Rabu, 08 Maret 2017

[Movie] Museum (2016)


ミュージアム (Myuujiamu)
Museum
(2016 - Warner Bros. Pictures Japan)

Directed by Keishi Otomo
Screenplay by Izumi Takahashi, Kiyomi Fujii, Keishi Otomo
Based on the comic series by Ryosuke Tomoe
Produced by Atsuyuki Shimoda
Cast: Shun Oguri, Satoshi Tsumabuki, Machiko Ono, Shuhei Nomura, Tomomi Maruyama, Tomoko Tabata, Mikako Ichikawa, Masato Ibu, Yutaka Matsushige, Nao Aomori, Hinata Igarashi, Mitsuo Yoshihara, Yasushi Fuchikami


Secara internasional, Jepang mungkin nggak terlalu terkenal dengan karya fiksi bergenre misteri kriminal. Well, kecuali yang akrab sama komik Detektif Conan atau Kindaichi, sinetron procedural macam Aibou (Partners) atau Unfair *pembahasan yang terlalu segmented =P. Yang mana pun itu, sebenarnya Jepang nggak kekurangan ide untuk bikin film dalam genre apa pun termasuk misteri kriminal, ya lihat aja Detektif Conan sampai sekarang bisa jalan terus setelah ratusan kasus. Film Museum--juga adaptasi dari komik--seharusnya jadi salah satu pembuktian tersebut. Modalnya ada banget. Dari sutradara Keishi Otomo yang sebelumnya sukses lewat trilogi live action Rurouni Kenshin, lalu deretan pemain yang lumayan banyak dan mostly familier mukanya, dan premis cerita yang cukup intriguing dan "sakit", pokoknya layaklah diangkat ke layar lebar. Mungkinkah film ini akan membuktikan Jepang juga cakap bikin film misteri kriminal?

Museum berawal dari penyelidikan serangkaian pembunuhan dengan modus luar biasa. Para korban dibunuh dengan cara beragam, masing-masing mayatnya diposisikan sedemikian rupa dan pelaku meninggalkan "keterangan" bahwa posisi korban ini melambangkan dosa utama masing-masing, semacam seni instalasi. Mulai dari bagian tubuh yang dipotong-potong sampai beratnya sama seperti saat baru lahir, dibekukan sambil berdiri, mulut disumpal segepok jarum, hingga tubuh dibelah dua secara simetris lalu diposkan ke dua tempat berbeda. Detektif Hisashi Sawamura (Shun Oguri) ikut dalam penyelidikan kasus ini, sampai akhirnya diketahui kesamaan setiap korban, yaitu mereka adalah para hakim dan juri sebuah kasus pembunuhan yang modusnya mirip dengan yang terjadi sekarang. Dan, istri Sawamura, Haruka (Machiko Ono) ternyata salah satu juri itu, sehingga menjadikannya potensi korban selanjutnya. Kasus ini menjadi personal bagi Sawamura, yang memang sedang renggang dengan istri dan putra satu-satunya. Walau kemudian secara resmi Sawamura nggak dilibatkan dalam penyelidikan, itu tak menghentikannya untuk mencari sang pelaku. Sebaliknya, sang pelaku juga nggak berhenti mencari Sawamura.

Seperti yang bisa dibayangkan dari premis ceritanya, film ini menawarkan sebuah misteri menarik tentang sebuah kasus kejahatan yang sudah pasti dilakukan oleh orang kelainan jiwa, dipadukan dengan permasalahan pribadi dari Sawamura, karena pelakunya memang menyerang Sawamura secara personal. Di bagian-bagian awal, pengungkapan demi pengungkapannya terbilang menarik karena langkah-langkah yang dilakukan si pelaku termasuk tak diduga. Yah, sekalipun sejak awal ternyata pelakunya cukup centil dengan selalu berada di deket-deket Sawamura, semacam menyamar in plain sight—triknya si sutradara sengaja tidak menunjukkan sosoknya dalam angle yang jelas like what the hell -_-, anggap saja itu bagian dari obsesinya untuk diakui "keahlian"-nya oleh aparat. Gw pahamlah apa yang sedang dibangun oleh cerita film ini.

Akan tetapi, kepahaman gw itu hanya berlangsung sampai separuh awal film, sebab separuhnya lagi gw nggak ngerti lagi apa yang mau dicapai oleh film ini. Jadi, pada satu titik film ini berubah persneling, dari upaya mengungkap dan mengejar pelaku, ke siksaan psikis yang secara khusus ditujukan pada Sawamura. Sebenarnya bukan perubahan itu yang jadi masalah, tetapi pengemasannya yang bikin drop, karena sepertinya film ini jadi terlalu cerewet dalam segala hal, seolah siksaan psikis itu diterjemahkan sebagai banyakin dialog dan banyakin tereak-tereak. Ya bener sih itu siksaan psikis, tapi buat penontonnya =_=. Mungkin kadung misterinya udah hampir terungkap jelas, sehingga film ini nggak punya amunisi lagi dalam mencengkeram selain banyakin ngomong dan banyakin akting histeris, dan dilama-lamain. Gw tahu tujuannya ingin jadi "emosional", tetapi semakin digenjot malah semakin kerasa palsu emosinya, dan cara ini pun malah melemahkan karakterisasi si pelaku yang jadinya terlalu karikatural nggak jelas, nggak terkesan intimidatif lagi. Bukannya nggak boleh karikatural, apalagi ini adaptasi komik, tetapi "terlalu" dan "nggak jelas"-nya itu yang nggak ngenakin. Harusnya makin mencekam malah jadinya makin melelahkan, apalagi durasinya 2 jam lebih.

Belum tentu salah filmnya sih. Filmnya mungkin memang disusun agar agak komikal--walau bukan berarti humoris--dan sejalan sama tone komiknya, tapi ya buat gw itu ngeganjal aja ketika segala sesuatunya ditanggapi terlalu serius oleh karakter-karakternya yang buanyak dan kerap berpose menggerombol tapi fungsinya masing-masing rancu itu, like they don't realize they're actually being ridiculous. Dan, mungkin ini emang kemauan yang bikin film, karena gw inget cara serupa juga dilakukan sang sutradara di volume penutup Rurouni Kenshin: The Legend Ends yang gw inget tarungnya oke tapi bawel banget demi "sesuai komiknya". Bisa jadi justru respons gw yang salah terhadap apa yang ingin dimau filmnya, sehingga jadi nggak menikmati sepenuhnya, menganggap bahwa seharusnya mereka bisa memberi upaya, kreatifitas, dan sensitivitas ekstra dari sekadar memindahkan komik ke film. 

Untungnya, gw cukup menikmati presentasi teknis film ini, terutama dari segi production design, sinematografi, dan style editing yang kelihatan bermodal, sehingga saat dipandang masih enak-enak aja. Beberapa adegan laganya, terutama yang berkaitan dengan otomotif, juga digarap dengan baik dan seru—kali ini gw merasa nggak kayak film Jepang atau gwnya aja yang kurang wawasan, hehe. Sayang sih bahwa intensitas dalam adegan laganya--sepertinya jadi ciri khas Otomo--kurang diimbangi oleh intensitas dramatik dan suspense-nya yang sepatutnya lebih penting untuk ceritanya. Masih zaman penjahat sempatin pidato dua paragraf dulu--dan protagonisnya mau aja dengerin--baru tumbang?





My score: 6/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar