Selasa, 13 Desember 2016

[Movie] Your Name. (2016)


君の名は。 (Kimi no Na wa.)
Your Name.
(2016 - Toho)

Directed by Makoto Shinkai
Screenplay by Makoto Shinkai
Produced by Noritaka Kawaguchi, Genki Kawamura
Cast: Ryuunosuke Kamiki, Mone Kamishiraishi, Masami Nagasawa, Etsuko Ichihara, Ryo Narita, Aoi Yuki, Nobunaga Shimazaki, Kaito Ishikawa, Kanon Tani, Masaki Terasoma


Salah satu faktor utama gw suka Japanese stuffs sampai sekarang adalah obviously bahwa gw bagian dari generasi yang tumbuh bersama animasi (dan komik) Jepang. Lalu berlanjut dengan kesadaran bahwa animasi Jepang itu tidak selalu untuk anak-anak, dengan ide-ide yang wild karena bisa bikin cerita apa saja dan genre serta setting di mana saja sejauh imajinasi kreator memungkinkannya, ditambah lagi punya cara penuturan yang khas disesuaikan dengan segmen-segmennya, dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Makanya, istilah "anime" itu bukan cuma singkatan dari "animation", tetapi memang menunjukkan perbedaan antara industri animasi Jepang dengan negara lainnya. In that context, gw juga harus mengakui bahwa pendalaman anime gw sudah lama terhenti sejak zaman majalah Animonster ukurannya masih A4 per lembarnya, dan ketika saluran Animax udah nggak masuk paket basic di TV kabel First Media. Lagipula selama ini gw lebih banyak mengikuti serial anime TV yang notabene kebanyakan adaptasi komik, gw termasuk jarang menyentuh anime layar lebar, berhubung aksesnya juga jarang sekali yang legal (apalagi dulu pas awal 2000-an ketika Jejepangan lagi booming tapi seperti tak dipedulikan oleh pihak-pihak terkait), gw nonton anime movie cuma once in a while aja.

Nah, makanya ketika bioskop Indonesia mendatangkan sebuah film anime yang kebetulan sangat hits di Jepang dan negara-negara Asia lainnya beberapa bulan belakangan ini, gw nggak boleh kelewatan dong. Adalah Kimi no Na wa. alias Your Name. (harus pake titik entah kenapa, it's a thing for them, I guess), yang bertahan di nomor satu box office Jepang selama berpekan-pekan. Gw sendiri nggak mau berasumsi kenapa film anime orisinal ini sukses banget di sana, sementara film-film anime bioskop yang laris di Jepang biasanya berangkat dari studio Ghibli atau dari karakter dan brand yang sudah terkenal seperti Doraemon. Bisa jadi karena kontennya semata, yang memang tidak bisa dipandang sebelah mata. 

Sebagai persentuhan pertama gw dengan karya Makoto Shinkai (sebelumnya bikin 5 Centimeters per Second dan The Garden of Words), jujur gw awalnya ragu dapat menemukan sesuatu yang menarik dari film ini. Style gambarnya nggak istimewa untuk ukuran anime 2D, pun sekilas seperti percintaan remaja berseragam biasa saja. Bahkan hingga minutes into the movie, gw masih beranggapan begitu, dengan adanya opening title layaknya anime TV biasa (walau sebenarnya ini juga termasuk wajar buat anime bioskop, Ghibli aja yang agak aneh jarang pake beginian). Namun, nyatanya saat menonton gw bisa tertegun dan terpukau sama penuturannya. Shinkai sang kreator seperti sengaja membuat penonton berpikir ini kisah biasa awalnya, namun kemudian digulirkan lembar per lembar babak ceritanya dengan sangat mulus dan impresif, dan membuat gw tidak perlu kebingunan lagi, malahan menikmati akan konsep yang ditawarkannya, yang sebenarnya termasuk rumit.

Mitsuha (Mone Kamishiraishi), seorang siswi SMA di sebuah kampung kecil Itomori terbangun dari mimpi aneh, dan semakin aneh lagi ketika ia tidak mengingat kejadian yang terjadi sehari sebelumnya. Beberapa hari kemudian, ia terbangun sebagai seorang siswa SMA di pusat kota Tokyo bernama Taki (Ryuunosuke Kamiki). Aneh, seperti mimpi, tapi terus-terusan terjadi. Sampai akhirnya disadari bahwa baik Mitsuha maupun Taki adalah sosok yang sama-sama nyata, tetapi mereka secara ajaib saling bertukar tubuh pada hari-hari tertentu—jadi adegan pegang-pegang payudara sendiri itu bukan cuma peversion khas anime saja *ups*. Tidak tahu sebab dan tujuan dari fenomena ini, keduanya kemudian memulai sebuah komunikasi unik agar dapat saling menunjang di kehidupan masing-masing supaya nggak dipandang aneh sama sekitar mereka, walau nggak selalu berhasil. Namun, sebuah kejadian besar menimpa salah satu dari mereka, membuat Mitsuha dan Taki mau tak mau harus saling menemukan satu sama lain.

Selebihnya dari apa yang gw ceritakan, kayaknya nggak akan gw bahas banyak di sini. Orang-orang bilang itu "twist", tetapi kalau buat gw itu adalah cara yang digunakan si pembuat film agar yang nonton memahami apa yang sedang ia ceritakan, bukan soal membuat penonton terkejut. Dari awalnya mencuplik soal gender awkwardness, ada konsep-konsep menyerempet antara mythical, mystical, dan sci-fi, yang juga agak beda-beda tipis dengan apa yang kita kenal sebagai mimpi, sebuah "alam" yang tidak terikat ruang dan waktu. Mimpi, yang seindah dan sebetah apapun kita di sana, saat bangun kita seperti diprogram untuk mudah lupa apa isi mimpi itu dan siapa yang ada di sana secara detail. Di saat bersmaan, film ini juga dengan mulus membangun ikatan perasaan antara kedua tokoh utama, yang mana mereka bisa saling mengenal, peduli, dan mengerti "luar dalam" *uhuk* tanpa pernah saling bertatap muka di saat yang sama. Tuh 'kan, kalau gw yang nulis jadi kayak picisan dan just like some faux-philosophical craps yang kerap disampaikan oleh para penutur cerita di dunia ini dari format film sampai ke lirik lagu. Tetapi, pas nonton filmnya, gw ya larut aja dengan semua itu.

Karena poin di atas, gw sangat respek sama Your Name., karena nggak berusaha sok rumit, sok serius, sok misterius, sok absurd, ataupun sok mellow, melainkan segala sesuatunya dibuat sesuai kebutuhan bercerita. Style gambarnya yang gw bilang generik itu pun sepertinya justru membantu agar timbul kesan relatable, sehingga ceritanya nggak terdistraksi oleh visual yang terlalu elaborate. Toh film ini tetap menampilkan beberapa teknik animasi yang asyik untuk dilihat walau agak subtle, seperti pergerakan yang detail di adegan tari atau yang banyak gerak lainnya, plus tampilan layout dan background yang rapih dan vibrant. Jika ada yang masih agak mengganjal buat gw adalah film ini masih terlalu verbal dalam menggambarkan psikologi dan perasaan karakter-karakternya lewat narasi-narasi "suara hati"-nya. Again, ini memang gaya yang sering digunakan dalam anime, terutama kalau bergenre roman, sehingga gw lumayan permisif dengan menganggap bahwa ini lagi-lagi satu cara agar filmnya nggak asyik sendiri atau mengalienasi penontonnya. Konsep ceritanya sendiri saja, ditambah letupan-letupan emosi yang disematkan di dalamnya, sudah cukup membuat Your Name. sebagai tontonan yang kuat, jadi yah nggak perlulah banyak gaya-gayaan lagi di departemen lainnya. Keren.




My score: 8/10

2 komentar:

  1. Dari duLu gwe ngerasa kadang gambar Latar beLakang di fiLm Shinkai Lebih bersinar *naon* daripada karakter manusianya.. Jadi kangen Tokyo T^T
    Tapi nonton ini di Laptop dan di Layar Lebar emang beda banget kesannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmm, kalau di laptop bukannya jadi kayak anime TV yah? *eh* =P

      Hapus