Jumat, 26 Agustus 2016

[Movie] Kingsglaive: Final Fantasy XV (2016)


Kingsglaive: Final Fantasy XV
(2016 - Square Enix/Odex/Sony Pictures)

Directed by Takeshi Nozue
Screenplay by Takashi Hasegawa
Story by Kazushige Nojima, Saori Itamuro
Produced by Hajime Tabata
Cast: Aaron Paul, Lena Headey, Sean Bean, Liam Mulvey, David Gant, Adrian Bouchet, Darin De Paul, Trevor Devall, Alexa Kahn, John DeMita


Obsesi gw terhadap video game terhenti pada Soul Edge dan The Sims, berbeda dengan teman-teman sebaya yang lebih adventurous dan banyak melahap game yang butuh waktu dan komitmen panjang, salah satunya seri role playing game (RPG) Final Fantasy *the other was Harvest Moon*. Gw tahu Final Fantasy itu terkenal tapi gw nggak benar-benar ngerti itu tentang apa dan kenapa serinya sampai banyak banget, nggak pernah main juga, dan butuh waktu untuk ngeh bahwa setiap jilid ternyata emang beda cerita dan karakter, cuma ada persamaan beberapa elemen, misalnya soal negeri antah berantah dan ada unsur magisnya. Final Fantasy juga ternyata tidak "berhenti" di game, karena juga menyangkut tentang teknologi digital dalam grafisnya yang sangat maju, sampai ke ke musiknya yang digarap serius, sampai-sampai menghasilkan soundtracks yang melibatkan musisi terkemuka--bahkan Addie MS pernah bikin konser tribute dengan orkestranya. Dan, bahwa game-nya sampai ke jilid ke-15, that's saying something. Jadi kalau ada yang tanya what's the big deal sama Final Fantasy, ya emang big deal di blantika game.

Lalu apakah gerangan Kingsglaive: Final Fantasy XV? Singkatnya, ini adalah pembuka dari game Final Fantasy XV yang akan rilis tahun ini. Namun, bukannya dimasukkan saja dalam pembukaan kepingan Blu-ray game-nya, Square Enix memutuskan untuk "meng-serius-i" bagian ini dengan membuat sebuah feature film animasi yang ditayangkan di bioskop. Film ini niatnya adalah memperkenalkan dunia yang jadi setting Final Fantasy XV dengan sebuah cerita latar belakang, yang nantinya berlanjut di game-nya dalam angle berbeda. Buat yang memang berniat memainkan game-nya, film ini tentu sangat rewarding. Tetapi bagaimana dengan gw yang mungkin berada di kelompok penonton yang lain?

Kingsglaive berkisah tentang sebuah kerajaan yang ditopang oleh kekuatan kristal magis, Lucis yang terus ditekan oleh negara imperialis berbasis teknologi, Niflheim. Raja Regis (diisi suara Sean Bean) kemudian membentuk sebuah pasukan khusus yang disebut Glaives, terdiri dari para pemuda-pemudi unggulan dari desa-desa sekitar, untuk melindungi Lucis dari Niflheim. Datang tawaran dari Niflheim untuk gencatan senjata lewat pernikahan politik antara putra Regis, Noctis, dengan putri Lunafreya (Lena Headey), dari wilayah jajahan Niflheim. Tetapi, nothing is like what it seems. Dari sudut pandang seorang Glaive andalan, Nyx (Aaron Paul), bergulirlah berbagai intrik menjelang penandatanganan perjanjian gencatan senjata, dari siasat Niflheim untuk merebut sumber kekuatan Lucis, pemberontakan politik dari pihak rakyat Lucis sendiri, hingga bahwa Lunafreya ternyata tidak sepenuhnya berpihak pada Niflheim.

Dari sekitar 100-an menit durasinya, satu hal yang jelas paling membelalak mata gw adalah kualitas animasinya yang uh-ma-zing. Dibuat dalam gaya photorealistic, hampir mirip live-action walau memang masih kelihatan animasi CGI, ditambah dengan desain-desain yang cantik memukau spektakuler dan efek visual yang meriah. Keren dan megah sekali tata artistiknya, animasi orang-orangnya juga nggak bikin sakit mata dan lebih bernyawa dibanding film-film animasinya Robert Zemeckis, misalnya. Konsepnya juga sangat menarik, menggabungkan unsur fantasi dengan atmosfer kontemporer--ada smartphone juga di sini--yang menyatu dengan sangat mulus. Cukup menyenangkanlah menyaksikan visual film ini.

That being said, sayangnya, itu semua tidak diikuti dengan penuturan cerita yang enak. Walau sudah "di-serius-i" sebagai sebuah film naratif, film ini buat gw terlalu rushing dalam bertutur, jahitan antar adegannya kadang lebih mirip montase dengan shot yang singkat-singkat, dan gw juga merasa beberapa voice-acting-nya terlalu "voice-acting", you know, kurang natural gitu kayak dubbing-an anime di Animax--dan memang pada prinsipnya ini anime dengan tim utama di Jepang tapi disesuaikan dengan audiens internasional. Alhasil, perkenalan cerita dan tokoh-tokohnya jadi terasa buru-buru sehingga kurang ngeresep, dan beberapa intrik yang sebenarnya cukup rumit jadi ya-udahlah-pokoknya-begitu.

Sayang sih, padahal idenya dan konsepnya keren banget, dan berpotensi membuat film ini cukup kokoh untuk jadi film mandiri. Tetapi, ya what do you expect, film ini memang tak lain adalah produk komplementer dari cerita game-nya kelak, yang harus "diselesaikan" lewat game-nya. Mau nggak mau harus dimaklumi kalau film ini berakhir kentang--kena tanggung, in case you forgot what that stands for--dengan misi yang sudah ditanamkan di awal tidak benar-benar tercapai, justru beralih ke konflik lain yang tidak terlalu ditekankan sebelumnya. "Klimaks" hanya ditandai dengan pertarungan gaduh porak-poranda--yang menurut gw juga agak too much--dan udah aja gitu. Dibilang bersambung iya, dibilang klimaks nggak terlalu, tapi ya mau gimana. Meski begitu, buat gw yang merasa udah game-o-pause--hasrat menurun untuk nge-game =P--minimal udah bisa menikmati grafisnya yang luar biasa dan bisa nyangkut juga sama worldbuilding-nya. Di mana lagi bisa lihat kisah fantasi yang ada mobil sport Audi dan logo Uniqlo-nya.





My score: 6,5/10

Kamis, 25 Agustus 2016

[Movie] Sadako vs Kayako (2016)



貞子vs伽椰子
Sadako vs. Kayako
(2016 - Kadokawa/NBC-Universal)

Written & Directed by Kouji Shiraishi
Based on Ringu characters by Takashi Shimizu and Ju On characters by Kouji Suzuki
Produced by Daiji Horiuchi, Hideyuki Sakurai, Yoshio Yokozawa, Jungo Maruta, Tooru Emori
Cast: Mizuki Yamamoto, Tina Tamashiro, Aimi Satsukawa, Masahiro Komoto, Masanobu Ando, Mai Kikuchi, Misato Tanaka, Runa Endo, Elly Nanami, Rintaro Shibamoto


Dua demit tersohor dari blantika horor Jepang dipertemukan. Gila? Emang. Seri Ring (atau Ringu) dengan si demit Sadako berhasil mempopulerkan horor sunyi-sunyi serem khas Jepang ke mata dunia di akhir era 1990-an. Lalu seri Ju On dengan si demit Kayako dan Toshio juga mengikuti. Keduanya lalu jadi franchise penghasil uang bagi pemilik hak ciptanya--bahkan keduanya sudah diadaptasi ke Hollywood, terlepas kualitas tiap filmnya yang tentu nggak seragam. Film Ringu (1998) menjadi salah satu alasan gw ogah nonton film horor sering-sering >,<, sementara Ju On adalah seri yang mengesalkan gw karena aksi si demitnya tuh seenak udel aja nggak pake aturan. Kedua seri ini punya satu kesamaan besar, yaitu kutukan yang jadi sorotan utamanya tak akan berakhir, manusia fana pasti kalah. Lalu apakah mengadu Sadako dengan Kayako dapat mematahkan dua kutukan itu? Yakali. Kalau iya, habis dong franchise-nya nggak bisa dilanjutin lagi. Kapitalis.

Sadako vs Kayako mungkin tepat disebut sebuah nostalgia dengan cara aneh. Kutukan Sadako-nya masih pakai kaset video--beberapa seri teranyarnya soalnya udah pake digital, yang kalau ditonton maka yang nonton akan mati beberapa hari. Tapi, memang ada perubahan dari isi videonya, lebih singkat, dan sepertinya menggugurkan syarat menghindari kematiannya--kalau nggak salah dulu harus kopi videonya dan tunjukkin ke orang maka nggak jadi mati, makanya disebut 'ring' karena akan berputar terus bukan? Kalau di sini pokoknya ya mati aja *agak nggak mau mikir ya sutradaranya*. Kutukan Kayako-nya juga masih di sebuah rumah jelek, siapa saja yang masuk dalam rumah itu akan mati. Soal kapan, di mana, dan bagaimana, itu suka-suka Kayako karena dia adalah demit ter-random yang pernah ada di sinema =(. Korbannya adalah tetap orang-orang bodoh yang cari mati: dua anak kuliah yang iseng nonton video kutukan Sadako karena nggak percaya urban legend semacam itu, lalu ada anak SMA pindahan yang "merasa" ditarik untuk masuk ke rumah jelek terkutuk Kayako. 

Well, sebodoh apa pun itu, paling nggak, Sadako vs Kayako masih "setia" pada pakem film-film sebelumnya. Pasalnya, film ini ya isinya cuma itu, ngulang-ngulang apa yang udah pernah dilakukan aja. Kalaupun ada sesuatu yang baru, adalah keberadaan paranormal bernama Keizou (Masanobu Ando) dan Tamao (Mai Kikuchi) yang mempunyai ide mengadu domba Sadako dan Kayako yang akan berebutan korban. Tapi, ya itu juga nggak menambah value apa-apa, selain menggarisbawahi bahwa film ini sebenarnya berangkat dari ide yang seru-seru konyol, lalu kemudian mentok di situ. Percuma saja berharap "pertarungan" seru nan akbar antara dua demit seleb ini karena we barely see anything dan kemudian malah bergeser ke gaya grotesque yang sama sekali nggak nyambung sama jiwa kengerian yang membuat Ringu dan Ju On terkenal. Dan, kalau mau ditertawakan sebagai sebuah meta-horror-black-comedy juga ternyata nggak segitunya, mungkin karena akting pemainnya juga agak lifeless dan filmnya memang tidak diniatkan lucu. Kecenderungannya berpanjang-panjang sementara pertarungan yang dinantikan cuma nongol di penghujung akhir juga nggak membantu kenikmatan film ini.

If anything, gw sebagai bukan penggemar horor setidaknya masih bisa deg-deg serr sama beberapa adegan. Berarti film ini tetap menjalankan hakikatnya sebagai film horor, atau cuma gw-nya yang masih bisa diperdaya oleh permainan anitisipasi khas film horor kayak gini, huhuhu. Tapi, ya begitulah, Sadako vs Kayako jadi satu lagi perwujudan wahana rumah hantu yang masih mampu menakut-nakuti walau tanpa makna. I mean, bodohnya kita bila menganggap akan ada konklusi revolusioner dari film ini, akan ada titik balik, turning point yang membuat film ini punya posisi penting dan tak tergantikan di franchise-nya. Tapi ternyata intinya ya tetap orang-orang semuanya akan mati dan demit-demit ini akan tetap digdaya. So what's the point? Sehabis menonton gw merasa film ini nggak ada gunanya selain mengulang gimmick-gimmick yang itu lagi-itu lagi. Sesekali sih lucu juga tapi kalau kebanyakan ya jadi males juga.





My score: 5,5/10

Selasa, 23 Agustus 2016

[Movie] Pantja Sila: Cita-Cita dan Realita (2016)


Pantja Sila: Cita-Cita dan Realita
(2016 - Jakarta Media Syndication/Geppetto Productions)

Directed by Tino Saroengallo, Tio Pakusadewo
Story by Tio Pakusadewo
Produced by Tino Saroengallo, Tio Pakusadewo
Cast: Tio Pakusadewo, Teuku Rifnu Wikana, Verdi Solaiman, Jantra Suryaman, Wicaksono Wisnu Legowo


Bingung juga apakah film ini termasuk dalam fiksi atau dokumenter. Pantja Sila: Cita-Cita dan Realita bisa jadi fiksi, karena ada tokoh yang diperankan oleh bukan orang aslinya---pengertian macam apa ini =D? Bisa juga dokumenter karena film ini memang hampir seluruhnya menampilkan "dokumentasi", walaupun bukan dalam bentuk rekaman gambar atau suara seperti biasanya. Gw lebih nyaman menyebut ini sebagai concept film, karena konsep filmnya jelas: membacakan ulang pidato Soekarno pada saat kongres Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), 1 Juni 1945, yang di dalamnya berisi gagasan tentang dasar negara Indonesia yang kemudian berkembang jadi Pancasila. Dibilang experimental film juga bisa, tetapi gw merasa itu biasanya disematkan bagi film-film yang gw nggak paham konsepnya #eehhh.

Jadi, dokumentasi yang disampaikan di sini adalah pidato-nya Soekarno, sebagaimana dicatat oleh notulen rapat pada saat itu. Berdasarkan catatan itu, word-by-word, start to end, dibacakan oleh Tio Pakusdaewo yang berperan sebagai Soekarno. Doi mungkin memang visually nggak mirip Soekarno, tetapi ada hal yang lebih penting daripada itu, yaitu bagaimana pidato tersebut bisa disampaikan seakan itu milik dia, bukan dalam bentuk "membaca"--karena konon Soekarno juga berpidato ini tanpa bantuan teks, dan dengan artikulasi yang mantap. Ada kalanya bagian-bagian istilah asing terdengar jelas di-dubbing ulang pada pascaproduksi--bukan dari audio saat syuting--demi memperbaiki pengucapan agar lebih benar, sehingga di beberapa tempat sound-nya agak kurang mulus. Tetapi, ini juga menunjukkan keseriusan pembuat film ini untuk tidak asal tabrak aja hal-hal yang mereka tidak ahli, dan menurut gw itu sangat patut diapresiasi *nggak kayak film drama cinta berlatar luar negeri yang gw review baru-baru ini, ehem*.

Konsepnya sendiri nggak berhenti di situ. Film ini juga jadi semacam slide presentasi tentang apa makna dari pidato Soekarno, apa dan siapa saja referensinya, apa dampaknya, yang bisa dibaca langsung saat diucapkan. Ditambah lagi, sesuai dengan judulnya, film ini juga secara selang-seling menampilkan situasi bangsa Indonesia dalam berbaga zaman, termasuk zaman sekarang, yang dianggap relevan dengan bagian yang diucapkan oleh Soekarno dalam pidatonya. This is interesting, karena jadi terlihat penekanan-penekanan bahwa sepertinya situasi yang diamati Soekarno di Nusantara sebelum merdeka dulu kayak ada kesamaannya dengan masa-masa setelah merdeka, bahkan sampai sekarang. Tentang pertarungan ide, keberagaman, kesejahteraan...pokoknya pas nonton kok kayaknya dari yang diomongin di pidatonya, dulu sama sekarang masalah kita kok di situ-situ aja ya.

Politics aside, Pantja Sila adalah sebuah film yang menurut gw mampu mencapai tujuannya, dengan presentasi nggak neko-neko, walau nggak neko-neko itu pula yang bikin filmnya bisa menjemukan. Namun, film ini terbilang berhasil dalam kembali menyegarkan memori tentang bagaimana Indonesia didirikan dan mungkin menginspirasi bagaimana Indonesia harus dibangun sekarang. Gw mungkin nggak bisa fully enjoy this sebagai sebuah "tontonan", tetapi gw juga nggak bisa membayangkan cara lain untuk menyampaikan materi ini di layar lebar dengan lebih asyik dan tepat, jadi ini adalah karya yang bagus dengan caranya sendiri.





My score: 7/10

Selasa, 16 Agustus 2016

[Movie] Tiga Dara (1956)


Tiga Dara
(1956 - Perfini/SA Films)

Directed by Usmar Ismail
Written by Usmar Ismail, M. Alwi Dahlan
Produced by Usmar Ismail
Cast: Chitra Dewi, Mieke Wijaya, Indriarti Iskak, Rendra Karno, Bambang Irawan, Fifi Young, Hassan Sanusi


Tahun 2012 lalu, salah satu film klasik terkenal Indonesia pascakemerdekaan, Lewat Djam Malam (1954) karya Usmar Ismail kembali diputar di bioskop-bioskop setelah melalu proses restorasi atau perbaikan mutu audio visual yang tadinya usang termakan waktu, dan kemudian diubah ke format digital cinema, sehingga bisa disaksikan nyaris seperti sediakala. Tahun ini, kita kembali "dihadiahi" sebuah film klasik Indonesia legendaris yang berhasil direstorasi--kali ini oleh rumah produksi SA Films, yaitu film musikal Tiga Dara garapan Usmar Ismail juga. Harus gw akui gw tidak terlalu mengenal filmnya, tetapi somehow frase "tiga dara" sering sekali gw dengar sejak dulu dengan berbagai variasi, entah itu julukan di tabloid-tabloid atau judul-judul cerita atau sinetron, gw nggak ingat pasti. Dan, setelah baca-baca dan tanya-tanya--waktu film ini keluar orang tua gw aja masih sangat kecil atau baru akan lahir--mungkin itu terjadi karena film Tiga Dara merupakan film yang terbilang terkenal sehingga naturally jadi rujukan dalam budaya pop kita one way or another--bokap gw sih bilangnya film ini jadi terkenal karena waktu itu akhirnya ada film Indonesia yang bintang ceweknya banyak =D.

Gw pun tempo hari menonton Tiga Dara hasil restorasi, dan I can see why it became popular. Secara persembahan visual--yang tentu saja hitam putih, film ini memang manis sekali dipandang. Si Tiga Dara-nya cakep-cakep dengan alis tebal hitam yang menonjol, dan salah satu image yang nggak bisa gw unsee adalah Mieke Wijaya yang selama ini gw kenal hanya dengan peran-peran somebody's mother ternyata dulu adalah sesosok bombshell *that Tamasya scene =D*, selain jago akting tentu saja. Pengadeganannya pun smooth banget sekalipun masih agak teatrikal sedikit--mungkin sebagaimana film di era tersebut. Isi filmnya pun memuat banyak hal yang menurut gw disukai khalayak, bahkan sampai sekarang. Cerita ringan, tingkah dan dialog jenaka, musik yang bikin sumringah, happy ending. Bagaimana film ini dibawakan pun sebenarnya begitu easy, straightforward, bahkan silly, tetapi entah kenapa, kena aja gitu, dan gw sekarang masih bisa menikmatinya.

Kalau dilihat dari jalan ceritanya, sebenarnya akan sangat familiar bagi generasi sekarang. Kenapa? Karena kayaknya semua film dan sinetron kita masih banyak yang pakai pakem cerita film ini. Jadi ada tiga wanita bersaudari di satu rumah tinggal bersama ayah dan nenek mereka, setelah cukup lama ditinggal wafat oleh ibunya. Si nenek (Fifi Young)--dengan pakaian sangat tradisional, gestur bungkuk, dan demen mengunyah sirih--mulai khawatir sama nasib anak tertua, Nunung (Chitra Dewi) yang masuk usia 29 tahun dan belum ada tanda-tanda akan bekeluarga. Nenek menyalahkan Nunung yang terlalu sibuk mengurus rumah tangga dan tak pernah bergaul keluar, lalu meminta si ayah (Hassan Sanusi) dan juga adik-adik Nunung, Nana (Mieke Wijaya) si party girl (dalam versi zamannya ya) dan Nenny (Indriati Iskak) si remaja sekolahan, untuk mengajak Nunung bertemu banyak orang dengan harapan mendapat jodoh. Upaya mereka percuma karena Nunung tak bisa menutupi ketidaknyamanan dengan menjalani hal-hal yang tak biasa ia lakukan, belum lagi dia dinilai judes.

Suatu hari sebuah peristiwa nggak enak mempertemukan keluarga ini dengan Toto (Rendra Karno), yang nabrak Nunung di jalan saat naik motor Vespa--yang saat itu masih obviously disebut skuter. Tapi, itikad baik yang dilakukan Toto terhadap Nunung membuatnya jadi jodoh potensial untuk Nunung yang selama ini dinanti-nanti, setidaknya menurut si nenek. Masalahnya, karena Nunung tetap gengsi untuk terlalu dekat dengan Toto, malah Nana yang sering jalan bareng Toto dengan modus minta ajarin nyetir skuter *eaaa*. Padahal, Nana juga kelihatan sekali ditaksir oleh pemuda sahabat keluarga, mahasiswa bernama Herman (Bambang Irawan) yang langsung panas melihat Nana agresif bener mendekati Toto. Lalu, apakah Nunung akan menemukan jodohnya?

Ini entah karena filmnya evergreen atau emang kitanya yang nggak maju-maju, persoalan yang diangkat di sini kayak masih terjadi ya sampai sekarang, ketika semua orang mengukur kebahagiaan dengan pernikahan, seolah-olah kalau udah menikah semua persoalan selesai dan nggak perlu mencapai apa-apa lagi, seolah-olah kalau nggak menikah itu sama dengan warga kelas rendah tak bahagia yang tidak ada nilainya karena manusia yang sempurna tanpa cacat cela dan pasti masuk surga hanyalah yang udah menikah *lah baper*. Yah, jadinya kalau menontonnya sekarang jadi kisahnya seperti biasa aja, tetapi bahwa gw masih bisa menikmatinya dengan tawa dan seruan "ciee" dan "eaa" pada dialog dan adegan yang patut digituin, membuktikan bahwa film ini memang masih punya daya tarik yang sangat kuat. Menurut gw alasan yang paling menonjol adalah bahwa karakter-karakter yang seharusnya komikal, jatuhnya tidak terasa one-dimentional. Ketiga saudari ini jelas punya watak masing-masing, tetapi gw tetap percaya mereka dibesarkan di satu rumah, you know, sebeda-bedanya watak, mereka tetap nyatu, dan gw terlarut untuk peduli sama mereka.

Dan, sebenarnya film ini nggak bisa dianggap dangkal juga. Kalau dilihat dari sudut pandang sekarang, film ini juga mengangkat social pressure yang "mengatur" bagaimana seharusnya orang berbahagia sejahtera, yang ternyata belum berubah banyak saat ini. Mungkin dulu tokoh Nunung dianggap keras kepala, makanya di bagian konklusinya ia belajar berubah. Tapi, buat gw, Nunung sebenarnya bisa dipandang sebagai panutan karena berprinsip teguh dan in control atas cara hidupnya, bukannya menggalaukan diri dan desperate hanya karena belum temukan pasangan berkembang biak. Mungkin ini yang jarang gw temukan di karya-karya lain setelah ini yang pakemnya mirip.

Sisanya, tentu saja menarik melihat "Jakarta" dan kehidupannya sebagaimana di-capture oleh pembuat film ini. Wilayah Blok M (sepertinya di jalan-jalan Panglima Polim dan Pakubuwono) yang masih terang dan lengang, dansa-dansi yang memang beneran asoy, ketidakgengsian menggunakan pakaian atau bahan kain tradisional bahkan untuk dansa-dansi itu, keramaian bioskop yang ternyata sudah ada calo, dan melodi serta lirik yang begitu syahdu dan menggelitik dari lagu-lagunya. Ngomong-ngomong soal lagu, sebagai film musikal--yang berarti ada bagian cerita yang dilagukan--mungkin tidak semuanya tampak mewah, bahkan masih ada kecanggungan di bagian koreografi kalau mau dibandingkan dengan film-film sejenis di Hollywood pada era yang sama. Tapi lagi-lagi, itu seolah nyambung dengan atmosfer film ini yang memang lebih komedik dan crowdpleasing. Menyenangkan sekali, charming, dan gw pun jadi lumayan ngerti kenapa film ini bisa berstatus legendaris.

Btw, versi restorasi film ini hasilnya bagus lho =).





My score: 8/10

Minggu, 14 Agustus 2016

[Movie] Winter in Tokyo (2016)


Winter in Tokyo
(2016 - Unlimited Productions/Maxima Pictures)

Directed by Fajar Bustomi
Screenplay by Titien Wattimena
Based on the novel by Ilana Tan
Produced by Oswin Bonifanz
Cast: Pamela Bowie, Dion Wiyoko, Morgan Oey, Kimberly Ryder, Brandon Salim, Ferry Salim, Brigitta Cynthia, Tokio Shinozuka


Sepertinya udah beberapa kali gw ungkit di blog ini bahwa gw punya ikatan tersendiri dengan yang namanya Jepang. I like Japan stuff since forever, I studied it, pernah nyicip tinggal di sana *bentar doang sih*, ya begitulah. Jadi, ketika muncul film-film Indonesia yang ada unsur Jepangnya, gw langsung merasa terpanggil. Apalagi jika muncul seperti apa yang dilakukan sangat lancang berani oleh film Winter in Tokyo, yaitu cerita orang Jepang berlatar Jepang yang dibuat dan dimainkan oleh orang Indonesia. Ini jelas konsep yang ridiculous, tapi buat gw standar-nya sih simpel, bisakah mereka bisa membuat gw larut sama ceritanya sampai abai bahwa ada sebuah budaya/bangsa spesifik yang diangkat di sini dan melupakan Indonesian-washing *versi lokal dari white-washing ala Hollywood =P* yang dilakukannya. Gw bukannya anti, karena di Hollywood udah sering lakukan ini, dan tentu saja film Indonesia yang menampilkan karakter Jepang yang dimainkan orang Indonesia bukan pertama kalinya dilakukan, cuman terbukti nggak semua bisa menggambarkan dengan tepat tentang salah satu bangsa dan kebudayaan terkenal dunia dan banyak referensinya sehingga mudah dipelajari itu. Misalnya, gw cukup impressed dengan penampilan Joe Taslim dan nyaris semua unsur ke-Jepangan yang digambarkan di film La Tahzan, Abdullah v Takeshi itu bolehlah untuk ukuran komedi, sementara kalau yang di Love You Love You Not itu ngaco banget. Nah, Winter in Tokyo ini gimana?

Story-wise, ini adalah kisah roman lembut sepasang pemuda-pemudi tetanggaan yang akrab tapi nggak jadian karena satu dan lain hal. Satu hal itu adalah karena si cewek, Keiko (Pamela Bowie) jatuh cinta sama orang lain, Akira (Morgan Oey), dokter yang ternyata dulu adalah kakak kelas yang sempat ditaksirnya waktu SD. Si lakinya, Kazuto (Dion Wiyoko) melakukan berbagai cara untuk bisa menjadi kepercayaan Keiko dan always be there for her, tapi ya gimana Keiko lebih memilih mem-pursue hubungannya dengan Akira yang lama tertunda. Sementara 'lain hal'-nya adalah Kazuto mengalami kecelakaan dan mengalami kehilangan sebagian ingatannya, sehingga hatinya kini lebih terpaut sama kekasih lamanya, Yuri (Kimberly Ryder). Nah, di saat inilah si nggak-peka-Keiko *lah kebawa emosi* mulai menyadari kekosongan dalam dirinya saat Kazuto "hilang".

Manis banget nggak siih ceritanyaaah uwuwuwu =D. Menurut gw, se-menye-menye ceritanya, film ini sudah cukup mengikuti pakem film atau dorama roman khas Jepang dengan tokoh-tokoh muda. Dari kebetulan-kebetulannya--ada kali tiga adegan tokoh-tokohnya saling nabrak di sini, sampai ke nggak adanya adegan serba bombastis emosinya, karena itu bagiannya drama Korea. Dari isi ceritanya, sebenarnya nggak masalah-masalah amat selain emang gw-nya yang nggak selera sama cerita beginian. Tetapi, koreksi gw di sini mungkin sama dengan film-film roman Indonesia lain dengan target remaja, yaitu membesar-besarkan hal kecil dan menggampangkan hal besar. Di sini poinnya adalah soal hilang ingatan yang dialami Kazuto. Itu kondisi yang make sense dan sebenarnya serius, sehingga gw tertarik dengan bagaimana psikologi seseorang yang kehilangan sebagian memorinya, yang nggak tahu sekian waktu ia sudah melakukan apa dan bertemu dengan siapa saja, semacam eksaminasi apabila ingatan hilang apakah perasaan yang menyertainya juga akan terhapus. Sayangnya, di sini itu cuma dianggap sebuah "twist" sehingga baru dibahas di sepertiga akhir filmnya dan diselesaikan dengan mudah pula.

However, jika hanya itu problemnya, film ini masih gw kasih nilai aman deh. Akan tetapi, film ini gagal dalam melakukan satu PR besar yang tak kalah penting dari menyusun cerita, yaitu konsep universe-nya. Sebagaimana disinggung di atas, film berkisah tentang orang Jepang di Jepang, tanpa intervensi unsur ke-Indonesia-an kecuali latar tokoh Keiko yang ada darah Indonesianya, which was nggak relevan juga sama ceritanya. Nah, apakah orang-orang Indonesia ini bisa meyakinkan gw bahwa mereka orang Jepang? I should say tidak. Menurut gw, hanya si Morgan, dan dalam porsi tertentu si Pamela juga, yang mampu meyakinkan gw dia could be orang Jepang dengan semua gestur yang ditunjukkannya, ke cara berdiri, jalan, dan ekpsresi bicaranya, sekalipun ia berbahasa Indonesia, yah minimal kelihatannya mereka yang paling bener dalam mencari dan memanfaatkan referensi dalam perannya. Sisanya, bah, cuma dibantu pakaian doang. Gini ya mas-mas, mbak-mbak, kakak-kakak, adek-adek, jika ada yang paling membedakan China-Jepang-Korea, itu bukan di muka, tapi di gestur, dan gestur itu keluar dari dalam diri, bukan dari pakaian. Lihatlah bedanya Jepang jadi-jadian ini dengan dua pemain Jepang betulan yang tampil di sini dengan speaking role--si ibu pemilik apartemen dan teman kerja Keiko di perpustakaan. Dan, itu jadinya juga terbawa ke akting mereka yang kayak nggak ada usaha untuk ingat bahwa mereka ceritanya bukan orang Indonesia.

Atau yang versi amannya, bisakah film ini membuat gw nyuekin bangsa dan budaya spesifik Jepang yang diangkat di sini? Yang ini malah 100 persen nggak. Kesalahan yang paling fatal dan paling bikin gw geregetan adalah, untuk nunjukkin "ini Jepang loh", mereka maksa memasukkan beberapa kalimat bahasa Jepang dalam dialog-dialognya. Itu nggak perlu karena: 1) terkadang nggak sesuai konteks--balasan untuk "arigatou gozaimasu" tidak harus selalu bentuk formal "dou itashimashite", di sehari-hari gw lebih sering dengar  balasannya cuma "iie" (maksudnya "nggak perlu berterima kasih"); dan 2) PEMAINNYA KELIHATAN JELAS NGGAK BISA BAHASA JEPANG! My God bagian ini paling painful untuk disaksikan, setiap ada yang ngomong bahasa Jepang rasanya pengen tutup kuping dan teriak "stop speaking Japanese already!"--tapi karena nggak sopan ya harus ditahan. Dan gw nggak tahu harus menyalahkan apa dan siapa, katanya orang Jepang tinggal di Jepang tapi ngomong bahasa Jepang yang cuma sepotong-sepotong itu nggak ada fasih-fasihnya, berusaha terdengar fasih pun tidak, kayak kekurangan referensi tontonan dorama dan anime Jepang atau nggak mau bayar pelatih/konsultan, jadi cuma tabrak aja apa yang ditulis di skenario atau disuruh sutradara/siapapun yang menyuruh mereka melakukan itu. Rusak sudah upaya suspension of disbelief-nya. 

Padahal, ini dengan bisa dengan mudah dihindari, entah itu belajar yang benar sampai (terdengar) fasih, atau nggak perlu pakai bahasa Jepang sama sekali di dialognya. Gw nggak masalah film berlatar suatu negara dan bangsa diceritakan dalam bahasa lain, teater 'kan sering begitu, film atau anime Jepang juga sering begitu. Gw ngistilahkannya "self-dubbing", ganti semua bahasa utamanya dengan bahasa penutur ceritanya. Contoh paling perfect dalam konteks ini adalah 47 Ronin (2013), yang me-replace semua bahasa Jepang dengan bahasa Inggris, bahasa di luar itu ya tetap pakai bahasa asing. Simpel. Winter in Tokyo seharusnya bisa kayak gitu, bahkan dialog bahasa Indonesia-nya sebenarnya sudah terdengar formal karena mungkin di-seolah-olah-kan ini di-"dubbing" dari bahasa Jepang, tetapi mungkin itu dianggap kurang gimmicky, jadi dipaksain ada bahasa Jepangnya di beberapa tempat. Ya maap aja, itu pilihan yang keliru, karena sumber daya yang tak memenuhi.

Dan, setelah gw pikir-pikir, Winter in Tokyo ini juga nggak harus banget dibuat di Tokyo betulan dengan karakter orang Jepang. Kalau mau dan memang berniat mengulik secara kreatif, setting-nya bisa ditukar dengan tempat lain, karena nggak ada hal krusial dalam cerita yang mengharuskannya terjadi di Jepang. Gw akan lebih memilih mengembangkan cerita ini berlatar Indonesia dalam gaya dorama Jepang, atau sekalian dibuat kerja sama produksi dengan Jepang dengan bahasa sana dan pemain dari dua negara--jadi ada karakter yang dirombak dikit kebangsaanya, serta diedarkan juga di sana, toh ada nilai uniknya bahwa kisah berlatar dan berkarakter Jepang ini (novelnya) justru dibuat oleh orang Indonesia, karena menurut gw ceritanya nggak malu-maluin amat untuk jenis ini. What a missed opportunity

Jadi, itulah permasalahan gw sama film ini. Mungkin reaksi gw berlebihan tetapi kalau hari gini udah zamannya internet, udah ada pusat bahasa dan kebudayaan Jepang, udah cukup banyak link kerja sama Indonesia-Jepang, dan udah ada channel WakuWaku Japan, memaksimalkan referensi dan riset untuk hal-hal yang diperlukan untuk film seperti Winter in Tokyo ini malah kayak disepelekan, cuma diambil gampangnya aja, ya sulitlah gw untuk respek. Gw akui, jika memang benar-benar mengabaikan itu semua, film ini kayaknya akan cocok dengan yang suka roman mellow begini, dan itu nggak ada salahnya, I'm not judging, toh sebenarnya secara konten jalan cerita dan sebab akibatnya nggak terlalu membodohi. Namun, gw sendiri sangat sulit menikmatinya sedemikian...dengan titik kulminasi pada dialog "Tokyo dan Kobe 'kan tidak terlalu jauh", karena gw yang masih sangat tradisional ini belum bisa menerima bahwa 500-an kilometer atau 3 jam-an sekali jalan dengan kereta Shinkansen (!) itu masuk dalam kategori "tidak terlalu jauh".





My score: 5,5/10

Kamis, 11 Agustus 2016

[Movie] Suicide Squad (2016)


Suicide Squad
(2016 - Warner Bros.)

Written & Directed by David Ayer
Produced by Charles Roven, Richard Suckle
Cast: Will Smith, Margot Robbie, Jared Leto, Viola Davis, Joel Kinnaman, Cara Delevigne, Jai Courtney, Jay Hernandez, Adewale Akinnuoye-Agbaje, Karen Fukuhara, Scott Eastwood, Adam Beach, Ike Barinholtz, Common, Ezra Miller, Ben Affleck


DC Comics dan Warner Bros. tengah membangun sebuah cinematic universe dari superhero mereka, dimulai dari Man of Steel lalu dilanjut dengan Batman v Superman: Dawn of Justice, lalu akan lanjut lagi dengan Wonder Woman, The Flash, Aquaman, dan gabungan dari mereka semua, Justice League. Tetapi, di antara itu semua, terseliplah Suicide Squad. Sebagai non-pemerhati industri komik Amerika, Suicide Squad akan dapat reaksi otomatis 'hah apaan tuh?' dari gw, dan ternyata memang ini bukan kisah superhero kebanyakan--dan mungkin itu sebabnya promosinya digeber banget. Memang masih satu dunia dengan para superhero itu, tetapi ini ternyata lebih kepada kisah program rahasia pemerintah merekrut para penjahat berkemampuan khusus untuk misi negara, keuntungannya adalah apabila gagal, pemerintah bisa tinggal nyalahin mereka, dan kalau mereka mati menjalankan misi ya berarti dunia hanya akan kekurangan beberapa penjahat. Kisah ini kemudian jadi the other side dari dunia superhero DC, sehingga jangan heran kalau tokoh-tokoh yang lebih dahulu terkenal terkenal, seperti Batman, The Flash, dan even The Joker pindah posisi jadi tokoh-tokoh pendukung aja.

Yang kemudian dipersembahkan dalam film Suicide Squad adalah perpaduan ganjil antara kisah laga superhero dengan kisah kriminal dunia bawah kekinian gitu, dipenuhi dengan karakter-karakter aneh yang tidak diketahui pasti agenda dan keberpihakannya, dihiasi berbagai ornamen bling bling ala hip hop yo, dan unsurprisingly mengingatkan pada film-film David Ayer yang pernah gw tonton sebelumnya, film kriminal End of Watch dan film perang FuryWell, they're bad guys, mereka ini ditangkap--beberapa oleh Batman--karena berbuat kejahatan memanfaatkan kemampuan dan keterampilan istimewa mereka. Seorang agen pemerintah, Amanda Waller (Viola Davis) kemudian berinisiatif untuk membuat sebuah regu khusus untuk menjalankan misi negara, karena mereka tak mau selamanya bergantung sama Superman dan kawan-kawannya, karena mereka juga nggak percaya orang-orang yang disebut meta-human itu akan berada di pihak 'yang benar' alias membela kepentingan US of A.

Waller kemudian membentuk satuan yang dipimpin oleh tentara Rick Flag (Joel Kinnaman), yang harus "mengayomi" sekelompok penjahat: Deadshot (Will Smith), Harley Quinn (Margot Robbie), El Diablo (Jay Hernandez), Captain Boomerang (Jai Courtney), Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje), dan Slipknot (Adam Beach). Ini ditambah lagi dengan bantuan rekan Flag, Katana (Karen Fukuhara) dan tenaga supranatural dari penyihir kuno Enchantress yang merasuki tubuh kekasih Flag, Dr. June Moone (Cara Delevigne). Namun, justru di sini permasalahannya dimulai. Enchantress rupanya berhasil bersiasat membangkitkan adiknya yang berwujud monster mistis dan menciptakan huru-hara di Midway City. Maka, dimulailah misi perdana dari Task Force-X atau nama jalanannya, Suicide Squad.

Seiring berjalannya film, gw tergolong orang yang tertarik dengan apa yang diangkat di film ini. Lucu aja bahwa di samping plot utamanya tentang menyelesaikan sebuah misi, di sini juga diangkat baik Waller maupun para penjahat ini mau saling mengakali, pasalnya para penjahat ini melakukan hal ini dengan paksaan, dan ketika mereka nggak dikurung di penjara dan berada di ruang terbuka tanpa dibelenggu, hasrat untuk kabur jelas semakin besar. Salah satu yang ongoing sepanjang cerita adalah bagaimana Harley menanti upaya penyelamatan oleh kekasihnya dalam kegilaan dan kejahatan, The Joker (Jared Leto). Sementara Waller menggunakan trik menanamkan alat pemantau di dalam tubuh personel ini, yang akan meledak dan menewaskan bila mereka bertingkah macam-macam. Ancaman fisik maupun psikologis gitu. Dari sini masuklah pertanyaan, kalau pemerintah juga berani bertindak sekejam itu, yang jahat siapa? Dalam dunia DC, mungkin itu alasan kenapa Superman harus ada.

Anyway, pada penyajiannya Suicide Squad ini nggak terlalu berat ternyata. Dari perpindahan shot dan adegan yang cepat, adegan laga yang heboh, humor sana-sini, bahasa-bahasa slang ala gangster--bahkan Joker di sini sangat gangsta dan nggak mau kalah bling sama P.Diddy, hingga deretan soundtrack dari lagu-lagu lawas membuat gelapnya tema menjadi lebih light dan menyenangkan. Dan, yang gw nggak sangka, film ini masih sempat selipkan unsur emosi pada beberapa karakternya. Ada salah satu adegan yang menurut gw brilian, ketika Harley lagi sedih di tengah hujan setelah sebuah peristiwa, lalu datanglah rekan-rekannya, dia langsung maksa pasang tampang cengengesan-gendeng-nya lagi. Dalam waktu dan ruang cerita yang terbatas, film ini menurut gw bisa meng-include unsur-unsur yang cukup untuk menjadikannya film yang menghibur. Belum lagi penataan visualnya yang lusuh tapi keren bikin gw asyik aja ngikutin apa yang disajikan film ini--terutama di final battle-nya yang buat gw lebih cool dilihat daripada beberapa adegan sejenis di film-film superhero setahunan belakangan ini, dan segala design yang menyangkut Enchantress itu menurut gw epic.

Tetapi, gw juga sebenarnya melihat bahwa penuturan film ini agak berantakan. Mood film ini kurang konsisten dan belok-beloknya kasar, dari yang cool-yo-wassup-yo ke yang dramatik ke yang komikal ke yang pertaruhan keselamatan seluruh dunia. Dan, ini sebenarnya udah kelihatan di awal ketika perkenalan tokoh-tokohnya agak redundant: udah ada perkenalan random ala Quentin Tarantino di awal, eh ditambahin lagi di pas perekrutan--kalau gw boleh pilih, yang pekenalan ala Tarantino-nya mending nggak usah, tapi entar dibilangnya filmnya kurang ceria *Cherrybelle kali ah*. Di salah satu bagian juga film ini antara niat-nggak-niat untuk ngasih twist atau pengungkapan dalam plot yang sebenarnya udah jelas terbaca tapi diulang lagi dengan penjelasan yang nggak meng-elevate ceritanya juga.  Dan, film ini juga kena penyakit tipikal film dengan tokoh-tokoh banyak, yaitu nggak semua tokoh dapat kesempatan untuk shine. Dari cerita ini, mungkin hanya Deadshot dan Harley yang paling menonjol, dan buat gw si El Diablo dan Rick Flag juga berhasil mencuri perhatian lewat story arc-nya, tetapi tetap aja itu nggak terjadi di semua anggota tim. Untung aja, deretan pemainnya jempolan banget--gw termasuk nggak nyangka Kinnaman bisa imbangi aktor sekaliber Will Smith dan Viola Davis, plus didukung kostum dan makeup yang berkarakter, jadi kemunculan tokoh-tokoh yang porsinya lebih sedikit at least bisa tetap teringat. 

However, untuk segala keberadaannya, gw condong untuk menikmati Suicide Squad ini. Film ini punya tema dan angle menarik dari dunia superhero DC dan disajikannya juga dengan style--walau kadang ya kurang konsisten itu tadi. Sebuah break yang asyik dari gegap gempita sosok superhero-superhero dengan nama besar, menonjolkan karakter-karakter dengan kelakuan kurang terpuji tapi (beberapa) bisa menarik simpati tetapi tidak juga sertamerta membenarkan mereka. Bahwa penuturan filmnya agak berantakan pun juga seperti mencerminkan tokoh-tokohnya yang emang nggak ada yang 'bener', hehe. Gw masih menunggu karya-karya lebih besar dan lebih solid dari dunia superhero DC ke depannya, tetapi for now Suicide Squad adalah sajian sela yang menyenangkan.





My score: 7/10

Rabu, 10 Agustus 2016

[Movie] 3 Srikandi (2016)


3 Srikandi
(2016 - MVP Pictures)

Directed by Iman Brotoseno
Written by Swastika Nohara, Iman Brotoseno
Produced by Raam Punjabi
Cast: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Chelsea Islan, Tara Basro, Donny Damara, Mario Irwinsyah, Detri Warmanto, Indra Birowo, Ivanka Suwandi, Rina Hassim, Joshua Pandelaki


Lebih dari setahun lalu proyek film 3 Srikandi sudah terdengung khususnya di media sosial, dan terdengar cukup ambisius juga. Film ini akan mengedepankan aktor-aktris Indonesia yang lagi top-topnya, termasuk comeback dari Bunga Citra Lestari--walau kemudian film ini dirilis setelah dua film BCL lain yang justru syutingnya sesudah 3 Srikandi. Selain itu, film ini juga mengangkat salah satu peristiwa paling bersejarah di dunia olahraga Indonesia, ketika tim panahan putri kita meraih medali perak di Olimpiade Seoul 1988, yang merupakan medali pertama Indonesia di kancah Olimpiade. Semacam ada beban berat bagaimana film ini akan dipresentasikan menjadi sebuah tontonan yang baik sekalipun mengandung unsur sejarah, biografi, inspirasi dsb dsb. Tetapi, melihat hasilnya, gw rasa film debut layar lebar sutradara Iman Brotoseno ini bisa mengatasi itu, bahkan sedikit di luar ekspektasi gw.

Singkatnya, film ini menceritakan perjalanan yang ditempuh tiga pemanah putri Indonesia, Nurfitriyana Saiman (Bunga Citra Lestari), Lilies Handayani (Chelsea Islan), dan Kusuma Wardhani (Tara Basro) di bawah pelatih Donald Pandiangan (Reza Rahadian), sampai akhirnya medali perak Olimpiade itu didapa. Polanya standar sports movie sih, orang-orang dari latar berbeda dan kesulitan masing-masing harus bersatu, berat-beratnya latihan, sempat gagal, hingga akhirnya meraih prestasi membanggakan di ajang terbesar dunia. Tetapi, itu semua dikali empat sesuai jumlah karakter yang dikedepankan di sini. Iya, empat. Kalau mau dijabarkan, film ini adalah kisah Bang Pandi bangkit dari kekecewaannya batal bertanding di Olimpiade dulu. Kemudian kisah yang agak mirip datang dari Nurfitriyana yang menyeimbangkan tanggung jawabnya sebagai atlet dan sebagai anak dituntut berbakti sama orang tua dalam bentuk menyelesaikan kuliah, serta dari Suma yang terbelah antara mengangkat ekonomi keluarga dengan jadi PNS atau jadi atlet yang tak bisa dijamin masa depannya, sekalipun jadi atlet itu membawa nama Indonesia. Lalu ada Lilies yang sebenarnya nggak ada masalah dengan kemampuan dan pilihan jadi atlet, tapi masih ada perselisihan dengan sang ibu (Ivanka Suwandi) yang juga melatihnya, gara-gara persoalan jodoh.

Sepanjang film, kita diajak untuk mengikuti perjalanan keempat tokoh ini dari perekrutan oleh pak pembina panahan (didn't catch the name, yang main Donny Damara) sampai titik kemenangan mereka di Seoul. Tetapi, ketimbang dibawa dengan mellow dan berderai keringat dan air mata, film ini bisa membawakannya dengan sangat menyenangkan. Seperti mau mengingatkan bahwa mereka ini juga manusia biasa dan masih muda-muda pada saat itu, jadi bagian haha-hihi dan bandel-bandelnya juga tidak disembunyikan. Entah itu cheating saat lari pagi, cinta-cintaan sesama atlet, sampai nyelonong kabur dari tempat pelatihan. Banyak senyum dan tawa timbul dari film ini, tetapi semua itu justru bikin gw jadi attached dan peduli sama mereka dan apa pun yang akan menimpa mereka. Jadi bukan dipaksa untuk kagum sama kehebatan mereka atau karena mereka wakili Indonesia, itu mah sudah dilakukan oleh para pemberita. Film ini justru membawa penonton untuk mendukung mereka karena diri mereka, which is important untuk sebuah film cerita, toh teknik memanah itu udah bukan problem utama lagi--gw suka bagian Lilies dihukum latihan sendiri, sambil ngedumel tapi sekali nembak langsung nancep di sasaran kuning, hehe.

