Rabu, 08 Agustus 2018

My Movie Picks of July 2018

Lanjut ke bulan selanjutnya, sepertinya gw lagi dalam fase ketika mood sedang sulit untuk di-uplift dengan menonton film-film terbaru. Dan, iya, gw percaya menilai bagus tidaknya sebuah film kadang tergantung juga pada situasi diri saat itu. Di "ampas" masa liburan kayak bulan Juli ini gw cukup berharap sama beberapa rilisan bioskop, tetapi akhirnya jadi sering cari "pelarian" ke film-film lama yang belum gw tonton via home video. Inti curhatan tadi sebenarnya hanyalah jangan terlalu kaget sama rekapan gw untuk bulan Juli ini, hehe. Semoga yang di bulan baru lebih exciting lah ya.






1. Gone Girl
(2014 - 20th Century Fox)
Dir. David Fincher
Cast: Ben Affleck, Rosamund Pike, Carrie Coon, Tyler Perry, Kim Dickens, Patrick Fugit, Neil Patrick Harris, Missy Pyle, Emily Ratajkowski, Casey Wilson, Sela Ward


Dan akhirnya kesampaian juga menonton film yang sangat hype pada masanya ini--tapi batal rilis di bioskop Indonesia konon gegara yang punya film nggak mau filmnya ada yang dipotong/disunting demi sensor secuil pun. Gayanya sang sutradara seperti biasa seakan mengalir saja tanpa kehebohan, tetapi menyaksikan adegan demi adegan tanpa mampu teralihkan, serta munculnya ketegangan dan keresahan di adegan yang "kayak nggak ada apa-apa", membuktikan ada keahlian yang dilakukan tak kasatmata. Memadukan kisah kriminal dengan drama rumah tangga namun tidak jatuh jadi opera sabun, ide liar sang pemilik cerita sukses disajikan sebagai film yang begitu memikat, dihiasi dialog-dialog witty dan akting berkelas yang membuatnya tidak sesuram kedengarannya.
My score: 8/10





2. Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
(2017 - Fox Searchlight)
Dir. Matthew McDonagh
Cast: Frances McDormand, Sam Rockwell, Woody Harrelson, Caleb Landry Jones, Peter Dinklage, Lucas Hedges, Abbie Cornish, John Hawkes, Željko Ivanek


Meski dipicu oleh sebuah kasus kriminal tak terselesaikan--hingga ibu sang korban kukuh menuntut keadilan, film ini rupanya ingin lebih mengupas karakter-karakternya yang bisa dibilang terjebak dalam keadaan, ataupun terjebak oleh keputusan mereka sendiri. Kalau disarikan ceritanya agak sedih karena berisi tokoh-tokoh bernasib tragis, tapi untungnya film ini menyajikannya dengan dark humour, dialog ngocol, dan pilihan-pilihan adegan yang menghentak.
My score: 7,5/10





3. Mission: Impossible - Fallout
(2018 - Paramount)
Dir. Christopher McQuarrie
Cast: Tom Cruise, Henry Cavill, Rebecca Ferguson, Simon Pegg, Ving Rhames, Alec Baldwin, Angela Bassett, Sean Harris, Vanessa Kirby, Michelle Monaghan, Wes Bentley


Franchise Mission: Impossible *iya, ada titik dua di tengah* sepertinya mau memakemkan gaya penuturan action spionase yang nggak banyak ngomong tapi berbicara lewat situasi, satu hal yang sukses besar di episode sebelumnya, Mission: Impossible - Rogue Nation (2015). Fallout sendiri gw tangkap seperti semacam rangkuman berbagai elemen lima film sebelumnya, entah itu pengulangan tema, setting, hingga pengulangan karakter dari film sebelumnya yang gw sangka udah beres eh rupanya ceritanya ini lanjutan langsung dari Rogue Nation jadinya muncul lagi, hehe. Meski Fallout tetap seru banget, gw merasa Rogue Nation, yang dalam memori gw masih lebih fresh, masih jadi favorit pribadi. Ya daripada M:I-2, ye 'kan =p.
My score: 7,5/10





4. Ant-Man and the Wasp
(2018 - Marvel Studios)
Dir. Peyton Reed
Cast: Paul Rudd, Evangeline Lilly, Michael Douglas, Michelle Pfeiffer, Laurence Fishburne, Walton Goggins, Hannah John-Kamen, Michael Peña, Judy Greer, Bobby Cannavale, Abby Ryder Forston.


Kalau ditimbang-timbang dengan film-film Marvel lainnya, Ant-Man (2015) adalah yang paling nggak dibebankan dengan misi menyelamatkan seluruh jagat raya, sehingga munculnya pun appropriately lebih ceria, ringan, dan paling menyenangkan. Sekuel-nya ini menurut gw masih dengan pembawaan yang sama, bahkan kini dengan jalan cerita yang lebih tidak klise, dan masih sama lucunya. Namun, sisi lain dari kesamaan tersebut adalah jadinya film ini nggak terasa sesegar kemunculan pertamanya. Untunglah kehadiran mbak Evangeline sebagai The Wasp memang exciting, hehe *penggemar sejak Lost*.
My score: 7/10





5. Buffalo Boys
(2018 - Infinite Studios/ Screenplay Infinite Films)
Dir. Mike Wiluan
Cast: Ario Bayu, Yoshi Sudarso, Pevita Pearce, Tyo Pakusadewo, Reinout Bussemaker, Happy Salma, Daniel Adnan, Mikha Tambayong, Donny Damara, El Manik, Zack Lee, Sunny Pang, Alex Abbad, Mark 'Conan' Stevens


Okay, apakah ini film terbaik di luar sana? Bukan. Akan tetapi, sebagai sebuah laga fantasi, film ini tetap sebuah "ke-ngaco-an" yang menyenangkan, mewujudnyatakan imajinasi tentang petualangan ala wild west yang dimuat-muatin dalam setting Indonesia zaman kolonial. Upaya keras dalam memproduksi film ini terlihat jelas: adegan-adegan laganya keren, look-nya mahal berasa nonton film luar negeri, Sudarso sukses berbahasa Indonesia tanpa aksen aneh-aneh, dan yang paling gw salut adalah para aktor elit Indonesia di sini berhasil mengujarkan lines mereka dengan artikulatif dan beremosi sekalipun susunan kalimatnya ketahuan banget asalnya ditulis tidak dalam bahasa Indonesia. Gw perlu taruh film ini di senarai, karena harus diingat lagi bahwasanya Indonesia bisa banget memproduksi (atau ko-produksi) film berskala mancanegara seperti ini...tinggal masalah mau (kasih modal) atau nggak =D.
My score: 7/10




Minggu, 08 Juli 2018

My Movie Picks of June 2018

Balik lagi ke rutinitas nonton yang agak normal, bulan Juni kemarin film-film yang gw tonton beraneka ragam, tapi saat direkap hasilnya lumayan mengejutkan, hehe. Mari...



1. Hereditary
(2018 - A24)
Dir. Ari Aster
Cast: Toni Collette, Gabriel Byrne, Alex Wolff, Milly Shapiro, Ann Dowd, Mallory Bechtel


Buat gw yang nggak demen horor, syarat film horor yang bagus itu cukup berat. Pertama harus punya cerita oke, kedua harus beneran serem. Hereditary termasuk yang memenuhi kedua syarat itu, sekalipun dengan metode yang sedikit beda. Kisah tentang keluarga yang menyimpan misteri selepas wafatnya si nenek, baik itu misteri hubungan antarmereka yang kompleks maupun misteri kutukan supranatural yang memperparah itu semua. Menurut gw ini adalah horor ilmu hitam yang melebur dengan thriller psikologis, tampil dengan penataan adegan yang bernilai artistik tersendiri dan performa akting yang hebat. Cuma ya bagian-bagian seremnya cenderung stres-bikin-pengen-ngomong-kasar sih ketimbang model kaget-jadi-bikin-ketawa-rame-rame.
My score: 7,5/10





2. Incredibles 2
(2018 - Disney/Pixar)
Dir. Brad Bird
Cast: Craig T. Nelson, Holly Hunter, Bob Odenkirk, Catherine Keener, Sarah Vowell, Huckleberry Milner, Eli Fucile, Samuel L. Jackson, Sophia Bush, Brad Bird, Isabella Rossellini


Melanjutkan petualangan seru keluarga Parr yang punya kekuatan super di tengah masyarakat yang melarang aktivitas superhero. Film kedua ini makin menekankan pada benturan kepentingan keluarga vs menjadi pahlawan bagi dunia. Tetap seru, lucu, lincah, enak dilihat, walau gw merasa ceritanya jadi agak penuh dan terlalu panjang, dan intrik penjahatnya juga predictable
My score: 7/10





3. Jurassic World: Fallen Kingdom
(2018 - Universal)
Dir. J.A. Bayona
Cast: Chris Pratt, Bryce Dallas Howard, Rafe Spall, Justice Smith, Daniella Pineda, James Cromwell, Isabella Sermon, Geraldine Chaplin, Toby Jones, B.D. Wong, Jeff Goldblum


Sebagai yang termasuk suka sama Jurassic World (2015), gw sebenarnya nggak expect banyak dari sekuelnya ini. Dan, well, ternyata hasilnya memang nggak segelegar yang sebelumnya, apalagi di paruh kedua ruang ceritanya dipersempit. Cuma, aksi dinosaurusnya tetap oke, world building-nya semakin mantap, dan hint mengenai arah cerita di sekuel selanjutnya cukup bikin penasaran. Oh, adegan favorit tentu saja yang (seolah) satu take di dalam ruang sempit  mirip Children of Men (2006) versi bawah air =D.
My score: 7/10





4. Kulari ke Pantai
(2018 - Miles Film)
Dir. Riri Riza
Cast: Maisha Kanna, Lil'li Latisha, Marsha Timothy, Suku_Dani, Ibnu Jamil, Lukman Sardi, Karina Suwandi, M. Adhiyat, Varun Tanjdung, Dodit Mulyanto, Fadlan Rizal, Ligwina Hananto

Gw suka pada tone film ini yang agak realis, bisa bikin relate sama karakter-karakternya yang gampang ditemui di kenyataan sekarang. Ini bukan anak baik vs anak jahat, tapi konflik yang timbul karena beda kebiasaan dan beda lingkungan saat traveling bersama. Cuma mungkin saking realisnya—walau tetap ceria dan enak disaksikan, bawaan filmnya jadi terlalu santai dan…apa ya…kayak nggak terlalu penting banget untuk diikutin. Mungkin bakal lebih megang kalau durasinya agak di-trim dan konfliknya dipertajam?
My score: 7/10





5. Hostiles
(2017 - Entertainment Studios/Waypoint Entertainment/Bloom)
Dir. Scott Cooper
Cast: Christian Bale, Rosamund Pike, Wes Studi, Ben Foster, Rory Cochrane, Jesse Plemons, Stephen Lang, David Midthunder, Adam Beach, Q'orianka Kilcher, Xavier Horsechief, Tanaya Beatty, Timothée Chalamet, Peter Mullan, Ryan Bingham


Mungkin bukan film pertama yang ingin mengangkat bahwa kaum pendatang vs native di Amerika sana bukan sesederhana baik vs jahat seperti dalam film-film koboi kebanyakan. Ritmenya cenerung mendayu-dayu, namun memberi tonjolan emosi dari para aktornya yang keren-keren, serta lumayan bisa meng-highlight tentang makna 'hostile' di tengah indahnya wild west. Gambarnya cakep sangat.
My score: 7/10





6. Insya Allah Sah 2
(2018 - MD Pictures)
Dir. Anggy Umbara & Bounty Umbara
Cast: Pandji Pragiwaksono, Donny Alamsyah, Luna Maya, Nirina Zubir, Tata Ginting, Ray Sahetapy, Dewi Yull, Miller Khan, Meriam Bellina, Tarsan


'Mengejutkan' adalah kata yang tepat untuk menggambarkan. Ceritanya yang absurd bisa gw ikutin tanpa banyak komplain dari awal sampai akhir. Tujuannya jelas, lajunya asyik. Mungkin halangan terbesarnya adalah pada banyaknya lelucon yang miss. Walau nggak seheboh film-film Umbara bros. yang gw tahu, ternyata film ini tetap bisa memberikan hiburan yang cukup. Dan, bisa jadi ini film bernilai Islami paling accessible dan menyenangkan yang pernah rilis di Indonesia dalam waktu-waktu ini.
My score: 7/10




Jumat, 15 Juni 2018

My Movie Picks of May 2018

Better late than never kan yah? Hehe T-T. Entah kenapa bulan lalu frekuensi nonton agak tersendat, sehingga sedikit sekali judul yang gw tonton utuh, dan lebih sedikit pula yang gw pikir layak naik di rekap akhir bulan. So, ini dia film berkesan versi gw selama bulan Mei kemarin.




1. Deadpool 2
(2018 - 20th Century Fox)
Dir. David Leitch
Cast: Ryan Reynolds, Josh Brolin, Morena Baccarin, Julian Dennison, Zazie Beetz, T.J. Miller, Karan Soni, Leslie Uggans, Brianna Hildebrand, Stefan Kapicic, Shioli Kutsuna, Eddie Marsan


Aneka lelucuan dan kekejaman kartunik mampu membuat Deadpool pertama (2016) tampil sangat menghibur dan beda dari film superhero mainstream Hollywood lain, sekalipun ceritanya receh banget. Gw cukup senang bahwa sekuelnya masih mempertahankan resep pentingnya, kali ini ditaruh dalam cerita yang (sedikit agak) lebih ada isinya, walau tetap street-level sih, bukan yang menyelamatkan kelestarian umat manusia juga. Namun, apalah, yang penting filmnya menghibur lucu-lucu jahat gitu, dengan tata laga yang lebih keren plus visual yang lebih vibrant, serta tampilan lebih banyak tokoh mutan di universe X-Men--menyambung salah satu joke film pertama yang katanya bujetnya nggak banyak, yang ini lebih jelas lebih mahal dong =). 
My score: 7,5/10





2. Tully
(2018 - Sierra Affinity/Focus Pictures)
Dir. Jason Reitman
Cast: Charlize Theron, Mackenzie Davis, Ron Livingston, Mark Duplass, Elaine Tan, Lia Frankland, Asher Miles Fallica


Menyorot seorang ibu muda dengan hari-hari mengurus anak-anak yang kecil--salah satunya dengan kondisi khusus, kemudian kedatangan seorang pengasuh anak shift malam (=P) mendorong penyegaran baru dalam keluarganya. Bagaimanapun ringan terdengar, film ini mampu dikemas dengan membumi namun lincah, menggelitik, dan performa berdedikasi oleh si mantan talent iklan Electronic City, Charlize Theron.
My score: 7,5/10





3. Solo: A Star Wars Story
(2018 - Lucasfilm)
Dir. Ron Howard
Cast: Alden Ehrenreich, Donald Glover, Emilia Clarke, Woody Harrelson, Phoebe Waller-Bridge, Thandie Newton, Joonas Suotamo, Paul Bettany, Jon Favreau, Erin Kellyman


Mengambil origin story dari salah satu tokoh terpopuler dari franchise yang juga populer, film ini jelas menimbulkan antisipasi yang cukup tinggi, pemainnya pada keren-keren pula. Tapi, pelbagai drama di balik layar pembuatan film ini (sutradara dipecat) sedikit banyak berasa juga di hasil akhirnya. Keseluruhan filmnya untungnya menghibur, gw suka desain-desain set dan kostumnya, poin-poin ceritanya oke walau kadang terasa terlalu condensed (susu kali =p). Cuma gw juga merasa ada banyak potensi komedi dan fun yang tidak sampai maksimal di sini. Gw malah berandai mungkin versi sutradara yang sebelumnya (Phil Lord dan Christopher Miller) bisa lebih lucu dan enerjik dari ini, but we'll never know.
My score: 7/10


Sabtu, 05 Mei 2018

My Movie Picks of April 2018

Berbekal menonton hanya beberapa judul, baik di bioskop maupun format lain, berikut adalah rekapitulasi film-film paling berkesan buat gw selama bulan April 2018 kemarin. Mari...




1. Avengers: Infinity War
(2018 - Marvel Studios)
Dir. Anthony Russo & Joe Russo
Cast: Robert Downey Jr., Chris Hemsworth, Chris Evans, Scarlett Johansson, Mark Ruffalo, Chris Pratt, Josh Brolin, Zoe Saldana, Benedict Cumberbatch, Tom Holland, Elizabeth Olsen, Paul Bettany, Chadwick Boseman, Tom Hiddleston, Sebastian Stan, Anthony Mackie, Don Cheadle, Dave Bautista, Pom Klementieff, Karen Gillan, Peter Dinklage, Gwyneth Paltrow, Letitia Wright, Bradley Cooper, Vin Diesel


Impresi semerta gw usai nonton ini mirip dengan The Avengers pertama (2012), yaitu keberhasilan dalam mengakomodir begitu banyak karakter dalam porsi yang seimbang. Tentu saja kadar kekaguman itu meningkat ketika jumlah tokohnya makin banyak--like, banyak buanget--di sini. Itu sudah termasuk memperkenalkan lebih lanjut soal sosok villain semesta Thanos yang selama ini cuma tampil iprit-iprit doang film-film Marvel sebelumnya. Demikian pula enaknya penggabungan tone karakternya, dari yang witty macam Iron Man dan Doctor Strange, badass macam Captain America dan Black Widow, sampai yang lawak receh kayak Guardians of the Galaxy dan Thor. Ceritanya cukup straightforward, agak dark karena 'kan ini udah masuk bab akhir melawan si biang jahat. Istimewa banget sih nggak, tetapi bisa dipresentasikan dalam skala besar dan terasa, well, lebih genting dari Age of Ultron (2015), misalnya. Nggak hanya yang terbesar, gw juga merasa ini film Marvel yang paling gw nikmati secara menyeluruh, dan jadinya gw ikutan makin menantikan Avengers 4 yang akan rilis hanya setahun lagi.
My score: 8/10





2. Confessions
(2010 - Toho)
Dir. Tetsuya Nakashima
Cast: Takako Mastu, Masaki Okada, Yoshino Kimura, Yukito Nishii, Kaoru Fujiwara, Ai Hashimoto


Ide-ide cerita yang "sakit" memang cukup sering ditemui di karya-karya buatan Jepang *hehe*, namun film ini adalah salah satu yang bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang agak beda dan stylish. Dasarnya sih ini kisah balas dendam, berangkat dari seorang guru yang kehilangan anak semata wayangnya yang masih kecil karena perbuatan dua murid SMP yang diajarnya, tetapi metodenya nggak sesimpel nyawa dibalas nyawa. Ide-nya memang violent, karakternya psycho semua, tetapi film ini berhasil mengindari jebakan menjadi film yang terlalu moody ataupun terlalu teatrikal--yah bisa dibilang film ini adalah gabungan keduanya, but with music. Penuturan non-linear dari berbagai sudut pandang, dengan menampilkan gambar-gambar dinamis bagai video musik (sesuatu yang sebenarnya jarang dilakukan sineas Jepang untuk "drama serius"), justru menjaga film ini untuk tetap menarik dan selaras dengan absurditas ceritanya.
My score: 7,5/10





3. A Quiet Place
(2018 - Paramount)
Dir. John Krasinski
Cast: Emily Blunt, John Krasinski, Millicent Simmonds, Noah Jupe


Idenya cukup simpel: jangan bersuara jika tidak ingin dimangsa monster. Pengembangan ceritanya juga terbilang sederhana, yaitu sebuah keluarga berusaha melanjutkan hidup di tengah ancaman monster/alien, tentu saja harus menyesuaikan keadaan dengan sedapat mungkin tidak menimbulkan suara. Namun, kali ini si emak lagi hamil besar yakale ntar kalau lahiran nggak bersuara yekan. Di tengah kesederhanaan itu, kenyaristiadaan dialog oral bukan cuma gimmick cari sensasi. Ada intensitas yang luar biasa, nggak hanya dari ketegangan yang timbul di sana-sini, tetapi juga dari penyampaian tentang keluarga itu sendiri. Gw bisa dibuat simpati sama keluarga ini sekalipun gw bahkan nggak tahu siapa aja nama-namanya =).
My Score: 7,5/10




4. Jelita Sejuba, Mencintai Kesatria Negara
(2018 - Drelin Amagra)
Dir. Ray Nayoan
Cast: Putri Marino, Wafda Saifan Lubis, Aldy Maldini, Yayu Unru, Nena Rosier


Daya tarik utama film ini, setidaknya buat gw, adalah lingkungannya yang close to home. Film ini diklaim sebagai film layar lebar yang pertama mengangkat secara spesifik tokoh istri prajurit TNI-AD, also known as ibuk-ibuk Persit (Persatuan Istri Tentara)--karena dulu mungkin pernah ada dalam bentuk miniseri atau FTV kali ya. Filmnya sendiri berjalan sebagai sebuah drama roman dari awal pertemuan sampai berumahtangga dan beranak, dari sudut pandang sang perempuan, nggak terlalu berat sebagai alat "humas" ketentaraan. Meski kisahnya rada klasik, film ini diisi sejumlah adegan yang well-crafted dan kontemporer, serta akting mumpuni dari segenap pemerannya. Sehingga, sekalipun secara lingkup narasi agak di situ-situ aja--padahal gw menantikan si anak pulang sekolah upset rumahnya kosong kekunci karena maknya lagi rapat Persit *lah tjurhat*, film ini masih cukup enaklah diikuti.
My score: 6,5/10

Rabu, 04 April 2018

My Movie Picks of March 2018

Saatnya mencatat film-film berkesan yang sudah gw tonton di bulan Maret 2018. Dihitung-hitung ternyata gw nontonnya lumayan banyak, dan sebagian cukup berkesan sehingga perlu gw tuliskan di postingan ini.



1. Ready Player One
(2018 - Warner Bros.)
Dir. Steven Spielberg
Cast: Tye Sheridan, Olivia Cooke, Ben Mendelsohn, Mark Rylance, Simon Pegg, Lena Waithe, Win Morisaki, Philip Zhao, T.J. Miller, Hannah John-Kamen


Memanglah Spielberg tak bisa kita dustakan--walau kemaren ada The BFG sih -_-. Nggak lama setelah perilisan film Spielberg-mode-drama-serius The Post sekitar sebulan lalu, sekarang dirilis lagi film Spielberg-mode-blockbuster yang duh-of-course spektakuler membahana. Dengan cerita futuristis tentang petualangan dunia maya yang memengaruhi langsung eksistensi di dunia nyata, film ini nggak hanya ditampilkan dengan keseruan dan keasyikan beroktan tinggi, tetapi juga relevan. Ada refleksi tentang hubungan sosial yang "ditentukan" dunia maya, ada nilai nostalgia dengan ribuan elemen dari kultur pop dunia (Street Fighter!, Star Trek!, Hello Kitty!, There's Something About Mary! xD), dan, yang mungkin makin jarang dalam blockbuster Hollywood belakangan ini, daya pukau. Sekalipun banyak adegannya kayak riweuh dan berat CGI, semuanya masih mampu mengikat perhatian, segar, kreatif, simply because Spielberg masih setia pada pengertian "motion" pada motion picture.
My score: 8/10





2. The Shape of Water
(2017 - Fox Searchlight)
Dir. Guillermo del Toro
Cast: Sally Hawkins, Michael Shannon, Richard Jenkins, Octavia Spencer, Doug Jones, Michael Stuhlbarg, David Hewlett, Nick Searcy


Lama menantikan akhirnya filmnya dilepas juga di bioskop Indonesia, didorong oleh kemenangannya di Piala Oscar tempo hari sebagai sang Best Picture. Gw rasa film ini jadi salah satu curahan paling "tumpah" dari isi kepala del Toro, dan hasilnya sangat indah. Premis yang nyeleneh (perempuan bisu yang jatuh cinta pada manusia ikan) tidak dibiarkan sendiri, melainkan diperlengkapi oleh karakterisasi yang menarik, mewakili berbagai sifat dan isu, penuturan yang bikin terhanyut, dan ketelitian audio visual tak terbantahkan--OMG visualnya elok nian. Tabrakan antara kisah imajinatif nan ajaib dengan drama, romansa, komedi, bahkan musik berhasil bikin gw terbawa pada dunianya tanpa perlawanan. Di sini makin menunjukkan kemampuan del Toro bercerita dalam metode yang rich, bahkan sampai ke detail benda dan makna di balik warna, yang nggak akan cukup diserap kalau sekali jalan. A master craft indeed.
My score: 8/10





3. Love for Sale
(2018 - Visinema Pictures)
Dir. Andibachtiar Yusuf
Cast: Gading Marten, Della Dartyan, Verdi Solaiman, Rukman Rosadi, Adriano Qalbi, Albert Halim, Sabrina Rochelle, Rizky Mocil, Toro Margens, Dayu Wijanto


Berhubung gw cuma tahu film-film Bang Ucup yang tema olahraga penuh gejolak, gw nggak menyangka beliau bisa begitu tender di film yang satu ini. Yah, sekalipun premisnya agak nakal juga, pria berusia matang dan lajang menyewa pasangan pura-pura demi taruhan. Dengan angle dan style yang begitu membumi--mungkin salah satu representasi orang Jakarta kelas pekerja/menengah paling riil yang pernah gw tonton, toh filmnya nggak berkutat pada pertanyaan akhirnya bakal jadian atau nggak. Yang menurut gw menarik adalah film ini lebih concern pada perjalanan perasaan si tokoh utama *tsaah*, semacam kursus singkat dari yang tadinya hidup gitu-gitu aja, ketemu lagi sama sensasi mencinta dan dicinta, sampai ke "pengakhiran"-nya, yang bermain-main pada batas semu dan tidak. Bittersweet dan nuanced gimana gitu, dan semuanya sukses tersampaikan di balik roman dan komedinya yang witty. Makin menyenangkan melihat bahwa para aktor asyik banget mainnya, dan presentasi visual yang pas, nggak sok cakep nggak juga sok gritty.
My score: 8/10





4. Boyhood
(2014 - IFC Pictures)
Dir. Richard Linklater
Cast: Ellar Coltrane, Patricia Arquette, Ethan Hawke, Lorelei Linklater, Marco Perella, Libby Villari, Brad Hawkins, Zoe Graham


Late in the game yah saya, baru kesampaian nonton karena nemu DVD (resmi dong gela loe) yang diskon. Kalau dilihat sekilas film ini kayak nggak ada ceritanya, terkesan hanya menjual gimmick bahwa pengambilan gambarnya dilakukan dalam rentang dalam 12 tahun (jadi setahun sekali syuting sekitar semingguan kali ya) memakai aktor-aktor yang sama, dan tentu saja yang paling kelihatan adalah si bocah lelaki Coltrane yang mulai syuting saat umur 7 sampai 19 tahun. Namun, buat gw film ini masih tetap memikat karena menyorot secara personal pertumbuhan seorang anak laki-laki dalam keluarganya yang bisa dibilang broken home, baik dalam duka maupun sukanya, serta jadi semakin immersive karena pemerannya bertumbuh dan bertambah tua secara alami di depan mata penonton. Gw pikir-pikir pasti produser dan sutradaranya berdoa kenceng supaya para pemainnya ini nggak kenapa-kenapa sebelum syuting kelar selama lebih dari satu dekade, hehe.
My score: 8/10





5. #TemanTapiMenikah
(2018 - Falcon Pictures)
Dir. Rako Prijanto
Cast: Adipati Dolken, Vanesha Prescilla, Refal Hady, Sari Nila, Cut Beby Tshabina, Denira Wiraguna, Diandra Agatha, Rendi John, Shara Virrisya


Pada dasarnya gw searah dengan pendapat bahwa ini adalah film drama roman yang tampil manis dengan visual yang sangat-sangat enak dilihat--dan memang kemasannya cenderung stylized, mungkin karena tokoh-tokohnya emang "arteeis". Namun, salah satu poin yang perlu gw tekankan di sini adalah bahwa sejak awal film ini sudah memberitahukan ending-nya seperti apa, dan motivasi-motivasi karakternya juga terpapar jelas. Dengan rahasia semua sudah terbuka, nggak pake twist-twist-an, kok ya bisa gw tetap menikmati momen demi momen antara tokoh Ditto dan Ayu dari temenan akrab di sekolah hingga akhirnya jadian belasan tahun kemudian. Mungkin ada andil dari penataan ritmenya yang asyik serta performa akting yang kompak, jadinya, dengan segala ups and downs ceritanya, film ini berhasil menghibur. And prepare to witness Adipati Dolken's best movie performance yet.
My score: 7,5/10





6. Yowis Ben
(2018 - Starvision)
Dir. Fajar Nugros, Bayu Skak
Cast: Bayu Skak, Joshua Suherman, Brandon Salim, Cut Meyriska, Tutus Thomson, Tri Yudiman, Arief Didu, Indra Wijaya, Ence Bagus, Richard Oh, Erick Estrada, Cak Kartolo, Cak Sapari


Kisah familiar anak SMA "cupu" yang ingin bikin pembuktian lewat karya, tapi dengan suntikan elemen lokal (dalam hal ini kota Malang, Jawa Timur) yang kental. Agak berisiko untuk sebuah film yang rilis nasional, tetapi berhubung film ini melibatkan orang-orang yang know what they want to do, hasilnya adalah sebuah komedi remaja yang cukup universal dan menurut gw sih lucu. Ya walaupun ceritanya sangat been-there-done-that, pemanfaatan secuplik kehidupan anak SMA masa kini di Malang, pemakaian lagu-laggu pop-punk berbahasa Jawa, hingga penempatan gags-nya yang nggak pernah absen tapi nggak ganggu, bikin filmnya jadi seger sih.
My score: 7/10





7. Sekala Niskala (The Seen and Unseen)
(2018 - Fourcolours Films/Treewater Productions)
Dir. Kamila Andini
Cast: Thaly Titi Kasih, Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena, Ayu Laksmi, I Ketut Rina, Happy Salma, Gusti Ayu Raka


Paling tidak gw sudah antisipasi bahwa film ini tidak dituturkan seperti film-film yang biasa gw tonton. Lumayan, gw bisa terhanyut dengan setiap usaha si anak perempuan dalam menghadapi, atau bisa dibilang "mencegah" kepergian saudara kembarnya yang sakit parah, yang dimanifestasikan dengan ritual-ritual yang ia ciptakan/bayangkan sendiri. Seolah-olah tidak ada kata yang bisa mengungkapkan rasa kehilangan orang sedekat itu selain imajinasi. Di film panjang keduanya ini, Kamila sebagai sutradara mencoba tuturkan konsep kesedihan dan kedukaan seorang anak dengan simbol-simbol artsy, bikin film ini punya keunikan tersendiri. Mungkin gw akan apresiasi lebih andai presentasi visualnya bisa secerah still di atas.
My score: 7/10





8. Tomb Raider
(2018 - MGM/Warner Bros.)
Dir. Roar Uthag
Cast: Alicia Vikander, Daniel Wu, Walton Goggins, Dominic West, Kristin Scott Thomas, Derek Jacobi


Gw hampir lupa apa kesan yang gw dapat saat menonton dua film Lara Croft Tomb Raider yang dibintangi Angelina Jolie dulu. Sehingga, kemunculan Tomb Raider versi reboot ini lumayan fresh bagi gw. Pendekatannya yang seperti origin story dan petualangan yang nggak terlalu over the top ternyata lumayan bisa menghibur, terutama karena si Lara Croft-nya sendiri (oleh si mbak ca'em Alicia) jadi lebih simpatik, sehingga nggak perlu lagi terdistraksi oleh ukuran itunya.
My score: 7/10





9. Pacific Rim Uprising
(2018 - Legendary/Universal)
Dir. Steven S. DeKnight
Cast: John Boyega, Scott Eastwood, Cailee Spaeny, Charlie Day, Burn Gorman, Jing Tian, Max Zhang, Adria Arjona, Rinko Kikuchi, Karan Bar, Wesley Wong, Ivanna Sakhno, Mackenyu, Lily Ji


Sebagai penggemar Pacific Rim pertama (2013), kayaknya wajar jika merasa ada sedikit letdown dari sekuelnya ini. Sedikit sekali karakter terdahulu yang masih bertahan, dan karakter-karakter barunya juga kurang cukup waktu untuk menjadi kesukaan, serta dengan gaya penuturannya yang ekspres. Beruntung, film ini masih punya adegan-adegan seru, desain robot jaeger yang ganteng dan cantik, dan sebenarnya punya ide cerita yang sangat potensial menggenjot skala Pacific Rim sebagai sebuah franchise lebih besar--serius, menurut gw konsep ceritanya keren lho ini, walau tetap aja gw agak berharap lebih sih.
My score: 6,5/10




Rabu, 07 Maret 2018

WINNERS of the 90th Oscars (and how many I got them right)

Dan hasil Oscar ke-90 sudah keluar kemarin, saatnya ngecek sejauh apa ke(tidak)saktian gw dalam menebak para pemenangnya. Berikut adalah nama pemenangnya, dan ada tanda O kalau tebakan gw benar, dan X kalau tebakan gw salah. Here we go.



best picture
THE SHAPE OF WATER (X)
Aku salah tapi aku senang tapi aku belum nonton tapi aku tetap gembira *tangis bahagya*


directing
THE SHAPE OF WATER (O)
Horeeeee!!! Felicidades Guillermo del Toro!!! Lengkap sudah trio sahabat sineas kece asal Meksiko, Guillermo, Alejandro González Iñárritu, dan Alfonso Cuarón masing-masing dapat Piala Oscar untuk Directing, dan hebatnya dalam waktu berdekatan: Guillermo tahun ini, Alejandro tahun 2016 dan 2015 *beuh kemaruk =p*, Alfonso tahun 2014. Ah senangnya :')


actor in a leading role
Gary Oldman, DARKEST HOUR (O)
safe!


actress in a leading role
Frances McDormand, THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI (O)
safe!!


actor in a supporting role
Sam Rockwell, THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI (O)
safe!!! Si villain di film Charlie's Angles bisa juga dapat Oscar hehe.


actress in a supporting role
Allison Janney, I, TONYA (O)
safe!!!!


animated feature film
COCO (O)
Woo-hoo.


cinematography
BLADE RUNNER 2049 (O)
Akhirnyaaaaaaa.......Setelah 13 kali ter-PHP :'D. Congratulations Mr. Roger Deakins!


costume design
PHANTOM THREAD (O)
eh bener lho, hehe


film editing
DUNKIRK (O)
yeaay...


makeup and hairstyling
DARKEST HOUR (O)
yaiyalaaah...


original score
THE SHAPE OF WATER (O)
Yey.


original song
"Remember Me", COCO (X)
Haha, nggak keberatan sih.


production design
THE SHAPE OF WATER (O)
Duh 'kan jadi makin pengen nonton di layar besar ='(


sound editing
DUNKIRK (X)

sound mixing
DUNKIRK  (O)
Strategiku di dua kategori sound berhasil!!! =P


visual effects
BLADE RUNNER 2049 (X)
Bahkan yang ketiga kalinya pun trilogi prekuel Planet of the Apes nggak dapet. Nasibmu Apes, Apes...


adapted screenplay
CALL ME BY YOUR NAME (O)
Hehe.


original screenplay
GET OUT (O)
Hehe.


foreign language film
A FANTASTIC WOMAN (Chile) (O)
Nebaknya agak ngasal tapi bener =). Mungkin karena sejalan sama tema equality secara film ini tentang dan dimainkan oleh seorang transgender.


documentary feature
ICARUS (X)
Ya namanya juga tebak ngasal.


documentary short
HEAVEN IS A TRAFFIC JAM ON THE 405 (O)
Lucky guess.


animated short film
DEAR BASKETBALL (X)
wew Kobe Bryant dapat Oscar =).


live-action short film
THE SILENT CHILD (X)
Ya namanya juga tebak ngasal.




Hasilnya adalah....17 benar dari 24 kategori alias 70% persen!! *membungkuk hormat*. Lumayan lah, nilai rata-rata tebakan gw gak turun-turun amat karena masih bisa di atas setengah, hehe. 

Piala Oscar ke-90 ini jatuhnya nggak seheboh tahun lalu--halah tahun lalu hebohnya juga karena "huru-hara", juga beberapa pemenangnya pada akhirnya lumayan bisa ditebak, tetapi secara keseluruhan cukup menyenangkan. Seperti gw singgung di atas, tahun ini punya beberapa kemenangan yang menggembirakan gw sebagai penggemar film, dari Gary Oldman ke Roger Deakins ke Guillermo del Toro, hingga ke fakta bahwa Best Picture yang akhirnya terpilih adalah film bergenre fantasi bertema cinta antara seorang perempuan bisu dan manusia ikan, bukan your usual Oscar-bait dramas. Tanpa harus heboh-heboh banget di permukaan--bahkan show-nya sendiri termasuk plain saja, VT nominasinya aja standar banget, karena mungkin cari aman aja kali ya--Oscar kali ini mungkin yang paling agak "gila" sebenarnya dalam memilih pemenangnya. Apapun itu, selamat buat para pemenang, dan selamat buat kalian yang menang taruhan =P.


Senin, 05 Maret 2018

My Movie Picks of February 2018

Saatnya tengok kembali film-film berkesan yang gw tonton dalam sebulan kemarin. Seperti gw pernah singgung di awal tahun, gw juga akan mulai ng-include film theatrical yang gw baru tonton di home video/streaming, tentu saja kalau memang benar-benar berkesan--kali ini ada nyelip satu. Silakan.



1. The Post
(2017 - DreamWorks Pictures/20th Century Fox/Amblin Entertainment/Participant Media)
Dir. Steven Spielberg
Cast: Meryl Streep, Tom Hanks, Bob Odenkirk, Bradley Whitford, Sarah Paulson, Tracy Letts, Bruce Greenwood, Matthew Rhys, Alison Brie, Jesse Plemons


Bahkan ketika menurut gw premis filmnya agak vague, Spielberg mampu menjadikannya tontonan yang menyita perhatian dan menggugah. The Post memang punya bahan-bahan unggulan bernilai mahal. Deretan pemain liga dewata, desain produksi yang sekalipun adegannya banyak di ruang "tertutup" mampu menampilkan spektakel kelas tinggi, hingga tema ceritanya yang menyangkut pengaruh politik pemerintahan terhadap kemerdekaan pers, yang menyinggung soal konglomerasi, konspirasi, propaganda, hingga gender, yaitu isu-isu yang bahkan masih eksis di zaman media digital sekarang. Bahan-bahan tersebut nggak ada yang off, semuanya sesuai dengan harapan kita terhadap para master ini. Gw pun masih kagum bahwa dengan isu-isu yang cukup berat--dan lumayan detail mengenai proses penerbitan koran era 1970-an, film ini sanggup mempresentasikannya dengan excitement dan penekanan pada watak karakter-karakternya yang beraneka warna, nggak harus depresif.
My score: 8/10





2. Molly's Game
(2017 - STX Entertainment/Entertainment One/Sierra Affinity)
Dir. Aaron Sorkin
Cast: Jessica Chastain, Idris Elba, Kevin Costner, Michael Cera, Chris O'Dowd, Jeremy Strong, J.C. MacKenzie, Bill Camp


Walaupun gw belum menemukan visi yang clear dari gaya penyutradaraan Sorkin dalam debutnya ini, kekhasannya dalam bertutur lewat skenarionya yang bawel, yang pada akhirnya butuh aktor-aktor mumpuni untuk membawakannya, menghasilkan sebuah tontonan yang apik. Sebuah biopik yang unik tentang mantan atlet Olimpiade yang banting setir jadi E.O. perjudian eksklusif bernilai selangit, lalu tersangkut kasus hukum karenanya, disajikan menyeluruh, cukup enerjik dan menghibur, terutama karena diselipkan wittiness di sana-sini.
My score: 7,5/10





3. The Grand Budapest Hotel
(2014 - Fox Searchlight)
Dir. Wes Anderson
Cast: Ralph Fiennes, Jude Law, F. Murray Abraham, Tony Revolori, Saoirse Ronan, Adrien Brody, Willem Dafoe, Edward Norton, Jason Schwartzman, Jeff Goldblum, Tilda Swinton, Harvey Keitel, Bill Murray, Mathieu Amalric


Setelah tertunda cukup lama akhirnya gw kesampaian juga nonton film ini. Ini bukan film Wes Anderson pertama yang gw tonton, namun gw merasa lewat film inilah akhirnya gw nyambung sama gaya khasnya. Ibarat bikin film kartun Looney Tunes dengan nilai produksi mewah dan deretan aktor ternama--iya, aneh banget 'kan--absurditas ceritanya justru malah tersampaikan dengan lancar dan menghibur. Kalau nggak seeksentrik itu caranya, mungkin film ini cuma jadi macam opera sabun berkostum jadul semata.
My score: 7,5/10





4. Black Panther
(2018 - Marvel Studios)
Dir. Ryan Coogler
Cast: Chadwick Boseman, Michael B. Jordan, Lupita Nyong'o, Danai Gurira, Martin Freeman, Angela Bassett, Forest Whitaker, Letitia Wright, Daniel Kaluuya, Andy Serkis, Winston Duke, Sterling K. Brown


Marvel sudah tahu bagaimana caranya bikin film yang memuaskan (setidaknya) sebagian besar target penontonnya, sehingga kemunculan Black Panther, superhero kulit hitam pertama dengan film tersendiri di Marvel Cinematic Universe pasti akan mudah juga diterima. Yang menurut gw istimewa, film ini nggak mementingkan tentang ke-superhero-an, dengan plot musuh yang ingin menguasai dunia, tetapi lebih fokus pada motivasi pribadi-pribadi dan intrik perebutan tahta kerajaan negeri fiktif Afrika, Wakanda, dan dilema moral yang menyertainya. Sajian dramanya buat gw adalah salah satu yang terbaik dari Marvel. Terlepas bagian laganya yang MCU routine, paling nggak jalan ceritanya nggak rutin-rutin amat.
My score: 7,5/10





5. Lady Bird
(2017 - Focus Features)
Dir. Greta Gerwig
Cast: Saoirse Ronan, Laurie Metcalf, Tracy Letts, Lucas Hedges, Timothée Chalamet, Beanie Feldstein, Odeya Rush, Lois Smith, Stephen Henderson, Jordan Rodrigues, Marielle Scott


