Sabtu, 09 Juli 2016

[Movie] ILY from 38.000 ft (2016)


ILY from 38.000 ft
a.k.a. I Love You from 38.000 Feet
(2016 - Screenplay Films/Legacy Pictures)

Directed by Asep Kusdinar
Written by Tisa TS, Sukdev Singh
Produced by Sukdev Singh, Wicky V. Olindo
Cast: Michelle Ziudith, Rizky Nazar, Derby Romero, Tanta Ginting, Ricky Cuaca, Amanda Rawles, Verrell Bramasta, Aline Adita, Rizky Hanggono, Ira Wibowo, Amara, Ayu Dyah Pasha


Ekspektasi haruslah tepat dalam upaya menyaksikan film seperti ILY from 38.000 ft ini. Caranya sederhana, intip TV nasional sesekali di pagi atau siang hari, atau cukup Google-kan keyword dari nama-nama pemain utamanya atau rumah produksinya, maka gambarannya akan gampang ditangkap. ILY *dibaca 'ili' oleh orang-orang terkaitnya sendiri, serius* adalah upaya ketiga dari Screenplay Productions untuk membuat film layar lebar, setelah selama bertahun-tahun PH ini memasok FTV buat ditayangkan pagi-pagi atau siang-siang di SCTV, dan seringya dibintangi oleh para pemain film ILY ini. Dengan label Screenplay Films, mereka sudah menghasilkan dua roman remaja berjudul Magic Hour (2015) dan London Love Story (2016), yang tampaknya sukses memindahkan sebagian penonton FTV mereka ke bioskop karena terbukti kedua film ini menjual 800-an ribu dan 1,1-an juta tiket bioskop respectively, which is amazing--kebantu sama promosi gencar di SCTV sih berhubung Screenplay memang berafiliasi di sana.

Berhubung drama romantis menye-menye dengan kalimat berbunga-bunga dan logika cerita dan karakter sakarepne bukanlah tipe film yang ingin gw saksikan secara sukarela di bioskop, gw kebetulan hanya sempat menyaksikan dua film sebelumnya itu di TV. Hal pertama yang langsung gw tangkap adalah holy crap these are craps, komplet dengan karakter-karakter muda mengesalkan, perancangan cerita serba kebetulan, dipenuhi dialog-dialog histerikal dan tangisan dalam porsi extended, bikin sakit kepala dan membangkitkan amarah gw karena ternyata orang-orang masih bikin film kayak begini. Dalihnya--dan mungkin ini memang benar adanya--film-film ini memang dirancang khusus untuk demografi remaja pecinta roman yang lagi dilanda istilah 'baper' (terbawa perasaan, ceunah. Don't get me started...) dan masih sering menciptakan fantasi-fantasi meleset tentang kedewasaan karena belum siap dengan kompleksitas kehidupan nyata. And it worked. Kalau udah begitu, gw dan kita yang berada di luar demografi itu nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Soal berkualitas atau nggak, soal film "yang benar" atau nggak, jadi nggak relevan.

Tetapi, gw harus mengakui bahwa ada upaya dari Screenplay untuk improve di setiap rilisannya. To be fair, film-film kayak begini bukan cuma dibuat oleh Screenplay. Namun, gw bisa menangkap bahwa Screenplay tampak paling niat untuk belajar bikin "film", bukan "FTV di bioskop"--which was ironic karena FTV itu kan harusnya film kualitas seperti bioskop di TV, but anyway. Magic Hour itu FTV banget, lalu di London Love Story mereka coba formula "syuting di luar negeri" dan hasilnya dikemas not bad untuk ukuran film drama bioskop, walau yah segi cerita dan segala hal lainnya tetap bikin migrain.

ILY sendiri jadinya adalah improvement dari proses itu. Film ini seperti disuntikkan semangat bikin "film" lebih tinggi lagi, terlihat dari production value yang sangat niat untuk ukuran film yang cuma roman remaja. Dari lokasi-lokasi alam terbuka eksotis, desain produksi yang nggak kelihatan sekenanya, sampai ke special effects dan animasi CGI yang digarap serius. Belum lagi ada perancangan musik dan pemanfaatan lagu yang kena. Garis cerita masih mirip-mirip dengan yang lain-lain, tapi kemasannya tetap worthy untuk disaksikan di bioskop. Gw pun membayangkan target penontonnya akan mulai mendapat "edukasi" terhadap bedanya FTV dengan film bioskop lewat film ini dari presentasinya. Dan gw sendiri, sebagai tipe penonton yang sangat-sangat geli dengan jalan cerita seperti ini, jadi tetap bisa respek terhadap hal-hal tersebut.

Well, jalan ceritanya teteup bikin geli sih. Cewek-cowok kebetulan ketemu di pesawat pas mau ke Bali dan end-up si cowok reluctantly anterin si cewek ke hotelnya. Kebetulan si cowok yang adalah pemimpin kru program jelajah alam di Geography Channel *no, seriously*, dan kebetulan mereka lagi kehilangan presenter, jadilah si cewek jadi presenternya, diajak keliling berbagai lokasi minim fasilitas. Di tengah itu semua, poinnya adalah si cewek yang perangainya agak agresif dan sangat, sangat ngeselin itu mau menarik perhatian si cowok sekalipun kerjaan yang harusnya dia lakukan adalah pekerjaan serius--ini hebatnya ILY, gw bisa merasakan bahwa pekerjaan mereka serius sekalipun ini film roman remaja yang biasanya suka menggampangkan hal-hal beginian. Singkat cerita mereka akhirnya jadian dan harus berpisah sementara untuk menyelesaikan tugas masing-masing, tapi setelah itu si cowok tak ada kabar lagi. Masuklah itu adegan-adegan murung dan tangis dan histerikal dan serba kebetulan dan serba flashback dan flashback in a flashback dalam porsi extended yang pernah gw singgung tadi.

Jika nilai produksinya mengalami kemajuan yang oke, nyatanya dari segi cerita ILY ini nggak terlalu beda. Ya masih "kayak gitu". Tapi, gw harus memberi special mention pada berkurangnya kalimat berbunga-bunga, dan penuturan paruh awalnya lumayan enak diikuti. Lumayan, karena masih aja mengganjal dari beberapa segi, misalnya karakterisasinya yang of course balik lagi ke gaya roman remaja yang tanpa kedalaman, masih mengikuti pakem komik-komik serial cantik khususnya dalam hal cewek cute tapi clumsy "menaklukkan" sosok cowok dingin nan cuek tapi ternyata diam-diam melakukan hal-hal yang tak diduga untuk menyatakan cinta *aaaaawww* *ambil tissue* -_-. Again, mau cowoknya diam-diam romantis, atau cowok ngondek tapi lurus, atau bitchy tapi, err, cowok, atau dua tokoh cowok dan satu cewek yang digambarkan baik dan semcam jadi orang-orang ketiga tapi rela melepas potensi cinta mereka supaya kedua tokoh utama film ini bersatu hanya karena alasan "cinta", dalam lingkup roman remaja, semengesalkan dan se-silly apa pun, itu sah-sah aja.

Jadi, ILY ya seperti itu, dia masih meng-service target penontonnya yang terbukti setia itu dengan unsur-unsur yang familier dan diharapkan dalam kisah seperti ini, pokoknya bikin bagaimana supaya menyentuh perasaan dan mendorong produksi air mata dan hidung. Mengharapkan ceritanya benar-benar baru, logis, riil, ataupun menampilkan performa para aktor yang cemerlang jelas berlebihan bahkan keliru--Michelle Ziudith masih menampilkan her typical hysterical utterances sekalipun adegan-adegannya nggak sampe segitunya, tapi mungkin itu dianggap menggemaskan bagi sebagian orang, what do I know. Namun, ternyata film ini bisa melewati ekspektasi dari segi produksi dan kemasannya yang bolehlah diperhitungkan, nggak asal jadi. Siapa tahu, film roman remaja selanjutnya dari Screenplay dan krunya bisa menaikkan lagi kualitasnya, termasuk di cerita dan karakterisasinya, dan di saat bersamaan pelan-pelan meningkatkan standar kualitas tontonan bagi penonton setianya, dan in the end semua pihak akan senang. Semoga.





My score: 6/10

1 komentar: