Rabu, 13 Juli 2016

[Movie] The Legend of Tarzan (2016)


The Legend of Tarzan
(2016 - Warner Bros.)

Directed by David Yates
Screenplay by Adam Cozad, Craig Brewer
Story by Craig Brewer, Adam Cozad
Based on the 'Tarzan' stories created by Edgar Rice Burroughs
Produced by Jerry Weintraub, David Barron, Alan Richie, Tony Ludwig
Cast: Alexander Skarsgård, Samuel L. Jackson, Margot Robbie, Christoph Waltz, Djimon Hounsou, Jim Broadbent, Sidney Ralitsoele, Simon Russell Beale, Casper Crump


Setiap generasi yang hidup sekarang kayaknya kenal dengan setidaknya satu versi dari kisah Tarzan. Gw sendiri kenal Tarzan dari serial TV versi modern yang ditayangkan RCTI di tahun 1990-an--yang setelah gw cek Wiki ternyata judul aslinya adalah Tarzán karena diproduksi Prancis dan Kanada. Lalu kemudian ada Tarzan versi animasi Disney dan beberapa kali pemutaran film parodi Tarzan versi Benyamin S. Baru kemudian gw tahu bahwa Tarzan itu dari seri cerita klasik karya pengarang Inggris, Edgar Rice Burroughs dari tahun 1910-an, dan sudah berulang kali diadaptasi dalam bentuk apa pun media dan genre yang bisa kita bayangkan *termasuk...you know...*, jadi hampir nggak ada yang bisa disebut "versi aslinya". Dalam bayangan awal gw, proyek The Legend of Tarzan dari Warner Bros. atau waktu itu nickname-nya Tarzan 3D kayak nggak ada hal baru untuk ditawarkan, selain mungkin kemajuan efek visual. Tetapi, rupanya film pertama yang gw tonton dari sutradara David Yates di luar franchise Harry Potter ini tetap punya daya tarik, surprisingly.

Mungkin masih dalam rangka kecenderungan beberapa studio Hollywood (kecuali Disney) membuat kisah-kisah yang grounded dan gritty, lahirlah The Legend of Tarzan ini. Memang film ini nggak membuat Tarzan jadi serba realistis, toh tetap saja ini ceritanya Tarzan si pria bule yang dibesarkan oleh kawanan gorila dan mampu berkomunikasi dengan hewan serta berperilaku kebinatang-binatangan tapi somehow nggak brewokan. Tetapi, di sini ceritanya semacam napak tilas Tarzan setelah masa-masa dia tinggal di hutan dan menemukan jati dirinya sudah lewat--sekalipun film ini bukan sekuel dari film mana pun. Kini dia sudah "beradab" dan mendapat kembali identitas sejatinya sebagai anak bangsawan Inggris bernama John Clayton III alias Lord Greystoke, saat diminta kembali ke hutan Congo demi sebuah misi di awal abad ke-20. Digabungkanlah kisah Tarzan itu dengan sedikit unsur sejarah masa penjajahan bangsa Eropa di benua Afrika, lalu digabungkan dengan tema universal manusia melawan alam. 

John Clayton III (Alexander Skarsgård) kini tinggal di rumah warisan keluarganya di London bersama istrinya, Jane (Margot Robbie)--kali ini si mbaknya digambarkan sebagai orang Amerika anak dari guru asing di sebuah suku di Congo. Dilatarbelakangi oleh upaya raja Belgia untuk mempromosikan pembangunan wilayah jajahannya di belantara Congo setelah selama ini menumpuk utang, John diundang untuk mengunjungi kembali tanah tempat ia dibesarkan itu, toh dia adalah Tarzan, "seleb" yang terkenal karena kisah hidupnya sebagai raja hutan, citra yang sebenarnya banyak terdistorsi oleh sensasi media. Sebenarnya, ada sebuah rencana di balik diundangnya John ke Congo. Rupanya, orang kepercayaan raja Belgia di Congo, Kapten Léon Rom (Christoph Waltz) hendak menangkap dan menyerahkan John kepada bernama Mbonga (Djimon Honsou), kepala sebuah suku asli di Congo, demi mendapatkan kuasa atas wilayah tambang berlian opar yang legendaris dan mahal itu.

Keadaan jadi sedikit kompleks ketika John dan Jane justru nggak langsung memenuhi undangan Rom, melainkan lebih mementingkan kunjungan kembali ke sebuah pemukiman suku asli tempat dulu mereka tinggal. Dan di saat bersamaan, seorang utusan diplomasi dari Amerika, George Washington Williams (Samuel L. Jackson) turut dalam perjalanan mereka, karena hendak membuktikan praktik perbudakan tersembunyi di kawasan Congo yang dicurigai dilakukan demi menutup-nutupi kebangkrutan raja Belgia. Tak terima, Rom pun memulai taktik agar tujuan awalnya tercapai. Pertikaian antarpihak dan kepentingan ini pun membawa John kembali jadi Tarzan, kali ini pakai celana.

Satu hal yang dapat gw simpulkan dari film ini adalah semuanya diceritakan dalam "bahasa manusia", jadi kita nggak akan melihat hewan-hewan tiba-tiba bicara bahasa Inggris karena itu udah bagiannya The Jungle Book =P. Buat gw cukup menarik konsepnya, bahwa film ini hendak menunjukkan 'Tarzan di balik legenda', salah satunya adalah cara dia berkomunikasi dengan hewan dan apa yang menyebabkan Tarzan bisa memanggil hewan-hewan sesuai cue *psst..karena menirukan suara musim kawin =D*, karena agak lebih masuk akal ketimbang just-because-he-can. Unsur fantasinya jadi seperti berkurang setengahnya, tetapi untungnya bisa di-make-up dengan unsur petualangan, laga, dan plotnya yang tetap bikin film ini masih punya daya tarik.

Dengan plot yang sebenarnya agak ribet itu--apalagi dengan banyak kepentingan berbeda di satu tempat, film ini masih bisa menyajikannya dengan cukup mudah diikuti. Tidak sesederhana baik lawan jahat--karena penokohannya tetap protagonis dan antagonis, tapi nggak sampai terlalu berat-berat mikir. Melihat bagaimana peran kolonialisme dalam mengeksploitasi sebuah wilayah tentu bukan hal asing lagi, kita orang Indonesia juga tahu itu. Tetapi, di sini diletakkan konteks yang cukup berlapis, ada soal utang, perbudakan, manipulasi media, prajurit bayaran, dan ada pula adu domba orang pribumi *anggap saja Tarzan itu pribumi*, bukan sekadar ambisi satu atau sekelompok orang (atau korporasi) jahat yang tiba-tiba gusur hutan, tapi ada tahap-tahapnya. Bahkan, di sini Tarzan tidak selalu digambarkan serba heroik, walau kemampuannya masih agak-agak superhero sih. Jujur gw nggak menyangka film yang harusnya sekadar senang-senang dan biasanya jadi sasaran empuk kritikus pedes seperti ini bisa meng-handle tema-tema itu bersamaan dengan presentasi adventure keseluruhan yang, well, didn't suck.

Yah, gw merasa sih film ini mungkin tidak akan jadi kisah Tarzan paling...emm...legendaris sepanjang masa. Meski menyinggung isu-isu menarik, film ini kayak kekurangan daya magis, terutama dari orisinalitas kali ya. Visualnya bagus tapi belum sampai membelalak mata, visual efeknya oke tapi nggak groundbreaking juga *dikira bangun apartemen*, aktor-aktornya oke tapi nggak sampe brilian, dan walau gw tidak merasa terganggu dengan model selang seling flashback tentang kisah asal muasal dan masa lalu Tarzan di bagian awal dan pertengahan film ini, penuturannya pun kadang agak menjenuhkan karena mungkin agak kurang humoris untuk film jenis hiburan. Eh, tapi mungkin itu juga gara-gara adegan 'ginian' dan 'gituan'-nya disuruh dihilangin oleh LSF, padahal kayaknya nggak bakal vulgar deh kalau di Amerika-nya aja juga rating-nya remaja, tapi ya orang sensor kita sekarang aneh-aneh sih standarnya =(.

So, gw hargai bahwa The Legend of Tarzan setidaknya bisa menafikan keraguan gw bahwa keberadaan film ini percuma aja. Untuk sebuah materi cerita karakter yang telah banyak dan lama dikenal, film ini mengangkat versi yang cukup segar dari sana. Bolehlah.




My score: 7/10

2 komentar:

  1. The quips Like "somehow ga berewokan" and "kali ini pakai celana" is the reason why I Love your review so much.

    BalasHapus
  2. aww that's so sweet of you *tersipu*

    BalasHapus