My Movie Picks of January 2022

Jadi virusnya mulai getol melakukan serangan balik ye. Gw pun secara sengaja-nggak-sengaja jadi jarang banget nonton film di bioskop selama Januari kemarin. Well, nggak apa, semangat nonton film nggak sepenuhnya hilang, dan untungnya platform non-bioskop kayak (atau memang) nggak pernah kehabisan bahan tontonan, jadinya gw sebulanan kemarin lebih mengarah ke situ. Hasilnya, ada lima film yang gw rasa perlu masuk catatan di akhir bulan, silakan...




1. The Last Duel
(2021 - 20th Century Studios)
dir. Ridley Scott
Cast: Matt Damon, Adam Driver, Jodie Comer, Ben Affleck, Marton Csokas, Zeljko Ivanek, Harriet Walter, Alex Lawther, Tallulah Haddon


Ketimbang sekadar mereka-ulang peristiwa sejarah nyata dari Prancis tahun 1386, film ini mencoba membuat pernyataan yang lebih dalam. Inti kasusnya adalah pengakuan istri Jean de Carrouges, Marguerite bahwa ia diperkosa oleh Jacques Le Gris, yang dulu adalah sahabat  seperjuangan suaminya. Jean percaya, Jacques membantah, maka berujung pada duel maut demi membuktikan siapa yang benar. Penuturan film ini dibuat dalam tiga sudut pandang dari ketiga tokoh tersebut, yang memunculkan detail-detail menarik tentang bagaimana mereka memandang diri sendiri dan orang-orang lain. Hebatnya meski ada persitiwa-peristiwa yang diceritakan ulang di tiap segmen, nggak sampai terasa repetitif, karena beda sudut pandang tadi. Cara tutur ini justru membantu yang nonton meresapi ceritanya dengan lebih whole, sehingga adegan duel yang jadi puncaknya nggak cuma jadi ajang seru-seruan, tetapi jadi lebih paham makna duel itu bagi setiap tokoh, apa pun hasilnya. Pernyataan yang ingin disampaikan film ini pun makin jelas, bahwa di versi mana pun, kebenaran versi perempuan selalu dipertanyakan bahkan dijatuhkan. Lebih dari sekadar pamer kostum dan laga (walau nggak banyak), film ini merefleksikan tentang tabiat bermasyarakat yang sadly masih belum berubah banyak sampai sekarang. Nevertheless, adegan duel di akhir seru parah sih.

My score: 8/10




2. Aum!
(2021 - Layar Tantjap Film/Bioskop Online)
dir. Bambang "Ïpoenk" K.M.
Cast: Chicco Jerikho, Jefri Nichol, Agnes Natasya Tjie, Aksara Dena, Seteng Sadja, Kukuh Riyadi, Aryudha Fasha, Muhammad Ibnu Shohib, Djohan Ekspresi, Gosong


Nggak sering gw bisa menyimpulkan sebuah film sebagai janggal dan fun sekaligus. Film ini berbentuk mockumentary, gaya dokumenter tapi bukan dokumenter beneran, tentang pembuatan sebuah film gerilya menjelang momen reformasi Indonesia--yang puncaknya di tahun 1998. Ini bisa jadi semacam tribute, tak hanya terhadap perjuangan reformasi, tetapi juga pembuatan film independen di zaman tersebut yang kerap bermodalkan kamera video, bahkan mungkin ke keseluruhan film-film Indonesia 1990-an yang punya 'estetika tersendiri'. Sajiannya sih satir--produser super idealis, ego artistik sutradara, kru yang belum pro, para aktor ngomongin diri mereka sendiri, bujet nyaris nol, dan hal-hal konyol lainnya, namun suasana terdesak dan suspense-nya juga bisa dibangun dengan baik, mengingat kisahnya berlatar Orde Baru yang banyak pembungkaman. Mungkin memang butuh upaya ekstra untuk 'enjoy' film ini, tetapi ini salah satu film satir 'aneh' yang sukses menyampaikan gagasannya tanpa menelantarkan sisi humornya.

My score: 7,5/10




3. Promising Young Woman
(2020 - Focus Features/Universal/FilmNation/LuckyChap Entertainment)
dir. Emerald Fennell
Cast: Carey Mulligan, Bo Burnham, Alison Brie, Clancy Brown, Jennifer Coolidge, Laverne Cox, Connie Britton, Adam Brody, Max Greenfield, Christopher Mintz-Plasse, Molly Shannon, Chris Lowell, Alfred Molina


Dengan caranya sendiri, film ini meneriakkan ketidakadilan yang kerap dialami kaum perempuan di masyarakat. Mulligan berperan apik sebagai Cassie, seorang wanita terpelajar yang tujuan hidupnya kini cuma menuntut keadilan bagi seorang sahabatnya, yang dirampas kehormatan serta nyawanya akibat pelecehan di lingkungan kampus elit. Sembari itu, ia melakukan serangkaian aksi menjerat pria-pria ngeres yang hobi memperdaya perempuan. Di sisi lain, Cassie juga kedatangan mantan teman sekampus yang menaruh hati padanya, dan membuka peluang baginya untuk bisa percaya lagi sama orang lain. Dibilang thriller bukan, dark comedy juga tipis-tipis, tetapi gw salut dengan set-up dan jalan cerita yang nggak standar, namun bisa tegas mengartikulasikan topik keresahannya, sehingga nilai dan tujuan yang diperjuangkan oleh tokohnya tuh bisa convincing.

My score: 7,5/10




4. Belle
a.k.a. Ryuu to Sobakasu no Hime
(2021 - Studio Chizu/Toho)
dir. Mamoru Hosoda
Cast: Kaho Nakamura, Takeru Satoh, Ryo Narita, Koji Yakusho, Lilas Ikuta, Shota Sometani, Tina Tamashiro, Toshiyuki Morikawa, Mamoru Miyano, Kenjiro Tsuda, Mami Koyama, Michiko Shimizu, Ryoko Moriyama 


Karya terbaru dari Hosoda kali ini masih menggabungkan latar belakang keseharian yang grounded dengan elemen abstrak yang kini divalidasi dengan adanya dunia virtual yang disebut U. Awalnya film ini berangkat sebagai kisah seorang gadis remaja awkward yang menemukan 'hidup' di dunia U sebagai penyanyi terkenal nan rupawati. Namun, kisahnya kemudian bergulir mengenai pemulihan batin dan apa yang dapat dilakukan dengan 'kekuatan' besar yang dimiliki seseorang--sekalipun itu di dunia maya. Walau menurut gw konten dan penuturan ceritanya agak kepanjangan, namun nggak bisa menampik bahwa penggabungan kisah dunia nyata dan dunia maya, dengan gaya visual masing-masing, sangatlah mulus dan appealing, dan muatan emosionalnya pun tepat takaran.

My score: 7/10




5. Nightmare Alley
(2021 - Searchlight Pictures)
dir. Guillermo del Toro
Cast: Bradley Cooper, Cate Blanchett, Rooney Mara, Toni Collette, Willem Dafoe, David Strathairn, Richard Jenkins, Ron Perlman, Mark Povinelli, Mary Steenburgen, Holt McCallany, Clifton Collins Jr., Tim Blake Nelson


Yang sudah pasti beres dari film ini adalah visualnya. Biarpun filmnya drama--bukan fantasi atau horor sebagaimana kerap melekat pada sosok del Toro, tata visualnya cakeppp paripurna penuh detail nan estetis, seakan mewakili dunia ilusi yang dibangun dan dijalani oleh Stan si tokoh utama. Secara penceritaan, gw termasuk yang merasa perjalanan Stan memperoleh ide memanfaatkan teknik mentalisme demi meraup duit, itu bisa banget dirampingkan. Gw cukup lega ketika masuk pada babak kemunculan sang rival sepadan--dalam sosok Cate Blanchett yang ditampilkan seindah mungkin di setiap sudut, yang bikin ritme filmnya jadi lebih enak, serta atmosfer dark yang dituju semakin terasa kental. Dan, tentu saja parade performa aktor kelas wahid di sini nggak ngebohonglah.

My score: 7/10


 

Komentar