Minggu, 22 Mei 2016

[Movie] The Window (2016)


The Window
(2016 - Triximages/Dash Pictures)

Directed by Nurman Hakim
Written by Nurman Hakim, Nan T. Achnas
Produced by Nurman Hakim, M. Rochadi, Nan T. Achnas
Cast: Titi Rajo Bintang, Landung Simatupang, Karlina Inawati, Eka Nusa Pertiwi, Yoga Pratama, Haydar Salish


Film The Window mengikuti sosok Dewi (Titi Rajo Bintang), seorang perantau di Jakarta yang bekerja freelance di bidang survei. Suatu ketika, ia menerima kabar dari kampungnya di Yogyakarta, bahwa kakaknya, Dee (Eka Nusa Pertiwi), yang berkondisi cacat mental dan tak pernah keluar rumah, sedang hamil. Dewi memutuskan pulang ke rumahnya—setelah 10 tahun tak pernah pulang—dengan tujuan mengungkap siapa yang bertanggung jawab atas kehamilan Dee, berhubung sang ibu, Sri (Karlina Inawati), malah menganggap itu mukjizat bak Bunda Maria.

Dengan pengalaman melakukan survei, Dewi pelan-pelan menanyai para tetangganya petunjuk tentang kehamilan Dee. Di saat yang sama, Dewi bertemu lagi dengan teman masa kecilnya yang gemar bergaya koboi, Joko (Yoga Pratama), serta seorang tetangga yang baru dikenalnya, pelukis bernama Priyanto (Haydar Salish). Kedua pria ini awalnya termasuk dalam orang-orang yang Dewi curigai, tetapi Dewi justru makin akrab dengan Priyanto, sekalipun kabar menyebutkan pria itu bermasalah dan menjadikan kampung itu sebagai persembunyian.

Akan tetapi, kehamilan Dee bukanlah satu-satunya masalah yang harus diselesaikan Dewi. Pulang ke kampung halamannya berarti mempertemukannya lagi dengan ayahnya, Dharsono (Landung Simatupang). Tak seperti hubungan antarkeluarga yang biasanya, ada jarak dan kecanggungan di antara mereka. Ini rupanya berkaitan dengan alasan Dewi pergi dari rumahnya sejak remaja tanpa pernah pulang.

Seiring perkenalan terhadap tokoh-tokoh keluarga Dewi, film ini mulai memberi sorotan pada tatanan tradisi patriakal—khususnya dari keluarga di budaya Jawa, yang menempatkan laki-laki sebagai kepala keluarga dengan segala wewenangnya. Salah satu bagian yang paling mewakili ini adalah Dharsono selalu meminta dibuatkan kopi oleh Sri: ketika ramuannya kurang sesuai ia akan protes, tetapi ketika ramuannya benar ia tak akan bilang apa-apa.

Dewi hadir dengan membawa nilai berbeda di tengah keluarganya. Ia wanita yang hidup mandiri dan tak mau di bawah kuasa laki-laki. Ia proaktif mencari kebenaran tentang kakaknya. Ia menolak saat Priyanto mencoba memberi ciuman lebih dahulu. Ia juga tak mau menahan sakit hati pada ayahnya yang tak pernah merasa salah, ataupun kegeraman terhadap ibunya yang menganggap tekanan yang diterima dari suami itu hal biasa dan sudah seharusnya.

Kisah pun berkembang tak cuma soal mengungkap misteri kehamilan Dee, tetapi juga sebagai refleksi terhadap tradisi yang menekan perempuan, terlebih secara psikis. Ada sebentuk perlawanan dari tokoh Dewi untuk bisa keluar dari tekanan itu, tetapi ia juga belakangan sadar bahwa tak bisa melakukannya dengan emosi gegabah ataupun tindakan fisik. Musuh Dewi maupun Sri bukanlah sosok Dharsono, melainkan pride dan egonya sebagai laki-laki, dan itulah yang jadi kunci perlawanan mereka.

Keseluruhan presentasi The Window adalah sebuah ramuan menarik yang dapat menimbulkan kesan beragam. Dari judul, gaya pengambilan gambar, ataupun beberapa simbol yang digunakan, film ini memang terkesan dikemas untuk konsumsi arthouse--yang biasanya identik dengan penekanan pada artistik daripada hiburan. Tetapi, The Window sebenarnya sebuah film yang tidak terlalu rumit untuk diikuti. Ide dasar film ini berhasil diterjemahkan ke dalam adegan-adegan yang cukup komunikatif. Kenyataannya, film ini lebih mengedepankan penuturan cerita ketimbang berkutat pada banyak simbol.

Simbol-simbol memang masih ada—dari jendela dengan lukisan berganti, patung manusia menutup muka, boneka bebek karet, hingga Dewi yang gemar menyebut nama-nama negara dunia secara alfabetis. Namun, itu menjadi lapisan penopang yang melengkapi film ini, bukan pembahasan utama. Film ini juga tidak segan memberitahukan apa yang harus diketahui penonton dalam mengikuti cerita dan memahami karakternya, semuanya dipaparkan dengan cukup jelas lewat dialog dan adegannya.

Malah, timbul kesan playful dan komikal dalam pengarahan Nurman Hakim di film ini. Film ini sepertinya memang tidak dimaksudkan tampil serba realistis, yang juga menjelaskan mengapa film berlatar kampung Yogyakarta ini tidak memakai bahasa Jawa. Pengadegannya terkesan operatic—seakan mengikuti gaya film drama keluarga era 1970-an dan 1980-an, sisi humornya pun tidak sedikit. Untungnya, dengan pembawaan yang tepat dari para pemeran, hal tersebut tidak terkesan palsu, dan emosinya tetap bisa terpancar tanpa harus meledak-ledak.

Mungkin yang masih jadi problem dalam The Window adalah ceritanya yang dijejali terlalu banyak isu. Di luar isu gender dalam plot utamanya, masih ada subplot cinta segitiga Dewi, Priyanto, dan Joko, perubahan sosial dan ekonomi, hingga isu pergantian ke era reformasi tahun 1998, yang jadi latar waktu film ini. Durasi sepanjang 122 menit film ini disajikan dalam tempo yang tak terlalu lambat, namun ada kalanya terkesan kehilangan arah di tengah-tengah karena banyaknya muatan yang ingin disampaikan sekaligus dalam satu film. Bahkan, bisa dibilang topik besar film ini—tentang perlawanan perempuan terhadap tradisi yang menekan kaumnya—baru ditunjukkan konteksnya secara jelas di sepertiga akhir film.

Meski demikian, film ini termasuk mampu memberikan pay-off yang layak terhadap babak demi babak yang sudah dilewati sepanjang film ini. Film ini juga termasuk berhasil dalam mempertahankan benang merah plot misterinya—yang agak mengarah ke thriller, sebagai pegangan bagi penonton untuk mengikuti kisahnya dari awal hingga akhir. Minimal, tak banyak tersisa pertanyaan mengganjal tentang jalan ceritanya seusai menyaksikan film ini.





My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar