Jumat, 26 Agustus 2016

[Movie] Kingsglaive: Final Fantasy XV (2016)


Kingsglaive: Final Fantasy XV
(2016 - Square Enix/Odex/Sony Pictures)

Directed by Takeshi Nozue
Screenplay by Takashi Hasegawa
Story by Kazushige Nojima, Saori Itamuro
Produced by Hajime Tabata
Cast: Aaron Paul, Lena Headey, Sean Bean, Liam Mulvey, David Gant, Adrian Bouchet, Darin De Paul, Trevor Devall, Alexa Kahn, John DeMita


Obsesi gw terhadap video game terhenti pada Soul Edge dan The Sims, berbeda dengan teman-teman sebaya yang lebih adventurous dan banyak melahap game yang butuh waktu dan komitmen panjang, salah satunya seri role playing game (RPG) Final Fantasy *the other was Harvest Moon*. Gw tahu Final Fantasy itu terkenal tapi gw nggak benar-benar ngerti itu tentang apa dan kenapa serinya sampai banyak banget, nggak pernah main juga, dan butuh waktu untuk ngeh bahwa setiap jilid ternyata emang beda cerita dan karakter, cuma ada persamaan beberapa elemen, misalnya soal negeri antah berantah dan ada unsur magisnya. Final Fantasy juga ternyata tidak "berhenti" di game, karena juga menyangkut tentang teknologi digital dalam grafisnya yang sangat maju, sampai ke ke musiknya yang digarap serius, sampai-sampai menghasilkan soundtracks yang melibatkan musisi terkemuka--bahkan Addie MS pernah bikin konser tribute dengan orkestranya. Dan, bahwa game-nya sampai ke jilid ke-15, that's saying something. Jadi kalau ada yang tanya what's the big deal sama Final Fantasy, ya emang big deal di blantika game.

Lalu apakah gerangan Kingsglaive: Final Fantasy XV? Singkatnya, ini adalah pembuka dari game Final Fantasy XV yang akan rilis tahun ini. Namun, bukannya dimasukkan saja dalam pembukaan kepingan Blu-ray game-nya, Square Enix memutuskan untuk "meng-serius-i" bagian ini dengan membuat sebuah feature film animasi yang ditayangkan di bioskop. Film ini niatnya adalah memperkenalkan dunia yang jadi setting Final Fantasy XV dengan sebuah cerita latar belakang, yang nantinya berlanjut di game-nya dalam angle berbeda. Buat yang memang berniat memainkan game-nya, film ini tentu sangat rewarding. Tetapi bagaimana dengan gw yang mungkin berada di kelompok penonton yang lain?

Kingsglaive berkisah tentang sebuah kerajaan yang ditopang oleh kekuatan kristal magis, Lucis yang terus ditekan oleh negara imperialis berbasis teknologi, Niflheim. Raja Regis (diisi suara Sean Bean) kemudian membentuk sebuah pasukan khusus yang disebut Glaives, terdiri dari para pemuda-pemudi unggulan dari desa-desa sekitar, untuk melindungi Lucis dari Niflheim. Datang tawaran dari Niflheim untuk gencatan senjata lewat pernikahan politik antara putra Regis, Noctis, dengan putri Lunafreya (Lena Headey), dari wilayah jajahan Niflheim. Tetapi, nothing is like what it seems. Dari sudut pandang seorang Glaive andalan, Nyx (Aaron Paul), bergulirlah berbagai intrik menjelang penandatanganan perjanjian gencatan senjata, dari siasat Niflheim untuk merebut sumber kekuatan Lucis, pemberontakan politik dari pihak rakyat Lucis sendiri, hingga bahwa Lunafreya ternyata tidak sepenuhnya berpihak pada Niflheim.

Dari sekitar 100-an menit durasinya, satu hal yang jelas paling membelalak mata gw adalah kualitas animasinya yang uh-ma-zing. Dibuat dalam gaya photorealistic, hampir mirip live-action walau memang masih kelihatan animasi CGI, ditambah dengan desain-desain yang cantik memukau spektakuler dan efek visual yang meriah. Keren dan megah sekali tata artistiknya, animasi orang-orangnya juga nggak bikin sakit mata dan lebih bernyawa dibanding film-film animasinya Robert Zemeckis, misalnya. Konsepnya juga sangat menarik, menggabungkan unsur fantasi dengan atmosfer kontemporer--ada smartphone juga di sini--yang menyatu dengan sangat mulus. Cukup menyenangkanlah menyaksikan visual film ini.

That being said, sayangnya, itu semua tidak diikuti dengan penuturan cerita yang enak. Walau sudah "di-serius-i" sebagai sebuah film naratif, film ini buat gw terlalu rushing dalam bertutur, jahitan antar adegannya kadang lebih mirip montase dengan shot yang singkat-singkat, dan gw juga merasa beberapa voice-acting-nya terlalu "voice-acting", you know, kurang natural gitu kayak dubbing-an anime di Animax--dan memang pada prinsipnya ini anime dengan tim utama di Jepang tapi disesuaikan dengan audiens internasional. Alhasil, perkenalan cerita dan tokoh-tokohnya jadi terasa buru-buru sehingga kurang ngeresep, dan beberapa intrik yang sebenarnya cukup rumit jadi ya-udahlah-pokoknya-begitu.

Sayang sih, padahal idenya dan konsepnya keren banget, dan berpotensi membuat film ini cukup kokoh untuk jadi film mandiri. Tetapi, ya what do you expect, film ini memang tak lain adalah produk komplementer dari cerita game-nya kelak, yang harus "diselesaikan" lewat game-nya. Mau nggak mau harus dimaklumi kalau film ini berakhir kentang--kena tanggung, in case you forgot what that stands for--dengan misi yang sudah ditanamkan di awal tidak benar-benar tercapai, justru beralih ke konflik lain yang tidak terlalu ditekankan sebelumnya. "Klimaks" hanya ditandai dengan pertarungan gaduh porak-poranda--yang menurut gw juga agak too much--dan udah aja gitu. Dibilang bersambung iya, dibilang klimaks nggak terlalu, tapi ya mau gimana. Meski begitu, buat gw yang merasa udah game-o-pause--hasrat menurun untuk nge-game =P--minimal udah bisa menikmati grafisnya yang luar biasa dan bisa nyangkut juga sama worldbuilding-nya. Di mana lagi bisa lihat kisah fantasi yang ada mobil sport Audi dan logo Uniqlo-nya.





My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar