Sabtu, 04 Juni 2016

[Movie] Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara (2016)


Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara
(2016 - Film One Productions)

Directed by Herwin Novianto
Screenplay by Jujur Prananto
Story by Gunawan Raharja
Produced by Hamdhani Koestoro
Cast: Laudya Cynthia Bella, Dionisius Rivaldo Moruk, Agung Isya Almasie Benu, Arie Kriting, Ge Pamungkas, Lydia Kandou, Deky Liniard Seo, Surya Sahetapy


Dari judulnya saja, film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara seperti sebuah 'surat terbuka' yang tak punya rahasia lagi. Terlalu jelas apa yang ingin disampaikan, bahkan akan seperti apa akhir ceritanya, hanya dari gambaran aktris Laudya Cynthia Bella beratribut hijab muslim di tengah-tengah anak-anak SD Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur yang diketahui mayoritas menganut Katolik, dan diperjelas lagi lewat berbagai materi promosinya. Berbeda tetapi hidup dengan rukun, sebuah pesan sederhana dan sudah terlalu lama didengar di negeri Indonesia, tetapi entah kenapa tak pernah terwujud sempurna.

Namun, bagaimana film Aisyah kemudian dikemas menjadi satu hal yang patut ditengok. Film ini back to basics dengan cerita yang ingin menyampaikan pesan perdamaian tanpa muatan serba bombastis. Kisah, konflik, dan karakternya pun dibuat sesederhana mungkin, bahkan mungkin menyentuh ranah klise di beberapa tempat. Akan tetapi, terlihat juga sebuah keahlian dari sutradara Herwin Novianto, penulis Jujur Prananto dan Gunawan Raharja, beserta tim lainnya, dalam memperlakukan materi cerita sederhana dan sebuah pesan yang berpotensi (sangat) menggurui, menjadi sebuah film yang disajikan sehalus mungkin, berimbang, nyaman disaksikan, dan tetap bermakna.

Film Aisyah menyorot tentang perbedaan, bagaimana Aisyah (Laudya Cynthia Bella) yang awalnya tinggal di kawasan perkebunan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, bersama keluarganya di lingkungan yang diasumsikan dihuni sesama muslim. Kemudian ia pindah untuk jadi guru kelas jauh di Dusun Derok, Kabupaten Timor Tengah Utara—di dekat Atambua, perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Tak hanya jauh jaraknya dari rumah, daerah itu juga berkondisi panas dan kering, dan mungkin untuk pertama kalinya, ia dalam posisi sebagai penganut agama yang minoritas. 

Kesulitan dan tantangan yang kemudian dihadapi Aisyah sebenarnya hal-hal yang sangat sederhana dan obvious, tetapi cukup krusial dan nyata. Mulai dari kekeliruan terhadap identitas Aisyah karena sulitnya infrastruktur dan telekomunikasi di desa, kebingungan penduduk desa pada makanan untuk Aisyah lantaran mereka sehari-harinya makan babi—walau tak satu pun babi dan segala bentuknya ditunjukkan di gambar film ini, kesulitan air bersih, hingga melayani pertanyaan murid-muridnya tentang perbedaan di antara mereka, yang memang sensitif tetapi harus dijawab. 

Tantangan terbesar dan jadi pengikat utama film ini adalah Aisyah yang diboikot oleh salah seorang muridnya, Lordis Defam (Agung Isya Almasie Benu), karena di benaknya telanjur tertanam bahwa umat Islam dan Kristen bermusuhan. Inilah yang dipakai sebagai sisi dramatis film ini, yang memotivasi Aisyah untuk mencari cara membangun kepercayaan dari murid-muridnya.

Sesuai misinya, film ini terus menampilkan pesan perdamaian antara Aisyah dan murid-muridnya. Mulai dari simbol yang gamblang lewat saling peduli terhadap ibadah hari raya masing-masing agama, sampai penggambaran yang subtil dari tahap demi tahap keakraban Aisyah dengan lingkungan sekitarnya. Ia juga ditunjukkan memberi kontribusi, bukan berupaya memengaruhi. Dengan pengadeganan yang tak terlalu mengada-ada, tetapi juga tidak ofensif dan tidak menggampangkan, pemandangan ini berhasil menimbulkan kesan menyenangkan, sebuah pencapaian yang jarang bisa dilakukan dengan baik.

Ada juga satu tema menarik yang mungkin hanya tampak sekilas, yaitu persepsi tentang NTT sebagai wakil dari kawasan Indonesia bagian Timur dari sudut pandang yang tinggal di wilayah Barat atau Pulau Jawa. Di awal film, ibu Aisyah (Lydia Kandou) punya reaksi otomatis menolak putrinya berangkat ke desa di NTT. Ia khawatir, seolah memang telah tertanam di benaknya melalui media, bahwa itu daerah yang terlalu sulit untuk dihadapi Aisyah. Atau secara kasarnya, itu wilayah yang 'asing' sekalipun masih dalam teritori Republik Indonesia.

Namun, film ini justru menunjukkan bahwa sebenarnya penduduk desa Derok tidak meratapi diri. Sulit air, tak ada listrik, tetapi kehidupan tetap berjalan. Mereka masih bisa bermain, bercanda, dan bercengkerama sekalipun ditantang oleh minimnya fasilitas dari negara. Pemenuhan kebutuhan tak semudah di kota—atau pulau Jawa—namun ada saja cara untuk memenuhinya. Aisyah pun, walau berasal dari kehidupan yang terbilang nyaman, ditampilkan tidak terlalu kesulitan mengikuti ritme tersebut, bahkan ia menemukan keluarga baru di tempat yang dianggap 'asing' itu.

Film Aisyah tidak melulu soal tema-tema besar. Film ini juga masih bisa bertumpu pada kisah pada tokoh yang jadi judulnya. Menarik menyaksikan Aisyah yang di awal tampak naif, berangsur berubah menjadi sosok yang lebih teguh dan dewasa lewat pengalamannya sebagai guru di Derok. Kebersamaan Aisyah dengan murid-muridnya berhasil melesapkan motivasi awalnya yang lebih didorong oleh pembuktian diri di hadapan ibu dan teman dekat prianya, Jaya (Ge Pamungkas), berakhir jadi sebuah pengabdian seutuhnya, dan memenuhi cita-cita darinya sendiri.

Memang masih terselip beberapa titik yang terasa kendor, mulai dari pengadeganan porsi Ciwidey yang terlalu komikal, penyelesaian hubungan Aisyah dan Jaya yang cenderung menggelikan, sampai penempatan musik yang terlampau lantang di beberapa bagian—untungnya tidak banyak. Namun, mungkin itulah yang diperlukan agar film ini bisa menyeimbangkan tema yang sebenarnya sangat serius menjadi lebih ringan dan mudah diserap.

Itu tak sampai menutupi bahwa film ini punya tuturan yang baik, laju yang nyaman diikuti, porsi ceria, humor, dan haru yang tepat, ditopang juga dengan kekompakan para pemainnya—khususnya antara Bella dengan para pemain lokal NTT serta komedian Arie Kriting yang tampil segar tanpa melawak. Film ini juga mampu mengusung pesan tanpa harus menyusunkan kalimat pesan tersebut kepada penonton, karena semua sudah diterapkan dalam bentuk cerita dan adegan-adegan. Itu adalah sesuatu yang butuh kepekaan dan keterampilan, dan film Aisyah mampu menunjukkannya, lebih dari film-film berlabel 'inspiratif' yang terlalu banyak dibuat belakangan ini.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar