Jumat, 08 Desember 2017

[Movie] Wind River (2017)

Nonton film ini tanpa ekspektasi apa-apa sebenarnya, karena buat gw kisah penyelidikan kriminal di layar lebar acapkali rasa dan misterinya, for better or worse, udah kegerus sama maraknya sajian serupa di TV (yang Amerikah sih, bukan di sini =p). Namun, Wind River langsung merenggut perhatian sejak awal menunjukkan lokasi, latar sosial, dan kasus kriminalnya. Film ini mengulik kejahatan yang berpotensi tak terdokumentasi, alih-alih terpecahkan, dari tewasnya seorang gadis remaja berdarah Indian di kawasan lindung yang memang dikhususkan untuk kaum suku asli benua Amerika itu. Tak hanya menarik karena gw cukup jarang lihat gambaran pedalaman Amerika kontemporer yang medannya seberat ini--dataran tinggi jauh dari mana-mana yang sering badai salju, tetapi juga terkejut dengan prosedur penegakan hukumnya yang cukup kompleks.

Lebih lagi, film ini menuturkannya dengan sensible dan emosional, terutama dari sudut pandang tokoh ranger yang dihantui duka karena pernah mengalami kasus serupa, dan penyelidik FBI yang agak anak kemarin sore tetapi bertekad kuat. Tanpa harus meledak-ledak dan bombastis, tetapi tidak juga lelet lunglai bikin terlelap, adegan demi adegan dirangkai dengan perhitungan yang teliti, sehingga gw mengerti konteksnya, gw terbawa untuk ikut mengungkap kebenaran kasusnya, dan gw peduli sama tokoh-tokohnya, tanpa  harus terasa lajunya dalam bercerita tersendat. Segala unsur film ini--termasuk adanya beberapa baku tembak yang cukup brutal--ditampilkan dengan presisi, mampu menunjukkan kedalaman yang lebih dari sekedar memecahkan kasus kriminal, dan sekaligus mampu membangun intensitas yang...well, entah gimana caranya kok bisa, sekalipun banyak adegan senyap tapi emosinya terasa bergemuruh.


Wind River
(2017 - Voltage Pictures/Acacia Entertainment/The Weinstein Company)

Written & Directed by Taylor Sheridan
Produced by Basil Iwanyk, Peter Berg, Matthew George, Wayne Rogers, Elizabeth A. Bell
Cast: Jeremy Renner, Elizabeth Olsen, Jon Bernthal, Gil Birmingham, Julia Jones, Graham Greene, Martin Sensmeier, Kelsey Chow, Eric Lange
My score: 7,5/10

[Movie] Pengabdi Setan (2017)

Joko Anwar bikin film lagi, I'm like yeaaah. Filmnya remake horor klasik, I'm like oh shoot gak demen horor pun gw -_-'. Bukannya gimana-gimana, gw yakin Mr. Joko mampu menyajikan horor yang bagus, sebagaimana pernah ditunjukkan dalam film-film macam Kala, Pintu Terlarang, dan Modus Anomali yang notabene punya elemen horor. Tapi, saking yakinnya gw jadi siap nggak siap untuk "menghadapi" karya beliau yang murni horor, Pengabdi Setan. Pada akhirnya harus gw lakukan juga, dan ekspektasi enak nggak enak itu terbayar, and more. Ceritanya memang kayak "cuma" tipikal kisah rumah hantu. Kali ini empat kakak beradik yang ditinggal wafat oleh ibunya dan ditinggal rantau oleh bapaknya harus jaga rumah yang gitu deh. Namun, film ini dengan sangat bagus sekali menggulirkan misteri yang membuatnya tidak sekadar film rumah berhantu saja. Penuturannya begitu lancar, mitologi dan rules-nya dibangun rapat dan menyeluruh, karakternya dipaparkan dan dilakonkan dengan interesting sehingga bikin peduli dan keinget terus, misterinya juga banyak yang di luar dugaan, sekalipun tanpa harus pakai twist yang centil melilit-lilit. 

Awalnya gw juga heran, dengan alur cerita yang sebenarnya cukup straightforward--termasuk wajib hadirnya sesosok pihak ketiga yang (seperti) tahu segala penyebab dan cara penyelesaian segala hal--tapi kenapa bisa se-gripping ini, kenapa bisa bikin terus terpaku dan memancing naik turun emosi. Jawabannya ternyata simpel saja: keterampilan. Seram bukan karena banyak penampakan setannya, melainkan seram karena ekspektasi gw dipermainkan. Bikin pingin pantengin terus bukan karena rentetan adegan horor bertubi-tubi, melainkan karena pemaparan karakter, cerita, dan worldbuilding-nya yang rapi, dan yang diikat oleh sesuatu yang namanya timing. Timing seram, humor, drama, hingga suspense, semuanya tepat sasaran dan tepat porsi, tanpa sedikit pun terkesan mureh. Dan, yea, tentu saja banyak banget momen gw ketakutan pas nonton ini, huft..., tapi ketimbang lelah, yang gw rasakan adalah excitement, sensasi seyogianya didapat dari film horor yang baik dan berbobot.


Pengabdi Setan
(2017 - Rapi Films/CJ Entertainment)

Written & Directed by Joko Anwar
Based on the film Pengabdi Setan (1980)
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Tara Basro, Bront Palarae, Endy Arfian, Nasar Anuz, Muhammad Adhiyat, Ayu Laksmi, Dimas Aditya, Arswendy Bening Swara, Elly D. Luthan, Fachri Albar, Asmara Abigail
My score: 8/10

Minggu, 22 Oktober 2017

[Movie] Detroit (2017)

Tante Kathryn Bigelow ini sepertinya sedang ambil spesialisasi true story, kemarin sudah Zero Dark Thirty dan sekarang Detroit. Jadi katanya di kota Detroit, AS tahun 1967 terjadi kerusuhan besar-besaran bermotif ras, dan di tengah-tengah itu terjadi sebuah kasus besar yang penyelesaiannya nggak membantu memadamkan konflik bermotif ras di sana. Di sebuah motel terjadi penggerebekan yang cukup lama, ketika kepolisian lokal menginterogasi sekelompok pemuda-pemudi--sebagian besar berkulit hitam--atas dugaan penembakan liar ke arah polisi yang sedang tugas jaga di dekat situ. Film ini lumayan mendetail dalam menuturkan dalam beberapa tahapan: dari latar situasinya, perkenalan beberapa karakter kunci, proses penggerebekan, hingga aftermath-nya di pengadilan dsb.

Dengan penuturannya itu, sebenarnya agak sulit untuk bisa "menikmati" film ini, ketika bagian kebrutalan dan intimidasi polisi terhadap orang-orang yang bahkan belum berstatus tersangka tersebut ditunjukan dalam detail yang panjang dan melelahkan. Disclaimer-nya sih bagian tersebut lebih kepada interpretasi terhadap bukti-bukti yang disampaikan di pengadilan, yang fakta-faktanya masih simpang siur berhubung putusan pengadilannya dianggap kontroversial. Dan lagi, gw belum menangkap apa sebenarnya standing point dari si pembuat film terhadap isu ini, selain menunjukkan bahwa para oknum polisi ini sengaja nggak pakai protokol yang seharusnya karena rasis aja. Cuman, nggak bisa dipungkiri film ini punya banyak momen yang mencekam bahkan emosional, terampil bangetlah pengadeganannya, sehingga tetap bisa terus diikuti. Bolehlah.


Detroit
(2017 - Annapurna Pictures/MGM/Entertainment One)

Directed by Kathryn Bigelow
Written by Mark Boal
Produced by Megan Ellison, Karthryn Bigelow, Mark Boal, Matthew Budman, Colin Wilson
Cast: John Boyega, Will Poulter, Algee Smith, Anthony Mackie, Laz Alonso, Jacob Latimore, Jason Mitchell, Hannah Murray, Jack Reynor, Kaitlyn Dever, Ben O'Toole, John Krasinski, Nathan Davis Junior, David Malcolm Kelley, Peyton 'Alex' Smith, Jeremy Strong
My score: 7/10

[Movie] It (2017)

It ini termasuk dalam jenis film yang jadi alasan gw nggak suka nonton horor, tetapi sekaligus juga jenis film yang bikin gw nggak sepenuhnya menjauhi genre ini. Buat gw, film horor itu 'berhasil' kalau seram, tapi film horor itu 'bagus' kalau isinya lebih daripada sekadar parade penampakan dan kengerian--gw benci banget ditakut-takutin oleh film horor tanpa alasan valid *uhuk Ju-on*. Saat nonton It, jujur, hampir nggak kehitung gw ketakutan dan berusaha look the other way ketika ekspektasi gw dipermainkan oleh film sialan ini (adegan OHP slide itu ya Gustii....). Namun, It juga tetap bisa bikin perhatian tak terpecah ketika bagian drama, karakter, bahkan humornya juga digarap dengan serius.

Dasar kisahnya memang dikondisikan "rapuh" supaya sense ngerinya lebih berasa, bertumpu pada sekelompok anak-anak kecil/praremaja dalam menghadapi teror supranatural di sebuah kota kecil, dilakukan oleh semacam jin pemangsa nyawa anak-anak yang mampu bergonta-ganti wujud tapi favoritnya adalah badut. Untungnya film ini terus menggali dan menonjolkan karakter-karakter ini plus hubungan antarmereka, sehingga gw yang nonton emang benar-benar peduli sama nasib mereka, bukan sekadar kasihan karena masih bocah. Di satu sisi gw memang masih punya beberapa pertanyaan tentang mitologi yang coba dibangun lewat sosok "it" di film ini, pun merasa filmnya agak tertatih dalam bagian perkenalan berhubung tokoh-tokohnya banyak banget. Hanya saja, karena kadung penggarapan keseluruhannya sudah bagus, dan horornya juga berhasil, gw rela menyatakan tidak ada sesal--atau pun kesal-telah menonton film ini.


It
(2017 - New Line Cinema/Warner Bros.)

Directed by Andy Muschietti
Screenplay by Chase Palmer, Cary Fukunaga, Gary Dauberman
Based on the novel by Stephen King
Produced by Dan Lin, Roy Lee, Seth Grahame-Smith, David Katzenberg, Barbara Muschietti
Cast: Jaden Lieberher, Jeremy Ray Taylor, Sophia Lillis, Finn Wolfhard, Chosen Jacobs, Jack Dylan Grazer, Wyatt Oleff, Bill Skarsgård, Nicholas Hamilton, Jake Sim, Logan Thompson, Owen Teague, Jackson Robert Scott
My score: 7,5/10

[Movie] Turah (2017)

Dalam semangat film Siti, Fourcolours Films mempersembahkan film panjang perdana sutradara Wicaksono Wisnu Legowo berjudul Turah. Kenapa gw mention Siti, selain karena rumah produksinya sama, adalah karena skala cerita dan penggarapannya yang agak serupa, walau pada akhirnya hasilnya cukup berbeda. Turah (kalau nggak salah artinya "sisa" atau "lebihan") berkisah tentang sesuatu yang sangat sederhana, tentang orang-orang sederhana, tetapi dengan perkara yang kalau dipikir-pikir cukup kompleks juga.

Sebuah kampung pinggir laut di Tegal (itu di Jawa Tengah, kali aja ada yang nggak tahu) dihuni oleh orang-orang yang bergantung pada seorang tuan tanah yang juga memberi mereka mata pencaharian. Turah adalah sosok yang terbilang rajin dan nggak macem-macem, sehingga diberi kepercayaan oleh si tuan tanah untuk jadi semacam "asisten supervisor" kampung tersebut. Lalu ada Jadag, yang merasa tidak diperlakukan adil oleh sang tuan tanah, walaupun dianya juga berkelakuan nggak simpatik karena demen mabok dan selingkuh dan nuduh semua pihak lain sengaja bikin hidupnya susah. Semua orang ingin punya hidup lebih baik, tetapi kadang mereka nggak tahu pilihannya apa saja, nggak berani meninggalkan apa yang ada karena bisa saja berarti kehilangan segalanya.

Gw bilang kompleks karena ada persoalan sosial yang bisa ditangkap dari situasi di kampung tersebut. Jadag itu sebenarnya lumayan eye-opener, dia yang berusaha menyadarkan bahwa saking tergantungnya mereka sama si tuan tanah, mereka seperti terperangkap di situ-situ saja sambil me-raja-kan si tuan tanah yang "pemberian"-nya juga nggak cukup-cukup amat. Buat dia cara paling cepat mengubahnya adalah lewat konfrontasi. Di sisi lain, orang seperti Turah tidak ingin cari masalah, jalanin apa yang ada sebaik-baiknya meskipun berarti itu beberapa cita-citanya akan terus tertunda--dan makin berat untuk beranjak karena cuma dia yang sanggup nyalain listrik buat warga kampung. 

Bagusnya, semuanya diramu dengan sensible dan terkesan jujur berasal dari area tersebut, bukan seperti model satir yang sengaja ambil latar "kampung" hanya sebagai perumpamaan. Ada sedikit let down sih ketika film ini mencapai konklusi, entah dari cara penyampaiannya atau justru pemilihan konklusinya, yang menurut gw kurang satu-dua drive lagi agar lebih berdampak, berasa tiba-tiba kelar aja. Yah bagaimanapun, respek tetap gw berikan untuk film ini. Meski memang tampak sederhana, film ini tetap sukses bikin perhatian tersita--dari yang awalnya tergoda untuk tertawa karena dialeknya yang khas sampai lama-lama serius perhatikan ceritanya yang memang kaya makna.


Turah
(2017 - Fourcolours Films)

Written & Directed by Wicaksono Wisnu Legowo
Produced by Ifa Isfansyah
Cast: Ubaidillah, Slamet Ambari, Yono Daryono, Rudi Iteng, Narti Diono, Cartiwi, Muh. Riziq, Siti Khalimatus Sadiyah, Aminah
My score: 7,5/10

Rabu, 18 Oktober 2017

[Movie] Baby Driver (2017)

Gw begitu menantikan film ini simply karena akan jadi kali pertama nonton film karya Edgar Wright di bioskop. Buat gw doi adalah salah satu sutradara yang paling exciting karya-karyanya, walau memang modal gw cuma pernah lihat Shaun of the Dead dan Scott Pilgrim vs the World (plus Hot Fuzz tapi gak dari awal nonton di Global TV) yang keren gellla itu. Dan betapa excitment itu terbayar ketika akhirnya gw menyaksikan Baby Driver. Konsep gabungkan action, komedi, dan musik yang unlike anything I've seen, sekali lagi membuktikan kreativitas, intelektualitas, dan selera humor asyik seorang Edgar Wright. Gimana coba caranya bikin film tentang dunia perampokan tapi setiap gerakan dan timing kelahi dan tembak-tembakannya dipas-pasin sama irama lagu yang mengiringi, plus referensi lirik-lirik lagu dalam dialog-dialognya tapi nggak kelihatan ngawang-ngawang maksa. 

Jalan ceritanya mungkin familier, seorang getaway guy--bertugas membawa tim perampok untuk kabur--yang berencana berhenti dari dunia hitam, apalagi setelah ketemu dengan seorang pujaan hati, tetapi niatnya itu selalu terhalang. Film ini memunculkan banyak kata sifat dalam benak gw setelah menonton: seru, lincah, asyik, lucu, cerah, nggaya, tapi juga violent, tapi juga manis dan romantis. Deskripsinya mungkin agak membingungkan, tapi ya itu tadi, semuanya diramu menjadi sesuatu yang beda sekaligus lengkap, dengan karakter-karakter yang ditulis dengan presisi dan dimainkan dengan apik, pokoknya menyenangkan, tanpa perlu membodoh-bodohi. Tipe film yang tetap asyik untuk ditonton berulang-ulang.


Baby Driver
(2017 - TriStar)

Written & Directed by Edgar Wright
Produced by Tim Bevan, Nira Park
Cast: Ansel Elgort, Kevin Spacey, Jamie Foxx, Lily James, Jon Hamm, Eiza Gonzalez, Jon Bernthal, C.J. Jones, Flea, Lanny Joon, Brogan Hall, Paul Williams
My score: 7,5/10

[Movie] Bad Genius (2017)

Katanya sih nyontek di sekolah itu hal yang (hampir) semua orang pernah melakukan, malah kadang udah kayak nggak berasa salah gitu. Macam buang sampah sembaranganlah, ngelanggar hukum dan berdampak buruk tapi dianggap yaudahsik. Dan, menurut pengalaman gw, itu juga dijadikan "alat" transaksi pergaulan, biar dianggap temen. Semakin gencar pihak sekolah membuat metode anticontek, semakin siswa-siswi lebih kreatif dalam cari cara mencontek--dan kenapa energi kreativitas itu tidak disalurkan untuk cari cara supaya bisa ingat pelajaran akan selalu jadi misteri. Anyway, rupanya itu bisa dijadikan sebuah sajian film yang menarik dalam Bad Genius. Si jenius di ini bukan hanya jenius dalam pelajaran, tetapi dalam mengambil kesempatan. Didorong oleh teman-teman sekelasnya di SMA, ia membuka bisnis contekan dengan metode unik. Teman senang, dia untung, sama-sama lulus. Tawaran yang lebih tinggi pun dijabanin, sekalipun risiko dan taruhannya juga makin besar. Tapi, mau sampai kapan?

Mungkin karena model sistem pendidikan formal di Thailand dan Indonesia mirip-mirip, jadi gampang banget terhubung sama film ini. Apalagi dibikin kayak film-film laga perampokan gitu, ada tim dengan tugas masing-masing dan semua dipepet waktu. Sensasi kegelisahan saat nggak bisa jawab pertanyaan dan berusaha cari contekan saat pengawas sedang lengah bisa di-capture dengan bagus di sini. Seru banget, dan kok ya bisa kepikiran bikin sesuatu yang kita anggap "biasa" menjadi tontonan yang menghibur. Untungnya, film ini nggak terus mengglorifikasi kehebatan mencontek dan bagaimana itu jadi duit. Gw cukup setuju dengan konklusi film ini, bahwa hal yang kita pikir hanya akan kita lakukan di satu periode saja dan tuntas, ternyata akan tetap berdampak pada kelanjutan hidup kita apa pun itu bentuknya #cieebijak.


ฉลาดเกมส์โกง (Chalard Games Goeng)
Bad Genius
(2017 - GDH)

Directed by Nattawut Poonpiriya
Written by Nattawut Poonpiriya, Tanida Hantaweewatana, Vasudhorn Piyaromna
Produced by Jira Maligool, Vanridee Pongsittisak, Suwimon Techasupinan, Chenchonnee Soonthonsaratul, Weerachai Yaikwawong
Cast: Chutimon Chuengcharoensukying, Chanon Santinatornkul, Teeradon Supapunpinyo, Eisaya Hosuwan, Thaneth Warakulnukroh, Sarinrat Thomas
My score: 7,5/10

Minggu, 17 September 2017

My Top 20 Do As Infinity Songs So Far

Harusnya postingan ini dibuat paling enggak dua minggu lalu ya, pas banget ketika artisnya didatangkan untuk perform di Jakarta. Mohon permaklumannya ya, hehe. Yang pasti, diundangnya Do As Infinity untuk pertama kalinya manggung di Indonesia dengan jadi bintang tamu Nakama Festival 2017 di Ancol, 3 September lalu, sertamerta membangkitkan lagi desire gw *wink wink* untuk mendengarkan lagi lagu-lagu mereka. Apalagi penampilan mereka di sini waktu itu cuma satu jam jadi tentu banyak lagu favorit gw yang nggak sempat dinyanyikan. Setelah gw nonton gw malah jadi makin sering memutar lagu mereka. Maka, naturally gw tergerak untuk bikin postingan 20 lagu Do As Infinity terfavorit gw sepanjang masa.

Do As Infinity's live performance in Indonesia (finally) happened in 2017. We want more please... \(^o^)/

Sedikit latar belakang, Do As Infinity adalah artis/band Jepang yang bertanggungjawab atas kesukaan gw pada J-Pop. Zaman masih SMA, awal era 2000-an *go figure*, gw langsung tertarik ketika pertama kali dengar secuplik lagu "Fukai Mori" di akhir serial animasi Inu Yasha, karena selain melodinya catchy, ada vibe berbeda dari lagu anime/J-Pop yang sebelumnya gw tahu. Vokal Tomiko Van manis tapi "gagah", dan musiknya adalah pop-rock dengan sedikit sentuhan elektronik tetapi punya depth dan otentisitas. Dalam lain kesempatan gw mulai mengulik (via teman-teman seperminatan =)) dan menemukan bahwa lagu-lagu Do As Infinity yang lain juga sama bagusnya. And just like that, I became a fan.

Ada periode gw berusaha sebanyak mungkin mendapatkan CD album mereka, yang kebetulan pernah beberapa kali tersedia di toko kaset Duta Suara atau World of Music (WoM) di Jakarta, walau kebanyakan versi impor Taiwan sehingga lumayan musti nabung dulu tiap beli T-T. Fyi, CD/kaset versi lokal yang diedarkan oleh Indosemar Sakti seinget gw hanyalah album Need Your Love (2005) dan mungkin Do The A-side (2005). Namun, justru saat-saat mereka ingin di-push untuk lebih populer di Indonesia itulah, Do As Infinity memutuskan untuk bubar jalan. Sempat syok saiah. Tetapi mereka akhirnya reuni lagi di tahun 2008, minus sang pendiri sekaligus the genius behind their music, Dai Nagao--obviously inisial namanya dijadikan dasar nama Do As Infinity (DAI). Dan masih ada sampai sekarang, tuh sampai kemarin bisa manggung di Jakarta.



Jadi, setelah 28 single, 11 album orisinal, sekian album kompilasi dan live, dan sekalipun gw nggak se-klik itu pada rilisan-rilisan mereka pascareuni, rasanya itu lebih dari cukup amunisi untuk gw bisa menarik 20 lagu yang menurut gw paling yahud dari Do As Infinity. So here goes...


Kamis, 31 Agustus 2017

[Movie] Valerian and the City of a Thousand Planets (2017)

Gw makin menyadari kecenderungan gw untuk mencari, dan menyukai, film-film "mahal" yang sudah diramalkan akan flop. Karena itu, of course-lah gw sangat menantikan Valerian and the City of a Thousand Planets XD. Diangkat dari komik yang mungkin hanya terkenal di Eropah, film space opera ini menampilkan sepasang polisi antariksa, Valerian (Dane DeHaan) dan Laureline (Cara Delevigne, namanya susye-susye ye) dalam menyelesaikan misi antargalaksi. Basis mereka ada di Alpha, stasiun luar angkasa raksasa yang dihuni seluruh spesies di semesta. Kalau mau digampangin, ada dua macam petualangan besar yang dilakukan oleh Valerian dan Laureline, meskipun masih berkaitan. Pertama, misi mengambil "barang" langka dari sebuah pasar dimensi lain (yup =)), dan kedua adalah penyelamatan komandan mereka yang diculik karena "barang" yang didapatkan di pasar tadi. Bagian kedua ini seluruhnya terjadi di wilayah Alpha yang isinya memang aneka rupa.

Jika merindukan kisah petualangan fantasi futuristis yang riang dan seru, maka film ini adalah pelipurnya. Apalagi world-building-nya sangat menarik, mendetail, dan works, didukung persembahan rancangan visual yang keren-ren-ren banget. Gw juga suka bahwa film ini bisa selalu moving forward dalam hal setting dan perjalanan tokoh-tokohnya, ketemu dengan tokoh-tokoh dan tempat dan situasi yang selalu berganti, sebagaimana adventure seharusnya, jadi nggak mboseni. Hanya saja paruh keduanya itu nggak se-exciting yang awal, mungkin karena masuk dalam ranah intrik politik yang sebenarnya menarik--dan strangely sangat relevan dengan Indonesia, tapi jadi agak ngeberatin keasyikan yang sudah dibangun sebelumnya. Walau begitu, rasa senang menyaksikan film ini nggak sertamerta hilang. Valerian tetap sebuah film yang menyegarkan dan menceriakan, serta bikin kagum karena bisa secara maksimal memfungsikan muka nyolot Delevigne.


Valerian and the City of a Thousand Planets
(2017 - EuropaCorp)

Directed by Luc Besson
Screenplay by Luc Besson
Based on the comic book series "Valerian and Laureline" by Pierre Christin, Jean-Claude Mézières
Produced by Luc Besson, Virginie Besson-Silla
Cast: Dane DeHaan, Cara Delevigne, Clive Owen, Rihanna, Sam Spruell, Ethan Hawke, Herbie Hancock, Kris Wu, Ola Rapace, Alain Chabat, Sasha Luss, Aymeline Valade, Pauline Hoarau, Marilhéa Peillard
My score: 7/10

[Movie] War for the Planet of the Apes (2017)

Seri prekuel/reboot dari Planet of the Apes, kendati terkesan just another alat pengeruk uang ala Hollywood yang lagi kehabisan ide, ternyata selalu tampil mengejutkan. Rise of the Planet of the Apes (2011) yang seru abis, Dawn of the Planet of the Apes (2014) yang thoughtful, dan sekarang ada War of the Planet of the Apes. War tampaknya disiapkan untuk jadi penutup trilogi kisah yang bertumpu pada perjalanan sosok Caesar (Andy Serkis), pemimpin dari kaum primata yang berevolusi jadi bersifat dan berkemampuan seperti manusia, dan makin merapat pada asal-usul kisah Planet of the Apes (film pertamanya tahun 1968, atau mungkin ada yang tahu remake-nya tahun 2001), tentang primata yang makin manusiawi dan manusia yang makin hewani.

"War" di sini--sepenangkapan gw sih--mengacu pada perseteruan Caesar dengan kaum manusia demi bertahan hidup, padahal selama ini Caesar selalu mengupayakan damai. Adalah Colonel (Woody Harrelson) yang proaktif ingin menangkapi kaum primata, seolah menyangkal bahwa kaum manusia semakin tak sanggup lagi menaklukkan bumi. Buat gw, War tetap konsisten menyajikan tema yang provoking seperti film-film sebelumnya, dan itu yang bikin trilogi reboot Planet of the Apes ini jadi somewhat istimewa. Emang sih makin ke sini seolah makin dark dan moody dari segi penyajian--dan pacing melamban, hehe, tetapi War sukses jadi puncak pencapaian persembahan visual dari seri ini, dari sinematografinya yang keren gilak, beberapa pengadeganan yang thrilling dan rapi sekali, sampai ke animasi digital para primata yang makin mencengangkan saking realistisnya, yang juga bikin gw makin bersimpati secara emosional dengan tokoh-tokohnya meski gw berasal dari spesies berbeda =P.


War for the Planet of the Apes
(2017 - 20th Century Fox)

Directed by Matt Reeves
Written by Mark Bomback, Matt Reeves
Based on the characters created by Rick Jaffa, Amanda Silver
Inspired by the novel "Planet of the Apes" by Pierre Boulle
Produced by Peter Chernin, Dylan Clark, Rick Jaffa, Amanda Silver
Cast: Andy Serkis, Woody Harrelson, Steve Zahn, Karin Konoval, Amiah Miller, Terry Notary, Ty Olson, Michael Adamthwaite, Gabriel Chavarria
My score: 7,5/10

Rabu, 09 Agustus 2017

[Movie] Dunkirk (2017)

Kalau membaca nama Christopher Nolan pasti langsung kebayang film-film canggih dan high concept pokoknya pasti keren dsb. Gw juga berpikiran yang sama. Makanya, ada sedikit keterkejutan ketika oom Chris bikin film sejarah, yang notabene pasti udah ketahuan cerita dan endingnya kayak gimana =P. Dan memang benar, menyaksikan Dunkirk, nggak ada tuh jalan cerita yang penuh konsep meledakkan pikiran *maksudnya mindblowing* dan intrak-intrik ribet. "Hanya" soal tiga sudut pandang dalam peristiwa penyelamatan besar-besaran para tentara Inggris yang terkepung di pantai Dunkerque, Prancis pada masa Perang Dunia II, dengan inti cerita sesederhana tentang menyelamatkan dan diselamatkan. Namun, sisi antik oom Chris tetap mau ditunjukkan, yaitu bahwa tiga kisah ini berada dalam rentang waktu yang berbeda-beda. Ada yang 1 minggu, 1 hari, dan 1 jam, yang akan bersinggungan di satu titik, tetapi dituturkan berbarengan dengan gaya editing mengikuti tensi adegan di masing-masing cerita, yang langsung mengingatkan gw pada Cloud Atlas.

Sebagian besar film ini memang bertumpu pada technical marvel yang dimanfaatkan dengan baik di sini. Minim bantuan animasi digital dengan tujuan memberikan gambaran yang lebih tangible, dan tata suara yang menyatu dengan musik dibuat untuk menggiring pada sensasi berada di tengah-tengah situasi yang dirasakan tokoh-tokohnya. In a way, film ini jadinya lebih ke memberikan audio visual experience dibandingkan bernarasi--again, karena jalan ceritanya sangat lurus dan sederhana. Bercerita dalam tiga rentang waktu berbeda juga bagian dari upaya menimbulkan sensasi itu, bahwa waktu "lama" atau "sebentar" itu relatif tergantung situasinya--ibarat mobil jalan 3 kilometer dalam 5 menit terasa lebih sebentar daripada angkot ngetem 1 menit =|. Biar demikian, film ini sanggup bikin gw memetakan gambaran besar tentang apa itu peristiwa Dunkirk as a whole dan apa yang harus direfleksikan dari sana. Pada akhirnya film ini mungkin bukan karya oom Chris ter-wow buat gw, namun setidaknya sudah mencapai apa yang menjadi niatnya, ya sebagaimana karya-karyanya sebelum ini. 

NB: Sebagian besar film ini direkam menggunakan kamera IMAX, ada kali 70-an persen, dan looks really good in IMAX screen. Gw dulu pernah nulis harapan gw agar oom Chris bikin film khusus IMAX tanpa perlu yang panjang-panjang biar nggak pegel kalau ditonton di Keong Emas yang notabene gw anggap "IMAX betulan satu-satunya di Indonesia". Well, Dunkirk yang mostly IMAX dan cuma 106 menit ini yang paling mendekati harapan itu haha....walau tetep aja nggak diputar di Keong Emas T-T.


Dunkirk
(2017 - Warner Bros.)

Written & Directed by Christopher Nolan
Produced by Emma Thomas, Christopher Nolan
Cast: Fionn Whitehead, Harry Styles, Aneurin Barnard, Kenneth Branagh, James D'Arcy, Mark Rylance, Cillian Murphy, Tom Glynn-Carney, Barry Keoghan, Tom Hardy, Jack Lowden
My score: 7,5/10


Jumat, 04 Agustus 2017

[Movie] Let's Go Jets (2017)

Beda budaya kali ya. Kisah (nyata) orang atau orang-orang underdog yang meraih prestasi kelas dunia, kalau di Indonesia belum apa-apa udah dikasih beban harus "inspiratif" dan "nasionalisme". Di Jepang, jadinya film komedi =D. Sangat mungkin generalisasi gw tadi keliru, tetapi kalau merujuk pada Let's Go Jets, tampaknya buat orang-orang perpeleman Jepang sana, menyajikan cerita dengan gaya komikal akan lebih efektif dalam menyampaikan nilai-nilai yang diusung, sekalipun berdasarkan kisah nyata. Seriously, Let's Go Jets ini disusun sedemikian rupa seperti sport movies fiksi adaptasi manga ataupun J-dorama yang suka agak melebih-lebihkan, dengan watak-watak spesifik seperti ada si perfect, si ceria, si minder, si somseu yang selalu merasa lebih oke dari yang lain, dst dst., dan tentu saja dimotori oleh si pengajar yang keras dan eksentrik, dengan cita-cita yang mungkin ketinggian: menang kejuaraan cheer dance tingkat SMA di Amerika Serikat--makanya judul asli film ini "chia-dan" dari "chia-dansu" penjepangan frase cheer dance =).

Apa pun detail yang sebenarnya terjadi di kisah nyatanya, susunan karakter dan jalinan cerita di film ini terbukti sangat works menjadi tontonan yang menyenangkan. Mungkin agak klise sih jadinya, dari yang nggak bisa apa-apa jadi bisa, ada momen-momen down dan harus dimotivasi lagi biar bangkit lagi semangatnya, juga sisipan soal romansa SMA, plus tentu saja ada pertaruhan ekstrakurikuler cheer dance-nya terancam ditutup karena nggak pernah berprestasi apa-apa *yaelah ^.^'*. Namun, yang memang nggak bisa gw tolak adalah film ini bisa bikin larut di antara momen lucu, gembira, dan sisi emosionalnya--yang menurut gw bagian ini diadegankan sangat menarik dan paling nggak klise. Gw sebenarnya berharap winning performance di klimaksnya bisa lebih wow lagi--ya mungkin faktor pemain bukan yang betulan latihan keras tiga tahun hehe. Tetatpi, paling penting nilai-nilai tentang kerja keras serta kegembiraanya tetap bisa tersampaikan, so it's alright.


チア☆ダン~女子高生がチアダンスで全米制覇しちゃったホントの話~
Chia☆Dan ~Joshi Kosei ga Chia Dansu de Zenbei Seiha Shichatta Honto no Hanashi~
a.k.a. Let's Go Jets
(2017 - Toho)

Directed by Hayato Kawai
Written by Tamio Hayashi
Produced by Tamako Tsujimoto, Atsuyuki Shimoda
Cast: Suzu Hirose, Yuki Amami, Ayami Nakajo, Hirona Yamazaki, Mackenyu, Miu Tomita, Haruka Fukuhara, Yurina Yanagi, Kentaro, Saki Minamino, Hana Hizuki, Takayuki Kinoshita, Yasuhito Hida, Kitaro
My score: 7/10

[Movie] Filosofi Kopi 2: Ben & Jody (2017)

Film Filosofi Kopi (2015) bagi gw mungkin bukan yang terbaik dari deretan film-film kece buatan Angga Dwimas Sasongko, tetapi it was probably the smartest. Makanya gw sama sekali nggak keberatan ketika katanya akan dibuat sekuelnya, dengan judul yang cukup catchy, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody. Kali ini si maniak kopi Ben (Chicco Jerikho) dan sahabatnya yang berotak bisnis Jody (Rio Dewanto) berupaya membangkitkan kembali kedai Filosofi Kopi mereka, yang sempat oh-so-hipster-y jadi kedai keliling di atas VW Combi modifikasi. Peluang bikin lagi kedai tetap semakin menjanjikan dengan hadirnya Tarra (Luna Maya) yang mau berinvestasi besar, dan tidak hanya akan terhenti di satu kedai saja. Namun, bercampurnya bisnis dan persahabatan, passion mula-mula yang dibenturkan dengan tuntutan untuk evolve, dan terlibatnya orang-orang baru baik secara profesional maupun emosional, membuat Ben, Jody, dan Filosofi Kopi tidak akan bisa seperti dulu lagi.

Film-film seperti dua film Filosofi Kopi ini begitu menyegarkan, karena sekalipun premis yang diangkat mungkin biasanya dianggap kurang spektakuler--walau pada akhirnya ada porsi romance lebih kental di sekuelnya, sajian dan penuturannya tetap terasa imbang, topik-topik yang ingin disampaikan bisa ditangkap dengan mudah, bukan asal lewat ataupun asal cool aja. Gw suka film ini menyoroti keharusan sebuah usaha, sekalipun itu "proyek idealis", untuk bertumbuh ataupun beradaptasi dengan berbagai perubahan dan gagasan baru, yang kemudian paralel dengan arah perkembangan karakter-karakter utama kita. Sehingga, setidaknya Ben dan Jody nggak stuck di situ-situ aja perjalanannya dalam cerita, jadinya asyik aja ngikutinnya. Buat gw momen-momen "magis" di Ben & Jody tidak sebanyak atau sekuat film pertamanya, namun vibe yang dipancarkan tetap menyenangkan, didukung pemain yang total dan kompak serta production value yang terlihat lebih plus.


Filosofi Kopi 2: Ben & Jody
(2017 - Visinema Pictures)

Directed by Angga Dwimas Sasongko
Screenplay by M. Irfan Ramly, Jenny Jusuf, Angga Dwimas Sasongko
Story by Ni Made Frischa Aswarini, Christian Armantyo, Angga Dwimas Sasongko, Jenny Jusuf
Based on the characters created by Dewi "Dee" Lestari
Produced by Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Rio Dewanto
Cast: Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Luna Maya, Nadine Alexandra, Melissa Karim, Landung Simatupang, Whani Darmawan, Otig Pakis, Joko Anwar, Tyo Pakusadewo, Westny Dj, Aufa Assegaf, Muhammad Aga
My score: 7,5/10

Minggu, 30 Juli 2017

[Movie] Spider-Man: Homecoming (2017)

Nggak bisa nggak terbersit keheranan kenapa gitu Spider-Man versi layar lebar harus di-reboot sebanyak tiga kali hanya dalam jangka waktu 15 tahun saja. Iya sih Spider-Man itu bisa dibilang the biggest Marvel Comics character, tapi emang musti segitunya ya? Namun di sisi lain, Spider-Man: Homecoming setidaknya punya maksud dan niat yang sangat jelas: biar bisa gabung ke Avengers-nya Marvel Cinematic Universe (MCU). Konsekuensi dari ini bukan hanya perkenalkan ulang tentang sosok Spider-Man, tetapi juga menyesuaikan karakter dan ceritanya biar bisa muat ditempatkan di antara aksi-aksi Iron Man, Captain America, Thor, dkk. Jika dalam inkarnasi sebelumnya Spider-Man harus hadapai pertaruhan keselamatan yang lebih massal, maka Homecoming dibuat lebih spesifik: Spider-Man-nya masih remaja, dan persoalan yang dihadapi juga more or less berskala kecil. Yah skala kecilnya tentu dengan sentuhan Marvel, yaitu para "preman" yang memanfaatkan teknologi alien sisaan klimaks The Avengers (2012) untuk kepentingan bisnis underworld.

Rupanya gw cukup suka sama pilihan bangunan dan arah cerita yang diambil. Tak seperti origin story para superhero Marvel yang makin kesini makin terpola, Homecoming langsung menyorot pada persoalan tentang pembuktian nilai diri sebagai superhero dan menyeimbangkan antara identitas keseharian dan identitas superhero, dengan kegelisahannya masing-masing. Tone film ini pun anak muda kekinian banget, dan makin berjalan makin asyik diikuti, lengkap dengan berbagai adegan laga yang menurut gw nggak kalah seru dari film-film Spider-Man sebelumnya. Dan, poin yang gw rasa juga unggul adalah si villain Vulture (Michael Keaton) yang punya kompleksitas tersendiri, dan mampu dibuat benar-benar mengancam si jagoan kita dari berbagai sisi. Gw tetap merasa Spider-Man 2 (2014) adalah film superhero komik terbaik yang pernah ada, tetapi Homecoming buat gw termasuk pada himpunan yang bagus di antara film-film Spider-Man lain--yang sebenarnya juga nggak pernah jelek-jelek amat sih.


Spider-Man: Homecoming
(2017 - Columbia/Marvel Studios)

Directed by Jon Watts
Screenplay by Jonathan Goldstein, John Francis Daley, Jon Watts, Christopher Ford, Chris McKenna, Erik Sommers
Story by Jonathan Goldstein, John Francis Daley
Based on the Marvel comic book by Stan Lee, Steve Ditko
Produced by Amy Pascal, Kevin Feige
Cast: Tom Holland, Michael Keaton, Marisa Tomei, Jon Favreau, Robert Downey Jr., Jacob Batalon, Zendaya, Laura Harrier, Tony Revolori, Abraham Attah, Gwyneth Paltrow, Donald Glover, Bokeem Woodbine, Logan Marshall-Green, Jennifer Connelly
My score: 7,5/10

[Movie] Sweet 20 (2017)

Kesuksesan film Korea, Miss Granny (2014) mendorong produsernya untuk mengembangkan materi ceritanya dalam bentuk remake di berbagai negara. Remake antarnegara memang udah biasa, tetapi entah apakah sudah ada yang pernah melakukannya se-ambisius ini: udah dibikin di China, Vietnam, Thailand, Jepang, dan sekarang di Indonesia dengan judul Sweet 20, dan mungkin akan berlanjut di negara-negara lain. Emang dasar gw, gw memang baru nonton satu versi aja, itu pun bukan yang original, melainkan 20 Once Again (2015) yang diproduksi di China. Namun, bisa kebaca bahwa film-film ini punya struktur yang sama, urut-urutan kejadiannya persis, outcome-nya juga serupa. Beruntungnya, Sweet 20 termasuk berhasil dalam interpreting instead of just translating ke tuturan yang lebih dekat dengan penonton Indonesia.

Sekalipun unsur magical fantasy soal nenek yang basically for no reason at all fisiknya berubah jadi gadis 20 tahunan sebenarnya nggak terlalu akrab dalam cerita-cerita kita--dan mungkinkah itu sebabnya momen ini kayak diburu-buru di film ini?--buat gw film ini enak sekali adaptasinya. Gaya komikal-nya, humornya, referensi kultur pop-nya, nilai-nilai keluarganya, latar sosialnya--emm, nggak terlalu sih tapi ya plausible-lah--semuanya bisa nyambung dengan orang kita, sehingga nontonnya juga lebih nikmat. Tetapi, yang paling bikin nikmat adalah jajaran pemainnya yang bermain apik dan kompak, a great ensemble. Salah satu poin kesukaan gw adalah bagaimana performa Tatjana Saphira sebagai Fatma muda tetap bisa bikin gw kebayang sama performa Niniek L. Karim sebagai Fatma tua yang sebelumnya muncul hanya selama 10 menit di awal film. Kalau segala unsurnya kompak gini, dan adaptasinya juga semaksimal mungkin disesuaikan dengan pola pikir lokal, 'kan nontonnya juga jadi seneng. Pun kalau mau dibilang, buat gw Sweet 20 adalah salah satu film Indonesia paling menyenangkan di paruh awal tahun ini.


Sweet 20
(2017 - Starvision/CJ Entertainment)

Directed by Ody C. Harahap
Screenplay by Upi
Based on on the film Miss Granny written by Shin Dong-Ik, Dong Hee-Sun, Hong Yoon-Jung, Hwang Dong-Hyuk
Produced by Chand Parwez Servia
Cast: Tatjana Saphira, Niniek L. Karim, Slamet Rahardjo, Kevin Julio, Morgan Oey, Lukman Sardi, Cut Mini, Widyawati Sophiaan, Tika Panggabean, Alexa Key, Nina Kozok, Ardit Erwandha, Tommy Limmm
My score: 7,5/10


Sabtu, 24 Juni 2017

[Movie] Wonder Woman (2017)

Agak kasihan sebenarnya melihat film Wonder Woman diberi begitu banyak beban politik. Ini pertama kalinya Wonder Woman, superhero utama dari DC Comics selain Superman dan Batman, punya film layar lebar sendiri setelah 75 tahun eksis. Digarap oleh Patty Jenkins (sutradara Monster-nya Charlize Theron, serial The Killing) di saat Hollywood konon masih nggak percaya ngasih modal ratusan juta dolar kepada sutradara wanita buat bikin film blockbuster. Ditambah lagi, film ini berada di tengah-tengah ujian kesabaran kritikus dan sebagian penonton pada film-film DC Extended Universe setelah Man of Steel, Batman v Superman, dan Suicide Squad dianggap bapuk—although I tend to disagree. Kabar baiknya, film Wonder Woman bisa tetap berdiri tegak dengan semua beban itu, karena hasilnya ternyata (untungnya) memuaskan.

Dirancang sebagai kisah asal muasal--jadi sebelum cerita Batman v Superman, ini film tentang awal perjalanan kepahlawanan seorang manusia sakti, dalam tuturan selurus mungkin. Seorang sosok idealis dari negeri dewata yang dihadapkan kenyataan dunia luar yang menguji prinsipnya, dan kebetulan sosok itu seorang wanita berbentuk Gal Gadot =). Kisah klasik dengan pendekatan yang klasik juga, antara dongeng, petualangan, laga, dan sentuhan sejarah fictionalized. Diperkuat dengan desain visual oke serta rancang konsep kesaktian Diana sang Wonder Woman yang seru abis—demen banget gw pas adegan ngebolakin mobil like "out of my way, bitch!" =D. Ada yang politis pun subtil saja, seperti pertanyaan-pertanyaan Diana tentang posisi wanita di peradaban "modern", dan bahwa di sini tidak ada penyorotan bagian tubuh perempuan bermotif seksual. Bisa banget sih diperingkas durasinya, tetapi film ini sudah berhasil mencapai tujuannya dalam menanamkan tentang siapa Wonder Woman itu, apa kekuatannnya, apa yang diperjuangkannya, bikin paham dan malah mungkin bikin sayang akan sosoknya.


Wonder Woman
(2017 - Warner Bros.)

Directed by Patty Jenkins
Screenplay by Allan Heinberg
Story by Zack Snyder, Allan Heinberg, Jason Fuchs
Produced by Charles Roven, Zack Snyder, Deborah Snyder, Richard Suckle
Cast: Gal Gadot, Chris Pine, Connie Nielsen, Robin Wright, Danny Huston, David Thewlis, Lucy Davis, Elena Anaya, Saïd Taghmaoui, Ewen Bremner, Eugene Brave Rock
My score: 7,5/10

Kamis, 15 Juni 2017

[Movie] Critical Eleven (2017)

Terlepas dari statusnya sebagai film yang diangkat dari novel yang katanya best-selling--again untuk blantika novel gw selalu pakai "katanya" karena gw emang nggak ngikutin, gw menemukan bahwa apa yang mau diceritakan di Critical Eleven termasuk menarik. Layaknya mengutip dari berbagai curhatan radio dan acara konsultasi rumah tangga, film ini ingin menggambarkan ungkapan bahwa tahun-tahun pertama pernikahan adalah masa-masa terberat yang menentukan lembaga ini akan lanjut atau tidak. Film ini cukup menunjukkan beberapa contoh detailnya, mengenai pengaruhnya di karier, relasi dengan keluarga besar, hingga suka-duka perihal keturunan. Ketika banyak film roman mengagungkan cinta sebagai faktor tunggal dan pernikahan sebagai tujuan akhir, film ini bisa mengarahkan ke pandangan yang sebenarnya sudah banyak yang tahu tapi terkesan ditutuptutupi oleh tim PR dan marketing jasa wedding: bahwa kehiudpan setelah pernikahan adalah sebuah perjuangan yang bisa jadi lebih berat daripada mendapatkan cinta itu sendiri.

Namun, Critical Eleven tidak jatuh jadi sebuah film depresif seperti Revolutionary Road, misalnya. Film ini masih dibawa cenderung lebih ringan, lebih ke arah roman dewasa nan mellow. Ini bisa jadi fortunate sekaligus unfortunate. Fortunate karena diperankan dengan apik oleh deretan pemain kelas wahid, yang tampak articulate dalam merepresentasikan cerita yang hendak diangkat sehingga begitu believable, visual film ini juga cerah, cantik, berisi, dan "mahal". Unfortunate-nya adalah mungkin isu utama yang diangkat terlalu berat untuk dikemas ringan. I mean, diawali dengan begitu manis, most of the rest ternyata begitu sendu, sehingga harus terus diingatkan bahwa film ini bukan soal so sweet-so sweet-an seperti yang mungkin tersugesti di posternya. Dan, seandainya diizinkan melepaskan faktor fan-service-ing penggemar novelnya, gw tampaknya akan lebih menikmati film ini bila dituturkan lebih ringkas, dan jumlah karakter lebih ramping, hehe. Tapi udah cukuplah untuk saat ini.


Critical Eleven
(2017 - Starvision/Legacy Pictures)

Directed by Monty Tiwa, Robert Ronny
Screenplay by Jenny Jusuf, Monty Tiwa, Robert Ronny, Ika Natassa
Based on the novel by Ika Natassa
Produced by Chand Parwez Servia, Robert Ronny
Cast: Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Widyawati Sophiaan, Slamet Rahardjo Djarot, Revalina S. Temat, Astrid Tiar, Hannah Al Rashid, Hamish Daud, Refal Hady, Anggika Bolsterli, Aci Resti
My score: 7/10


Kamis, 08 Juni 2017

[Movie] Alien: Covenant (2017)

Walau gw bukan pengikut franchise Alien, gw termasuk dalam kelompok yang kepincut sama Prometheus (2012), film yang memang dikonsepkan sebagai prekuel seri Alien, tetapi memberi sentuhan berbeda dengan suntikan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang menurut gw lumayan cocok diterapkan dalam sebuah kisah fiksi ilmiah. Menurut gw film itu sudah cukup oke berdiri sendiri, sehingga gw agak ragu apakah keberadaan Alien: Covenant sebagai sekuelnya sekaligus jembatan mendekati kisah di seri Alien, memang benar-benar perlu gw tonton. Well, ternyata setelah ditonton gw cukup terkesan karena ramuan antara horor, thriller, sci-fi, dan again sentuhan filosofisnya--walau kali ini nggak seberat Prometheus, menurut gw dituturkan dengan menarik.

Mungkin yang agak berbeda adalah unsur horor dan serangan alien-nya makin terasa menyeramkan, serta temanya makin jelas tentang "creation", tentang ciptaan yang mencipta, yang bertumpu pada karakter David (Michael Fassbender). Yah mungkin ada yang menganggap film tentang survival orang-orang yang terancam dimusnahkan nyawanya oleh sel-sel alien nggak perlulah dibikin mikir-mikir amat, tapi buat gw itulah yang membuat Prometheus dan Alien: Covenant lebih dari sekadar ngeri-ngerian--dan btw opa Ridley Scott masih belum kehilangan taji buat menata adegan yang bikin deg-degan, kerennn. Gw mungkin nggak setercengang seperti saat pertama nonton Prometheus, dan pula sayangnya Alien: Covenant nggak punya karakter-karakter baru yang interesting enough untuk bisa bikin peduli, selain daripada David dan kloningan versi lebih barunya, Walter yang sudah di-set-up sejak Prometheus, juga susunan karakternya yang pasang-berpasang tetapi melambangkan kesetaraan. Di luar itu, film ini adalah follow up yang cukup mampu melanjutkan ide-ide yang dilempar di Prometheus, dalam presentasi yang tetap menarik. Itu buat gw lho ya, nggak tahu deh kalau buat yang udah ngikutin seri Alien sejak awal...


Alien: Covenant
(2017 - 20th Century Fox)

Directed by Ridley Scott
Screenplay by John Logan, Dante Harper
Story by Jack Paglen, Michael Green
Produced by Michael Schaefer, Ridley Scott, Mark Huffam, David Giler, Walter Hill
Cast: Michael Fassbender, Katherine Waterston, Billy Crudup, Danny McBride, Demián Bichir, Carmen Ejogo, Jussie Smollett, Callie Hernandez, Amy Seimetz, Nathaniel Dean, Alexander England, Benjamin Rigby, Uli Latukefu, Tess Haubrich, James Franco, Guy Pearce
My score: 7,5/10

Selasa, 30 Mei 2017

[Movie] Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)

Mengenai sikap gw terhadap film-film Marvel Studios, gw nggak bisa dibilang nge-fan, tetapi juga nggak benci. Udah lebih dari selusin film-film Marvel gw tonton, menurut gw secara keseluruhan, well, okay, tapi tingkat kenikmatannya fluktuatif. Guardians of the Galaxy (2014) termasuk yang paling bisa gw nikmati, mungkin karena kisahnya nggak melulu "superhero", tapi lebih ke petualangan dengan sentuhan komedi oddball, visual lebih berwarna, dan hiasan lagu-lagu retro. Wajar dong kalau gw agak berharap setidaknya Guardians of the Galaxy Vol. 2 paling nggak bisa menyamai yang pertama. Filmnya masih menggunakan bahan-bahan relatif sama dengan yang pertama, ya termasuk tone komedi dan musik 70's-nya, dan perkenalan planet-planet dan alien-alien baru dengan ciri khas masing-masing. Bedanya, sekarang lebih ramai karakter, dan ceritanya lebih ingin mendekatkan penonton dengan sisi personal karakter-karakternya, terutama soal relasi mereka dengan "keluarga" masing-masing.

Di atas kertas, itu gabungan yang bagus, dan gw yakin itu works untuk banyak orang. Tapi, buat gw formula yang dipakai di Vol. 2 membuatnya: 1. kepanjangan, dan 2. kelebaran. Maksud baik untuk menggali lebih dalam karakternya malah kesannya membuat mereka terpencar-pencar, dan memang sejak awal tidak ada misi atau purpose tertentu yang harus mereka capai bersama, sehingga sendi-sendi ceritanya sesekali terasa longgar. Beruntung film ini masih dikemas dengan haha-hihi seperti film pertamanya, rancangan adegan-adegan laganya boleh, ada beberapa gag nggak penting tapi masih bikin ketawa, dan karakter-karakter utamanya masih menyenangkan. Cuma, karena bagian-bagian itu sudah dicapai sebelumnya di film pertama, freshness-nya agak berkurang aja sih di sini.



Guardians of the Galaxy Vol. 2
(2017 - Marvel Studios)

Written & Directed by James Gunn
Produced by Kevin Feige
Cast: Chris Pratt, Zoe Saldana, Dave Bautista, Bradley Cooper, Vin Diesel, Kurt Russell, Michael Rooker, Karen Gillan, Pom Klementieff, Elizabeth Debicki, Chris Sullivan, Sean Gunn, Sylvester Stallone
My score: 6,5/10

Minggu, 28 Mei 2017

[Movie] Kartini (2017)

Raden Ajeng Kartini adalah pahlawan nasional Indonesia paling terkenal, namun gw merasa bahwa beliau tidak pernah diperkenalkan secara komprehensif, termasuk dalam buku-buku sejarah. Selalu pokoknya dia bangsawati Jawa zaman kolonial yang bikin sekolah buat anak-anak pribumi, udah. Well, beliau identik juga dengan ide emansipasi wanita, tetapi apakah semua orang benar-benar tahu itu artinya apa, sampai-sampai perayaan Hari Kartini malah bikin lomba pakai baju daerah yang nggak ada kaitannya sama sekali? Dalam lautan gagasan-gagasan kurang lengkap itulah, gw senang dengan keberadaan film Kartini. Sederhana aja, baru lewat film ini gw diajak untuk "mengenal" apa dan siapa itu Kartini. Di zaman penjajahan Belanda, Kartini hidup di lingkungan yang mungkin dianggap lebih beruntung, kaya, punya akses pendidikan. Dan, ia memanfaatkan privilage itu untuk berkarya--membuat artikel budaya, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, dan transfer ilmu ke kaumnya sendiri. Bahwa sesungguhnya perjuangannya bukan melawan Belanda (yang ironically justru sangat membantunya dalam meraih cita-cita), melainkan melawan lingkungan rumahnya sendiri, tradisi-tradisi dan pemikiran-pemikiran yang membatasi terobosan-terobosan baik yang dilakukannya, hanya karena dia perempuan.

Di luar itu, film Kartini juga berfungsi baik sebagai sebuah film sejarah dengan dramatisasinya. Ya jelas selain nilai produksi apik dan jajaran pemain kelas wahid, visi film ini dalam menggambarkan Kartini yang rebel dan kaya imajinasi menurut gw sangat menarik. Itu bikin filmnya terasa hidup dan relatable untuk ditonton zaman sekarang--bukan soal otentik secara sejarah, melainkan interpretasi emosi yang riil. Konteks sejarah. sosial, dan budayanya juga bisa dikedepankan dengan mulus sehingga menyaksikannya jadi berasa utuh. Ada humor dan ada haru, sesuatu yang tak heran bila melihat nama Hanung Bramantyo selaku sutradara tapi, percaya deh, di sini beda sekali sensasinya. Somehow lebih tulus, tepat porsi, nggak serba bombastis, dan lebih kena dalam berbagai sisi. Gw berani bilang, ini film Hanung yang paling gw nikmati, tanpa komplain sedikit pun.


Kartini
(2017 - Legacy Pictures/Screenplay Films)

Directed by Hanung Bramantyo
Written by Bagus Bramanti, Hanung Bramantyo
Produced by Robert Ronny
Cast: Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Acha Septriasa, Ayushita Nugraha, Djenar Maesa Ayu, Denny Sumargo, Giras Basuwondo, Nova Eliza, Rukman Rosadi, Dwi Sasono, Reza Rahadian, Rudy Wowor, Hans De Kraker, Barbara van Kooten, Rebecca Reijman
My score: 8/10

Sabtu, 27 Mei 2017

[Movie] Fast & Furious 8 (2017)

Seri Fast & Furious begitu mengesankan karena berawal lumayan sederhana dan hampir kolaps di tengah jalan, sampai akhirnya bangkit dan bahkan jadi favorit warga dunia, yah dibilang terhitung sejak Fast Five (2011). Seri ini survive dan semakin sukses dengan menawarkan aksi laga kejar-kejaran mobil ditambah pemilihan pemain/casting yang makin ke sini makin berkilau. Dengan Fast & Furious 8, seri ini membuktikan sudah menemukan jalurnya. Durasi 2 jam 15 menitan terdiri dari 5-6 adegan laga heboh berkaitan dengan mobil--salah satunya yang dijuluki "make it rain" gw suka banget, dan di antaranya diselipkan cerita seorang mastermind yang ingin menguasai dunia (obviously) digabung dengan opera sabun tentang famili (bukan rumah makan Padang), yang sebenarnya nggak perlu terlalu dihiraukan karena toh, biar kata ada upaya permainan emosi dengan "penyanderaan psikologis" dan pengkhianatan, udah pada tahulah pada akhirnya semua akan baik-baik saja.

Nah, mungkin itu yang menjadikan sensasi nonton film kedelapan ini nggak istimewa-istimewa amat, rasanya bak rutinitas saja, sama halnya kalau ngikutin serial TV Amerika zaman dulu--sekarang juga ada sih--yang sudah terpola setiap episodenya, cuma ini versi (dua kali) lebih panjang aja durasinya. Biar begitu, gw sih tetap enjoy adegan-adegan laganya, humor-humornya juga kece, penampilan Charlize Theron dan Helen Mirren juga memikat. Pokoknya film yang menghibur dan "safe" untuk bisa lanjut ke sekuel selanjutnya.


Fast & Furious 8
a.k.a. The Fate of the Furious
(2017 - Universal)

Directed by F. Gary Gray
Written by Chris Morgan
Based on the characters created by Gary Scott Thompson
Produced by Neil H. Moritz, Vin Diesel, Michael Fottrell, Chris Morgan
Cast: Vin Diesel, Dwayne Johnson, Charlize Theron, Michelle Rodriguez, Jason Statham, Tyrese Gibson, Chris 'Ludacris' Bridges, Nathalie Emmanuel, Kurt Russell, Scott Eastwood, Elsa Pataky, Kristofer Hivju, Luke Evans, Helen Mirren
My score: 7/10

Just a little change...

Well, quite big change, actually. Kalau diperhatikan blog ini sekarang jarang banget update-nya, terhitung dalam dua bulan belakangan. Apakah gw mulai lesu dalam nge-blog, muak, jenuh, bosan di rumah lagi sendirian papa sibuk mama arisan? Kalau pertanyaan itu, jawabannya antara ya dan tidak. Jenuh dan bosan--sekalipun almh Nike Ardilla bilang bosan mungkin itu sifatmu--sebenarnya tidak. Gw masih nonton film sebanyak biasanya, gw pun pengen banget menuliskan review setiap film yang gw tonton di bioskop untuk diposting di blog ini. Akan tetapi, bagian yang mungkin benar adalah 'lesu'-nya. Kenapa? Karena gw sekarang sudah punya pekerjaan baru yang jadi alokasi utama waktu dan tenaga gw, sehingga energinya agak berkurang untuk melakukan hobi lama gw ini. I mean, ini sebenarnya fase yang berulang, dalam delapan tahun gw nge-blog, setiap gw masuk ke pekerjaan baru pasti nge-blognya tersendat. Dan, don't get me wrong, kerjaan gw sekarang sebenarnya sangat mendukung kecintaan gw sama film, cuma ya soal waktu dan energi itu harus gw banyak curahkan ke profesi, dan, setidaknya sampai sekarang, gw masih belum bisa manage dengan baik.

Untuk itu, gw sedang mencoba nge-blog dengan pendekatan baru, supaya blog ini tetap hidup, supaya gw tetap bisa menyalurkan suara gw dengan cara ini. Dengan waktu yang ada, gw ternyata nggak sanggup untuk me-review semua film yang gw tonton, sehingga gw memutuskan hanya akan menerbitkan review judul-judul pilihan, preferably yang gw memang suka--karena yang paling males untuk di-review adalah yang nggak bagus tapi nggak jelek juga, kemungkinan yang model ginilah yang terpaksa gw skip review-nya. Jujur, gw sudah coba itu dalam review-review terakhir, tetapi, bisa dilihat sendiri, akhirnya gw cuma sanggup menerbitkan review sejumlah hitungan jari sebelah tangan.

Karena itu, gw akan mencoba membuat format baru, yang mungkin cukup kontroversial *halah*. Most likely, gw akan mencoba menuliskan review judul-judul film pilihan itu secara singkat--contoh mungkin seperti satu butir review di rubrik Rapid Film Review yang selama ini gw pakai untuk review film-film lama. Enaknya, di zaman smartphone dan wi-fi ini, bacanya jadi nggak terlalu panjang sehingga nggak memakan batere. Nah, efek sampingnya, isinya jadi nggak semendalam dan nggak mungkin akan sengalor-ngidul yang gw ingini. Namun, buat gw itu lebih baik daripada nothingI've always thought I need this, I still do, dan gw senang bahwa tulisan-tulisan gw ada yang baca dan menanggapi, gw nggak bisa menelantarkan perasaan-perasaan itu begitu saja. Yah, namanya hidup nggak bisalah dapat semua-mua, ya nggak?

Mau nggak mau memang musti ada perubahan, seperti yang musti terjadi di album ketiga sampai ketujuh-nya Linkin Park. Gw berharap lewat pendekatan baru ini Ajirenji tetap bisa jalan, malah siapa tahu jadi meningkat suatu saat nanti. Dicoba dulu ajalah ya....



Minggu, 30 April 2017

[Movie] Get Out (2017)


Get Out
(2017 - Universal)

Written & Directed by Jordan Peele
Produced by Jason Blum, Jordan Peele, Edward H. Hamm Jr., Sean McKittrick
Cast: Daniel Kaluuya, Allison Williams, Catherine Keener, Bradley Whitford, Caleb Landry Jones, Marcus Henderson, Betty Gabriel, Lakeith Stanfield, LilRel Howry


Kalau lihat poster dan nama produser Jason Blum, kentaranya Get Out ini pasti horor-thriller. Namun, sepertinya film ini punya "kelonggaran" dalam menentukan genre. Sutradaranya aja selama ini dikenal sebagai komedian, bikin film seram, dan menyinggung persoalan ras. Formula tersebut buat gw sudah cukup bikin penasaranuntuk menyaksikannya, nggak perlu tahu sinopsisnya lebih lanjut karena biasanya itu akan menghambarkan pengalaman nonton film beginian. Well, berita bahwa ini salah satu film horor-thriller tersukses di Amerika tahun ini juga jadi penguat alasan untuk nonton sih, pengen tahu what the fuss is about, hehe.

Chris (Daniel Kaluuya) diajak pacarnya, Rose (Allison Williams) ke rumah orang tuanya di sebuah kota kecil. Yang bikin nggak biasa, walaupun ini latarnya masa kini yang katanya sudah lebih "toleran", Chris itu berkulit hitam, dan keluarga Rose berkulit putih dan tinggalnya bukan di kota besar, wajar dong Chris sempat nanya, "Emang keluarga kamu tahu aku berkulit hitam?". Tapi, pas ketemu sih nggak kenapa-kenapa. Bahkan, ada dua orang berkulit hitam yang kerja di rumah mereka. Cuma, Chris merasakan kejanggalan pada dua orang tersebut. Mungkin gambaran termudahnya adalah mereka nggak berperilaku seperti orang berkulit hitam, atau simply nggak seperti manusia normalnya. Misteri ini ternyata akan terus mengejar Chris selama ia berada di tempat tersebut.

Berhubung gw jarang nonton horor, gw sepertinya mengerti kenapa cerita yang diangkat film ini "kena" buat penonton di Amerika sana. Ketegangan antarras di sana rupanya belum sepenuhnya hilang--bahkan saat-saat ini makin mengemuka lagi seperti berbagai kasus penembakan polisi terhadap orang-orang berkulit hitam yang masih sering dicurigai sebagai penjahat. Topik ini diolah oleh Jordan Peele menjadi bahan-bahan untuk memunculkan kejanggalan dan kengerian perilaku manusia, and took it to the extreme. Dan menurut gw penempatan-penempatannya terbilang cermat, contoh ketika Chris di-"pamer"-kan di sebuah pesta yang mengundang pandangan dan perlakuan yang aneh banget kepada Chris dari orang-orang, lama-lama jadi creepy juga, seperti menunjukkan batas tipis antara penasaran sama orang dari latar belakang "berbeda" atau menganggapnya semacam objek eksotis yang musti dikorek-korek. Kedengarannya lucu emang, tapi yang menganggap ini lucu berarti juga menganggap ngesuitin mbak-mbak yang lagi nunggu angkot di pinggir jalan itu menyenangkan. Freak.

Buat gw Get Out adalah perpaduan menarik antara topik yang penting dengan dark comedy dan juga horor-thriller. Memang sih, film ini nggak bikin ketakutan gimana gitu, melainkan lebih ke permainan misteri yang gw akui cukup menegangkan. Ketakutannya bukan pada emosi, tapi pada pikiran. Untungnya itu sama sekali nggak melunturkan nilai hiburan film ini. Dalam perjalanan ceritanya sih sempat kepikir juga ke gw bahwa beberapa ide-ide-nya itu agak terlalu khayal, namun gw masih bisa terima setelah menempatkan pada konteksnya tadi, ada statment yang ingin disampaikan dengan cara yang bisa dibilang kreatif. Film yang menarik, lajunya juga asik, ringkas, aktingnya tepat, dan disajikan dengan sangat komunikatif. Sebuah film yang bisa juga dipandang sebagai cara elegan untuk protes terhadap rasisme modern tanpa perlu berbusa-busa. 





My score: 7,5/10

Sabtu, 29 April 2017

[Movie] Night Bus (2017)


Night Bus
(2017 - Night Bus Pictures)

Directed by Emil Heradi
Screenplay by Rahabi Mandra
Produced by Darius Sintahrya, Teuku Rifnu Wikana
Cast: Teuku Rifnu Wikana, Yayu Unru, Edward Akbar, Torro Margens, Laksmi Notokusumo, Keinaya Messi Gusti, Hana Prinantina, Agus Nur Amal, Rahael Ketsia, Arya Saloka Perwira, Abdurrahman Arif, Tino Saroengallo, Alex Abbad, Tyo Pakusadewo, Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Arswendi Nasution, Egi Fadly, Ade Firman Hakim


Dalam situasi perfilman Indonesia yang kayaknya semua orang (entah kenapa) pengen bikin film dan sebagian besar ingin filmnya disukai sebanyak mungkin orang, dan itu not saying much ketika "yang disukai sebanyak mungkin orang" itu range-nya sangat-sangat terbatas, butuh nyali dan ketegaran hati untuk muncul dan membuat karya yang benar-benar berbeda. Soalnya, beda itu bisa jadi menarik, tetapi bisa juga jadi dijauhi karena dianggap asing. Semua negara sih begitu, masalahnya di Indonesia penonton film yang "mainstream" aja hitungannya masih dikit--yang terlaris sepanjang masa aja nggak sampai 3 persen jumlah penduduk tanah air, gimana yang lain. Anyway, yang ingin gw bicarakan di sini sebenarnya adalah respek gw sama keberadaan film Night Bus. Pertama-tama karena berani mengambil tema cerita dan arah penggarapan yang berbeda, yaitu drama thriller berlatar daerah konflik. Dan, yang kedua, dan terpenting, film ini digarap dengan proper.

Night Bus berkisah tentang sebuah bus antarkota di pulau (mungkin) Sumatera yang menempuh trayek malam selama 12 jam ke kota yang bernama Sampar (tentu kota fiktif). Setiap penumpang, bahkan sopir dan kernetnya, punya motivasi masing-masing untuk ke Sampar. Premis ini masih terlihat abstrak ya, sebelum akhirnya diketahui bahwa Sampar adalah sebuah kota yang sedang dilanda konflik separatisme bersenjata. Perjalanan bus ini akan selalu terhenti, baik itu oleh militer negara, milisi pemberontak, maupun orang-orang lain entah dari mana. Dan mungkin tidak semua orang akan sampai di tujuan awal mereka.

Buat gw Night Bus melakukan beberapa hal dengan baik, khususnya dari penyusunan cerita dan penuturannya. Mungkin poin yang paling menarik buat gw adalah (cukup sering gw kemukakan juga) world-building-nya. Tanpa harus ada penjelasan ke sana ke mari, film ini berhasil membangun dunianya yang mungkin nggak familier bagi penontonnya dengan cukup utuh, sembari cerita terus berjalan. Gw menangkap mungkin ini terinspirasi dari beberapa contoh yang nyata terjadi di sejarah Indonesia, seperti masa daerah operasi militer di Aceh atau Papua. Yang kemudian nyambung ke nilai menarik lainnya dari film ini, yaitu komentar tentang moralitas di tengah konflik. Somehow diperlihatkan karena konflik ini, sikap dan langkah-langkah pihak negara maupun pemberontak kayak nggak ada bedanya, sama-sama menimbulkan ketakutan dan intimidasi terutama ke rakyat sipil yang sekadar lewat via bus ini, gara-gara nggak tahu siapa berpihak ke siapa, dan siapapun akan dicurigai.

Nilai plus lainnya adalah segi pemeranan. Pemain-pemainnya banyak, nggak semuanya ternama, namun satu sama lain mampu memberikan performa yang sama-sama baik dan berdampak bagi keseluruhan cerita, apalagi ada semacam batas kabur antara mana yang baik dan yang nggak, mengingat hampir semua tokoh ini punya sisi gelap masing-masing. Paling nggak beberapa tokoh "pegangan"-nya cukup gampang dikenali. Penataan adegannya juga sanggup menimbulkan cekam yang cukup masuk akal. Dan thanks juga buat departemen editing, pemorsiannya terbilang cukup seimbang dan bener-bener ceritanya jadi "jalan". 

Gw pikir ada sih beberapa hal yang bisa saja di-trim biar durasinya lebih compact sedikit. Namun, itu sebenarnya bukan gangguan yang sangat....jika dibandingkan dengan presentasi gambarnya yang bikin gw bertanya-tanya sama pilihan artistiknya. Gw cukup salut dengan pemilihan lokasi hingga desain busnya yang cukup nyambung dengan nyawa ceritanya. Tetapi, agak disayangkan bahwa sebagian besar dari itu semua tampil, well, temaram. Iya sih judulnya ada kata "night" dan latar waktunya terjadi semalaman suntuk, tapi 'kan bisa kali dibuat lebih terang, entah dari pencahayaan atau dari coloring-nya, demi kenyamanan kita bersama. Performanya akan lebih terlihat, yang nonton juga nggak lelah memicingkan mata untuk mengatasi redupnya gambar selama nyaris dua seperempat jam. I mean, mungkin harusnya ketika ada lampu atau api, itu cahayanya dikencengin aja, sedikit nggak realistis tapi yang penting nggap redup gitu =/.

Biar demikian, untunglah *nah, selalu masih ada untungnya* kelemahan film ini terletak di teknisnya, bukan di konten dan konteksnya, ini more or less kebalikan dari sebagian besar film yang ada sekarang. Respek tetap gw berikan untuk film ini, yang berangkat dari ide dan cerita menarik, and I think I could say it's quite original, menjadi sebuah film yang dituturkan dan diperankan dengan baik.





My score: 7/10

Sabtu, 22 April 2017

[Movie] Dear Nathan (2017)


Dear Nathan
(2017 - Rapi Films)

Directed by Indra Gunawan
Screenplay by Bagus Bramanti, Gea Rexy
Based on the novel by Erisca Febriani
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Amanda Rawles, Jefri Nichol, Surya Saputra, Ayu Diah Pasha, Rayn Wijaya, Diandra Agatha, Beby Tsabina, Chicco Kurniawan, Karina Suwandi


Sebagaimana anggota penonton di luar target demografinya, mudah bagi gw untuk jatuh pada prasangka bahwa Dear Nathan adalah film alay. You know, palingan cuma anak-anak baru gede aja yang akan demen. Apalagi kalau bukan kisah cewek (yang digambarkan manis) ketemu cowok (yang digambarkan bandel) di sekolah, keduanya dengan nama-nama fancy berhubung ceritanya berdasarkan novel, muncul benih-benih cinta serta berbagai rintangan dan halangan yang harus mereka hadapi untuk cinta bertumbuh. Dan, memang, pola cerita itu masih dipakai di film ini. But "alay"? Belum tentu. Penggarapan dan taste ternyata ngaruh banget sama bagaimana hasil akhir sebuah film meski pola kisahnya daur ulang yang sudah-sudah, dan ini terbukti di Dear Nathan.

