Sabtu, 25 Februari 2017

[Movie] Moammar Emka's Jakarta Undercover (2017)


Moammar Emka's Jakarta Undercover
(2017 - Grafent Pictures/Demi Istri Production)

Directed by Fajar Nugros
Screenplay by Piu Syarif, Fajar Nugros
Based on the book "Jakarta Undercover" by Moammar Emka
Produced by Susanti Dewi
Cast: Oka Antara, Baim Wong, Tiara Eve, Ganindra Bimo, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Richard Kyle, Agus Kuncoro, Nikita Mirzani, Edo Borne, Ucok Baba


Sekitar satu dekadean lalu, Jakarta Undercover jadi sebuah sensasi blantika perbukuan Indonesia, karena mengorek berbagai tempat "aneh-aneh" di Jakarta, yang berhubungan dengan dugem and beyond-lah. Buku nonfiksi itu pernah jadi basis film berjudul Jakarta Undercover (yang belum pernah gw tonton) arahan Lance dan menampilkan Luna Maya serta Fachri Albar, dan kini buku yang sama kembali difilmkan dengan judul Moammar Emka's Jakarta Undercover. Kayaknya sih judul ini sengaja untuk membedakannya dengan film satunya--karena secara produksi dan cerita nggak berkaitan sama sekali, sekaligus mungkin menegaskan ceritanya yang lebih mendekati konsep bukunya. Benar sih film ini masih akan berlatar underworld Jakarta yang tak lepas dari seks, mafia, dan transaksi gelap lainnya. Namun, premis ceritanya lebih kurang meminjam konsep bagaimana buku Jakarta Undercover itu dibuat, yaitu soal penulis yang terjun langsung dan mengamati dunia anuan tersebut.

Pras (Oka Antara) sedang mandeg saat dikejar-kejar oleh redakturnya, Djarwo (Lukman Sardi) untuk membuat tulisan terbaru di majalah tempat ia bekerja. Suatu ketika, persinggungannya dengan tetangganya yang seorang waria, Awink (Ganindra Bimo) membawanya ke underworld Jakarta, terlebih lagi saat ia menolong seorang pria yang babak belur di luar sebuah klub. Pria tersebut ternyata adalah Yoga (Baim Wong), yang disebut-sebut sebagai raja pesta dunia malam Jakarta, yang tentu dekat dengan pelbagai transaksi ilegal yang menopang usahanya. Yoga yang tempramental ternyata sangat menghargai jasa Pras sampai-sampai sering mengajaknya ke berbagai pesta eksotis di seputaran Jakara. Di saat itulah Pras terdorong membuat sebuah tulisan tentang dunia Yoga, dengan diam-diam menggali informasi tentang jaringan kerja Yoga. Di saat hampir bersamaan, Pras bertemu dengan seorang model bernama Laura (Tiara Eve). Ada ketertarikan dan keterikatan tersendiri antara Pras dengan Laura, meski Pras belum sadar bahwa Laura juga berada dalam lingkaran yang sangat dekat dengan Yoga.

Jujur gw awalnya agak ragu sama film ini, bukan hanya karena film ini lagi-lagi angkat sisi binal Jakarta--yang menurut gw agak kelewat sering diangkat, tetapi memang gw belum pernah diyakinkan sama film-filmnya Fajar Nugros. You know, film-film beliau yang pernah gw tonton biasanya bertema ringan dan atau kurang memuaskan hasil akhirnya buat gw. That being said, gw merasa Jakarta Undercover ini mungkin film buatan beliau yang paling enak ditonton buat gw, surprisingly. Film ini bukan hendak mengeksploitasi topik-topik khas Lampu Hijau, nggak juga cuma sindir-menyindir susahnya hidup di ibukota, tetapi cukup kuat berpegang pada ceritanya intinya--you know, sampai kapan Pras nggak ketahuan sedang mengorek Yoga. Plus, gw juga senang film ini cukup oke dalam ngolah dialognya, khususnya setiap Pras dan Laura janjian di Family Mart itu =P, juga adu argumen Pras dengan Djarwo tentang situasi media massa, yang nggak terasa out of place juga. Meski temanya kayak ngulang-ngulang--party lagi narkoba lagi pelacur lagi--setidaknya di beberapa segi film ini cara pandangnya lumayan peka zaman. Dan, filmnya ternyata nggak vulgar--versi bioskop umum at least--tetapi masih sanggup sampaikan yang perlu disampaikan mengenai topik kegemerlapan ibukota dan hal-hal lainnya itu. 

Gw melihat film ini berkonsentrasi ke drama, yang berarti juga konsentrasi ke performa pemainnya, dan I must say bagian ini dijalankan dengan baik, bahkan buat gw departemen akting jadi bagian terbaik film ini. Di sini bisa lihat akting yang kece dari Oka, Baim, Lukman, dan Bimo, serta Tiara sebagai pendatang baru yang bukan cuma soal sensualitas, tetapi terlihat luwes dan meyakinkan saat beradu dialog. She's a good discovery. Mereka bukan hanya kelihatan bagus karena dikasih bagian yang meledak-ledak, tetapi juga bisa menyampaikan emosi yang intens saat adegan yang tenang sekalipun, sesuatu yang mungkin nggak semua pemain bisa, atau nggak semua sutradara mau mengeksplorasinya. Jadi, menurut gw, seragu-ragunya terhadap film ini, perkara akting ini mungkin bisa jadi jaminan bikin tetap betah menyaksikan film ini.

Di satu sisi sebenarnya buat gw film ini sudah punya jalan cerita yang cukup jelas. Baik motivasi, tujuan, maupun belokan ceritanya bisa gw tangkap tanpa halangan yang gimana gitu, sekalipun laju editing-nya termasuk cepat hampir random seperti ensemble drama macam Traffic gitu deh. Akan tetapi, di sisi lain buat gw film ini punya sedikit problem di set-up ceritanya. Keakraban dan kepercayaan Yoga terhadap Pras merupakan simpul terpenting dalam plot film ini, tetapi bangunannya lemah, entah karena terlalu cepat atau kurang stok adegan yang mendukung ikatan itu. Akibatnya, pada adegan-adegan selanjutnya dilema yang dialami Pras dan Yoga pun nggak terasa segenting itu. Demikian halnya ketika menyorot hubungan Pras dan Laura. Timbul respons yang aneh di benak gw saat melihat ini, pemainnya sudah bermain oke banget, emosional, tetapi tetap berjarak buat gw, ya gara-gara bond antarkarakter ini bagi gw belum sekencang itu. Of course, ini juga berimbas ke bagian klimaksnya yang jadi tawar rasanya.

Terlepas dari itu, gw tetap rela memberi poin film ini karena sajiannya di atas ekspektasi gw. Materi film kayak gini, biasanya akan jatuh jadi murahan banget atau cuma sok nekad jualan seksualitas dengan dalih "'kan kenyataannya emang gini" atau "lembaga sensor kita yang bapuk". Ya lembaga sensor kita emang bapuk, tapi film ini membuktikan--again, setidaknya yang ditampilkan di bioskop--tetap bisa menyampaikan ceritanya, tanpa perlu gimmick sok nekad ngelawan sensor atau jatuh jadi murahan. Yang penting 'kan ceritanya bisa sampai atau nggak. In short, dengan performa para aktor dan teknis yang bikin enak dilihat, serta pengemasan tema intriguing yang nggak sembrono, film ini setidaknya nggak gw benci =).





My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar