Jumat, 08 Februari 2019

My Movie Picks of January 2019

Yuklah mari kita mulai 2019 ini dengan postingan daftar film-film terkece yang berhasil gw tonton selama bulan Januari. Sebagaimana gw pernah jelaskan, dalam senarai bulanan gw mengumpulkan film-film paling berkesan dalam urutan preferensi, baik yang gw tonton di bioskop maupun media lain dalam bulan bersangkutan, tapi yang memang gw baru pertama kali tonton alias bukan nonton ulang. Dan, bulan Januari ternyata memunculkan judul-judul yang termasuk kuat, a good way to start the new year.






1. Roma
(2018 - Netflix/Participant Media/Esperanto Filmoj)
dir. Alfonso Cuarón
Cast: Yalitza Aparicio, Marina de Tavira, Diego Cortina Autrey, Carlos Peralta, Marco Graf, Daniela Demesa, Nancy García García, Verónica García, Fernando Grediaga, Jorge Antonio Guerrero, José Manuel Guerrero Mendoza


Melanjutkan keyakinan dan keimanan bahwa Yang Mulia Baginda Cuarón nggak pernah mengecewakan diriku, film ini hadir sebagai sebuah sajian yang lagi-lagi tampil berbeda, namun sekaligus menampilkan unsur-unsur yang pernah ditampilkan di film-film doski sebelumnya--serius, bahkan ada astronot (Gravity?) dan mainan sulap (Harry Potter? =P). Di antara kecermatan audio visual yang tiada banding, akting yang mengalir natural, dan unsur-unsur ekstrinsik *aihh* yang menopang komplet kisahnya--berlatar Meksiko 1970-an dengan gejolak politik dan sosialnya, bagian yang paling mengena buat gw justru pada sudut pandang yang dipilih. Seluruh kisah ini bertumpu pada Cleo, gadis berlatar belakang ras asli tanah Meksiko, yang kerja dan tinggal sebagai asisten rumah tangga di rumah sebuah keluarga kelas menengah di Mexico City. Tentang keseharian menjalani hidup merantau, dengan separuh--atau lebih--hidupnya diberikan untuk keluarga yang jadi majikannya itu. Biasanya, banyak kisah rumah tangga dituturkan hanya dari si majikan yang cuma ngeh hal-hal tertentu tentang kehidupan si ART--nggak usah di dalam cerita-cerita, di kehidupan nyata juga gitulah. Di film ini kayak ditukar bahwa penonton akan tahu banyak detail soal Cleo, tetapi kejadian-kejadian (yang terheboh pun) di keluarga majikannya hanya diketahui potongan-potongannya. Mau ngulik detail juga segan, karena meski akrab dan "dianggap" bagian dari keluarga, tinggal di rumah yang sama, sering berbagi ruang yang sama, bahkan sebenarnya ada kasih sayang tulus di antara mereka, tetapi pembatas antara dunia mereka akan selalu ada, dan mungkin tak akan pernah hilang. Bahwa film ini mampu menyelipkan pemikiran-pemikiran tersebut, dan banyak banget lagi pemikiran lainnya sepanjang film, tanpa nggurui "harusnya lo begini" atau "harusnya lo jangan begini", adalah bukti kinerja seorang maestro.
My score: 8,5/10






2. The Mule
(2018 - Warner Bros.)
dir. Clint Eastwood
Cast: Clint Eastwood, Bradley Cooper, Michael Peña, Dianne Wiest, Taissa Farmiga, Alison Eastwood, Laurence Fishburne, Ignacio Serricchio, Andy Garcia, Clifton Collins Jr.


Walau mungkin film-filmnya opa Eastwood nggak semuanya gw demen, tapi bersyukur bisa nonton yang satu ini di bioskop. Straightforward drama terinspirasi kisah nyata yang nggak neko-neko, namun bertutur lancar jaya, mampu memikat dari awal hingga akhir. Ini adalah pertama kali sejak 10 tahun terakhir opa Eastwood membintangi film yang disutradarainya sendiri (terakhir Gran Torino yang juga baguss), dan apa peran yang paling tepat di masa tuanya selain jadi seorang kakek-kakek pengantar narkoba selundupan, yekan =D. Sudut kriminal aparat AS vs mafia narkoba Meksiko mungkin rutin saja sih tampilannya di sini, tetapi bisa diimbangi dengan sisi tenderness yang dahsyat tentang persoalan keluarga si kakek, plus performa simpatik penuh karisma dari opa Eastwood.
My score: 8/10






3. Keluarga Cemara
(2019 - Visinema Pictures)
dir. Yandy Laurens
Cast: Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Zara JKT48, Widuri Puteri, Asri Welas, Abdurrahman Arif, Yasamin Jasem, Kafin Sulthan, Maudy Koesnaedi, Gading Marten, Ariyo Wahab


Ada dua hal yang bisa gw tarik kesimpulan dari film ini. Pertama, sebagai produk pengembangan IP (intellectual property), dalam hal ini dari seri cerita+serial TV lawas karya Arswendo Atmowiloto, film ini adalah adaptasi dan pemutakhiran yang efektif. Menghormati apa yang sudah pernah diterbitkan jauh sebelumnya, yakni kisah-kisah sederhana dari tokoh-tokoh yang sederhana, namun bisa tetap masuk dengan pola pikir zaman kini. Gw merasa nggak ada yang terlalu ujug-ujug nghayal di sini, termasuk brand placement-nya yang lumayan gede ya =P. Well, mungkin terkecuali pada upaya si skenario dalam "menutup-nutupi" nama asli Abah dan Emak, hehe. Kedua, dan yang paling matters, adalah pembangunan emosi yang luar bisa kena. Tanpa harus di-boost dengan akting histerikal ataupun musik ngegas, film ini sukses mengalir kalem, menghangatkan hati, dan sesekali menggelitik, nyelekit, hingga pada saatnya menampilkan momen-momen menonjok emosi.
My score: 8/10






4. Green Book
(2018 - Universal/Participant Media/DreamWorks Pictures/Amblin Partners)
dir. Peter Farrelly
Cast: Viggo Mortensen, Mahershala Ali, Linda Cardellini, Dimiter D. Marinov, Mike Hatton, Sebastian Maniscalco


Sari ceritanya sih agak standar, dua orang dengan latar belakang berseberangan yang dipersatukan oleh suatu keadaan dan kepentingan, dan dalam perjalanannya saling memberi pengaruh perubahan. Namun, yang bikin menarik adalah kompleksnya dua karakter yang dipertemukan di sini, apalagi dengan latar Amerika era 1960-an yang masih kental sentimen ras. Ada Tony Lip yang semacam ngikut aja apa yang ada di lingkungannya, jadi bouncer hayuk, jadi sopir hayuk, gaul sama mafia hayuk, berlaku rasis sama orang berkulit hitam ya hayuk juga, asal bisa survive. Lalu ada Dr. Don Shirley, musisi jenius (bukan nama bank ya) dan bergelar akademik tinggi, kaya, namun tetap banyak benturan sana-sini karena ia berkulit hitam. Hasilnya adalah film yang mengusung isu penting tetapi mampu menonjolkan kehangatan bahkan kejenakaan. Walau buat gw tone dan lajunya agak terlalu nyantai dan kelihatan banget "pesan moral" yang ingin ditekankan sejak awal, toh film berdasar kisah nyata ini berhasil merangkai diri jadi tontonan yang menyenangkan, apalagi dengan interaksi antara Mortensen dan Ali sebagai Tony dan Dr. Shirley yang jadi sumber energi terbesarnya.
My score: 7,5/10






5. Glass
(2019 - Universal/Buena Vista International)
dir. M. Night Shyamalan
Cast: James McAvoy, Bruce Willis, Samuel L. Jackson, Sarah Paulson, Anya Taylor-Joy, Spencer Treat Clark, Charlayne Woodard, Luke Kirby, Adam David Thompson


Jujur gw salah satu yang girang ketika pada bagian ujung film Split (2017) terungkap bahwa film itu masih terkait sama film Unbreakable (2000), dan bahwa akhirnya kedua film tersebut dibuatkan satu "sekuel gabungan" dalam Glass. Benang merah kedua film yang gw sebut di awal adalah menyorot tokoh-tokoh yang kita kenal sebagai superhero dan supervillain, tapi dalam pendekatan yang lebih realis dan kemasan genre yang berbeda-beda--Unbreakable itu drama supranatural, Split itu horor-thriller. Glass adalah rangkuman atas benang merah itu, tetapi lagi-lagi dari sisi yang nggak biasa. Gw juga nggak yakin genre yang ingin diusung di sini--apakah thriller kriminal, drama psikologis, atau murni aksi superhero, yang jelas ini semacam upaya Shyamalan "mengacak-ngacak" cara menuturkan kisah sejenis. Walau isi ceritanya nggak baru-baru amat, jujur lagi, gw tetap merasakan gembira ketika menonton ini. Gw kayak mau aja "dibodohin" sama Shyamalan dan segala twist-and-turns bertuturnya. Mungkin karena jasa para aktornya yang keren-keren (banget) mainnya, atau karena ketidakstandaran gayanya, atau mungkin karena gw, yang menganggap The Last Airbender (2010) dan After Earth (2013) masih ada nilai baiknya, memang nggak pernah benci-benci amat sama film-film Shyamalan =P.
My score: 7,5/10



Minggu, 27 Januari 2019

This Blog Is 10 Years Old

Alkisah tahun 2009, lima bulan sejak lulus kuliah dan sama sekali nggak ngapa-ngapain, gw memberanikan diri meneruskan hobi mengulas film (dan musik) dengan membuat blog sendiri. Ini masih dalam masa-masa tren sebagian warga internet menuangkan tulisan yang diterbitkan sendiri dalam bentuk blog. Kenapa gw sebut memberanikan diri, ya karena awalnya tulisan-tulisan yang gw buat itu hanya konsumsi pribadi, palingan gw posting di Friendster dan Facebook, meski dibuatnya sambil bermimipi juga akan dimuat di majalah-majalah. Lalu dibuatlah Ajirenji Mindstream Reviews yang begitu sederhana, dengan postingan perdana pada 26 Januari 2009. Untuk pertama kalinya, tulisan-tulisan gw terkekspos ke "dunia luar".

Sepuluh tahun kemudian, Januari 2019, blog ini masih ada. Total postingan sudah (atau baru hanya) 882, dilihat sebanyak total 1,9 juta kali. Blog ini masih sederhana, masih nggak ada canggih-canggihnya. Namun, banyak juga yang berubah. 

Dinamika kehidupan si penulis di dunia nyata terbukti berpengaruh pada cara blog ini dikelola. Dalam satu periode kadang bisa posting banyak banget, kadang malah nggak sama sekali. Tulisannya ada yang dipikirin baik-baik dan disusun cakep-cakep, tapi nggak sedikit juga yang sembarang dan bikin malu. Berbagai upaya untuk terus menulis secara berkala sudah dicoba. Dari yang mewajibkan diri untuk semua film yang ditonton dan album yang didengarkan harus diulas, kemudian ulas film yang ditonton di bioskop saja dan stop mengulas album musik, lalu ke pilih-pilih ulas film yang di atas rata-rata saja, hingga yang terkini hanya memberikan komentar singkat beberapa film sekaligus. Alasannya standar, makin sibuk, makin sempit waktu, makin lelah.

Meski demikian, di sisi lain, blog ini juga mengubah kehidupan nyata gw, dan gw nggak akan melupakan itu. Lewat blog ini gw bisa bertemu banyak sekali orang dengan minat serupa, yang pada perkembangannya benar-benar bisa berteman di dunia nyata sampai sekarang. Sebagai pribadi yang tidak hobi berinteraksi sosial, ini sesuatu yang gw akan selalu anggap berharga. Yang nggak kalah penting, karena blog ini gw dihantar untuk menjadikan menulis sebagai bagian dari profesi, dan cakupan bidangnya pun persis sama dengan yang selama ini gw bahas di blog. Ini adalah masa gw menjadi jurnalis untuk Muvila.com--yang beberapa tulisan gw di sana juga gw posting di sini. Saat itu gw harus belajar menulis lebih "bener", dan mengenal lebih dalam dunia yang selama ini gw cuma lihat luarnya saja, ya asyiknya, ya boroknya. Ajaibnya, pengenalan tersebut nggak membuat gw hilang rasa pada bidang ini. Saat ini pun gw masih berada di bidang film, walau lebih di sisi bisnisnya, yang ternyata nggak kalah drama ;).

Menulis di blog ini tetap jadi satu kebanggaan gw, yang isinya bisa gw klaim sebagai "hasil karya" dari tangan dan pikiran gw. Apalagi sekarang sudah mencapai 10 tahun, yang artinya inilah hal terlama yang gw "kerjakan" dalam hidup gw. Kadang kala gw berandai, bisa kali ya gw menjadikan blog ini lebih terlihat profesional, mungkin bikin domain sendiri, dimonetisasi, atau bikin versi video? (sementara nggak sampai berandai bikin ini jadi situs portal atau aplikasi gaya majalah, pengalaman membuktikan yang satu ini masih sangat rentan, hehe). Itu masih banget jadi harapan gw, namun gw pikir saat ini masih harus jalan selangkah demi selangkah, supaya nggak terlalu beban. Lagi-lagi karena tuntutan kehidupan dunia nyata, konsentrasi dan energi gw belum bisa terpusat ke blog ini semata. Sekarang cita-cita gw adalah konsisten aja dulu bikin konten di sini. Mohon doanya ya.

Di momen ini, gw mau ucapkan terima kasih pada semua teman-teman dan para pengunjung blog Ajirenji atas dukungannya. Terima kasih sudah mau membaca tulisan-tulisan gw yang isinya sangat subjektif dan belum tentu bermanfaat ini, mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan. Terima kasih untuk komentar-komentarnya yang membuat blog ini lebih hidup dan semangat gw untuk blog ini tetap ada. Terima kasih atas sepuluh tahun ini.

Mari gerak ke tahun-tahun selanjutnya.



Minggu, 20 Januari 2019

My Movie Picks of December 2018

Eehhh, hampir ketinggalan bikin daftar film favorit bulanan ^m^;;. Mohon maaf sudah membuat Anda menunggu begitu lama. Berikut adalah film-film paling berkesan yang gw tonton dalam berbagai medium dan metode selama Desember 2018 yaa...



1. Aquaman
(2018 - Warner Bros.)
dir. James Wan
Cast: Jason Momoa, Amber Heard, Patrick Wilson, Willem Dafoe, Dolph Lundgren, Yahya Abdul-Mateen II, Ludi Lin, Nicole Kidman, Temuera Robinson


Kalau mau dicari-cari sih ada aja kurangnya film ini, utamanya susunan ceritanya sudah pernah banget diangkat sama berbagai film. Tapi, gimana ya, film ini kayak ada "aura" yang berhasil bikin betah nontonnya, dan cukup bertahan ketika ditonton ulang. Kisah origin ke-superhero-an si manusia ikan yang diwarnai intrik tahta kerajaan samudera--sejalan dengan dunia film DC sekarang yang serba mythological, dari alien (Superman), dewa-dewi Yunani (Wonder Woman), dan sekarang dunia bawah laut yang orang-orangnya bisa napas dan ngomong di air. World-building-nya lancar, penuh excitement dari adegan-adegan laganya dan rancang visual yang kompleks dan keren banget--adegan-adegan bawah laut-nya juwara, plus penampilan Momoa yang bisa bikin sosok Aquaman, yang dulu sering dibilang sebagai superhero DC paling nggak guna, menjadi cool. Sebagai cinematic experience, ini adalah yang terbaik dari semesta DC sejauh ini.
My score: 7,5/10






2. Ralph Breaks the Internet
(2018 - Walt Disney)
dir. Phil Johnston, Rich Moore
Cast: John C. Reilly, Sarah Silverman, Taraji P. Henson, Gal Gadot, Alan Tudyk, Jack McBrayer, Jane Lynch, Alfred Molina, Ed O'Neill



Bagi gw Wreck-It Ralph dulu adalah salah satu contoh animasi modern terbaik Disney, di luar yang princess-princess-an. Kini muncul sekuelnya yang mencoba memperluas jangkauan meta dari kisahnya sekaligus menyambut fenomena internet yang udah jadi bagian dari kehidupan sebagian besar warga dunia (kayaknya). Sayang gw tidak sampai seterkesima waktu nonton Wreck-It Ralph dulu, biasalah, unsur surprise-nya agak berkurang. Tetapi, sekuelnya ini tetap bagus dari segi susunan cerita dan tentu saja juga teknik animasinya. Visualisasi konsep-konsep dunia internet-nya brilian dan lucu, kisah persahabatan si Ralph dan putri balap Vanellope juga mampu jadi core cerita yang baik dan menyentuh, ditambah tokoh-tokoh baru yang bisa mencuri perhatian.
My score: 8/10






3. Shoplifters
(2018 - Gaga Corporation)
dir. Hirokazu Kore'eda
Cast: Lily Franky, Sakura Ando, Mayu Matsuoka, Kairi Jyo, Miyu Sasaki, Kirin Kiki, Kengo Kora, Chizuru Ikewaki, Akira Emoto


Film ini bukan cuma merepresentasikan sudut-sudut Jepang yang lusuh dan "nggak kayak Jepang yang di TV-TV", tetapi secara universal mempertanyakan ulang pandangan tentang makna keluarga. Yang sedarah malah nggak ngurus, yang nggak sedarah justru punya ikatan kuat. Or is it? Banyak pemikiran yang bisa muncul dari film ini. Namun, di luar penataan adegan-adegannya yang mengalir anteng tapi menyita perhatian berkat performa para pemeran yang solid, dan pengungkapan-pengungkapan yang muncul kemudian, satu hal yang paling berhasil dilakukan film ini adalah membuat gw sebagai penonton juga ikut terikat pada keluarga ini. Sampai pada akhirnya disuruh memutuskan apakah mau mempertahankan ikatan itu atau tidak setelah berbagai hal telah terjadi dan terungkap.
My score: 8/10






4. Spider-Man: Into the Spider-Verse
(2018 - Columbia/Sony Pictures Animation)
dir. Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman
Cast: Shameik Moore, Jake Johnson, Hailee Steinfeld, Mahershala Ali, Nicolas Cage, Kathryn Hahn, Liev Schreiber, Brian Tyree Henry, Luna Lauren Velez, John Mulaney, Kimiko Glenn, Zoe Kravitz, Lily Tomlin, Chris Pine


Dari awal kunci kisah film ini adalah pada teori bahwa dunia ada berbagai dimensi alternatif, yang berarti ada berbagai versi Spider-Man, dan ini juga gara-gara komik Spider-Man (dan banyak komik superhero Amerika juga?) seringkali bikin edisi update atau reimagining atau simlpy versi alternatif dari si Spider-Man. Jika melihat itu, bisa jadi film ini adalah versi yang paling respek sama materi sumbernya, dan itu bukan soal gaya visualnya yang seperti komik atau cerita persis komik (toh komik versi yang mana?), melainkan dari cara film ini menuangkan prinsip bahwa di medium komik segala macam ide itu sah-sah saja. Pada akhirnya plot film ini memang bisa disederhanakan jadi kisah seorang remaja yang belajar memanfaatkan kekuatan supernya lalu mengalahkan musuh besar yang mengancam dunia, ngulang lagi aja ke hampir semua film superhero yang sudah ada. Namun, film ini bisa cukup stand-out dengan disuntikkannya berbagai ide liar, humor asyik, dan kelincahan yang mungkin hanya bisa dilakukan dalam format animasi.
My score: 7,5/10






5. Asal Kau Bahagia
(2018 - Falcon Pictures)
dir. Rako Prijanto
Cast: Aliando Syarief, Aurora Ribero, Teuku Rassya, Dewa Dayana, Surya Saputra, Vonny Cornellya, Meisya Siregar, Hans De Kraker, Sari Koeswoyo, Daan Aria


Nggak salah juga untuk curiga bahwa film ini hanya ingin mengendarai popularitas sebuah lagu pop, dan ditambahkan dengan para bintang muda yang punya demografi market yang lagi rajin-rajinnya ke bioskop--dan somehow karakter filmnya meminjam nama asli mereka masing-masing. Namun, untunglah semuanya bisa ditakar dan diramu menjadi fantasy romance remaja yang nggak ribet dan dituturkan dengan atmosfer yang sesuai. Dipresentasikan dengan visual cakep dan bisa menyelipkan humor di antara dayu-dayu cinta-cintaannya, citarasanya jadi terasa pas untuk genre ini.
My score: 7,5/10






6. Milly & Mamet
(2018 - Starvision/Miles Films)
dir. Ernest Prakasa
Cast: Sissy Prescillia, Dennis Adishwara, Julie Estelle, Yoshi Sudarso, Roy Marten, Arafah Rianti, Eva Celia, Ernest Prakasa, Dinda Kanyadewi, Aci Resti, Bintang Emon, Tike Priatnakusumah, Pierre Gruno, Melly Goeslaw, Isyana Sarasvati, Titi Kamal, Dian Sastrowardoyo, Adinia Wirasti


Menyorot fokus pada dua tokoh paling bikin ketawa di Ada Apa dengan Cinta? (2002), yang ternyata diketahui di Ada Apa dengan Cinta 2 (2016) keduanya malah sudah jadi pasangan *terkaget*. Agak melepas cinta-cintan galau AADC, spin-off ini memang terlihat lebih ringan dan cerah, tetapi tema film ini justru agak lebih deep tentang suami-istri muda yang sedang membangun keluarga tetapi juga mau (dan in a way, harus) mengembangkan diri di karier. Well, jadinya memang film ini tidak selucu yang diharapkan bila masih berpakem pada ingatan bahwa Milly (dulu) lemot dan Mamet (dulu) culun-gengges, namun film ini tetap bisa menyampaikan maksudnya dengan lancar, dan menghibur.
My score: 7,5/10




Sabtu, 05 Januari 2019

Year-End Note: My Top 10 Films of 2018

Bagian terakhir untuk catatan akhir tahun 2018 adalah untuk sinema. Nah, untuk senarai yang ini gw masih pakai prasyarat yang lama, supaya gw nggak terlalu ribet juga nyortirnya, yaitu berisi film-film yang rilis di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2018--jadi agak beda dengan senarai bulanan yang setahunan ini gw bikin. 

Perlu ditekankan pula bahwa pengurutan atau ranking di sini tidak selalu sesuai dengan ponten yang gw berikan ke masing-masing film, tetapi lebih menunjukkan tingkat experience yang gw rasakan saat nonton film tersebut, yang seringkali nggak ada hubungannya sama bagus-nggak-nya kualitas konten film tersebut. Karena film itu sifatnya abstrak yang value-nya berbeda-beda bagi tiap orang, yekan?





HONOURABLE MENTIONS
Berikut gw gelar dulu lima runner-ups yang sempat dipertimbangkan untuk masuk 10 besar. Filmnya nggak kalah berkesan sih, cuma yah agak tersenggol dikit dari lapisan teratas. Dalam urutan abjad.


Bad Times at the El Royale, dir. Drew Goddard
Kisah misteri karakter jamak yang digarap bak film klasik namun tetap terasa modern, yang kadang mencekam kadang lucu-pahit.

Crazy Rich Asians, dir. Jon M. Chu
Komedi romantis yang menyegarkan dengan penempatan benturan budaya dan pemikiran yang lumayan dekat.

Hereditary, dir. Ari Aster
Penuturan misterinya yang rapat kalah menyebalkan dari pembangunan horornya yang ganggu abis, sampe sempet kebawa ngeri kalau ada di ruangan tanpa lampu.

Logan Lucky, dir. Steven Soderbergh
Semacam versi "daerah" dari seri Ocean's-nya Soderbergh, yang hasilnya nggak hanya lebih sederhana skalanya, tapi malah lebih lucu dan lebih human.

Searching, dir. Aneesh Chaganty
Bisa menegangkan lalu menyentuh sebagai cerita utuh. Bukti bahwa gimmick visual--dalam hal ini semua pengisahan seolah terjadi di layar komputer--nggak boleh menghalangi penuturan cerita.







MY TOP 10 FILMS OF 2018



10. Aruna & Lidahnya
dir. Edwin
Kisah jalan-jalan dan makan-makan empat orang dewasa yang ringan nan memikat, terutama berkat padu akting dari para pemerannya, bawaannya jadi ikut senang. Oh, dan pengambilan gambar makanan-makanannya memang tampak kurang ajar jika ditonton dalam keadaan lapar.






9. Christopher Robin
dir. Marc Forster
Membenturkan innocence memori masa kecil dengan keribetan hidup sebagai orang dewasa, mungkin tema dan tampilan Pooh-bear dkk di sini agak terlalu "realistis". Tetapi, buat gw film ini berhasil menyajikan sebuah kisah untuk keluarga yang tampil hangat, menyentuh, mudah dicerna, dan tetap adventurous sekalipun tidak serba magical.







8. Aquaman
dir. James Wan
Beruntunglah generasi yang hidup saat ini bisa melihat sosok Aquaman menjelma menjadi sangat keren di layar lebar--bukan versi Super Friends =p, dibalut dengan kisah petualangan bawah dan atas laut yang megah. Gw masih kagum bagaimana mereka bisa berhasil men-deliver kehidupan bawah laut tanpa muncul terkesan, you know, silly. Sebagai film superhero bagian dari DC Universe, Aquaman adalah sebuah persembahan paling imajinatif, dan dalam berbagai hal menjadikannya salah satu yang paling bikin terkesan.






7. Avengers: Infinity War
dir. Anthony Russo, Joe Russo
Kulminasi visi ambisius yang digarap selama sekitar satu dekade, mengumpulkan puluhan karakter dari semesta film superhero Marvel. Kita sama-sama tahu ini proyek yang sangat gila, sampai-sampai jadi semacam hajatan tersendiri setara hari raya. Akan tetapi, gw sendiri tidak mengira bahwa hasilnya sanggup merangkul (hampir) semua karakter tersebut dengan porsi dan posisi tepat guna. Keakbaran ceritanya terasa, nggak sampai keblenger, namun momen-momen tiap karakter tidak sampai terhilang. Well done, indeed.






6. The Post
dir. Steven Spielberg
Kecanggihan teknologi film masa kini memang keren tetapi classic filmmaking yang dilakukan Spielberg kok ya tetap saja memukau. Sekilas memang cerita film ini tampak berat, namun mata nggak akan bisa berpaling dari kepiawaian para pemeran, gambar, pengadeganan, dan segala sesuatu yang terjadi di layar, yang mampu membawa sebuah momen dalam sejarah (yang gw sendiri kurang familier) dengan topik-topik tentang kemerdekaan pers menjadi terasa penting dan genting.






5. Sebelum Iblis Menjemput
dir. Timo Tjahjanto
Menonton film ini adalah salah satu pengalaman langka gw sangat menikmati film horor, and if you know me, that's quite something. Nilai produksinya yang wahid dimanfaatkan sedemikian baik dalam menyajikan sebuah experience horor yang mencekam dan meresahkan, komplet dari setan-setanan hingga darah-darahan, yang ditempatkan dengan presisi sehingga menghasilkan sensasi menonton yang heeeeboh.






4. Love for Sale
dir. Andibachtiar Yusuf
Gw udah expect bahwa nggak mungkin film ini akan lawak-lawak biasa. Konsepnya cukup besar, tetapi pendekatannya nggak ribet, dekat dengan keseharian, ritme-nya nyaman, witty namun nggak bawel, lugas tapi bersahaja, hingga kemudian tersadar bahwa ketimbang mencoba meng-impress dengan adegan-adegan yang wah, film ini telah memaksa gw untuk mengalami rasa yang dirasakan tokoh-tokohnya, dan sampe bikin kepikiran beberapa waktu setelah nonton.






3. The Shape of Water
dir. Guillermo Del Toro
Kalau dilihat lebih dekat, film ini seperti tumpahan berbagai ide dan topik--dan genre cerita, yang bisa berjalan secara terintegrasi dengan kisah cinta dua insan terpinggirkan yang ingin bahagia. Ini juga salah satu film yang mempan ditonton berulang-ulang, karena setiap gambar punya simbol-simbol visual yang mungkin terlewat kalau hanya nonton sekali, atau, yah, sekadar mengagumi keindahan film ini berkali-kali juga boleh.






2. One Cut of the Dead
dir. Shin'ichiro Ueda
Film ini jelas dan wajib gw catat sebagai pengalaman menonton paling "rusak" yang gw alami di tahun 2018. Hanya berbekal rekomendasi orang-orang yang bilang film horor-komedi ini wajib tonton, yang gw dapatkan adalah sebuah film yang akan susah banget gw hilangkan dari ingatan, saking luar biasanya film ini dalam memanipulasi ekspektasi gw. Lihat posternya yang berdarah begitu tapi ngecek LSF ternyata rating-nya "hanya" 13+ adalah salah satu indikasi keabsurdannya. A new classic for Japanese cinema.












1. Ready Player One
dir. Steven Spielberg
And then there's this movie. Di tahun yang riuh dengan berbagai film blockbuster dengan brand terkenal dan bujet raksasa, Ready Player One buat gw adalah yang paling memberikan kepuasaan di semua lini. I mean, se-mu-a. Jalan cerita, world-building, karakter, audio visual, ritme, animasi, laga, sampai ke detil referensi kultur pop berbagai zamannya, film inilah yang gw ingat paling bikin gw girang saat nonton di bioskop sepanjang 2018. Jika melihat isinya satu persatu, film ini mudah sekali terjebak jadi convoluted dan ke mana-mana. Namun, yang terjadi adalah di tangan dewata Spielberg film ini jadi begitu kaya, megah, dan exciting, relevan, namun tetap bermakna dan punya hati. Seolah bilangin "gini lho cara bikin film" dan I think everyone should pay attention.




Demikianlah senarai akhir tahun 2018 dari saya. Happy 2019!


Minggu, 30 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2018

Menyusun kategori album adalah yang paling sulit buat gw, terutama disebabkan pola mendengarkan musik yang kini lebih sering dengerin lagu per lagu, atau malah kalau dengerin di aplikasi streaming sering kesela iklan (qarna qu mizcheen...) atau nggak sengaja klik shuffle =P. Jadinya memang tidak terlalu banyak album yang gw kulik secara mendalam, sehingga prasyarat untuk bikin senarai akhir tahun gw longgarkan: asal enak ya masuk kandidat. Silakan dicek hasilnya di bawah ini.






My Top 10 Albums of 2018



10. Best Hit AKG 2 (2012-2018)
ASIAN KUNG-FU GENERATION

Semacam mandat dari diri sendiri, kalau band terfavorit ngerilis sesuatu yang didukung dong, hehe. Album ini mewakili paruh kedua dari 15 tahun mereka masuk major label, berisi lagu-lagu yang mereka rilis sejak tahun 2012, baik berupa single maupun lagu andalan di album-album. Album ini juga bisa jadi kisi-kisi arah musik AKG yang tidak lagi serba kenceng, dan lucunya rangkaian lagu-lagu yang ada di sini seolah ditakdirkan untuk dijadikan satu album seperti ini.






9. ALL TIME BEST ~Fukumimi 20th Anniversary ~
Fukumimi

Awalnya Fukumimi itu proyek kolaborasi antara Kyoko, Masayoshi Yamazaki, dan Suga Shikao, yang saat itu di bawah satu manajemen bernama Office Augusta. Gw rasa mereka juga nggak expect kalau nama Fukumimi akan lanjut sampai 20 tahun dengan lagu-lagu baru dari tahun ke tahun, dan "personel" yang bertambah, yakni artis-artis junior mereka di manajemen tersebut, sebut saja Chitose Hajime, Sukima Switch, Hata Motohiro, Yu Sakai, hingga Seiya Matsumuro. Biarpun sudah punya nama sendiri-sendiri, setiap mereka ngumpul di Fukumimi adalah momen yang menyenangkan bagi pendengarnya. Dan, album ini adalah perayaan atas perjalanan unik tersebut.






8. STARTING OVER
Yu Takahashi

Kalau boleh sotoy menginterpretasikan judulnya, album ini ingin membawa Takahashi seolah belum pernah bikin album sebelumnya. Tidak ada bagian yang terasa ambisius--kecuali jumlah track-nya yang ada 16 biji semuanya terasa segar dengan karakter khas doi berkisah tentang keseharian dengan kalimat-kalimat panjang tapi muat dalam sekian bar nada-nada yang catchy. Pun album ini seakan ada pembabakannya, ada yang kenceng, ada yang 'serius', ballad, hingga yang rada bercanda. Album Takahashi yang paling bisa gw nikmati sejak album perdananya.






7. Know.
Jason Mraz

Sekalipun belum lagi menghasilkan lagu hit yang signifikan banget, mendengarkan sekian lagu Mraz dalam sekali waktu amatlah menyenangkan. Ada familiarity yang terpancar dari lagu-lagunya, tetapi nggak jadi membosankan. Lagu-lagu nyantai dengan lirik yang mudah dipahami, dinyanyikan dengan sepenuh hati, you just can't refuse.






6.
Andrea Bocelli
Selera musik gw terkadang sangat random =D, ini salah satu buktinya. Di luar sana keberadaan album ini menjadi event tersendiri karena merupakan album pertama Bocelli yang berisi lagu-lagu baru (bukan cover), sejak album orisinal terakhirnya di tahun 2004. Tadinya gw menghampiri album ini karena penasaran dengan beberapa kolaborasi vokalnya--ada Ed Sheeran, Dua Lipa, dan Josh Groban, namun gw end-up mendengarkan seisi album yang dirangkai apik dan dikemas dalam aransemen musik klasik--or "traditional pop"--yang flawless paripurna. Bravo.






5. Hatsukoi
Utada Hikaru

Judul album ini artinya "cinta pertama", tetapi kayaknya sih nggak ada kaitannya sama lagu "First Love"-nya Utada yang terkenal buanget di sini. Bisa jadi artinya lebih kepada ini sebagai album pertama doi di bawah label baru, Sony's Epic Records. Yang bisa gw tangkap dari album ini adalah kesan Utada lagi 'genit' dengan permainan nada-nada yang catchy, dan komposisi musik yang lebih banyak live instruments, dan overall lebih terdengar optimistis. Nggak sertamerta jadi ceria sih, tapi yah lebih nyantailah. Dan, kalau mau dikait-kaitin sama masa-masa lagu "First Love", album ini seperti ingin mengedepankan lagi style R&B Utada yang mengangkat namanya dulu.






4. City Lights
Seiya Matsumuro

Matsumuro seringkali mengingatkan gw pada beberapa artis J-Pop lainnya, dari pembawaan vokal yang all-out dan berornamen seperti Fumido (not many Japanese vocalist can do this, IMHO), hingga kemasan pop-rock, dan kadang groove, yang agak throwback gaya Southern All Stars, tapi dalam versi artis solo. Album ini pun menunjukkan bahwa Matsumuro adalah artis yang (sekarang atau nantinya) patut diperhitungkan. Pemilihan nada, penekanan instrumen, hingga permainan kord yang berani, membuktikan kualitas musikalitasnya, dan masih dalam jalur pop.






3. Staying at Tamara's
George Ezra

Musik asyik dan lirik rapi jadi senjata Ezra di album keduanya ini. Gayanya bisa dibilang masih tradisional, folk-pop-rock yang sound-nya "Inggris" banget, namun doi nggak membiarkan suara bundar dan berat-nya itu menimbulkan kesan malas-malasan. Album yang ringkas, padat, berenergi, dengan rupa-rupa tempo dan topik.






2. Merakit
Yura Yunita

Di ranah komersial Yura memang terangkat berkat lagu-lagu ballad yang selow, namun kehadiran album ini menjadi perkenalan kembali gambaran lebih lengkap tentang range Yura--walau sebenarnya sudah pernah diperlihatkan di album pertamanya yang menurut gw lebih eksperimental. Di sini ia tidak hanya menghanyutkan dalam lagu pop ballad, tetapi juga fasih ketika dibungkus musik R&B, Broadway jazz, dan soul. Gw juga lebih merasa "deket" dengan musiknya berkat lirik-lirik yang lugas tapi dalam dan nada-nada yang lebih catchy. Oh, dan suara khas Yura yang memang nggak ada KW-nya. Album ini bukan hanya enjoyable, tetapi juga bikin respek pada sang artis dan segenap kerabat kerjanya =).











1. The Greatest Showman (soundtrack)
various artists

Sekalipun filmnya belum menembus daftar film musikal terfavorit gw sepanjang masa (sulit kayaknya), gw tetap wajib merayakan bagian terbaik dari The Greatest Showman, yaitu lagu-lagunya. Jika ngeh, film ini memang menampilkan serangkaian lagu pop modern sekalipun latar cerita filmnya tuh sekitar awal abad ke-20, konon sih mau menggambarkan visi P.T. Barnum sang tokoh utama yang lebih maju dari zamannya. Tetapi, gw lihat pemilihan ini juga berfungsi mendekatkan penonton sekarang pada ceritanya, I mean, apakah "Never Enough" dampaknya akan sebesar itu apabila benar-benar dibikin dalam komposisi klasik seriosa? Anyway, terlepas dari statusnya yang terkait dengan film, album ini adalah sekumpulan lagu pop enak yang dirangkai dan dikomposisikan secara cermat sehingga begitu mudah diterima kuping awam sekalipun, which is kind of the whole point.



Jumat, 28 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2018 (Japan)

Yeah, masih bennner gw dengerin J-Pop. Dipikir-pikir kasihan juga bahwa J-Pop tidak pernah benar-benar jadi tren di sini, padahal industri pop Jepanglah yang pertama kali dijuluki dengan inisial nama negara yang didempet dengan kata 'pop' =D. Gw tetap insist itu salah mereka sendiri yang nggak ambil kesempatan ketika punya crowd terbatas tapi kuat di awal era 2000-an dulu. Tetapi, gw juga nggak lelah mengampanyekan bahwa menemukan lagu-lagu J-Pop sekarang--yang legal--su dekat sudah lebih mudah, terutama dengan adanya YouTube dan Spotify/Apple Music/iTunes. Jadi, wahai anak-anak Jejepangan, baik angkatan dulu maupun yang baru-baru, silakan diikulik-kulik lagi lho.

So, anyway, hasil rangkuman lagu-lagu Jepang berkesan tahun 2018 adalah gabungan dari artis kesukaan gw a.k.a. yang itu-itu aja ^_^', ke yang benar-benar baru, ke yang konon saat ini sedang naik daun di Jepang. Silakan dicicipi...




My Top 10 Songs of 2018 (Japan)


10. "生者のマーチ (Seija no March)" – ASIAN KUNG-FU GENERATION

Not necessarily a single, lebih merupakan sebuah lagu pelengkap dalam album best of kedua mereka. Meski bukan yang pertama kali digunakan, mode slow-down dari AKG di lagu ini menurut gw adalah salah satu yang paling berhasil. Nggak sertamerta eksperimental namun tetap dewasa.








9. "贈る言葉 (Okuru kotoba)" – GReeeeN

Musik GReeeeN mungkin tidak berubah banyak, tetapi mungkin karena gw udah lama nggak mengikuti rilisan mereka, lagu ini jadi terdengar menyenangkan. Sebuah ballad dalam tradisi "Ai Uta" dan "Kiseki", rangkaian melodi yang gampang nyantol di kuping dibalut tempo medium yang membuatnya terdengar nyaman. Oh, kita masih belum tahu muka-muka personelnya ya?








8. "Kohakuiro no namida" – Miwa Sasagawa  ("琥珀色の涙" - 笹川美和)

Gw kurang tahu ini siapa, tetapi lagunya nyelip di antara playlist yang gw dengarkan di Spotify, dan gw langsung mengenali gaya aransemennya yang nggak mungkin bukan Keiichi Tomita (MISIA's "Everything", Mika Nakashima's "Will", Ken Hirai's "Canvas", among others). Dan, itulah alasan utama lagunya bisa nongkrong di senarai gw, hehe. Secara keseluruhan lagunya begitu syahdu, dengan kompleksitas kord dan instrumen khas Tomita dan ada unsur jazznya sedikit, mengiringi vokal lembut mendayu-dayu Sasagawa.








7. "Arigatou" – Yu Takahashi  ("ありがとう" - 高橋 優)

Semacam mendapat energi baru, setelah beberapa rilisan belakangan Takahashi agak ambisius dalam susunan nada dan aransemennya. Lagu ini seperti kembali ke karakter dan kemampuannya yang paling istimewa, yaitu liriknya yang panjang-panjang dipasangkan pada nada-nada yang tidak ribet namun mampu menonjolkan dinamika emosi saat dinyanyikan.








6. "Lemon" –  米津 玄師 (Kenshi Yonezu)

Yonezu dalam tahun-tahun ini meraih popularitas yang makin menanjak di blantika J-Pop, mungkin berkat warna suaranya yang cukup khas dan gaya bernyanyinya yang lugas. Namun, jangan lupa bahwa dia juga menghasilkan lagu-lagu yang mudah mengena. Lagu pop-rock ballad yang ini mewakili sisi yang lebih kalem dari Yonezu, tetapi itu pun nggak kalem-kalem banget--speed nyanyiannya masih cepet dan jangkauan nadanya masih lebar, semacam ada cerita dramatis nan tragis ingin disampaikan di dalamnya, walaupun gw juga nggak tahu pasti apa, hehe *kemudian cari terjemahannya*.








5. "Hana" – Hata Motohiro  ("花" - 秦 基博)

Udah tahu 'kan kalau Hata itu piawai bikin lagu-lagu yang lembut dan menghangatkan. Lagu barunya ini mungkin bukan berada di level lagu-lagu doi yang populer sebelumnya, tapi perkawinan antara petikan gitar dan irama yang kalem dengan suara tajam Hata menimbulkan kehangatan yang luar biasa saat didengarkan.








4. "Kitto ai wa fukouhei" – Seiya Matsumuro  ("きっと愛は不公平" - 松室 政哉)

Ini bukan melanjutkan pola kecenderungan gw untuk menyukai karya dari artis-artis berkacamata =D. Lagu ini nyaris bisa diabaikan karena sekilas bentuknya "hanya" love ballad biasa, tetapi rupanya menawarkan rasa berbeda lewat pilihan melodi dan kord yang cukup unexpected. Vokal Matsumuro yang tipis dan rada fragile itu pun menambah "tusukan" lagu ini. Formula standar dengan seasoning berbeda yang hasilnya tetap enak.








3. "Anata" – Utada Hikaru  ("あなた" - 宇多田ヒカル)

Agak kembali kembali pada roots awal gw tahu Utada, lagu ini memasukkan unsur R&B dan groove yang asik bener, bisa banget bikin angguk-angguk, dan kembali menonjolkan ketulusan dalam vokal rapuhnya. Well, seperti biasa, di antara nada-nada manis lagu Utada selalu saja digabung dengan nada-nada dan kord minor yang sepertinya memang nggak bisa lepas dari karakternya.








2. "Gifts" – Superfly

Superfly kalau lagi "bener", as in nggak terlalu berusaha kenceng-kencengan tarikan rock n roll, bisa menghasilkan karya yang menggetarkan. Kalau nggak salah lagu ini dirancang untuk jadi lagu utama (wajib?) dalam festival paduan suara SMP yang diselenggarakan NHK (kayak dulu "Tegami"-nya Angela Aki (2009)), tetapi sebagai lagu pop-rock dengan lirik inspiratip pun sedap didengar dan terasa grand berkat dinamika komposisi nada dan aransemen dari yang soft sampai yang all-power.














1. "Stand By You" –  Official髭男dism (Official Hige-Dandism)

Temuan baru yang entah datang dari mana, lagu ini begitu mudahnya merasuk di ingatan sejak pertama kali dengar. Dibawakan ceria dalam kemasan pop-funk yang groovy, tetapi dengan penataan nada yang dikasih twist nyelendro ala Jepang. Hasilnya begitu yang rancak, terasa fresh, dan memancing untuk ikutan bersenandung, termasuk yang nggak ngerti bahasa Jepang karena chorus-nya lumayan mudah ditangkap dan banyak vocables ho uwo uwo-nya =D. You see, perpaduan yang agak antik tapi hasilnya tetap pop kayak gini adalah alasan untuk terus mendengarkan J-Pop.







Kamis, 27 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2018 (Indonesia)

Mari bergeser ke blantika musik negeri sendiri. More often than not gw bertemu dengan lagu-lagu ini lewat layanan streami--Spotify *sebut merk aja daripada ribet*, karena kita tahu sendiri ada kecenderungan lagu Indonesia itu bisa dirilisnya sekarang tapi baru nge-hit-nya setahun kemudian =P, jadi si Spotify dan layanan sejenis inilah yang jadi andalan gw mencari lagu-lagu lokal terbaru sesuai dengan kalender, bukan terbaru karena baru denger. Sebuah era yang aneh jika kalian seperti gw yang pernah melewati zaman ketika pendengar hanya bisa pasif menanti umpan dari media, para penyanyi hanya bisa andalkan promo di media massa yang slotnya terbatas, dan tingkat kepopuleran diukur dari banyaknya kaset terjual serta seberapa sering lagunya diputar di radio dan tampil di TV, yang itupun bisa saja karena "titipan" ehehehe.

Anyway, maaf ngelantur, tetapi berikut senarai 10 lagu dari artis Indonesia paling cihuy buat gw dalam satu tahun belakangan ini.



My Top 10 Songs of 2018 (Indonesia)


10. "Skin to Skin" – Monica Karina feat. Dipha Barus

Monica sebelumnya dikenal sebagai pengisi vokal dalam lagu EDM (electronic dance music, kali aja ada yang belum tahu) "Money Honey" milik Dipha Barus yang nge-hit dan menang karya produksi terbaik (record of the year?) di AMI Awards itu. Kali ini di-reverse, Monica mengeluarkan single miliknya tapi tetap dibantu Dipha Barus. Bedanya? Well, bisa dibilang yang kali ini memang lebih menonjolkan vokalnya Monica yang smooth, dan aransemennya lebih chill-chill groovy gitu.









9. "Waktu" – Endank Soekamti

Lagu ini kayak mudah nyantol di kuping gw sambil memunculkan pemikiran, bahwa di pertengahan 2000-an sampai awal 2010-an lagu pop-punk anthemic seperti ini pasti akan laku sekali, as in bakal sering di-cover sama band anak-anak SMP/SMA =D. Bahwa lagu ini muncul saat ini juga nggak menurunkan tingkat kenikmatannya sih. Mengusung lirik yang "bijak", lagu ini dibawakan dalam tempo medium namun masih bisa memancarkan energinya.








8. "Tunggu Apa Lagi" – Lalahuta

Tentu saja selalu ada tempat untuk lagu pop jazzy di senarai gw, karena ini semacam pertanda si artisnya peduli dengan skill. Kali ini lagunya datang dari band Lalahuta (gw hanya bisa gw kenali dari drummer-nya pernah di home band acara The Comment di NET), bersama producing team Lale Ilman Nino yang belakangan lagi laris banget. Sekilas lagu ini seperti throwback pada bunyi-bunyi band pop-jazz 1980-an Indonesia, ya nggak apa-apa juga, yang penting lagunya terasa sejuk dengan pilihan nada dan instrumennya.








7. "Coconut" – Project Pop

Hakikat paling hakiki buat Project Pop adalah menghasilkan lagu-lagu yang menggembirakan umat, dan lagu terbaru mereka ini bukan pengecualian. Secara lirik lagu ini memang se-random judulnya, tetapi ada comedic timing yang asyik sehingga menambah keceriaan yang sebenarnya sudah lebih dahulu dikerjakan oleh melodi dan musiknya. That's right, salah satu yang membuat mereka masih jadi band komedi terbaik Indonesia adalah karena they actually make good music.








6. "Guna Manusia" – Barasuara

Lama juga menanti rilisan baru band rock puitis ini ((rock puitis)). Sebagaimana gaya mereka yang gw sukai dulu, Barasuara menghadirkan lagu dengan campuran berbagai style yang asimetris--kali ini ada semacam nuansa 1980's, dan juga dengan lirik yang nggak kalah mengusik soal posisi kita sebagai manusia di jagat alam ini *tsaah*. Cakeplah.








5. "Tolong" – Budi Doremi

Mungkin sebagian dari kita nggak menganggap serius Budi Doremi--probably because of the name, sehingga mungkin telah mengabaikan bahwa ada sisi soulful dari nyanyiannya. Sisi itu yang kemudian paling kelihatan di lagu ballad ini. Agak formulaik sih lagunya, tetapi dari gaya bernyanyi Budi serta aksen musiknya yang of course pakai ukulele, lagu yang berisiko menye-menye ini jadi terkesan lebih hangat.








4. "We" – Endah N Rhesa

Endah N Rhesa can rock. Itulah anggapan gw setelah mendengarkan lagu ini. Masih dengan instrumen minimalis gitar dan bass, kali ini dibantu dengan beberapa loop digital, diberi aksen terompet, dan lebih banyak vokal background, menjadikannya salah satu lagu paling dinamis dan exciting dari duo suami-istri ini. Plus, gw juga membayangkan lagu ini bisa bikin penonton sangat partisipatif bila dibawakan live.








3. "Harus Bahagia" – Yura Yunita

Menurut gw lagu ini dikemas dengan sempurna. Singkat, padat, message-nya jelas, dan aransemennya top-notch. Vokal berkarakter nan lincah Yura diiringi dengan musik ala Motown 60-70-an lengkap dengan brass section, bass yang dinamis, plus sahut-sahutan sama background vocals yang menambah suasana ceria, centil, dan, err, bikin bahagia.








2. "Heaven" – Afgan, Isyana Sarasvati, Rendy Pandugo

Akhirnya bisa juga Afgan masuk senarai gw, untungnya itu karena berkolaborasi dengan dua vokalis berbakat lain yang memang gw lebih sukai. Lagunya sendiri sangat adult contemporary radio, atau sering dibilang "easy listening", namun harmoni dari ketiga orang ini bisa benar-benar uplift pesona melodi dan iramanya, pun dengan pemorsian yang tepat lagunya seakan merasuk sukma *halah*. Gw senang dengan kolaborasi rekaman macam ini, yang tetap memasukkan ciri khas masing-masing artisnya tetapi nggak ada yang terlalu showy, dan nggak perlu berpanjang-panjang. Cantik.













1. "Film Favorit" – Sheila on 7

Kayaknya udah lama banget sejak terakhir gw menemukan lagu Sheila On 7 yang bener-bener gw suka. Lagu ini sejak awal memang seolah mengundang penasaran, dari pemilihan judul, cerita yang mau diujarkan, sampai bunyi-bunyian yang dipakai dalam musiknya. Gw merasa dalam lagu ini masih karakternya So7 yang simpel-simpel berisi, tetapi dengan melodi, sound, dan aransemen yang masih relevan untuk zaman sekarang tanpa menghilangkan karakter itu. Jadi, entah selera gw yang ketuaan (So7 debut rekaman hampir 20 tahun yang lalu lho), atau emang dasar lagunya enak banget aja.






Rabu, 26 Desember 2018

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2018 (International)

Akhir tahun pastinya jadi periode "menyibukkan diri sendiri" karena senantiasa terpancing untuk bikin konten kilas balik =D. Bahkan sekalipun frekuensi blogging gw menurun, tentu saja gw nggak mau melewatkan bikin senarai akhir tahun sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Mumpung hari liburnya agak banyak nih hehe.

Belum berubah dari yang sudah-sudah, gw akan membuat senarai 10 butir secara urutan mundur dari lagu dan film yang paling gw sukai atau favorit atau paling berkesan dalam satu tahun belakangan ini. 

Sebagai pembuka, gw akan mulai dengan top 10 lagu internasional, yang adalah lagu-lagu non-Indonesia dan non-Jepang (iyah, gw masih akan bikin kategori Jepang ;)). Dalam memeras item-item di kategori musik supaya jadinya cuma 10, gw membuat beberapa prasyarat sederhana, yaitu bukan lagu cover (sorry Sabrina), satu artis hanya satu lagu kecuali duet atau featured dengan artis lain, dan lagunya terbit dalam periode November 2017-November 2018 (walau kadang gw agak cheating sih ehe), baik dalam bentuk single maupun termasuk dalam album. Sederhana bukan? =P

Baik, sodara-sodari, tuan dan puan, bung dan nona, broer dan sus, berikut senarai tahunan pertama gw untuk 2018.





My Top 10 Songs of 2018 (International)

10. "Wild Love" – James Bay

Mas-mas "Let It Go" (2015) ini tampaknya lagi senang bergaul dengan efek digital, tapi masih membawakan nuansa urban soul/R&B yang menonjolkan kekuatan vokalnya. Dengan rupa-rupa bunyinya, lagu yang satu ini terdengar begitu groovy dan--well--sensual. Sangat radio-friendly =P.







9. "Make Me Feel" – Janelle Monaé

Kelincahan Janelle sebagai penyanyi dan performer rupanya bisa kawin dengan musik pop/funk mirip-mirip Prince yang dituangkan dalam lagu ini. Lagu yang enak didengarkan sambil jejogedan, semarak dengan dinamika beat dan permainan beberapa instrumen yang asyik, walau lirik rada provokatif--but aren't they all these days =/.







8. "Love Scenario" – iKON

Salah satu take-away gw dari perhelatan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang kebanggaan kita itu adalah saat upacara penutupan menemukan lagu K-Pop yang bisa gw nikmati sebagai "lagu" ketimbang sebagai "show", yang dibawakan oleh sekelompok boyband yang nggak gw kenal sebelumnya. Nggak se-riuh-elektronika lagu-lagu sebangsanya yang sering gw dengar di sana-sini, nggak terlalu ngikut formula lagu pop/R&B/hiphop zaman sekarang, hampir nggak ada pembeda antara segmen melodi dan segmen rap, has an actual chorus, dan vokal-vokalnya yang cenderung nyantai itu terasa refreshing. Sangat nyaman di kuping, tanpa gw harus mengidolakan artisnya.







7. "Born To Be Yours" – Kygo & Imagine Dragons

Blantika musik mainstream emang lagi nggak bisa kabur dari namanya EDM (electronic dance music, kali ada yang belum tahu), apalagi para DJ/music producer ini lagi sering menggandeng artis-artis top untuk ngisi vokal lagu-lagu mereka. Tapi dalam kasus Imagine Dragons yang memang dari sononya warna musiknya ireguler, kolaborasi dengan Kygo ini sangat make sense. Di luar interlude-nya yang EDM banget, lagunya juga mirip seperti bunyi alternative rock-nya Imagine Dragons dalam versi lebih cerah dan optimis.








6. "Paradise" – George Ezra

Mas-mas "Budapest" (2013) bersuara beratbener ini tampak ingin all out dalam single yang ini. Tak hanya iramanya yang upbeat dan gitar-nya yang cukup kenceng--walau tetap bersandar di gaya folk, vokalnya juga berkelana dari nada rendah hingga falcetto hingga shouting. Pembawaan yang enerjik membuat lagu yang sudah catchy ini jadi makin seru.







5. "Always Remember Us This Way" – Lady Gaga

Jika sosok Ally dalam film A Star Is Born beneran ada di dunia nyata dan semua lagu dalam film ini dirilis ke pasaran, gw rasa gw akan easily memilih lagu yang ini sebagai favorit --disusul oleh "Heal Me", don't judge me. Lagu balada sederhana, walau agak senapas sama "Million Reasons"-nya Gaga, buat gw yang ini melodik, lebih "tuntas", dan lebih emosional.







4. "Happier" – Marshmello ft. Bastille

Satu lagi kolaborasi EDM dan band pop-rock yang hasilnya menyatu dan menyenangkan. Membalut liriknya yang sedih adalah irama ringan dan nada-nada yang lincah, ditegaskan oleh warna suara dan artikulasi si Dan Smith yang beraksen Inggris medok itu. Lagunya mah tetep sedih, tapi pembawaannya yang cerah malah bikin mood agak segeran.







3. "2002" – Anne-Marie

Awalnya lagu ini terdengar pecicilan, sebenarnya ya memang lucu aja. Anne-Marie dibantu Ed Sheeran memadukan musik pop yang asyik tanpa banyak mikir, dan gongnya tentu pada padupadan penggalan lirik lagu-lagu hits akhir 90-an/awal 2000-an dalam chorus-nya. Mungkin bagi banyak pihak lagu ini ganggu, buat gw lagu ini memang layak bercokol di ingatan dengan mudahnya.







2. "This Is Me" – Keala Settle & The Greatest Showman Ensemble

Strangely, lagu ini justru lebih powerful ketika nggak digandeng sama adegan filmnya ^_^;. Perkenalan terhadap lagu ini mungkin terbantu sama trailer The Greatest Showman yang sudah beredar beberapa bulan sebelum film-nya (dan versi single-nya) akhir tahun 2017, tapi mampu bertahan di playlist gw (dan, come on, di playlist elo juga 'kan?) selama filmnya edar bahkan jauh setelahnya. Selain melodinya catchy sekali dan iramanya menghentak, vokal garang Keala Settle seakan mampu memerintahkan pendengarnya untuk nyanyi bersama, minimal bagian background vocals-nya =P. Anthem motivasi self-worth yang kemungkinan besar nggak akan berhenti dinyanyikan orang-orang--terutama di kontes nyanyi dan karaoke--dalam beberapa tahun ke depan.












1. "If Only" – Andrea Bocelli ft. Dua Lipa

Ternyata sebenarnya kita bisa juga kabur dari EDM =D. Penyanyi tenor klasik-pop Italia panutan guru-guru vokal, Andrea Bocelli mampu hadir with a tender bang lewat lagu-lagu dan album barunya. Single yang satu ini menarik perhatian gw karena kok tiba-tiba ada si Dua Lipa--penyanyi yang vokal beratnya agak sulit dibayangkan bersanding dengan vokal gaya klasik. Namun, hasilnya adalah perpaduan dua *no pun intended* warna suara khas, yang mengalun dari nada-nada rendah nan lembut, sampai tembakan nada-nada tinggi yang nyaring. Belum lagi mereka diiringi oleh musik full orchestra yang sinematik, bikin merinding.

Sedikit keterangan bahwa lagu ini aslinya ditulis dalam bahasa Italia, "Qualcosa piu dell'Oro" dengan versi Andrea dewekan--tetep di beberapa bagian dibantu oleh background vocal wanita, namun akhirnya yang masuk album adalah versi bilingual bareng Dua Lipa, yang menurut kuping gw yang sangat pop mainstream ini lebih appealing sih, hehe. Lumayanlah buat tambahan katalog lagu duet anak-anak sekolah musik selain "The Prayer" dan "When You Believe" yekan...









Rabu, 05 Desember 2018

My Movie Picks of November 2018

November telah berlalu, saatnya bikin rapor film paling berkesan bagi gw dari yang gw tonton sepanjang bulan tersebut. Niat menggalakkan diri untuk menonton lebih banyak film sepertinya masih belum bisa diimplementasikan maksimal, namun untunglah bulan ini bisa menemukan yang sangat berkesan.





1. One Cut of the Dead
(2018 - Asmik Ace/ENBU Seminar)
dir. Shin-ichiro Ueda
Cast: Takayuki Hamatsu, Yuzuki Akiyama, Kazuaki Nagaya, Harumi Syuhama, Manabu Hosoi, Hiroshi Ichihara, Shuntaro Yamazaki, Mao, Shin-ichiro Osawa, Yoshiko Takehara


Ketika syuting film zombi di tempat yang konon angker, para pemain dan kru malah didatangi zombi betulan. Gw masih bimbang mau melabelkan film ini sebagai bedon atau justru jenius, karena premis di atas bukanlah gambaran tepat untuk film komedi zombi ini--and I'll say nothing further hehe. Yang jelas impresi film ini bakal membekas cukup lama di gw. Pengecohannya itu lho. Di sini kita bisa lihat hal yang kayaknya random ternyata dibuat dengan perhitungan dan ketelitian luar biasa, dan hasilnya adalah hiburan tingkat tinggi. Gw mungkin bukan pemuja perfilman Jepang tapi when they make something good, it's usually unlike any other, dan ini salah satu buktinya.
My score: 8/10






2. Widows
(2018 - 20th Century Fox)
dir. Steve McQueen
Cast: Viola Davis, Michelle Rodriguez, Elizabeth Debicki, Cynthia Erivo, Liam Neeson, Colin Farrel, Daniel Kaluuya, Brian Tyree Henry, Robert Duvall, Jacki Weaver, Carrie Coon, Garret Dillahunt, Lucas Haas


Walau berangkat dari premis kisah sekelompok orang membuat rencana perampokan, yang udah berulang-ulang kali diangkat, film ini rupanya memberi berbagai lapisan-lapisan yang membuatnya tidak biasa-biasa. Film ini mampu mencakupkan tema kriminal dengan isu gender, politik, ras, tapi nggak sekadar tempelan, dan tanpa harus mengorbankan laju penuturannya. Bagian 'laga'-nya memang nggak sebanyak dramanya, namun buat gw sih nggak sampai menjemukan karena dramanya itu bernas dan penting. And look at that cast.
My score: 7,5/10






3. The Nutcracker and the Four Realms
(2018 - Disney)
dir. Lasse Hallström, Joe Johnston
Cast: Mackenzie Foy, Keira Knightley, Morgan Freeman, Hellen Mirren, Jayden Fowora-Knight, Matthew Macadyen, Eugenio Derbez, Richard E. Grant