Gw menangkap Lady Bird sebagai kolase kehidupan seorang remaja yang getol menyongsong kehidupan sebagai "orang dewasa", yaitu di tahun terakhir SMA-nya. Kadang keinginan dan tingkahnya agak kecentilan dan eksentrik sehingga terbentur dengan situasi keluarga dan lingkungannya, tetapi toh hal-hal itu memang sering juga ditemukan di kehidupan sehari-hari, dan mungkin satu-dua hal juga pernah kita alami sendiri di masa-masa seperti itu. Dituturkan secara ringkas dan natural, nggak linger di satu titik kelamaan, tetapi kedekatan itu tetap bisa tercipta.
My score: 7/10

Minggu, 04 Maret 2018

Tebak-Tebakan Pemenang The 90th Oscars

Kalau tradisi tahunan pastilah gw usahakan untuk bikin =). Hello again, y'all, gak berasa udah awards season lagi di Hollywood, dan udah deket banget sama perhelatan Piala Oscar ke-90. Yah, emang beneran nggak berasa sih kalau film-filmnya banyak yang kurang dikenal di sini hehehe. But anyway, gw tetap akan bikin tebak-tebakan pemenang Oscar tahun ini yang murni spekulasi semata, secara film-film yang katanya unggulan belum gw tonton--mostly karena belum/tidak edar di sini. Sama seperti tahun lalu, pemetaan spekulasinya berdasarkan hasil ajang-ajang penghargaan pra-Oscar, baik itu pilihan para kritikus maupun sejumlah profesi perfilman di Amerika Serikat. Ingat, pendapat dan penilaian pribadi gw (or all of us) yang jelata ini nggak ada pengaruhnya. Siapa gw untuk bilang "layak" atau "nggak layak" atau "harusnya anu yang menang", acara acaranya mereka, ye nggak? Ambil fun-nya ajalah.

Okeh, berikut adalah tebakan versi gw, nanti hasilnya akan dicek setelah hasilnya keluar hari Senin, 5 Maret 2018 pagi Waktu Indonesia Barat. Apakah gw masih mampu menyamai rekor tebakan gw di Oscar ke-88? Hmm, ragu sih.



best picture
THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI

Awards season kali ini adalah salah satu yang cukup sulit karena hampir nggak ada satu frontrunner utama, maksudnya satu film yang menang di mayoritas semua ajang penghargaan. Kali ini semua agak terbagi. Lebih ribet lagi adalah sistem voting Best Picture dalam beberapa tahun belakangan yang bukan lagi berdasarkan suara terbanyak, melainkan preferential voting--setiap kertas suara ada lebih dari satu pilihan terbaik yang diurutkan berdasarkan ranking. Singkat cerita, misalnya satu film dapat nomor satu yang terbanyak pun belum tentu bisa menang kalau jumlahnya nggak memenuhi standar tertentu, jadi harus diolah lagi dengan film yang dipilih di nomor dua, dst dst. 

Makanya ada pemenang Best Picture seperti 12 Years a Slave (86th Oscar), Spotlight (88th Oscar), dan paling gong fenomenal hempas nyata adalah Moonlight (89th Oscar tahun lalu). Kesamaan mereka semua adalah berhasil dapat Best Picture kendati nggak dapat total piala terbanyak dalam tahun masing-masing. 12 Years dapat 3, Spotlight total cuma 2, Moonlight total 3, beda jauh sama total yang diraih secara berturut-turut Gravity (7 piala), Mad Max: Fury Road (6 Piala), dan *gasp* La La Land (6 piala). Jadi, piala terbanyak belum tentu dapat Best Picture. Gitu.

Nah, kalau dari ajang penghargaan pra-Oscar, kandidat yang paling memungkinkan untuk Best Picture adalah Three Billboards Outside Ebbing, Missouri *ctrl+c* *biar kalau harus nulis lagi nggak perlu capek* dan The Shape of Water. The former yang memang pure drama sering menang kategori film terbaik dalam beberapa bulan ke belakang (Golden Globe, Screen Actors Guild, 2 piala di British Academy Film Award/BAFTA), sedangkan the latter yang roman fantasi sering dipuji teknisnya (menang di Critics' Choice, Producers Guild of America, Directors Guild of America). Meskipun belum nonton dua-duanya, gw akan senaaaaang sekali jika The Shape of Water yang menang karena gw memang penggemar sang sutradara Guillermo del Toro. Namun, di antara dua ini, gw condong pada *ctrl+v* Three Billboards Outside Ebbing, Missouri yang lebih memungkinkan karena nggak terlalu ber-gimmick dan sepertinya menonjol di cerita dan performances. Tapi lagi, dengan sistem voting yang agak ribet itu, we'll never really know.

pleasant surprise: The Shape of Water


directing
THE SHAPE OF WATER
Directors Guild of America (DGA) Awards sudah memilih jadi tinggal ikutin saja. Go Guillermo!!


actor in a leading role
Gary Oldman, DARKEST HOUR
Untuk kategori akting, tahun ini termasuk aman untuk menebak karena ajang penghargaan besar punya favorit yang percis cis sama. Dari Golden Globe, Critics Choice, eh diikutin juga di Screen Actors Guild (SAG) Awards dan bahkan BAFTA. Jadi, silly aja sih kalau ngeyel nebak yang lain, heuheu.


actress in a leading role
Frances McDormand, THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI
idem


actor in a supporting role
Sam Rockwell, THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI
idem


actress in a supporting role
Allison Janney, I, TONYA
idem


animated feature film
COCO
Duh, of course Pixar will win yet another Oscar. Hehe, kidding, filmnya emang bagus dan layak sih. But, you know, kalau Brave aja bisa menang...


cinematography
BLADE RUNNER 2049
Belum kapok juga gw menebak sinematografer senior nan canggih Roger Deakins akhirnya menang Oscar setelah belasan kali dinominasikan hanya untuk kemudian disalip sama yang lain, hahaha. Gw nggak tahu lagi deh, tapi tebakan ini sekaligus doa semoga ini benar kejadian. Amin.

pleasant surprise: The Shape of Water


costume design
PHANTOM THREAD
Wild guess, hanya karena filmnya soal perancang busana =P.

pleasant surprise: Beauty and the Beast


film editing
DUNKIRK
Walau awalnya bikin bingung, harus diakui editing film ini cukup inovatif dalam menyajikan ceritanya, dan kayaknya akan mendorong voters Oscar untuk milih ini.

pleasant surprise: obiously, Baby Driver =)


makeup and hairstyling
DARKEST HOUR
Kali ini para nomine makeup-nya nggak ada yang cetar-cetaran, tetapi lebih ke seberapa riil dalam mengubah rupa pemerannya. My bet on the flawless Winston Churchill makeup.


original score
THE SHAPE OF WATER
Nebak aja sih, buat melengkapi feeling gw filmnya akan menang banyak Oscar tapi nggak Best Picture haha.


original song
"This Is Me", THE GREATEST SHOWMAN
Seringkali pemenang kategori ini agak random *uhuk Sam Smith*. Akan membantu kalau nominenya ada yang berasal dari unggulan Best Picture, tetapi popularitas juga kayaknya punya peranan. Buat gw, hasilnya benar-benar 1:5, semua punya peluang. Tapi kalau mau yang crowdpleasing dan bisa mudah ditemukan di luar filmnya, maka "This Is Me" mungkin akan menang.


production design
THE SHAPE OF WATER
nebak aja =).


sound editing
THE SHAPE OF WATER
Tahun ini nomine Sound Editing dan Sound Mixing sama persis dan kemungkinan akan bikin voters makin bingung apa bedanya dua kategori ini heuheuhu. Asumsi gw, piala di dua kategori ini akan diraih oleh film yang sama. Demi setidaknya bisa nebak salah satu dengan benar, gw akan tebak dua judul berbeda *jenius, isn't it =p*.

pleasant surprise: BABY DRIVER


sound mixing
DUNKIRK
See what I did there? ;)

pleasant surprise: BABY DRIVER


visual effects
WAR FOR THE PLANET OF THE APES
Gw menjagokan dua film Apes sebelumnya di kategori ini dan keduanya keliru. Dan somehow gw kekeuh menebak efek visual luar binasa dari Apes akan menang Oscar, paling nggak di film ketiga. Sama seperti opa Roger Deakins di sinematografi, biarlah tebakan ini sekaligus jadi doa. Amiinnn.

pleasant surprise: STAR WARS: THE LAST JEDI


adapted screenplay
CALL ME BY YOUR NAME
Kans terbaik dari film roman antarbatang ini ada di kategori ini, dan kayaknya bakal dapet sih.


original screenplay
GET OUT
Get Out adalah film yang sangat menarik. Itu menurut gw. Tapi, film ini 'kan di US jadi representasi equality dan diversity yang lagi digembar-gemborkan selama beberapa tahun terakhir, sehingga memberi piala pada film ini bisa jadi gestur yang dirasa tepat. I don't mind at all.


foreign language film
A FANTASTIC WOMAN (Chile)
Nebak aja. Gw agak ragu Loveless yang menang secara US lagi agak sensi sama Rusia *cocoklogi*.


documentary feature
FACES PLACES
well, kita sudah masuk kategori-kategori nebak random jadi ya pasrah aja saya mah. ^_^;


documentary short
HEAVEN IS A TRAFFIC JAM ON THE 405
^_^;


animated short film
NEGATIVE SPACE
^_^;


live-action short film
MY NEPHEW EMMETT
^_^;






Begitulah tebakan gw. Mari buktikan hasilnya pada Senin, 27 Februari 2017 jam 7 pagi WIB, setidaknya di linimasa, huhuhu.

Sabtu, 03 Februari 2018

My Movie Picks of January 2018

Percobaan pertama =D. Sepanjang Januari 2018 gw berkesempatan menonton beberapa biji film, dan berikut di antaranya yang paling berkesan buat gw, dalam urutan preferensi.




1. Logan Lucky
(2017 - Bleecker Street/Fingerprint Releasing)
Dir. Steven Soderbergh
Cast: Channing Tatum, Daniel Craig, Adam Driver, Riley Keogh, Seth MacFarlane


Comeback dari Soderbergh di layar lebar yang bukan hanya nggak mengecewakan, tetapi juga menggembirakan. Ia memilih materi yang sangat fun, laga komedi tentang perampokan perbendaharaan sebuah arena balap mobil, dihiasi karakter-karakter "dodol" beraksen Southern. Mungkin bisa dianggap sebagai "mini-Ocean's Eleven", namun sesantai dan semenyenangkannya film ini, tetap kelihatan kejelian artistik yang khas dari Soderbergh, yang menurut gw belakangan agak criminally underappreciated.
My score: 7,5/10



2. Along with the Gods: The Two Worlds
(2017 - Lotte Entertainment)
Dir. Kim Yong-hwa
Cast: Ha Jung-woo, Cha Tae-hyun, Ju Ji-hoon, Kim Hyang-gi, Lee Jung-jae


Seperti mimpi basah para production designer, film ini sukses besar mengejawantahkan sebuah konsep akhirat yang diadaptasi dari kepercayaan khas Asia, lalu menuturkannya menjadi sebuah adventure yang fantastis. Tentu sebagai produk blockbuster Korea, film ini juga berjalan beriringan dengan sisi drama yang menyentuh, entah itu tentang keluarga, maupun soal eksaminasi apa itu definisi "orang baik" yang sesungguhnya. Dan, film ini nggak tampak susah payah untuk meramu dan menyajikan semua unsur tadi sehingga jadi tontonan yang mengasyikkan.
My score: 7,5/10



3. Darkest Hour
(2017 - Focus Features)
Dir. Joe Wright
Cast: Gary Oldman, Kristin Scott Thomas, Lily James Stephen Dillane, Ben Mendelsohn


Film ini ingin menyelami sosok perdana menteri Inggris, Winston Churchill khususnya ketika dia dilantik tepat saat Perang Dunia II mengancam negerinya. Wright dan timnya berhasil mengekstraksi satu hal yang mencegah film ini dari kebosanan, yaitu karakter Churchill yang memang rather comical, yang dimainkan dengan heart, body, and soul oleh Gary Oldman. Sehingga, di balik intrik-intrik politiknya, baik itu kebijakan Churchill menghadapi ancaman Nazi Jerman maupun manuver para pesaingnya di pemerintahan dalam negeri, film ini tetap tersaji light dan bahkan banyak momen lucunya.
My score: 7/10



4. Surat Cinta untuk Starla the Movie
(2017 - Screenplay Films)
Dir. Rudi Aryanto
Cast: Caitlin Halderman, Jefri Nichol, Ramzy, Dian Nitami, Rianti Cartwright, Ricky Cuaca


Gw punya firasat baik sejak adegan pertama film ini. Ada perlakuan yang beda dari film-film Screenplay Films lainnya, baik itu pengadeganan yang nggak berisik, karakterisasi yang lebih likeable, dan terutama visualnya yang lebih vibrant. Well, bahkan mungkin ini adalah the best-looking film from Screenplay. Walau pada akhirnya cerita film ini masuk pada ranah overdramatisasi yang terlalu familier, gw sudah cukup senang bahwa film ini mau sedikit mengarah ke penyajian yang nggak template.
My score: 6,5/10



5. Si Juki the Movie
(2017 - Falcon Pictures)
Dir. Faza Meonk
Cast: Faza Meonk, Bunga Citra Lestari, Indro Warkop, Jaja Miharja, Babe Cabiita, Pandji Pragiwaksono


Pertama-tama yang harus bisa diapresiasi dari film ini adalah keberhasilan mengatasi salah satu masalah besar dalam film-film animasi (panjang) kita: storytelling. Mengikuti petualangan absurd Si Juki di film ini ternyata cukup enak, gw nggak kehilangan grip tentang apa yang mau dicapai, dan konsep-konsep adegan yang mau ditampilkan juga oke. Demikian pula pengarahan para aktor pengisi suara yang lebih natural ketimbang gaya dubbing. Nah, bagian teknisnya yang mungkin harus banyak dimaklumi, ketika gw merasa banyak bagian animasi yang tidak seekpresif voice-nya. Namun, buat gw kalau dari storytelling udah lumayan oke, teknisnya mah akan lebih mudah untuk di-escalate ke depannya.
My score: 6,5/10