Sedikit tentang plotnya, film ini berkisah tentang hubungan Salma (Amanda Rawles) yang termasuk siswi SMA baik-baik dengan Nathan (Jefri Nichol) yang kerap bermasalah, baik di lingkungan sosial maupun di keluarganya yang ternyata menyimpan banyak tragedi. Hubungan mereka nggak sepenuhnya didukung oleh circle mereka, demikian pula diramaikan oleh (tentu saja) sosok-sosok lain yang ingin merebut hati Salma maupun Nathan.

Yang menarik adalah bagaimana kisah biasa dan terlalu familier itu bisa dituturkan tetap dengan enak dan believable. Film ini pandai memilih fokus, sekalipun packed dengan berbagai persoalan yang khas anak-anak SMA--cinta-studi dan everything in between, konflik-konflik yang dihadirkan bukan berarti harus digelontorkan segambreng biar kesannya rumit, or even diada-adain. Salah satu pilihan yang gw rasa tepat adalah biarlah karakter yang banyak masalah hanya Nathan, yang memang cukup fungsional dalam menggerakkan ceritanya, nggak perlu ditambah-tambahin dengan baggage-nya Salma--hanya secara subtle ditunjukkan dia cuma punya ibu, nggak juga perlu persoalan rebutan pacar atau bertengkar sama teman diperpanjang dengan terlalu.

Di luar itu, gw merasakan ada kombinasi yang works antara angle penuturannya yang memang dari anak SMA tentang anak SMA, dengan kedewasaan dalam memandang persoalan yang terjadi. Ini bukan cerita tentang orang dewasa dari fantasi anak SMA, atau tentang anak SMA dari ingatan terdistorsi orang dewasa, yang seringkali membuat film-film seperti ini kurang imbang hasilnya. Di satu sisi, dialog-dialog, ekspresi, interaksi, serta kegiatan keseharian yang digambarkan terbilang sangat wajar terjadi di usia-usia SMA, lagi-lagi gw harus pakai kata believable di sini, karena memang demikian. Di sisi lain, gw nggak merasakan film ini meng-indulge melankolisme bahwa persoalan cinta remaja adalah pertaruhan hidup-mati, tetapi just a period of life, karena masih ada persoalan akademik, persoalan keluarga, persoalan ekonomi, yang mungkin sama atau lebih penting. Namun, juga nggak sertamerta meredamkan unsur emosi.

Kesan paling kuat yang gw dapat adalah film ini membalikkan prasangka buruk gw sebelumnya. Nggak nyangka bahwa kualitasnya ternyata cukup matang dan sangat bertanggungjawab, terutama sebagai film drama roman remaja, nggak menghina logika, nggak alay, dan nggak nyangka bahwa gw bisa enjoy. Teknisnya juga sekilas tampak kayak sederhana tetapi masih kerasa ada upayanya, contoh dari kekompakkan warna visual dari desain produksi dan sinematografinya, nggak mencolok tapi tertata. Di antara film-film roman tentang remaja atau target penonton remaja yang gw tonton dalam tahun-tahun belakangan ini, mungkin Dear Nathan-lah yang paling nggenah.





My score: 7,5/10

Selasa, 28 Maret 2017

[Movie] Life (2017)


Life
(2017 - Columbia)

Directed by Daniel Espinosa
Written by Rhett Reese, Paul Wernick
Produced by David Ellis
Cast: Jake Gyllenhaal, Rebecca Ferguson, Ryan Reynolds, Hiroyuki Sanada, Ariyon Bakare, Olga Dihovichnaya


"Life" adalah sebuah kata yang begitu luas maknanya, mencakup segala hal, sehingga kalau dipakai buat jadi judul sebuah karya cerita malah terdengar sangat malas, kayak nggak ada judul lain. I mean, setiap cerita pasti mengisahkan tentang suatu life, kehidupan, entah itu karakternya atau dunianya, entah itu nyata atau khayalan. Kalau bisa juga semua orang yang bikin cerita pakai aja judul "life" daripada repot memeras otak buat merangkai judul yang menggambarkan isi sekaligus catchywhich is itulah yang terjadi dalam 10 tahun terakhir ketika gw sudah mengenal tiga karya berbeda dengan judul Life, dari serial TV kepolisian berjudul Life (2007), film biografi James Dean dan fotografernya yang juga berjudul Life (2015), dan kali ini ada film horor sci-fi antariksa juga berjudul Life, atau kalau mau nurut tipografinya, L I F E =_='. Film Life terbaru ini tergolong out of nowhere muncul dalam radar gw, karena kabar beritanya baru gw dengar menjelang rilis. Meski demikian, pemakaian bintang-bintang berkualitas kelas internasional seperti Jake Gyllenhaal, Rebecca Ferguson, Ryan Reynolds, hingga Hiroyuki Sanada mendorong gw untuk setidaknya nyicip filmnya siapa tahu punya daya tarik lebih dari sekadar judul yang payah.

Life berlatar (mungkin) tak jauh di masa depan, stasiun antariksa ISS yang mengorbit bumi sedang punya misi menerima dan meneliti suatu sampel (terduga) makhluk hidup dari planet Mars, sebagai lanjutan pembuktian teori tentang adanya kehidupan di planet jiran itu. Proses ini utamanya dilakukan oleh peneliti Hugh Derry (Ariyon Bakare) disokong oleh lima astronot lainnya yang bertugas di sana: Kapten Ekaterina Golovnika (Olga Dihovichnaya), pilot Rory Adams (Ryan Reynolds), teknisi Sho Murakami (Hiroyuki Sanada), serta dua dokter Miranda North (Rebecca Ferguson) dan David Jordan (Jake Gyllenhaal). Beberapa kali percobaan, Hugh akhirnya berhasil mengondisikan lingkungan laboratoriumnya sehingga temuan mereka dari Mars yang berupa sel kecil itu hidup kembali, bahkan cukup cepat tumbuh besar. Saking cepatnya, para antariksawan ini kewalahan, karena sel yang mereka namai Calvin itu ternyata juga kuat dan mampu memangsa makhluk hidup lain demi bertahan hidup. Terperangkap di dalam bangunan yang melayang-layang di luar angkasa, para astronot ini tak hanya harus mencari cara untuk tidak jadi korban selanjutnya, tetapi juga berupaya agar makhluk itu nggak sampai masuk ke bumi. 

Jadi, "life" yang dimaksud di sini merujuk pada si Calvin yang ternyata hidup, atau "life" dalam arti nyawa tiap-tiap orang yang terancam akan keberadaan Calvin, atau apalah, yang pasti harusnya film ini bisa diberi judul yang lebih dramatis dan spesifik daripada L I F E doang. Memang, meski dengan segala unsur latar belakang serta tema yang agak-agak scientific dan fancy itu, film ini sebenarnya cukup sederhana. Life pada dasarnya adalah creature horror, film horor tentang teror monster yang akan memangsa satu per satu tokoh dalam filmnya, mungkin ini mirip film-film macam Anaconda, Lake Placid, atau film-film zombie, polanya kira-kira sama. Tetapi, bedanya di sini semuanya terjadi di stasiun luar angkasa lengkap dengan gravitasi nol-nya. Menurut gw ini poin penting, selain karena jarang banget film berlatar antariksa yang nyaris semua adegannya memakai gravitasi nol (kecuali, well, Gravity (2013)), keadaan ini juga membuatnya punya sensasi berbeda. Dalam pandangan gw, gravitasi nol membuat manusia a.k.a. calon korban akan lebih cepat dalam bereaksi terhadap serangan monsternya, gerakannya lebih leluasa--tinggal meluncur gitu nggak mungkin pakai acara jatoh =D, plus mereka ini para astronot yang pastinya bukan orang-orang bodoh atau panikan, sehingga membuat horornya lebih dinamis. Dan, keadaan ini juga menuntut si monsternya lebih pandai dan dan aksinya lebih mengerikan, sehingga intensitas thrill-nya bisa ditingkatkan.

Buat gw, film ini mewujudkan semua potensi dramatik dan thrill tadi dengan cukup pantas. Ketegangan dan teror yang dibangun benar-benar sanggup ditonjolkan sehingga nggak jarang bikin senewen. Karena film ini dibangun sebagai horor, kalau syarat utama film horor sudah dipenuhi, ya film ini sudah termasuk berhasil. Kemudian dipercantik lagi dengan nilai tambah berupa kelengkapan produksi yang mantap, bahwa semua tokoh, benda, bahkan kamera yang menyorotnya juga seakan-akan melayang-layang karena ceritanya ini dalam kondisi gravitasi nol, yang tanpa atas dan bawah, dan ditampilkan dengan tata visual yang mulus, sehingga jadi cukup believable—kecuali penerangannya sih ya yang kayaknya terlalu gelap deh. Kalau dibilang ini versi skop kecilnya dari Gravity ya nggak juga, karena film ini menampilkan lebih banyak orang—sehingga teknik melayang-layang juga jadi lebih ribet, tetapi memang di film ini ruangannya terbatas di situ-situ saja. 

That being said, selain itu semua, film ini pada akhirnya nggak memberi apa-apa lagi. Ceritanya dan penuturannya sangat straightforward tanpa memberikan bahasan yang lebih, ya cuma horor di gravitasi nol, siapa yang mati duluan siapa yang tersisa, udah, bye. Selain gravitasi nol tadi—ya kasih juga deh poin buat diversity karakternya, film ini jadi terasa nggak memberikan sesuatu yang baru lagi. Horor antariksa udah dipopulerkan oleh seri Alien—dan film ini terang-terangan mengikuti pola film Alien, serta mungkin puluhan judul lain yang nggak seterkenal itu yang mengangkat topik dan jalan cerita serupa. Satu titik yang mungkin akan dibahas cukup panjang, yaitu soal klimaks hingga tutupannya, juga menurut gw merupakan batas tipis antara bold dan cheaply manipulative. Gw pribadi lebih condong ke yang terakhir, menganggapnya sebagai trik terakhir agar ngangkat filmnya biar nggak dibilang horor "biasa", padahal jadinya ya biasa juga, udah pernah kok dilakukan sebelumnya di film-film yang nggak kalah high profile, hih. Meski begitu, itu nggak sampai membuat gw menurunkan nilai Life sebagai film yang memberikan sajian hiburan yang gripping selama 100-an menit. Paling nggak filmnya nggak selempeng dan semalas judulnya.





My score: 7/10