ala infotaiment ^_^*. Sineas ini mencuat sebagai salah satu faktor kesuksesan film drama remaja fenomenal Ada Apa dengan Cinta? (2002) yang disutradarainya, lanjut Mengejar Matahari (2004) dan 9 Naga (2006), lalu mem-paving jalur kreatifnya sendiri dengan membuat komunitas film indie bagi pemula. Kalau menelusuri sejak periode 2011-2012, Rudi couldn't be more indie, menjadi sutradara serta produser film-film yang lebih berskala kecil dan banyak memakai pemain dan kru pendatang baru asuhannya, dan lebih condong menghasilkan drama cinta--terakhir Rudi sutradarai Stay with Me (2015). Jadi, ketika Rudi menggelontorkan film Algojo: Perang Santet, yang bermain di antara laga superhero dan mistis, jadinya lumayan menarik perhatian gw. Yup, you read that right, gabungan laga superhero dan mistis.

Seperti judulnya, Algojo berangkat dari ide santet, sebuah ilmu klenik yang dikenal oleh bangsa Indonesia cukup lama, biasanya dipakai untuk melukai atau mencelakai orang dari jarak jauh, dengan metode si dukun "mengirim" celaka ke tubuh targetnya lewat jalur supranatural. Di universe Algojo, ada sekelompok orang yang memiliki kemampuan supranatural itu, dan mereka juga bisa melihat proses "pengiriman" itu secara kasat mata, ya mirip-mirip hadouken dan kamehameha gitu. Tiap orang punya "bentuk kiriman" berbeda-beda, umumnya berbentuk senjata tajam, namun efeknya sih nggak akan jadi luka seperti kena senjata tajam, soalnya 'kan pake elmu daleman, lukanya jadinya ya luka dalam tanpa ada jejak yang bisa dijelaskan secara ilmu eksakta, hehe. Anyway, menurut gw world-building seperti ini sangat menarik, dan Algojo juga cukup oke dalam men-deliver itu semua dalam ceritanya. Idenya buat gw sangat menarik, apalagi mengandung kearifan lokal *halah*.

Sementara ceritanya sendiri mungkin mengikuti pola film silat, soal dendam lintas generasi. Desta (kecilnya Christoffer Nelwan, gedenya Darius Sinathrya) adalah keturunan keluarga dengan kemampuan supranatural. Namun, suatu ketika, ayahnya, Bima (Emil Kusumo) terjebak dalam intrik sesama orang-orang berkemampuan yang hendak memintanya menggunakan kemampuannya untuk keperluan politik seseorang. Penolakan Bima yang keras tak berdampak baik, Bima dibunuh oleh Patih (Otig Pakis) lewat kemampuan supranaturalnya. Setelah besar, Desta bergabung ke satuan kejahatan supranatural dengan satu tujuan utama, membalas dendam terhadap pembunuh ayahnya. Suatu ketika ia bersilang jalan dengan Moska (Stevie Domminique) beserta adiknya, Supra (Gali Galinggis) dan dua teman lainnya, anak-anak muda yang kerap menggunakan kemampuan supranaturalnya untuk menyembuhkan orang. Adanya Desta di antara mereka rupanya terendus kelompok Patih, dan ancaman mulai membayangi mereka.

Dari konsep dan jalan ceritanya, Algojo menurut gw sangat berpotensi menjadi sebuah film yang fun, bahkan cool, terlepas dari produksinya yang masih skala kecil dan mungkin teknisnya tidak mewah—gambar-gambar dan penataan adeganya sih termasuk baiklah, palingan digital effects-nya yang masih basic. Ada drama-drama sebagaimana film-filmnya Rudi juga pasti tak terhindarkan dan mungkin akan memberi warna tersendiri terhadap genre ini, toh sejumput cinta atau politik bisa jadi bumbu yang sedap. 

Tetapi, gw agak underwhelmed bahwa ternyata filmnya tidaklah fun ataupun cool, bahwa filmnya ternyata mostly drama dengan mood yang murung, sendu, mengkerut, pokoknya kagak ada asyik-asyiknya dan santai-santainya. Dibawakan juga dalam pace yang lambaaaaat sekali, dengan grafik emosi yang stagnan di kemurungan dan kesenduan itu. Entah kenapa di film ini setiap ada adegan percakapan, setiap lawan bicara kayak harus diam minimal tiga detik sebelum menimpali, that's how slow this film felt to me.  Adegan "tarung" santet-nya juga terbilang minimalis, sisanya diisi banyak adegan melamun dan lihat-lihatan. I mean, come on, it's not even an artsy film, durasi 90 menit pun rasanya kayak lama sekali. Mungkin dengan cara-cara itu maunya film ini dikondisikan thrilling, tapi yang gw tangkap adalah terlalu banyaknya adegan yang dilama-lamain tanpa substansi. Dan atmosfer murungnya sama sekali tidak membantu.

Entahlah, gw merasa idenya terlalu precious untuk dieksekusi seperti ini. Gw berharap ide yang cenderung komikal tersebut bisa jadi tontonan alternatif bagi film Indonesia yang menurut gw saat ini masih kekurangan variasi genre dan ide. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Gw nggak bilang filmnya jelek, cuma ya gw merasa potensinya bisa lebih keluar jika arah pengembangan cerita dan style-nya tidak seperti ini. Mungkin bisa di-remake di masa mendatang?





My score: 6/10

[Movie] Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016)


Warkop DKI: Reborn: Jangkrik Boss! Part 1
(2016 - Falcon Pictures)

Directed by Anggy Umbara
Written by Bene Dion Rajagukguk, Andi Awwe Wijaya, Anggy Umbara
Produced by Frederica
Cast: Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, Tora Sudiro, Indro Warkop, Hannah Al Rashid, Ence Bagus, Fazura, Nikita Mirzani


Akhirnya proyek yang bikin penasaran sekaligus bikin khawatir keluar juga. Warkop DKI Reborn adalah salah satu proyek film paling unexpected dalam perfilman Indonesia dalam satu tahun terakhir. Maksud gw, how can you "reborn" a legend? Gw ngerti sih, dengan bergeraknya lagi blantika film Indonesia, ada kerinduan untuk membuat film baru dari grup lawak Warkop DKI (Warung Kopi Dono Kasino Indro), yang film-filmnya senantiasa laris dulu era 1980-an sampai 1990-an dan sering diputar ulang di TV sampai sekarang, tapi itu hampir mustahil terwujud karena personel Warkop yang masih hidup tinggal Indro. Nah, komedi ala Warkop, apapun perspektif maknanya, sebenarnya sudah mulai ditawarkan sejak satu dua tahun belakangan ini. Paling terbuka mengakui ini adalah Komedi Moderen Gokil (2015) yang juga dibintangi Indro, dan sukses komersial, jadi demand-nya mungkin memang ada dan nyata. Tetapi, proyek Warkop DKI Reborn mungkin yang paling daring, karena benar-benar memakai brand Warkop DKI, dengan karakter Dono Kasino Indro, tapi dimainkan oleh orang lain. Penjelasan dari mereka sih intinya ingin menjadikan "jiwa" karakter khas Warkop DKI terus ada meski pemeran aslinya sudah tidak ada kelak. Maka, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 dijadikan semacam jembatan untuk membuka jalan Warkop DKI sebagai franchise film yang diharapkan dapat terus bergulir.

So here we are, gw dan mungkin jutaan orang Indonesia lainnya yang sudah akrab dengan Warkop DKI entah lewat jalur yang mana, ditawarkan sebuah film baru yang berisikan karakteristik khas Warkop DKI yang biasa ditampilkan dalam pertunjukan-pertunjukannya dahulu, hanya saja kini dalam tubuh baru: Dono yang polos dan paling sial dimainkan Abimana Aryasatya, Kasino yang ceriwis dan banyak akal dimainkan Vino G. Bastian, dan Indro yang santai-santai diperankan Tora Sudiro. Dengan sentuhan riasan dan gestur, menurut gw ketiganya cukup berhasil untuk menjadi Dono Kasino Indro tanpa kesan sekadar impersonating. Selama film berjalan gw nggak terpancing untuk ingat-ingat lagi wujud DKI asli saat menyaksikan mereka--sekalipun ada Indro asli muncul di samping Indro versi Tora tapi malah jadi meta yang menarik =D. Berarti, memang tak percuma aktor-aktor ini dipakai menghidupkan trio Warkop dalam film ini. Untuk bagian yang sebenarnya paling berisiko ini, film ini berhasil menuntaskannya.

Namun, bagaimana dengan presentasi keseluruhannya? Jangkrik Boss! Part 1 pada akhirnya memilih jalan antara remake, reboot, tribute, dan meta dari berbagai unsur dari film-film Warkop DKI yang lama lalu diutak-atik dan dicampur-campur, kemudian dijahit dengan jalan cerita baru. Kalau diingat-ingat, film-film Warkop DKI zaman dahulu sebagian besar adalah deretan sketsa komedi atau gags tanpa actual story. You know, yang awalnya apa tengahnya apa akhirnya apa, dan mungkin itu sebabnya banyak momen-momen komedi itu jadi sangat ikonik dan memorabel meski gw selalu gagal mengingat konteks ceritanya =D--toh tetap banyak yang nonton karena yang dicari memang lawaknya. Jangkrik Boss! Part 1 ini bisa dibilang meminjam sebagian konsep itu, tetapi paling nggak ada satu tujuan besar yang harus mereka capai bersama-sama. Dono, Kasino, dan Indro adalah anggota keamanan swasta CHIPS yang kerap buat kekacauan, sehingga suatu saat mereka harus cari 8 miliar rupiah dengan cepat untuk membayar denda. Pencarian ini membawa mereka ke mana-mana, dan of course di bagian ini belum akan selesai karena ada Part 2-nya nanti, hehe *kzl*. 

Menurut gw Jangkrik Boss! Part 1 ini cukup baik dalam meminjam konsep-konsep lama itu dalam sajian yang baru. Iya tentu dari segi cerita jadi terasa stretchy, tetapi itu karena diisi oleh berbagai lawakan yang memang ingin dijadikan menu utama film ini, which also explains why film ini dibuka dengan pembacaan berita yang kayaknya nggak nyambung sama isi filmnya, selain memang tribute terhadap salah satu film Warkop lawas yang gw lupa judulnya haha. Lawakannya sih nggak melulu mengulang Warkop DKI yang lama untuk nilai nostalgia, tetapi dimasukkan juga materi yang lebih sesuai zaman, misalnya maraknya begal di jalanan, hakim singgung hutan gundul tinggal ditanam lagi, hingga ilustrasi kaleng biskuit *XD*. Tapi yang penting, buat gw antara satu gag ke gag yang lain nyambungnya mulus, nggak patah tiba-tiba, dan jadi semacam adventure yang tetap bisa diikutin.

Nah, karena isinya banyak terkonsentrasi di penyajian komedi, hal ini bisa jadi keuntungan sekaligus kerugian bagi film ini. Untung bila yang nonton cocok sama lawakan slapstick, absurd, plesetan, humor receh-recehan, atau sentilan sosial yang frontal, mereka pasti akan terhibur oleh film ini. Kalau yang nggak, ya nggak, sesimpel itu. Gw sendiri nggak sampe ngakak sepanjang film, tetapi gw tetap bisa menemukan kelucuan-kelucuan di beberapa tempat, dan beberapa ternyata dirancang dengan cerdas, sekalipun memang film ini kesannya konyol-konyolan "kurang pintar". Salah satu yang paling mindblowing buat gw adalah bagaimana film ini bisa mengatasi persoalan copyright lagu-lagu dari luar negeri yang dalam film-film Warkop DKI sebelumnya nggak diperhatikan, tapi caranya itu bangke banget dan buat gw jadinya malah nambah unsur komedinya in a deeper layer. Perhatikan adegan bandara Malaysia and you'll see what I mean =D.

Anyway, dengan kepenasaranan maupun kekhawatiran gw tentang proyek Warkop DKI Reborn ini, sebenarnya ada satu bagian yang gw nggak perlu khawatir, yaitu kemasannya. Dengan kemajuan zaman, ditambah lagi sutradaranya Anggy Umbara yang selalu tampilkan visual mentereng (Comic 8, 3) dan Falcon Pictures yang banyak duit =P, niscaya visual film ini akan lebih mending dan fresh dibanding sebelum-sebelumnya. Namun, betapa senangnya gw bahwa kemasan visualnya nggak seperti ekspektasi gw. Anggy di sini sedang tidak "centil" dengan visual berkilap dan berwarna tajam, malah gambarnya tampil lembut dan toned-down walau tetap cerah--Yunus Pasolang a.k.a. my new favorite Indonesian cinematographer juga membuat banyak shot dengan komposisi asyik =), yang didukung production design yang rapi, ditambah lagi riasan dan kostum bernuansa retro, dan sentuhan visual effects yang mulus sesuai kebutuhan. Semuanya blend dengan baik dengan karakter dan konten yang diusung, dan kayaknya sih itu yang bikin gw makin enak menikmati deretan adegan yang ditampilkan di film ini.

Jadi, apakah film Jangkrik Boss! Part 1 ini bagus atau lucu, ya jawabannya tergantung definisi masing-masing orang mengenai itu. Gw sendiri nggak bisa bilang bagus karena filmnya sendiri belum komplet ceritanya, dan dibilang lucu pun relatif. Tetapi, yang bisa gw bilang adalah film ini works, baik dalam membangkitkan dan memperlakukan sebuah brand legendaris, memutakhirkannya, maupun sekadar sebagai film hiburan yang appealing buat penonton luas. Gw sebenarnya berharap filmnya jangan dibelah dua, biar tuntas gitu, dan akan lebih baik kalau yang sekali itu sukses baru dibikin episode baru selanjutnya daripada dipecah-pecah. Tapi, gw sih nggak keberatan menanti Part 2-nya *teperdaya taktik yang punya film*.





My score: 7/10

Minggu, 11 September 2016

[Movie] Uang Panai' = Maha(r)l (2016)


Uang Panai' = Maha(r)l
(2016 - Makkita Cinema Production/786 Productions)

Directed by Asril Sani, Halim Gani Safia
Written by Amril Nuryan, Halim Gani Safia
Produced by Amril Nuryan
Cast: Ikram Noer, Nurfadhillah, Tumming, Abu, Cahya Ary Nagara, Aulia Qalbi, Awaluddin Tahir, Rugaiyya Ibrahim, Arlita Reggiana Viola, Rifqi Setiawan


Seringnya, gw cuma nonton film-film yang sejak awal gw pengen tonton. Tapi, kadang-kadang ada yang gw nggak pengen tonton jadi pengen karena buzz yang, nggak cuma besar, tapi bertahan cukup lama. Uang Panai' adalah salah satu film jenis itu. Ini adalah film produksi lokal Makassar, Sulawesi Selatan, dan niatnya sih memang untuk pasar Makassar dan Sulawesi pada umumnya, tetapi akhirnya ditayangkan juga di kota-kota lain di Indonesia walau nggak banyak-banyak amat layarnya. Beberapa tahun belakangan gw sering mendengar berita bahwa film produksi Makassar sambutannya gila banget di bioskop-bioskop wilayahnya, bahwa unsur-unsur lokal dalam filmnya benar-benar menarik bagi rakyat setempat, terlepas dari kualitas masing-masing film ya. Nah, Uang Panai' ini mungkin adalah film yang paling sukses, mampu mencatat penjualan hingga 350 ribu tiket bioskop dalam dua pekan (!), itu lebih dari sebagian besar film-film produksi Jakarta yang tayang nasional, yang nyari angka 100 ribu aja udah setengah mati. Gila nggak tuh. 

Ceritanya tuh simpel aja sebenarnya. Anca (Ikram Noer) yang berasal dari keluarga sederhana, berhasil menyambung kisah cinta lamanya dengan Risna (Nurfadhillah), putri dari keluarga pengusaha kaya. Saat Anca berniat menikahi Risna sesuai dengan adat Bugis-Makassar, mereka tertahan pada uang panai' (bacanya kira-kira 'pa-na-ik'), semacam pemberian adat yang harus dibayarkan oleh calon mempelai pria kepada keluarga mempelai wanita, sementara besarannya masih terlalu mahal bagi kesanggupan Anca yang baru saja masuk dunia kerja. Film kemudian berjalan mengikuti usaha Anca mengumpulkan uang panai' demi menikahi Risna, sementara Risna juga sebenarnya lebih diarahkan oleh orang tuanya untuk menikah dengan anak pengusaha kaya lain, yang uang panai'-nya nggak perlu pake nunggu.

I know, I know. Film ini seperti mengulang kisah kasih klasik pembuktian cinta yang terhalang keluarga (dan more or less adat) yang sudah jamak ditemukan di bioskop dan TV, tetapi itu not necessarily a bad thing sih kalau menurut gw. Anggaplah ini film roman anak muda standar saja, yang biasanya dimonopoli orang Jakarta, dari gombal-gombalannya, awkward-awkward-nya, ke "intrik-intrik" keluarga dan percintaannya, cuma kini dibuat oleh dan dalam konteks orang Makassar. Ini cukup menyegarkan buat gw. Mungkin seperti inilah seharusnya FTV-FTV berlatar luar Jakarta yang biasa muncul pagi-pagi dan siang-siang di SCTV selama ini, akan lebih otentik bukan cuma minjem lokasi.

Tetapi, harus diakui film ini agak terlalu panjang dan bertele-tele sih untuk sampai pada inti-inti ceritanya, untuk sampai pada keputusan Anca menikahi Risna aja butuh sekitar setengah jam, belum lagi putus nyambung di antaranya karena ada orang ketiga keempat dan salah paham sana sini, dan gw merasa tokohnya agak terlalu banyak dimunculkan. Banyak sebenarnya simpulan cerita yang bisa di-remove dan filmnya akan masih bisa tetap jalan. Ditambah lagi film ini juga cukup banyak diisi dengan lawakan, dari anekdot klasik sampe yang absurd, khususnya yang melibatkan duo komedian Tumming dan Abu sebagai sahabat Anca, serta kaum emak-emaknya. Unsur ini mungkin agak menuh-menuhin durasi, malah pakai ada porsi sketsa-sketsa komedi juga dalam imajinasi tokoh-tokohnya. Namun, gw harus jujur, senggak-nyambung-nggak-nyambungnya, lawak-lawaknya banyak yang menghibur, bahkan lucu banget =D, dan bisa dibilang unsur inilah yang menyelamatkan film ini dari titik jenuh *minyak goreng kali*. Tapi yaah bagaimanapun, menurut gw pembuat filmnya (dari sutradara, penulis, hingga editor) mungkin perlu berlatih lagi untuk bisa bertutur lebih enak.

Di sisi lain, buat gw Uang Panai' tetaplah sebuah kesuksesan, dan bukan hanya karena sebatas unsur lokal filmnya. Menurut gw, film ini berhasil disajikan menghibur secara universal. Jangan alergi dulu ketika tahu nyaris semua dialognya dalam dialek lokal dan ada unsur adat yang jadi penggerak cerita, lihat juga kegelisahan tokoh-tokoh utamanya yang mungkin dapat ditemukan di mana pun. Atau, lihat juga usaha film ini untuk meng-highlight sisi-sisi menonjol dari kehidupan di Makassar kontemporer, dari pelabuhan sampai gang-gang sempit, dari warung pinggir jalan sampai kafe-kafe lucu kekinian—gw notice tempat-tempat makan di film ini nggak pernah berulang =D, dari blantika konglomerasi hingga pekerja sederhana, dari soal tradisi hingga kefasihan penggunaan media sosial. It's like all you need to know about contemporary Makassar is shown here. Dan, yang mengejutkan gw, film ini punya kualitas teknis yang boleh disandingkan dengan rata-rata film drama Indonesia produksi pulau Jawa. Serius, penataan gambarnya tuh enak dan nyaman dilihat, sound-nya pun oke.

Gw salut dan mungkin bisa dibilang admire sama Uang Panai'. Terlepas masih kurang rapinya dalam bercerita, termasuk pake twist-twist-an dan terlalu menyederhanakan beberapa hal penting (nyontoh Screenplay Production nih kayaknya, haha), kurang jelasnya gambaran kepribadian tokoh-tokoh utamanya dan akting para pemain yang really, really, really harus belajar lagi ^_^;, film ini overall bisa menghibur gw. Baik karena tampilannya yang menunjukkan potensi, unsur knowledge yang lumayan nambah wawasan tentang Makassar dan adat Bugis-Makassar—walau masih sering terasa kaku penjelasannya, maupun bahwa di sana sudah ada orang-orang yang secara nyata mewujudkan niatnya untuk membuat karya "milik" mereka, yang bahkan sudah (dan cukup layak) masuk bioskop taraf nasional dan sukses secara komersial. Bekasi kapan?





My score: 6/10

NB: Lewat film ini, gw akhirnya bisa melihat bakat tersembunyi Jane Shalimar: akting, walau cuma satu adegan kecil. Selama ini gw cuma tahu dia sering diberitain di infotainment dengan menyandang sebutan "selebriti" tanpa benar-benar tahu profesi dan karyanya apa aja. Silly me.

Sabtu, 10 September 2016

[Movie] Aku Ingin Ibu Pulang (2016)


Aku Ingin Ibu Pulang
(2016 - Maxima Pictures/SRN Productions)

Directed by Monty Tiwa
Written by Titien Wattimena, Monty Tiwa, Alim Sudio
Produced by Ody Mulya Hidayat, Sonya Laoh
Cast: Jefan Nathanio, Nirina Zubir, Teuku Rifnu Wikana, Geccha Tavvara, Nova Eliza, Deddy Mahendra Desta, Verdi Solaiman, Mario Irwinsyah, Reza Nangin, Andy F. Noya, Acha Sinaga


Dari segi apa pun film ini memang sepertinya berniat menggiring haru. Dari premisnya, posternya, trailer-nya. Judulnya hampir nggak ke sana—awalnya proyek film ini dikenal dengan judul Gantung di Monas or semacamnya, tapi kemudian diubah jadi kalimat mendasar dan sederhana yang penuh rasa, Aku Ingin Ibu Pulang. Apakah filmnya sendiri juga demikian, well, kurang lebih sih begitu. Benang merah mendasar film ini adalah seorang anak SD kurang mampu bernama Jempol Budiman (Jefan Nathanio) yang mencari ibunya yang minggat dari rumah, dan kesempatan itu semakin besar saat dia diundang dalam acara talk show Kick Andy yang tayang di TV—apakah kisah ini memang pernah "mampir" di Kick Andy beneran gw kurang tahu, tapi sepertinya seluruh kisah ini memang fiksi. 

Tetapi, sebelum sampai ke sana, Jempol menceritakan dulu awal mula ibunya, Satri (Nirina Zubir) bisa menghilang. Tepat saat pergantian semester, Jempol raih juara kelas dan dihadiahi uang—walah kok enak, tahu gitu 'kan gw dari dulu ambisi ranking satu terus dulu *mata duitan*. Uang itu disuruh ayahnya, Bagus (Teuku Rifnu Wikana) untuk disimpan buat ongkos dan jajan pas nanti masuk sekolah lagi. Namun, kecelakaan menimpa Bagus saat bekerja senagai kuli bangunan, kakinya cedera hingga cuma bisa di tempat tidur nggak bisa ke mana-mana, artinya dia untuk sementara nggak bisa kerja, nggak dapat upah untuk kebutuhan sehari-hari, sementara perlu uang juga untuk pengobatan dong. Satri sendiri bekerja di sebuah toko obat herbal Tiongkok, gajinya nggak seberapa, dan sayangnya udah numpuk pinjaman ke bosnya (Verdi Solaiman). Jempol kemudian mencari cara-cara supaya dirinya juga bisa bantu nambah uang untuk pengobatan bapaknya—tapi ya anak kecil sanggupnya apa dan dapatnya berapa sih, dan itu nggak cukup untuk meredam tekanan yang menimpa keluarganya.

So....as you can see, film ini sebenarnya balik lagi pada materi kisah yang ribuan kali diceritakan di berbagai format, perjuangan orang-orang menghadapi kerasnya hidup, khususnya segi ekonomi, yang merembet ke persoalan-persoalan lainnya. Basi? Bisa jadi, tapi Siti aja kemarin ceritanya di area ini juga malah dipuja-puji setengah mati sana-sini, yah anggap saja kisah semacam ini memang masih connected sama orang-orang kita sekarang. Tanpa bermaksud membandingkan, dan lebih karena Siti adalah film terakhir yang gw tonton ceritanya sejenis serta berhubung hampir nggak pernah nonton FTV religi siang-siang lagi yang sering angkat premis serupa, Aku Ingin Ibu Pulang mungkin adalah versi lebih aksesibel, lebih emosional, dan lebih family friendly dari Siti. Jenis dan beratnya perjuangannya sama, tapi ini dari sudut pandang si anak dan *thank goodness* tanpa harus menyentuh ranah sensualitas. Oh, dan gambarnya berwarna.

Gw sendiri bisa paham sama beberapa keputusan yang diambil oleh beberapa karakternya, betapapun bodoh kelihatannya *ciaah 'betapapuuun', berasa berita bahan makanan kedaluwarsa ~\o/*. Pas bapaknya celaka panggilnya tukang urut bukannya langsung dokter karena takut lebih mahal, atau frustrasinya Bagus yang ingin pegang janji nggak ingin memakai uangnya Jempol tapi ya gimana penghasilan nggak makin bertambah, frustrasi Satri mengurus suami dan si Jempol yang tak selalu nurut dan ngaruh ke kerjaannya dia, atau Jempol yang belum ngerti pentingnya ngurus bapaknya sendiri, hingga ke pertengkaran Satri dan Bagus, yang merupakan adegan puncak emosi dari film ini. Menurut gw secara garis besar, well, setidaknya di duapertiga awal film ini, dituturkan dengan lancar dan sempat bikin gw terhanyut dalam perjuangan keluarga kecil ini, apalagi ada garnish humor yang jadi ciri sutradara Monty Tiwa.

Akan tetapi, dari titik sana sampai seusai nonton, gw nggak bisa mengenyahkan beberapa pertanyaan-pertanyaan yang lama-lama makin mengikis potensi kesukaan gw sama film ini. Mungkin yang paling striking adalah dari sisi kesehatan yang jadi bagian pemicu konflik-konflik film ini. Dari yang sesederhana Bagus jatuhnya gimana tapi lukanya di mana, ke sejauh apa sih letak klinik/puskesmas/rumah sakit di sekitar rumah Jempol yang bisa kelihatan Monas yang berarti mereka tuh ada di tengah-tengah kota banget, sampai ke poin sakit Bagus menjalar ke organ-organ vital yang gw nggak ngerti itu gimana ceritanya bisa nyambung sama patah kaki. Buat gw ini menimbulkan kesan film ini berbuat curang dalam membuat tokoh-tokohnya menderita demi meraih simpati penonton padahal sebenarnya nggak perlu sampai segitunya. 

Malah, dalam benak gw malah timbul ide baru, bahwa cerita Jempol-Bagus-Satri ini bisa dipakai untuk menggambarkan susahnya mendapat pelayanan kesehatan di Indonesia, baik karena pelayanannya kurang menjangkau dan administrasinya ngejlimet (syarat BPJS atau surat-suratan dan kartu-kartuannya itu), maupun mindset rakyat kita yang sebagian masih nggak terbiasa sama penanganan medis selama ada aternatif yang (diyakini) lebih murah sekalipun bangsa udah merdeka 71 tahun—apa kabar batu Ponari? Namun, film ini lebih milih gampangnya aja, yang penting ceritanya sedih, tanpa memberi value lebih dari kasihan-kasihan sedih dan memancing rasa syukur semu bagi penonton yang tidak semenderita keluarga Jempol.

Satu lagi yang menurut gw agak bikin geleng-geleng adalah usaha para pembuatnya agar film ini jadi "inspiratif", dengan pilihan-pilihan tokohnya di bagian akhir yang istilahnya diromantisasi. Ini nggak terkait sama asmara ya, maksud gw adalah keputusan-keputusan si Jempol dibikin berlawanan dengan logika umum biar dramatis dan yang nonton jadi terenyuh dan berharap "terinspirasi". Well, romantis sama mubazir emang itu beda-beda tipis ya, tapi untuk sebuah yang masih merefleksikan realita hidup di ceritanya, film ini terlalu tajam belokan "ngarang"-nya di akhir-akhir. 'Kan kesel. 

Ya sudahlah, paling nggak film ini sudah sempat bikin gw dapat mengikuti ceritanya—sebagian—tanpa bertanya-tanya saat menonton. Dan, para pemainnya juga mampu memberi performa yang baik, terkhusus Nirina Zubir yang menurut gw memberikan salah satu akting terbaiknya so far. Bikin haru sih ada lah di beberapa tempat, tapi yang lebih sedih lagi saat gw membayangkan what this film could've been jika ceritanya digali lebih serius lagi tanpa harus mengkompromikan kemampuan akting pemainnya dan penuturan yang dapat dinikmati kalangan luas.





My score: 6,5/10

Selasa, 06 September 2016

[Movie] Ini Kisah Tiga Dara (2016)


Ini Kisah Tiga Dara
(2016 - SA Films/Kalyana Shira Films)

Directed by Nia Dinata
Screenplay by Lucky Kuswandi, Nia Dinata
Based on the 1956 film Tiga Dara written by Usmar Ismail, M. Alwi Dahlan
Produced by Nia Dinata
Cast: Shanty Paredes, Tara Basro, Tatyana Akman, Titiek Puspa, Rio Dewanto, Reuben Elishama, Richard Kyle, Ray Sahetapy, Cut Mini Theo


Kabar tentang proyek remake film Tiga Dara (1956) oleh Nia Dinata menimbulkan mixed feeling buat gw. Di satu sisi gw cukup menantikan karena ini digarap oleh the Nia Dinata, yang akhirnya menyutradarai film setelah terakhir bikin Arisan! 2 tahun 2011. I like a couple of her works (terutama Berbagi Suami), apalagi kali ini ada Shanty yang comeback berakting. Tetapi, di sisi lain proyek ini agak mengkhawatirkan gw, sekalipun gw saat itu belum nonton film aslinya yang konon legendaris itu. Pertama, film ini sangat berisiko karena berformat musikal, format yang sebenarnya gw sukai, tapi generally kurang populer di Indonesia baik yang lokal maupun yang Hollywood, dan menurut gw butuh keterampilan tinggi untuk membuat format ini berhasil. FYI, Nia Dinata belum pernah membuat film berformat musikal. Sedangkan yang kedua, that title. Of all the phrases in bahasa Indonesia they chose the elementary textbook-y Ini Kisah Tiga Dara--ya mungkin ini juga gara-gara judul mirip udah dipakai sama 3 Dara punya MNC Pictures tahun lalu yang nggak ada sangkut pautnya sama film Tiga Dara dan basically nggak nyambung juga judul sama ceritanya =p. Tapi ya sudahlah.

Entah ini advantage atau bukan, production house SA Films yang kerja sama untuk produksi Ini Kisah Tiga Dara juga bertanggung jawab dalam merilis restorasi film Tiga Dara asli di bulan Agustus lalu, yang juga udah gw tonton. Sepengelihatan gw, Ini Kisah Tiga Dara masih memegang benang merah cerita dan karakter dari film aslinya, walaupun nama, latar tempat dan waktu dan segala konteksnya berbeda. 

Dimulai juga dengan ulang tahun si putri tertua, Gendis (Shanty Paredes), yang kini masuk usia 32 tahun tetapi tidak ada tanda-tanda akan berumahtangga--setelah 60 tahun pergeseran 'usia darurat' bagi wanita lajang ternyata hanya bergeser tiga tahun =\. Gendis bukannya has nothing to do, tetapi itulah yang dianggap menghalanginya dapat jodoh. Gendis terlalu sibuk bekerja sebagai kepala chef hotel milik keluarganya di Maumere, Flores, NTT, dan dia juga terlalu judes. Si Oma (Titiek Puspa) mulai mencoba mencari cara agar Gendis bisa cepat dapat jodoh. Kemudian datang sosok pengusaha adventurous bernama Yudha (Rio Dewanto) yang tampak tertarik sama Gendis, tapi karena Gendis tanggapannya agak hostile, malah adiknya, Ella (Tara Basro) yang maju mendekati Yudha, padahal Ella sudah lama diperhatikan oleh temannya sejak kecil, Bima (Reuben Elishama). Mirip 'kan? Satu hal yang paling membedakan adalah arc soal si bungsu Bebe (Tatyana Akman yang screen-presence-nya asyik sekali), masih dibikin sebagai dara paling ceria, tetapi di sini ditambahkan lagi sebagai sosok yang free, sampai-sampai hubungan mesranya dengan tamu hotel blasteran, Eric (Richard Kyle) bikin si Oma ketar-letir.

Setelah menonton Ini Kisah Tiga Dara, rupanya mixed feeling itu belum bisa reda dari gw. On the bright side, film ini behasil menggabungkan kisah roman dan kisah "jalan-jalan". Film ini beruntung bahwa inti cerita dari Tiga Dara asli itu masih relevan sama situasi sekarang, sehingga tinggal dikembangkan dengan ornamen-ornamen kekinian. Gw bisa mengikuti alur kisah cinta ketiga dara ini tanpa kesulitan berarti, terutama ketika dimasukkannya kepentingan bisnis dalam hubungan Gendis dan Yudha--ke sananya agak gombal-gombal juga sih, tetapi bangunan hubungan mereka cukup masuk akal buat gw. Demikian juga dengan ditampilkannya latar tempat eksotis, termasuk memamerkan unsur kebudayaan tradisional dan "promosi wisata" tentang makanan, bangunan, kerukunan, dan keamanan sampai-sampai nggak perlu khawatir kalau lupa mengunci mobil di tempat umum =). Belum lagi film ini sangat enak sekali dipandang berkat desain produksi, sinematografi, dan pewarnaan gambarnya, cantek sekali. Gw sendiri sebenarnya merasakan film ini set-up-nya agak lama untuk masuk ke inti cerita utamanya, tapi nyatanya selama dua jam durasi gw enak-enak aja nontonin film ini. 

Namun, bukan berarti gw bisa mengabaikan kekurangannya yang sebenarnya cukup apparent. Sebagai film musikal, sisi musikal dari Ini Kisah Tiga Dara sayangnya tidaklah kuat. Dari penataan koreografi yang kurang serasi dengan musiknya yang bergenre swing jazz, penataan rekaman vokal (mixing?) yang nggak seimbang, dan yang menurut gw amat sangat penting: kameranya terlalu statis dan kaku. Kalau mau perbandingan langsung, adegan-adegan di film musikal modern seperti Moulin Rouge, Chicago, serial Glee, bahkan adegan lip sync di 3 Srikandi itu jadi menyenangkan dan menggugah karena kameranya juga "ikut menari", atau minimal angle-nya lebih dari lima biar ngedit-nya juga lebih enak *sotoy*--tentu berbeda dengan Sweeney Todd dan Les Misérables yang lebih mirip opera sehingga lebih kalem lebih baik. Padahal Ini Kisah Tiga Dara sudah didukung sama lokasi, desain produksi, dan kostum yang kinclong, tetapi eksekusi musikalnya tidak bisa meng-engage gw dan tidak juga menambahkan nilai dalam ceritanya. Mungkin panutan film ini lebih ke Mamma Mia!, tapi that's not a very good panutan karena film itu buat gw adegan-adegan musikalnya juga aneh, hehe. Satu-satunya musical number yang menurut gw sukses adalah ballad yang terbilang catchy,"Semesta Punya Cara" yang dinyanyikan tokoh Bima, dan itupun lagu slow tanpa tarian.

That being said, gw tetap mau mengapresiasi film ini karena, seperti gw singgung tadi, secara keseluruhan film ini tetap bisa gw nikmati....somehow =D. Mungkin karena paduan akting yang asyik antara Shanty, Tara, Tatyana, dan the always-sunny Titiek Puspa, yang mampu make up for karakterisasi cowok-cowoknya yang lebih jadi semacam pemanis--Ray Sahetapy yang jadi si bapak juga kayak hampir nggak pernah dikasih close-up bahkan saat berdialog itu kenapa ya? Mungkin juga pemandangan alam dan budaya pulau Flores mampu menjadi kompensasi terhadap pembawaan filmnya yang nggak selucu dan semenyenangkan film aslinya. Mungkin karena warna-warni visualnya yang merekah bisa bikin gw memaklumi terlalu banyaknya selipan bahasa Inggris dalam dialog dan lagunya yang bikin kesan semua tokoh di film ini sekolah barengan Cinta Laura--well, to be fair, keluarganya Cinta Laura juga di perhotelan sih. Mungkin adanya konteks yang cukup make sense di bidang bisnis pariwisata bisa bikin gw teralihkan dari penyelesaian nilai-nilai pergaulan urban yang ditampilkan mentah bikin geleng kepala. Intinya, for most of the time, I was not resisting to enjoy it *ciee bahasa Inggris*. Bukan film sempurna, apalagi dikomparasi sama film aslinya yang memang klasik, tetapi gw tetap merasa dua jam nonton ini di bioskop somehow nggak rugi-rugi amat.





My score: 7/10

Sabtu, 03 September 2016

[Movie] Train to Busan (2016)


부산행 (Busan-haeng)
Train to Busan
(2016 - Next Entertainment World/RedPeter Film/Cotents Panda)

Directed by Yeon Sang-ho
Written by Park Joo-suk
Produced by Lee Dong-ha
Cast: Gong Yoo, Kim Su-an, Ma Dong-seok, Jung Yu-mi, Choi Woo-sik, Kim Eui-sung, Ahn So-hee, Choi Gwi-hwa, Jung Suk-yong, Ye Soo-jung, Park Myung-sin


Mungkin gw udah sering sampaikan juga, atau mungkin juga belum *lah*, film Korea sudah sampai pada level mau bikin film kayak apa juga hayuk aja. Dari yang artsy-artsy sampai yang fantasi-fantasi ala Hollywood ya hayuk aja, karena sumber dayanya sudah tersedia, apalagi sinema mereka juga sudah cukup terpandang secara internasional. Jadi kalau kali ini ada yang mau bikin film zombie apocalypse di dalam kereta api dengan penyampaian gaya Korea, ya hayuk aja. Tinggal bagaimana eksekusi dan delivery-nya mampu memanfaatkan sumber daya itu dengan baik atau nggak. Tempo hari gw berkesempatan menyaksikan Train to Busan, salah satu film Korea paling dibicarakan tahun ini, utamanya di lingkaran genre horor dan thriller. Gw sendiri tertarik bagaimana ide 'zombies on a train' bisa dikembangkan jadi sebuah film skala blockbuster seperti ini.

Sedikit soal plotnya, film ini berawal di Seoul, berangkat dari hubungan antara seorang fund manager (pengelola dana investasi) angkuh, Seok-woo (Gong Yoo) yang karena kesibukannya jadi agak berjarak dengan putri kecilnya, Su-an (Kim Su-an). Suatu ketika Su-an meminta untuk mengunjungi ibunya a.k.a. mantan istri Seok-woo di Busan, toh gampang tinggal naik kereta api cepat satu kali. Akhirnya, Seok-woo memutuskan untuk mengantar Su-an ke Busan, sayangnya itu terjadi saat sebuah wabah misterius tengah merebak, yang mengubah orang-orang menjadi zombie pemangsa manusia. Wabah itu pun juga menyelinap ke dalam kereta api menuju Busan yang ditumpangi Seok-woo dan Su-an serta ratusan penumpang lainnya, dan perjalanan yang tadinya tinggal duduk manis beberapa jam menjadi pertaruhan hidup dan mati. 

Film dengan unsur kengerian biasanya akan memilih suasana gelap-gelapan, karena mungkin itu lebih gampang menimbulkan rasa takut, dan itulah yang membuatnya terlalu mainstream. Train to Busan justru memilih untuk menempatkan ceritanya di siang hari, tetapi nggak sama sekali mengurangi kadar ketegangan dan kengeriannya, dan itulah keistimewaan utama film ini buat gw. Film ini gw bilang sangat berhasil mengolah konsep zombie dan bencana dalam tata adegan dengan ketegangan tingkat tinggi, bikin gemes sambil ngeremes pinggiran bangku saking serunya. Dari konsep zombie-nya juga menurut gw sangat rapi, ada rules yang bisa dipahami penonton dan nggak asal comot konsep zombie-zombie yang udah ada, sekalipun memang tidak benar-benar dijelaskan panjang lebar dari mana asalnya. Toh, itu sudah cukup untuk mendukung fokus cerita film ini pada survival karakter-karakter utamanya.

Namun, tampaknya perlu diwanti-wanti bahwa ini tetaplah film Korea untuk konsumsi mainstream. Apakah itu berarti baik atau buruk balik lagi ke selera. Buat gw, sebenarnya bagus juga bahwa film ini ditata agar penonton concern sama para karakter yang dimunculkan, dan gw senang bahwa karakter yang penonton bisa root for bukanlah sosok-sosok suci serba jagoan, melainkan juga punya kelemahan masing-masing. Walau demikian, film ini juga memunculkan dosis melankolia yang cukup tinggi, suatu hal yang sepertinya obligatory untuk film Korea. Gw percaya banyak yang akan terlarut dan bahkan menyambut baik unsur ini, tetapi  gw pribadi merasa dosisnya agak terlalu tinggi, with all that long lihat-lihatan, tangis-tangisan, bencana-bencana tambahan, flashback, pokoknya hal-hal yang menurut gw nggak perlu sebanyak itu juga, yang malah makin di-stretched di bagian-bagian akhir. Oh, sama adanya satu tokoh menyebalkan dan of course nggak mati-mati yang menurut gw jadi kelihatan terlalu fabricated karena sengaja banget dibuat untuk dibenci dan memperumit klimaks, padahal menurut gw terjebak satu kereta sama serombongan zombie udah cukup melelahkan--ini kecenderungan yang sama seperti gw ingat di film disaster Korea, Flu (2013). Ketika di awal-awalnya gw cukup salut bahwa karakterisasinya itu nggak sekadar hitam-putih, eh malah dipatahin di akhirnya. Tapi ya, again, mungkin itulah gayanya Korea.

Meski not a fan dari sisi dramanya, gw tetap ingin menaruh Train to Busan dalam kelompok film yang berhasil, terlebih dalam fungsinya memberikan hiburan yang berkualitas tinggi. Gw mungkin sudah agak lama nggak merasakan thrill yang seintens ini dalam film bertema bencana, dan lagi film ini didasari pada konsep-konsep yang, well, terkonsep. Apalagi didukung oleh production value kelas wahid, khususnya dalam setting kereta api cepat dan di siang hari yang masih meninggalkan fascination buat gw.




My score: 7/10

Kamis, 01 September 2016

[Movie] Surat Untukmu (2016)


Surat Untukmu
(2016 - Aletta Pictures)

Directed by Harris Nizam
Screenplay by Bunga Rizka Nizam
Story by Harris Nizam, Bunga Rizka Nizam
Produced by Sarjono Sutrisno, Harris Nizam
Cast: Prilly Latuconsina, Tio Pakusadewo, Tetty Liz Indriati, Arbani Yasiz, Sheila Dara Aisha, Gritte Agatha, Fandy Christian, Syafira Rachmadani, Anrez Putra Adelio, Rima Melati


Tadinya gw pikir film ini ambil cerita dengan premis basic yang bertujuan utama menderaikan air mata. Surat Untukmu mengisahkan seorang remaja putri di daerah yang hidup tanpa mengenal ibunya, bertekad untuk menemukan ibunya di ibukota. Very basic. Tetapi, sepertinya yang punya film hendak memberikan bumbu yang cukup berani dan berisiko, yaitu memasukkan unsur teka-teki di dalamnya. Mencari clue untuk menemukan sesuatu bukanlah materi baru di film Indonesia, yang paling gw inget itu ada Adriana (2013). Makanya, mempukah Surat Untukmu ini menampilkan sesuatu yang segar dengan masuknya nilai hubungan keluarga?

Gendis (Prilly Latuconsina) tinggal di wilayah dataran tinggi Dieng bersama ayahnya (Tio Pakusadewo), seorang seniman wayang orang yang kerap ngamen di kawasan candi. Hubungan mereka mulai bergejolak ketika Gendis semakin berkeinginan kuat menemukan ibunya, yang tak pernah dikenalnya sejak bayi karena yang bersangkutan minggat tanpa penjelasan yang bisa Gendis pahami. Ia hanya tahu ibunya ada di Jakarta, lewat surat-suratnya yang kadang berisi teka-teki. Saat sang ayah tak mau menyanggupi keinginan Gendis, kesempatan datang justru lewat sebuah kamp kreativitas yang berlokasi di Jakarta. Gendis nekat memulai petualangan mencari sang ibu lewat petunjuk-petunjuk yang ia punya, dibantu pula oleh teman-teman barunya di kamp. Berhubung Jakarta itu luas dan rumit, pencarian ini jelas tak akan mudah.

Gw cukup bisa mengapresiasi idenya, yang dalam bayangan gw sebenarnya bisa dikembangkan dan dikemas dengan exciting dan menyenangkan. Pencarian orang hilangnya di sini nggak random dan nekat, tapi pakai petunjuk-petunjuk ala-ala gitu biar bisa keliling berbagai tempat--dan di sini menampilkan penggunaan angkot yang cukup representatif, haha. Pokoknya cocoklah untuk tokoh-tokohnya yang digambarkan masih remaja. Masalahnya, potensi itu menurut gw agak di-betrayed sama pilihan-pilihan kreatifnya, dan kemasannya. Yang gw lihat, entah apa pun yang terjadi, film ini seperti diharuskan untuk sendu, sebagaimana tercermin ekspresi Prilly di hampir seluruh adegannya di sini. 

Nggak ada excitement untuk memecahkan teka-teki yang seharusnya dapat menambah kepenasaranan terhadap tujuan utamanya, yang ada hanyalah "kapan lagi nih adegan nangisnya". Maksud gw, 'kan bisa aja menggabungkan sisi fun dengan sisi haru, tapi film ini lebih pilih bersandar sepenuhnya sama yang haru, jadi gw nggak terlalu nyaman nontonnya, main teka-teki kok sambil muram durja. Sayangnya pula, mungkin supaya menimbulkan tanya dalam sukma penontonnya, film ini lebih memilih memakai the often-called "twist", yang menurut gw malah mengesalkan, karena mereka memakai trik zadul yang udah nggak bikin kagum lagi saking seringnya digunakan di karya-karya lain, udahlah nggak segitunya surprising, yang ada malah bingung sama tujuan di balik adanya bagian ini. Buat apa gitu.

But, well, jika memang yang diincar adalah penonton yang senang sendu-senduan dan haru-haruan apa pun tema filmnya--perlu diingat bahwa sutradara film ini dulu buat Surat Kecil untuk Tuhan (2011), film ini mungkin sudah berjalan sesuai fungsinya itu. Akting pemainnya cukup pas dengan tuntutan-tuntutan ceritanya, tak terkecuali si Prilly dalam debut peran utama di layar lebarnya ini, yang menurut gw menunjukkan potensi sebagai serious actress, nggak jomplang ketika berdampingan dengan pemain-pemain jagoan kayak Tio Pakusadewo dan Rima Melati. Secara teknis juga film ini fine-fine aja, masih bisa dipandang dengan enak di bioskop. Namun, untuk keseluruhan, yang berarti termasuk belokan-belokan cerita dan pembawaan mood kemasannya yang nyaris tak memunculkan unsur fun, gw harus jujur menyatakan jadi nggak terlalu menikmati film ini.





My score: 6/10

Rabu, 31 Agustus 2016

[Movie] The Secret Life of Pets (2016)


The Secret Life of Pets
(2016 - Universal/Illumination)

Directed by Chris Renaud, Yarroew Cheney
Written by Cinco Paul, Ken Daurio, Brian Lynch
Produced by Chris Meledandri, Janet Healy
Cast: Louis C.K., Eric Stonestreet, Kevin Hart, Jenny Slate, Ellie Kemper, Lake Bell, Albert Brooks, Dana Carvey, Steve Coogan


Jadi tahun ini film animasi Hollywood trennya adalah talking animals. Setelah Zootopia dan Finding Dory dari Disney, kini giliran Universal Pictures bareng Illumination Entertainment mencoba materi cerita baru di luar franchise Despicable Me yang jadi pohon duit mereka. The Secret Life of Pets promonya udah lumayan kenceng sejak lama, nawarin konsep "bagaimana kelakuan hewan piaraan saat majikannya nggak di rumah", plus bentuk-bentuk kiyut dari tokoh-tokohnya. Pokoknya, meski merupakan original material, Pets ini menurut gw cukup punya daya tarik tinggi bagi yang cari tontonan menghibur seluruh keluarga. Sekarang, tinggal dibuktikan hasilnya gimana.

Max (diisi suara Louis C.K.) yang seekor anjing merasa hubungannya dengan pemiliknya, Katie (Ellie Kemper) adalah 'istimewa', kasih sayang yang saling berbalas bukan seperti majikan dan hewan piaraan biasa. Tetapi, perasaan itu berubah ketika Katie memungut dan membawa pulang seekor anjing kampung bongsor, Duke (Eric Stonestreet). Timbullah persaingan di antara keduanya untuk jadi kesayangan Katie. Suatu hari setelah Katie berangkat kerja, persaingan Max dan Duke semakin menjadi-jadi, bahkan membuat mereka sampai tersesat di belantara kota New York dan mengalami berbagai peristiwa. Teman-teman Max sesama hewan piaraan pun khawatir dan segera mencari mereka, sebelum pemilik masing-masing kembali pulang di sore hari.

Menurut gw, Pets itu memenuhi "janji" yang ditawarkan dalam promo-promonya. Warna-warni ceria gambar serta amount of cuteness dari para hewan yang tampil berpadu demi menghibur penonton. Ceritanya juga nggak ribet-ribset amat, pokoknya tontonan harmless-lah. Well, memang dari segi ceritanya nggak terlalu stand-out juga. Nggak masalah sih bahwa premisnya agak mirip Toy Story, ditambah unsur-unsur "action" yang sepertinya merujuk pada kartun-kartun klasik ala Tom & Jerry, tetapi ya sepertinya film ini hanya berhenti di situ saja. Film ini ini nggak sampai ke penulisan ataupun penuturan yang benar-benar fresh--bahwa ironi karakter yang sifatnya jahat itu seekor kelinci kecil lucu juga kayaknya udah nggak terlalu mempan ke gw. Dan kalaupun nggak terlalu baru pola ceritanya, harusnya minimal dari cerita yang ada 'kan bisa digali kedalamannya, tetapi ternyata nggak juga, ya udahlah. Ya itu tadi, pada akhirnya film ini "sekadar" sukses memenuhi syarat sebuah film yang  haha-hihi.

Tetapi, bukan berarti gw nggak benar-benar bisa menarik sisi positif dari film ini. I have to say, gw cukup suka sama bagaimana setiap tokoh hewannya ditampilkan dengan sifat-sifat khas dan gags masing-masing--favorit gw adalah si anjing sosis, anjing kursi roda, sama Chloe si kucing. Film ini juga kembali menunjukkan kualitas animasi dari studio bermarkas di Prancis, Illumination Entertainment yang clean dan desain-desainnya juga menarik, plus musiknya juga asyik. Gw cukup menikmati, ada perasaan cukup senang setelah menonton, bisa senyum-senyum dan ketawa-ketawa, ...yah kecuali setiap ada kemunculan ular dan reptilia ya *geli* =\.





My score: 7/10