Sabtu, 03 September 2016

[Movie] Train to Busan (2016)


부산행 (Busan-haeng)
Train to Busan
(2016 - Next Entertainment World/RedPeter Film/Cotents Panda)

Directed by Yeon Sang-ho
Written by Park Joo-suk
Produced by Lee Dong-ha
Cast: Gong Yoo, Kim Su-an, Ma Dong-seok, Jung Yu-mi, Choi Woo-sik, Kim Eui-sung, Ahn So-hee, Choi Gwi-hwa, Jung Suk-yong, Ye Soo-jung, Park Myung-sin


Mungkin gw udah sering sampaikan juga, atau mungkin juga belum *lah*, film Korea sudah sampai pada level mau bikin film kayak apa juga hayuk aja. Dari yang artsy-artsy sampai yang fantasi-fantasi ala Hollywood ya hayuk aja, karena sumber dayanya sudah tersedia, apalagi sinema mereka juga sudah cukup terpandang secara internasional. Jadi kalau kali ini ada yang mau bikin film zombie apocalypse di dalam kereta api dengan penyampaian gaya Korea, ya hayuk aja. Tinggal bagaimana eksekusi dan delivery-nya mampu memanfaatkan sumber daya itu dengan baik atau nggak. Tempo hari gw berkesempatan menyaksikan Train to Busan, salah satu film Korea paling dibicarakan tahun ini, utamanya di lingkaran genre horor dan thriller. Gw sendiri tertarik bagaimana ide 'zombies on a train' bisa dikembangkan jadi sebuah film skala blockbuster seperti ini.

Sedikit soal plotnya, film ini berawal di Seoul, berangkat dari hubungan antara seorang fund manager (pengelola dana investasi) angkuh, Seok-woo (Gong Yoo) yang karena kesibukannya jadi agak berjarak dengan putri kecilnya, Su-an (Kim Su-an). Suatu ketika Su-an meminta untuk mengunjungi ibunya a.k.a. mantan istri Seok-woo di Busan, toh gampang tinggal naik kereta api cepat satu kali. Akhirnya, Seok-woo memutuskan untuk mengantar Su-an ke Busan, sayangnya itu terjadi saat sebuah wabah misterius tengah merebak, yang mengubah orang-orang menjadi zombie pemangsa manusia. Wabah itu pun juga menyelinap ke dalam kereta api menuju Busan yang ditumpangi Seok-woo dan Su-an serta ratusan penumpang lainnya, dan perjalanan yang tadinya tinggal duduk manis beberapa jam menjadi pertaruhan hidup dan mati. 

Film dengan unsur kengerian biasanya akan memilih suasana gelap-gelapan, karena mungkin itu lebih gampang menimbulkan rasa takut, dan itulah yang membuatnya terlalu mainstream. Train to Busan justru memilih untuk menempatkan ceritanya di siang hari, tetapi nggak sama sekali mengurangi kadar ketegangan dan kengeriannya, dan itulah keistimewaan utama film ini buat gw. Film ini gw bilang sangat berhasil mengolah konsep zombie dan bencana dalam tata adegan dengan ketegangan tingkat tinggi, bikin gemes sambil ngeremes pinggiran bangku saking serunya. Dari konsep zombie-nya juga menurut gw sangat rapi, ada rules yang bisa dipahami penonton dan nggak asal comot konsep zombie-zombie yang udah ada, sekalipun memang tidak benar-benar dijelaskan panjang lebar dari mana asalnya. Toh, itu sudah cukup untuk mendukung fokus cerita film ini pada survival karakter-karakter utamanya.

Namun, tampaknya perlu diwanti-wanti bahwa ini tetaplah film Korea untuk konsumsi mainstream. Apakah itu berarti baik atau buruk balik lagi ke selera. Buat gw, sebenarnya bagus juga bahwa film ini ditata agar penonton concern sama para karakter yang dimunculkan, dan gw senang bahwa karakter yang penonton bisa root for bukanlah sosok-sosok suci serba jagoan, melainkan juga punya kelemahan masing-masing. Walau demikian, film ini juga memunculkan dosis melankolia yang cukup tinggi, suatu hal yang sepertinya obligatory untuk film Korea. Gw percaya banyak yang akan terlarut dan bahkan menyambut baik unsur ini, tetapi  gw pribadi merasa dosisnya agak terlalu tinggi, with all that long lihat-lihatan, tangis-tangisan, bencana-bencana tambahan, flashback, pokoknya hal-hal yang menurut gw nggak perlu sebanyak itu juga, yang malah makin di-stretched di bagian-bagian akhir. Oh, sama adanya satu tokoh menyebalkan dan of course nggak mati-mati yang menurut gw jadi kelihatan terlalu fabricated karena sengaja banget dibuat untuk dibenci dan memperumit klimaks, padahal menurut gw terjebak satu kereta sama serombongan zombie udah cukup melelahkan--ini kecenderungan yang sama seperti gw ingat di film disaster Korea, Flu (2013). Ketika di awal-awalnya gw cukup salut bahwa karakterisasinya itu nggak sekadar hitam-putih, eh malah dipatahin di akhirnya. Tapi ya, again, mungkin itulah gayanya Korea.

Meski not a fan dari sisi dramanya, gw tetap ingin menaruh Train to Busan dalam kelompok film yang berhasil, terlebih dalam fungsinya memberikan hiburan yang berkualitas tinggi. Gw mungkin sudah agak lama nggak merasakan thrill yang seintens ini dalam film bertema bencana, dan lagi film ini didasari pada konsep-konsep yang, well, terkonsep. Apalagi didukung oleh production value kelas wahid, khususnya dalam setting kereta api cepat dan di siang hari yang masih meninggalkan fascination buat gw.




My score: 7/10

2 komentar:

  1. Film ini ternyata lumayan banyak dapat rating positif ya? Baiklah saya akan mencoba untuk menontonnya juga ^^

    Anyway, bisa tukaran link? This's mine: http://eigarebyu.blogspot.co.id/2016
    Thank you :)

    BalasHapus
  2. Lebih seru dari World War Z, padahal terpaksa nonton karena diajak, ternyata puas banget.

    BalasHapus