And of course, menampilkan aktor-aktris kece di sini tidak percuma. Dengan banyak sekali mereka harus berbagi layar, pada pemain ini dapat bermain kompak dan asyik sekali, lengkap dengan aksen daerah masing-masing. Tapi Chelsea mungkin yang dengan mudah menarik perhatian, membawakan karakter Lilies yang memang paling outgoing dan banyak tingkah dengan sangat baik dan tidak berlebihan, semacam mengonfirmasi bahwa Chelsea memang punya kecocokan di peran-peran komedik. Reza, Tara, BCL, dan Mario Irwinsyah--jadi pacarnya Lilies--sangat smooth menghidupkan perannya dengan effortless. Mungkin yang menurut gw agak missed adalah penampilan Donny Damara yang somehow--mentang-mentang filmnya latar 80s--performanya agak kurang natural mirip film-film 80-an. Tapi dalam skala keseluruhan, this is an awesome cast.

Untuk dijadikan tontonan yang menghibur kalangan luas, 3 Srikandi menurut gw sangat berhasil. Film ini punya warmth, sisi fun dan emosi, dibungkus oleh pengemasan yang mulus. Ada pula nostalgia era 1980-an dari lagu-lagu, benda, kultur pop, hingga bahasa. Tetapi, itu juga berarti mengambil beberapa langkah kompromi, seperti bagian awal film ini yang dialognya tampak sekali ingin "menginformasikan" tentang latar situasi film ini, atau beberapa titik dramatis yang dibuat dalam jarak (terlalu) berdekatan. Tapi nggak masalah, karena itu cukup berguna agar film ini mudah diikuti alur dan grafik emosinya. Bahkan pada beberapa titik film ini seperti mencerminkan situasi yang masih terjadi sekarang, seperti pandangan bahwa prestasi atlet nasional kita terus menurun, kepengurusan yang tidak lancar, sampai sentilan kepada media peliput--kayak siaran TV baru mau nayangin panahan pas udah masuk final =D.

Akan tetapi, gw cukup menyayangkan absennya satu unsur cukup penting sehingga menjadi missed opportunity: pengetahuan. Gw tidak menuntut bahwa sebuah film harus mendidik, tetapi kalau ada sebuah pengetahuan yang dapat memperkaya, itu lebih bagus. Untuk 3 Srikandi, gw kehilangan beberapa proses dan pengetahuan dasar tentang pertandingan panahan tingkat dunia. Bagaimana sistem penilaiannya, bagaimana pembabakannya--'kan ada perorangan dan beregu, bahkan bagaimana proses para atlet bisa lolos kualifikasi bertanding di Olimpiade. Dengan ada pengetahuan ini, ketegangan saat adegan pertandingan bisa lebih tinggi lagi, jadi lebih terasa serunya, . Film ini hanya menunjukkannya secara permukaan, pokoknya sebanyak mungkin kena tengah sasaran, tapi ya sayang aja gw nggak dapat pengetahuan lebih daripada itu dari sebuah film (mungkin yang pertama di Indonesia) tentang atlet-atlet panahan.

Namun, harus gw ungkapkan bahwa gw suka dengan 3 Srikandi ini. Ini jenis film yang gw nggak akan keberatan untuk tonton ulang, karena penyajiannya yang menyenangkan serta keterampilan pemain dan filmmaker-nya ter-display dengan baik di sini. Bahkan, walaupun film ini bercerita tentang empat orang sekaligus, penuturannya nggak tumpang tindih dan gw bisa mengikuti kisah keempat-empatnya tanpa beban. Di luar beberapa kekurangannya, ini adalah film yang well-crafted dan universal, film yang nggak ngoyo untuk "mendidik dan menginspirasi" melainkan secara sendirinya bikin yang menonton jadi mendukung perjuangan karakter-karakternya. 





My score: 7,5/10

[Movie] Jason Bourne (2016)


Jason Bourne
(2016 - Universal)

Directed by Paul Greengrass
Written by Paul Greengrass, Christopher Rouse
Based on the characters created by Robert Ludlum
Produced by Frank Marshall, Paul Greengrass, Matt Damon, Gregory Goodman, Ben Smith, Jeffrey M. Weiner
Cast: Matt Damon, Alicia Vikander, Tommy Lee Jones, Julia Stiles, Vincent Cassell, Riz Ahmed, Ato Essandoh, Scott Shepherd, Bill Camp, Vinzenz Kiefer


Bourne adalah salah satu seri action terfavorit gw sepanjang masa, sekalipun diawali dengan meremehkannya. Jujur gw baru nonton The Bourne Identity (2002) lewat VCD sewaan ^_^;, dan nonton The Bourne Supremacy (2004) juga agak segan sampai akhirnya nonton beberapa pekan setelah rilis di bioskop termurah yang bisa gw temukan saat itu. Padahal kemudian seri Bourne jadi tontonan yang cukup sering gw ulang, dengan puncaknya di The Bourne Ultimatum (2007) yang edan itu. Misteri identitas si Bourne yang amnesia dan action yang raw dan unexpected menjadi nilai istimewa seri ini, dan sesungguhnya sangat cukup dengan tiga film saja. Tetapi, namanya bisnis kali ya, kalau bisa diperpanjang, kenapa tidak.

Sayangnya ini terhambat sama keengganan Paul Greengrass (sutradara Supremacy dan Ultimatum) untuk nerusin dan sang bintang utama Matt Damon yang ogah jadi Bourne lagi kalau nggak ada Greengrass *awww*. Makanya Universal Pictures nekat bikin lanjutan berupa spin-off, The Bourne Legacy (2012) dengan bintang Jeremy Renner, yang sebenarnya nggak buruk dan justru komplementer untuk universe Bourne, tapi ya tetap kayak kurang legit tanpa Damon dan Greengrass. Lalu, entah dapat wangsit apa, Damon dan Greengrass akhirnya setuju untuk menggarap film Bourne lagi. It's quite exciting, tetapi apakah mereka mampu lampaui film-film sebelumnya?

Pembuktiannya ada di film yang diberi judul agak terlalu simple, Jason Bourne. Kalau mengikuti seri Bourne, pasti sudah tahu bahwa Jason Bourne bukan nama asli si Jason Bourne (Matt Damon)--karena agen dark operation intel mana yang pakai nama asli =D. Itu adalah identitas yang dipakainya setelah di-"program" oleh CIA di bawah proyek Operation Treadstone untuk jadi tentara super--detailnya diungkap di Legacy, yang kayaknya juga jadi penyebab amnesianya di awal Identity. Anyway, beberapa tahun kemudian, nama Jason Bourne menjadi kata kunci yang menandakan bahaya bagi CIA, karena di ending Ultimatum Bourne sempat mengungkap kepada publik tentang operasi gelap CIA yang nggak beda sama pembunuh bayaran. Kini, ketika ada seorang hacker yang menerobos sistem CIA dan mencari segala informasi tentang Jason Bourne, CIA kembali kelabakan, apalagi bersamaan dengan itu tercuri pula data proyek rahasia CIA dengan perusahaan sistem operasi Deep Dream. Direktur Robert Dewey (Tommy Lee Jones) kemudian mengizinkan bawahannya, Heather Lee (Alicia Vikander) untuk melacak Bourne.

Bourne sendiri memang bersembunyi secara nomaden di berbagai negara. Dia sudah ingat segala jati dirinya, tapi sekarang memilih untuk stay low dan menggunakan kemampuan fisiknya untuk bertahan hidup: jadi petarung bayaran. Dia basically sudah menjauhkan diri dari dunia spionase. Nah, si hacker tadi sendiri tak lain adalah Nicky Parsons (Julia Stiles), mantan agen CIA yang dulu sih diisyaratkan pernah dekat dengan Bourne. Meski target awalny adalah membongkar kongkalikong CIA dan Deep Dream, Nicky merasa terpanggil agar Bourne melihat semua berkas soal Jason Bourne yang disimpan di CIA, karena apa yang dia ingat ternyata belum mencakup semua yang harus diketahuinya tentang hal-hal tercela yang dilakukan oleh organisasi intel AS itu terhadap dirinya. Persentuhan Nicky dengan Bourne ini kemudian membuat mereka terdeteksi lagi oleh CIA, yang pilihannya harus meringkus, atau melenyapkan mereka berdua.

So you see, ceritanya kayak ngulang aja gitu dari yang film-film sebelumnya, and that's kind of disappointing. Dan entah kenapa buat gw konsep "udah ingat semuanya bukan berarti tahu semuanya" tidak digali terlalu maksimal di sini. Mungkin karena misterinya sudah terungkap di film-film sebelumnya, film yang satu ini nggak memberikan nilai tambah, hanya melanjutkan saja. Intrik-intrik politik sengitnya pun nggak semenggigit Supremacy atau Ultimatum. Untungnya sih nggak berarti semuanya buruk, karena gw cukup suka bahwa film ini mengambil konteks masa kini--disinggung soal Snowden juga, ketika badan intel semacam CIA  nggak bisa se-rahasia dulu dalam menjalankan aksi-aksinya dan harus berusaha jadi lebih canggih dari "musuh-musuh" mereka, dan mereka harus lebih conscious soal citra publik, tapi teteup ada usaha untuk bisa memperluas cengkeramannya lewat deal rahasia dengan Deep Dream.

Namun, untuk urusan action, buat gw film Jason Bourne ini masih memenuhi ekspektasi. Beberapa adegan mungkin agak mengulang film-film sebelumnya dalam setting dan "kepadatan" berbeda, tapi ketegangannya dan kegilaan laga-tanpa-CGI-nya masih bikin gw girang. Mulai dari kejar-kejaran di tengah kerusuhan (!) di Yunani, kucing-kucingan di London, sampai showdown di Las Vegas yang akan bikin bengkel ketok magic setempat penuh. Ada sedikit sentuhan berbeda di film yang ini, dengan gambar-nya yang lebih cakepan dan tidak se-raw dulu, tetapi overall masih lebih terasa jiwa Bourne-nya daripada, well, Legacy misalnya. Tata suaranya itu lho kurang ajar banget bikin stress, haha. 

Buat gw, Jason Bourne ini termasuk alright, menghibur, cast-nya kelas serius, action-nya masih seru, cuma memang agak kurang memunculkan topik dan intrik yang lebih menarik daripada film-film pendahulunya--untuk hal ini bahkan Legacy masih lebih unggul. Tapi ya sudahlah, sudah cukup untuk jadi semacam exercise dan nostalgia Bourne versi Damon-Greengrass saat nggak amnesia lagi, walau memang nggak setara dengan trilogi Bourne yang awal. Gw sih nggak keberatan kalau mereka mau lanjut lagi, tapi mbok ya ceritanya bisa move on dari sekadar mencari identitas Bourne. Kalau mau stop, malah lebih nggak apa-apa.





My score: 7/10

Selasa, 02 Agustus 2016

[Movie] Bangkit! (2016)


Bangkit!
(2016 - Oreima Films/Kaninga Pictures)

Directed by Rako Prijanto
Written by Anggoro Saronto
Produced by Reza Hidayat
Cast: Vino G. Bastian, Deva Mahenra, Acha Septriasa, Putri Ayudya, Adriyan Bima, Yasamin Jasem, Yayu Unru, Ferry Salim, Donny Damara, Khiva Iskak, Ernest Samudra, Gito Gilas, Joshua Pandelaki 


Sebelum memulai review, gw mau coba bikin pendahuluan berupa semacam kesimpulan kasar hasil dari beberapa kali mewawancarai atau mendatangi acara yang dihadiri para filmmaker kita dalam beberapa tahun ini, tapi gw janji ini bakal ada hubungannya sama filmnya. Oke, jadi di tengah-tengah perfilman Indonesia yang masih berusaha berkembang, gw menyimpulkan ada kayak dua macam jenis visi dari para filmmaker kita. Yang pertama adalah "kita harus berkarya dari apa yang ada di sekitar kita dan sesuai dengan jati diri kita," sementara yang kedua "supaya survive di bioskop, kita harus bisa menyamai standar film-film yang disukai masyarakat, termasuk Hollywood." Terus terang gw nggak bilang yang satu salah dan yang satu benar, malah gw bilang dua-duanya ada benarnya, dan dari dua-duanya bisa menghasilkan karya yang bagus, serta bukan nggak mungkin bisa digabungkan. Cuma, memang selama ini banyak film (dan pengamat) yang lebih berpatokan sama visi yang pertama, dan kebanyakan nggak pede sama visi yang kedua. Biasalah, masalah duit, dan penonton kitanya juga sih udah mendarahdaging sama mindset "halah Indonesia bisa apa sih" sejak zaman kolonial. 

Rako Prijanto, filmmaker Indonesia yang dulunya lebih dikenal sebagai kru Ada Apa dengan Cinta? yang menciptakan puisi-puisi tokoh Rangga, kayaknya cenderung berada dalam visi yang kedua. Filmografinya belakangan ini pun menunjukkan itu: Sang Kiai (2013), 3 Nafas Likas (2014), dan Terjebak Nostalgia (2016), semuanya dikemas dalam production value tinggi—desain produksi, sinematografi, sound, visual effects, kostum, make-up, sampai lighting, yang menurut gw di atas rata-rata film Indonesia saat ini, dan enakkk bannngettt untuk disaksikan di bioskop. Tapi, gw tadinya nggak menyangka Rako dkk bisa sampai berpikir bikin film tentang bencana. Gimanalah caranya bikin begitu setelah kita udah telanjur kena sama film-film raksasa macam 2012 dan San Andreas? Gw sih udah cukup yakin bahwa Rako nggak akan bikin film dengan kualitas ble'e, tetapi keyakinan gw terhadap film terbarunya, Bangkit! tetap harus diuji.

Bangkit! sepertinya mengikuti pakem film-film bencananya Roland Emmerich, ditambah sentimentalitas film-film sejenis dari Korea. Sorotan utamanya ada di dua kelompok karakter, pertama ada petugas SAR, Addri (Vino G. Bastian) beserta istrinya, Indri (Putri Ayudya) dan anak-anaknya, Eka (Yasamin Jasem) dan Dwi (Adriyan Bima). Lalu yang kedua adalah pasangan bertunangan Arifin (Deva Mahenra) yang bekerja di BMKG dan Denanda (Acha Septriasa) yang seorang dokter. Suatu hari sebuah kondisi abnormal melanda Jakarta dengan hujan yang tak henti dan luapan air yang merendam sebagian besar wilayah Jakarta dengan cepat. 

Di hari pernikahannya dengan Denanda, Arifin terjebak luapan air yang merendam parkir basement sebuah gedung, di situlah ia bersinggungan dengan Addri yang menyelamatkannya. Akan tetapi, itu adalah awal dari berbagai rintangan yang harus mereka hadapi di hari-hari selanjutnya. Kesetiaan Addri harus terbelah antara tugasnya menyelamatkan korban bencana yang terus bertambah dan keluarganya yang juga butuh kehadirannya di masa sulit. Sementara Arifin, belum sempat memperbaiki hubungannya dengan Denanda, harus meyakinkan atasannya bahwa perlu tindakan darurat untuk menyelamatkan penduduk Jakarta, karena banjir dan badai tak akan semakin surut.

Buat gw, sebagai sebuah film drama-action-disaster, Bangkit! sangat, sangat watchable. Gambarnya asyik, akting pemainnya bagus-bagus, beberapa momen dramatis pengadeganannya keren, dialog-dialognya pun tidak menggelikan, sekalipun berbagai unsur ceritanya jelas-jelas fantastikal--alias ngarang =)-- dan nyaris cheesy seperti halnya film-film Emmerich. Susunan ceritanya juga bikin gw stick untuk nonton, entah itu dari drama keluarganya, ataupun kesulitan-kesulitan harus dihadapi setiap tokoh kita untuk bisa bertahan hidup. Bagian yang paling fragile, yaitu visual effects, ternyata juga nggak buruk lho. Practical effects-nya bagus, gw paling suka adegan-adegan bawah air, sementara efek animasi CGI-nya juga nggak malu-maluin amat, nggak mendistraksi keseluruhan filmnya. Paling nggak gw melihat bahwa ini bukan film asal buat dan nggak murah.

In a perfect world, semua itu akan cukup untuk membuat Bangkit! sebagai salah satu film yang layak diberi jempol tanpa ragu. Sayangnya, we're not in a perfect world. Dan sayangnya lagi, ketidaksempurnaan Bangkit! yang paling mengganggu justru tidak terletak pada segi teknisnya. Beberapa kali, gw merasa film ini kehilangan adegan ataupun shot, sehingga di banyak bagian film ini tidak mengalir dalam sequence yang utuh dan komprehensif. Misalnya, proses rumah keluarga Addri terkena banjir yang kayak ke-skip, atau Denanda menyelamatkan profesor Pongky (Yayu Unru)--karena film-film seperti ini selalu perlu tokoh profesor, hehe--yang tiba-tiba udah beres aja. Sering juga timeframe-nya agak membingungkan, jarak waktu antara satu adegan ke adegan yang lain kadang-kadang lama kadang-kadang kilat tiba-tiba. Gw kurang tahu ini kesalahan ada di mana, dan gw sih masih ngerti maksud ceritanya, tetapi sungguh film ini penuturannya jadi inkonsisten, kadang detail, kadang nggak, kurang nyamanlah jadinya.

Gw sendiri menilai bahwa film ini sebenarnya bisa lebih enak lagi disaksikan jika waktu pembuatannya lebih lama, dan mungkin jika biayanya lebih banyak. Dengan itu, bakal ada waktu untuk ngecek lagi apakah tuturannya sudah cukup lengkap, dan bakal ada biaya untuk syuting tambahan atau syuting ulang demi mengisi yang kurang-kurang dan yang hilang-hilang itu--sebagaimana sering dilakukan film-film besar Hollywood. Mungkin perlu juga test screening untuk mendapat feedback dari orang-orang awam gimana caranya supaya filmnya lebih asyik disantap, after all ini film mainstream bertujuan komersial bukan yang nyeni yang sesuka-suka yang bikin *kalau gw ikut test screening mungkin gw akan usulkan nggak perlu ada gempa bumi karena kayak out of place aja gitu, hehe*. Pun dengan waktu pula CGI-nya gw yakin bisa disempurnakan lagi. Dan in the mean time, film ini juga bisa memperbanyak referensi sains biar muatan pengetahuannya bertambah--walaupun film ini cukup oke dalam menunjukkan tindakan yang perlu dilakukan saat banjir datang. Pokoknya, dengan sumber daya dan waktu yang lebih, Bangkit! sangat bisa dan pantas untuk jadi lebih baik daripada yang sekarang ada.

Namun, untuk sementara, gw sangat mengapresiasi keberadaan film ini, terutama karena keberaniannya memproduksi film dengan teknikalitas yang rumit, dan bukan sekadar nekat tanpa kemampuan. Kemampuan itu terbukti ada, tetapi mungkin masih butuh dukungan sumber daya, waktu, dan trust, agar bisa menyempurnakannya. Sekurang-kurangnya, Bangkit! buat gw masih menghibur, malahan pantas untuk diingat sebagai sebuah film bencana berskala besar (mungkin) yang pertama di Indonesia. Sepertinya memang tujuan lebih besar dari pembuat film ini adalah menjadikan Bangkit! sebagai permulaan agar Indonesia nggak ciut untuk bikin film dengan tema-tema yang dulu dianggap kita nggak sanggup, dan gw mau sepakat dengan harapan itu. 




My score: 7/10

Senin, 01 Agustus 2016

[Movie] Chikung (2016)


Chikung
(2016 - Ta Ferri Entertainment)

Directed by Ta Ferri
Written by Ta Ferri, Minwari Gunawijaya
Produced by Liem Ming Ming, Johny Tanujaya
Cast: Ta Ferri, Ki Daus, Salsabilla Audita, Nuke Budiarti, Clarisa Harsi, Cecep Arif Rahman, Doel Syawal, Tanto Sudrajat, Iis Carina, Tommy Alexander, Dimas Harya


Chikung adalah salah satu film yang dilirik dikit aja udah ngerti bahwa this is going to be bad. Dari desain posternya, wording-nya, dan, well, everything. Entah apa yang dijadikan daya tarik ataupun nilai jualnya, dan mau menyasar penonton yang mana--ini jelas film indie, but not that kind of indie. Gw enggan jelaskan kenapa gw bisa nonton ini, yang gw kejar nonton hari pertama karena tahu film yang out of nowhere dan nggak pake promosi begini akan cepat hilang dari peredaran, yang pasti gw sudah mengonfirmasi bahwa syak wasangka gw terhadap kualitas film ini memang benar. Yah, itung-itung gw jadi punya wawasan sedikit lebih luaslah tentang film Indonesia saat ini. Tapi, entah karena gw mood-nya lagi baik atau kebanyakan makan gula, gw lebih ingin mencoba memahami keberadaan film ini daripada marah-marah sendiri lalu menghina-dina-mariana. 

Jadi begini, dalam pandangan gw Chikung itu kelihatan sekali datang dari orang-orang yang tidak tahu cara membuat film. Mindset-nya masih kayak sinetron, tapi bahkan tidak sampai seperti sinetron yang ada sekarang, lebih seperti produksi komunitas kecil yang belum cukup ilmu filmmaking-nya, atau at least nggak mengikuti perkembangan zaman. Gw nggak tahu harus mulai dari mana untuk menggambarkan itu. Alat syuting dan editing yang kelihatan banget sederhana, musik latar yang cuma ada dua jenis track berdurasi sekitar 20-30 detik yang diulang-ulang dan suka mati tiba-tiba setiap ganti scene, atau yang paling bikin sengsara ceritanya yang usang tapi dipanjang-panjangin, plus karakterisasi yang anehnya sangat banyak untuk sebuah film yang "kecil" ini. Plus masih pakai suara hati yang di-voice over saat sedang dalam adegan percakapan dengan orang lain. Mau ngamuk nggak loe...

Dari penyusunan ceritanya aja udah bermasalah. Si pembuat sepertinya ingin membuat film kung-fu kontemporer yang straightforward terinspirasi B-movies dalam versi urang Bandung--gw sempat lihat salah satu set bertuliskan kota Lembang. Seorang pemuda bernama Kung Ming (Ta Ferri)--itu pun jika memang mau percaya bahwa si pemeran utama yang tampangnya seperti berusia di atas 40 itu "pemuda", penjual pakan hewan sederhana yang juga jago kung-fu mendapat kunjungan dari sosok kakek misterius (Ki Daus from Indosiar's Supersoulmate Show fame =p) yang berpakaian mirip pendekar dari partai pengemis baju indah tanpa tongkat pemukul anjing di Legend of Condor Heroes, yang juga kebetulan mirip kakek Kung Ming yang dulu menghilang (??), yang meramalkan kejadian besar yang akan terjadi dalam hidupnya. 

Satu per satu perkataan si kakek jadi kenyataan, Kung Ming dikerubungi oleh tiga wanita *ho my God, give me a moment to giggle XD....*. Mereka adalah Shenlin *or something* (Nuke Budiarti), adiknya bernama Lala (Salsabilla Audita), dan the pop-up lady *karena sering muncul di mana aja sesukanya* bernama Reta (Clarisa Harsi). Namun, ini membuat Kung Ming terseret ke masalah cewe-cewe muda ini. Orang tua Lala gagal memenuhi tuntutan rentenir bernama Johnson (sorry didn't catch the actor's name) yang classically berkumis berjaket kulit dan gemar tertawa jahat bersama antek-antek premannya yang nggak pernah kebagian dialog. Johnson mengancam akan menghancurkan usaha mereka bila utang tidak dibayar. Tapi, ada opsi amnesti utang bila...apa hayo....yak, you've guessed it, salah satu dari kedua putri mereka mau kawin dengan Johnson. Ya jadi intinya si Kung Ming yang ditaksir oleh Lala itu kemudian jadi pembela keluarga inilah.

Namun, nggak mau kalah sama film-filmnya Screenplay Production, kisah Chikung ternyata penuh twist. Kung Ming yang sempat babak belur oleh gerombolan Johnson ternyata ditakdirkan untuk mencapai suatu level kesaktian yang membuatnya disebut Chikung. Bukan cuma sakti bela diri, dia juga punya kemampuan penyembuhan, plus menunjukkan letak emas pemberian dewata. Twist kedua adalah si pop-up lady Reta ternyata juga mencari-cari kesempatan dan halalkan segala cara demi diterima cintanya oleh Kung Ming *ho my God, give me a another moment to giggle XD....*. Ini gw belum nyinggung ada sosok pemuda *yang emang beneran pemuda* yang violently naksir Lala dan jadi rival cinta Kung Ming, yang me-refer si Kung Ming dengan sebutan "cowok itu" seolah mereka seumuran. Lalu si bapaknya Lala yang tetiba stroke dalam waktu singkat, lalu proses kakaknya Lala yang kemudian jadi sosok Dewi Kwan Im (!), atau tokoh sepupu Lala, seorang cowok remaja yang entah fungsinya apa selain menuh-menuhin durasi dan layar. Oh, did I tell you bahwa 30 menit pertama film ini adalah tentang masa kecil Kung Ming yang hanya menceritakan bagaimana ia tertarik sama kung fu?

Gw sepertinya harus stop menceritakan keanehan-keanehan filmnya, karena gw nggak mau semakin kelihatan ngenyek. Pokoknya, saking demikiannya, gw nontonnya pun lebih sering ketawa kayak ngeliatin anak balita pakai seragam polisi main jadi pengatur lalu lintas: pakaiannya polisi, tapi bukan beneran. Maksud gw, agak berlebihan kalau gw bilang ini film jelek, because it's barely a 'film'. Ini berbeda dengan 'film' yang dibuat secara profesional tapi hasilnya jelek. Untuk yang satu ini, gw nggak sampai hati untuk komplain tentang akting, directing, skrip, desain produksi, editing, sound, visual effect, atau logika cerita sekalipun, seolah Chikung ini ada dalam level yang sama dengan 'film' bioskop lainnya. Gw melihat pembuat film ini sudah menyiapkan cerita yang badass, dipenuhi imajinasi tentang legenda-legenda khas cerita silat Tiongkok dan pesan-pesan kebajikan berbasis ajaran Buddha *yang somehow semua bagian ini harus diujarkan secara panjang lebar oleh tokoh kakek-kakek*, dengan berbagai twist dan divine intervention, tapi berhubung mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat, ya hasilnya di film jauuuuh dari niat itu. Gw bahkan tetap nggak ngerti "chikung" itu apa.

Jika ada yang bisa gw nilai positif di sini adalah adegan-adegan tarungnya. Kelihatan bahwa orang-orang ini punya keterampilan bela diri, dan mungkin inilah satu-satunya unsur di film ini yang hasilnya bener--Ta Ferri kayaknya punya klub kung-fu sendiri, ditambah ada Cecep Arif Rahman jadi semacam bintang tamu di tiga scene yang semuanya melibatkan perkelahian. Gw jadi heran kenapa film ini nggak memperbanyak adegan laganya saja ketimbang memenuhi 100-an menit durasinya dengan drama-drama menyiksa, tetapi, again, balik lagi ke paragraf sebelumnya. Oh ya, tipografi di titelnya juga lumayan. Dan....gw juga bisa mengapresiasi positif sama, believe it or not, pengambilan gambarnya. Sinematografinya memang sangat, sangat, sangat kurang, tetapi dengan ukuran bahwa ini film amatiran, jika dilihat dari komposisinya dan angle gambarnya, bidang inilah yang paling menunjukkan potensi, seandainya lebih banyak belajar dan latihan serta didukung peralatan yang proper.

Menurut gw persoalan terbesar Chikung adalah nyalinya yang luar biasa untuk membuat film DAN menayangkannya di bioskop komersial, tanpa kemampuan membuat film dengan benar. Ini bukan sesuatu yang membanggakan lho ya, dan gw sih berharap semua orang yang terlibat film ini mawas diri dan menyadari itu sebelum merasa gerah filmnya nggak "didukung". Akan lebih bijak sebelum go bikin film panjang di bioskop, coba bikin short films dulu, perbanyak referensi dari yang lama sampai ke yang baru, latih taste-nya, ikut kelas-kelas, atau sekalian libatkan pembuat film yang lebih profesional minimal untuk membimbing. Ingat bahwa film ini kerja kolaboratif, cari tahu dulu bagaimana menerjemahkan cerita yang ada di kepala agar bisa dikerjakan dengan baik, lalu bagaimana caranya juga agar dimengerti dan dirasakan oleh yang nonton. Mindset harus diubah sejak menyusun cerita dan karakter, mana yang perlu mana yang nggak, jangan maunya cepet syuting saja. Apalagi kalau masih minim pengalaman, mintalah dan dengarkanlah pendapat dari yang lebih pengalaman, terbukalah pada saran dan kritik.  Entah kenapa habis menonton ini gw bawaannya jadi mau nasihatin, mungkin karena nggak tega aja kalau udah capek-capek mengerjakan tapi hasilnya sangat sulit untuk dibanggakan. Jika toh film ini akhirnya ditonton oleh hanya sangat sedikit orang, anggap saja itu demi kebaikan semua pihak.





My score: 3/10