Selasa, 22 November 2016

[Movie] Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)


Fantastic Beasts and Where to Find Them
(2016 - Warner Bros.)

Directed by David Yates
Written by J.K. Rowling
Produced by David Heyman, J.K. Rowling, Steve Kloves, Lionel Wigram
Cast: Eddie Redmayne, Katherine Waterston, Dan Fogler, Colin Farrell, Ezra Miller, Alison Sudol, Samantha Morton, Jon Voight, Ron Perlman, Carmen Ejogo, Josh Cowdery, Ronan Raftery, Faith Wood-Blagrove


Gw merasa tak pantas menyandang gelar Potterhead karena gw memang nggak termasuk fan berat seri Harry Potter--gw fan aja, nggak pake berat *sembunyikan timbangan*. Tapi, memang, koleksi buku Harry Potter gw termasuk komplet, dan itu termasuk buku "pelengkap" Quidditch through the Ages dan Fantastic Beasts and Where to Find Them, dua buku yang sebenarnya adalah buku teks para siswa sekolah sihir Hogwarts di cerita Harry Potter, ya jadi kedua buku ini adalah cerita dalam cerita. Ketika dikabarkan bahwa Fantastic Beasts hendak diangkat jadi film sebagai spin-off Harry Potter, gw nggak excited-excited amat, tapi masih bisa terima juga. Berhubung buku Fantastic Beasts itu bukan cerita naratif--emang bener-bener kayak buku pintar atau RPUL, filmnya bisa secara bebas menyusun cerita baru seputar buku itu. Yang bikin cukup exciting, film Fantastic Beasts and Where to Find Them benar-benar menampilkan hal baru dari dunia rekaan J.K. Rowling tersebut: masa lampau, Amerika Serikat, dan tokoh-tokohnya yang lebih mature.

Tahun 1926, Newt Scamander (Eddie Redmayne), penyihir pria (wizard) dari Kementrian Sihir Inggris yang sedang dalam proses pembuatan buku tentang hewan-hewan gaib, tiba di New York, Amerika Serikat untuk menemukan hewan langka yang ada di sana. Ia datang saat situasi di sana sebenarnya sedang dalam ketegangan, karena muncul lagi gerakan ekstremis anti-penyihir oleh orang-orang biasa alias Muggle atau No-Maj kalau di Amerika. Belum lagi, beberapa kali terdapat kehancuran misterius oleh makhluk tak kasatmata, yang dicurigai sebagai aksi sihir. Tujuan sederhana Newt juga harus terhalangi ketika ia tiba-tiba ditangkap oleh seorang penyhihir wanita (witch) Tina Goldstein (Katherine Waterston) karena dianggap membawa makhluk gaib tanpa izin di antara No-Maj. Sementara itu, beberapa makhluk gaib bawaan Newt kabur setelah kopor ajaibnya tertukar dengan kopor seorang No-Maj veteran perang yang polos, Jacob Kowalski (Dan Fogler). Newt kini harus menangkap kembali hewan-hewannya yang kabur, sementara keberadaan masyarakat sihir semakin terancam akan terekspos kepada para No-Maj di New York.

Bila tujuannya adalah mengeksplorasi lebih luas tentang dunia sihir, film Fantastic Beasts ini telah berhasil melakukannya. Dengan latar tempat dan waktu yang jauh sebelum dimulainya kisah Harry Potter--beda hampir seabad, ada sebuah kesegaran yang ditampilkan di film ini, meskipun tetap masih terasa terkoneksi bagi yang familier dengan seri film dan terutama buku Harry Potter. Mantra, tongkat sihir, sistem pemerintahan, house-elves, masalah dunia penyihir dan non-penyihir, yang ditampilkan dalam konteks fantasi bukannya horor. Elemen yang juga menarik di seri Harry Potter kini juga dikembangkan lebih jauh, yaitu bagaimana dunia sihir-menyihir berdampingan dengan peradaban modern di sekitarnya, kali ini di masa keemasan Amerika tahun 1920-an berjulukan Roaring Twenties (kayak The Great Gatsby gitu). Dan, tentu saja, berkaitan dengan judulnya, hewan-hewan gaib yang ada di film ini juga cukup mengesankan, baik dari desain maupun tingkahnya, dan ditampilkan semenghibur mungkin. Plot besarnya sebenarnya juga mirip dengan seri Harry Potter, tentang bangkitnya kekuatan sihir gelap yang mengguncang dunia persihiran. Namun, mungkin karena karakternya di sini lebih dewasa, metafora politik dan sosialnya juga lebih kelihatan, dari soal identitas minoritas hingga penolakan dari sekelompok garis keras yang ingin memusnahkan semua penyihir karena dianggap berbeda dan berbahaya.

Kesegaran juga sebenarnya hendak ditunjukkan lewat karakter, serta casting para pemainnya yang sebagian besar bukan big stars. Tetapi, buat gw justru di sini letak yang kurang sreg di gw. Perkenalan karakter-karakter di film ini terlalu subtle sehingga tidak langsung connect, bahkan si Newt yang dimainkan Redmayne yang sekalipun gw tahu dia aktor bagus, gw nggak bisa nangkep dia itu sebenarnya posisinya di mana, sifatnya seperti apa. Saat seharusnya gw berpihak dan bersimpati pada dia, bahwa barang dan hewan-hewan kesayangannya direbut dari dia, gw malah cuma bisa mikir "salah sendiri nggak bisa jaga barang", saking gw nggak tahu maunya si Newt itu sebenarnya apa. Hal yang sama gw rasakan juga kepada tokoh Tina, yang seperti kurang menonjol dari yang seharusnya, padahal harusnya dia bisa jadi sosok cool dan heroic yang sedang ingin membuktikan kembali nilai dirinya. Kalau bicara likable, justru gw lebih mudah tertuju pada Kowalski dan adik Tina, Queenie Goldstein (Alison Sudol), yang memang lebih berwarna dan menarik. Atau juga penggerak anti-sihir, Barebone (Samantha Morton), dan putra angkatnya yang misterius, Credence (Ezra Miller), yang lebih clear posisi dan purpose-nya. 

Lalu gw teringat bahwa berhubung skenario film ini langsung ditulis J.K. Rowling, ada sebuah pola mirip yang gw temukan seperti saat baca buku Harry Potter: tokoh pendukungnya lebih menarik daripada si Harry sendiri. I mean, seistimewa-istimewanya Harry, menurut gw dia itu anak yang plin-plan, kerjaannya pengsan mulu, makanya Ron dan Hermione bahkan Draco karakternya lebih interesting. Film-film Harry Potter lebih beruntung karena yang nonton sebagian udah kenal lebih dalam tokoh-tokohnya lewat buku, jadi apa yang diperagakan di film mungkin lebih understandable walau nggak terlalu komprehensif dijelaskan. Sementara di film Fantastic Beasts yang semuanya baru, buat gw agak kurang pas juga kalau diperlakukan seperti buku, dengan penggambaran karater-karakter serta situasi ceritanya yang terlalu perlahan dan...err...halaman demi halaman. Ini makin gw rasakan jelas dengan adanya "teknik" revelation di belakang sehingga baru jelas gambaran karakternya supaya menimbulkan efek kejut, tapi rasanya buat gw nggak sekejut itu sih, dan bahkan petunjuk-petunjuk ke arah sananya juga hampir nggak kelihatan saking "subtle"-nya sehingga malah terlihat "patah" ketimbang mengejutkan--terutama bagian buntutnya yang benar-benar gw nggak nangkep "lah gimana dia bisa tahu si anu itu begitu?". 

Dan, salah satu hal juga yang bikin gw tidak enjoy film ini dari yang seharusnya adalah seperti terlalu banyak situasi yang dijejalkan untuk bisa muat dalam ceritanya, dan rasanya emang seperti dijejalkan bukannya terangkum dengan enak. Oh, nuansa gambar yang mendung sendu, di era yang seharusnya ingar bingar hip-hip hura-hura uwuwu, juga kayaknya jadi faktor yang bikin gw merasa film ini agak merepresi potensi fun dan magical-nya. Tetapi ya, kalau dilihat dari jejak rekam si sutradaranya, kayaknya emang orangnya lebih cenderung begitu. Gw menyimpulkan bahwa Harry Potter and the Order of the Phoenix adalah film Harry Potter garapan David Yates paling berwarna, karena makin ke jilid akhir--Half-Blood Prince dan Deathly Hallows yang juga dibikin Yates--makin monokromatis dan gloomy. Eh, pas bikin The Legend of Tarzan baru lalu juga begitu gayanya, walau filmnya sendiri sedikit agak lebih cerah sih karena setting-nya tropis *apalah*.

Terlepas dari itu, secara produksi Fantastic Beasts ini bukan produk yang gagal amatlah. Desain produksi dan kostum yang megah (meskipun kurang warna) bisa bikin betah untuk menyaksikan film ini, apalagi adegan-adegan klimaksnya yang full-action dalam skala grand juga bisa dipersembahkan dengan seru--satu lagi karakteristik film-filmnya Yates. Waktu nonton dengan gimmick 3D ataupun IMAX 3D juga ternyata cukup menyenangkan. Buat gw, walau masih merasa kurang terpuaskan, secara umum film ini masih punya daya tarik waktu ditonton, bahkan gw nggak keberatan kalau film ini berlanjut dalam sekuel-sekuelnya, mungkin dalam setting sihir di lokasi dan peradaban berbeda--dan mungkin dengan style visual dan penuturan yang lebih lively. Bisa kali Alfonso Cuarón di-calling lagi =\.





My score: 6,5/10

Jumat, 18 November 2016

[Movie] Billy Lynn's Long Halftime Walk (2016)


Billy Lynn's Long Halftime Walk
(2016 - TriStar)

Directed by Ang Lee
Screenplay by Jean-Christophe Castelli
Based on the novel by Ben Fountain
Produced by Marc Platt, Ang Lee, Stephen Cornwell, Rhodri Thomas
Cast: Joe Alwyn, Garrett Hedlund, Kristen Stewart, Vin Diesel, Steve Martin, Chris Tucker, Makenzie Leigh, Deirdre Lovejoy, Bruce McKinnon, Arturo Castro, Mason Lee, Ismael Cruz Cordova, Barney Harris, Beau Knapp, Ben Platt


Sebesar apa pun respek gw sama Ang Lee serta upayanya untuk mencoba teknologi mutakhir pada film-filmnya belakangan (terakhir di Life of Pi), dan seharum apa pun kedengarannya film terbarunya ketika bintang-bintang terkenal seperti Vin Diesel, Kristen Stewart, Steve Martin, hingga Chris Tucker dinyatakan bergabung, seiring berjalannya waktu gw mengendus sesuatu yang fishy dari Billy Lynn's Long Halftime Walk. Selain judulnya yang ngerepotin dan kurang catchy apalagi buat gw yang orang Indonesia--karena "halftime" itu istilah olah raga American football, ada pula percobaan syuting menggunakan kamera 3D berkecepatan 120 frame per detik, yang artinya gambarnya akan 5 kali lebih halus daripada film biasa (atau mungkin 3 kali lebih halus daripada sinetron =P). Ini agak berisiko, karena terakhir film bioskop yang kecepatan frame gambarnya cepat adalah trilogi The Hobbit (48 frame per detik) yang sambutan terhadap kehalusan gambarnya tak selalu positif. Apalagi, mengingat teknologinya masih sangat baru, toh buntut-buntutnya Billy Lynn belum bisa diputar dalam format 120 frame per detik di sebagian besar bioskop umum jadi ya buat apa juga =_='. Akan tetapi, yang makin bikin heran adalah, dengan nama-nama besar serta cerita tentang patriotisme AS, kok ya sokongan studio Hollywood-nya terbilang minim. TriStar itu bukan label yang seutama Columbia di Sony Pictures, dan ternyata film ini banyak dibantu dari rumah produksi Inggris dan China. Semacam film indie tapi nggak juga.

Film ini mengisahkan tentang Billy Lynn (Joe Alwyn), tentara muda yang sedang pulang ke tanah airnya untuk melakukan sebuah tur media di AS bersama rekan-rekan yang baru bertugas di Irak, tepat setelah tindakan Billy melindungi sersannya, Shroom (Vin Diesel) dari serangan milisi Irak tertangkap kamera dan diberitakan di mana-mana. Billy jadi semacam lambang patriotisme AS dan akhirnya disuruh tampil demi misi "public relations". Tugas terakhirnya adalah tampil di acara panggung hiburan pengisi waktu istirahat halftime di sebuah pertandingan American football. Bukan tampil biasa, tapi bakal muncul bareng Destiny's Child (!) yang perform di sana, dan tentu saja disiarkan secara langsung di TV. Berkutat pada persiapan hingga kesudahan acara tersebut, cerita film ini berutur bolak-balik tentang apa yang terjadi pada Billy sebelumnya, mulai dari penugasannya di Irak, motivasinya, hingga reaksi keluarga tentang keadaannya sekarang terutama dengan saudarinya, Kathryn (Kristen Stewart) yang sebenarnya tak setuju dengan keberangkatan Billy ke medan perang.

Gw melihat sebenarnya film ini punya ide-ide menarik yang bermuara pada perang. Kisah film ini ingin menyorot soal perbedaan pandangan antara prajurit di lapangan dengan rakyat yang dibelanya tentang perang--di sisi sana penuh ancaman yang menguji rasa kemanusiaan dengan taruhan nyawa, di sisi sini anggap perang sesederhana pihak musuh mesti diberantas dan pihak kawan musti dielu-elukan dengan selebrasi. Film ini juga terlihat ingin menggali lebih dalam lagi tentang mempertanyakan apa motivasi mereka sebenarnya sampai harus berperang, trauma yang banyak menimpa veteran perang, peran media massa, hingga eksploitasi kisah tragis demi kepentingan segelintir orang. Dan banyak lagi persoalan seputar itu. Like, banyak banget. Yang gw sayangkan, banyaknya isu dan persoalan yang ingin ditengahkan oleh film ini tidak diikuti dengan penuturan yang luwes dan menggugah, kayak semuanya dilempar aja secara berderet dan bahkan acak sehingga nggak fokus sebenarnya statement apa yang ingin ditekankan di sini. Pada akhirnya mungkin mau menekankan pada kegalauan Billy antara tetap tinggal atau menaati penugasan kembali bertaruh nyawa di medan perang, tapi itu tidak dijalin dengan kuat dalam durasi ceritanya.

Tentu saja yang terbesit di pikiran gw kemudian adalah "ini filmnya Ang Lee?", karena gw merasa bahwa sensitivitas dramatik-nya doi seperti banyak diredam demi unsur-unsur yang seolah-olah terlalu berusaha menunjukkan "film ini (walaupun banyakan ngobrolnya) asyik lho, moderen abeiss". Ini terbukti dari film ini mencoba memunculkan banyak komedi dalam dialog, gaya editing "tiba-tiba" (kadang mengingatkan sama filmnya Lee juga, Hulk yang btw gw suka), grafis layar handphone, serta permainan filter gambar untuk adegan-adegan khayal. Well, buat gw film ini...emmm...seperti ada yang kurang sinkron antara muatan drama dengan keinginan untuk jadi "asyik" itu. Mungkin maunya seasyik Danny Boyle bikin Slumdog Millionaire yang konsep penuturan bolak-baliknya mirip. Tapi, jadinya ibarat ngeliat oom-oom manula yang udah puluhan tahun nggak olah raga nyoba senam zumba tanpa pemanasan, ritmenya nggak terkejar. Karakternya buanyak dengan statement masing-masing yang menarik, kalau lihat adegan per adegan sih bagus, pemainnya juga main bagus-bagus, tapi somehow jadi kurang menggigit karena nggak menyatu mulus dalam konstruksi keseluruhan ceritanya, gw gagal nangkep adegan-adegan ini hendak menyokong adegan/karakter/statement yang mana. 'Kan gregetan jadinya.

So yeah, film ini jatuhnya cukup jauh dari ekspektasi gw, dan mungkin dari ekspektasi banyak orang. Mulai dari yang sesederhana "film perang yang adegan perangnya cuma seiprit", which for me is fine asal bagian lain juga sama serunya, sampai bahwa film ini nggak bisa menggelitik sisi emosi seperti film-film Lee sebelumnya--you know bahkan film silat Crouching Tiger Hidden Dragon itu kuat di drama. Presentasi gambarnya pun buat gw nggak membantu untuk memberi nilai tambah, mungkin karena gw--dan practically 99,5% orang yang sudah dan akan nonton film ini di dunia--nontonnya bukan dalam format yang seharusnya yang 3D dan 120 frame per detik itu. Yang gw lihat di format 2D dan 24 frame per detik biasa hanyalah gambar jernih yang kurang warna dan at times seperti sinetron atau reality show (yang penuh rekayasa) di MTV. Mungkin gambar "sangat realistis" memang jadi tujuan presentasi film ini, tetapi buat gw, it's not pretty. Bisa jadi karena belum biasa, but still it's just weird

Yang akhirnya bisa gw beri ke film ini adalah respek pada usaha mencoba sesuatu yang baru, performa oke dari para pemain, pandangannya tentang isu perang, dan konsep ceritanya, sekalipun eksekusinya gw sangat kurang enjoy. Oh iya, lucunya sekalipun sejak awal pemberitaan film ini hendak mencoba breakthrough lewat teknologi visual, ranah teknis yang paling menonjol di sini justru malah sound-nya, megah sekali. Selebihnya, maaf-maaf saja. Dengan potensi yang sebesar itu, film ini sayangnya jadi karya yang termasuk lemah dari film-film bertema perang yang pernah gw tonton belakangan ini. Dan tentu saja, kekecewaan yang tak kalah besar adalah film ini nggak sanggup menampilkan Destiny's Child asli (yang sudah bubar) untuk reuni di film ini. Jangan-jangan mereka udah punya firasat makanya nggak mau...*ditimpuk high heels*.





My score: 6,5/10

Rabu, 16 November 2016

[Movie] Hacksaw Ridge (2016)


Hacksaw Ridge
(2016 - IM Global/AI Film Productions/Cross Creek Pictures/Lionsgate)

Directed by Mel Gibson
Screenplay by Robert Schenkkan, Andrew Knight
Produced by David Permut, Bill Mechanic, Brian Oliver, William D. Johnson, Bruce Davey, Paul Currie, Terry Benedict
Cast: Andrew Garfield, Luke Bracey, Hugo Weaving, Sam Worthington, Vince Vaughn, Teresa Palmer, Rachel Griffiths


Ada beberapa elemen yang bagi gw membuat Hacksaw Ridge ini sebuah proyek yang menarik. Sure, ceritanya yang diambil dari kisah nyata memang sudah sangat menarik, tentang seorang sukarelawan militer Amerika Serikat di Perang Dunia II yang ke medan perang tanpa membawa atau menembakkan senjata tapi berhasil tetap hidup dan menyelamatkan puluhan rekannya, which was basically a miracle. Tetapi, film ini juga didasarkan pada karakter yang sangat religius--dalam hal ini si Desmond Doss adalah penganut Kristen Adven, sehingga film ini bisa jadi bahan potensial sebuah "film rohani" yang kebetulan belakangan sedang naik-naiknya di Amerika. Nah, menariknya, film ini berada di tangan Mel Gibson, yang bukan hanya seorang bintang film terkenal kemudian juga sukses jadi sutradara film-film keren (Braveheart, Apocalypto), tetapi juga orang yang membuat film The Passion of the Christ, yang straightly religious but undoubtedly gory, sebagai film bertema religi terlaris sepanjang masa. Berdasarkan resumenya itu, kita nggak bisa berekspektasi bahwa Hacksaw Ridge akan jadi "film rohani" yang malu-malu menunjukkan "hal-hal nyata duniawi", apalagi ini film perang yang akan aneh kalau sisi violence-nya disembunyikan. Thus, film ini pun dirancang lebih aksesibel kepada penonton lebih luas, yah mungkin segaris sama "saudaranya", Unbroken.

Tumbuh besar di kota kecil dengan beberapa trauma tak membuat Desmond Doss (Andrew Garfield) luntur akan imannya, khususnya pada perintah "Jangan membunuh", yang menurut ibunya (Rachel Griffiths) adalah dosa yang paling dibenci Tuhan. Ketika Amerika terlibat Perang Dunia II dan banyak pemuda mengajukan diri untuk jadi tentara, Desmond juga terdorong untuk melakukan hal yang sama, sekalipun ditentang oleh ayahnya (Hugo Weaving) yang juga veteran perang yang kini pemabuk dan ringan tangan--untuk memukul bukan menolong. Tetapi, Desmond tidak berniat untuk mengangkat senjata dan membunuh, melainkan menolong orang sebagai paramedis di medan perang. Prinsip yang ia pegang ini membawanya pada masalah ketika di kamp pelatihan tentara, Desmond lulus di semua pelatihan kecuali menembak karena nggak mau pegang senjata--yo aneh tho tentara nggak latihan senjata. Namun, Desmond lewat pertolongan yang unexpected-but-not-really, Desmond akhirnya bisa memenuhi tekadnya, maju ke medan perang membela negara tanpa mempraktikkan kekerasan itu sendiri, dan ia bersikukuh melakukannya walau hanya sendiri.

Hacksaw Ridge muncul sebagai film sebagaimana diharapkan. Ini adalah satu lagi karya apik dari Gibson, yang menggali emosi mendalam dan menyajikan tontonan yang spektakuler sekaligus ironis. Film ini nggak ragu dalam menunjukkan dahsyatnya perang, walaupun adegan perangnya hanya di satu lokasi pertempuran (selama berhari-hari sih) di salah satu pulau di Okinawa, Jepang. Yah, selain tembak dan ledak, luka tembak dan potongan tubuh juga tak segan ditunjukkan. Tetapi, ini sesuai dengan point film ini sejak awal, bahwa sosok dan prinsip Desmond--setuju ataupun tidak dengan motivasinya--menjadi sesuatu yang luar biasa bertolak belakang dengan keadaan sekitarnya. Tujuannya hanyalah menyelamatkan rekan-rekannya yang terluka, dan ketika jumlah yang harus ditolong itu secara logika melebihi kemampuannya, dia tetap melakukannya. Paradoks ini juga dipakai saat menceritakan Desmond masih di kamp pelatihan militer, ketika dia dihadapkan pada tuntutan untuk membawa senjata sekalipun hanya untuk syarat kelulusan.

What I find interesting, di antara dua situasi itu, sikap Desmond digambarkan tetap sama, sementara orang-orang sekitarnya malah banyak berubah: awalnya menggebu-gebu ingin menghajar musuh, pas di medan perang malah frustrasi berjamaah karena medan perang ternyata bukanlah ajang gagah-gagahan seperti bayangan mereka--apalagi mengingat sebagian besar mereka ini semacam tentara dadakan darurat perang, bukan disiapkan bertahun-tahun seperti militer seharusnya. Bahwa ternyata Desmond ini sosok betulan ada dan kisahnya lebih kurang seperti yang digambarkan di film ini emang bikin tercengang ya, dan gw rasa film ini bisa merepresentasikannya dengan cukup baik. Dan itu lengkap dengan pesan bahwa perang cuma bawa derita termasuk yang bertempur langsung maupun yang sudah pulang dari sana. Dan, mudah juga untuk berpihak sama Desmond, yang kehidupannya nggak sempurna tapi nggak menjadikan itu alasan untuk jadi orang yang berantakan, malah kemudian punya kontribusi besar bagi sesamanya.

Namun, sejauh apa pun gw admire film ini, gw masih merasakan ada yang loose. Bukan dari segi cerita atau isinya, apalagi akting dan nilai produksinya yang keren, melainkan hal yang teknis saja, yaitu filmnya bisa di-trim lebih rapih lagi. Buat gw  sejam pertama film ini banyak menampilkan hal-hal yang terlalu mengulur waktu, terutama "perkenalan" rekan sekompinya Desmond yang yaampun lama benerrr, apalagi itu jadi kebaca banget sebagai suatu usaha membangun simpati dan memberi petunjuk bahwa di bagian cerita selanjutnya pasti di antara mereka ada yang kenapa-kenapa. Sejam berikutnya mungkin lebih "menghibur" (sebuah penggambaran yang aneh tapi ya begitulah), tetapi gw juga melihat adegan pertempurannya agak random gitu presentasinya--siapa di mana dan udah sampai mana. Yah, kalau mau dimaklumi, mungkin itu gambaran medan perang yang dirasakan Desmond, random, kacau, tetapi fokusnya tetap pada menolong yang luka.

Nevertheless, sebagai sebuah kisah nyata yang mengandung inspirasi, Hacksaw Ridge tetap berhasil di berbagai lini. Pembangunan karakter utama serta tujuan ceritanya sudah kuat sejak awal, dan pada saat-saat yang diperlukan mampu menampilkan humor yang tak kelewat batas dan menggugah emosi tanpa harus berlaku cengeng (I'm lookin' at ya Fury -_-). Bahkan bisa dibilang ini tetap jadi film yang sebenarnya bisa dinikmati sebagai sebuah film sekalipun tanpa embel-embel "kisah nyata" atau "inspiratif". Oh, gw udah bilang akting pemainnya bagus-bagus? Sam Worthington sih masih gitu-gitu aja ya, cuma film ini jadi bisa begitu efektif juga karena performa Andrew Garfield dan Hugo Weaving yang luar biasa. Dan ultimately, senang juga bahwa oom Gibson, sekalipun agak terbuang di Hollywood karena kehidupan pribadinya--makanya film ini diproduksi di Australia, tetap mampu menunjukkan diri sebagai pembuat film berkualitas dan punya cita rasa. 





My score: 7/10

Senin, 14 November 2016

[Movie] Shy Shy Cat (2016)


Shy Shy Cat
(2016 - Starvision)

Directed by Monty Tiwa
Written by Adhitya Mulya, Monty Tiwa
Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Cast: Nirina Zubir, Acha Septriasa, Tika Bravani, Fedi Nuril, Titi Kamal, Soleh Solihun, Budi Dalton, Fitria Sechan, Iszur Muchtar, Juwita Bahar, Adelia Rasya


Apa yang kita harapkan dari film yang judulnya peng-Indonesiaan bahasa Inggris seperti Shy Shy Cat (maksudnya 'malu malu kucing', yea I know, kayak lawakan bapak-bapak emang) ini? Sebagaimana dari judulnya saja sudah norak, we can expect filmnya juga demikian. Hanya saja, film ini punya sederet nama yang selayaknya bikin kita nggak bisa begitu saja menyepelekannya. Ada sineas Monty Tiwa, dengan Nirina, Acha Septriasa, dan Tika Bravani, tiga aktris ternama pemenang Piala Citra era milenium, ditambah Titi Kamal yang juga sedang comeback, dan model menantu impian ibu-ibu bernama Fedi Nuril, paling nggak diharapkan kekonyolan dan kenorakan film ini bisa naik ke level yang lebihlah. Dan, that's exactly what we'll get.

Inti cerita Shy Shy Cat adalah pada bankir sukses di Jakarta, Mira (Nirina Zubir) harus pulang ke kampungnya di pegunungan Jawa Barat demi memenuhi nazarnya kepada orang tua: kalau umur 30 tahun belum juga punya pacar, dia harus dijodohkan sama teman kecilnya bernama Otoy. Mira mengajak dua roommate-nya yang berkepribadian nyentrik: Umi (Tika Bravani) yang berkondisi mood-swing, serta Jessy Bom (Acha Septriasa), aktris film esek-esek yang centil. Rencananya, Mira mau menggagalkan perjodohan dengan cara Umi atau Jessy pura-pura merebut hati Otoy. Saat tiba di kampung, masalah tak terduga harus dihadapi. Pertama, ternyata Otoy bentukannya adalah Fedi Nuril, yang membuat Umi dan Jessy benar-benar rebutan perhatiannya. Kedua, ternyata juga Otoy adalah sosok pemuda panutan yang hendak dijadikan pewaris padepokan pencak silat Abah-nya Mira (Budi Dalton). Jadi, bukan cuma mau menghindari perjodohan dengan orang yang (sepertinya) tak ia suka, Mira juga harus membuktikan bahwa meskipun dia lama nggak tinggal di kampung, ia tetap layak untuk ambil bagian dari heritage keluarganya. Penentuannya, tentu saja ada duel silat =D.

Dari sekian kali nonton film garapannya Monty Tiwa, gw memang merasa jagonya beliau adalah saat di komedi. Bahkan di film-filmnya yang paling drama kayak Sabtu Bersama Bapak dan Aku Ingin Ibu Pulang sekalipun, porsi komedinyalah yang biasanya paling kena. Mungkin karena itulah, ketika Shy Shy Cat sudah di-set jadi komedi "norak", beliau jadi leluasa mengeluarkan jurus-jurus komedinya, yang sebagian besar sukses membuat gw tertawa. Hanya sedikit slapstick, sebagian besar main di benturan karakter-karakter aneh, absurditas keadaan, dialog witty, penciptaan judul-judul film "panas" dan lagu supernorak, sampai ke meta film-filmnya Fedi Nuril terdahulu (pria yang disukai beberapa wanita sekaligus, agamis, kuliah di Mesir, isu poligami, hingga menolong perempuan yang ditinggalkan pasangannya =D). Gw nggak bisa pungkiri gw sangat terhibur, cukup sering tertawa, apalagi para aktornya juga bermain asyik dan santai walau tidak sekalipun terlihat asal-asalan. Perhatian utama akan tertuju pada karakter Jessy Bom yang mungkin jadi peran "nakal" pertama dari Acha and she nailed it marvelously, juga Umi yang dimainkan dengan jenaka oleh the ever-articulate Tika Bravani.

Di luar haha-hihinya itu, film ini juga menyelipkan beberapa isu yang agak serius, walau memang dibawakannya lebih komikal. Sentral cerita film ini sebenarnya adalah soal perubahan sosial, dengan perbandingan si Mira yang merantau terus dan si Otoy yang berusaha memajukan kampung halamannya. Lalu dengan masuknya karakter sahabat kecil Mira, Inul (Titi Kamal), film ini juga menyinggung isu praktik kawin muda di kampung-kampung, bukan saja karena masalah pendidikan, tetapi juga ekonomi, hanya karena pilihan solusi di lingkungan mereka sangat terbatas. Ini isu-isu yang menurut gw cukup menarik dibahas, dan dalam film ini gw merasa pembuatnya sudah bisa menyampaikan maksudnya tersebut dengan baik.

Nah, problemnya, tidak semua isu tersebut bisa blend dengan mulus dalam ceritanya. Problem ini sebenarnya sudah gw rasakan sejak awal ketika perkenalan ketiga karakter cewek utamanya agak muter-muter, bahkan purpose awalnya mereka adalah liburan ke Eropa (yang adalah meta film-filmnya Acha =P), sampai akhirnya beberapa lama (dan terasa lama) kemudian harus di-alihkan ke Mira pulang kampung. Liburan ke Eropanya nggak dibahas lagi. Lalu, walau gw sendiri menikmati kisah mereka saat sampai di kampung, gw masih juga merasakan cerita-cerita tambahan yang lagi-lagi nggak di-setup dari awal. Masih nyambung dan logis sih, cuma kayak terlalu ditempel supaya ada klimaks aja.

Akan tetapi, gw harus kembali sadar pada setting-an film ini yang pada intinya adalah memberikan hiburan komedi, dan itulah yang gw dapatkan. Isu-isu serius yang diangkat biarlah gw anggap bonus supaya film ini nggak terkesan kopong esensi atau cuma deretan sketsa tak berkesinambungan atau hanya sebagai pengisi kuota produksi tahunan PH-nya. Toh, orang-orang yang terlibat di dalamnya nggak sepenuhnya menanggalkan keterampilan dalam membuat filmnya, yang membuatnya beda dan lebih berkelas dari film-film komedi norak lainnya. Deretan pemainnya bermain asyik dan lepas, penggarapan produksinya safe dan nyaman ditonton, dan setelah nonton gw merasa gembira. Itu cukup.




My score: 7/10

Sabtu, 12 November 2016

[Movie] Terpana (2016)


Terpana
(2016 - Metafor Pictures)

Written & Directed by Richard Oh
Produced by Richard Oh
Cast: Fachri Albar, Raline Shah, Reza Rahadian, Aghi Narottama, Uwie Balfas, Poppy Sovia


Setiap seniman, pada hakikatnya bebas mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya dalam bentuk ekspresi apa pun dan bagaimanapun. Cuma, menurut gw, jago atau tidaknya seorang seniman tersebut juga bisa diukur dari bagaimana dia bisa membuat audiensnya nyambung sama apa yang dia ingin sampaikan. Kalau konteksnya film, beberapa orang memutuskan untuk "berkompromi" dengan jalan pikiran audiens sehingga filmnya bisa semudah mungkin dipahami bahkan diresapi, tentu saja dengan kadar kompromi berbeda-beda ya. Tetapi, ada juga orang-orang lain--atau mungkin orang-orang yang sama dalam fase waktu berbeda--yang memilih tidak berkompromi dan fokus pada caranya sendiri, karena harus diakui, sesempit apa pun segmennya, pasti ada saja audiensnya, sesempit apa pun segmennya *diulang*. Kenapa gw mengawali review ini dengan random adalah semata-mata terpengaruh pada filmnya sendiri yang random se-random-random-nya, karena si pembuat film ini bebaaaas sebebaaas-bebaaassnya dalam mengekspresikan maksud hati dan pikirannya, itu pun kalau ada yang nangkep maksudnya itu apa. Sebelum berprasangka buruk, gw jamin, pasti ada saja audiens yang nyambung sama film ini. Hanya, gw nggak termasuk di sana.

Terpana punya premis yang asyik. Rafian (Fachri Albar) hampir ditabrak truk jika saja tidak tertegun pada kecantikan Ada (Raline Shah) yang ada di seberang jalan. Ia lalu mendatangi Ada dan menawarkan ide bahwa pertemuan mereka bukan kebetulan, sementara Ada justru berpikir sebaliknya, everything happen by chance. Menarik kan? Romantis pula. Tetapi, bagian yang gw paham cuma sampai di situ. Sebab....apa ya...mau mendeskripsikannya lagi dalam bentuk tulisan juga bingung. Film ini nggak ada ceritanya, isinya hanyalah dialog antara Rafian dan Ada, tetapi itu masih fine kalau film ini menampilkan kerangka tempat, waktu, atau karakterisasi yang jelas, yang ternyata tidak demikian. Dan, yang bikin gw frustrasi adalah: sampai saat ini gw nggak ngerti kenapa dan untuk apa si pembuat filmnya bikin film ini. 

Setelah melewati beberapa waktu kontemplasi, gw melihat bahwa Terpana ingin menitikberatkan hanya pada dialognya, pertarungan ide dari dua karakter--yang sebenarnya gw perhatikan kemudian seringkali tertukar-tukar kepribadian dan cara berpikirnya, weird. Memasukkan kalimat-kalimat andai dengan istilah-istilah matematika fisika--dari trajektori hingga probabilitas hingga filsafat manusia goa--yang seolah ingin pamer tingkat intelejensia atau minimal referensi bacaan dari tokoh-tokohnya, yang malah makin mendorong gw bikin petisi ke bioskop supaya jual obat sakit kepala. We've been through this already, judulnya Supernova, and look what happened. Tetapi, ya mungkin itu yang ingin dititikberatkan di sini, disuruh perhatikan dialognya, terlepas dari lokasinya yang lompat-lompat Jakarta-Medan sesuka hati, tanpa continuity, lalu seolah ada siklus pengulangan lagi, pokoknya yang penting ngobrol terus dengan kalimat-kalimat yang mudah-mudahan quotable. Again, terserah deh mau gimana bikin filmnya, tetapi, gw tetap nggak nangkep maksudnya apa. Apakah ingin menggambarkan sensasi jatuh cinta melintasi batas ruang waktu dan dimensi, atau justru memang tujuannya membuat audiens bertanya-tanya apa maksudnya, gw nggak tahu...dan in the end gw nggak peduli lagi. Bebas. Terserah.

Akan tetapi, ada satu hal yang menurut gw nggak boleh diloloskan dengan penilaian "bebas" dan "terserah", yaitu pemilihan pemain. Begini, dialog mau se-"pintar" apa pun, kalau delivery-nya kagok, it wouldn't sound so smart anymore, would it? Itulah yang menurut gw problem utama film ini (dari sekian problem gw terhadap film ini). Fachri dan amat terutama Raline adalah pemain berbakat dengan kerupawanan dan screen presence tinggi, tetapi itu jadi tak berguna ketika dialog-dialog yang dipaksakan untuk keluar dari mulut mereka tidak membuat gw yakin bahwa itu benar-benar diucapkan dari diri mereka. Malah mereka seperti sama bingungnya sama gw. Yang paling menyakitkan, mereka harus dibandingkan dengan salah satu tokoh pendukung/cameo/random guy mereka, Reza Rahadian, yang berhasil mengucapkan tiap-tiap kata yang sekalipun gw ragu maksudnya apa tapi at least diucapkan dengan meyakinkan. Artikulasi itu penting, apalagi untuk film yang berat di dialog seperti ini.

Gampangnya, gw nggak bisa pura-pura menikmati Terpana. Selain penataan gambar yang bening dan Raline yang lebih teramat bening, gw barely dapet apa-apa dari film ini. Gw nggak bisa bilang mind-provoking juga. Kalau mau diungkap secara dangkal dan nonakademis, gw lebih merasa seperti diolok "bingung 'kan lo? bingung 'kan lo?" daripada di-provoke =(. Gw sendiri membayangkan bahwa mungkin cerita ini lebih works kalau dalam bentuk literatur, sehingga imajinasi audiens tidak dibatasi oleh pemain dan teknisnya, misalnya. Soalnya, visual yang tidak pernah koheren di film ini malah lebih mendistraksi daripada membantu gw untuk memahami. Tetapi, siapalah saya berani-berani memberi saran. Lagipula, apakah saya menulis ini karena kehendak bebas atau ada kuasa lain yang menentukan, dan apakah saya benar-benar ada di realitas ini jika definisi realitas itu tak lain hanyalah segala yang ditangkap indera yang bisa saja dimanipulasi. Oh, kalau itu gw dapatnya dari The Matrix, dan gw paham cerita The Matrix. Mohon maaf kalau review ini juga saya tutup dengan random. Terima kasih. Bye.





My score: 5,5/10

[Movie] Trolls (2016)


Trolls
(2016 - DreamWorks Animation/20th Century Fox)

Directed by Mike Mitchell
Screenplay by Jonathan Aibel, Glenn Berger
Story by Erica Rivinoja
Based on the Good Luck Trolls created by Thomas Dam
Produced by Gina Shay
Cast: Anna Kendrick, Justin Timberlake, Zooey Deschanel, Christopher Mintz-Plasse, Christine Baranski, Russell Brand, Jeffrey Tambor, John Cleese, James Corden, Kunal Nayyar, Quvenzhané Wallis, Gwen Stefani


Gw kurang paham bagaimana penantian terhadap film-film DreamWorks Animation sekarang bisa nggak se-exciting dulu. Mungkin karena kuantitasnya terlalu banyak dalam waktu berdekatan atau karena hal lain. DreamWorks Animation juga belakangan lebih banyak menelurkan film-film adaptasi materi lain ketimbang konten orisinal, selain kecenderungan lama mereka membuat sekuel dari segala film yang sukses. Tetapi, lepas dari itu, kemunculan Trolls mungkin yang paling mending hype-nya. Selain pengisi suaranya terkenal--sebagaimana kebiasaan DreamWorks, film ini juga udah melempar lagu soundtrack yang nge-hit sejak awal tahun, "Can't Stop the Feeling" dari Justin Timberlake. Oh, dan film ini adalah adaptasi dari seri boneka Trolls yang rambutnya warna-warni berdiri itu, tapi ya nggak ngaruh juga kali ya, di kita juga kurang terkenal.

Trolls adalah sebuah animasi musikal dengan jalan cerita bak dongeng klasik, tetapi diberi sentuhan modernitas, baik dari musiknya maupun cara berpikirnya. Dikisahkan di sebuah negeri ada makhluk mungil pecinta segala sesuatu yang menggembirakan yang disebut troll, serta makhluk yang lebih besar yang disebut bergen yang tidak tahu caranya bergembira. Para bergen pun memutuskan mereka harus memakan troll secara berkala supaya bisa gembira. Suatu waktu para troll berhasil kabur dari jajahan para bergen, sehingga mereka bisa hidup damai jauh dari ancaman bergen

Dua dekade kemudian, Poppy (Anna Kendrick), putri dari raja Peppy (Jeffrey Tambor) hendak merayakan 20 tahun kebebasan kaum troll dengan pesta gede-gedean, meskipun troll pemarah dan pesimistis bernama Branch (Justin Timberlake) memperingatkan jangan sampai mereka menarik perhatian para bergen. Tetapi, mungkin karena sudah merasa terlalu nyaman dan aman, Poppy dan kawan-kawannya mengabaikan seruan Branch yang dianggap nggak asyik itu =D. Benar saja, pesta besar mereka mengundang para bergen untuk datang dan kembali menculik mereka. Poppy yang berhasil lolos merasa bertanggungjawab dan bertekad menyelamatkan kawanannya bersama Branch, sekalipun sifat mereka bertolak belakang.

Plot utamanya mungkin nggak istimewa sih, ya sebagian yang namanya film fantasi petualangan semua umur pasti polanya kayak begini. Namun, seperti gw singgung tadi, gw suka sama beberapa angle yang ditampilkan film ini sehingga tetap terasa kekinian. Pertama adalah bahwa inisiatif untuk tindakan penyelamatan adalah dari karakter bergender perempuan, bukan jenis "putri-putrian" yang mesti diselamatkan oleh orang lain. Kedua, film ini cukup bisa menempatkan karakter yang bertampang jelek dan dicap jahat, yaitu para bergen menjadi nggak jahat sepenuhnya, tapi karena misunderstanding aja--walau tokoh yang mutlak jahat tetap ada. Lalu ada pula inklusi playlist lagu-lagu top 40 sepanjang masa yang dipilah-pilih dengan cukup jeli sehingga masuk aja sama ceritanya, bukan cuma tempelan semata. Alhasil, walau sekilas tampak berwarna-warni haha-hihi, Trolls bisa membawakan sedikit "isi"-lah walau nggak berat-berat amat. Bahkan mungkin kalau mau dibilang ada unsur yang mirip Inside Out, yaitu soal tokoh ceria dan tokoh pemurung disatukan dalam sebuah petualangan, cuma yang di Trolls jatuhnya lebih ringan.

Meski demikian, other than that, kadang gw juga merasa apa yang mau disampaikan oleh film ini agak terlalu obvious, apalagi seiring cerita bergulir pesan-pesan itu semakin verbal. Nggak masalah sih sebenarnya, berhubung filmnya ditargetkan untuk semua umur, tetapi yah jatuhnya terlalu generik aja. Soal rangkaian leluconnya juga kayaknya nggak terlalu banyak yang bikin gw ketawa, standar saja, tetapi nggak sampai pada tahap mengesalkan atau terlalu polos, cukup saja. Mungkin gag yang menurut gw paling lucu adalah karakter troll yang bertubuh glitter suaranya pakai auto-tune =D. Well, konsep makhluk-makhluk hutan yang fluffy kayak dari bahan hobby craft tapi berbahaya itu juga lucu sih.

Dengan ledakan warna dan musik asyik, Trolls jadi sebuah tontonan animasi yang overall menyenangkan, ala DreamWorks, in a good way. Ceritanya mungkin nggak groundbreaking, namun film ini nggak gagal untuk menghibur, baik (mungkin) yang usianya masih kecil, maupun yang udah besar, dan pesannya juga positif serta mudah dimengerti. Atau mungkin juga ini hanya karena gw cenderung suka film musikal dan Trolls memunculkan unsur itu dengan enak sekali. Again, terbukti bahwa memang ini film DreamWorks Animation yang tergolong lebih mendingan di antara film-film mereka yang rilis belakangan ini.





My score: 7,5/10

Jumat, 11 November 2016

[Movie] Catatan Dodol Calon Dokter (2016)


Catatan Dodol Calon Dokter
(2016 - Radikal Films/CJ Entertainment)

Directed by Ifa Isfansyah
Screenplay by Ardiansyah Solaiman, Chadijah Siregar
Based on the book "Cado Cado" by Ferdiriva Hamzah
Produced by Ardiansyah Solaiman
Cast: Adipati Dolken, Tika Bravani, Aurelie Moeremans, Adi Kurdi, Ali Mensan, Rizky Mocil, Albert Halim, Cindy Valery, Rizka Dwi Septiana, Amec Aris, Torro Margens


Cukup aneh ketika film atau sinetron kita sering banget tampilkan karakter dokter--apalagi kalau adaptasi novel Mira W., tetapi hampir belum pernah ada yang mengisahkan secara spesifik kehidupan dokter, kecuali kalian sudah setua itu dan ingat sinetron yang dibintangi Dewi Yull dan Dwi Yan zaman 1990-an dulu, gw sih nggak inget =P. Makanya, film Catatan Dodol Calon Dokter (atau Cado Cado) beruntung bisa muncul sebagai film Indonesia (mungkin) pertama yang membahas tentang kehidupan dokter di Indonesia, dan didukung oleh materi buku aslinya--buku kumpulan cerita pengalaman sebagai calon dokter atau ko-asisten di sebuah rumah sakit--yang ditulis oleh lulusan kedokteran beneran, bukan lulusan Google atau Wikipedia, hehehe. In fact, filmnya juga meminjam karakter si penulis, Ferdiriva Hamzah dan kawan-kawannya sebagai karakter utama, meski ceritanya sendiri tidak dijamin nyata.

Catatan Dodol Calon Dokter dikemas dalam gaya drama komedi ringan dengan sentuhan romansa, tetapi dengan purpose sebagaimana profesi tokoh-tokohnya di dunia kedokteran, which is jadi dokter. Dikisahkan Riva (Adipati Dolken) ikutan sahabat lamanya, Evi (Tika Bravani) dan Budi (Ali Mensan) masuk kedokteran, dan ikut program ko-as barengan di sebuah rumah sakit di Jakarta. Berhubung masih dalam tahap "calon dokter" tentu banyak kekeliruan dan kedodolan yang mereka alami dan lakukan, termasuk bertemu dengan berbagai macam karakter. Namun, sebuah program baru memaksa mereka untuk lebih serius lagi dalam menjalani hari-hari mereka. Profesor Burhan (Adi Kurdi) menyatakan akan memberikan beasiswa ke Korea kepada salah satu anak ko-as-nya, yang dibagi dalam dua grup. Riva dan Budi gabung di satu grup, dan Evi ada di grup saingan mereka. Masalah jadi pelik ketika masuk Vena (Aurelie Moeremans), calon dokter "titipan" pemilik yayasan rumah sakit, yang cantik dan menarik perhatian Riva, yang jadi memperkeruh hubungan Riva dengan sahabat-sahabatnya, terutama dengan Evi.

Jujur gw awalnya punya doubts terhadap film ini. Rumah produksinya terbilang masih asing di telinga, para pemainnya rather dikenal karena popularitas ketimbang karena level aktingnya--ya gw tahu Adipati pernah menang Piala Citra but still... Okelah sutradaranya Ifa Isfansyah yang punya reputasi baik di perfilman (Sang Penari, 9 Summers 10 Autumns), tetapi film-film Ifa menurut gw tidak selalu stabil kualitas hasil akhirnya jadi tetap ragu, dan Cado Cado ini lebih condong ke komedi romantis yang komikal sementara selama ini seringan-ringan-nya film Ifa adalah Garuda di Dadaku. How is this gonna work

Tapi, it works. Gw juga cukup kaget bahwa segala formula tadi berhasil disajikan dengan enak. Dari perkenalan karakternya, flow ceritanya, dialog-dialognya, konflik yang pelan-pelan diperkenalkan, bahkan termasuk sedikit seluk-beluk dunia kedokterannya yang cukup detail, gw merasa mudah terbawa dan terima aja apa yang disajikan, atau singkatnya gw menikmatinya, lebih dari yang gw antisipasi. Penggarapan teknisnya yang serius dan rapi, mulai dari desain produksi, sinematorafi, efek visual (yup) dan efek makeup, suara dan musik, sangat-sangat membantu untuk memberikan nilai pada film ini. Salah satu keberhasilan istimewa film ini adalah menimbulkan tension setiap ada adegan prosedur kedokteran seperti jahit atau bedah, hebat.

Dan, gw juga nggak akan lupa memberikan salut pada deretan pemainnya yang bermain asyik juga. Bukan cuma Tika Bravani atau Adi Kurdi yang memang dikenal sebagai pemain kawakan, tetapi Adipati dan even Aurelie bisa memberikan performa yang pas untuk cerita dan genre ini, beserta pemain-pemain tambahan lain. Mereka pula yang menurut gw bisa sedikit menambal kurangnya pengembangan dari karakter-karakter tambahannya. Di satu sisi mungkin mereka semacam jadi "pagar" untuk membuat atmosfer komikalnya tetap terjaga bahkan ketika filmnya mulai bergeser ke topik yang lebih serius--seperti soal cinta dan mempertanyakan lagi motivasi jadi dokter selain jadi kaya dan naik kasta. Namun, di sisi lain memang jadinya eksistensi mereka agak ilang-ilangan, fungsinya nggak lebih dari comic relief, untungnya kecuali Torro Margens sebagai bapaknya Riva yang turned up to be brilliant at the end. Plus, gw juga masih merasakan kecenderungan sisi cinta segitiga yang kurang seimbang, karena "orang ketiga"-nya buntut-buntutnya dirancang memang nggak pantas dipilih. Memang memperkuat tema "buat apa jadi dokter", tetapi jadinya membuat pilihan si tokoh utama terlalu mudah, kalau menurut gw ya.

Di luar itu, tetap saja, gw nggak bisa menghilangkan rasa bahwa gw menikmati film ini sebagaimana adanya. Nggak cuma lucu-lucuan, tetapi juga ada layer lain berupa knowledge tentang sebuah profesi, maupun layer emosi saat kita disadarkan bahwa dokter dan calon-calon dokter ini juga manusia, dihadapkan pada pilihan-pilihan moral baik untuk diri sendiri maupun orang lain, dan bahwa most of their time diabdikan buat pekerjaan, drama-drama kehidupan mereka secara pribadi juga terjadi di sekitar sana. Bagaimana caranya sisi komikal dan sisi memanusiakan tokoh-tokohnya itu bisa nyatu dengan baik di film ini gw juga nggak tahu, pokoknya buat gw hasilnya asyik ditonton.





My score: 7,5/10

Jumat, 04 November 2016

[Movie] Doctor Strange (2016)


Doctor Strange
(2016 - Marvel Studios)

Directed by Scott Derrickson
Screenplay by Scott Derrickson, C. Robert Cargill
Story by Jon Spaiths, Scott Derrickson, C. Robert Cargill
Produced by Kevin Feige
Cast: Benedict Cumberbatch, Chiwetel Ejiofor, Tilda Swinton, Rachel McAdams, Benedict Wong, Mads Mikkelsen, Michael Stuhlbarg, Benjamin Bratt, Scott Adkins


Mumpung lagi era keemasan Marvel Studios, dalam artian mereka mau bikin film apaan juga pasti laku, maka dimunculkanlah sosok superhero paling out of this world mereka. Yah, ketika Thor atau Guardians of the Galaxy masih "kurang jauh" imajinasinya, sekarang giliran kekuatan mistis antardimensi yang dibahas, dengan sosok Doctor Strange. Didukung sama cast terkenal dan konsep gila-gilaan, Doctor Strange sepertinya akan jadi film superhero Marvel yang menyegarkan dan beda dari yang sebelum-sebelumnya. Well, ternyata, menyegarkan mungkin iya. Beda? Belum tentu.

Film Doctor Strange adalah sebuah cerita asal muasal tentang si titular character, yang ternyata bukan nama samaran, karena itu memang namanya. Dokter Stephen Strange (Benedict Cumberbatch) adalah seorang dokter ahli bedah di New York yang terkenal sangat jago ditambah kepribadiannya yang antara asyik dan angkuh. Namun, suatu malam sebuah kecelakaan membuat ia kehilangan aset penting dalam profesi dan kehidupannya. Kini Stephen tak bisa lagi membedah, dan nggak bisa lagi jadi dokter, semua yang membuat dirinya berada di titik teratas musnah. Di tengah-tengah depresi dan terapi, Stephen mendapat petunjuk tentang sebuah penyembuhan "alternatif" di Nepal. Di sana ia bertemu dengan sosok yang disebut The Ancient One (Tilda Swinton) yang katanya emang sudah berumur sangat banyak, serta murid kepercayaannya, Mordo (Chiwetel Ejiofor). Alih-alih mendapat kesembuhan, Stephen justru dibukakan pada misteri semesta, karena perguruan yang disebut Kamar-Taj itu mengajarkan pengikutnya untuk menjaga keseimbangan kekuatan baik dan jahat dengan ilmu yang, well, pada dasarnya adalah yang biasa kita sebut sihir. 

Di saat yang sama, mantan murid terbaik Kamar-Taj, Kaecilius (Mads Mikkelsen) telah berbelok ke sisi gelap. Ia bersama beberapa pengkut setianya berhasil mencuri sebuah ilmu rahasia yang digunakan untuk memanggil penguasa dunia kegelapan, Dormammu, untuk bisa menguasai bumi dan menjadikannya salah satu koleksi di alam gelap. Stephen dengan ilmu barunya yang berkembang sangat cepat kemudian juga ikut terseret dalam polemik ini.

Gw menikmati Doctor Strange sebagai sebuah spektakel yang cukup mengagumkan. Konsep tentang dunia mistis, perpindahan dimensi, rekayasa ruang dan waktu, semuanya bisa dieksekusi dengan keren. Nggak membingungkan--atau karena gw orang Indonesia yang lebih gampang iya-iya aja sama hal berbau "mistis", dirangkai dalam konsep desain visual yang membelalak mata, mulai dari kostum, desain set, hingga pameran efek visual seperti gambar-gambar ilusi mata yang dulu sering di-share teman-teman Facebook kita sebelum dicemari politik, dan bisa cocok juga saat dijadikan alat humor. Mungkin masih dengan kecenderungan Marvel bahwa yang penting seru dan menyenangkan, film tentang perang kekuatan sihir ini masih bisa merengkuhnya menjadi sebuah sajian yang menghibur. 

Akan tetapi, yang sedikit mengganggu gw adalah bagaimana secara konten dan esensi, film ini nggak ada bedanya sama Iron Man atau Ant-Man. Memang sama-sama kisah asal-muasal superhero kita jadi superhero, tapi bukan berarti cara perkenalan karakter dan konfliknya musti disamain banget 'kan? Gw agak menggerutu ketika di awal film ini ya ampun dialog-dialog dan adegannya kok kelihatan banget generiknya, kalau nggak mau disebut basi. Lalu bagaimana plotnya berkembang saat terungkap bahwa tokoh-tokohnya tidak seperti Stephen dan kita kira juga, halah di mana-mana juga begitu, seperti hanya menyalin pakem dari kisah-kisah silat--mungkin berhubung ilmu yang didapat Stephen letaknya di Asia dan memang ada unsur kung-fu gitu deh.

Untunglah, film ini kemudian bisa mengkompensasinya dengan penataan adegan-adegan yang itu tadi, konsepnya keren dan dieksekusi keren juga. Pertarungan-pertarungan mistisnya bisa berjalan dengan seru tanpa halangan, termasuk pertarungan di alam arwah =). Ketika klimaksnya gw pikir cuma Marvel-CGI-mass-destruction-routine, ternyata dibalikkan *hehe* dengan cara yang menurut gw sophisticated. Belum lagi film ini ada tema yang menurut gw bisa menyelamatkan film ini dari kesan dangkal, mulai dari persoalan kebanggaan kita sebagai manusia fana yang lenyap tiba-tiba, we can't always be in control of everything, dan tentang begitu banyak hal yang tidak kita ketahui tentang hidup dan dunia ini *tsaaah*. Yah, bisa dibilang gw lagi-lagi bisa teperdaya oleh Marvel dengan film yang kontennya sebenarnya agak biasa-biasa tapi dibungkus dalam kemasan yang sangat apik, dan nggak apa-apa juga sih.





My score: 7,5/10

Rabu, 02 November 2016

[Movie] The Accountant (2016)


The Accountant
(2016 - Warner Bros.)

Directed by Gavin O'Connor
Written by Bill Dubuque
Produced by Lynette Howell Taylor, Mark Williams
Cast: Ben Affleck, Anna Kendrick, J.K. Simmons, Jon Bernthal, Jeffrey Tambor, Cynthia Addai-Robinson, John Lithgow, Jean Smart, Alison Wright, Andy Umberger, Jason Davis, Robert C. Trevelier


Terlepas dari peran Batman, sepertinya Ben Affleck mulai terjun ke peran oom-oom jagoan di film action orisinal, walau usianya sih masih lebih muda dibanding Liam Neeson, Kevin Costner, dan Keanu Reeves dengan peran-peran serupa. Untungnya, serupa tak berarti sama. Di film The Accountant, Affleck berperan sebagai Christian Wolff, yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang akuntan yang sangat andal, tetapi ia punya kehidupan lain di baliknya. Pertama, dia berkondisi autisme, sehingga interaksinya dengan orang lain memang tidak se-"sosial" yang diharapkan, namun keahlian dan keadaan itulah yang membuatnya jadi andalan para gembong kriminal kelas kakap di bidang pembukuan. Tetapi ada rahasia kedua, bahwa dia juga seorang berkeahlian khusus di bidang senjata dan bela diri, dan beberapa kali menghabisi nyawa pihak-pihak yang dianggap telah merusak atau mengacaukan kehidupannya. This does sound like Batman, tetapi dengan latar belakang dan bangunan karakter yang agak berbeda.

Jadi, plot utama film ini sebenarnya lebih ke pengungkapan siapa itu Christian Wolff dari berbagai segi. Segi pertama adalah dari sebuah tugas audit Christian di perusahaan teknologi Living Robotics yang memiliki keganjilan finansial, bersama seorang akuntan muda, Dana Cummings (Anna Kendrick). Lalu ada juga flashback tentang Christian kecil hingga bisa punya kemampuan bak tentara super—dan itu termasuk belajar silat di Indonesia lho =). Kemudian ada pula penyelidikan departemen keuangan yang dijalankan Ray King (J.K. Simmons) dan Marybeth Medina (Cynthia Addai-Robinson) terhadap identitas asli Christian yang terkait gembong-gembong kriminal. Yah cerita bergulir dengan Christian menemukan rahasia gelap dari keuangan Living Robotics, juga semakin dekatnya pengejaran King dan Medina, gitu-gitu deh.

Hal pertama yang harus gw sampaikan mengenai film ini adalah premis ceritanya yang menarik walaupun sekilas tampak usang. Iya, mungkin yang bikin beda cuma karakter Christian yang dikisahkan autis, tetapi it makes a huge difference. Kondisi Christian membuat gw nggak bisa menebak apa yang ada di pikirannya atau tindakan apa yang akan dia lakukan, dan dari yang gw lihat sih segala sesuatu yang diperlihatkan dan diperankan oleh Affleck bisa nyambung dengan kondisi tersebut. Unik, menarik, dan bisa jadi semacam advokasi bahwa orang autis bukan berarti nggak bisa hidup di masyarakat...walau mungkin jangan sampai jadi Batman-Batman-an juga sih. 

Akan tetapi, buat gw film ini agak terlalu bercabang-cabang untuk menyampaikan maksudnya. Mungkin karena harus juga mengemban misi memperkenalkan karakter dan world-building-nya, jadi banyak yang diceritakan kayak muter-muter aja gitu. Dan, dengan banyaknya karakter dari berbagai macam pihak—biar ceritanya agak rumit dikitlah, gw jadi kurang sanggup menalar apa motivasi masing-masing, padahal sebenarnya ujung-ujungnya bisa ditebak juga. Ganjel deh pokoknya. Saat filmnya mencapai bagian klimaks, keren sih, tapi kurang kena aja di gw, gara-gara alasan tadi. 

Untunglah itu bisa di-makeup dengan adegan-adegan laga yang lumayan seru, beberapa asupan humor yang bolehlah, serta akting para pemainnya yang cukup asyik, even Affleck. Dan film ini juga udah menang di penempatan dan pembangunan karakter si tokoh utama yang mungkin belum ditemukan di film-film sejenis, dan akan menarik jika si Christian Wolff ini berlanjut jadi semacam franchise dengan misi-misi baru. I mean, bagaimana lagi bisa menampilkan akuntan super tekun dan teliti yang ternyata badass gini. 





My score: 7/10

Senin, 31 Oktober 2016

[Movie] A Monster Calls (2016)


A Monster Calls
(2016 - Participant Media/River Road Entertainment/Focus Features)

Directed by J.A. Bayona
Screenplay by Patrick Ness
Based on the novel by Patrick Ness
Based on an original idea by Siobhan Dowd
Produced by Belén Atienza
Cast: Lewis MacDougall, Felicity Jones, Sigourney Weaver, Toby Kebbell, Liam Neeson, James Melville, Geraldine Chaplin


Sebelum me-review, gw mau cerita colongan dikit, menonton film yang penontonnya ada anak-anak kecil itu memang menarik ya. Apalagi kalau filmnya kelihatannya cocok untuk anak-anak, tapi ada aja yang nggak cocok. Yang menarik dari pengalaman gw nonton A Monster Calls di bioskop adalah berada satu studio sama seorang anak kecil yang duduk di pojok atas yang sangat aktif dan tidak malu bertanya kepada orang tuanya. Deskripsi ini mungkin pertanda positif bagi pemerhati pertumbuhan anak dan Kak Seto, tetapi dalam situasi yang menuntut sopan santun seperti di dalam bioskop, nanya setiap hal yang terjadi di layar dengan suara keras—"itu lagi nggambar apah?" "itu kenapa nangis?" "itu ibunya kenapa?" "itu suara apah?" "kok gerak-gerak?" "itu mau lari ke mana?" "kok diem?"—tentu lebih ke arah menjengkelkan daripada menggemaskan. Ya 'kan? Maksud gw, 1) mbok orang tua yang mendampingi berbuat sesuatu supaya at least dia ngomongnya berbisik, dan 2) mbok jadi bocah sing sabar gitu lhoo, nanti juga dikasih tahu sama sutradaranyaaa, hadeeeeh. Pesan moral pengalaman ini adalah, selain fakta bahwa I'm not great dealing with little kids, mungkin model tontonan yang dapat diserap dan dinikmati anak-anak zaman sekarang memang sudah bergeser kali ya. Jadi yang mellow dan emosional dan nggak ada ceria-cerianya acan macam A Monster Calls ini mungkin cocoknya buat yang udah gedean.

Anyway, A Monster Calls buat gw seperti ingin membuat gambaran menghadapi situasi yang rumit dan berat dari sudut pandang "anak". Di sebuah kabupaten di Inggris (nggak gitu juga sih tapi ya rumah di sebelah tanah lapang nggak mungkin di kota dong), hidup anak cowok usia praremaja bernama Conor O'Malley (Lewis MacDougall) memang sedang malang-malangnya. Orang tuanya bercerai, bapaknya (Toby Kebbell) sudah punya keluarga baru di Amerika, ibunya (Felicity Jones) sedang berjuang lawan kanker lewat kemoterapi, dan dia nggak suka sama neneknya (Sigourney Weaver) yang galak dan suka ngatur. Ditambah lagi di sekolah Conor sering diintimidasi dan dipukuli teman sekelas yang badannya lebih besar. Situasi menuntutnya untuk dewasa lebih cepat, bahkan ia more or less merawat ibunya yang lemah tubuh. Suatu malam, Conor didatangi oleh monster pohon (Liam Neeson) yang hendak memberi tiga cerita kepadanya, dengan balasan Conor harus membuat cerita keempat yang isinya kejujuran.

Apakah monster pohon itu nyata atau tidak itu besides the point. Yang pasti, kedatangan makhluk imajinatif bukan berarti membuat Conor punya penghiburan. Cerita-cerita yang dituturkan si monster justru merupakan cerita-cerita yang selalu berujung tragedi. Dan berkaitan dengan itu, Conor juga terlihat semakin terpukul dengan keadaannya, apalagi kondisi sang ibu, sekeras apa pun berusaha terlihat sehat, tetap semakin memburuk. Dampaknya, Conor makin bertingkah dan membuat orang-orang di sekitarnya semakin tidak mengerti apa sebenarnya yang ia mau. Well, penonton juga mungkin bertanya-tanya sih, dan memang sepertinya itulah yang dijadikan plotnya.

Bagaimana imajinasi seorang anak menjadi "pelarian" dari situasi di kehidupan nyata yang berat banyak mengingatkan gw pada beberapa film, misalnya Where the Wild Things Are (2009), atau mungkin yang paling dekat sama konsep A Monster Calls adalah Pan's Labyrinth (2007)--juga karena sama-sama melibatkan rumah produksi Spanyol =D. Nggak terlalu baru, tetapi buat gw premis ini masih sama-sama menarik sih, apalagi A Monster Calls lebih banyak memasukkan unsur kekinian. Gw cukup bisa dengan mudah masuk dalam aliran cerita film ini, baik tentang deskripsi Conor yang masih di antara anak-anak dan dewasa, maupun keberadaan si monster pohon beserta cerita-ceritanya yang divisualisasikan dengan cantik lewat animasi dan efek visual keren. Penggambaran tentang apa yang dirasakan dan diinginkan oleh Conor pun menurut gw bisa tersampaikan dengan baik dan bisa dipahami.

Jadi, dengan penceritaan serta persembahan visual demikian, secara keseluruhan film ini sudah menjalankan fungsinya untuk bercerita. Namun, seperti gw singgung di awal, gw merasa atmosfer film ini kurang bisa menarik perhatian dan hati gw lebih dari itu. Film ini sejak awal (amat) sangat di-setting untuk jadi mengharukan--coba cek lagi gambaran situasi Conor di awal cerita, dan jadi nggak mengejutkan lagi ketika filmnya juga berakhir dengan cara demikian. Sedikit keceriaan muncul beberapa kali saat muncul si monster pohon, tetapi itu ya sedikit sekali. Paham sih, baik karena ceritanya memang bukan haha-hihi, maupun karena pembawaan yang dipakai pembuat filmnya memang tidak cerah dari sononya. Cuma, somehow, gw tidak ikut terbawa pada sisi itunya, gw mungkin hanya sampai pada sebatas prihatin daripada empati--atau alasannya sesederhana gw punya hati yang lebih beku dari french fries Golden Farm =P.

Akan tetapi, gw nggak akan menampik bahwa A Monster Calls adalah sebuah film yang disajikan dengan baik dari banyak segi. Penuturannya, visualnya, akting para pemainnya, musiknya, bagian-bagian ini layak dapat jempol. Namun, ya itu tadi, filmnya mungkin tidak berbentuk complete entertainment yang bisa bikin tertawa sampai menangis, karena lebih cenderung diarahkan untuk menangis doang =D. And that's fine, gw yakin banyak orang akan terpuaskan dengan sajian yang demikian. Tapi, kalau buat gw, jadi kurang asyik dan kurang meresap sepenuhnya aja.





My score: 7/10