Butuh waktu cukup lama bagi Disney untuk bikin film fairy tale yang digarap dengan desain produksi practical yang semegah ini. Gw seneng banget mengamati rancang set, kostum, riasan, serta desain karakternya yang sangat elaborate, kelihatan banget mahal dan kerja kerasnya yang nggak bergantung sama animasi CGI semata *uhuk Alice in Wonderland uhuk*, serba klasik gitulah. Itu bahkan sudah lebih dari cukup mengompensasi ceritanya yang bisa dibilang safe saja dan cenderung ngulang formula film-film Disney yang sudah-sudah. Shot (dominantly) on film!
My score: 7/10






4. Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur
(2018 - Soraya Intercine Films)
dir. Rocky Soraya, Anggy Umbara
Cast: Luna Maya, Herjunot Ali, Teuku Rifnu Wikana, Alex Abbad, Verdi Solaiman, Kiki Narendra, Oppie Kumis, Asri Welas, Ence Bagus


Kekuatan terbesar film ini sebenarnya terletak pada nostalgia...namun bagi gw yang nonton film-film Suzzanna hanya di TV dan kayaknya nggak pernah secara utuh, nostalgia mungkin hanya works sebagian saja--walau tetep sih melihat Luna Maya dengan cara bicara dan gestur klasik Suzzanna adalah hiburan hakiki =). Justru yang menarik buat gw adalah arah film ini untuk bikin si tokoh Suzzanna sebagai hantu pendendam tapi tetap protagonis, dan itu bisa disampaikan dengan baik. Filmnya memang nggak tergolong seram dan beberapa titik terasa off, namun dengan konsep serta kemasannya yang proper, film ini jelas jauh dari kategori tercela.
My score: 7/10


Selasa, 13 November 2018

My Movie Picks of October 2018

Kalau nyari blockbusters, Oktober itu memang bulan sepoi-sepoi saja. Namun, buat bagi para peminat film, bulan tersebut justru dihiasi line-up yang bikin bergairah, karena nggak melulu kenceng-kencengan ledakan atau sekuel/prekuel/reboot/remake/reimagine/ricarica dan sebangsanya. Nah, bagaimana hasilnya, beginilah rapor dari gw untuk Oktober 2018.





1. Bad Times at the El Royale
(2018 - 20th Century Fox)
dir. Drew Goddard
Cast: Jeff Bridges, Chris Hemsworth, Jon Hamm, Dakota Johnson, Cynthia Erivo, Cailee Spaeny, Lewis Pullman, Shea Wingham, Xavier Dolan, Nick Offerman



Meleburkan premis "sekelompok orang nggak saling kenal terjebak di satu tempat" dengan berbagai unsur yang biasanya hanya muat di satu film masing-masing, dari konspirasi, kriminal, sekte sesat, sampai ke blantika musik. Mirip-mirip konsep bertutur serial Lost, kayaknya si Goddard lagi agak pamer sama kemampuan meramu cerita, plus keterampilan presentasi audio visual yang berkelas (dan shot on film!), tapi ya memang filmnya berhasil ngebawa gw untuk ngikutin terus ragam misteri dari karakter-karakternya yang akhirnya "tumpah" semua di hotel El Royale. Walau nggak se-mindblowing The Cabin in the Woods-nya Goddard beberapa tahun lalu, film ini masih sama menghiburnya, terutama dengan bumbu dark comedy-nya.
My score: 7,5/10





2. Smallfoot
(2018 - Warner Bros./Warner Animation Group)
dir. Karey Kirkpatrick
Cast: Channing Tatum, Zendaya, James Corden, Common, Danny DeVito, LeBron James, Gina Rodriguez, Yara Shahidi


Film ini memainkan perspektif makhluk mitos yeti atau bigfoot, dengan memutarbalikkan bahwa manusialah yang merupakan "makhluk mitos" bagi para yeti =). Secara visual film ini menurut gw kurang appealing ya, terutama di desain karakter. Pun sebagai musikal animasi, lagu-lagunya kurang nempel. Namun, film ini punya amunisi di komedi slapstick ala Looney Tunes yang sukses bikin gw ketawa kenceng, serta pada tema eksistensialisme serta etika yang lumayan bikin cerita film ini lebih berbobot dari yang dikira.
My score: 7,5/10





3. First Man
(2018 - Universal)
dir. Damien Chazelle
Cast: Ryan Gosling, Claire Foy, Jason Clarke, Kyle Chandler, Corey Stoll, Patrick Fugit, Ciarán Hinds, Pablo Schreiber, Olivia Hamilton


Karena tahunya Chazelle itu yang bikin Whiplash dan La La Land, film ini memberi kesan doi lagi ganti perseneling. Menceritakan tentang Neil Armstrong, seorang tokoh nyata dan dikenal oleh begitu banyak orang di dunia, Chazelle lebih memilih menjabarkan ganjalan batin sang astronot ketimbang kisah "sukses/inspiratif/patriotis" dari satu momen kebanggaan Amerika dalam sejarah. Makanya, di saat langkah-langkah proyek pendaratan ke bulan ditampilkan dengan cukup detail, nuansa yang keluar sepanjang film tuh selalu sendu, beda dengan dua film Chazelle sebelumnya yang "bergejolak". Tuturannya sih baik, dan justru mungkin paling mendekati gambaran pribadi Armstrong yang memang dikenal modest dan tertutup, tapi ya gw agak kaget aja sih si Chazelle bikin filmnya dengan gaya begini.
My score: 7,5/10





4. A Star Is Born
(2018 - Warner Bros.)
dir. Bradley Cooper
Cast: Lady Gaga, Bradley Cooper, Sam Elliott, Rafi Gavron, Andrew Dice Clay, Anthony Ramos, Ron Rifkin


Remake ke-sekian dari kisah sepasang seniman mengarungi cinta dan karier di industri hiburan, ketika yang satu mengorbitkan yang lain sampai jadi lebih sukses dan belakangan bikin hubungan merenggang. Yang pasti, penyesuaian dengan kondisi kekiniannya oke, lagu-lagunya emang beneran bisa jadi hits di dunia nyata (dan sebagai soundtrack ternyata memang jadi hits di dunia nyata), dan tentu saja motornya adalah performa mantap dari para aktornya. Agak kendor iramanya seiring filmnya berjalan dari pertengahan, tapi the idea bahwa film ini ada sebagai remake tapi bisa tetap relevan, apalagi dengan lagu-lagunya yang memorable, dan ini adalah debut film panjang Cooper sebagai sutradara, akan membuat film ini masuk dalam memori sebagai karya yang impresif.
My score: 7/10





5. Bohemian Rhapsody
(2018 - 20th Century Fox)
dir. Bryan Singer
Cast: Rami Malek, Lucy Boynton, Gwilym Lee, Joseph Mazzello, Ben Hardy, Aidan Gillen, Allen Leech, Tom Hollander, Mike Myers


Separuh daya tarik film ini adalah lagu-lagu band Queen yang ditaruh pada konteks terhadap karier mereka--tumbuh di era 1990-an membuat gw masih kena sama musik Queen, walau mungkin cuma yang radio hits aja hehe. Dari situ aja, film ini udah pasti dapat predikat menghibur, ditambah lagi penanganan visualnya yang apik. Hanya saja sebagai sebuah biografi tokoh dan band-nya, gw kurang bisa menangkap apa pegangan utama yang ingin diceritakan, semua seakan ingin diutarakan tapi  harus se-light mungkin dalam waktu terbatas, jadinya nggak ada yang bener-bener nancep. Efeknya, sekeren-kerennya reka ulang show Queen di acara panggung Live Aid di akhir film ini, gw nggak bisa merasakan signifikansi emosional event itu terhadap ceritanya.
My score: 7/10





6. Dear Nathan: Hello Salma
(2018 - Rapi Film)
dir. Indra Gunawan
Cast: Jefri Nichol, Amanda Rawles, Susan Sameh, Devano Danendra, Karina Suwandi, Gito Gilas, Surya Saputra, Diandra Agatha, Rendi Jhon


On paper, topik-topik yang diangkat di film ini lebih membumi dan penting daripada Dear Nathan pertama. Tokoh-tokoh kita digambarkan dalam proses lulus SMA ke kuliah, lalu berbenturan dengan persoalan keluarga yang juga terkait erat dengan urusan pendidikan dan cinta. Nggak terlalu nghayal disko lagilah. Namun, apakah itu membuat film ini lebih baik dari yang pertama, gw nggak bisa mengiyakan. Yang gw lihat alurnya masih dibuat muter-muter juga, mungkin karena overwhelmed sama topik-topiknya sendiri. Malah charm-nya sedikit menurun oleh satu-dua tokoh baru yang penampilannya nggak imbang dengan yang lain. Tapi, kalau mau fair, ini adalah follow-up yang cukup pantas bagi film pertamanya, yang buat gw masih jadi salah satu film roman remaja dengan penggarapan terbaik dalam beberapa tahun ini.
My score: 7/10